Aplikasi Kecil Tenses Bahasa Inggris ( Java E-book ) Revisi plus contoh soal ujian masuk perguruan tinggi


Di E-book java kecil ini terdapat 16 Rumus Tenses dalam Bahasa Inggris, beserta contoh penggunaannya dalam kalimat, dan beberapa contoh soal ujian masuk perguruan tinggi…

eng

Silahkan di unduh Tenses2_Zauharry.jar

Tapi khusus pengguna HP yang ada Java nya ya......

Passwordnya saya kasih tanggal hari ini 080412

Hatur Nuhun...

Kalo ada koreksi silahkan bisa via email saja ke

zauharry@asia.com
atau

ahmedzauharry@facebook.com

YESUS AKAN KEMBALI


YESUS AKAN KEMBALI
Karya : Harun Yahya
Download : islamic.xtgem.com

>>>——–
PENDAHULUAN

Yesus (Isa) (as), sebagaimana rasul-rasul lainnya, merupakan seorang hamba pilihan Allah yang diutus kepada umat manusia untuk menyeru kepada jalan yang benar. Meskipun demikian, ada beberapa sifat Yesus (as) yang membedakan dari rasul-rasul lainnya. Yang terpenting dari semua itu adalah dia telah diangkat Allah dan akan kembali lagi ke bumi.

Berbeda dengan yang diyakini oleh mayoritas manusia, Yesus (as) tidaklah wafat disalib dan dibunuh ataupun meninggal dengan tujuan dan alasan tertentu. Al-Qur’an memberitakan kepada kita bahwa mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi Allah mengangkatnya kepada-Nya. Tidak ada satu ayat pun yang menunjukkan peristiwa pembunuhan terhadapnya atau bahwa dia telah dibunuh, terlepas dari ayat yang menolak bahwa hal tersebut telah terjadi. Selain itu, Al-Qur’an membeberkan kepada kita beberapa peristiwa dari kehidupan Yesus (as) yang tidak pernah terjadi. Kemudian, kedatangannya yang kedua kali ke bumi merupakan suatu prasyarat akan terjadinya peristiwa-peristiwa ini. Tidak ada keraguan bahwa wahyu-wahyu yang terdapat dalam Al-Qur’an akan benar-benar terjadi.

Sebaliknya, kebanyakan orang mengasumsikan bahwa Yesus (as) telah wafat beberapa ribu tahun yang lalu dan tidak mungkin akan kembali. Pendapat yang keliru ini muncul akibat kurangnya pengetahuan tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah. Suatu penelitian yang dilakukan dengan cermat dan hati-hati tentang Al-Qur’an akan menghasilkan suatu pemahaman yang akurat akan ayat-ayat tentang Yesus (as).

Rasulullah (saw) juga bersabda bahwa Yesus (yang dimuliakan) akan diutus kembali ke bumi dan masalah waktunya, yang disebut dengan “akhir zaman”, kemungkinan adalah suatu masa di mana bumi pada saat itu akan mencapai kesejahteraan, keadilan dan perdamaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Akhir zaman” ditujukan pada suatu periode waktu yang mendekati akhir kehidupan dunia. Menurut Islam, pada masa tersebut akan ada cobaan-cobaan yang mengerikan dari Dajjal, banyak terjadi gempa bumi dan munculnya Ya’juj dan Ma’juj. Setelah itu, nilai-nilai Al-Qur’an akan menang dan manusia akan mengikuti secara ekstensif nilai-nilai yang diperkenalkannya.

Dalam impian mereka, manusia selalu merindukan suatu yang lebih baik, sesuatu pemandangan yang lebih indah, makanan yang lebih enak, suatu masyarakat yang lebih menjanjikan secara sosial�

Pendapat yang lain mengungkapkan bahwa “akhir zaman” adalah suatu periode yang mencangkup keseluruhan konsep, “yang lebih baik”, “yang lebih indah” dan sebagainya. Saat itu merupakan suatu masa yang diberkahi yang dirindukan manusia sejak lama. Saat itu merupakan puncak kesejahteraan dan keadaan yang berlimpah-limpah, keadilan dan perdamaian. Saat itu merupakan masa di mana keberkahan-keberkahan ini akan menggantikan ketidakadilan, kerusakan moral, konflik dan peperangan. Saat itu merupakan masa yang benar-benar diberkati ketika nilai-nilai moral Islam akan terpatri di setiap aspek kehidupan.

Bukti bawa Yesus (as) tidak meninggal, bahwa dia telah diangkat ke haribaan Allah dan bahwa dia akan kembali lagi ke bumi akan dikaji dalam situs ini dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an yang terang dan nyata. Meskipun demikian, sebelum dimulai akan bermanfaat untuk mengingatkan kembali diri kita beberapa informasi dasar yang secara langsung berhubungan dengan bahasan ini.

>>>——–
AGAMA DI SISI ALLAH

Sepanjang sejarah, Allah telah mengutus para rasul-Nya kepada umat manusia. Para rasul Allah menyeru seluruh umat manusia kepada jalan yang benar dan menyampaikan kepada mereka ajaran-ajarannya. Tetapi pada saat ini, ada suatu keyakinan yang berkembang bahwa apa yang diwahyukan melalui para rasul kepada manusia merupakan agama yang berbeda. Hal ini merupakan pendapat yang keliru. Agama yang diwahyukan Allah kepada manusia di masa yang berbeda adalah sama. Misalnya, Yesus (as) telah menghapus beberapa larangan yang dibawa oleh agama sebelumnya. Walaupun demikian, tidak ada perbedaan yang berarti dalam ajaran agama-agama yang diwahyukan Allah. Apa yang telah diwahyukan kepada para rasul sebelumnya, kepada Musa (as), Yesus (as) dan kepada rasul terakhir Muhammad (saw) pada dasarnya sama:

Katakanlah, ” Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim (Abraham), Isma�il (Ishmael) dan Ishaq (Isaac) dan Ya’qub (Jacob) dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa (Moses) dan Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka…” (Surat Ali Imran: 84-85)

Sebagaimana tertulis dalam ayat tersebut, agama yang benar yang diturunkan untuk manusia adalah Islam. Apa yang kita pahami dari Al-Qur’an adalah bahwa seluruh rasul menyeru umatnya kepada jalan yang sama. Allah menggambarkan fakta ini dalam ayat-Nya:

Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat terang bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kapadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali kepada-Nya.” (Surat asy-Syu’araa': 13)

Allah telah mengutus para rasul-Nya untuk menyampaikan agama ini, satu-satunya agama yang Dia ridhai, kepada seluruh umat manusia dan kemudian memberikan peringatan kepada mereka. Setiap orang, kepada mereka yang Allah utus dan kepada siapa pun yang kemudian diserukan agama ini, mendapatkan beban untuk mengikutinya.

Meskipun demikian, beberapa kelompok masyarakat ada yang menerima ajaran tersebut, namun ada juga yang menolaknya. Sebaliknya, pada beberapa kelompok masyarakat, agama yang benar tersebut diselewengkan menjadi ajaran yang sesat setelah kematian rasul mereka.

Salah satu dari kelompok masyarakat yang tersesat dari agama yang benar adalah Bani Israel. Sebagaimana yang diinformasikan dalam Al-Qur’an, Allah telah mengutus banyak rasul kepada Bani Israel; mereka telah menyampaikan agama yang benar. Akan tetapi, setiap masa mereka menentang seorang rasul atau setelah kematian rasul tersebut, mereka mentransformasikan agama yang benar tersebut menjadi suatu ajaran yang sesat. Selain itu, dari Al-Qur’an, kita mengetahui bahwa bahkan saat Musa (as) masih hidup pun, Bani Israel menyembah sapi betina yang terbuat dari emas selama masa ketidakhadirannya yang sebentar saja (lihat surat Thaahaa: 83-94). Setelah Nabi Musa (as) tiada, Allah mengutus beberapa nabi lainnya kepada Bani Israel untuk memberikan peringatan kepada mereka dan yang terakhir dari para nabi yang diutus itu adalah Yesus (Isa) (as).

Seumur hidupnya, Yesus (as) menyeru umatnya untuk hidup dengan agama yang diturunkan Allah dan mengingatkan mereka untuk menjadi hamba Allah yang benar. Dia memerintahkan mereka dengan ajaran yang ada di dalam Injil � wahyu yang diturunkan kepadanya yang sebagian dari ajaran tersebut masih ada dalam kitab Injil dewasa ini. Kitab tersebut membenarkan ajaran-ajaran Taurat � wahyu yang diturunkan kepada Musa (as) yang sebagian ajarannya masih ada dalam Taurat atau Perjanjian Lama yang kemudian diselewengkan. Mengkritisi ajaran-ajaran yang tidak benar dari para rabi yang bertanggung jawab atas kemrosotan agama yang benar, Yesus (as) telah menghapus aturan-aturan yang dibuat oleh para rabi itu, yang melaluinya, mereka mendapatkan keuntungan secara personal. Dia menyeru kepada Bani Israel untuk mengesakan Allah, kebenaran yang hakiki, dan berakhlak luhur, sebagaimana firman Allah:

Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
(Surat Ali Imran: 50)

Setelah Yesus (as), Allah mengutus seorang rasul lain yang berasal dari suatu suku yang berbeda agar melalui rasul-Nya ini, Allah dapat menurunkan wahyu berupa agama yang asli ke dunia dan Dia membekalinya dengan sebuah kitab suci. Rasul itu adalah Nabi Muhammad (saw) dan kitab tersebut adalah Al-Qur’an, satu-satunya wahyu yang tidak diubah.

Al-Qur’an diperuntukkan bagi seluruh umat manusia di dunia. Seluruh umat manusia di semua masa akan mendapatkan kewajiban beriman terhadap kitab ini karena mereka diperintahkan untuk mengikuti ajaran Islam. Mereka akan diadili berdasarkan Al-Qur’an pada hari perhitungan. Pada masa kita khususnya, seluruh bangsa di dunia secara esensi disatukan dan hampir menjadi seperti suatu suku yang satu; terima kasih kepada penerobosan di bidang teknologi. Seorang akademisi menunjukkan bahwa dunia dewasa ini sebagai global village (desa buana). Karena itu, hanya ada sebagian kecil manusia di dunia ini yang tidak menyadari keberadaan Al-Qur’an dan yang oleh karenanya pula belum mendapatkan informasi tentang Islam. Walaupun demikian, ada suatu bagian tertentu dari umat manusia yang mempunyai keyakinan pada Al-Qur’an. Di antara mereka ada yang telah beriman, namun kebanyakan dari mereka tidak hidup berdasarkan ajaran-ajaran yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

Kita berharap bahwa Yesus (as) akan kembali ke bumi dan menyeru umat manusia kepada jalan yang benar. Allah memberikan kabar gembira tentang masalah ini dalam Al-Qur’an. Sebagaimana yang akan dibahas pada bab-bab selanjutnya dalam situs ini, Yesus (as) telah diangkat ke haribaan Allah dan tidak wafat dalam arti fisik. Setelah beberapa masa, dia akan kembali dan menjadikan Islam menang di muka bumi. Upaya terbaik yang dapat dilakukan, baik oleh umat Nasrani maupun umat Islam dunia adalah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan tamu yang diberkati ini dan tidak mengulangi melakukan perlawanan terhadapnya seperti di masa silam.

>>>——–
ORANG YANG BERADA DALAM KESUSAHAN MEMOHON SEORANG PENOLONG

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita, maupun anak-anak yang semuanya berdo’a, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!” (Surat an-Nisaa': 75)

Ketika membaca Al-Qur’an, kita menemukan suatu fakta tertentu: sebelum seorang rasul datang kepada suatu masyarakat, kerusakan moral kerap terjadi di sana. Sekali seorang rasul datang ke suatu masyarakat, mereka yang mengikutinya mencapai kehidupan yang penuh kebahagiaan, kedamaian dan kemakmuran, bahkan di tengah-tangah perjuangan mereka yang mulia untuk mencapai ridha Allah. Akan tetapi, setelah periode yang diberkahi ini, umat manusia yang telah menikmati kesenangan pada periode ini berada jauh dari nilai-nilai spiritual, menjadi pembangkangan dan puncaknya mereka menjadi orang yang kafir. Pada beberapa kasus, mereka menyembah tuhan-tuhan selain Allah dan kemudian bertindak tidak adil terhadap diri mereka sendiri dan – secara esensi – mempersiapkan akhir nasib mereka sendiri berakhir di tangan mereka sendiri.

Dalam Al-Qur’an surat Maryam, Allah menghubungkan kesetiaan, keikhlasan dan kecemasan yang para rasul rasakan terhadap Allah dan kemudian memberitahukannya kepada kita tentang bagaimana generasi yang datang kemudian telah benar-benar kehilangan keimanan sama sekali. Mereka terlempar jauh karena tingkah laku dan keinginan mereka sendiri dan tercabutnya nilai-nilai yang ada,

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh dan dari keturunan Ibrahim dan Israel dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu mereka, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (Surat Maryam: 58-59)

Mereka yang telah menolak tanggung jawab yang telah ditakdirkan, telah mendapatkan azab Allah dalam bentuk bencana yang beragam. Allah menggambarkan kehendak-Nya terhadap orang-orang ini, ” Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta ” (Surat Thaahaa: 124). Mereka mengalami penderitaan yang berbeda, seperti ketakutan dan masalah-masalah sosial serta ekonomi yang muncul akibat kemerosotan moral dan ketidakstabilan politik mereka.

Di bawah sistem orang-orang kafir yang zalim, umat manusia yang telah ingkar terhadap wahyu yang diturunkan mendapat berbagai tekanan dan ketidakadilan. Periode Fir’aun merupakan satu contoh serupa yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Dengan kebesaran pengaruhnya, Fir’aun memberlakukan suatu kehidupan yang mewah dan rakyatnya mengalami penderitaan di bawah kekuasaannya yang tiran.

Sesungguhnya, Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya, Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
(Surat al-Qashash: 4)

Di bawah kondisi seperti itu, dimana rakyat mengalami masalah ekonomi dan sosial, hidup di bawah para pemimpin yang tiran dan tidak adil, kebutuhan akan seorang penolong sangatlah dirasakan. Dia adalah seorang yang mengubah kembali aspek-aspek dari beragam sistem yang tidak diharapkan yang disebabkan oleh para penguasa yang kafir dan orang-orangnya; ia pun membawa kedamaian, keadilan dan keamanan yang datang bersama dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Setelah Nabi Musa (as), Bani Israel pun menghadapi kesulitan yang sama di bawah kekuasaan tiran. Mereka diusir dari rumah dan negeri mereka serta menderita secara berkepanjangan. Menyadari bahwa tidak ada satu pun berhala yang mereka sembah, tidak pula harta yang mereka miliki dan tidak pula nenek moyang yang dapat menyelamatkan diri mereka dari kondisi yang sangat tidak diinginkan tersebut, mereka memohon seorang raja kepada Sang Maha Pencipta, seorang penolong yang akan menyelamatkan mereka dari sistem yang kejam tersebut. Allah menjawab do’a orang-orang ini dan mengirim Talut kepada mereka (Saul dalam Injil):

Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israel sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, “Angkatlah kepada kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah” Nabi mereka menjawab, “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak berperang.” Mereka menjawab, “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah terusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami ?” Maka tatkala perang itu diwajibkan kepada mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah mengetahui siapa orang-orang yang zalim. (Surat al-Baqarah: 246)

“Kamu Sekali-kali Tidak Akan Mendapatkan Penggantian dalam Sunnah Allah”

Berdasarkan cerita yang terkandung dalam Al-Qur’an, kita pahami bahwa sesuatu yang hampir serupa menyebabkan runtuhnya peradaban di masa silam, yaitu penentangan terhadap para rasul mereka. Kondisi di mana umat manusia menjalani kehidupannya, pengiriman para rasul untuk memberikan peringatan kepada mereka dan kebinasaan mereka semua adalah memiliki pola yang sama.

Masyarakat modern juga mengalami kerusakan dan kemerosotan yang pesat. Kemiskinan, kesengsaraan dan ketidakteraturan menjerumuskan kehidupan umat manusia ke dalam kekacauan yang komplet dan menyebabkan mereka mengharapkan suatu kehidupan yang damai di mana kebaikan menjadi pemenangnya. Tampaknya, keadilan dapat menang hanya jika nilai-nilai Al-Qur’an menjadi sesuatu yang utama di antara umat manusia. Hanya mereka yang mempunyai nilai-nilai yang nyata yang dapat memberikan solusi bagi seluruh permasalahan yang dialami umat manusia dewasa ini. Allah telah mengutus seluruh nabi dan rasul-Nya kepada generasi-generasi terdahulu yang telah mengalami tekanan sosial yang sama dan Dia terkadang memberikan kekayaan dan kemegahan yang mengagumkan kepada mereka yang mengikuti pada rasul-Nya. Fakta ini sesuai dengan ayat:

Jikalau sekiranya penduduk-penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya itu. (Surat al-A�raaf: 96)

Ayat ini, seperti halnya ayat-ayat serupa lainnya, menyatakan bahwa satu-satunya cara yang mendatangkan kebahagiaan dan kedamaian adalah dengan mengikuti Islam. Prinsip ini akan terus berlaku terhadap generasi-generasi yang akan datang sebagaimana telah berlaku pada generasi sebelumnya. Di tempat-tempat yang tidak memiliki nilai-nilai Islam, ketidakadilan, ketidakamanan dan ketidakstabilan akan menang. Ini merupakan sunnah Allah. Tidak adanya perubahan dalam sunnah Allah dinyatakan dalam Al-Qur’an:

�Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui perubahan bagi sunnah Allah dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. (Surat Faathir: 42-43)

Kelaziman Islam Menurut Al-Qur’an

Sebagaimana disebutkan dalam bahasan sebelumnya bahwa Allah mengirimkan para nabi dan rasul kepada umat manusia untuk membebaskan mereka dari kekafiran dan ketidakadilan merupakan sesuatu yang diinformasikan dalam Al-Qur’an kepada kita. Nabi atau rasul ini membimbing umatnya untuk mengimani Allah tanpa menyekutukan-Nya dan agar merasa takut kepada-Nya. Apabila umatnya tetap menolak, dia mengingatkan mereka akan azab Allah. Allah berfirman bahwa Dia tidak akan membinasakan suatu kaum sebelum peringatan ini disampaikan:

Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan; untuk menjadi peringatan. Dan kami sekali-kali tidak berlaku zalim. (Surat asy-Syu’araa': 208-209)

Pada masa sekarang ini kita amati bahwa kemerosotan, baik fisik maupun spiritual yang terjadi di masyarakat secara menyeluruh dibarengi dengan ketidakstabilan ekonomi dan politik. Kesenjangan yang besar terjadi antara si miskin dan si kaya, dan kerusakan sosial semakin meningkat. Al-Qur’an mengingatkan manusia bahwa setelah dan bahkan selama periode gelap seperti itu, Allah senantiasa menunjukkan jalan menuju keselamatan bagi mereka yang benar-benar mengharapkan-Nya. Dengan cara ini, Islam pasti akan berjaya di seluruh dunia dan agama yang benar akan mengalahkan semua agama kafir. Kepada para umatnya yang beriman (al-Mu’minuun), Allah memberikan kabar gembira dalam surat at-Taubah:

…Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (Surat at-Taubah: 32-33)

Dalam surat an-Nuur, Allah memberitahukan kepada umat-Nya yang beriman yang melakukan amal-amal saleh tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dan benar-benar mencari keridhaan-Nya, bahwa mereka akan mendapatkan kekuasaan sebagaimana umat-umat beriman terdahulu. Firman-Nya:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa; dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka; dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Ku. Dan, barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Surat an-Nuur: 55)

Satu hal pantas mendapatkan sebutan di sini. Pada ayat di atas, syarat untuk penyebaran Islam diberikan: keberadaan umat yang beriman yang benar-benar murni sebagai hamba Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dan yang melakukan amal-amal saleh di jalan Allah�

Penolong yang Dinantikan

Apa yang telah dibahas sejauh ini adalah sebagai berikut. Pada setiap masa, Allah selalu menjawab seruan hamba-hamba-Nya yang dengan penuh harap membutuhkan pertolongan-Nya. Hal ini juga terjadi di zaman sekarang dan di masa yang akan datang. Sebagaimana yang pernah terjadi di masa lalu, di masa sekarang ini pun diharapkan bahwa Allah akan menyelamatkan umat manusia dari ketidakadilan sistem kaum kafir dan menghadirkan keindahan Islam kepada mereka.

Kini, dunia Islam diharapkan akan menemukan sebuah jalan keluar bagi kerusakan yang terjadi sekarang ini dan hamba-hamba beriman yang ikhlas akan menyampaikan nilai-nilai Islam tersebut ke seluruh dunia. Pastilah, sebagaimana yang terjadi di setiap zaman, umat manusia sekarang ini mengharapkan seorang penolong akan segera tiba. Penolong ini, yang akan membawa umat manusia dari “kegelapan menuju cahaya terang benerang”, adalah agama Islam. Umat manusia yang mendapatkan bimbingan dalam menapaki kehidupan dengan nilai-nilai yang dibawa oleh sang penolong ini akan mengalahkan semua sistem yang menolak Allah dan mereka akan menjadikan idiologi-idiologi yang rusak menjadi tidak berlaku.

Singkat kata, Allah akan menolong setiap umat manusia sebagaimana yang telah dilakukan-Nya kepada umat-umat terdahulu. Allah menjanjikan hal ini kepada hamba-hamba-Nya yang dengan ikhlas taat kepada-Nya dan mempunyai rasa takut yang mendalam kepada-Nya.

(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya, Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya, Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (Surat al-Hajj: 40-41)

>>>——–
YESUS PUTRA MARYAM DALAM AL-QUR’AN

Dalam bab ini, kami akan membahas secara detail tentang kedatangan Yesus (Isa) (as) yang kedua yang ada dalam sumber-sumber yang layak dipercaya. Sumber pertama dan yang utama adalah Al-Qur’an, kalam Allah yang tidak dapat ditiru, sebagaimana yang diungkapkan dalam Al-Qur’an, “…Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya…” (al-An’aam: 115). Sumber yang kedua adalah Sunnah Rasulullah terakhir, Muhammad, semoga Allah mencurahkan rahmat kepadanya dan menganugrahinya kedamaian. Al-Qur’an menyediakan informasi yang mendetail tentang tahap-tahap kehidupan Yesus (as), termasuk kelahirannya, proses pengangkatannya ke haribaan Allah, kedatangannya yang kali kedua dan kematiannya.

Yesus (as), yang hidup 2.000 tahun yang lalu, adalah seorang rasul yang diberkati Allah. Dia mempunyai kedudukan yang tinggi di dunia dan di akhirat, sebagaimana yang dikabarkan oleh Al-Qur’an. Agama yang benar yang dibawanya masih tetap ada sampai sekarang, meskipun hanya sebatas nama. Hal ini disebabkan ajaran orisinal yang disampaikan oleh Yesus (as) telah dirusak sekarang ini. Kitab yang Allah turunkan kepada Yesus (as) juga hanya tinggal nama di masa sekarang ini. Kini, teks orisinal kitab ini tidak ada lagi. Sumber-sumber yang dimiliki umat Nasrani telah mengalami berbagai perubahan dan distorsi. Konsekuensinya, kita tidak mungkin mendapatkan pengetahuan yang benar tentang Yesus (as) dari sumber-sumber yang dimiliki umat Nasrani pada masa sekarang ini.

Hanya ada dua sumber yang dapat memberikan pengetahuan yang akurat tentang Yesus (as), yaitu Al-Qur’an, kitab Allah yang Dia jamin tidak akan berubah hingga hari kiamat kelak, dan Sunnah Rasulullah (saw). Dalam Al-Qur’an, Allah memberikan catatan tentang kelahiran dan kehidupan Yesus (as), beberapa insiden yang dialaminya semasa hidup, orang-orang di sekelilingnya dan banyak bahasan lain yang berhubungan dengannya. Selain itu, ayat-ayat Al-Qur’an mengabarkan kepada kita tentang kehidupan Maryam sebelum ia melahirkan Yesus (as), bagaimana ia mengandung dengan cara yang menakjubkan, dan reaksi orang-orang yang ada di sekelilingnya terhadap kejadian yang menimpanya. Allah juga memberikan kabar bahagia tentang Yesus (as) akan datang ke bumi selama beberapa saat di akhir zaman nanti. Dalam bab ini, Anda akan menemukan beberapa informasi yang diberikan oleh Al-Qur’an tentang Yesus (as).

Kelahiran Maryam dan Bagaimana Ia Berkembang

Maryam, yang telah terpilih untuk melahirkan Yesus (Isa a.s.), terlahir pada saat terjadinya kekacauan, yaitu ketika Bani Israel mengharapkan sekali kedatangan Sang Messiah. Tanpa menyadari dirinya menjadi pusat pengharapan, Maryam secara khusus telah dipilih Allah untuk menerima tugas yang mahamulia ini dan sekaligus menjalaninya. Maryam berasal dari sebuah keluarga yang mulia, keluarga Imran. Allah telah melebihkan keluarga ini di atas seluruh umat manusia.

Seluruh anggota keluarga Imran terkenal mempunyai keimanan yang tinggi kepada Allah. Mereka berpaling kepada Allah dalam melakukan segala bentuk kebajikan dan dengan sangat cermat mematuhi semua perintah-Nya. Pada saat istri Imran mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung, ia segera berpaling kepada Sang Penciptanya dan berdo’a, dan ia mempersembahkan apa yang ada dalam rahimnya untuk menjadi “pelayan Allah”. Allah memberikan sebuah catatan dalam Al-Qur’an:

(Ingatlah) ketika istri Imran berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya, Engkaulah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Maka tatkala Istri Imran melahirkan anaknya dia pun berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya, aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada pemeliharaan Engkau dari setan yang terkutuk.” (Surat Ali Imran: 35-36)

Ketika Maryam lahir, Istri Imran tetap hanya mencari keridhaan Allah. Ia berpaling kepada Allah dan mendo’akan Maryam serta keturunannya di bawah perlindungan Allah dari godaan setan yang terkutuk. Dikarenakan keikhlasan dan do’anya, Allah menganugrahkan pada Maryam sifat-sifat yang mulia. Dalam Al-Qur’an Allah menerangkan bagaimana Maryam tumbuh dan berkembang dalam perlindungan dan perawatan-Nya yang amat cermat. “Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik…” (Surat Ali Imran: 37) Zakariya menjadi pelindung Maryam. Selama Maryam berada bersamanya, ia menyadari bahwa Maryam telah dianugrahi sifat-sifat yang luar biasa. Terlebih Allah memberikannya banyak kenikmatan “tanpa perhitungan”:

�Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata, “Hai Maryam dari mana engkau memperoleh (makanan) ini?” Mayam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya, Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (Surat Ali Imran: 37)

Sebagaimana Allah telah memilih keluarga Imran, Dia juga memilih Maryam, seorang anggota keluarga Imran dan memberikan karunia yang luar biasa. Allah menyucikan Maryam dan telah melebihkan dari seluruh wanita pada masanya. Sifat-sifat yang dimilikinya tertulis dalam Al-Qur’an:

Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata, “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang ada di masa kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (Surat Ali Imran: 42-43)

Dalam masyarakat di mana ia tinggal, Maryam telah menjadi seorang yang terkenal mempunyai loyalitas dan keikhlasan terhadap Allah. Khususnya, ia dikenal sebagai seorang wanita “yang menjaga kehormatannya”. Dalam surah at-Tahariim, kita dapat menemukan sebuah catatan:

Dan (ingatlah) Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari (roh) ciptaan Kami; dan Dia membenarkan kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat. (Surat at-Tahriim: 12)

Kehamilan Maryam

Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata, “Sesungguhnya, aku berlindung darimu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.” Ia (Jibril) berkata, “Sesungguhnya, aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” (Surat Maryam: 16-19)

Sebagaimana yang diberitahukan dalam ayat di atas, setelah selesai satu tahap pelatihannya, Maryam menarik diri dari masyarakatnya ke wilayah bagian timur dan menghabiskan beberapa waktu hidupnya di sana. Tidak beberapa lama waktu berselang, malaikat Jibril (Gabriel) menampakkan diri pada mayam atas perintah Allah. Maryam, yang merupakan seorang wanita yang mulia dan menjaga kehormatan, benar-benar merasa terganggu melihat seorang yang asing. Malaikat Jibril menerangkan bahwa dia adalah seorang malaikat yang diutus Allah untuk memberikan kabar bahagia tentang seorang anak laki-laki:

(Ingatlah) ketika Malaikat berkata, “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari-Nya, namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan salah seorang di antara orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” (Surat Ali Imran: 45)

Mendengar kabar ini, Maryam mengajukan pertanyaan tentang bagaimana mungkin ia dapat mempunyai seorang putra, padahal tidak seorang laki-laki pun yang pernah menyentuhnya:

Maryam berkata, “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” Jibril berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. (Surat Maryam: 20-22)

Maryam berkata, “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril), “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, ‘Jadilah’ lalu jadilah dia. (Surat Ali Imran: 47)

Selama Maryam tinggal di “tempat yang jauh” yang disebutkan dalam ayat di atas, Allah mendukungnya, baik secara fisik maupun materi. Ia benar-benar berada dalam lindungan dan perawatan-Nya selama masa mengandungnya. Semua kebutuhannya secara khusus dipenuhi oleh Allah. Sementara itu, dengan menempatkannya di suatu tempat yang tersembunyi, Allah telah mencegah semua kejahatan orang-orang yang sama sekali tidak memahami situasi ini yang mungkin akan menculiknya.

Yesus (as) Adalah Kalimat Allah

Dalam Al-Qur’an, Allah mengarahkan perhatian kita terhadap fakta bahwa dari sejak kelahiran hingga kematiannya, Yesus (as) memang sangat berbeda dengan seluruh manusia pada umumnya di muka bumi. Al-Qur’an menegaskan bahwa kelahirannya dari seorang gadis, satu bentuk penciptaan yang kita tidak terbiasa dengan hal tersebut. Sebelum kelahirannya, Allah memberitahu ibunya tentang sifat-sifat yang dimiliki Yesus (as) termasuk bahwa dia diutus sebagai seorang penyelamat (Messiah) kepada Bani Israel. Dia juga dijuluki “Kalimat Allah”:

�Sesungguhnya, Al-Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya� (an-Nisaa: 171)

(Ingatlah) ketika Malaikat berkata, “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari-Nya, namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan salah seorang di antara orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). (Surat Ali Imran: 45)

Allah telah memberikannya nama sebelum kelahirannya, sebagaimana Dia perbuat kepada Yahya a.s. Biasanya, anggota keluarga yang memberikan nama kepada anak-anaknya, namun tidak demikian pada kasus Yesus (as). Allah-lah yang memberikannya nama Al-Masih, Yesus (Isa) putra Maryam. Ini merupakan suatu indikasi eksplisit bahwa Yesus (as) diciptakan secara berbeda dari seluruh manusia lainnya.

Tentulah, seperti kelahirannya, keajaiban yang dialami selama hidupnya dan cara dia diangkat keharibaan Allah merupakan tanda-tanda perbedaan dari manusia lain pada umumnya.

Kelahiran Yesus (as)

Sebagaimana yang dikenal luas, kelahiran merupakan suatu proses yang menuntut banyak perawatan. Melahirkan seorang bayi tanpa kehadiran seorang yang berpengalaman dan perawatan medis adalah sesuatu yang sulit. Meskipun demikan, Maryam, yang melakukan semuanya sendirian, telah berhasil melahirkan seorang bayi. Sebuah ungkapan terima kasih atas kesetiaanya kepada Allah dan atas keyakinannya kepada-Nya.

Ketika mengalami rasa sakit yang luar biasa, Allah memberikan ilham dan instruksi pada setiap tahapnya. Dalam hal ini, ia telah melahirkan anaknya tanpa kesukaran dan pada lingkungan yang terbaik. Ini merupakan nikmat yang diberikan kepada Maryam:

Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pohon kurma, dia berkata, “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.”

Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah, “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyangkanlah pangkal pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.

Maka makan, minum dan bersenanghatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernzar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.�” (Surat Maryam: 23-26)

Yesus (as) Berbicara Ketika Masih dalam Buaian

Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. (Surat al-Anbiyaa': 91)

Satu peristiwa yang Allah ujikan kepada kaumnya, Maryam adalah kelahiran Yesus (Isa) (as). Kelahiran ini, yang merupakan peristiwa aneh bagi umat manusia, adalah suatu ujian baik bagi Maryam maupun bagi kaumnya. Pada kenyataannya, cara Yesus (as) dilahirkan merupakan suatu keajaiban yang Allah lakukan untuk menyeru umat manusia kepada keimanan yang benar dan satu dari banyak bukti eksplisit dari eksistensi Allah. Akan tetapi, manusia masih saja gagal untuk menangkapnya dan masih menaruh rasa curiga:

Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata, “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan suatu perbuatan yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah orang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” (Maryam: 27-28)

Sebagaimana diterangkan dalam ayat-ayat di atas, saat kembalinya Maryam kepada kaumnya dari tempat yang jauh bersama Yesus (as) kaumnya tidak memperkenankannya untuk memberikan suatu keterangan. Mereka berasumsi bahwa Maryam telah melakukan perbuatan yang tidak senonoh dan mengejutkan serta memfitnahnya dengan cara yang keji. Meskipun demikian, mereka yang menyebarkan fitnah-fitnah tentang Maryam ini telah mengetahui keadaan Maryam dari sejak ia dilahirkan dan menyadari kesucian serta ketakwaannya, seperti anggota-anggota keluarga Imran lainnya.

Pastilah, semua cercaan dan fitnahan ini merupakan suatu ujian bagi Maryam. Ini membuktikan bahwa seorang manusia, yang begitu suci dan saleh, tidak akan melakukan perbuatan keji seperti itu. Ini hanyalah sebuah ujian bagi Maryam. Dari sejak Maryam dilahirkan, Allah selalu menolongnya dan memalingkan semua yang dilakukannya kepada kebaikan. Maryam, pada waktu kembali, menyadari bahwa setiap peristiwa yang terjadi merupakan kehendak Allah dan hanyalah Allah yang dapat membuktikan ketidakbenaran dari fitnah-fitnah ini.

Tentu Allah memberikan ketenangan pada diri Maryam dan memberikannya ilham untuk tetap diam. Allah memerintahkannya untuk tidak berbicara dengan kaumnya, tetapi agar menunjuk Yesus (as) jika mereka mendekatinya dan berusaha untuk menuduhnya. Dengan cara ini, Maryam telah menghindari berbagai rintangan seperti suatu diskusi yang mungkin terjadi. Orang yang akan memberikan jawaban yang akurat kepada mereka adalah Yesus (as). Ketika Allah memberikan kabar gembira akan kelahiran Yesus (as) kepada Maryam, Dia juga memberitahukannya bahwa dia akan berbicara dengan jelas ketika masih di dalam buaian:

Dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah salah seorang di antara orang-orang yang saleh. (Surat Ali Imran: 46)

Selanjutnya, Allah menjadikan semuanya lebih mudah bagi Maryam dan memberikan keterangan yang benar kepada kaumnya Maryam melalui kata-kata Yesus (as). Dengan keajaiban ini, upaya orang-orang kafir yang ada di sekeliling Maryam secara otomatis mengalami kegagalan.

Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih berada dalam ayunan?” Berkata Isa, “Sesungguhnya, aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku masih hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Surat Maryam: 29-33)

Tidak diragukan, seorang bayi yang berbicara dengan sangat fasih ketika masih dalam buaian merupakan suatu keajaiban. Kaum Maryam merasa heran mendengar kata-kata hikmah dari seorang bayi yang masih berada dalam buaian dan kejadian ini membuktikan kepada mereka bahwa kelahirannya merupakan suatu keajaiban. Semua peristiwa yang mencengangkan ini menunjukkan bahwa bayi yang masih berada dalam buaian tersebut adalah seorang utusan Allah

Ini merupakan balasan yang Allah berikan kepada Maryam atas kepercayaan yang ia berikan kepada-Nya. Dengan menunjukkan keajaiban yang mengejutkan seperti itu, ia memberikan respons terhadap orang-orang yang memfitnahnya. Walaupun demikian, Allah memberitahukan kepada kita bahwa azab yang pedih menanti mereka yang tidak mau menghilangkan pikiran buruk tentang Maryam dibandingkan mempercayai keajaiban ini:

Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina). (Surat an-Nisaa: 156)

Mukjizat-Mukjizat Yesus (as)

Atas izin Allah, Yesus (Isa) (as) mempunyai banyak mukjizat lainnya selain dilahirkan dari seorang gadis dan pemberitahuannya tentang kenabiannya ketika masih bayi dalam buaian. Pada kenyataannya, kedua keajaiban ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa Yesus (as) adalah seorang yang di luar kebiasaan manusia umumnya. Singkatnya, hanya satu keajaibanlah yang dapat membuat seorang bayi yang baru dilahirkan berbicara dengan begitu rasional dengan penuh keimanan:

(Ingatlah), ketika Allah mengatakan, “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) ketika Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil….” (Surat al-Maa�idah: 110)

Dalam Al-Qur’an, mukjizat-mukjizat Yesus (as) digambarkan sebagai berikut:

�Dan (sebagai) rasul kepada Bani Israel (yang berkata kepada mereka), “Sesungguhnya, aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhan-mu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah sebagai bentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka dia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya, pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. (Surat Ali Imran: 49)

Meskipun semua peristiwa yang di luar kebiasaan tersebut telah terjadi, beberapa orang secara arogan telah menolak mukjizat-mukjizat Yesus (as) tersebut dan mengatakan bahwa semua itu adalah sihir belaka.

Yesus (as) Menyampaikan Ajaran, dan Kesulitan yang Dia Hadapi

Pada waktu Yesus (as) diutus, Bani Israel berada dalam kesulitan puncak, baik masalah politik maupun ekonomi. Di satu sisi, ada beberapa tindakan kejam yang mengakibatkan kesedihan pada masyarakat, dan di sisi lain terdapat ketidaksepakatan keyakinan dan sekte yang mengakibatkan kehidupan menjadi sulit. Di bawah kondisi yang sedemikan itu, umat manusia benar-benar membutuhkan suatu jalan keluar.

Sang Juru Selamat yang dinantikan umat setelah waktu yang lama adalah Yesus (as). Atas kehendak Allah, Yesus (as) dapat berbicara ketika masih berada dalam buaian dan kemudian memberitahukan kepada umat manusia bahwa Al-Masih (Sang Juru Selamat) yang mereka nantikan telah tiba. Yang terjadi kemudian, banyak yang menaruh harapan kepadanya untuk mendapatkan petunjuk darinya.

Walaupun demikian, ada juga beberapa orang tidak menerima Yesus (as). Para pendukung kekafiran pada saat itu, khususnya, menganggapnya benar-benar suatu ancaman bagi keberadaan mereka. Karenanya, mereka membuat rencana-rencana untuk membunuhnya dengan segera ketika mereka mendengar kabar tentangnya. Dikarenakan kecemasan hati mereka, rencana-rencana mereka sebenarnya telah berakhir dengan kegagalan sejak awal. Akan tetapi, tetap saja hal tesebut tidak mampu menghentikan rasa permusuhan mereka kepada Yesus (as) dalam menjalankan misinya.

Meskipun demikian, mereka yang melakukan reaksi tehadapnya tidak terbatas pada kaum kafir saja. Selama periode tersebut, disebabkan beragam alasan, mayoritas para rabi Yahudi melakukan perlawanan terhadap Yesus (as) dengan anggapan bahwa dia melakukan penghapusan terhadap agama mereka. Tentu saja, dengan tindakan mereka tersebut, mereka telah menjadi bagian dari kaum kafir karena sikap oposisi mereka kepada seorang utusan Allah. Apa yang telah dilakukan oleh Yesus (as), sebenarnya hanyalah menyeru umat manusia kepada agama orisinal dan menghapus aturan-aturan yang salah yang diperkenalkan kepada kaum Yahudi oleh para rabi itu sendiri. Bani Israel mendistorsi agama mereka dengan melarang apa yang diperbolehkan oleh ajaran yang asli dan memperbolehkan apa yang dilarang olehnya. Dengan cara ini, mereka mengubah-ubah agama yang benar dari semua bid’ah yang dilakukan terhadapnya pada tahap selanjutnya. Yesus (as) menyeru kaumnya kepada Injil, yang mengandung ajaran Taurat yang diturunkan kepada Musa (as). Ayat Al-
Qur’an yang menjelaskan ini adalah:

Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (Surat Ali Imran: 50)

Dalam ayat yang lain, Allah memberitahukan kepada kita bahwa Injil yang diturunkan kepada Yesus (as) merupakan satu tuntunan kepada jalan yang benar bagi mereka yang mempercayainya dan untuk menolong mereka membedakan antara yang benar dan yang batil. Ia juga merupakan sebuah kitab yang mengandung ajaran Taurat:

“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israel) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” (Surat al-Maa�idah: 46)

Para pemuka Bani Israel memberikan perhatian yang lebih besar kepada aturan-aturan yang telah menjadi tradisi dan meragukan apa yang dibawa oleh Yesus (as). Hal ini karena Yesus (as) tidak memberikan tekanan pada aturan-aturan tradisional, tetapi lebih menyeru manusia kepada ketaatan kepada Allah, penolakan terhadap dunia, keikhlasan, persaudaraan, dan kejujuran. Menghadapi suatu perbedaan pemahaman agama tersebut, kaum Yahudi merasa frustasi terhadap yang disampaikan oleh Yesus (as). Dalam Al-Qur’an, Allah memberikan catatan bagaimana Yesus (as) menyampaikan perintah-perintah Allah SWT:

Dan tatkala Isa membawa keterangan dia berkata, “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada)ku”. Sesungguhnya Allah Dia-lah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka; lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim yakni siksaan hari yang pedih (kiamat). (Surat az-Zukhruf: 63-65)

Keikhlasan dan sikap yang berbeda yang dimiliki oleh Yesus (as) telah menarik perhatian manusia. Jumlah para pengikutnya semakin bertambah.

Kaum Yahudi Menganggap bahwa Mereka Telah Membunuh Yesus (as)

Tidak diragukan, setiap orang terbiasa dengan dugaan bahwa bangsa Romawi telah menyalib Yesus (as). Sebagaimana dugaan tersebut, bangsa Romawi dan Yahudi telah menangkap Yesus (as) dan menyalibnya. Memang, seluruh umat Nasrani di dunia memiliki keyakinan bahwa Yesus (as) telah meninggal, tetapi kemudian akan kembali lagi dan naik ke surga. Akan tetapi, bila kita merujuk kembali kepada Al-Qur’an, kita mengetahui bahwa apa yang sebenarnya terjadi tidaklah seperti yang mereka yakini,

Dan karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”. (Surat an-Nisaa': 157-158)

Fakta yang disampaikan dalam Al-Qur’an kepada kita adalah jelas. Usaha-usaha bangsa Romawi, yang diprovokasi oleh bangsa Yahudi untuk membunuh Yesus (as), terbukti tidak berhasil. Kutipan yang dinyatakan dalam ayat di atas,

” …tetapi (yang mereka bunuh) ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka… “

menerangkan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Yesus (as) tidaklah dibunuh, tetapi diangkat oleh Allah keharibaan-Nya. Selain itu, Allah menghela perhatian kita kepada fakta bahwa mereka yang membuat pernyataan yang bertentangan dengan ayat di atas tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang kebenaran. Di dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman bahwa Dia-lah yang akan menarik Yesus (as) kembali dan Dia akan mengangkatnya kepada-Nya.

(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang kamu selalu berselisih padanya”. (Surat Ali Imran: 55)

Kita akan menganalisis arti aktual dari kata “menarik kembali” pada bab berikutnya. Serpihan bukti-bukti lainnya yang ada dalam Al-Qur’an tentang bahasan ini adalah ungkapan umum yang digunakan bagi kematian nabi-nabi lainnya. Ungkapan-ungkapan yang digunakan untuk kematian atau pembunuhan para nabi dalam Al-Qur’an adalah sangat jelas. Misalnya dalah surah an-Nisaa’ ayat 155 terdapat satu contoh eksplisit. Ayat tersebut adalah:

“Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan) disebabkan mereka melanggar perjanjian itu dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan, ‘Hati kami tertutup’. Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya. Karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka”.

Ungkapan yang digunakan untuk Yesus (as) dalam Al-Qur’an sangat jelas, “…padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka…” Pernyataan ini menekankan bahwa Yesus (as) tidak dibunuh, apa pun metode yang digunakan untuk melakukan tujuan tersebut.

>>>——–
YESUS DALAM KOLEKSI RISALAH AN-NUUR

Dalam koleksi Risalah an-Nuur, tafsir tentang Al-Qur’an yang dikarang oleh Said Nursi, yang juga dikenal dengan Badiuzzaman (sosok menakjubkan di abad ke-20), salah seorang ilmuwan Islam terbesar di abad ke-20, terdapat referensi yang luas tentang akhir zaman dan kedatangan Yesus (as) yang kedua.

Adalah suatu fakta bahwa umat Islam kini memiliki pandangan yang berbeda, namun sebagian besar umat Islam dari berbagai budaya menyetujui bahwa Badiuzzaman merupakan salah seorang ilmuwan muslim abad ke-13 (dalam hitungan Hijriyah). Oleh karena itu, deskripsi yang terperinci tentang akhir zaman yang ditulis oleh Badiuzzaman memiliki makna penting bagi seluruh umat Islam.

Dalam keterangannya tentang akhir zaman, Badiuzzaman menyatakan bahwa ada dua gerakan filosofi – digambarkan sebagai upaya yang serius untuk membangun kekufuran – akan menyebabkan kekacauan di muka bumi. Gerakan yang pertama akan menjadi ancaman tersembunyi bagi Islam, sedangkan yang kedua akan secara terbuka menolak eksistensi Allah. Arus kedua adalah pemahaman materialis dan naturalis yang menegaskan bahwa materi adalah sesuatu yang absolut yang ada karena abadi dan akan terus eksis secara abadi. Kedua gerakan tersebut lebih jauh meyakini bahwa makhluk hidup secara tidak sengaja berasal dari benda mati. (Paham naturalis dikenal sebagai dimensi filosofi dari teori evolusi Darwin.)

Tentulah definisi ini merupakan dasar dari semua ideologi yang menolak eksistensi Allah. Sejak dahulu, para materialis menentang seluruh agama yang diturunkan Allah, melenyapkan para pengikutnya, menindas umat manusia, menyulut perang dan berupaya dengan sekuat tenaga menciptakan kemrosotan dalam masyarakat.

Yesus (as) juga pada kedatangannya yang kedua ke muka bumi, akan berjuang menentang pergerakan materialis dan naturalis ini dan – dengan izin Allah – akan memperoleh kemenangan dari mereka. Badiuzzaman menggambarkan tentang pergerakan materialis ini dalam buku-bukunya:

Arus yang kedua: suatu arus tirani yang terlahir dari filosofi naturalis dan materialis yang secara bertahap akan menjadi kuat dan menyebar pada akhir zaman dengan sarana filosofi materialis, sehingga mencapai tingkatan menolak Tuhan.[Said-i Nursi, The Letters, The Fifteenth Letter, hlm.53]

Badiuzzaman menyatakan dengan tegas bahwa Yesus (as) akan datang ke bumi pada periode di mana kekafiran akan mendominasi bumi. Seperti yang dinyatakan dalam kalimat-kalimat Badiuzzaman berikut ini, pada kedatangannya yang kedua ke bumi, Yesus (as) akan memerintah dengan Al-Qur’an dan menghapuskan semua fanatisme Kristiani. Bersatu dalam menentang kekafiran, kaum Nasrani yang memeluk Islam dan umat Islam akan menang atas ideologi kafir dengan bimbingan Al-Qur’an. Ungkapan dalam Risalah an-Nuur yang menerangkan adalah:

Pada saat itu, ketika arus tersebut muncul dengan sangat kuatnya, agama Nasrani yang benar, yang terdiri atas kepribadian kolektif Isa (as), akan muncul. Ia akan turun dari langit yang terus diberkati. Agama Kristen yang ada sekarang akan dibersihkan di depan realitas yang ada. Dia akan menghapuskan semua takhayul dan distorsi serta menyatukan kebenaran Islam. Kristen akan ditransformasikan menjadi Islam. Sesuai dengan ajaran Islam, pribadi kolektif Yesus akan menjadi pengikut Islam dan Islamlah yang saat itu akan menjadi pemimpin. Agama akan menjadi sebuah kekuatan yang mahadasyat saat itu karena agama-agama telah menyatu dalam Islam. Walaupun dikalahkan oleh ateisme yang ada sekarang saat agama ini terpisah, Kristen dan Islam akan memiliki kapabilitas untuk mengalahkan dan menghancurkan ateisme berkat bergabungnya dua agama itu. Dengan demikian, pribadi Yesus, yang tampil dengan penampilannya sebagai manusia di alam samawi, dia akan datang untuk memimpin agama yang benar ini sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Pembawa Berita Yang Hak (Allah) telah mengatakan itu. Jika Dia telah menyebutkan itu, pastilah itu sebuah kebenaran. Dan jika Yang Mahakuasa atas segala sesuatu telah menjanjikan, Dia tidak akan pernah menyalahi janji itu.[Said-i Nursi, The Letters, The Fifteenth Letter, hlm.54]

Dalam semua diskripsinya tentang kedatangan Yesus (as) yang kedua, Badiuzzaman mengindikasikan bahwa Yesus (as) akan menghapus seluruh sistem kaum kafir pada periode itu. Lebih jauh, dia menambahkan bahwa Yesus (as) akan mendapatkan dukungan yang besar dari kaum muslimin. Dia akan bertindak sebagai seorang muslimin dan shalat di belakang imam dari kalangan kaum muslimi, bekerja sama dengan orang-orang yang bertindak benar dari dunia Islam, dan akan mengambil kepemimpinan dalam menyebarkan Al-Qur’an dan ajaran-ajarannya, serta menghapuskan sistem yang rusak yang sedang diterapkan oleh kaum kafir:

Hanya pengikut Yesus yang sebenarnya yang akan membunuh kepribadian kolektif raksasa materialisme dan anti-agama yang akan dibentuk oleh Dajjal �di mana Dajjal akan dibunuh oleh pedang Yesus� dan akan menghancurkan ide-idenya serta kekafirannya yang semuanya sarat dengan dengan ateisme. Hanya orang yang benar-benar Kristen yang akan mampu mencampur esensi ajaran Kristen dengan ajaran Islam dan akan mampu menghancurkan Dajjal dengan kombinasi yang sangat kuat, sehingga mampu membunuh Dajjal. Dalam sebuah hadits disebutkan, ‘Yesus akan datang dan dia akan melakukan shalat wajib di belakang al-Mahdi dan dia akan mengikuti al-Mahdi,’ maka sebutkan dengan singkat tentang kesatuan ini, dan keagungan Al-Qur’an di mana dia telah diikuti. [Said-i Nursi, The Rays, The Fifth Ray, hlm.493]

>>>——–
BAGAIMANA KITA MENGENAL YESUS?

Siapakah yang Akan Dapat Mengenali Yesus (as)?

Pada bab-bab terdahulu, bahwa Yesus (as) tidak wafat dan telah diangkat ke haribaan Allah serta dia akan kembali lagi ke bumi telah diterangkan secara gamblang dan jelas dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Setelah semua yang telah disebutkan ini, pertanyaan selanjutnya yang akan muncul di dalam benak kita adalah, “bagaimana kita akan mengenali Yesus (as) ketika dia kembali lagi ke bumi dan sifat-sifat apa yang dimilikinya sehingga dia dapat dikenali?” Pada tahap ini, sumber khusus yang dapat kita rujuki adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

Al-Qur’an, baik dalam ayat-ayat maupun dalam kisah-kisah tertentu, memberikan beragam keterangan kepada kita yang berhubungan dengan nabi-nabi terhdahulu. Banyak sifat umum yang dimiliki oleh para nabi dan para pengikut kaum mukminin sejati yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Selain itu adalah mungkin untuk menemukan semua sifat para kaum mukminin yang ada dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam konteks ini, sifat-sifat mulia Yesus (as) yang berhubungan dengan masalah keimanan juga digambarkan dalam Al-Qur’an. Demikian juga, merujuk kepada Al-Qur’an, umat beriman yang tulus dapat memiliki sifat-sifat yang mulia ini yang dapat diamati pada diri Yesus (as) dan berdasarkan hal tersebut mereka dapat mengenalinya.

Pada poin ini, yang harus diingat oleh kita adalah bahwa mengenali Yesus (as) bukan tidak mungkin dapat dilakukan oleh setiap orang. Badiuzzaman Said Nursi menyatakan tentang hal ini:

Ketika Yesus datang, adalah tidak penting bahwa setiap orang harus mengenalinya sebagai Yesus yang asli. Orang-orang pilihannya dan mereka yang dekat dengannya akan mengenalinya melalui cahaya keimanan. Hal tersebut tidak akan menjadi bukti dalam dirinya sendiri sehingga setiap orang akan mengenalinya.[Said-i Nursi, The Letters, The Fifteenth Letter, hlm.54]

Sebagaimana yang disepakati oleh Badiuzzaman, selama tahun-tahun awal kedatangannya yang kedua, manusia yang mengetahui Yesus (as) akan terbatas pada kelompok kecil yang dekat dengannya. Selain itu, ini hanya akan mungkin dengan “cahaya keimanan”. Tentulah istilah ini membutuhkan keterangan yang lebih jauh: “cahaya keimanan” adalah pemahaman yang dianugerahkan Allah kepada mereka yang meyakini eksistensi dan keesaan Allah serta mereka yang mengamalkan perintah-perintahnya yang ada dalam Al-Qur’an. Dengan pemahaman yang seperti itu, umat yang beriman dapat mengevaluasi situasi secara terperinci dan menangkap peristiwa-peristiwa mendetail dengan mudah. Sebagaimana yang diinformasikan Al-Qur’an kepada kita, umat yang beriman adalah mereka yang merenungkan dengan hati-hati segala sesuatu yang ada di sekitar mereka dan kemudian tidak pernah kehilangan sedikitpun aspek-aspeknya yang rinci dan halus. Allah memberitahukan kepada manusia bahwa Dia akan memberikan tindakan yang berbeda (untuk menentukan yang benar dan salah) kepada mereka yang merefleksikan setiap sesuatu dalam bentuk suatu usaha yang keras untuk memahami keagungan dan kekuasaan Allah serta kepada mereka yang mempunyai rasa takut kepada-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Surat al-Anfaal: 29)

Selanjutnya, mereka yang akan mengenali Yesus (as) selama kedatangannya yang kedua dan mengikutinya, pasti adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Al-Qur’an serta berfikir secara mendalam tentang segala sesuatu. Badiuzzaman Said Nursi juga menggambarkan hal ini dengan mengatakan:

Sesungguhnya, walaupun Isa (as) datang, maka dia sendirilah yang akan mengetahui bahwa dirinya adalah Isa (as), bukan orang lain.[Said-i Nursi, The Rays, The Fifth ray, hlm. 487 ]

Sifat-Sifat Apa yang Dimilikinya Sehingga Dia Bisa Dikenali?

Sebagaimana disebutkan di atas, merujuk kepada Al-Qur’an dalam mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini, yang seharusnya pertama-tama kita lakukan adalah mencari sifat-sifat umum yang dimiliki oleh para nabi dan rasul yang diterangkan dalam Al-Qur’an. Karenanya, cara untuk mengenali Yesus (as) adalah dengan menguji sifat-sifat dari para nabi dan rasul. Tentu, ada beratus-ratus jumlahnya, namun dalam bab ini kita akan menekankan pada sifat-sifat yang paling banyak muncul yang dengan segera menjadi jelas.

1. Dia berbeda dari manusia kebanyakan karena nilai-nilai moralnya yang luar biasa

Seperti halnya semua nabi yang dipilih oleh Allah untuk menyampaikan ajaran-ajaran-Nya kepada umat manusia, Yesus (as) dikenal karena nilai-nilai moralnya yang istimewa. Sifat yang paling membedakannya adalah keteladanannya, yang dengan segera akan tampak dalam masyarakat di mana ia tinggal. Tentu, dia mempunyai suatu karakter keteladanan yang belum pernah terjadi sebelumnya di alam ini dan mempengaruhi siapa saja pada pandangan pertama. Ia adalah seorang yang sangat komitmen, pemberani dan kuat, manifestasi dari kebenaran dia sandarkan kepada Allah, dan kemurnian keimanannya kepada-Nya. Dengan karakter yang demikian, dia mempunyai pegaruh yang disukai oleh setiap orang. Kemuliaannya ini, yang juga dimiliki oleh semua nabi, diterangkan dalam ayat:

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya, Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugrahkan Ishaq dan Ya’qqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu juga telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian keturunannya (Nuh), yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami beri balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, dan Zakariya, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh, dan Ismail, Ilyasa’, Yunus, dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (pada masanya), dan Kami lebihkan (pula) derajat sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Surat al-An�aam: 83-87 )

Sifat-sifat yang Allah berikan kepada para nabi dan rasul-Nya diungkapkan dengan tepat dalam ayat di atas. Ada banyak contoh lain yang dijelaskan dalam Al-Qur’an. Pernyataan-pernyataan di bawah ini memberitahukan kepada kita tentang sifat-sifat mulia yang diberikan kepada para nabi dan rasul:

Sesungguhnya, Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah lagi hanif… (Surat an-Nahl: 120)

Dan ingatlah hamba-hamba kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. (Surat Shaad: 45)

Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang terbaik. (Surat Shaad: 47)

Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman� (Surat an-Naml: 15)

Yesus (as) juga merupakan salah seorang nabi pilihan Allah. Allah berfirman dalam ayat,

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus… (Surat al-Baqarah: 253)

2. Dia akan dikenali pada ekspresi wajahnya yang hanya dapat dilihat pada diri para nabi dan rasul

Allah menginformasikan kepada kita dalam Al-Qur’an bahwa kemuliaan mereka yang dipilih-Nya dapat dikenali melalui pengetahuan dan juga melalui kekuatan fisik yang dimilikinya:

…Nabi (mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugrahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (Surat al-Baqarah: 247)

Dengan dianugerahi hikmah, kekuatan fisik, pengetahuan, dan karakter yang sempurna, Yesus (as) akan mempunyai suatu ekspresi wajah yang hanya dapat dilihat pada diri para nabi dan rasul. Rasa takutnya kepada Allah dan cahaya keimanannya yang tulus akan tampak pada raut wajahnya. Ekspresi pada wajahnya ini langsung membedakannya dari manusia kebanyakan dan manusia yang melihatnya akan segera merasakan bahwa mereka sedang bertemu dengan orang yang istimewa. Tentu, tidak semua orang akan menyepakati hal ini. Di luar itu, akan ada beberapa orang yang tidak mengacuhkan kemuliaan ini. Alih-alih merasakannya ke lubuk hati yang dalam, mereka memberikan penolakan yang telak, menganggap kehadirannya sebagai ancaman bagi eksistensi mereka. Hanya mereka yang mempunyai keimanan yang tulus yang akan memahami kemuliaan ini dan memberikan penghargaan kepadanya.

Allah menghinformasikan kepada kita bahwa Yesus (as) adalah “…seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan salah seorang di antara orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)” (Surat Ali Imran: 45) Karenanya, Yesus (as) akan dikenali oleh mereka yang berada di sekelilingnya karena kehormatan dan keistimewaan yang hanya dapat dilihat pada mereka yang telah dipilih Allah.

3. Dia mempunyai hikmah terkemuka dan lisan yang tegas

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya… (Surat al-An�aam: 89)

Sepanjang sejarah Allah menyampaikan pesan ajaran dan wahyu-Nya melalui para utusan-Nya. Dia juga menganugrahkan hikmah kepada para utusan ini: gaya bicara yang lugas dan tegas, sikap yang penuh keteladanan dalam menggabungkan aksi-aksi kebenaran dan dalam mencegah perbuatan-perbuatan mungkar. Semua itu merupakan sifat-sifat umum yang dimiliki oleh para nabi dan rasul. Dalam Al-Qur’an, Allah juga memberikan perhatian kepada hikmah yang dianugrahkan kepada setiap nabi. Misalnya, untuk Nabi Daud (as), Allah berfirman: “Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (Surat Shaad: 20)
Hal yang sama bagi Nabi Yahya (as):
“Hai Yahya, …Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.” (Surat Maryam: 12)
Tentang Musa (as), Allah memberitahukan kepada kita:
“Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan…” (Surat al-Qashash: 14)
Ayat yang serupa juga menyebutkan:
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, ‘Bersyukurlah kepada Allah…’ (Surat Luqman: 12).
Allah juga berfirman:
“…Sesungguhnya, Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim…” (Surat an-Nisaa': 54)

Berhubungan dengan ayat tersebut,
“Allah menganugrahkan al-Hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak…” (Surat al-Baqarah: 269)Allah telah memberikan anugerah kepada semua nabi dan rasul. Anugerah ini juga ditujukan bagi Yesus (as), sebagaimana kita ketahui dari Al-Qur’an:

(Ingatlah), ketika Allah mengatakan, “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) ketika Aku mengajar Al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil… (Surat al-Maa�idah: 110)

Dan tatakala Isa membawa keterangan, dia berkata, “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmah dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada)ku.”
(Surat as-Zukhruf: 63)

Dari ayat-ayat yang jelas ini, dapat kita simpulkan bahwa satu sifat khusus Yesus (as), sehingga kita dapat mengenalinya adalah lisannya yang tegas, lugas, dan menyentuh. Sebagaimana isu-isu lainnya, sikap bicaranya yang tegas merupakan satu sifat umum yang menyentuh yang dimiliki oleh para nabi pada umumnya. Kaum mukminin yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kepada kebenaran, dapat menangkap kesan bahwa perkataan Yesus (as) mempunyai kekuatan yang khusus sebagaimana yang disebutkan dalam surah (al-Kahfi: 91) yang khusus diberikan kepada para utusan Allah. Hikmah yang dia perankan, diagnosis yang sempurna yang dia buat, dan solusi-solusi cerdas yang dia bawa akan menjadi tanda-tanda yang jelas dari pemberian khusus yang dianugerahkan Allah. Tidak ada seorang pun di sekelilingnya yang akan dapat memainkan peran seistimewa perannya, yang akan membuat kemuliannya lebih jelas lagi.

4. Dia sangat terpercaya

Setiap rasul yang memperkenalkan dirinya kepada kaum di mana dia diutus, dia akan mengatakan: “Sesungguhnya, aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu.” (Surat asy-Syu’araa': 107) Kepercayaan yang dimiliki oleh para rasul adalah suatu hasil dari ketaatan mereka kepada Kitab dan agama Allah serta kewajiban-kewajiban yang dibebankan-Nya. Mereka secara cermat mengamati norma-norma yang dibuat Allah dan tidak pernah menyimpang dari jalan-Nya yang benar. Mereka hanya berkeinginan untuk mendapatkan kenikmatan yang baik dari Allah; mereka tidak pernah menyekutukan-Nya. Dalam Al-Qur’an, Allah memberikan gambaran kepada kita tentang sifat para nabi dan rasul ini. Misalnya, Musa (as) memperkenalkan dirinya kepada kaumnya di mana dia tinggal:

Sesungguhnya, sebelum mereka telah Kami uji kaum Fir’aun dan telah datang kepada mereka seorang rasul yang mulia, (dengan berkata), “serahkanlah kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israel yang kamu perbudak). Sesungguhnya, aku adalah utusan Allah yang dipercaya kepadamu.” (Surat ad-Dukhaan: 17-18)

Tidak diragukan, kaum-kaum tersebut biasanya tidak mampu untuk menghargai sifat penting dari para nabi dan rasul ini. Selain itu, penolakan untuk melepaskan cara hidup yang dungu yang mereka perturutkan selama ini dan penolakan untuk hidup dengan agama yang benar yang disampaikan oleh para nabi kepada mereka, biasanya mereka tunjukkan dengan sikap intoleran kepada para utusan Allah tersebut. Hanya setelah beberapa saat berlalu, mereka baru memahami bahwa para nabi itu terpercaya. Nabi Yusuf (as) adalah salah satu contoh yang baik yang bisa dikemukakan di sini. Dia telah diuji dengan berbagai kesulitan selama periode yang tidak sebentar; pertama-tama, di dijual sebagai seorang budak dan kemudian dipenjara selama beberapa tahun. Namun, atas kehendak Allah, ketika waktunya tiba, dia dikenali sebagai seorang yang terpercaya oleh manusia dan raja memberikannya kepercayaan sebagai bendahara negara:

Dan raja berkata, “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang dekat kepadaku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata, “Sesungguhnya, kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami” (Surat Yusuf: 54)

Sifat-sifat para nabi ini yang disebutkan dalam Al-Qur’an juga akan dapat diamati pada diri Nabi Yesus (as). Pada saat kedatangannya yang kedua ke bumi, sebagai seorang yang tidak pernah mengubah hukum Allah, dia akan dikenal karena sifat keterpercayaannya. Allah akan menyediakan pertolongan-Nya untuknya, sebagaimana yang telah Dia perbuat kepada seluruh nabi dan rasul yang lain, dan seiring waktu, sifatnya yang terpercaya akan termanifestasi.

5. Dia di bawah perlindungan Allah

Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapatkan pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. (Surat as-Shaaffaat: 171-173)

Allah telah menganugerahkan kemuliaan kepada para utusan-Nya atas manusia lainnya. Dia memberikan kekuatan kepada mereka untuk mengalahkan musuh-musuh mereka dan melindungi mereka dalam melawan semua kelompok musuh. Pada saat berada dalam tahap pengambilan keputusan atau pada saat pelaksanaan suatu rencana, Allah selalu mendukung mereka.

Salah satu tanda lain bagi umat yang beriman yang sedang menanti Yesus (as), utusan Allah, adalah pemberiannya dalam membuat semua yang dilakukannya berakhir dengan keberhasilan. Misalnya, keputusan atau metode yang digunakannya, semua itu membawa hasil nyata bagi dirinya sendiri dan umat manusia di sekelilingnya. Benarlah, beberapa peristiwa yang tampaknya bertentangan dengan kemaslahatan publik akan segera terbukti sebaliknya. Peristiwa-peristiwa seperti itu akan mengindikasikan keabsahan putusannya. Hal tersebut terjadi karena Allah memberikan keyakinan kepada para utusan-Nya bahwa, di bawah kondisi apa pun, mereka akan tetap memperoleh kemenangan. Karena itu, kedatangan Yesus (as) yang kedua akan menjadi sangat berbeda dari kedatangannya yang kali pertama karena yang kali kedua ini ia akan menang di bawah panji Islam. Janji ini menjamin seluruh kesuksesan Yesus (as) akan tercapai pada misinya.

Tentu akan menjadi begitu jelas bahwa hal ini akan menarik perhatian umat yang beriman untuk mengikutinya. Sementara itu, para musuhnya juga akan mengamati tabiat yang luar biasa dari situasi ini, namun mereka akan gagal untuk mengenali bahwa ini merupakan petunjuk yang nyata dari Allah. Gerak-geriknya yang selalu membawa kebaikan, akan tetap menjadi suatu misteri bagi mereka. Hal tersebut mudah dipahami karena tujuan utama mereka dalam kehidupan ini adalah untuk menghadang orang-orang yang berbeda ini, yang mereka anggap sebagai “seorang manusia seperti diri mereka sendiri”. Akan tetapi, sebagaimana dinyatakan dalam ayat,, “Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (Surat Yunus: 103) Allah akan mengupayakan seluruh usaha mereka menjadi tidak berarti dan menolong para utusan-Nya. Komplotan-komplotan tersebut, yang berusaha atau berjuang menentangnya, tidak akan pernah berhasil.

6. Dia tidak akan memintah upah untuk pengabdiannya

Seluruh nabi dan rasul yang dikisahkan dalam Al-Qur’an berusaha keras untuk mengabdi di jalan Allah tanpa meminta balasan sebagai upah. Hanya satu yang mereka harapkan, yaitu keridhaan Allah. Bukan dunia tujuan mereka dan bukan keuntungan materi yang mereka inginkan dari umat manusia. Salah satu ayat dalam Al-Qur’an menjelaskan kebaikan dari para nabi ini,

Hai kaumku, aku tidak memintah upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)? (Surat Huud: 51)

Kebaikan yang umumnya dimiliki oleh para utusan Allah ini juga akan tampak para diri Yesus (as). Pada kedatangannya yang kedua, dia akan menyeru umat manusia di seluruh dunia kepada agama yang benar yang berasal dari Allah. Akan tetapi, kita pun seharusnya mengingat bahwa, sebagaimana dalam seluruh aspek, hanya umat yang berimanlah yang akan mengenali dan menghargai sifat-sifatnya. Selain itu, meskipun musuh-musuhnya mengenalinya, mereka akan menyebarkan fitnah tentang dia, yang merupakan pengulangan sejarah terhadap apa yang pernah diamali oleh para nabi dan rasul terdahulu. Yang paling mungkin, fitnah-fitnah ini adalah termasuk “bahwa dia sedang mencoba mendapatkan keuntungan pribadi”. Yakinilah, Allah akan membuktikan ketidakbenaran fitnah-fitnah ini dan menolongnya, sebagaimana Dia telah memberikan petunjuk untuk melakukan kebaikan-kebaikan.

7. Dia pengasih dan penuh rahmat kepada umat yang beriman

Sifat lainnya yang dimiliki oleh para utusan Allah adalah “rasa kasih dan sayang” mereka terhadap orang-orang yang beriman. Bersikap kasih dan sayang kepada orang-orang yang beriman yang mengikuti mereka, telah membuat semua utusan Allah berusahak keras untuk meningkatkan karakter umat yang beriman untuk kebaikan mereka baik di dunia maupun di akhirat. Sifat yang paling berbeda yang dimiliki Nabi Yesus (as) adalah rasa belas kasihnya kepada umat yang beriman. Allah menerangkan sifat ini, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah (saw) dan juga murapakan sifat umum yang dimiliki seluruh utusan Allah,

Sesungguhnya, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (kebaikan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Surat at-Taubah: 128)

Yesus (as) juga akan mempunyai “perhatian yang mendalam” terhadap umat yang beriman di sekelilingnya. Ketulusan yang melekat pada dirinya ini akan memberikan satu bukti konkret bahwa dia adalah Yesus (Isa) (as) yang riil.

Dia Tidak Akan Mempunyai Sanak Saudara, Keluarga, atau Kerabat di Bumi

Yesus (as) akan dikenali dengan sifat-sifatnya yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an. Walaupun demikian, ada beberapa faktor yang dapat menyingkap identitasnya. Tidak diragukan, salah satunya akan menjadi fakta bahwa dia tidak akan mempunyai sanak saudara, keluarga, ataupun kerabat di muka bumi ini. Tentu, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya ketika dia datang ke bumi untuk kali kedua. Tidak ada seorang pun yang akan keluar dan mengatakan, “Saya telah mengenalnya sejak dulu. Saya telah melihatnya ketika…,” secara sepontan karena orang-orang yang pernah mengetahuinya, hidup dan meninggal dua ribu tahun yang lalu. Selanjutnya, tidak ada seorang pun yang telah menyaksikan proses kelahirannya, masa kecilnya, masa muda atau dewasanya. Tidak ada seorang pun yang mengetahui persis tentang dirinya.

Sebagaimana telah diterangkan pada bab-bab terdahulu, Yesus (as) hadir kembali atas perintah Allah, perintah “jadilah!” Setelah beribu tahun, adalah sesuatu yang alami bahwa dia tidak mempunyai sanak saudara di muka bumi. Allah menggambarkan suatu analogi antara kondisi Yesus (as) dan Adam (as):

Sesungguhnya, misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah!” maka jadilah dia. (Surah Al �Imran: 59)

Sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, Allah memberikan perintah “Jadilah!” kepada Adam dan kemudian dia tercipta. Cara Yesus (as) terlahir pada waktu kali pertamanya juga sama meskipun dia mempunyai seorang ibu. Adam tidak mempunyai seorang ibu. Adam tidak mempunyai orang tua begitu juga Yesus (as) untuk kedatangannya yang kali kedua.

CONCLUSION

Dalam sejarah umat manusia, akan diutusnya Yesus (as) ke bumi untuk kali keduanya oleh Allah merupakan sesuatu yang benar-benar diharapkan oleh seluruh umat manusia. Hanya segelintir manusia yang akan menikmati peristiwa ini. Selanjutnya, dia akan menjadi seorang “penolong” yang diberkati yang diutus kepada seluruh umat manusia. Tentu, pada masa terjadinya kerusakan dan ketidakteraturan yang terus-menerus di dunia, semua umat manusia memohon seorang “penolong” dari Allah. Allah memberikan jawaban terhadap permohonan mereka:

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita, maupun anak-anak yang semuanya berdo’a, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau!”? (Surat an-Nisaa': 75)

Sebagaimana disebutkan terdahulu, adapun “penolong” yang dimaksud pada masa kini adalah terjadinya penetrasi nilai-nilai Al-Qur’an ke dalam jiwa dan masyarakat kita. Mengenai kedatangannya yang kedua, Yesus (as) akan dengan sepenuh hati mengikuti nilai-nilai mulia yang diturunkan oleh Allah ini dan berusaha keras secara murni untuk menyebarkan nilai-nilai tersebut kepada umat manusia di seluruh dunia.

Pengetahuan tentang hal-hal gaib dan peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan datang merupakan sesuatu yang hanya diketahui oleh Allah. Akan tetapi, mereka yang mengharapkan masa yang diberkati ini dan orang-orang di masa itu haruslah menjalankan kewajiban-kewajiban yang penting. Seperti halnya Yesus (as) akan melindungi dan membimbing seluruh umat yang beriman, seluruh umat yang beriman itu pun harus sepenuh hati mendukung Yesus (as) dan menolongnya dalam pelayanan yang ditujukan hanya untuk Allah. Dengan kata lain, di masa kini, selama kedatangannya yang kedua, umat beriman seharusnya tidak pernah menyebabkan dia memohon kembali, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” (Surah Ali Imran: 52) Jika tidak, seseorang akan merasakan penyesalan dan kesengsaraan yang mendalam, baik di dunia maupun di akhirat. Allah dengan jelas mengancam mereka yang tidak mau bersyukur:

Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasu-rasul Kami berturut-turut. Tiap-tiap seorang rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain. Dan Kami jadikan mereka buah tutur (manusia), maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman. (Surat al-Muminuun: 44)

Sebalilknya, mereka yang mengikuti dia, yang memberikan padanya dukungan yang tulus, dan mengadopsi nilai-nilai Ilahiah yang dibawanya, akan mendapatkan apa yang mereka harapkan, yaitu kenikmatan, rahmat dan surga Allah yang abadi. Hal ini merupakan janji yang pasti dan Allah telah memberikan kabar gembira:

(Dan mengutus) seorang rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya, Allah memberikan rezki yang baik kepadanya (Surat at-Thalaaq: 11)

Kita bersyukur kepada Allah Yang Mahakuasa, Yang akan mengangkat derajat hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya pada suatu peristiwa akbar, yaitu kedatangan Yesus (Isa) (as) dan menganugerahkan kepada mereka suatu kesempatan mahapenting untuk mendapatkan kebaikan dalam kehidupan mereka di akhirat kelak.

Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. (Surat ash-Shaaffaat: 181-182)

>>>——–

>>>——–

>>>——–

TRAGEDI PALESTINA


TRAGEDI PALESTINA

KARYA : HARUN YAHYA
DOWNLOAD : ISLAMIC.XTGEM.COM

 

SEBUAH HIMBAUAN KEPADA BANGSA ISRAEL

Selama situs ini dibuat, Timur Tengah sekali lagi menjadi daerah pertentangan antara Israel dan Palestina. Tentara Israel dengan kejam mengebom pemukiman sipil, menembaki anak-anak, dan mencoba membuat Daerah Pendudukan yang memang telah menderita menjadi semakin tak layak didiami. Beberapa orang radikal Palestina, di pihak lain, menyerang sasaran-sasaran sipil Israel dan memperluas tindakan bengis dengan aksi bom bunuh mereka yang ditujukan kepada wanita-wanita dan anak-anak yang tak berdosa.

Sebagai Muslim, hati nurani kita berkehendak agar amarah dan kebencian di kedua pihak padam, pertumpahan darah dihentikan, dan perdamaian tercipta di kedua negeri itu. Kita sama-sama menentang pembunuhan yang dilakukan Israel atas orang-orang Palestina tak berdosa maupun pengeboman kaum radikal Palestina atas orang Israel yang tak bersalah.

Dalam pandangan kita, syarat yang paling penting agar pertentangan berkepanjangan ini berakhir dan perdamaian sejati tercipta adalah kedua pihak menerima dan melaksanakan pemahaman yang murni dan tulus dari keyakinan masing-masing. Pertentangan antara kedua bangsa ini cenderung seolah-olah menjadi “perang agama” antara Yahudi dan Muslim, meskipun kenyataannya sungguh-sungguh tidak ada alasan bagi pecahnya perang seperti itu. Baik orang Yahudi maupun Muslimin percaya kepada Tuhan, mencintai dan menghormati kebanyakan nabi-nabi yang sama, dan memiliki dasar-dasar akhlak yang sama. Mereka bukanlah musuh, dan justru mereka seharusnya bahu-membahu di dunia tempat atheisme dan kebencian terhadap agama berkembang luas.

Berdasarkan atas pandangan-pandangan mendasar ini, kami menghimbau kepada bangsa Israel (dan semua umat Yahudi) untuk mengakui kenyataan-kenyataan berikut ini:

1) Umat Muslimin dan Yahudi percaya pada satu Tuhan, Sang Pencipta alam semesta dan segala makhluk di dalamnya. Kita adalah hamba-hamba Tuhan, dan kepadanyalah kita semua akan kembali. Jadi mengapa saling membenci? Kitab-kita suci yang kita imani berbeda kulit luarnya, namun hakikatnya adalah sama, karena semuanya berasal dari Tuhan yang sama. Oleh karena itu, kita semua tunduk kepadanya. Jadi mengapa kita harus saling berperang?

2) Daripada hidup bersama dengan umat Muslimin, apakah umat Yahudi yang taat lebih menyukai hidup berdampingan dengan orang-orang atheis atau kafir? Taurat penuh dengan perkataan-perkataan yang menggambarkan kekejaman sadis yang ditimpakan atas umat Yahudi oleh orang-orang kafir. Pemusnahan bangsa dan kekejaman yang sadis dilakukan kepada mereka oleh orang-orang Atheis dan orang-orang yang tak beriman (seperti Nazi, kalangan rasis anti-Semit, atau rezim komunis seperti Stalin di Rusia) jelas sudah untuk kita semua. Kekuatan para Atheis dan kafir ini membenci umat Yahudi, sehingga menindas mereka, karena mereka percaya kepada Tuhan. Tidakkah Yahudi dan Muslimin berada di pihak yang sama dalam melawan kekuatan para atheis, komunis, atau rasis yang membenci mereka berdua?

3) Kaum Muslimin dan Yahudi saling mencintai dan menghormati nabi-nabi yang sama. Nabi Ibrahim (Abraham), Ishaq (Isaac), Yusuf (Joseph), Musa (Moses), atau Daud (David), Alaihumassalam, paling tidak sama pentingnya bagi umat Muslimin seperti halnya Yahudi. Tanah tempat tokoh-tokoh suci ini tinggal dan mengabdi kepada Tuhan paling tidak sama sucinya bagi Muslimi maupun Yahudi. Jadi mengapa membiarkan tanah ini dibasahi darah dan air mata?

4) Nilai-nilai dasar Yahudi juga dianggap sakral oleh kami, Muslimin. Kata “Israel” adalah nama Nabi Ya’qub (Jacob) AS, yang dipuji dalam Al-Qur’an dan dikenang dengan penuh penghormatan oleh umat Muslimin. Bintang Daud (Star of David), sebuah lambang yang dihubungkan dengan Raja Daud juga menjadi lambang suci bagi kami. Menurut Al-Qur’an 22:40., umat Muslimin harus melindungi sinagog-sinagog karena semuanya adalah tempat beribadah. Jadi mengapa penganut kedua agama ini tidak hidup bersama dalam kedamaian?

5) Taurat memeritahkan umat Yahudi untuk membangun perdamaian dan keamanan, bukan merebut tanah orang lain dan menumpahkan darah. Kaum Israel digambarkan sebagai “cahaya bagi bangsa-bangsa” di dalam Taurat. Seperti dinyatakan oleh “Para Rabbi untuk Hak Azazi Manusia”:

Kita diajarkan: Semata-mata keadilan, keadilan” (Ulangan 16:20). Mengapa kata keadilan disebut dua kali? Karena menurut kebiasaan kita, kita harus mencapai sebuah keadilan dengan arti makna yang adil. Dalam mempertahankan diri kita, kita harus selalu berpegang kepada visi para nabi tentang kesusilaan dan kemanusiaan. Selamatnya umat Yahudi tidak hanya akan ditentukan oleh kebijaksanaan jasmaniahnya saja, melainkan juga oleh keikhlasan akhlaknya.1

Jika bangsa Israel terus memperlakukan orang Palestina seperti yang mereka lakukan sekarang, mereka mungkin tidak akan mampu mempertanggung jawabkan hal itu kepada Tuhan. Demikian pula, orang-orang Palestina yang membunuh orang-orang Israel yang tak berdosa mungkin juga tidak akan mampu mempertanggungjawabkan pembunuhan itu. Bukankah merupakan sebuah kewajiban di mata Tuhan untuk mengakhiri sebuah peperangan, yang membawa kedua belah pihak ke dalam penindasan yang tak berujung?

Kami mengajak semua umat Yahudi untuk merenungkan kenyataan-kenyataan ini. Allah memerintahkan kami orang-orang Muslim untuk mengajak orang Yahudi dan Nasrani menuju “rumusan bersama”:

Katakanlah, “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Qu’ran, 3:64)

Inilah himbauan kami kepada orang Yahudi, salah satu Ahli Kitab: Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan dan menghormati perintah-perintah-Nya, mari kita bergandengan bersama dalam satu rumusan bersama “keimanan.” Mari kita cintai Allah, Tuhan dan Pencipta kita semua. Mari kita tunduk kepada perintah-perintah-Nya. Mari kita beribadah kepada Allah untuk memimpin kita seterusnya di atas jalan kebenaran. Mari kita ciptakan cinta, belas kasih, dan perdamaian kepada satu sama lain dan kepada dunia, bukan permusuhan, pertumpahan darah, dan kekejaman.

Di sinilah pemecahan bagi tragedi bangsa Palestina dan pertikaian lain di dunia terletak. Kematian dan penderitaan begitu banyak orang-orang tak berdosa mengingatkan kita setiap hari akan betapa pentingnya tugas ini.

Bagaimana Persoalan Palestina Dapat Dipecahkan?Dengan menggunakan dasar-dasar toleransi dan kerendahan hati yang disebutkan di atas, pertikaian bangsa Israel-Palestina, yang telah menyebabkan begitu banyak pertumpahan darah selama 50 tahun terakhir ini, dapat dipecahkan. Dalam pandangan kita, dibangunnya perdamaian tergantung pada dua syarat:

1) Israel harus segera menarik diri dari semua daerah yang didudukinya selama perang 1967 dan mengakhiri pendudukan yang terjadi karenanya. Ini adalah kewajiban menurut hukum internasional, berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB, dan keadilan itu sendiri belaka. Semua pendudukan di Tepi Barat dan Jalur Gaza harus diakui sebagai hak milik yang berdiri sendiri dari Negara Palestina.

2) Yerusalem Timur, daerah tempat ibadah penting yang dimiliki tiga agama samawi, harus dikelola oleh pemerintah Palestina. Akan tetapi, daerah ini harus mempunyai kedudukan khusus dan dijadikan sebuah kota perdamaian yang dapat dikunjungi semua umat Yahudi, Nasrani, dan Muslimin dengan aman, dalam perdamaian dan kesejahteraan, di mana mereka dapat beribadah dengan aman.

Jika semua syarat ini terpenuhi, baik bangsa Israel maupun Palestina akan mengakui hak satu sama lain untuk hidup, berbagi tanah Palestina, dan memecahkan pertanyaan-pertanyaan yang masih dipertentangkan tentang kedudukan Yerusalem dengan cara yang memuaskan pihak-pihak terkait dari ketiga agama.

Pada halaman-halaman berikutnya dari buku ini, kita akan membahas dan menelaah sejarah persoalan Palestina berdasarkan pandangan yang kita kemukakan di atas. Harapan kita adalah bahwa permusuhan yang berkelanjutan selama 50 tahun terakhir ini serta prasangka, dan pembunuhan, pembantaian yang mengikutinya akan berakhir; bahwa orang-orang Palestina bisa mendapatkan sebuah tanah air yang memberi mereka kedamaian, keamanan, dan kesejahteraan yang pantas mereka dapatkan; dan bahwa bangsa Israel akan menghapuskan kebijakan penyerangan dan pendudukan, yang menzalimi rakyatnya sendiri maupun rakyat Palestina, sehingga mereka mampu hidup dengan damai bersama tetangganya dengan batas hukum sebelum 1967.

YAHUDI MELAWAN TERORISME ISRAEL

Situs ini tidaklah menentang dan mengkritik Yudaisme atau Yahudi, melainkan ideologi rasis Zionis dan pemeluknya. Semua tragedi yang telah terjadi, dan terus terjadi di Palestina dapat dilacak dari penerapan ideologi Zionis oleh pemimpin-pemimpinnya. Adalah Zionisme yang menyebabkan tentara Israel menembakkan roket ke arah anak-anak yang tengah bermain di lapangan sekolah; memberondongkan peluru kepada wanita-wanita yang tengah memanen tanamannya di kebun-kebun; dan melakukan penganiayaan, kekerasan, dan penyerangan terhadap keseharian kehidupan Palestina.

Di seluruh dunia hari ini, ada beberapa cendekiawan, politisi, dan sejarawan yang menentang Zionisme. Beberapa pemikir dan penulis Nasrani dan Yahudi mengutuknya berikut kebijakan Zionis pemerintahan Israel, seperti halnya berbagai akademisi di universitas-universitas Israel seperti mendiang Israel Shahak atau Benjamin Beit-Hallahmi, yang mengkritik kekerasan Israel terhadap Palestina dan yang menyatakan bahwa perdamaian hanya bisa dicapai jika Israel menyingkirkan ideologi Zionisnya. Noam Chomsky, yang juga seorang Yahudi, telah menulis banyak buku dan artikel yang sangat kritis terhadap Zionisme dan kebijakan negara-negara yang mendukungnya.

Suatu kalangan akademisi Yahudi, kelompok yang menamakan dirinya �para sejarawan baru,� telah membongkar �kebohongan suci� yang ditanamkan ke dalam kebijakan resmi Israel, serta kebenaran yang berhubungan dengannya, semenjak awal 1980an. Para anggotanya, yakni Benny Morris, Ilan Pappe, Avi Shlaim, Tom Segev, Baruch Kimmerling, Simha Flappan, dan Joel Miqdal, menyerang reaksi kuat dari orang-orang Yahudi yang menganut paham Zionis. Mereka mempertanyakan �kebohongan suci� berikut ini: Ras orang-orang Arab lebih rendah dari Yahudi, Israel adalah sebuah negara kecil yang mencoba bertahan di suatu daerah yang dikelilingi oleh musuh-musuh, semua orang Palestina adalah teroris yang ingin menghancurkan Israel, dan teroris-teroris gila ini pantas menerima balas dendam. Tom Segev, misalnya, salah satu anggota paling penting dari �sejarawan baru� ini, mengemukakan hal berikut ini mengenai sejarah �resmi� Israel: �Hampir hingga sekarang, kita tidak mempunyai sejarah negara ini yang sebenarnya, selain mitos.”2 Kritik yang jujur ini, yang dulu hanya pernah disuarakan oleh akademisi dan cendekiawan Muslim, sekarang dinyatakan lebih keras oleh banyak orang-orang Yahudi dan akademisi Kristen yang mencoba menilai kembali sejarah dengan sudut pandang yang tidak dipengaruhi oleh kepentingan.

Orang-orang ini, yang telah menyaksikan kebiadaban Zionis, melihatnya sebagai bentuk lain ideologi penjajahan yang didirikan dalam rasisme abad kesembilan belas. Mereka tidak punya bukti apa pun untuk mitos bahwa Israel adalah �suatu negara kecil dan sendirian menghadapi kepungan musuh-musuh yang ingin menghancurkannya.� Sebaliknya, Israel, melalui aksi-aksinya, terbukti menjadi suatu negara kekerasan yang menganut kebijakan penindasan dan penyerangan.

Gideon Levy, seorang penulis untuk surat kabar Israel Ha�aretz, membenarkan terbukanya rahasia �kebohongan suci� ini dalam kajiannya terhadap buku Benny Morris Correcting a Mistake: Jews and Arabs in Palestine/Israel, 1936-1956. Setelah membaca perincian teror Zionis yang digambarkan dalam buku ini, dan ditelaah melalui bukti-bukti saksi mata dan catatan-catatan rahasia, Levy menulis:

Oh, betapa mulianya perbuatan kita (sehingga kita melakukan begitu banyak hal-hal buruk). Kita begitu hebat (sehingga menyebabkan begitu banyak ketidakadilan). Kita begitu cantik (sehingga tindakan-tindakan kita menyebabkan begitu banyak kebodohan). Dan oh, kita begitu tak berdosa dan menyebarluaskan begitu banyak kebohongan, kebohongan dan penyimpangan kebenaran yang kita katakan pada diri sendiri dan seluruh dunia. Kita, yang dilahirkan belakangan, tidak diberi tahu tentang seluruh kebenaran; mereka hanya mengajarkan kita bagian-bagian baiknya saja, yang dibesar-besarkan. Namun, pada akhirnya, muncullah bagian kelam yang tidak pernah kita dengar sebelumnya.3

Israel Shahak, seorang profesor kimia Yahudi kelahiran Polandia, yang menghabiskan 40 tahunnya di Israel dan meninggal di tahun 2001, mengkritik kebijakan anti hak azazi manusia Zionis Israel. Dalam bukunya Jewish History, Jewish Religion, and the Weight of Three Thousand Years, Shahak menggambarkan besarnya ancaman Zionisme terhadap kemanusiaan:

Dalam pandangan saya, Israel sebagai sebuah negara Yahudi menciptakan bahaya tidak hanya bagi dirinya sendiri dan penduduknya, melainkan juga untuk semua orang Yahudi dan semua orang-orang lain dan negara-negara di Timur Tengah serta di luarnya.4

lan Pappe, yang menyebut dirinya �Saya adalah orang Israel yang paling dibenci di Israel,� adalah seorang akademisi Yahudi terkenal yang berbagi pandangannya dengan kelompok sejarawan baru. Ketika ditanya dalam sebuah wawancara mengapa Israel tak mampu mengakui kekejaman yang ia lakukan di Palestina, jawaban yang diberikannya sangat mengejutkan:

IInilah buah dari sebuah proses panjang pengajaran paham yang dimulai dari taman kanak-kanak, yang melibatkan semua anak-anak lelaki dan perempuan Yahudi sepanjang kehidupan mereka. Anda tidak dapat menumbangkan sebuah sikap yang ditanamkan di sana dengan sebuah mesin indoktrinasi yang kuat, yang menciptakan sebuah persepsi rasis tentang orang lain, yang digambarkan sebagai primitif, hampir tidak pernah ada, penuh kebencian — Orang itu memang penuh kebencian, tapi penjelasan yang diberikan di sini adalah ia terlahir primitif, Islam, anti-Semit, bukan bahwa ia adalah seseorang yang telah merampas tanahnya.5

Akan tetapi, para pemikir, ahli strategi, dan penulis ini punya lebih banyak lagi kesamaan pandangan dibanding sekedar penentangan mereka terhadap Zionisme. Ciri kesamaan terpenting antara mereka adalah bahwa masing-masing mereka telah dituduh menganut anti-Semitisme. Setiap orang yang telah menggunakan fakta-fakta dan dokumen sejarah tentang kejadian yang terjadi di Palestina dan kemudian menulis sebuah artikel atau buku yang mengkritik Zionisme telah dituduh sebagai orang-orang anti-Semit. Contoh paling baru adalah saluran televisi Inggris BBC. Anggota-anggota krunya yang mempersiapkan sebuah dokumenter tentang pembantaian tahun 1982 di kamp pengungsian Sabra dan Shatilla, juga pemimpin stasiun yang menyiarkannya, dituduh sebagai anti-Semit oleh pemerintah Israel.

Ini sesungguhnya adalah sebuah teknik yang digunakan oleh para Zionis dan pro-Zionis untuk memfitnah dan menetralkan orang-orang yang mengkritik Zionisme. Para Zionis bahkan telah menciptakan sebuah istilah untuk memfitnah orang-orang Yahudi seperti itu: �orang Yahudi yang membenci dirinya sendiri.� Istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan orang-orang Yahudi yang mengkritik Israel, yang bertujuan untuk mencitrakan mereka sebagai para pemberontak yang menderita karena dilema kejiwaan. Para Zionis yang membuat pernyataan semacam itu, tak disangkal lagi, berusaha mengacaukan hasil pekerjaan para penentangnya.

Kenyataannya, tuduhan berdasarkan ras seperti ini, khususnya ketika ditimpakan kepada orang Islam, adalah tidak berdasar dan tak masuk akal, karena tidak ada orang Islam, karena keimanannya, bisa menganut pemikiran atau sudut pandang rasis yang bagaimanapun juga. Dan memang, ini diciptakan oleh sejarah. Dunia Islam tidak pernah mengalami apa pun seperti praktek-praktek kecurigaan bangsa Eropa di abad pertengahan, yang menumbuhkan fanatisme agama, dan semakin berjangkitnya anti-Semitisme di tahun-tahun belakangan (yang dilahirkan oleh keyakinan rasis) di Uni Sovyet, Eropa Timur, dan Nazi Jerman. Bentrokan antara orang Yahudi dan Muslim di Timur Tengah, yang berlanjut hingga hari ini, akibat keterikatan beberapa orang Yahudi kepada ideologi Zionisme yang rasis dan anti agama, bukanlah tindakan orang-orang Islam.

Tentara Israel yang Menolak Bertugas di Daerah Pendudukan

Setelah perang 1967, Yeshayahu Leibowitz, salah satu cendekiawan terkemuka Israel, memperingatkan bahwa Israel harus menarik diri dari Daerah Pendudukan untuk menghentikan pertumpahan darah. Ia menulis bahwa satu-satunya jalan untuk menghindarkan pengrusakan orang-orang Israel adalah jika 500 tentara yang bertugas di Daerah Pendudukan berani berkata �kami tidak ingin bertugas di sini� dan menarik diri.6

Pada hari ketika Intifadah al-Aqsa (dimulai pada September 2000) dan balas dendam orang-orang Israel semakin dan semakin keras, sekelompok tentara Israel bertindak atas rencana sendiri. Pada pertengahan Januari 2002, sekitar 25 tentara menandatangani sebuah surat terbuka kepada media Israel yang menyebutkan bahwa mereka menolak bertugas di Daerah-daerah Pendudukan. Penolakan ini bukannya tidak pernah terjadi sebelumnya, karena selama penyerbuan Libanon 1982, sekelompok kecil tentara telah menolak bertugas untuk angkatan bersenjata Israel, dengan mengatakan bahwa mereka tidak ingin menjadi bagian dari pemusnahan bangsa yang dilakukan atas orang-orang sipil Libanon. Tindakan tentara-tentara ini, yang kemudian disebut sebagai Yesh Gvul (Ada batas untuk segala sesuatu), diperparah dengan pemenjaraan mereka. Tentara-tentara yang mengumumkan pernyataannya di depan publik pada Januari 2002 tidak menghadapi sanksi hukuman apa pun, dan pada Februari 2002, anggota mereka mencapai 250. Bahkan pada saat ini mereka menerima dukungan besar dari kelompok-kelompok perdamaian, lembaga-lembaga swadaya masyarakat, pemimpin-pemimpin keagamaan, dan orang-orang Israel serta Palestina kebanyakan.

Di dalam pernyataannya, para tentara berpendapat bahwa angkatan bersenjata Israel telah bertindak brutal dan tak mengenal kasihan kepada kepada orang-orang Palestina di Daerah Pendudukan, bahwa apa yang terjadi di sana telah melecehkan martabat manusia, dan bahwa lebih parah lagi, ini tidak ada hubungannya dengan usaha mempertahankan Israel. Mereka melanjutkan: �Kami tidak akan melanjutkan pertempuran melewati batas negara tahun 1967 untuk menjajah, mengusir, membuat kelaparan, dan menghina seluruh manusia. “

Ariel Shatil, seorang sersan kepala artileri mengingatkan kembali bahwa ketika ada pernyataan menyebutkan orang-orang Palestina menembak pertama kali dan orang-orang Israel hanya membalas, sebenarnya, �Kamilah yang akan memulai tembak menembak dan mereka akan menembak setelahnya.� Dalam sebuah brosur yang mereka persiapkan untuk mengingatkan rekan-rekan mereka yang terus bertugas di daerah ini, para tentara menyatakan:

Ketika Anda mengambil bagian dalam pembunuhan tanpa dasar hukum (�pembubaran,� dalam istilah angkatan bersenjata), ketika Anda mengambil bagian dalam pemusnahan rumah-rumah penduduk, ketika Anda mulai menembaki penduduk sipil tak bersenjata atau rumah-rumah penduduk, ketika Anda menumbangkan kebun-kebun, ketika Anda menghambat aliran makanan atau pengobatan, Anda telah mengambil bagian dalam tindakan yang disebutkan dalam konvensi internasional (seperti Konvensi Jenewa ke-4) dan hukum Israel sebagai kejahatan perang.7

Seorang tentara bernama Asaf Oron, yang telah lama memutuskan untuk tidak bertugas, melaporkan bahwa ia menyaksikan perbuatan amat brutal ketika bertugas di daerah tersebut. Ia menerangkan apa yang ia alami dan apa yang ia lihat sebagai pemecahannya:

Setelah menumpang bis menuju Jalur Gaza, para tentara saling bersaing: cerita �pahlawan� mana dari penaklukan berdarah selama Intifadah ini yang lebih hebat (Mungkin Anda belum tahu: penaklukan ini hakikatnya adalah pembunuhan: penaklukan hingga mati)�

Begitu waktu berlalu, begitu tingkat kegilaan, kebengisan, dan hasutan meningkat, begitu para jenderal mengubah Angkatan Bersenjata Israel menjadi sebuah organisasi teror�. Kemudian saya menemukan bahwa saya tidaklah sendiri�kita semua percaya pada Tuhan� Kita percaya bahwa tidak ada ruang untuk hukum bangsa, jika hukum itu hanya menyamarkan penyembahan berhala, jenis penyembahan berhala yang tidak boleh kita dukung. Mereka yang membiarkan bentuk penyembahan berhala seperti itu akan berakhir dengan membakar diri mereka sendiri.8

Petikan dari Sebuah Surat Terbuka Tentara Israel

Kami, para tentara dan pejabat angkatan perang yang telah bertugas untuk Negara Israel selama berminggu-minggu setiap tahun, meskipun dengan keberanian mengorbankan diri kami sendiri, telah bertugas mempertahankan seluruh Daerah Pendudukan, dan telah diberi perintah dan arahan yang tidak ada hubungannya dengan pengamanan negara kami, dan hanya punya satu tujuan: meneruskan kendali kami atas orang-orang Palestina. Kami, yang punya mata untuk melihat harga berdarah yang dibayarkan untuk Pendudukan ini dari kedua belah pihak.

Kami, yang merasakan bagaimana perintah yang dikeluarkan untuk kami mengenai daerah-daerah ini, menghancurkan seluruh nilai-nilai yang telah kami tanamkan sewaktu dibesarkan di negara ini.

Kami, yang memahami sekarang bahwa harga sebuah Pendudukan adalah hilangnya watak kemanusiaan IDF (Angkatan Bersenjata Israel) dan penyimpangan oleh keseluruhan masyarakat Israel.

Kami yang mengetahui bahwa Daerah-daerah tersebut bukanlah Israel, dan bahwa semua pemukiman akan dikosongkan pada akhirnya.

Kami dengan ini menyatakan bahwa kami tidak akan meneruskan bertempur dalam Perang Pendudukan ini.

Kami tidak akan meneruskan pertempuran melampaui perbatasan tahun 1967 untuk menjajah, mengusir, menimbulkan kelaparan, dan menghina seluruh manusia.

Kami dengan ini menyatakan bahwa kami akan terus bertugas untuk Angkatan Bersenjata Israel dalam segala tugas untuk mempertahankan Israel.

Misi pendudukan dan penindasan tidaklah sejalan dengan tujuan ini, dan kami tidak akan mengambil bagian di dalamnya.

Pandangan Kepala Rabbi Jonathan Sacks tentang Israel

Salah satu kritik yang sangat pedas dari kalangan Yahudi tentang kebijakan Israel datang dari Prof. Jonathan Sacks, Kepala Rabbi Inggris. Dalam sebuah wawancara, yang diterbitkan oleh The Guardian pada 27 Agustus 2002, Sacks dengan keras mengkritik Israel, dengan berpendapat bahwa negara ini tengah bersikap yang �tidak sesuai� dengan pemikiran termurni Yudaisme, dan bahwa pertikaian saat ini dengan warga Palestina �merusak� masyarakat Israel.

Sacks, yang menjadi kepala rabbi Yahudi Ortodoks Inggris pada 1991, dan menjadi pemimpin 280.000 masyarakat Yahudi di negara itu, dikenal sebagai pendukung setia Israel dan merupakan veteran yang bekerja untuk terciptanya perdamaian di negara itu. �Saya menganggap kejadian saat ini sudah tragis. Ini memaksa Israel ke dalam keadaan yang tidak sesuai dalam jangka panjang dengan pandangan (agama) kami� kata Sacks. Ia menambahkan bahwa �berbagai hal telah terjadi setiap hari yang membuat saya merasa sangat tak nyaman sebagai seorang Yahudi.� Ia terus berkata bahwa ia �sangat terguncang� karena berita tentara Israel tersenyum ketika bergambar di depan mayat-mayat orang Palestina yang terbunuh.a

Kritikan sang kepala Rabbi tentang kekejaman Israel atas nama Yudaisme mengingatkan kita akan satu kenyatan penting: Tidak diperkenankan, baik oleh seorang Muslim maupun Yahudi sejati untuk menumpahkan darah yang tak bersalah. Seluruh agama wahyu melarang kekerasan, perang, dan pembunuhan tak berkeadilan, dan memerintahkan perdamaian dan membantu orang yang membutuhkan.

Jonathan Sacks juga mencatat bahwa orang-orang Israel, yang hidup berabad-abad terpencar-pencar, harus sangat memahami kesulitan yang dihadapi orang-orang Palestina:

Anda tidak dapat mengabaikan perintah yang diulangi 36 kali dalam kitab suci: �Kalian terusir untuk mengetahui bagaimana rasanya menjadi orang yang terusir.� Saya berpegang padanya sebagai salah satu inti pegangan yang benar bagi prinsip Yahudi. b

Dalam wawancara yang sama, Sacks juga menjawab pertanyaan tentang pertemuan rahasia yang diadakan pada tahun 2000 dengan Abdullah Javadi-Amoli, salah satu ulama terbesar Iran, dalam suatu konferensi pemimpin keagamaan, dan menariknya, tercatat:

Tak lama kami sudah bisa berbicara dalam bahasa yang sama, karena kami memegang beberapa hal dengan sungguh-sungguh: kami beriman sungguh-sungguh, kami berpegang pada kitab suci sungguh-sungguh. Inilah bahasa yang sama antar orang-orang beriman. c

Pernyataan rabbi Sacks adalah sebuah contoh pembicaraan damai yang harus diadakan antara orang-orang Islam dan Yahudi (dan tentu saja, Kristen). Ketiga keimanan ini memerintahkan keadilan, kejujuran, penyelamatan orang tertindas, dan perdamaian, serta cinta. Pengikut ketiga keimanan ini percaya pada Tuhan, mencintai nabi-nabi yang sama; seharusnya tidak ada permusuhan di antara mereka.

a Jonathan Freedland, “Israel Set On Tragic Path, Says Chief Rabbi”, The Guardian, 27 Agustus 2002
b Jonathan Freedland, “Israel Set On Tragic Path, Says Chief Rabbi”, The Guardian, 27 Agustus 2002
c Jonathan Freedland, “Israel Set On Tragic Path, Says Chief Rabbi”, The Guardian, 27 Agustus 2002

Pandangan Islam tentang Yahudi

Setiap Muslim memiliki tanggapan nurani dan hukum mengenai praktek teror Zionis atas orang-orang Palestina. Akan tetapi, perlu halnya di sini, seperti dalam segala hal, untuk membela keadilan dan bertindak tanpa prasangka. Setiap Muslim berkewajiban mencegah kekejaman atau perlakuan tak adil atas orang-orang Yahudi yang tak bersalah, apalagi jika mereka menentang Yahudi Zionis.

Anti-Semitisme, seperti halnya segala bentuk rasisme, bertolak belakang dengan akhlak Islam. Orang-orang Islam seharusnya menentang segala bentuk pemusnahan bangsa, penyiksaan, dan kekejaman, dan tidak membeda-bedakan atas dasar agama, ras, atau suku bangsa. Orang-orang Islam seharusnya tidak menyetujui serangan tak berkeadilan yang paling ringan sekali pun, maupun serangan atas ras manapun, bahkan kita harus mengutuknya. Al-Qur’an mengutuk mereka yang menyebarluaskan perpecahan, memperlakukan orang lain dengan kejam, dan membunuh orang-orang tak bersalah. Oleh karena itu, penentangan hukum atas Zionisme tidak boleh diselubungi oleh kebencian kepada orang-orang Yahudi.

Pada saat bersamaan, contoh lain rasisme (yakni terhadap orang-orang kulit hitam Afrika) juga merupakan penyimpangan akibat takhayul dan berbagai ideologi di luar agama wahyu Tuhan. Penyimpangan seperti itu mempertahankan berbagai pemikiran dan model sosial yang berlawanan tajam dengan akhlak Al-Qur’an. Akar dari anti-Semitisme adalah rasa benci, kekerasan, dan tak mengenal kasihan. Al-Qur’an, di sisi lain, mengajarkan kerendahan hati, mencintai orang lain, belas kasih, dan cinta kasih. Al-Qur’an memerintahkan orang-orang Islam untuk adil, dan jika perlu, memaafkan bahkan terhadap musuh-musuh mereka: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Qur’an 5:8) Lebih jauh, “barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya412.� (Al-Qur’an 5:32).

Karena itu, pembunuhan bahkan satu orang tak bersalah pun adalah sebuah kejahatan yang tak dapat dikecilkan.

Alasan adanya berbagai ras dan manusia di dunia adalah bukan untuk berselisih atau berperang, melainkan untuk menunjukkan keragaman, yang merupakan keindahan penciptaan Allah dan karunia budaya. Perbedaan jasmani manusia tak ada pentingnya dalam pandangan Allah, dan semua orang Islam sangat mengetahui bahwa satu-satunya kebesaran hanyalah milik Allah. Allah menyatakan kebenaran ini dalam ayat berikut:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qur’an, 49:13)

Karena Al-Qur’an tidak membeda-bedakan ras dan suku bangsa, orang-orang dengan keyakinan berbeda pun diberi hak untuk hidup damai dan aman dalam masyarakat yang sama. Pengajaran dasar Al-Qur’an lainnya adalah bahwa manusia tidak seharusnya dianggap sebagai satu kelompok saja karena mereka terdiri atas suatu ras, manusia, atau agama tertentu. Ada orang-orang baik dan jahat dalam setiap masyarakat; ini adalah sebuah kenyataan yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an. Misalnya, setelah menjelaskan bagian tentang Ahli Kitab yang berkhianat kepada Allah dan agama, Allah menerangkan pengecualian berikut ini di dalam Al-Qur’an:

Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus221, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menenerima pahala)nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa. (Qur’an, 3:113-115)

Akibatnya, karena kaum Muslimin takut kepada Allah dan mempertimbangkan ketentuan Al-Qur’an, mereka tidak mungkin mengobarkan kebencian terhadap orang-orang Yahudi atas dasar agama. Karena itu, pembahasan kita tentang bentrokan antara Israel dan Palestina akan dilakukan dengan titik tolak ini. Pembahasan ini tidak diarahkan menentang Yahudi atau Yudaisme, melainkan menentang ideologi Zionis yang telah memicu para pemimpin mereka untuk membentuk dan mempertahankan sebuah pemerintahan yang rasis dan keras.

SEJARAH YAHUDI

Seperti telah ditunjukkan di awal, semua tanah Palestina, khususnya Yerusalem, adalah suci untuk orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Muslim. Alasannya adalah karena sebagian besar nabi-nabi Allah yang diutus untuk memperingatkan manusia menghabiskan sebagian atau seluruh kehidupannya di tanah ini.

Menurut studi sejarah yang didasarkan atas penggalian arkeologi dan lembaran-lembaran kitab suci, Nabi Ibrahim, putranya, dan sejumlah kecil manusia yang mengikutinya pertama kali pindah ke Palestina, yang dikenal kemudian sebagai Kanaan, pada abad kesembilan belas sebelum Masehi. Tafsir Al-Qur’an menunjukkan bahwa Ibrahim (Abraham) AS, diperkirakan tinggal di daerah Palestina yang dikenal saat ini sebagai Al-Khalil (Hebron), tinggal di sana bersama Nabi Luth (Lot). Al-Qur’an menyebutkan perpindahan ini sebagai berikut:

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. (Qur’an, 21:69-71)

Daerah ini, yang digambarkan sebagai �tanah yang telah Kami berkati,� diterangkan dalam berbagai keterangan Al-Qur’an yang mengacu kepada tanah Palestina.

Sebelum Ibrahim AS, bangsa Kanaan (Palestina) tadinya adalah penyembah berhala. Ibrahim meyakinkan mereka untuk meninggalkan kekafirannya dan mengakui satu Tuhan. Menurut sumber-sumber sejarah, beliau mendirikan rumah untuk istrinya Hajar dan putranya Isma�il (Ishmael) di Mekah dan sekitarnya, sementara istrinya yang lain Sarah, dan putra keduanya Ishaq (Isaac) tetap di Kanaan. Seperti itu pulalah, Al-Qur’an menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim mendirikan rumah untuk beberapa putranya di sekitar Baitul Haram, yang menurut penjelasan Al-Qur’an bertempat di lembah Mekah.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Qur’an, 14:37)

Akan tetapi, putra Ishaq Ya�kub (Jacob) pindah ke Mesir selama putranya Yusuf (Joseph) diberi tugas kenegaraan. (Putra-putra Ya�kub juga dikenang sebagai �Bani Israil.�) Setelah dibebaskannya Yusuf dari penjara dan penunjukan dirinya sebagai kepala bendahara Mesir, Bani Israel hidup dengan damai dan aman di Mesir.

Suatu kali, keadaan mereka berubah setelah berlalunya waktu, dan Firaun memperlakukan mereka dengan kekejaman yang dahsyat. Allah menjadikan Musa (Moses) nabi-Nya selama masa itu, dan memerintahkannya untuk membawa mereka keluar dari Mesir. Ia pergi ke Firaun, memintanya untuk meninggalkan keyakinan kafirnya dan menyerahkan diri kepada Allah, dan membebaskan Bani Israil yang disebut juga orang-orang Israel. Namun Firaun seorang tiran yang kejam dan bengis. Ia memperbudak Bani Israil, mempekerjakan mereka hingga hampir mati, dan kemudian memerintahkan dibunuhnya anak-anak lelaki. Meneruskan kekejamannya, ia memberi tanggapan penuh kebencian kepada Musa. Untuk mencegah pengikut-pengikutnya, yang sebenarnya adalah tukang-tukang sihirnya dari mempercayai Musa, ia mengancam memenggal tangan dan kakinya secara bersilangan.

Meskipun Firaun menolak permintaannya, Musa AS dan kaumnya meninggalkan Mesir, dengan pertolongan mukjizat Allah, sekitar tahun 1250 SM. Mereka tinggal di Semenanjung Sinai dan timur Kanaan. Dalam Al-Qur’an, Musa memerintahkan Bani Israil untuk memasuki Kanaan:

Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (Qur’an, 5:21)

Setelah Musa AS, bangsa Israel tetap berdiam di Kanaan (Palestina). Menurut ahli sejarah, Daud (David) menjadi raja Israel dan membangun sebuah kerajaan berpengaruh. Selama pemerintahan putranya Sulaiman (Solomon), batas-batas Israel diperluas dari Sungai Nil di selatan hingga sungai Eufrat di negara Siria sekarang di utara. Ini adalah sebuah masa gemilang bagi kerajaan Israel dalam banyak bidang, terutama arsitektur. Di Yerusalem, Sulaiman membangun sebuah istana dan biara yang luar biasa. Setelah wafatnya, Allah mengutus banyak lagi nabi kepada Bani Israil meskipun dalam banyak hal mereka tidak mendengarkan mereka dan mengkhianati Allah.

Karena kemerosotan akhlaknya, kerajaan Israel mulai memudar dan ditempati oleh berbagai orang-orang penyembah berhala, dan bangsa Israel, yang juga dikenal sebagai Yahudi pada saat itu, diperbudak kembali. Ketika Palestina dikuasai oleh Kerajaaan Romawi, Nabi �Isa (Jesus) AS datang dan sekali lagi mengajak Bani Israel untuk meninggalkan kesombongannya, takhayulnya, dan pengkhianatannya, dan hidup menurut agama Allah. Sangat sedikit orang Yahudi yang meyakininya; sebagian besar Bani Israel mengingkarinya. Dan, seperti disebutkan Al-Qur’an, mereka itu yang: “: telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (Al-Qur’an, 5:78) Setelah berlalunya waktu, Allah mempertemukan orang-orang Yahudi dengan bangsa Romawi, yang mengusir mereka semua keluar dari Palestina.

Tujuan penjelasan yang panjang lebar ini adalah untuk menunjukkan bahwa pendapat dasar Zionis bahwa �Palestina adalah tanah Allah yang dijanjikan untuk orang-orang Yahudi� tidaklah benar. Pokok permasalahan ini akan dibahas secara lebih rinci dalam bab tentang Zionisme.

Zionisme menerjemahkan pandangan tentang �orang-orang terpilih� dan �tanah terjanji� dari sudut pandang kebangsaannya. Menurut pernyataan ini, setiap orang yang berasal dari Yahudi itu �terpilih� dan memiliki �tanah terjanji.� Padahal, ras tidak ada nilainya dalam pandangan Allah, karena yang penting adalah ketakwaan dan keimanan seseorang. Dalam pandangan Allah, orang-orang terpilih adalah orang-orang yang tetap mengikuti agama Ibrahim, tanpa memandang rasnya.

Al-Qur’an juga menekankan kenyataan ini. Allah menyatakan bahwa warisan Ibrahim bukanlah orang-orang Yahudi yang bangga sebagai �anak-anak Ibrahim,� melainkan orang-orang Islam yang hidup menurut agama ini:

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (Qur’an, 3:68)

PALESTINA MUSLIM

Semenjak awal sejarah Islam, Palestina, dan kota Yerusalem khususnya, telah menjadi tempat suci bagi umat Islam. Sebaliknya bagi Yahudi dan Nasrani, umat Islam telah menjadikan kesucian Palestina sebagai sebuah kesempatan untuk membawa kedamaian kepada daerah ini. Dalam bab ini kita akan membahas beberapa contoh sejarah dari kenyataan ini.

‘Isa (Yesus), salah satu nabi yang diutus kepada umat Yahudi, menandai titik balik penting lainnya dalam sejarah Yahudi. Orang-orang Yahudi menolaknya, dan kemudian diusir dari Palestina serta mengalami banyak ketidakberuntungan. Pengikutnya kemudian dikenal sebagai umat Nasrani. Akan tetapi, agama yang disebut Nasrani atau Kristen saat ini didirikan oleh orang lain, yang disebut Paulus (Saul dari Tarsus). Ia menambahkan pemandangan pribadinya tentang Isa ke dalam ajaran yang asli dan merumuskan sebuah ajaran baru di mana Isa tidak disebut sebagai seorang nabi dan Al-Masih, seperti seharusnya, melainkan dengan sebuah ciri ketuhanan. Setelah dua setengah abad ditentang di antara orang-orang Nasrani, ajaran Paulus dijadikan doktrin Trinitas (Tiga Tuhan). Ini adalah sebuah penyimpangan dari ajaran Isa dan pengikut-pengikut awalnya. Setelah ini, Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW sehingga beliau bisa mengajarkan Islam, agama Ibrahim, Musa, dan Isa, kepada seluruh umat manusia.

Yerusalem itu suci bagi umat Islam karena dua alasan: kota ini adalah kiblat pertama yang dihadapi oleh umat Islam selama ibadah sholatnya, dan merupakan tempat yang dianggap sebagai salah satu mukjizat terbesar yang dilakukan oleh Nabi Muhammad: mikraj, perjalanan malam dari Mesjid Haram di Mekkah menuju Mesjid Aqsa di Yerusalem, kenaikannya ke langit, dan kembali lagi ke Mesjid Haram. Al-Qur’an menerangkan kejadian ini sebagai berikut:

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Qur’an, 17:1)

Dalam wahyu-wahyu Al-Qur’an kepada Nabi SAW, sebagian besar ayat-ayat yang berkesesuaian mengacu kepada Palestina sebagai �tanah suci, yang diberkati.� Ayat 17:1 menggambarkan tempat ini, yang di dalamnya ada Mesjid Aqsa sebagai tanah �yang Kami berkati disekelilingnya.� Dalam ayat 21:71, yang menggambarkan keluarnya Nabi Ibrahim dan Luth, tanah yang sama disebut sebagai �tanah yang Kami berkati untuk semua makhluk.� Pada saat bersamaan, Palestina secara keseluruhan penting artinya bagi umat Islam karena begitu banyak nabi Yahudi yang hidup dan berjuang demi Allah, mengorbankan hidup mereka, atau meninggal dan dikuburkan di sana.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan dalam 2000 tahun terakhir, umat Islam telah menjadi satu-satunya kekuatan yang membawa kedamaian kepada Yerusalem dan Palestina.

Khalifah Umar Membawa Perdamaian dan Keadilan bagi Palestina

Setelah Roma mengusir Yahudi dari Palestina, Yerusalem dan sekitarnya menjadi lenyap.
Akan tetapi, Yerusalem kembali menjadi pusat perhatian setelah Pemerintah Romawi Constantine memeluk agama Nasr

ZIONISME: SEBUAH NASIONALISME SEKULER YANG MENGKHIANATI YUDAISME

Zionisme dibawa ke dalam agenda dunia di akhir-akhir abad ke sembilan belas oleh Theodor Herzl (1860-1904), seorang wartawan Yahudi asal Austria. Baik Herzl maupun rekan-rekannya adalah orang-orang yang memiliki keyakinan agama yang sangat lemah, jika tidak ada sama sekali. Mereka melihat “Keyahudian” sebagai sebuah nama ras, bukan sebuah masyarakat beriman. Mereka mengusulkan agar orang-orang Yahudi menjadi sebuah ras terpisah dari bangsa Eropa, yang mustahil bagi mereka untuk hidup bersama, dan bahwa penting artinya bagi mereka untuk membangun tanah air mereka sendiri. Mereka tidak mengandalkan pemikiran keagamaan ketika memutuskan tanah air manakah itu seharusnya. Theodor Herzl, sang pendiri Zionisme, suatu kali memikirkan Uganda, dan ini lalu dikenal sebagai “Uganda Plan.” Sang Zionis kemudian memutuskan Palestina. Alasannya adalah Palestina dianggap sebagai “tanah air bersejarah bagi orang-orang Yahudi”, dibandingkan segala kepentingan keagamaan apa pun yang dimilikinya untuk mereka.
Sang Zionis melakukan upaya-upaya besar untuk mengajak orang-orang Yahudi lainnya menerima gagasan yang tak sesuai agama ini. Organisasi Zionis Dunia yang baru melakukan upaya propaganda besar di hampir semua negara yang berpenduduk Yahudi, dan mulai berpendapat bahwa Yahudi tidak dapat hidup dengan damai dengan bangsa-bangsa lainnya dan bahwa mereka adalah “ras” yang terpisah. Oleh karena itu, mereka harus bergerak dan menduduki Palestina. Sebagian besar orang Yahudi mengabaikan himbauan ini.

Menurut negarawan Israel Amnon Rubinstein: “Zionisme (dulu) adalah sebuah pengkhianatan atas tanah air mereka (Yahudi) dan sinagog para Rabbi”.15 Oleh karena itu banyak orang-orang Yahudi yang mengkritik ideologi Zionisme. Rabbi Hirsch, salah satu pemimpin keagamaan terkemuka saat itu berkata, “Zionisme ingin menamai orang-orang Yahudi sebagai sebuah lembaga nasional�. yang merupakan sebuah penyimpangan.”16

Pemikir Islam Prancis yang terkenal Roger Garaudy melukiskan hal ini dalam sebuah pembahasan:

Musuh terburuk keyakinan Yahudi yang jauh ke depan adalah logika para nasionalis, rasis, dan kolonialis dari Zionisme kebangsaan, yang dilahirkan dari nasionalisme, rasisme, dan kolonialisme abad ke-19 di Eropa. Logika ini, yang menginspirasi semua penjajahan Barat dan semua perang antara satu nasionalisme dengan nasionalisme lainnya, adalah sebuah logika yang membunuh diri sendiri. Tidak ada masa depan atau keamanan bagi Israel dan tidak ada keamanan di Timur Tengah kecuali jika Israel meninggalkan paham Zionismenya dan kembali ke agama Ibrahim, yang adalah warisan bersama, bersifat keagamaan, dan persaudaraan dari tiga agama wahyu: Yudaisme, Nasrani, dan Islam.17

Dengan cara ini, Zionisme memasuki politik dunia sebagai sebuah ideologi rasis yang menganut paham bahwa Yahudi seharusnya tidak hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain. Pertama-tama, ini adalah gagasan yang keliru yang menciptakan masalah parah bagi dan tekanan atas orang-orang Yahudi yang hidup dalam belenggu ini. Kemudian, bagi orang-orang Islam di Timur Tengah, paham ini membawa kebijakan Israel tentang pendudukan dan perebutan wilayah bersama-sama dengan kemiskinan, teror, pertumpahan darah, dan kematian.

Pendeknya, Zionisme sebenarnya adalah sebuah bentuk nasionalisme sekuler yang berasal dari filsafat sekuler, bukan dari agama. Akan tetapi, seperti dalam bentuk nasionalisme lainnya, Zionisme juga berusaha menggunakan agama untuk tujuannya sendiri.

Kesalahan Penafsiran Taurat oleh Para Zionis

Taurat adalah sebuah kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Musa. Allah berkata dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)�” (Al-Qur’an, 5:44). Al-Qur’an juga berkata bahwa Taurat kemudian akan dikotori oleh perkataan manusia di dalamnya. Inilah kenapa apa yang kita miliki saat ini adalah “Taurat yang menyimpang.”

Akan tetapi, sebuah penelitian lebih dekat mengungkap adanya kebanyakan kebenaran agama yang terkandung dalam Kitab yang pernah diwahyukan ini, seperti keimanan kepada Allah, penghambaan diri kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya, takut kepada Allah, cinta kepada Allah, keadilan, kasih sayang, cinta kasih, melawan kekejaman dan ketidakadilan, yang semuanya ditemukan di seluruh Taurat dan kitab lainnya dari Perjanjian Lama.

Terlepas dari ini, perang yang terjadi dalam sejarah dan pembunuhan yang terjadi karenanya juga disebutkan di dalam Taurat. Jika manusia ingin menemukan sebuah dasar, meskipun dengan memutarbalikkan kenyataan, untuk kekejaman, pembantaian, dan pembunuhan, mereka bisa menjadikan bab-bab dalam Taurat tersebut sebagai acuan. Zionisme memilih cara mutlak yang mengesahkan terorismenya, yang sebenarnya adalah sebuah terorisme fasis. Dan, ini sangat berhasil. Misalnya, Zionisme menggunakan bab-bab (dari Taurat) yang terkait dengan perang dan pembantaian untuk mengesahkan pembantaian orang-orang Palestina yang tak berdosa. Padahal, ini adalah sebuah penafsiran menyimpang yang disengaja. Zionisme menggunakan agama untuk mengesahkan fasismenya dan ideologi rasisnya.

Para Zionis juga mendasarkan pernyataan mereka pada penafsiran mereka tentang ayat-ayat yang berhubungan dengan “orang pilihan” yang pernah dikaruniakan Allah kepada orang Yahudi suatu kali. Beberapa ayat Al-Qur’an berhubungan dengan persoalan ini:

Hai Bani Israil, ingatlah akan ni’mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat45. (Qur’an, 2:47)

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezki-rezki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). (Qur’an, 45:16)

Al-Qur’an menerangkan bagaimana pada suatu kali Allah memberkati orang-orang Yahudi, dan bagaimana pada kali lainnya Dia menjadikan mereka berkuasa atas bangsa-bangsa lain. Namun ayat-ayat ini tidaklah menyiratkan “orang pilihan” seperti apa yang dipahami orang-orang Yahudi radikal. Ayat-ayat tersebut menunjukkan kenyataan bahwa banyak nabi-nabi yang datang dari keturunan ini, dan bahwa orang-orang Yahudi memerintah di daerah yang luas pada saat itu. Ayat-ayat tersebut menerangkan bahwa dengan berkat kedudukan kekuasaan mereka, mereka “lebih diutamakan di atas semua manusia lain.” Ketika mereka menolak Isa, ciri ini pun berakhir.

Al-Qur’an menyatakan bahwa orang yang terpilih tersebut adalah para nabi dan orang-orang beriman yang Allah tunjuki kepada kebenaran. Ayat-ayat ini menyebutkan bahwa para nabi itu telah dipilih, ditunjuki jalan yang benar, dan diberkati. Berikut ini adalah beberapa ayat yang terkait dengan persoalan ini:

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya90 di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (Qur’an, 2: 130)

Dan Kami lebihkan (pula) derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan kenabian Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. (Qur’an, 6:87-89)

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (Qur’an, 19:58)

Namun orang-orang Yahudi radikal, yang mempercayai keterangan menyimpang, melihat “orang yang terpilih” sebagai ciri kebangsaan sehingga mereka menganggap setiap orang Yahudi terlahir unggul dan bahwa Bani Israil selamanya dianggap unggul dari semua manusia lainnya.

Penyimpangan kedua yang terbesar dari sudut pandang ini menampilkan anggapan keunggulan ini sebagai “suatu perintah untuk melakukan kekejaman atas bangsa lain.” Untuk tujuan ini, para Zionis membenarkan perilaku mereka melalui kebencian-kebencian turun-temurun yang bisa ditemukan dalam beberapa hal pada Yudaisme Talmud. Menurut pandangan ini, hal yang lumrah bagi orang-orang Yahudi untuk menipu orang-orang non-Yahudi, untuk merampas hak milik dan bangunan mereka, dan, ketika diperlukan bahkan membunuh mereka, termasuk wanita dan anak-anak.18 Kenyataan menunjukkan, semua ini adalah kejahatan yang melecehkan agama sejati, karena Allah memerintahkan kita untuk melestarikan keadilan, kejujuran, dan hak orang-orang tertindas, dan hidup dalam kedamaian dan cinta.

Lebih jauh lagi, pernyataan anti-non-Yahudi ini bertentangan dengan Taurat itu sendiri, seperti ayat-ayat yang mengutuk penindasan dan kekejaman. Akan tetapi, ideologi rasis Zionisme mengabaikan ayat-ayat seperti itu untuk menciptakan sistem kepercayaan berdasarkan amarah dan kebencian. Tanpa mempedulikan pengaruh ideologi Zionis, beberapa orang Yahudi yang benar-benar percaya pada Allah akan mengetahui bahwa agama mereka mengajarkan mereka untuk tunduk pada ayat-ayat lainnya ini yang memuji perdamaian, cinta, kasih, dan perilaku etis, seperti:

Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran. Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah Tuhan. Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegur orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. (Perjanjian Lama, Imamat, 19:15-17)

Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Perjanjian Lama, Mikha, 6:8)

Jangan membunuh. Jangan berzinah. Jangan mencuri. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. Jangan mengingini rumah sesamamu � (Perjanjian Lama, Keluaran, 20:13-17)

Menurut Al-Qur’an pun, perang hanyalah khusus sebagai sarana mempertahankan diri. Bahkan jika perang akan diumumkan dalam suatu masyarakat, kehidupan orang-orang tak berdosa dan aturan hukum harus dilindungi. Suatu perintah untuk membunuh wanita, anak-anak, dan orang-orang tua tidak dapat disampaikan oleh agama manapun, kecuali hanya oleh tipu-daya yang berkedok agama. Dalam Al-Qur’an, Allah tidak hanya mengutuk jenis kebencian seperti ini namun juga menyatakan bahwa semua manusia sama dalam pandangan-Nya dan bahwa kelebihan seseorang itu tidaklah didasarkan pada ras, keturunan, atau segala kelebihan keduniaan lainnya, melainkan pada ketakwaan – cinta bagi dan kedekatan kepada Allah.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qur’an, 49:13)

Terlepas dari kedok agamanya yang palsu, alasan sesungguhnya dari ketidakmanusiawian dan kekejaman Zionisme adalah hubungannya dengan mentalitas penjajahan Eropa di abad kesembilan belas. Penjajahan bukan semata sebuah sistem politik atau ekonomi; penjajahan juga sekaligus sebuah ideologi. Zionisme, yang percaya bahwa negara-negara industri Barat mempunyai hak untuk menjajah dan menduduki bangsa-bangsa terkebelakang di wilayah ini, melihat ini sebagai akibat alami dari sebuah proses “seleksi alam” internasional. Dengan kata lain, Zionisme adalah sebuah produk Darwinisme Sosial. Dalam kerangka ideologi ini, Inggris menjajah India, Afrika Selatan, dan Mesir. Prancis menjajah Indocina, Afrika Utara, dan Guyana. Karena terinspirasi oleh contoh-contoh ini, para Zionis memutuskan untuk menjajah Palestina bagi orang-orang Yahudi.

Kolonialisme Zionis menjadi jauh lebih buruk dibanding “rekan-rekannya” Inggris dan Prancis, karena paling tidak mereka (Inggris dan Prancis) mengizinkan daerah pendudukan mereka untuk hidup (setelah menyerah) dan bahkan memberi sumbangan kepada negara pendudukan dengan pendidikan, pemerintahan yang adil, dan prasarana. Namun, seperti yang akan kita lihat nanti, para Zionis tidak mengakui hak-hak orang Palestina untuk hidup; mereka melakukan pembersihan etnis, dan tidak memberi apa pun kepada orang-orang yang mereka jajah. Anda mungkin bahkan berkata mereka tidak memberi satu batu bata pun bagi orang-orang Palestina.

Pertentangan Zionisme dengan Yahudi

Sifat lainnya dari Zionisme adalah kepercayaannya kepada tema-tema propaganda palsu, mungkin yang paling penting adalah semboyan “sebuah tanah tanpa manusia untuk seorang manusia tanpa tanah.” Dengan kata lain, Palestina, “tanah tanpa manusia” harus diberikan kepada orang-orang Yahudi, “manusia tanpa tanah.” Dalam 20 tahun pertama abad kedua puluh, Organisasi Zionis Dunia menggunakan semboyan ini dengan sepenuh hati untuk meyakinkan pemerintahan Eropa, khususnya Inggris dan rakyatnya bahwa Palestina harus diserahkan kepada orang-orang Yahudi. Pada tahun 1917, akibat kampanye persuasifnya, Inggris mengumumkan Deklarasi Balfour bahwa “Pemerintahan Yang Mulia memandang pentingnya pendirian di Palestina sebuah tanah air nasional bagi orang-orang Yahudi� di Palestina.”

Kenyataan menunjukkan, semboyan “tanah tanpa manusia untuk manusia tanpa tanah” ini tidaklah benar. Ketika gerakan Zionis dimulai, orang-orang Yahudi tidaklah “tanpa tanah” dan Palestina pun bukannya tanpa manusia�

Orang-orang Yahudi tidaklah tanpa tanah karena sebagian besar mereka hidup di berbagai negara dengan damai dan aman. Khususnya di negara-negara industri Barat, persekutuan ibadat Yahudi tidak punya keluhan apa pun tentang kehidupan mereka. Bagi sebagian besar mereka, gagasan meninggalkan negara mereka untuk pindah ke Palestina tidak pernah terlintas dalam benak mereka. Kenyataan ini akan muncul belakangan ketika ajakan Zionis untuk �Pindah ke Palestina� secara luas diabaikan. Dalam tahun-tahun berikutnya, orang-orang Yahudi anti-Zionis yang kita bicarakan ini secara aktif menolak gerakan Zionis melalui ikatan-ikatan yang mereka dirikan sendiri.

Menerima dukungan resmi dengan Deklarasi Balfour, para Zionis merasakan dirinya berada dalam keadaan yang sulit ketika banyak saudara-saudara Yahudinya menolak pindah. Dalam hal ini, pernyataan Chaim Weizman sangat menohok:

Deklarasi Balfour pada 1917 diputuskan di awang-awang� setiap hari dan setiap jam dalam 10 tahun terakhir ini, ketika membuka surat kabar, saya berpikir: kapan hembusan angin surga lainnya datang? Saya terguncang karena takut Pemerintah Inggris akan memanggil saya dan bertanya: �Beritahu kami, apakah Organisasi Zionis ini? Di manakah mereka, para Zionismu?�… Orang-orang Yahudi, mereka tahu, menentang kami; kami berdiri sendiri di sebuah pulau kecil, sebuah kelompok Yahudi yang amat kecil dengan masa lalu yang asing.
Oleh karena itu para Zionis mulai terlibat dalam �kegiatan-kegiatan khusus� untuk �mendorong� pindahnya orang Yahudi ke Palestina, bahkan memaksa jika diperlukan, seperti mengganggu orang-orang Yahudi di negara-negara asalnya dan bekerja sama dengan para anti-Semit untuk meyakinkan bahwa pemerintah akan mengusir orang-orang Yahudi. (Lihat Harun Yahya, Soykirim Vahseti (The Holocaust Violence,), Vural Yayincilik, Istambul, 2002). Dengan demikian, Zionisme mengembangkannya sebagai gerakan yang mengganggu dan menteror rakyatnya sendiri.

Sekitar 100.000 orang Yahudi pindah ke Palestina antara tahun 1920-1929.20 Jika kita merenungkan bahwa ada 750.000 orang Palestina pada saat itu, maka 100.000 pasti bukanlah jumlah yang kecil. Organisasi Zionis memegang kendali penuh atas perpindahan ini. Orang-orang Yahudi yang menginjakkan kaki di Palestina ditemui oleh kelompok Zionis, yang menentukan di mana mereka akan tinggal dan pekerjaan apa yang akan mereka lakukan. Perpindahan ini didorong oleh pemimpin-pemimpin Zionis dengan berbagai imbalan. Akibat upaya yang giat di seluruh Palestina, Eropa, dan Rusia, penduduk Yahudi di Palestina mencatat pertumbuhan yang pesat dalam hal jumlah dan tempat tinggalnya. Bersamaan dengan adanya peningkatan kekuasaan Partai Nazi, orang-orang Yahudi di Jerman menghadapi tekanan yang semakin meningkat, suatu perkembangan yang semakin mendorong perpindahan mereka ke Palestina. Kenyataan Zionis mendukung penindasan Yahudi ini adalah sebuah fakta, dan masih menjadi salah satu rahasia sejarah yang paling terpendam. (Lihat Harun Yahya, Soykirim Vahseti (The Holocaust Violence), Vural Yayincilik, Istanbul, 2002)

Pertentangan Zionisme dengan Masyarakat Arab

Para Zionis tidak diragukan lagi telah melakukan kekejaman terburuk kepada orang-orang yang memiliki �sebuah tanah tanpa manusia�: orang-orang Palestina. Semenjak hari ketika Zionisme memasuki Palestina, para pengikutnya telah berusaha untuk menghancurkan orang-orang Palestina. Untuk memberi ruang bagi para imigran Yahudi, baik dipengaruhi oleh gagasan Zionis maupun takut pada anti-Semitisme, orang-orang Palestina terus ditekan, diasingkan, dan diusir dari rumah-rumah dan tanah mereka. Gerakan untuk menduduki dan mengasingkan ini, yang didorong oleh didirikannya Israel pada tahun 1948, menghancurkan kehidupan ratusan ribu orang-orang Palestina. Hingga hari ini, sekitar 3,5 juta orang Palestina masih berjuang untuk kehidupannya sebagai pengungsi dalam keadaan yang paling sulit.

Semenjak 1920an, perpindahan orang Yahudi yang diorganisir oleh Zionis telah dengan mantap mengubah keadaan demografi Palestina dan telah menjadi sebab terpenting berkepanjangannya pertentangan. Statistik yang terkait dengan peningkatan penduduk Yahudi ini secara langsung membuktikan kenyataan ini. Angka-angka ini adalah petunjuk penting tentang bagaimana sebuah kekuatan penjajahan dari luar negeri, kekuatan tanpa hak hukum atas tanah tersebut datang untuk merampok hak-hak penduduk asli.

Menurut catatan-catatan resmi, jumlah imigran Yahudi ke Palestina meningkat dari 100.000 pada tahun 1920an menjadi 232.000 pada tahun 1930an.21 Hingga 1939, penduduk Palestina yang jumlahnya 1,5 juta jiwa telah termasuk 445.000 orang Yahudi. Jumlah mereka, yang hanya 10% saja dari jumlah penduduk 20 tahun sebelumnya, sekarang menjadi 30% dari seluruh penduduk. Pemukiman Yahudi juga berkembang pesat, dan per 1939 orang-orang Yahudi memiliki dua kali dari jumlah tanah yang mereka miliki pada tahun 1920an.
Per 1947, ada 630.000 orang Yahudi di Palestina dan 1,3 juta orang Palestina. Antara 29 November 1947, ketika Palestina diberi dinding pembatas oleh PBB, dengan 15 Mei 1948, organisasi teroris Zionis mencaplok tiga perempat Palestina. Selama masa itu, jumlah orang-orang Palestina yang tinggal di 500 kota besar, kota kecil, dan desa turun drastis dari 950.000 menjadi 138.000 akibat serangan dan pembantaian. Beberapa di antaranya terbunuh, beberapa terusir.22

Dalam menjelaskan kebijakan pendudukan yang diterapkan Isrel pada tahun 1948, revisionis Israel yang terkenal, Ilan Pappe membuka sebuah rahasia, rencana tak tertulis untuk mengusir orang-orang Arab dari Palestina. Menurut rencana ini, setiap desa atau pemukiman Arab yang tidak menyerah kepada kekuatan Yahudi, yang tidak akan mengibarkan bendera putih, akan dibumihanguskan, dihancurkan, dan orang-orangnya diusir. Setelah keputusan ini dilaksanakan, hanya empat desa yang mengibarkan bendera putih; kota-kota dan desa-desa lainnya pasti akan menjadi sasaran pengusiran.23

Dengan cara ini, 400 desa Palestina terhapus dari peta selama 1949-1949. Hak milik yang ditinggalkan orang-orang Palestina dikuasai oleh orang-orang Yahudi, atas dasar Hukum Hak Milik Tak Ditempati. Hingga tahun 1947, kepemilikan tanah orang-orang Yahudi di Palestina adalah sekitar 6%. Pada saat negara Israel resmi didirikan, kepemilikan itu telah mencapai 90% dari seluruh tanah.
Setiap kedatangan orang Yahudi yang baru berarti kekejaman, tekanan, dan kekerasan baru terhadap orang-orang Palestina. Untuk memberi tempat tinggal bagi pendatang baru, organisasi Zionis menggunakan tekanan dan kekuatan untuk mengusir orang-orang Palestina dari tanahnya, yang telah mereka tempati selama berabad-abad, dan pindah ke padang pasir. Joseph Weitz, kepala komite transfer pemerintah Israel pada tahun 1948 menuliskan dalam buku hariannya pada 20 Desember 1940:

Pasti telah jelas bahwa tidak ada ruang untuk dua rakyat dalam negara ini. Tidak ada perkembangan yang akan membawa kita semakin dekat dengan tujuan kita, untuk menjadi rakyat merdeka dalam negara kecil ini. Setelah orang-orang Arab dipindahkan, negara ini akan terbuka luas bagi kita; dengan masih adanya orang Arab yang tinggal, negara ini akan tetap sempit dan terbatas. Satu-satunya jalan adalah memindahkan orang-orang Arab dari sini ke negara-negara tetangga. Semua mereka. Tidak ada satu desa pun, atau satu suku pun yang harus tertinggal.
Heilburn, ketua komite pemilihan kembali Jenderal Shlomo Lahat, walikota Tel Aviv, menyatakan pandangan Zionis tentang orang-orang Palestina dalam kata-kata berikut: “Kita harus membunuh semua orang-orang Palestina kecuali mereka tunduk tinggal di sini sebagai budak.”26 Banjir kedatangan imigran yang disebabkan oleh pecahnya Perang Dunia II membuat orang-orang Palestina sadar akan apa yang terjadi, sehingga mulai menolak tindakan-tindakan yang tidak adil. Namun, setiap gerakan penolakan dihentikan dengan paksa oleh kekuatan Inggris. Orang-orang Palestina merasakan dirinya berada di bawah tekanan organisasi teroris Zionis di satu sisi, dan tentara-tentara Inggris di sisi lain. Dengan kata lain, mereka menjadi sasaran kepungan dua musuh.

Selama kekuasaan Inggris, lebih dari 1500 orang Palestina yang berjuang untuk kemerdekaannya terbunuh dalam pertempuran yang dilakukan oleh tentara-tentara Inggris. Di samping itu, ada pula beberapa orang Palestina yang ditahan oleh Inggris karena menentang pendudukan Yahudi. Tekanan pemerintah Inggris menyebabkan kekerasan serius terhadap mereka. Namun, terorisme Zionis tak terbandingkan kekejamannya. Kekejaman Zionis, yang pecah begitu berakhirnya Kekuasaan Inggris, meliputi pembakaran desa-desa, penembakan wanita, anak-anak, dan orang tua seolah sebuah hukuman mati; penyiksaan korban-korban tak berdosa,; dan pemerkosaan wanita-wanita dewasa dan remaja.

Sekitar 850.000 orang Palestina yang tidak tahan akan kekejaman dan penindasan ini meninggalkan tanah dan rumah mereka dan tinggal di Tepi Barat, Jalur Gaza, serta di sepanjang perbatasan Libanon dan Yordania. Sekitar satu juta orang Palestina masih tinggal di kamp-kamp pengungsian ini, sementara 3,5 juta lainnya tinggal sebagai pengungsi-pengungsi jauh dari tanah air mereka.

Orang-orang Palestina yang hidup di kamp-kamp pengungsian hari ini menghadapi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasar sekalipun. Mereka hanya bisa menggunakan air dan listrik jika orang Israel mengizinkannya, dan berjalan bermil-mil untuk bekerja demi upah yang amat rendah. Bagi mereka yang pergi bekerja atau mengunjungi kerabat yang tinggal di dekat kamp pengungsian, perjalanan itu seharusnya tidak lebih dari 15 menit saja. Akan tetapi, kejadiannya sering berubah menjadi mimpi buruk karena pemeriksaan identitas di tempat-tempat pemeriksaan yang sering dilakukan, di mana para tentara yang bertugas melakukan kepada mereka pelecehan, penghinaan, dan perendahan. Mereka tidak dapat berpindah dari tempat A ke tempat B tanpa passport. Dan karena tentara-tentara Israel sering menutup jalan untuk alasan �keamanan,� orang-orang Palestina sering tidak dapat pergi bekerja, pergi ke tempat yang ingin mereka tuju, atau bahkan untuk menuju rumah sakit ketika mereka jatuh sakit. Bahkan, orang-orang yang hidup di kamp-kamp pengungsian tiap hari hidup dalam rasa takut akan dibom, dibunuh, dilukai, dan ditahan, karena pemukiman orang-orang Yahudi fanatik di sekitar kamp menjadi ancaman sesungguhnya mengingat pelecehan dan serangan yang dilancarkan oleh penduduk Yahudi fanatiknya.

Tentu, diusir dari rumah dan dipaksa meninggalkan tanah asal seseorang mengakibatkan banyak kesulitan. Namun, inilah takdir Allah. Sepanjang sejarah, masyarakat Muslim telah terusir dari rumah mereka dan menghadapi berbagai jenis tekanan, penyiksaan, dan ancaman oleh orang-orang yang tak beriman. Para pemimpin yang kejam atau orang-orang yang menggunakan kekuasaan sering mengusir orang-orang yang tak berdosa dari tanah mereka hanya karena keturunan atau keyakinan mereka. Apa yang diderita oleh orang-orang Islam di banyak negara, juga orang-orang Palestina, telah diwahyukan di dalam Al-Qur’an. Namun Allah membantu semua orang yang tetap sabar, menunjukkan akhlak terpuji, dan menolak menakut-nakuti orang laii meskipun mengalami kekerasan. Seperti yang Allah nyatakan dalam Al-Qur’an:

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain259. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (Qur’an, 3:195)

Dengan demikian, akan datang suatu hari ketika semua orang-orang Palestina akan hidup dalam kedamaian, keamanan, dan persaudaraan. Tapi ini hanya dimungkinkan dengan menyebarluaskan akhlak Al-Qur’an antar manusia, karena akhlak seperti itu bersifat memaafkan dan toleran; mempertahankan kedamaian; menekankan pada cinta kasih; rasa hormat, dan kasih sayang; dan pengikutnya saling berlomba untuk beramal saleh. Ketika akhlak yang baik mengemuka, penindasan dan gangguan tidak dapat hidup. Dan lebih jauh lagi, ketika akhlak ini ditunjukkan dengan sepenuh hati, persaudaraan Muslim akan meningkat dan mereka akan mendapatkan kekuatan untuk melakukan sebuah perjuangan intelektual melawan kekejaman. Oleh karena itu, menerapkan sistem tata prilaku Qurani akan membawa kita menuju akhir dari kekejaman tidak hanya di Palestina, melainkan juga di seluruh dunia. Kewajiban umat Islam adalah menyebarluaskan tata prilaku tersebut.

Dalam bab-bab berikut, kita akan membahas lebih dekat rasa sakit dan kesulitan yang dialami selama bertahun-tahun oleh para pengungsi Palestina. Namun sebelum kita ke sana, kita akan melihat teror Zionis dan teknik yang digunakannya untuk mengusir orang-orang Palestina dari rumah-rumah mereka. ]

TEROR ZIONIS

Dalam bab sebelumnya, kita telah membahas pandangan Zionis bahwa kembalinya orang Yahudi ke Palestina merupakan sebuah �tujuan suci� dan bahwa perang yang dilancarkan untuk mencapai tujuan ini adalah sebuah �perang suci.� Gagasan ini memainkan peran penting dalam pendidikan orang-orang Israel. Menurut fakta yang ada, pemimpin-pemimpin utama Israel ada kalanya memberikan pandangan mereka bahwa anak-anak harus disuruh menjalani suatu pendidikan �Zionis.� Misalnya, Menteri Pendidikan Israel Limor Livnat memberikan pernyataannya tentang salah satu dari hari-hari terkeras selama Intifadah al-Aqsa bahwa �mengingat keadaan ini, anak-anak bangsa diminta untuk menerima pendidikan Zionis-Yahudi� dan bahwa �Sekolah-sekolah adalah bagian dari keamanan internal negara Israel.”27 Perjanjian Lama mempunyai satu tempat khusus dalam sistem pendidikan ini, yang dirancang para Zionis untuk berpusat pada ayat-ayat tertentu. Kitab ini mengajak dengan penuh kebanggaan untuk melakukan tindakan kejam yang dilakukan (atau harus dilakukan) oleh Bani Israel, dibawah pimpinan Yosua, atas pribumi Palestina.

Dalam karya klasiknya The Case of Israel: A Study of Political Zionism, Roger Garaudy menerangkan sikap tersebut seperti berikut:

Kitab Yosua, yang seringkali diejawantahkan hari ini oleh para rabbi tentara di Israel untuk menganjurkan perang suci, dan juga dalam banyak pengajaran-pengajaran sekolah, bersandar pada keharusan sakral adanya pemusnahan atas penduduk yang ditaklukkan, menumpas dengan �mata pedang� segala sesuatu �baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda,� (Yosua, 6:21), seperti kita baca dalam cerita Jericho dan begitu banyak kota-kota lainnya.28

Perilaku yang ditunjukkan tentara-tentara Israel yang dibina dengan gagasan seperti ini sejalan dengan sikap ini. Saat ini dalam pendudukan Palestina, kejadian-kejadian mengerikan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari: Bayi berusia 18 bulan yang meninggal di tempat tidurnya ketika rumah-rumah mereka diserang oleh tembakan helikopter Israel, gadis remaja yang bekerja di kebun zaitun tertembak dan terbunuh tanpa alasan apa pun, dan anak-anak yang kembali ke rumahnya dari sekolah dengan luka dan lumpuh seumur hidupnya. Sistem pendidikan Zionis adalah akar dari masa tak berprikemanusiaan dan menghalalkan semua cara ini. Penelitian menunjukkan bahwa pendidikan dan cuci otak ini sangat berhasil guna. Dalam sebuah pengujian yang dilakukan oleh ahli psikologi Tel Aviv University G. Tamarin, sebuah pernyataan yang menggambarkan pembantaian Jericho dari Kitab Yosua dari Perjanjian Lama dibagi-bagikan kepada murid-murid kelas empat dan delapan. Mereka ditanya: �Anggaplah Tentara Israel menduduki sebuah desa Arab dalam sebuah pertempuran. Apakah kalian berpikir perlu, atau tidak, untuk bertindak melawan para penduduk seperti yang dilakukan Yosua kepada penduduk Jericho?� Jumlah yang menjawab �Ya� beragam dari 66% hingga 95% menurut sekolah yang didatangi atau kibbutz atau kota tempat anak-anak tinggal.29

Garaudy menekankan bahwa Kitab Yosua dan Perjanjian Lama secara umum adalah sumber teror Zionis:

Pandangan tentang �janji�, bersama-sama dengan makna perwujudannya (sebagai pemimpin Zionisme politik yang berasal dari Kitab di mana Yosua menceritakan takdirnya untuk memusnahkan penduduk sebelumnya, yang ia lakukan berdasar perintah Tuhan dan dengan pertolongannya) ditambah ungkapan �orang-orang terpilih� dan �Israel yang lebih agung� dari Nil hingga Eufrat, membentuk dasar-dasar ideologi Zionisme politik.
Buku harian seorang tentara Israel yang diterbitkan oleh surat kabar Israel Davar adalah contoh penting untuk hal ini. Tentara yang kita bicarakan ini ikut serta dalam sebuah operasi untuk mengepung desa Palestina Ed-Dawayma pada tahun 1948, dan menggambarkan kejadian kejam yang ia saksikan:

Mereka membunuh antara delapan puluh hingga seratus lelaki, wanita, dan anak-anak Arab. Untuk membunuh anak-anak, mereka (para tentara) mematahkan kepala mereka dengan tongkat. Tidak ada satu rumah pun tanpa mayat. Para wanita dan anak-anak di desa tersebut dipaksa tinggal di dalam rumah tanpa makanan dan air. Kemudian, para tentara datang untuk meledakkan mereka dengan dinamit.

Seorang komandan memerintahkan seorang tentara untuk membawa dua wanita ke sebuah bangunan tempat ia menembaki mereka� Tentara lainnya bangga karena telah memerkosa seorang wanita Arab sebelum menembak mati dirinya. Wanita Arab lainnya yang mempunyai bayi disuruh membersihkan tempat itu selama beberapa hari, kemudian mereka menembaknya berikut bayinya. Para komandan yang terdidik dan sopan yang dianggap sebagai �orang baik� �. menjadi pembunuh tak berprikemanusiaan, dan ini tidak terjadi dalam sebuah pertempuran, melainkan hanya sebuah cara pengusiran dan pemusnahan. Semakin sedikit orang Arab yang tertinggal, semakin baik.31

Ini hanyalah salah satu dari banyak peristiwa kejam lainnya yang telah terjadi selama 50 tahun terakhir.

Sebelum pemerintahan Israel didirikan, kelompok Haganah, Irgun, dan Stem bertanggung jawab atas pengusiran orang-orang Palestina dari tanah mereka. Organisasi teroris sebelum 1948 dan tentara Israel setelah 1948 ini melakukan suatu kampanye teroris atas penduduk sipil Arab. Menachem Begin, pemimpin Irgun, kelak menjadi perdana menteri, menerangkan strategi mereka: “Orang-orang Arab berjuang dengan gigih dalam mempertahankan rumahnya, para wanita dan anak-anak mereka.”32 Dengan kata lain, perang Zionis akan dilakukan melawan orang-orang tak berdosa.

Dan memang, semenjak tanggal tersebut orang-orang Palestina telah berjuang melindungi rumah mereka, para wanita, dan anak-anak dari kebijakan resmi Israel menteror seluruh orang-orang Palestina. Wartawan surat kabar dan ahli Timur Tengah Flora Lewis menerangkan kekejaman gaya Israel ini dalam artikelnya di International Herald Tribune:

Pihak berwenang Israel sekarang telah mengakui di depan publik sebuah kebijakan �serangan terarah� atas orang-orang Palestina yang dipercaya akan terlibat dalam terorisme. Ini merupakan pembunuhan politis terencana, yang sangat tepat disebut �tindak kriminal� pembunuhan� oleh Moshe Neghi, seorang jurnalis Israel terkemuka� Wakil Menteri Pertahanan Ephraim Sneh menyebutkan di radio bahwa kebijakan ini tegas. “Jika ada orang yang melakukan atau berencana melakukan serangan teroris, dia harus dipukul� Inilah yang efektif, tepat, dan adil.”
Harus ditekankan bahwa, seperti disebutkan Sneh, upaya Israel ini tidak terbatas pada unsur-unsur teroris, melainkan juga mentargetkan seluruh orang.

Perincian yang diberikan di sini hanyalah sebagian kecil dari kekejaman yang dilakukan oleh pemerintah Israel. Namun ini adalah sebuah tindakan yang dikenal baik oleh orang-orang Muslim Palestina, karena ada kemiripan yang erat antara penggambaran Al-Qur’an tentang Firaun dengan apa yang telah dilakukan pemimpin Israel Zionis kepada orang-orang Palestina tak berdosa. Dalam masanya, Firaun menetapkan sasaran orang-orang Yahudi yang lemah, tak punya pelindung dan dengan kejam membunuh mereka. Juga, pemimpin kaum Firaun mempunyai keterikatan yang kuat akan tanah mereka, sehingga Firaun berkata bahwa Musa “ingin mengusir kamu dari tanahmu� (Al-Qur’an, 7: 110) Wartawan Israel Uri Avnery menyoroti kemiripan ini. Dalam artikel �Pembunuhan Arafat,� ia mengingatkan kita bahwa salah satu keyakinan dasar Yudaisme adalah bahwa masa perbudakan Yahudi di Mesir tidak akan pernah terlupakan. Menurutnya, apa yang dilakukan orang-orang Israel atas Palestina saat ini hanyalah suatu bentuk kekejaman yang ditimpakan kepada leluhur Yahudi mereka oleh Firaun:

Dalam mitos baru yang terlahir di depan mata kita, Sharon adalah Firaun dan kita adalah orang-orang Mesir kuno. Dalam cerita tentang Keluaran, Alkitab menyebut firman Tuhan: �Aku telah mengeraskan hati (Firaun) dan hati budak-budaknya.� Setelah musibah yang menimpanya, Firaun melanggar janjinya untuk membebaskan orang-orang Israel� Dia (Tuhan) ingin bangsa Israel dikeraskan oleh kekerasan, sebelum mereka memulai perjalanan panjangnya. Inilah yang terjadi kepada bangsa Palestina sekarang.34

Ayat berikut ini menggambarkan bagaimana Firaun membunuh orang-orang yang tak berdaya:

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir’aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu”. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.(Qur’an, 14:6-7)

Dengan bantuan Allah, Bani Israil akhirnya keluar dari kekejaman dan tidak berprikemanusiaannya Firaun. Pada masa sekarang, radikalisme Israel ada pada kedudukan Firaun dan menganjurkan kekejaman. Orang-orang Palestina harus mengikuti himbauan Allah kepada Bani Israel pada saat itu: Sabarlah, percayalah kepada Allah, dan tetaplah di atas jalan-Nya yang benar.

SEORANG TENTARA ISRAEL MELUKISKAN KEKEJAMAN

Serangan Libanon pertama saya adalah pada tahun 1986. Saya wajib militer Israel berusia 19 tahun, dan peleton penerjun payung saya dikirim ke suatu desa yang saya lupa namanya�. Kami mendobrak pintu sebuah rumah, memeriksa keluarga di dalamnya, dan mengeluarkan seorang pria berusia separuh baya. Setelah menutup matanya dan mengikat tangannya di belakang punggungnya, kami membawanya ke sebuah jalanan sepi, memaksanya berlutut, dan menaruh senjata di kepalanya, mengancam menembak jika ia tidak bicara. Seorang petugas perdamaian PBB muncul dan mengakhiri insiden itu, tapi masih akan ada lagi yang terjadi.

Hari berikutnya kami melakukan hukuman mati yang tidak masuk akal atas seorang anak Libanon berusia 10 tahun. Kami memaksa keluarganya masuk dapur dan menyeretnya ke samping kebun. Letnan saya memasukkan kepalanya ke dalam kotoran dan saya memukulkan senapan saya ke kepalanya.

Meskipun tentara itu mengancam menembak kepalanya, bocah itu tidak menjawab, tetap membisu�

Saya adalah prajurit pindahan dari satuan lain, dan rekan saya lebih terbiasa dengan aksi seperti ini� Orang desa yang sudah tua, wanita, dan anak kecil dijebak di rumah mereka, diperintah menjalani jam malam 24 jam. Para lelaki mereka dikumpulkan di suatu ruangan terpusat, mata ditutup, dan diseret untuk disidik.

Kebrutalan tak bertanggung jawab ini tak terbatas pada prajurit berpendapatan rendah. Omri, anak seorang pejabat terpandang, suka menembak dengan memberondong orang-orang desa yang mengintip melalui pintu-pintu� Selama serangan bulan-bulan pertama, Israel membunuh 12.000 hingga 15.000 orang dan kehilangan 360. Meskipun korban di pihak Israel itu adalah para prajurit, sebagian besar korban mereka justru orang-orang sipil.

James Ron, penulis artikel ini, asisten profesor sosiologi pada John Hopkins University, adalah seorang penyidik lapangan sebuah kelompok hak asasi manusia. (Boston Globe, 25 Mei 2000)

Pembantaian oleh Israel

Beberapa pembantaian yang dilakukan oleh tentara Israel dan organisasi teroris (seperti Haganah, Irgun, dan Stern) antara 1948 dan 1982 akan digambarkan dalam halaman-halaman berikut ini. Tidak ada satu pun pembantaian itu yang ditujukan kepada kelompok-kelompok bersenjata. Sejarah Israel penuh dengan tindak kekerasan atas dan pembantaian orang-orang sipil. Beberapa contoh berikut ini saja sudah cukup: peledakan Hotel King David pada tahun 1946; pembantaian Deir Yassin pada 1948, di mana penduduk desa yang tak berdosa disiksa dan dibunuh; pembantaian tak berprikemanusiaan di desa Qibya pada 1958; pembantaian di kamp pengungsian Sabra dan Shatilla, yang dilakukan oleh milisi Libanon Kristen pro-Israel di bawah dukungan Ariel Sharon dan mengakibatkan hampir 3000 kematian; serangan atas Mesjid Aqsa pada 1990, yang menyebabkan 11 kematian dan hampir 800 orang luka-luka, pembantaian di Mesjid Ibrahim pada tahun 1994 selama sholat Subuh; pembantaian di kamp pengungsian Qana pada 1996; dan pengepungan terowongan oleh 4000 tentara pada 1999 adalah beberapa contoh saja dari kekerasan ini.

Mereka yang tewas dalam serangan ini adalah orang-orang tak berdosa yang tidak punya alat-alat untuk melindungi diri mereka sendiri. Pembantaian yang akan disebutkan di halaman-halaman berikut hanyalah contoh dari kekejaman dan teror yang telah berlanjut dari tahun 1947 hingga sekarang. Meski angka-angka ini penting artinya untuk menunjukkan besarnya penindasan Zionis, namun angka-angka tersebut bahkan tak bisa memulai penggambaran akibatnya yang mengerikan, khususnya karena penindasan itu masih berlangsung. Memang, hampir setiap hari semenjak 1947 selalu saja ada laporan berita tentang serangan, kematian, penyiksaan, dan kekerasan dari daerah-daerah yang diduduki oleh Israel. Sebagai contoh, ketika semua orang yang meninggal semenjak Oktober 2000 disebutkan, jumlahnya mencapai hampir 2000. (Angka ini tidak termasuk orang-orang yang terbunuh dalam Operasi Defensive Shield.) Dengan kata lain, orang-orang Israel melanjutkan pembunuhan harian ini dalam suatu cara sistematis.

Beberapa Contoh Setengah Abad Pemerintahan Teror Israel

Pembantaian King David, 1946: 92 tewas

Serangan ini dilakukan oleh organisasi teroris Irgun dan sepengetahuan David Ben Gurion, pejabat teras Zionis dalam masa itu. Sejumlah total 92 orang, terdiri atas orang Inggris, Palestina, dan Yahudi terbunuh dan 45 orang terluka parah.

Pembantaian Baldat Al-Shaikh, 1947: 60 tewas

Enam puluh orang Palestina yang tengah terlelap di tempat tidurnya, di antara mereka para wanita, anak-anak, dan orang tua, kehilangan nyawanya karena serangan ini, yang dilakukan oleh 150-200 teroris Zionis. Serangan dimulai pada pukul 2 pagi dan berlangsung selama 4 jam.

Pembantaian Yehida, 1947: 13 tewas

Di Yehida, salah satu pemukiman pertama Zionis, para penyerang yang berpakaian seperti tentara Inggris menembaki orang-orang Islam.

Pembantaian Khisas, 1947: 10 tewas

Dua mobil yang dipenuhi anggota-anggota Haganah memasuki desa Khisas di perbatasan Libanon dan melakukan penembakan pada seseorang yang melintasi jalan mereka.

Pembantaian Qazaza, 1947: 5 anak-anak tewas

Lima anak kehilangan jiwanya dalam peristiwa ini, ketika teroris Zionis menembaki sebuah rumah dengan membabi buta.

Pembantaian Hotel Semirami, 1948: 19 tewas

Dalam sebuah operasi yang ditujukan untuk membuat orang-orang Palestina merasa tidak aman dan memaksa mereka keluar dari Yerusalem, sekelompok teroris Zionis yang dipimpin oleh presiden Israel pertama, David Ben Gurion, meledakkan Hotel Semirami. Sembilan belas orang terbunuh.

Pembantaian Naser al-Din, 1948

Sekelompok teroris Zionis berpakaian tentara Arab menembaki penduduk kota yang meninggalkan rumahnya untuk menyambut mereka. Hanya 40 orang yang lolos dari pembunuhan ini, dan desa tersebut terhapus dari peta.

Pembantaian Tantura, 1948: 200 tewas

Tantura, sekarang rumah dari sekitar 1500 pemukim Yahudi, adalah sebuah tempat pembantaian besar-besaran atas orang-orang Islam pada tahun 1948. Sejarawan Israel Teddy Katz menggambarkan serangan ini sebagai berikut: �Dari jumlahnya, ini benar-benar salah satu pembantaian yang terbesar.”

Pembantaian Mesjid Dahmash, 1948: 100 tewas

Batalalion Komando Israel ke-89 yang dipimpin oleh Moshe Dayan, yang nantinya menjadi Menteri Pertahanan, mengumumkan kepada penduduk desa bahwa mereka akan aman hanya jika mereka berkumpul di mesjid. Akan tetapi, 100 orang Islam yang mencari tempat perlindungan tersebut justru dibantai di sana. Para penduduk yang ketakutan di Lydda dan Ramla meninggalkan tanahnya. Sekitar 60.000 orang Palestina keluar dari negerinya, dan 350 orang lebih tewas dalam perjalanan karena keadaan kesehatan yang parah.

Pembantaian Dawayma, 1948: 100 tewas

Serangan ini merupakan pembantaian terbesar yang dilakukan Israel. Sebagian besar yang terbunuh tengah berada di mesjid untuk melakukan sholat Jum�at. Wanita-wanita Palestina diperkosa selama serangan ini, sementara rumah-rumahnya diledakkan dengan dinamit, padahal ada orang di dalamnya.

Pembantaian Houla, 1948: 85 tewas

Tentara Israel memaksa 85 orang untuk masuk ke dalam sebuah rumah, kemudian rumah itu dibakar. Setelah itu, sebagian besar warga yang merasa takut melarikan diri ke Beirut. Dari 12.000 penduduk asli Houla, hanya 1200 orang yang tersisa.

Pembantaian Salha, 1948: 105 tewas

Setelah penduduk suatu desa dipaksa masuk ke mesjid, orang-orang tersebut dibakar hingga tak seorang pun yang tersisa hidup-hidup.

Pembantaian Deir Yassin, 1948: 254 tewas

Kenyataan bahwa agenda dunia dikendalikan oleh media Barat, yang sebagian besarnya memihak Israel, kadangkala mencegah peristiwa-peristiwa di Israel untuk diungkap. Namun, beberapa kejadian seperti kekerasan dan kekejaman telah didokumentasikan secara terperinci oleh lembaga-lembaga internasional. Inilah salah satu dari kejadian-kejadian itu, yang dilakukan oleh organisasi teroris Irgun dan Stem.

Pada malam 9 April, 1948, penduduk Deir Yassin terbangun karena perintah �mengosongkan desa� yang disuarakan oleh pengeras suara. Sebelum mereka mengerti apa yang tengah terjadi, mereka telah dibantai. Penyelidikan Palang Merah dan PBB yang dilakukan berturut-turut di tempat kejadian menunjukkan bahwa rumah-rumahnya pertama-tama dibakar lalu semua orang yang mencoba melarikan diri dari api ditembak mati. Selama serangan ini, wanita-wanita hamil dicabik perutnya dengan bayonet, hidup-hidup. Anggota tubuh korban dipotong-potong, lalu anak-anak dihantam dan diperkosa. Selama pembantaian Deir Yassin, 52 orang anak-anak disayat-sayat tubuhnya di depan mata ibunya, lalu mereka dibunuh sedang kepalanya dipenggal. Lebih dari 60 orang wanita terbunuh lalu tubuh-tubuh mereka dipotong-potong.35 Salah satu wanita yang melarikan diri hidup-hidup menceritakan pembantaian massal yang ia saksikan sebagai berikut:

Saya melihat seorang tentara memegangi saudara perempuan saya, Saliha al-Halabi, yang sedang hamil sembilan bulan. Ia menyorongkan sebuah senjata mesin pada lehernya, lalu memberondongkan seluruh pelurunya kepada saudara saya. Lalu ia beralih menjadi seorang jagal, ia mengambil sebuah pisau lalu menyayat perutnya hingga terburai lalu mengeluarkan janinnya yang telah mati dengan pisau Nazinya yang tak berprikemanusiaan.36

Tidak puas hanya dengan pembantian, para teroris lalu mengumpulkan seluruh perempuan dewasa dan remaja yang masih hidup, menanggalkan seluruh pakaian mereka, membaringkan mereka di mobil terbuka, membawa mereka sepanjang jalan daerah Yahudi di Yerusalem dalam keadaan telanjang. Jacques Reynier, perwakilan Palang Merah Palestina pada saat itu, yang melihat potongan-potongan mayat selama kunjungannya ke Deir Yassin pada hari serangan itu, hanya bisa berkata: �Keadaannya sudah mengerikan.”37

Selama diadakannya serangan, 280 orang Islam, di antara mereka wanita dan anak-anak, mula-mula diarak di sepanjang jalan lalu ditembak seperti menjalani hukuman mati. Sebagian besar wanita yang masih remaja diperkosa sebelum ditembak mati, sedangkan remaja pria dikebiri kemaluannya.
Harus dijelaskan bahwa para teroris yang melakukan pembantaian massal ini bukanlah anggota organisasi radikal yang bertindak di luar hukum atau menentang kendali pemerintah; justru mereka itu dikendalikan langsung oleh pemerintah Israel. Pembantaian Deir Yassin dilakukan oleh kelompok Irgun dan Stern, di bawah kepemimpinan langsung Menachem Begin, yang di kemudian hari menjadi perdana menteri Israel.

Begin menggambarkan operasi tak berprikemanusiaan ini, yang hanyalah salah satu contoh dari kebijakan resmi kebrutalan Israel, dalam kata-kata: “pembantaian ini tidak hanya bisa dibenarkan, justru, tidak akan ada negara Israel tanpa �kemenangan� di Deir Yassin.”39 Para Zionis menjadikan serangan seperti itu untuk menteror orang-orang Palestina dan mengusir mereka dari tanah mereka sehingga imigran Yahudi punya tempat untuk hidup. Israel Eldad, seorang pemimpin Zionis yang terkenal, menyatakan hal ini secara terbuka ketika ia berkata: “Jika tidak ada Deir Yassin, setengah juta orang Arab akan tetap tinggal di negara Israel (pada tahun 1948). Negara Israel tidak akan pernah ada.”40

Para Zionis menganggap pembersihan etnis seperti ini sebagai hal teramat penting untuk mendirikan negara Israel. Memang operasi-operasi ini, yang dilanjutkan setelah serangan Deir Yassin, menyebabkan banyak orang-orang Palestina meninggalkan tanahnya dan melarikan diri, atau menderita nasib yang sama seperti penduduk Deir Yassin.

Pembantaian di Qibya, 1953: 96 tewas

Serangan Zionis lainnya yang dirancang untuk �mendorong� orang-orang Palestina melarikan diri terjadi di Qibya, suatu desa dengan penduduk 2000 orang di perbatasan Yordania. Penyelidikan lebih lanjut di tempat kejadian yang dilakukan oleh beberapa pengamat dengan jelas mengungkap bagaimana pembantaian terjadi. Pembantaian Qibya, yang terjadi pada 13 Oktober 1953, meliputi penghancuran 40 rumah dan pembunuhan 96 orang sipil, sebagian besar di antara mereka wanita dan anak-anak. Unit �101� ini dipimpin oleh Ariel Sharon, yang nantinya juga menjadi salah satu perdana menteri Israel. Sekitar 600 tentaranya mengepung desa itu dan memutuskan hubungannya dengan seluruh desa Arab lainnya. Begitu memasukinya pada pukul 4 pagi, para teroris Zionis mulai secara terencana memusnahkan rumah-rumah dan membunuh penduduk-penduduknya. Sharon yang kalem, yang langsung memimpin serangan tersebut, mengumumkan pernyataan berikut setelah pembantaian: �Perintah telah dilaksanakan dengan sempurna: Qibya akan menjadi contoh untuk semua orang.”41

Dr. Yousif Haikal, duta besar Yordania untuk PBB pada saat itu, menerangkan pembantaian ini dalam laporannya kepada Dewan Keamanan:

Orang-orang Israel memasuki desa dan secara terencana membunuh seluruh penghuni rumah, dengan menggunakan senjata-senjata otomatis, granat, dan bom bakar; lalu mendinamit rumah yang ada penghuninya� Empat puluh rumah, sekolah desa, dan sebuah waduk dihancurkan. Dua puluh dua ternak dibunuh dan enam toko dijarah.42

Jurnal Katolik terkenal The Sign, yang diterbitkan di Amerika Serikat, juga melaporkan pembantaian massal yang dilakukan selama serangan ini. Editor Ralph Gorman menerangkan pemikirannya sebagai berikut: �Teror menjadi sebuah senjata politik Nazi. NamunNazi tidak pernah menggunakan teror dengan cara yang lebih berdarah dingin dan tanpa alasan seperti yang dilakukan Israel dalam pembantaian di Qibya.”43

Orang-orang yang kemudian datang ke tempat pembantaian ini menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Sebagian besar mayat mengalami luka tembak di belakang kepala, dan banyak yang tanpa kepala. Bersama orang-orang yang tewas di bawah reruntuhan rumah mereka, banyak wanita-wanita dan anak-anak tak berdosa yang juga dibunuh secara brutal.

Pembantaian Kafr Qasem, 1956: 49 tewas

Serangan di Kafr Qasem, ketika 49 orang tak bersalah, tanpa memandang wanita atau anak-anak, tua atau muda, dibunuh dengan brutal, terjadi pada 29 Oktober 1956. Pada hari itu juga, Israel melancarkan serangannya atas Mesir. Tentara garda depan Israel melakukan pembersihan sekitar pukul 4 sore, dan menyatakan bahwa mereka telah mengamankan perbatasan. Mereka berkata pada pejabat setempat di kota-kota perbatasan bahwa jam malam untuk kota tersebut mulai hari itu akan dimulai pukul 5 sore, bukan 6 sore seperti biasanya. Salah satu kota tersebut adalah Kafr Qasem, di dekat pemukiman Yahudi di Betah Tekfa.

Para penduduk kota baru diberitahu tentang jam malam tersebut pada pukul 4.45 sore. Pejabat setempat memberi tahu tentara Israel bahwa sebagian besar penduduk kota bekerja di luar kota, dan begitu mereka kembali dari kerjanya, mereka tidak mungkin mengetahui tentang perubahan tersebut. Pada saat yang sama, tentara Israel mulai mendirikan barikade di jalan masuk kota. Sementara itu, orang-orang yang bekerja di luar kota pun mulai kembali ke rumahnya. Kelompok pertama segera mencapai perbatasan kota. Apa yang terjadi berikutnya diceritakan oleh saksi mata Abdullah Samir Bedir:

Kami mencapai pintu masuk desa sekitar pukul 4.55 sore. Kami tiba-tiba dihadang oleh unit garda depan yang terdiri atas 12 tentara dan seorang pejabat, yang semuanya diangkut sebuah truk tentara. Kami memberi salam kepada pejabat dalam bahasa Ibrani, dengan berkata �Shalom Katsin�yang berarti �salam untuk Bapak,� tapi tak ada tanggapan. Dia kemudian menanyai kami dalam Bahasa Arab: �Apakah kalian bahagia?� lalu kami menjawab �Ya.� Para tentara mulai keluar dari truk dan sang pejabat memerintahkan kami untuk berbaris. Lalu ia menyerukan perintah ini kepada tentaranya: �Laktasour Otem,� yang berarti �Bereskan mereka!� Para tentara mulai menembak�44

Bedir, yang melarikan diri dari percobaan pembantaian yang mengerikan ini dengan berjudi antara hidup dan mati, sebenarnya bukanlah satu-satunya saksi mata kekejaman ini. Mulai saat itu, tentara Israel menghentikan setiap kendaraan yang mencoba memasuki kota itu dan menembak mati orang-orang di dalamnya. Di antara mereka ada anak laki-laki berusia 15 dan 16 tahun, remaja putri, dan wanita hamil. Orang-orang yang mendengarkan keributan dan keluar melihat apa yang terjadi ditembak karena melanggar jam malam begitu mereka melangkah ke luar. Tentara Israel diperintahkan bukan untuk menahan, melainkan menembak mati semua yang melanggar jam malam.

Kejadian ini, yang dilaporkan seluruhnya dalam catatan resmi Parlemen Israel, adalah salah satu contoh yang paling mengejutkan dari kebijakan resmi Israel.

Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan
di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.
(Qur’an, 2:11-12)

Pembantaian Khan Yunis, 1956: 275 tewas

Tentara Israel yang menyerang kamp pengungsi di Khan Yunis membunuh 275 orang. Pejabat PBB yang melakukan penyelidikan di tempat kejadian menemukan korban-korban yang telah ditembak di belakang kepalanya setelah tangannya diikat.45

Pembantaian di Kota Gaza, 1956: 60 tewas

Dalam serangan ini, para Zionis membunuh 60 orang, termasuk wanita dan anak-anak.

Pembantaian Fakhani, 1981: 150 tewas

Akibat serangan udara Israel atas daerah Libanon, 150 orang tewas dan 600 luka-luka.

Pembantaian di Mesjid Ibrahimi, 1994: 50 tewas

Pada hari Jum�at, 25 Februari 1994, suatu pembantaian mengerikan terjadi di Palestina. Dalam sebuah serangan yang dilakukan oleh seorang Yahudi Zionis atas umat Islam yang tengah sholat Jum�at di Mesjid Ibrahimi, lebih dari 50 orang Islam tewas dan hampir 300 orang luka-luka. Beberapa orang yang terluka kemudian tewas karena luka yang dideritanya.

Pembantaian ini dilakukan oleh seorang Yahudi yang tinggal di pemukiman Yahudi Kiryat Arba di Hebron. Sang teroris juga menjadi anggota cadangan di angkatan bersenjata Israel dan anggota sebuah organisasi teroris Zionis. Sumber-sumber di Israel melaporkan bahwa ia mengenakan seragam militer selama serangan tersebut.

Penyerang menyusup ke dalam mesjid dan bersembunyi di belakang sebuah tiang sewaktu orang Islam melaksanakan sholat Subuh. Ketika mereka tengah rukuk bersama, ia memberondong mereka dengan sebuah senapan mesin. Menurut laporan saksi mata, ia tidak melakukannya sendiri, ia hanya menarik picunya saja. Begitu senjatanya kosong, temannya mengganti dengan yang baru.

Setelah kejadian ini, tentara Israel mengepung mesjid itu dan mencegah wartawan mendekatinya. Begitu banyak orang yang tewas ketika para tentara ini menembaki orang-orang Islam Palestina yang berdemonstrasi di sekitar mesjid untuk memprotes serangan tersebut.47

Pembantaian Qana, 1996: 109 tewas

Lebih dari 100 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, kehilangan jiwanya di kamp pengungsi Qana ketika mereka dibom oleh angkatan udara Israel. Pemandangan mengerikan karena pembantaian ini, termasuk anak-anak yang dipenggal kepalanya, tidak akan pernah terlupakan. Suatu tim pemeriksa dari PBB memastikan bahwa pembantaian ini disengaja.

Pembantaian Sabra dan Shatilla

“Saya harus membawa bayi-bayi dan menaruh mereka di dalam peti-peti berisi air untuk menghindari api. Ketika saya melihat mereka setengah jam kemudian, mereka masih membakar tempat itu. Bahkan di kamar mayat pun, mereka masih melakukan pembakaran selama berjam-jam.� Demikian Dr. Amal Shamaa dari rumah sakit Barbir, setelah amunisi fosfor Israel dibakar Beirut Barat, 29 Juli 1982.
Operasi teroris Zionis untuk menakut-nakuti orang Palestina dan mengusir mereka dari tanah mereka setelah PD II mengakibatkan kematian ribuan orang-orang tak berdosa. Namun, serangan Israel atas kamp pengungsi Sabra dan Shatilla selama penyerangan Libanon 1982 akan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu tindakan pembantaian etnis terburuk yang pernah dilakukan oleh Zionis. Selama serangan oleh kelompok Phalangis Kristen Libanon, dengan dukungan dan arahan tentara-tentara Israel, lebih dari 3000 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, terbunuh. Penelitian dan penyelidikan setelah itu memperlihatkan bahwa Ariel Sharon, yang saat itu menteri pertahanan Israel dan sekarang perdana menteri, bertanggung jawab atas operasi tersebut. Karena serangan berdarah ini, sekarang pun ia masih dikenal sebagai �Tukang Jagal dari Libanon.”

Wartawan dan ahli Timur Tengah Robert Fisk melaporkan pemandangan mengerikan yang ia lihat segera setelah serangan tersebut dalam sebuah artikel yang ditulis setelah Sharon terpilih sebagai perdana menteri:

Bagi setiap orang yang berada di kamp pengungsian Sabra dan Shatilla di Beirut pada 18 September 1982, namanya (Ariel Sharon) sama artinya dengan penjagalan, dengan mayat-mayat yang membengkak, dengan wanita-wanita yang terburai isi perutnya, dengan mayat-mayat bayi, dengan pemerkosaan, dan penjarahan dan pembunuhan� Bahkan ketika saya berjalan di atas jalan-jalan yang berbau busuk ini, lebih dari 18 tahun setelahnya� hantu-hantu masih bergentayangan. Di sana, di sisi jalan yang mengarah ke mesjid Sabra, berbaring Tn. Nouri, 90 tahun, berjanggut putih, berpiama dengan topi wol kecil yang masih melekat di kepalanya dan sebuah tongkat di sisinya. Saya menemukannya di atas tumpukan sampah, di punggungnya� Masih di jalan yang sama, saya berjalan melintasi dua orang wanita yang duduk tegak dengan otak tercerai berai, di samping tungku dapur� salah satu wanita itu kelihatannya lambungnya pun terburai. Beberapa meter jauhnya, saya menemukan bayi-bayi pertama, sudah menghitam karena membusuk, bergelimpangan di atas jalanan seperti sampah� lalat-lalat mengerubung berlomba-lomba di antara mayat-mayat dan muka-muka kami, di antara darah kering dan catatan wartawan, tangan-tangan dengan arloji masih berdetak di pergelangan yang mati. Saya naik merangkak ke atas benteng tanah, sebuah bulldozer yang telah ditinggalkan berdiri di dekatnya dengan perasaan bersalah, hanya untuk merasakan, bahwa begitu saya berada di atas gundukan itu, ia bergelayutan di bawah saya. Dan saya melihat ke bawah untuk menemukan muka-muka, siku-siku, mulut-mulut, kaki-kaki seorang perempuan menonjol ke luar dari dalam tanah. Saya harus berpegangan pada bagian-bagian tubuh ini untuk memanjat ke sisi lain. Lalu di sana ada wanita cantik, kepalanya dikelilingi oleh cahaya kancing-kancing baju, darahnya masih mengalir dari sebuah lubang di punggungnya.49

Dalam artikel lain, Fisk menggambarkan apa yang ia lihat ketika mengunjungi rumah-rumah sakit tempat orang-orang terluka tengah dirawat: �Apa yang kita lihat di sini tidak akan mudah kita lupakan. Mengunjungi rumah sakit Barbir berarti melihat apa yang dilakukan berondongan senjata pada daging.”
Kekejaman yang dialami orang-orang tak bersalah dan mengenaskan ini haruslah menjadi peringatan bagi ideologi kepemimpinan Israel. Sebagian besar wanita yang terbunuh itu telah diperkosa. Para wanita hamil dirobek perutnya sehingga bayi-bayinya bisa direnggut keluar. Anak-anak sekitar 3 atau 4 tahun dibunuh di depan orang-orang tuanya. Kebanyakan lelaki dipotong telinga dan hidungnya sebelum ditembak mati.

Sebuah laporan berita tentang pembantaian muncul pada surat kabar Prancis Le Monde pada 13 Februari 2001. Nihad Hamad, yang berhasil selamat, sekarang berusia 42 tahun, menggambarkan apa yang telah terjadi:

Angkatan bersenjata Israel menghabiskan Rabu malam dan Kamis pagi mengepung kamp tersebut. Mereka ingin menutup sisi timurnya. Para mujahidin kami telah pergi. Di sini tak ada yang tertinggal selain beberapa anak berumur 15 atau 16� Pada Kamis malam, pengeboman terjadi dua kali. Kami sadar bahwa senapan ringan kami tidak akan ada gunanya. Setiap orang di bangunan ini adalah pengungsi. Setiap orang merasa takut. Orang-orang lanjut usia dari kelompok ini, orang-orang yang menjadi panutan, memutuskan untuk pergi menemui orang-orang Israel dan menyatakan pada mereka bahwa kamp akan menyerah. Dengan bendera putih di tangan mereka mereka masuk ke mobil dan pergi ke luar. Mereka tidak pernah kembali. Beberapa lelaki muda pergi dengan senjatanya dan pergi ke arah yang sama. Mereka pun tidak pernah kembali lagi, demikian pula orang-orang yang pergi mencari mereka. Kemudian kami sadar bahwa lebih baik kami meninggalkan tempat ini segera� Ratusan orang melarikan diri ke suatu tempat persembunyian yang sama di bagian utara kamp. Begitu banyak di antara kami yang hampir mati lemas. Ketika fajar menyingsing kesunyian kematian di mana-mana; tempat ini adalah sebuah kota hantu sekarang. Pengeboman pun berhenti. Satu kali kadang-kadang kami bisa mendengar satu letusan senjata. Kemudian, dari arah mesjid, jeritan seorang wanita memecah kesunyian. Rambutnya diacak-acak, bajunya yang koyak penuh darah. Ia seperti seorang yang hilang ingatan. Di kakinya ada anak-anak yang tenggorokannya telah digorok� Mereka berperilaku brutal, dan mereka menggunakan pisaunya dan alat-alat potong lain untuk melakukan pembunuhan dalam keheningan. Setelah para milisi menyelesaikan pekerjaannya di kamp tersebut, mereka menyelesaikan pekerjaan kotornya di Rumah Sakit Gaza. Mereka menyeret para dokter, perawat, dan yang terluka ke luar rumah sakit dan membunuh mereka. Jika orang-orang yang hilang dimasukkan, kita tahu bahwa antara 3000 dan 3.500 orang telah terbunuh.
Pemandangan mengerikan ini adalah pekerjaan Ariel Sharon, yang dikenal dengan pernyataannya seperti �Orang-orang Arab mengenal saya, dan saya mengenal mereka� serta melalui penggambarannya tentang orang Arab dengan istilah menyakitkan, seperti �hama.” 52 Setelah Perang 1967, Sharon menyebabkan 160.000 orang Palestina meninggalkan Yerusalem Timur dan menjadi pengungsi. Teknik hukumannya meliputi pengeboman rumah, pembongkaran kamp pengungsi, dan penahanan ratusan pemuda tanpa alasan lalu menyiksa mereka. Ketika Sharon menjadi penanggung jawab keamanan di Jalur Gaza, ratusan orang Palestina dibunuh, ribuan ditahan dan diusir dari Palestina, dan di Gaza saja 2000 rumah telah dihancurkan dan 16.000 orang diusir untuk kedua kalinya. Pada saat pembantaian Sabra dan Shatilla, 14.000 orang (termasuk 13.000 orang sipil tak bersenjata) meninggal di tempat itu dalam beberapa minggu, dan sekitar setengah juta orang kehilangan tempat tinggal.

Kekejaman dan kebrutalan yang digambarkan di sini terjadi terus menerus di tanah Palestina selama 50 tahun terakhir. Bahkan, contoh-contoh yang disebutkan di atas hanyalah pembantaian ketika banyak orang-orang Palestina kehilangan jiwanya dalam satu hari saja. Kejadian yang serupa, di antara banyak lainnya, adalah sebagai berikut: 8 orang di al-Sammou, 1966; 7 orang di Adloun, 1978; 80 orang di Abbasieh, 1979; dan 20 orang di Saida, 1980. Di luar ini, beberapa orang terbunuh atau dibantai setiap hari selama bertahun-tahun. Dan setiap hari rumah-rumah masih saja dihancurkan dan orang-orang masih diusir dari tanah air mereka. Jelas, tujuan akhir Israel adalah untuk menakut-nakuti orang-orang Palestina, mengusir mereka dari tanahnya, dan menundukkan orang Palestina kepada keinginan mereka melalui sebuah kebijakan pembersihan etnis yang terencana.

Seluruh dunia menyaksikan ketika masyarakat ini dibantai, sewaktu mereka menghadapi pembasmian bangsa yang terang-terangan. Karena alasan tertentu, sebagian besar pemerintahan telah dan tetap mengabaikan praktek-praktek brutal dan tak berprikemanusiaan ini dan tidak menjatuhkan sanksi apa pun selain dari �mengutuk� pada saat tertentu saja.

Dalam karya klasiknya World Orders: Old and New, pengamat Timur Tengah Noam Chomsky menggambarkan pandangan pemerintah Israel tentang orang Palestina dan bagaimana ahli strategi Amerika menilai pandangan ini:

Tentang orang-orang Palestina, pejabat AS tidak punya alasan untuk mempertanyakan pendapat ahli pemerintahan Israel pada tahun 1948, bahwa para pengungsi harus bercampur dengan penduduk di negeri lain atau �akan diremukkan�: �beberapa di antara mereka akan mati dan sebagian besar mereka akan kembali ke debu dan sampah masyarakat, dan bergabung dengan kelompok termiskin di negara-negara Arab.� Oleh karena itu, tak perlu menyusahkan diri karena mereka. Penilaian seperti ini tetap berlaku hingga hari ini, bahkan menjadi kenyataan sewaktu kejadian-kejadian tersebut terungkap.53

Ramalan pejabat berwenang di Amerika dan Israel telah terwujud hari ini. Bahkan, kebijakan kekerasan dan intimidasi atas warga Palestina yang dilakukan selama masa pendirian Israel dan tahun-tahun pertama tetap tak mereda setelahnya.

Orang-orang Islam Palestina menghadapi cobaan dan kejahatan yang serupa seperti yang dialami oleh umat Islam sepanjang sejarah. Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan orang-orang beriman tentang suatu masa (Bani Israil) mengenai kekerasan Fir�aun:

Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. (Qur’an, 2:49)

Jelaslah, Allah membantu orang-orang yang sabar, dan berdasarkan hukum-Nya, keselamatan selalu dinikmati orang-orang beriman yang benar, meskipun jumlah mereka sedikit, lemah, atau tertindas. Namun, kita juga harus mengetahui bahwa cobaan ini bukan hanya untuk orang-orang Islam di Palestina; Bahkan, cobaan ini semestinya dirasakan semua orang yang menyaksikan atau mengetahui kekejaman ini. Ini karena siapa pun dan bagaimana pun keadaannya, orang-orang Islam berkewajiban membantu orang-orang yang dizalimi dan tertindas. Dan pertolongan terbesar yang bisa mereka berikan adalah mengatasi kekejaman ini dari akarnya. Dengan kata lain, bantuan terbesar yang bisa diberikan manusia kepada orang-orang Palestina yang terus berjuang untuk kehidupan mereka di tengah-tengah kekacauan dan kesulitan yang terus terjadi adalah melakukan perjuangan pemikiran melawan paham dasar Zionisme: sikap Darwinistis Sosial, yang menyebabkan perpecahan, kekacauan, dan kekerasan.

I N T I F A D A H

Intifadah, yang berarti �pemberontakan� dalam Bahasa Arab, adalah nama untuk perjuangan yang dilakukan oleh sekelompok orang Palestina, yang bersenjatakan batu-batu, melawan salah satu musuh terbesar dunia, yaitu orang yang menjawab lemparan batu itu dengan peluru, roket, dan rudal. Memang, mereka jarang sekali ragu-ragu menjadikan orang yang tidak pernah melempar batu sebagai sasaran mereka, bahkan mampu membunuh lusinan anak-anak dengan cara tak berperikemanusiaan.

Intifadah pertama memasuki panggung politik pada 1987, dimulai dengan pemuda Palestina yang membalas pembunuhan enam anak-anak Palestina oleh tentara-tentara Israel. Berlanjut hingga 1993, Intifadah menghadapi tanggapan yang sangat keras dari Israel, berdasar prinsip bahwa �kekerasan melahirkan kekerasan,� Timur Tengah kembali terjatuh ke dalam kekacauan. Sepanjang masa ini, perhatian dunia tertuju pada kasus anak-anak yang tempurung kepalanya pecah dan tangan-tangan mereka dipatahkan oleh para tentara Israel. Orang-orang Palestina, dari yang paling muda hingga yang paling tua, menentang kekerasan militer Israel dan penindasan dengan sambitan batu apa pun yang dapat mereka temukan. Sebagai balasannya, tentara Israel secara besar-besaran memberondongkan senjatanya: menyiksa, mematahkan tangan, dan menembaki lambung dan kepala orang-orang dengan tembakan senapan. Pada tahun 1989, sebanyak 13.000 anak-anak Palestina ditahan di penjara-penjara Israel.

Apa pun alasannya, memilih cara kekerasan tidak pernah memecahkan persoalan. Dan kembali, kenyataan penting harus dicamkan ketika merenungkan tanah tempat Intifadah terjadi. Pertama-tama, karena diperkuat oleh keputusan PBB, tentara Israel menggunakan kekuatan yang, sejalan dengan hukum internasional, seharusnya dijauhi. Meskipun sudah diperkuat aturan, jika Israel menuntut agar keberadaannya di tanah ini diterima, cara menunjukkannya tentu bukan dengan membunuh orang-orang tak berdosa. Karena semua orang yang waras pastilah sepakat, jika salah bagi orang-orang Palestina memilih kekerasan, maka pastilah juga salah bagi tentara-tentara Israel membunuh mereka. Setiap negara memiliki hak membela diri dan melindungi dirinya, namun apa yang telah terjadi di Palestina jauh dari sekedar membela diri.

Selama tahun-tahun Intifadah, sebuah peristiwa terjadi di desa Kristen Beit Sahour di dekat Bethlehem. Kejadian ini, yang disaksikan oleh penduduknya Norman Finkelstein, hanyalah satu dari banyak contoh yang tidak mendukung bahwa campur tangan militer didorong oleh keinginan membela diri:

Suatu kali di kamp pengungsian Jalazoun, anak-anak membakar ban ketika sebuah mobil menepi. “Pintu dibiarkan terbuka, dan empat pria (pemukim Israel maupun tentara berpakaian preman) melompat keluar, menembak membabi buta ke segala penjuru. Anak-anak di samping saya tertembak di punggungnya, peluru keluar dari pusarnya� Hari berikutnya Jerussalem Post melaporkan bahwa tentara itu menembak untuk membela diri.”94

Intifadah rakyat Palestina, yang dilakukan dengan sambitan batu dan pentungan untuk melawan tentara paling modern di dunia, berhasil menarik perhatian internasional pada wilayah ini. Gambar-gambar yang intinya mengenai pembunuhan tentara Israel atas anak-anak berusia sekolah sekali lagi menunjukkan kebijakan teror pemerintah pendudukan. Masa ini berlanjut hingga Kesepakatan Oslo tahun 1993, ketika Israel dan PLO duduk bersama di meja perundingan. Pada pertemuan ini, Israel mengakui Yasser Arafat untuk pertama kalinya sebagai perwakilan resmi rakyat Palestina.

Setelah Intifadah pertama mencapai puncaknya dalam kesepakatan damai, rakyat menunggu dengan sabar perdamaian dan keamanan kembali ke wilayah Palestina. Penantian ini berlanjut hingga Sepetember 2000, ketika Ariel Sharon, yang dikenal sebagai �Penjagal dari Libanon,� melakukan kunjungan yang menghebohkan ke Mesjid al-Aqsa bersama puluhan polisi Israel. Kejadian ini memicu bangkitnya Intifadah al-Aqsa.

Rasa sakit dan penderitaan tak berujung orang-orang Palestina meningkat dengan adanya Intifadah al-Aqsa. Saat ini, tiap hari ada laporan yang menyebutkan anak-anak dan remaja meninggal di wilayah-wilayah Palestina. Semenjak awalnya di bulan September 2000 hingga Desember 2001, sebanyak 936 orang Palestina tewas (angka-angka ini bersumber dari Organisasi Kesehatan Palestina).95 Sepanjang pertikaian, satuan-satuan tentara Israel menjadikan banyak warga sipil, termasuk anak-anak yang pulang sekolah sasaran pengeboman dengan helikopter.

Tentara Israel menggunakan senjata mereka bukan untuk melucuti senjata anak-anak Palestina, melainkan untuk membantai dan membunuh mereka. Suleiman Abu Karsh, wakil menteri perdagangan Palestina, menyatakan perasaan rakyatnya mengenai Intifadah ini dalam sebuah wawancara:

Intifadah ini terlahir dari kekejaman Zionis Israel dan provokasi terhadap rakyat Palestina dan hal-hal yang kami anggap suci. Karena ikatan kuat rakyat Palestina terhadap tempat-tempat suci ini, khususnya Mesjid Aqsa, yang merupakan kiblat pertama Muslimin, mesjid mereka, dan salah satu titik pusat Haram asy-Syarif, Israel menunjukkan tindak kekejaman.

Di Palestina, di mana 70% penduduk terdiri atas kalangan muda, bahkan anak-anak pun telah mengalami perpindahan, pengusiran, penahanan, pemenjaraan, dan pembantaian semenjak pendudukan tahun 1948. Mereka diperlakukan seperti warga kelas dua di tanahnya sendiri. Mereka telah belajar bertahan hidup dalam keadaan yang paling sulit. Renungkanlah fakta-fakta berikut ini: 29% dari orang yang terbunuh selama Intifadah al-Aqsa berusia di bawah 16 tahun; 60% dari yang terluka berusia di bawah 18; dan di wilayah tempat bentrokan paling sering terjadi, paling tidak lima anak terbunuh tiap hari, dan setidaknya 10 orang terluka.

Tentara Israel, yang menjadikan warga sipil dan anak-anak sebagai sasaran, tidak ragu menembak bahkan anak-anak yang tengah bermain di tempat bermain sekolah. Karena jam malam yang diberlakukan oleh Israel, dalam tahun itu mereka lebih sering tidak pergi ke sekolah. Ketika mereka bisa bersekolah, mereka menjadi sasaran serangan Israel. Salah satu serangan itu terjadi pada 15 Maret 2001. Sewaktu murid-murid Sekolah Dasar Ibrahimi di al-Khalil tengah bermain selama jam istirahat, tentara Israel menembaki mereka. Kejadian ini, ketika enam anak-anak terluka parah, bukan contoh yang pertama maupun terakhir tentang kekejaman semacam itu.97

Dalam The Palestine Chronicle, wartawan-penulis Ruth Anderson menggambarkan beberapa kejadian tak berperikemanusiaan dalam Intifadah al-Aqsa:

Tak ada yang menyebutkan seorang lelaki muda yang baru menikah yang pergi berdemonstrasi hanya untuk menjadi martir, meninggalkan pengantin wanitanya menjadi janda. Tak ada yang menyebutkan pemuda Palestina yang kepalanya diremukkan oleh orang Israel dan tangannya dipatahkan sebelum ia secara brutal dijagal. Tak ada yang menyebutkan seorang anak kecil berusia 8 tahun yang tertembak mati oleh tentara Israel. Tak ada yang mengatakan bagaimana para pemukim Yahudi, yang dilengkapi dengan berbagai jenis senjata dan disokong oleh pemerintah Barak, menyerang desa-desa Palestina dan mencabuti pohon-pohon zaitun dan membunuh orang-orang sipil Palestina. Tak ada yang menyebutkan bayi-bayi Palestina yang meninggal ketika rumah mereka dibom dengan serangan udara atau orang yang dihujani oleh peluru Israel ketika dipindahkan ke tempat aman. Setiap orang tahu bahwa bayi-bayi tidak bisa melempar batu. Setiap orang tahu kecuali orang-orang Israel dan Amerika.98

Intifadah al-Aqsa Merupakan Hasil Kerja Ariel Sharon

Untuk memahami kekerasan yang terus berlanjut di luar kendali pada bulan April 2001 dan membawa Israel dan Palestina mandi darah, kita harus ingat bagaimana Intifadah terakhir dimulai. Orang yang ada di pusat kejadian ini adalah Ariel Sharon, yang kemudian menjadi, dan masih menjadi perdana menteri. Sharon dikenal oleh orang-orang Islam sebagai seorang politisi yang gemar menggunakan kekerasan. Seluruh dunia mengenalnya karena pembantaian yang telah ia lakukan atas orang-orang Palestina, perilakunya yang suka menghasut, dan kata-kata kasarnya. Yang terbesar dari pembantaian-pembantaian itu terjadi 20 tahun yang lalu di kamp pengungsian Sabra dan Shatilla, menyusul serangan Israel pada Juni 1982 ke Libanon. Dalam pembantaian ini, sekitar 2000 orang tak berdaya dibunuh, mengalami siksaan hebat, dan dibakar hidup-hidup. Tambahan lagi, banyak mayat yang dibakar atau dipotong-potong dan tak terungkap. Nama kedua yang akan kita temui di masa ini adalah Ehud Barak, yang saat itu komandan tentara Israel dan nantinya juga menjadi perdana menteri.

Dunia Islam tidak akan pernah melupakan pembantaian ini atau pembantaian lain yang dilakoni oleh militer Israel selama 50 tahun terakhir. Karena alasan ini, kunjungan menghebohkan Sharon ke Mesjid al-Qqsa jauh lebih penting dibanding yang dilakukan oleh politisi Israel lainnya. Sharon dan Partai Likud-nya meneruskan kebijakan ketat tidak mau menarik diri dari Daerah Pendudukan, memperluas pemukimannya, dan menolak melakukan perundingan tentang kedudukan tetap Yerusalem. Saat ini, dunia sepakat akan satu kenyataan: Sharon melakukan kekerasan dan tidak membuang-buang kesempatan untuk menyokong atau pun melakukannya sendiri.

Berlanjutnya kekerasan terakhir dimulai ketika Sharon, di bawah kawalan 1200 orang polisi, memasuki Mesjid al-Aqsa, suatu tempat yang suci bagi Muslimin. Setiap orang, termasuk para pemimpin Israel dan rakyat Israel sepakat bahwa masuknya Sharon ke tempat suci ini, suatu perbuatan yang biasanya terlarang bagi non-Muslim, adalah sebuah provokasi yang dirancang untuk mempertegang keadaan yang sudah memanas dan memperbesar pertentangan. Ia jelas-jelas berhasil. Penentuan waktunya sama pentingnya dengan tempat itu, karena pada hari sebelumnya Ehud Barak telah mengumumkan bahwa Yerusalem mungkin dibagi dua dan dimungkinkan perundingan dengan orang-orang Palestina. Bagi Sharon, yang dengan keras mengkritik setiap jalan damai dan menolak berdebat untuk persoalan Yerusalem, semua ini adalah alasan yang dibutuhkannnya untuk membuat kunjungan menentukan.

Akan tetapi, kita bisa berharap bahwa Sharon, yang merupakan seorang Yahudi amat taat, akan berlaku lebih berperikemanusiaan dan damai. Kebijakan Sharon cenderung menjadi satu kasus yang sejalan dengan Zionisme Revisionis, suatu gerakan yang dirancang oleh pemimpin Zionis proto-fasis Vladimir Jabotinsky. Ideologi Jabotinsky tentu bukan ideologi yang memihak agama, melainkan Darwinis Sosial, doktrin keras yang diilhami oleh Nazisme dan fasisme Mussolini. Setelah pembentukan negara Israel, warisan Jabotinsky ditemukan tersimpan baik dalam Partai Herut sayap kanan, dan sepanjang waktu partai ini berkembang menjadi corong agama. Herut berkembang menjadi Likud di dasawarsa berikutnya dan menjadi partai politik Israel yang paling berkuasa. Akan tetapi, bumbu agama yang dipakai partai ini, seperti dalam kasus lain agenda politik sayap ultrakanan, adalah menipu. Salah satu contoh nyata tentang hal ini adalah jurang pemisah yang lebar antara kerasnya Likud dengan pesan damai Taurat. �Kalian tidak boleh membunuh,� pesan Perjanjian Lama, yang dengan demikian bertentangan dengan semangat anggota partai Likud radikal untuk mengusir orang-orang Palestina dari tanahnya. Kita berharap bahwa Ariel Sharon dan orang sepertinya akan kembali ke petunjuk Yudaisme sebenarnya dan berusaha membangun sebuah bangsa yang akan menjadi �cahaya bagi-bagi bangsa-bangsa,� seperti yang diinginkan Taurat.

Apakah Penghancuran Mesjid al-Aqsa Merupakan Tujuan Sebenarnya?

Untuk memahami pentingnya Mesjid Aqsa dan Yerusalem dan sekitarnya bagi orang-orang Israel, penting artinya meninjau wilayah ini dari kaca mata Zionis. Kepercayaan Yahudi yang telah dipolitisir secara radikal menilai bahwa masa yang dimulai dengan Zionisme akan berlanjut hingga datangnya al-Masih. Namun, untuk mencapai tujuan ini, orang Yahudi radikal percaya bahwa tiga kejadian penting harus terjadi. Pertama, sebuah negara Israel merdeka harus didirikan di Tanah Suci dan penduduk Yahudinya harus meningkat. Pindahnya orang Yahudi ke Tanah Suci secara terencana telah diwujudkan oleh para pemimpin Zionis semenjak awal abad kedua puluh. Di samping itu, Israel menjadi sebuah bangsa dengan negara merdeka di tahun 1948. Kedua, Yerusalem dicaplok pada tahun 1967 dalam Perang Enam Hari, dan pada 1980, diumumkan sebagai �ibu kota abadi� Israel. Yang ketiga, dan satu-satunya syarat yang masih harus dipenuhi, adalah pembangunan kembali Kuil Sulaiman, yang dimusnahkan 19 abad yang lalu. Yang masih tersisa darinya adalah Tembok Ratapan.

Akan tetapi, hari ini ada dua tempat ibadah Islam di atas tempat ini: Mesjid Aqsa dan Qubbah as-Sakhrah. Agar orang Yahudi dapat membangun kembali kuil tersebut, kedua tempat ibadah ini harus dihancurkan. Halangan terbesar melakukannya adalah umat Islam dunia, khususnya Palestina. Sepanjang mereka masih ada, orang-orang Israel tidak dapat menghancurkan kedua tempat ini. Oleh karena itu alasan sebenarnya bentrokan yang akhir-akhir ini menjadikan jalanan berdarah lagi bisa ditemukan dalam impian Zionis ini.

Seperti telah kita tekankan sebelumnya, bagaimanapun Yerusalem sama pentingnya untuk Muslimin maupun umat Kristiani. Karena alasan ini, kota ini, yang suci bagi Yahudi, Kristen, maupun Islam, tidak dapat sepenuhnya diberikan ke tangan Zionis. Satu-satunya pemecahan masalah yang kelihatannya sudah macet ini adalah menemukan suatu cara agar warga Yahudi, Kristen, maupun Islam dapat hidup bersama dalam damai dan aman. Sepanjang sejarah, hanya pemerintahan Islami yang berhasil melakukannya, sehingga hanya orang Islam yang akan mampu melakukannya di masa depan. Israel, dengan sikapnya yang menghina orang Islam maupun Kristen, hanya bisa membawa teror dan ketidaktertiban pada Yerusalem dan sekitarnya.

Demikian pula, semua perundingan antara pejabat Israel dan Palestina tidak berhasil dilakukan dalam persoalan Yerusalem. Semenjak Israel didirikan di tahun 1948, berbagai pemecahan telah diusulkan untuk Yerusalem: Menyatakan kota Yerusalem yang netral dan bebas, kedaulatan bersama Israel dan Yordania, sebuah pemerintahan yang terdiri atas perwakilan semua agama, memberikan hak tanah pada warga Palestina dan udara serta hasil bumi untuk Israel, dan banyak usulan serupa itu. Namun, Israel menolak semuanya dan akhirnya merebut Yerusalem dengan kekuatan dan mengumumkannya sebagai �ibu kota abadi� Israel. Sepanjang Israel menolak menghapus kebijakan kekerasannya yang telah berkepanjangan, menarik dirinya dari Daerah Pendudukan, atau berunding dengan rakyat Palestina, kedudukan Yerusalem di masa depan dan semua masalah terkait lainnya tidak dapat dipecahkan.
Serangan atas Mesjid Aqsa

Seperti dilaporkan di atas, tempat Mesjid Aqsa mempunyai derajat kepentingan khusus bagi semua Yahudi, tapi khususnya bagi Zionis. Karena alasan ini, para Zionis bertempur demi Yerusalem yang murni dan berusaha �memurnikannya� dari unsur Kristen dan Muslim. Menurut banyak Yahudi fanatik, Mesjid Aqsa seharusnya dihancurkan sama sekali. Meski kelihatannya semua Zionis sepakat dengan pandangan ini, beberapa di antaranya menyandarkan diri pada alasan politis, dan lainnya menggunakan alasan keagamaan. Apa pun alasannya, ada satu kenyataan yang tak terhindarkan: Zionis menganggap bahwa keberadaan Mesjid Aqsa adalah hambatan besar bagi visi masa depan mereka.

Dengan kenyataan ini, belum lama ini para Zionis radikal telah melakukan banyak upaya untuk menghancurkan Mesjid Aqsa. Menurut fakta yang ada, beberapa kelompok sepenuhnya sukarela menjalankan misi ini. Semenjak 1967, kelompok-kelompok ini telah menyerang Mesjid Aqsa lebih dari 100 kali, dan dalam melakukan penyerangan itu, telah membunuh banyak orang Islam selama ibadah sholat mereka.

Serangan pertama dilakukan oleh Rabbi Shlomo Goren, pendeta pada Angakatan Bersenjata Israel, pada bulan Agustus 1967. Goren, yang kemudian menjadi kepala rabbi Israel, memasuki tempat suci Islam itu dengan 50 pria bersenjata di bawah pengawasannya. Pada 21 Agustus 1969, Zionis melancarkan tembakan langsung ke mesjid tersebut, merusakkan sebuah mimbar yang terbuat dari kayu dan gading. PBB hanya merasa perlu mengutuk kejadian itu, sebuah serangan langsung atas tempat ibadah Islam.

Pada 3 Maret 1971, pengikut pemimpin radikal Gershon Solomon juga menjadikan Haram asy-Syarif sebagai sasaran. Meskipun mereka mundur setelah kontak senjata dengan tentara keamanan Palestina, mereka tidak kapok dan melancarkan lagi serangan serupa 3 hari berikutnya. Pertempuran pun pecah dan dilakukan dengan kejam oleh satuan tentara Israel. Kemudian, pada 1980, sekitar 300 anggota kelompok teroris radikal Gush Emunim menggunakan senjata berat dan menyerang mesjid. Dua tahun berikutnya, seorang Israel yang membawa paspor Amerika bergerak ke mesjid dengan senapan serbu M-16 dan menembakkannya pada orang Islam yang tengah sholat di sana. Setelah kejadian tragis ini, di mana dua orang Palestina tewas dan banyak lainnya terluka, tak seorang pun mempertanyakan bagaimana seorang lelaki bersenjata bisa menembus �barikade� yang didirikan di sekitar mesjid itu oleh para tentara Israel. Si penyerang diadili dan ditahan sebentar, ia berkoar-koar bahwa ia telah �menyelesaikan tugasnya.� Pada tahun yang sama seorang murid dari pemimpin teroris keji rabbi Meir Kahane menyerang mesjid ini dengan dinamit.

Cerita penyerangan seperti itu tidaklah berhenti di sini. Pada 10 Maret 1983, anggota Gush Emunim memanjat dinding Haram asy-Syarif dan mencoba menaruh bahan peledak. Para teroris ini diperiksa dan dibebaskan beberapa bulan kemudian. Segera setelah serangan ini, sekelompok teroris Yahudi radikal yang dipersenjatai dengan banyak alat-alat peledak termasuk lusinan granat, dinamit, dan 12 rudal mortar, mencoba meledakkan Mesjid al-Aqsa. Kemudian pada tahun 1996, suatu rencana Zionis yang baru tentang mesjid ini dilaksanakan. Setelah gagal mencapai tujuannya dengan serangan bersenjata, para Zionis berusaha menghancurkan mesjid dari bawah, dan mulai menggali terowongan besar di bawahnya. Alasan mereka menggalinya adalah �penelitian sejarah.”

Kejadian yang disebutkan di atas hanyalah beberapa contoh tentang bagaimana Zionis radikal menjadikan Mesjid al-Aqsa sebagai sasaran penghancuran. Rakyat Palestina mengemban tanggung jawab melindungi tempat suci ini dan Yerusalem itu sendiri atas nama umat Islam di seluruh dunia, dan adalah mereka yang langsung menanggung serangan ini. Oleh karena itu, tanggapan mereka terhadap kunjungan Sharon yang menghebohkan itu, yang ditampilkan seolah sebuah permainan politik, sangatlah penting. Kekerasan yang dimulai oleh Sharon dengan melecehkan tanah suci umat Islam dengan kawalan 1200 tentara tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Angka-angka menunjukkan dengan lugas tingginya derajat kekerasan, yang dipelopori oleh Sharon ini, dan berlanjut di bawah kepemimpinannya.

MUSLIHAT PERDAMAIAN ISRAEL

Kesepakatan Oslo yang ditandatangani pada tahun 1993 memulai halaman baru dalam sejarah Timur Tengah. Pemimpin PLO Yasser Arafat dan Perdana Menteri Israel Yitzak Rabin, di hadapan Presiden AS Bill Clinton, berfoto di depan para wartawan, berjabat tangan, dan membawa perundingan Israel-Palestina pada hasil kesepakatan yang sebenarnya. Dengan menandatangani Kesepakatan Oslo, kedua belah pihak saling mengakui untuk pertama kalinya dalam sejarah dan membuat kesepakatan dua negara untuk pertama kalinya.

Setelah menandatangani kesepakatan, gagasan bahwa perdamaian akhirnya akan dimungkinkan mulai merambah seluruh dunia. Telah diterima luas bahwa pertikaian Arab-Israel bisa dipecahkan secara permanen, dan bahwa perdamaian akan membawa kemakmuran dan kebahagiaan ke Timur Tengah. Shimon Peres, orang nomor dua di Israel, menulis sebuah buku berjudul The New Middle East, yang menggambarkan pemandangan membahagiaan ini. Buku itu segera terjual laris. Penampilan Israel sebagai �pembawa perdamaian� kelihatannya meyakinkan hampir setiap orang.

Akan tetapi buku kami The New Masonic Order, yang pertama kali diterbitkan pada Februari 1996 menggambarkan betapa penampilan ini tidak mencerminkan kenyataan, betapa perdamaian Israel hanyalah �perdamaian basa-basi.� Kami menerangkannya bahwa dengan berunding bersama PLO, Israel sebenarnya ingin memperburuk pertikaian antara mereka dengan Hamas, bahwa Israel sebenarnya tidak punya niat menarik diri dari Daerah Pendudukan, dan bahwa mereka hanya menjadikan perdamaian sebagai �permainan taktik.� (Lihat Harun Yahya, The New Masonic Order, Istambul, 1996, hal. 508-520.)

Enam tahun setelah penerbitan buku ini terbukti bahwa pandangan ini benar. Seluruh dunia saat ini memahami bahwa �Israel damai� di pertengahan 1990an tidak masuk akal, dan bahwa Israel melanjutkan politik pendudukannya. Proses perdamaian basa-basi yang dipelopori Israel untuk mengakhiri Intifadah hanya mengarah pada bentuk lain ketika Israel meneruskan kebijakan penindasan dan penyerangannya. Setelah semua rancangan damai palsu ini, pemilihan Ariel Sharon, �Penjagal dari Libanon,� sebagai perdana menteri menunjukkan bahwa Zionis telah memutuskan meneruskan kebijakan pendudukan mereka dan kekejaman, bukan perdamaian. Kenyataan ini adalah bukti yang cukup jelas bahwa tawaran perdamaian Israel tidaklah murni.

Tak disangkal lagi, digantinya perdamian dengan pertikaian baru berarti memicu lagi kejadian yang mengerikan. Apa yang kita harapkan, tentu saja terjaminnya perdamaian dan keamanan di Timur Tengah. Namun harus menjadi perdamaian yang adil. Israel ingin memaksakan perdamaian tak adil yang tidak diikuti penarikan diri dari Wilayah Pendudukan dan memaksa orang Islam menerima status quo. Alasan mereka melakukan ini adalah ideologi Zionis, orang Israel belum lagi merdeka dari ideologi ini.

Syarat yang diperlukan untuk perdamaian adil di Palestina meliputi hal berikut: Israel harus menarik diri dari Daerah Pendudukan, para pengungsi harus diizinkan kembali ke rumah mereka, orang-orang Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel harus diadili dengan proses yang layak, dan kedudukan akhir Yerusalem harus ditetapkan. Israel terus memaksakan pandangannya tentang semua permasalahan dan menolak mencari jalan penyelesaian. Alasannya adalah ideologi Zionis.

Sepanjang Israel tidak mau meninggalkan Zionisme, mereka akan tetap tidak bisa menghormati hak azazi manusia dan keadilan. Karena itu, semua rencananya untuk rakyat Palestina tidak akan berkeadilan. Bagi Zionis Israel, �perdamaian� berarti tidak lebih dari �gencatan senjata demi strategi� dalam peperangan yang lebih besar. Ketika kita kembali ke belakang dan melihat masa yang dimulai dengan Kesepakatan Damai 1993, kita akan melihat bahwa fakta ini benar.

Asal Mula Perdamaian Israel-PLO

Sejarah panjang pertikaian antara Israel dan Palestina diketahui setiap orang. Semenjak awal abad kedua puluh, Timur Tengah telah menjadi ajang bentrokan antara orang Islam pribumi dengan Arab Kristen dan Yahudi, yang sebagian besarnya tidak dilahirkan di Palestina. Setelah didirikannya Israel pada 1948, bentrokan ini menjadi perang terbuka. Pada 1967, ada empat perang utama dan satu bentuk perang antara Israel dan tetangga Arabnya. Setelah 1967, organisasi yang bekerja untuk membebaskan Palestina juga membuat kehadiran mereka terasa.

Perlawanan Palestina menguat ketika Israel menduduki semua tanah Palestina pada 1967. Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), sebuah gerakan perlawanan yang terbentuk dengan penyatuan beberapa kelompok, meningkatkan kegiatannya khususnya dalam 1970an. Hingga 1980an, mereka memainkan peran utama dalam perjuangan rakyat Palestina. Lahirnya gerakan Islam selama 1980an memiliki dampak meluas atas organisasi ini, yang telah bertahan terutama melalui dukungan golongan kiri, pemerintah Arab sosialis, dan Uni Soviet. Kelompok Islam, khususnya yang mengorganisir dirinya di Jalur Gaza dan Tepi Barat, menjadi bentuk baku Intifadah pada 1987 dan memimpin pemberontakan ini. Pada 1990an, kekuatan mereka bertentangan dengan PLO. Tak diragukan lagi, perkembangan ini membuat Israel mengubah taktik, untuk memusatkan perhatian pada gerakan Islam baru yang bersatu dibawah ciri yang sama ini, dan bukan dengan PLO, yang telah kehilangan dukungan penting dari blok Soviet yang sekarang telah beku, yang menjadi kekuatan terbesarnya.

Israel lebih memilih membuat perubahan strategi, bukan menghadapi dua ancaman ini sekaligus. Hal terpintar yang dilakukan adalah mengakui PLO sebagai perwakilan resmi kepentingan Palestina dan lalu memainkan kartu PLO melawan kekuatan Palestina lainnya. Tentu ini berarti bahwa Israel harus sementara waktu menghentikan kebijakan penyerangan yang telah berlangsung bertahun-tahun, jika itu penting untuk taktik ini. Inilah dasar bagi Israel dan PLO memulai proses perdamaian selama awal 1990an.

Teori “Perdamaian untuk Perang”

Mundur untuk membuat gerakan lebih kuat lagi di belakang hari adalah salah satu strategi politik yang lebih dipertajam lagi. Israel mengetahui bagaimana menerapkan �strategi penarikan diri� ini ketika diperlukan. Salah satu contoh terjadi 3 tahun setelah mereka menandatangani Kesepakatan Camp David dengan Mesir. Satuan-satuan tentara Israel menyerang Libanon pada musim panas 1982, di bawah perintah penanda tangan Camp David Menachem Begin, yang mengejutkan orang-orang yang yakin pada dongeng proses perdamaian Timur Tengah. Pembantaian yang terjadi di kamp pengungsian Sabra dan Shatilla sekali lagi menunjukkan apa yang sesungguhnya dimaksud Israel dengan perdamaian. Kejadian-kejadian ini membuktikan bahwa Israel tidak menandatangani Kesepakatan Camp David karena menginginkan perdamaian di Timur Tengah, melainkan karena hanya ingin menghilangkan satu hambatan (Mesir) sehingga bisa berkonsentrasi pada tujuan yang lebih penting.

Jadi proses perdamaian 1992 hanyalah �strategi menarik diri� lainnya, sebuah taktik perang post-modern yang direkayasa seperti bunglon. Taktik ini tidak dapat menghindar dari pandangan para ahli dan cendekiawan yang mengikuti proses perdamaian itu lebih dekat. Edward Said, salah satu ahli ini, memperingatkan PLO sebelum memulai pembicaraan damai bahwa mereka telah lupa bahwa mereka berhadapan dengan �negara orang Talmud.� (Orang Talmud terikat keras dengan Talmud, Kitab Suci Yahudi.) Menurut Said, orang-orang Israel mempersiapkan jebakan di belakang setiap kata dan setiap tanda koma dari pembicaraan damai ini.

Dengan tawaran perdamaian pertama mereka, yang menjanjikan orang-orang Palestina dengan Jalur Gaza dan Tepi Barat, pemerintah Israel berencana untuk meredam perlawanan rakyat Palestina. Rencana ini sesungguhnya adalah jebakan. Demikian pula, wilayah yang berada di bawah pengendalian Palestina berdasarkan Kesepakatan Oslo berjumlah sekitar 22% dari seluruh tanah Palestina. Bahkan, dengan menempatkan Jalur Gaza, daerah kekuatan pergerakan Islam, di bawah kendali Palestina, Israel telah membebaskan dirinya dari perlunya menghadapi kelompok perlawanan ini. Dengan kesepakatan ini, kekuatan keamanan Palestina harus menghadapi langsung kelompok perlawanan ini. Israel tidak rugi apa pun dalam tawar menawar ini, sebaliknya, terbukti menjadi tawar menawar yang paling menguntungkan. Dan memang, kesepakatan yang mengikuti Oslo membantu Israel �membersihkan� Yerusalem dari orang-orang Kristen dan Muslim.

Pastilah bukan kebetulan adanya pembangunan pemukiman di dekat Yerusalem yang dilakukan segera setelah penandatanganan Kesepakatan Oslo. Pembangunan ini hanyalah sebuah hasil dari strategi yang telah direncanakan dengan lihai, yang tiap tahapnya dengan seksama dipikirkan sebelumnya.

KEDOK PERUNDINGAN: LAPORAN MITCHELL

Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik puncaknya dengan meledaknya Intifadah al-Aqsa, yang mengarahkan kalangan internasional untuk berusaha memulai perdamaian baru. Laporan Mitcell, salah satu laporan yang menarik banyak perhatian dan dipersiapkan oleh sebuah delegasi yang dipimpin oleh bekas Senator George Mitchell, memeriksa persoalan di sumbernya dan memberi usulannya. Tujuan utamanya adalah menentukan sebab mendasar ketegangan Israel-Palestina dan memberi usulan bagaimana mencegah pertikaian seperti ini di masa mendatang. Meskipun laporan ini dipersiapkan tidak kurang dari 8 bulan, laporan ini tidak memberi hasil yang diinginkan. Seperti halnya banyak laporan lain dalam upaya perdamaian Timur tengah, Laporan Mitcell adalah sebuah pemecahan sementara yang direkayasa, bukan upaya murni untuk mengekalkan perdamaian.

Tentu Laporan Mitchell berisi materi yang dimaksudkan untuk memuaskan ke dua belah pihak. Namun, karena kekurangan materi mendasar, laporan ini tidak mampu mengemukakan masalah sesungguhnya dan kekurangan sanksi dan saran yang murni. Sewaktu menyatakan bahwa Israel telah menggunakan kekerasan berlebihan, laporan ini juga menuduh Yasser Arafat melakukan sabotase terhadap Kesepakatan Oslo dan tak mampu menemukan penjahat dan korban sebenarnya. Para anggota komite, yang mendesak agar ini tidak dijadikan delik hukum, tidak menyebutkan berlanjutnya teror Israel atau pembantaian yang terjadi belakangan. Ketika laporan itu ditelaah secara rinci, jelaslah bahwa ketika anggota komite berkata bahwa meraka �tidak akan menghukum siapa pun,� apa yang mereka maksudkan adalah bahwa mereka �tidak akan mengenakan keputusan keras apa pun atas Israel.� Ahli Timur Tengah Daniel Pipes menerangkan sikap (seolah-olah) netral dalam laporan ini dengan mengatakan: �Seandainya komite Mitchell diminta menilai pecahnya Perang Dunia II, mungkin ia akan menyesali Hitler melintasi perbatasan Polandia tapi mengimbanginya pula dengan desas desus tentang pernyataan �menghasut� dari Warsawa (Polandia).”1

Sebelum laporan ini diterbitkan pun, komentar pejabat Israel senior yang diterbitkan dalam surat kabar Israel Ha�aretz memberi isyarat penting tentang apakah semua itu akan menghasilkan perdamaian berkeadilan. Pejabat ini menyebut bahwa laporan ini mungkin akan menuduh orang Palestina melakukan sabotase atas perundingan damai dan orang Israel karena melakukan kekerasan berlebihan dan terus membuka wilayah pemukiman baru. Namun, yang lebih penting lagi adalah pernyataannya bahwa �[Israel] akan dapat menghadapi keluhan-keluhan pada umumnya, seperti kritik tentang pemukiman atau penggunaan kekuatan� tapi akan menghadapi kesulitan dalam menghadapi saran-saran pelaksanaan yang dibuat oleh laporan itu. Termasuk di dalamnya seruan kepada para pengamat internasional dan himbauan supaya ada perwakilan internasional di Hebron.”2 Pejabat Israel lainnya menimbulkan kegaduhan dengan komentar berikut:

Kami mendesak agar komisi berpegang pada wewenangnya saja� ini berarti memperjelas fakta dan tidak melampaui batas itu. Kami tidak akan membiarkan laporan ini menjadi pijakan agar pertikaian ini dijadikan masalah internasional dengan menempatkan pengamat internasional.3

Ketika laporan ini diterbitkan, laporan itu tidak berisi �arahan khusus,� seperti yang diinginkan Israel. Dengan hanya memuat kritik umum, laporan ini sepenuhnya sesuai dengan kemauan Israel. Memang, meskipun telah lama berlalu semenjak terbitan laporan itu, fakta bahwa tank-tank Israel terus merangsek ke wilayah Palestina menunjukkan betapa �berhasilnya� laporan ini membawa perdamaian ke wilayah ini.

Satu-satunya jalan untuk memastikan adanya perdamaian yang kekal adalah menunjukkan sikap yang benar-benar tidak berat sebelah dan melindungi hak orang-orang tertindas, dalam keadaan apa pun. Dalam hal Palestina, sangat jelas kelompok mana yang dizalimi dan perlu perlindungan hak. Sebelum hal-hal lainnya, Israel harus menarik diri dari Daerah Pendudukan dan mengembalikan pada rakyat Palestina seluruh hak-hak yang telah mereka ingkari. Persoalan ini telah sering diagendakan oleh orang Israel yang menginginkan perdamaian. Inilah pernyataan pergerakan “Perdamaian Saat Ini Juga”:

Saat ini kita menemukan diri kita di tengah-tengah sebuah perang kemerdekaan Palestina. Perang yang kejam dan tak perlu ini dimulai karena pendudukan paksa Israel pada tahun 1967 atas tanah Palestina, penindasan dua juta orang melalui pendudukan ini, dan keinginan Israel untuk melanjutkan pendudukan ini. Hanya ada satu akhir untuk perang ini: penarikan diri Israel dari wilayah-wilayah pendudukan dan berdirinya Negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Akhir dari pendudukan dan serangan ini dapat mengawal sebuah zaman perdamaian di daerah ini.”4

Sepanjang syarat ini tidak terpenuhi, seluruh perundingan damai dan saran-saran kompromi akan gagal mencapai tujuannya. Sepanjang Israel tidak menghentikan kekerasan, upaya-upaya diplomasi tidak akan berarti apa-apa. Akhirnya, di Palestina suara meriam, tank, dan rudal akan lebih keras dari suara-suara diplomasi.

Ariel Sharon Bersiap untuk Perang

Sebuah laporan berita yang diperoleh dari majalah strategi pertahanan Jane�s Defense Weekly di paruh akhir Juli 2001 menunjukkan sekali lagi cara Sharon merencanakan membawa perdamaian ke wilayah Palestina. Menurut laporan ini, militer Israel tengah mempersiapkan rencana perang yang akan melibatkan 30.000 tentara, pesawat tempur F-15 dan F-16, pengeboman bertubi-tubi, dan kendaraan perang berat. Tujuan operasi ini adalah menghapus kemungkinan kekuatan-kekuatan Palestina membangun diri lagi.

Bagian paling menarik dari rencana ini adalah bagaimana semua ini dihidupkan, seperti dilaporkan oleh CBS News. Pemerintah Israel telah menetapkan rencana yang mengagungkan ideologi dan masa lalunya: Perang yang akan direncanakan dengan bom bunuh diri terhadap wilayah dengan penduduk Yahudi terpadat. Rencana seperti ini menarik karena memperlihatkan bersedianya Israel mengabaikan kehidupan rakyatnya sendiri, jika perlu, untuk mencapai tujuan Zionisnya. Informasi ini dilaporkan oleh CBS:

Laporan ini mengatakan rencana penyerangan Israel akan dilancarkan setelah seragan bom bunuh diri lainnya yang menyebabkan sejumlah besar kematian, seperti yang terjadi di kelab malam Tel Aviv akhir bulan yang lalu.5

Dengan laporan ini, dan naiknya Sharon ke pucuk kekuasaan, diharapkan agar ketegangan wilayah akan meningkat pesat, dan Israel dapat menarik diri sepenuhnya dari proses perdamaian dan meningkatkan penggunaan kekuatannya. Dengan memilih �Penjagal Libanon� sebagai pemimpin mereka, para Zionis memberi tanda awal bahwa perang seperti itu akan datang. Pihak Palestina telah meramalkan keadaan seperti ini. Dengan adanya Sharon dalam kekuasaan, kemungkinan bahwa perang hidup mati akan pecah adalah kemungkinan yang tidak dapat diabaikan.

Meski perang ini mungkin adalah operasi yang hanya ditujukan pada PLO, perang itu bisa menjadi perang wilayah, menyeret negara-negara tetangganya. Tentu saja, dunia tidak akan melihat pewujudan sesungguhnya perang ini, melainkan, seperti yang selalu terjadi, hanya sisi yang mereka inginkan untuk dilihat dunia. Sebuah artikel dalam The Independent berbunyi:

Saya perkirakan ini adalah cerita usang yang sama. Orang-orang Israel hanya ingin perdamaian. Orang-orang Palestina yang amburadul, pembuat kekacauan, dan pembunuh, yang sepenuhnya harus disalahkan atas 95 kematian di pihaknya sendiri, hanya mengenal kekerasan. Itulah yang dikatakan juru bicara militer Israel tadi malam. Kekuatan, katanya, �hanyalah satu-satunya bahasa yang mereka pahami.� Yang akan datang mendekat pada pernyataan perang seperti yang bisa kalian dapatkan.
Seberapa Fair-kah Oslo?

Seperti telah dilaporkan sebelumnya, Kesepakatan Oslo 1993 disambut dengan semangat oleh media Barat dan beberapa kelompok yang menginginkan perdamaian di Timur Tengah. Akan tetapi, tahun-tahun setelahnya yang bergulir tidak memperkuat semangat mereka. Media Barat terus mengikuti pola Israel dalam masalah perdamaian, seperti yang mereka lakukan dalam banyak persoalan lain. Orang-orang Palestina dituduh tidak mendukung perdamaian, meskipun beberapa tuntutan mereka telah diberi, dan menggambarkan mereka sebagai dengan kejam menolak kesempatan yang ditawarkan oleh Israel kepada mereka untuk mencapai �negara sendiri.”

Akan tetapi, kenyataannya adalah sebaliknya, karena Israel tidak menawarkan pada mereka apa yang pantas mereka dapatkan. Kenyataannya, Israel menyuap Palestina agar tidak menghalangi jalannya.

Pertama, dan terpenting, tanah yang disepakati Israel diberikan sebagai tanah Palestina yang jumlahnya kurang dari 22% dari wilayah Palestina sebenarnya, dikepung oleh tentara Israel, dan dipisahkan satu sama lain dengan jalan-jalan yang hanya dapat digunakan oleh orang-orang Yahudi. Perincian lain yang tak boleh dilupakan adalah bahwa tanah ini adalah tanah gurun yang tandus. Bahkan, perbatasan, udara, dan air tanah �negara merdeka Palestina� berada di bawah kendali Israel.

Sementara kalangan menganggap pembagian oleh Israel atas wilayah Palestina dalam tiga wilayah (yakni A, B, dan C) sebagai kesepakatan yang penting. Padahal, berdasarkan contoh ini, ketika satu jalan Yerusalem berada di bawah kendali polisi Palestina, maka jalan berikutnya akan dikendalikan oleh tentara Israel. Akibatnya, orang Israel bisa menyeberang ke jalan ini, sehingga membawa militer Israel ke wilayah Palestina, seperti yang mereka lakukan saat ini di Jalur Gaza dan Tepi Barat kapan pun mereka mau. Kita tidak bisa membicarakan negara Palestina yang berdaulat dengan keadaan seperti ini.

Usulan Israel untuk memberikan sebagian Yerusalem di bawah kendali Palestina tak berarti apa pun selain tipuan. Seperti banyak persoalan lainnya, Israel hanya tertarik memanipulasi orang-orang Palestina untuk keuntungannya sendiri. Robert Fisk menyebutkan kenyataan ini dalam salah satu artikelnya:

Dan Otoritas Palestina mengetahui semuanya dengan terlalu baik, apa arti �kendali� di Yerusalem. Ketika orang-orang Arafat mengumpulkan sampah, dengan mengerahkan polisi jalanan dan tetap mengatur rakyatnya sendiri, Israel terus memegang kedaulatan di seluruh Yerusalem.121

Selain ini, Kesepakatan Oslo tidak memberi orang Palestina, yang dipaksa terusir dari rumah dan tanahnya karena teror Israel pada 1948, hak untuk pulang. Mustahil memecahkan masalah Palestina tanpa mengizinkan para pengungsi kembali.

Kesimpulannya, �Israel yang Damai� yang tampak di kulitnya dan mengungkapkan kepalsuannya pada tahun 2000 jelas tidak mencerminkan kebenaran sesungguhnya. Sepanjang Israel memandang Yerusalem dan seluruh tanah Palestina sebagai hak miliknya, menganggap orang-orang Palestina sebagai �binatang berkaki dua,� dan melihat dunia dari kaca mata kabur Darwinisme Sosial, mereka tidak akan bisa membawa perdamaian ke Timur Tengah.

Jalan yang Benar Menuju Perdamaian

Pertanyaan tentang bagaimana perdamaian, yang adil dan berkeadilan, bisa dibawa ke Timur tengah akan dijawab dengan meninjau sejarah.

Seperti dibahas sebelumnya, satu-satunya pemerintahan yang pernah memungkinkan Yahudi, Kristen, dan Islam hidup bersama dalam damai dan keamanan di Palestina adalah pemerintahan Islam: yakni Kesultanan Ottoman. Alasannya adalah karena pandangan-pandangan Islam tidak mengandalkan ideologi brutal apa pun seperti Zionisme atau pun yang menyebabkan Perang Salib. Pengikut Islam sejati tidak akan melihat dunia melalui cermin buram Darwinisme Sosial, seperti yang dilakukan Zionis. Islam juga mengajarkan orang beriman bahwa segala amarah yang mereka luapkan pada suatu masyarakat tidak boleh menyeret mereka pada ketidakadilan. Bahkan, Islam menganggap Yahudi dan Kristen sebagai Ahli Kitab dan menghormati hak mereka untuk hidup, beribadah, dan memiliki harta.

Karena alasan ini, memperkuat Timur Tengah sekaligus masyarakat Islam dunia akan membawa perdamaian dan keamanan tidak hanya pada dunia Islam melainkan juga pada negara dan orang lain dari keimanan berbeda. Sepanjang sejarah, pemerintahan Muslim yang adil dan benar telah mendapat penerimaan orang Non-Muslim, dan begitu pula yang akan terjadi di masa depan. Muslimin tidak pernah mengabaikan Yerusalem atau menerima kota suci ini sebagai �Ibu Kota Abadi Israel.� Oleh karena itu, pemecahan yang paling masuk akal adalah Yerusalem Timur yang diperintah oleh sebuah badan pemerintahan Palestina, tapi di bawah arahan sebuah badan di mana anggota ketiga agama diwakili dan sejajar kedudukannya, sebagai kota merdeka dan bebas senjata. Tentu saja, pemerintah ini harus hidup dan menjalankan etika agama mereka masing-masing. Dalam Yerusalem seperti ini, orang-orang Kristen dan Yahudi akan merdeka, demikian pula orang-orang Islam. Rencana ini memegang kunci ke arah keselamatan sejati bagi Palestina dan Timur Tengah.

Lingkungan damai, adil, dan bertenggang rasa yang dirasakan selama abad pemerintahan Ottoman adalah contoh terbaik tentang hal ini. Semenjak akhir pemerintahan Ottoman di daerah ini, sekalipun telah banyak pemerintahan dan kebijakan yang diupayakan, Timur Tengah tidak pernah mengalami lagi kedamaian dan stabilitas.

KATA PENUTUP

Kenyataan yang telah kita bahas di sini mengungkapkan bahwa tujuan dasar Israel adalah mengepung orang-orang Palestina dengan segala cara yang mungkin dan membuat hidup mereka menjadi berat sehingga mereka akan menghentikan perjuangan mendapat tanahnya dan pergi ke tempat lain. Para pemimpin Israel seperti Ben Gurion, Begin, Shamir, Netanyahu, Barak, dan Sharon semuanya telah mengikuti ideologi yang sama: Zionisme yang membabi buta dan menyerang. Hambatan terbesar untuk mewujudkan impian Zionis adalah orang-orang Palestina.

Gerakan untuk mewujudkan impian ini telah mengakibatkan pembantaian bangsa besar-besaran yang masih terjadi di Palestina selama setengah abad dan telah membawa rakyatnya ke dalam kehancuran. Mereka kehilangan segalanya: rumah, kebun, dan tanah mereka. Dan sebuah negara baru, yang ideologinya didasarkan atas teror dan kekacauan, dibangun di tanah mereka dulu. Di tempat rumah dan tanah pertanian Palestina pernah berada, di sana sekarang pabrik-pabrik, gedung, hotel, dan pusat perbelanjaan Israel didirikan. Namun negara Israel tidak berhenti di sini, seperti yang diperlihatkan sejarah, mereka masih menolak meninggalkan orang-orang Palestina dalam damai di atas tanah yang telah mereka tinggalkan.

Orang-orang Palestina, karena tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar dan pokok mereka, terus menghadapi perlakuan menyiksa dan tak berprikemanusiaan. Diembargo secara ekonomi, mereka tak punya harapan untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Di wilayah tempat perikanan merupakan sumber utama pendapatan, menangkap ikan justru dilarang; di wilayah tempat ekspor buah adalah sumber utama tenaga kerja, ekspor malah dibatasi. Akibatnya, orang-orang Palestina tidak punya pilihan selain bekerja sebagai separuh budak untuk upah sekecil-kecilnya dari pabrik-pabrik Israel.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
(Qur’an, 16:90)

Kaum muda tanpa senjata selain batu dan ketapel menghadapi senapan api sebagai balasan lemparan batunya. Sebagian besar dari mereka yang terluka tertembak di kepala, dada, dan punggung. Bahkan, tentara Israel melakukan kebijakan kejam penghancuran atas seluruh penduduk sipil. Misalnya, seorang bapak yang kembali ke rumah dengan sepotong roti ditembak tanpa alasan di depan anak-anak dan istrinya yang hamil. Wanita yang bekerja di ladangnya ditembak dari atas oleh helikopter, tanpa alasan. Anak-anak yang kembali dari sekolahnya ditembak oleh tank-tank Israel sehingga kehilangan jiwanya. Sebagian besar orang ini tewas karena lukanya, karena para tentara Israel tidak membiarkan ambulan membawa orang yang luka atau pun pergi ke rumah sakit.

Berita tentang kejadian-kejadian mendadak terus datang dari Palestina. Ketika Anda membaca bagian ini, seorang anak Palestina lainnya mungkin tertembak lagi; lebih banyak lagi wanita, anak-anak dan orang tua yang tak bersalah yang mungkin kehilangan nyawanya. Dalam keadaan seperti itu, tidak ada Muslim sejati yang hanya berdiri menonton apa yang terjadi dan bertanya: �Apa yang mungkin aku perbuat?� Tak ada orang yang berhati nurani dapat membenarkan sikap tak merasa apa-apa melihat tragedi kemanusiaan yang tak terperikan ini. Jelas, setiap Muslim harus berupaya mengatakan �hentikan!� pada kekejaman ini dalam lingkungannya sendiri-sendiri.

Tak hanya di Palestina, tapi juga di seluruh dunia, bantuan terbesar yang bisa diberikan untuk membantu Muslimin tertindas adalah menentang ideologi Darwinis Sosial yang membabi buta, dan fasis yang mempertahankan kekejaman dan kebrutalan.

Sewaktu umat Islam di seluruh dunia tengah �diberondong� oleh penindasan dan penyiksaan kekuatan anti-Islam, orang-orang yang tidak langsung menyandang tanggung jawab seperti itu akan: menyuarakan suara orang Islam yang tertindas tersebut ke seluruh dunia, mengungkap pusat-pusat kekuatan penindasan, menyerang akar kekuatan ideologi ini, terus memperkuat dan menyi�arkan Islam, dan menetralkan hasutan ideologi anti-Islam melalui perjuangan pemikiran. Setiap Muslim yang terbunuh, terluka, dan ditindas tirani di Palestina seharusnya mengingatkan kita akan kewajiban ini sekali lagi. Ketika umat Islam memenuhi kewajiban ini, seluruh ideologi anti-Islam dan sistem anti-Islam akan hancur sepenuhnya, karena sesuai dengan firman Allah: “Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Al-Qur’an, 17:81). Ketika keadilan muncul, lenyapnya sistem yang palsu tidak dapat dielakkan.

SERANGAN ISRAEL TERAKHIR

Sewaktu penulisan buku ini (dasar pembuatan situs ini) dimulai, Palestina tengah mengalami bulan-bulan pertama Intifadah al-Aqsa. Dari hari paling awal Intifadah baru ini, pemerintahan Israel menanggapi dengan keras demontrasi jalanan warga Palestina. Namun, sementara itu, bentrokan di wilayah ini menjadi jauh lebih keras. Untuk membalas bom bunuh diri yang dilakukan oleh beberapa kelompok Palestina, Israel telah melangkah lebih jauh dalam menekan Daerah Pendudukan. Operasi Israel yang dilakukan di darat, laut, dan udara ditujukan terutama terhadap orang-orang sipil Palestina. Hari-hari terkeras selama Intifadah al-Aqsa mungkin telah meledak begitu tahun 2002 dimulai.

Dalam operasi terakhir ini, yang digambarkan oleh pihak berwenang sebagai yang terbesar di Daerah Pendudukan dalam 20 tahun terakhir, tentara Israel mengirimkan sekitar 20.000 tentara. Dengan pengerahan ini, yang dianggap sebagai sebuah pertanda awal akan adanya pembantaian besar-besaran, tentara Israel mulai mencaplok wilayah-wilayah yang ditempati rakyat Palestina satu demi satu. Operasi ini sebenarnya telah diramalkan berbulan-bulan sebelumnya. Seperti telah kita bahas di bagian sebelumnya �Ariel Sharon Bersiap untuk Perang,� sumber-sumber media asing telah meramalkan pendudukan itu. Berita yang bocor dari pemerintahan Israel ini juga menunjukkan bahwa Israel tengah mempersiapkan perang besar.

Begitu pendudukan dimulai, pemandangan yang mengingatkan pada penyerangan Libanon 1982 mulai tampak. Hal yang sama terjadi di setiap kamp pengungsi yang dicaplok dan daerah berdekatan. Pertama-tama, suara tank dari kejauhan dan letupan senjata terdengar, lalu generator yang menyuplai arus listrik dihancurkan, menjerumuskan daerah ini ke dalam kegelapan dan mengasingkannya dari dunia luar. Sebelum bergerak jauh, pesawat-pesawat F-16 datang untuk membantu tank-tank. Semua ini hanyalah langkah pertama pengepungan yang lebih besar lagi.

Pemandangan ini benar-benar seperti daerah perang layaknya. Tank-tank Israel memasuki kota-kota dalam pemerintahan Palestina seperti Gaza, Ramallah, Nablus, dan Tulkarem, menghancurkan segalanya di sepanjang jalannya; Pesawat-pesawat F-16 menghujankan bom di atas orang-orang yang tinggal di kamp-kamp pengungsian. Pemimpin PLO Yasser Arafat tidak dapat meninggalkan tempat kediaman resminya, dengan kata lain, ia telah dipaksa menjalani tahanan rumah. Hanya dalam satu hari serangan itu, 40 orang terbunuh. Tentara Israel menembaki rumah-rumah sakit, ambulan, dan sekolah-sekolah, termasuk sekolah untuk tuna netra yang didirikan oleh PBB. Para wartawan asing di tempat kejadian melaporkan bahwa orang-orang yang terluka selama serangan ini tidak dapat dibawa ke rumah sakit karena tank-tank Israel mengepung rumah sakit dan mencegah setiap ambulan untuk keluar masuk. Di samping itu, ribuan orang diperiksa tanpa alasan yang jelas, dan lusinan mereka dikirim ke penjara. Di beberapa kamp pengungsian, seluruh lelaki berusia antara 14 dan 60 dibawa pergi untuk disidik. Beberapa di ntara mereka, setelah ditahan selama 2 hari dengan tangan terikat dan mata ditutup, kemudian ditahan dalam penjara. Di kamp Dheisheh, misalnya, 600 laki-laki dipaksa untuk disidik; 70 dari mereka ditahan tanpa tuduhan resmi. Gambar-gambar orang-orang sipil dengan mata tertutup yang menunggu penyidikan yang diperlihatkan pada pers hanya memperlihatkan salah satu perbuatan tak masuk akal yang dilakukan oleh tentara Israel.

Pers melaporkan beberapa perbuatan kejam lain selama pendudukan Israel: Gambar tentara Israel ketika melangkah di atas mayat seorang Palestina yang baru dibunuh, memukul dan membunuh seorang lelaki Palestina di tengah jalan meskipun ia telah menyerah, tank-tank Israel yang memukul dan menghancurkan ambulan yang diparkir di sisi jalan tersebut, dan orang Palestina yang dihujani dengan roket. Bahkan, teror yang bersamaan diarahkan pada anak-anak, sebuah target yang sudah lumrah bagi mereka. Kebijakan Israel terhadap anak-anak tidak hanya ditentang oleh orang-orang Palestina saja, tapi juga oleh seluruh dunia, termasuk warga Israel. Penulis Israel terkenal Gideon Levy, musuh abadi kebijakan Israel di Daerah Pendudukan, mengkritik tajam hal itu dan bertanya pada masyarakat Israel:

Adakah yang memerintahkan para tentara menembaki kepala anak-anak, ataukah mereka melakukannya atas kemauan sendiri? Apa bedanya? Masih bisakah kejadian seperti itu disebut ketidaksengajaan? Ataukah ini sudah menjadi norma, menembak untuk membunuh pelempar batu, anak-anak maupun dewasa? Dan ini masih kita sebut bukan kejahatan perang? Coba, adakah orang-orang IDF yang peduli dengan perilaku tentara seperti ini?

Adam Shapiro, seorang pendudukung hak asasi manusia Amerika yang tinggal di Ramallah, menggambarkan pemikirannya tentang tentara Israel dalam memperlakukan Daerah Pendudukan:

Pendudukan ini bersandar pada pemusnahan manusia. Inilah sebabnya para tentara tega melakukan apa yang mereka mau, mereka diharapkan dan didorong untuk tidak melihat orang-orang Palestina sebagai manusia. Saya tidak yakin bahwa tentara Israel sudah kejam dari sananya, tapi saya percaya bahwa ketika mereka bertugas� mereka meninggalkan rasa kemanusiaannya di belakang� Ketika Israel akhirnya memahami bahwa pendudukan ini adalah akar dari pertikaian di sini, dan dengan begitu meninggalkannya dan membiarkan orang-orang Palestina untuk hidup dalam kemerdekaan, kata-kata yang perlu digunakan untuk menerangkan dan memahami dunia kita sekali lagi akan bermakna. Kalau belum sampai di sana, �kemanusiaan� akan tetap menjadi kata dengan makna tapi tanpa pengamalan

Kebijakan kekerasan Israel meningkat lebih jauh dari sekedar kekerasan. Beberapa kelompok radikal Palestina meningkatkan bom bunuh diri mereka yang ditujukan pada warga sipil Israel. Ketika berhadapan dengan perkembangan ini, Ariel Sharon dan pemerintah Israel memutuskan untuk tidak melanjutkan kebijakan yang terukur dan berkepala dingin, tapi menganggap perlu meningkatkan lagi tingkat penindasan dan kekerasan. Dalam sebuah pernyataan persnya, Sharon berkata:

“Kita harus menyebabkan mereka mengalami kerugian, luka-luka, sehingga mereka tahu mereka tidak akan dapat apa-apa� Kita harus memukul mereka, pukul, pukul lagi, sampai mereka mengerti.� Bagaimana dengan menawarkan sebuah pemecahan politik, sang perdana menteri ditanya. Sekarang, jawabnya, bukanlah waktu untuk prospek politik, ini cuma untuk prospek militer.124 Anggota Partai Likud Meir Sheetrit, dalam pernyataannya kepada parlemen, mengatakan bahwa ia mendukung kekerasan yang dilakukan oleh tentara Israel di Daerah Pendudukan, dengan menekankan bahwa ia akan mendukung setiap tindakan militer “yang dirancang agar orang-orang Palestina berteriak meminta gencatan senjata.”125 Teknik ini tidak menyelesaikan apa-apa, selain mendorong ke dalam lingkaran setan kekerasan. Seperti telah kita bahas di atas, peristiwa di Palestina sekali lagi membuktikan bahwa masalah ini tidak pernah dapat dipecahkan dengan kekerasan.

Menurut angka-angka yang diterbitkan PBB, selama operasi Israel dijalankan, 1620 rumah terus mengalami kerusakan berat, beserta 14 bangunan umum, termasuk beberapa sekolah. Di Jenin, dari 2500 bangunan yang ditempati 14.000 orang Palestina di sana, 550 rusak. Enam rusak ringan, 541 dengan aneka kerusakan, dan tiga rusak total. Di Balata, dari 3700 bangunan yang ditempati 20.000 orang, 670 mengalami kerusakan. Dari jumlah ini, 10 rusak total dan 14 rusak parah. Di Nur Al-Shams, 100 dari 1500 rumah tempat 8000 orang tinggal, rusak, tiga di antaranya tengah dihancurkan. Di Tulkarem, 300 dari 2900 bangunan yang didiami 16.000 orang rusak; enam di antaranya rusak total dan 30 rusak parah. Kerugian ekonomi keseluruhan ditaksir sekitar 3,5 juta dolar.
Masa ini, yang menyebabkan Israel dikritik tajam oleh PBB dan Uni Eropa, berakhir dengan langkah penting pertama Amerika Serikat mengirimkan juru runding untuk menangani krisis ini. Tank-tank Israel mulai menarik diri dari wilayah Palestina, meninggalkan daerah yang hancur berat, dan kedua pihak memasuki perundingan keamanan.

Selama penarikan singkat ini, salah satu upaya penting dilakukan untuk memastikan datangnya perdamaian adalah dalam bentuk sebuah rencana damai yang disampaikan oleh Pangeran Saudi Arabia, Abdullah di The New York Times. Menurut rencana ini, sebagai ganti mundurnya Israel dari batas pra-1967nya (menurut resolusi PBB), negara-negara Arab akan mendinginkan kembali hubungannya dengan Israel. Usulan ini diterima positif oleh sebagian besar orang Palestina. Akan tetapi, radikalisme di kedua belah pihak menghambat pelaksanannya.

Akibatnya, penarikan tank-tank hanya memberi waktu senggang untuk tentara Israel. Dalam beberapa hari, pendudukan baru dan lebih menyeluruh dimulai. Kali ini, sasarannya adalah Tepi Barat, dan khususnya Ramallah, tempat markas besar Arafat. Hasil operasi ini menempatkan markas Arafat dalam kepungan, hampir memaksanya tinggal di satu ruangan saja, sementara bahaya besar dihadapi oleh penduduk sipil Palestina. Militer Israel tidak menghentikan langkahnya menduduki Ramallah saja, melainkan merampas seluruh kota-kota Tepi Barat satu demi satu. Arus listrik diputuskan, dan pemadaman itu menyebabkan tak teraturnya aliran air. Tempat ini dikenakan jam malam ketat, dan penduduk mulai mengalami kelaparan karena aliran makanan anjlok. Ketika orang-orang yang sakit dan orang lanjut usia serta anak-anak berusaha mempertahankan hidupnya dalam keadaan brutal ini, hampir seluruh lelaki berusia antara 14 dan 50 tahun ditangkap oleh tentara Israel. Ketika tentara Israel mengambil alih bangunan yang dimiliki oleh dinas keamanan Palestina, meskipun para petugasnya telah menyerahkan diri, mereka ditembak di kepala dan dibunuh. Untuk mengasingkan orang-orang Palestina dari dunia internasional, Israel segera mengumumkan daerah pendudukan sebagai �daerah tertutup� sehingga dunia tidak akan mendengar kekejaman yang dilakukan atas orang-orang Palestina.

Meskipun telah mengupayakan hal seperti itu, stasiun-stasiun televisi dunia tetap menampilkan gambar-gambar kekejian di Palestina. Di antara gambar bersejarah adalah gambar orang-orang Palestina yang ditembak dari dekat di kepala, tahanan yang diikat dan ditutup matanya diseret ke daerah yang belum diketahui, seorang pemimpin dunia yang berpidato ke seluruh dunia dengan nyala lilin, jalanan Palestina yang gelap dan kosong, rumah sakit yang mengundang kemarahan tentara Israel, biarawati dan biarawan yang ditembak tank-tank Israel, dan anggota LSM yang mencoba untuk membentuk �pagar betis� bagi orang-orang Palestina tak bersalah. Ketika kamar mayat di rumah sakit Ramallah penuh, mereka mulai menaruh dua mayat dalam ruang yang muat untuk satu orang. Lalu muncul berita tentang kuburan massal yang digali untuk orang-orang yang dibunuh. Tempat-tempat seperti Tulkarem, Bethlehem, dan Qalqilya telah menjadi tempat mandi darah di depan mata dunia. Di Bethlehem, yang dipercaya sebagai kota tempat Yesus dilahirkan, banyak orang-orang Palestina yang dengan putus asa mencari tempat berteduh di gereja-gereja, tapi tak ada hasilnya. Bukan halangan bagi tentara Israel, seperti yang segera dilaporkan berita mengenai meletusnya tembakan di gereja-gereja dan bahkan anggota pendeta Kristen terbunuh.

Petunjuk lain tentang kekejaman pendudukan tak berperikemanusiaan ini adalah bagaimana wartawan dan anggota aktivis LSM di daerah ini diperlakukan. Sewaktu pemerintah Israel dengan paksa memindahkan beberapa wartawan yang mencoba melaporkan kejadian ini, yang lain seolah tetap menjadi sandera di dalam, dan beberapa orang yang tetap berada di sana bahkan kehilangan nyawanya. Kebijakan yang bahkan lebih keras lagi diterapkan pada pekerja LSM: Beberapa dari mereka ditahan karena �melanggar� hukum Israel, sedangkan lainnya diserang dengan gas air mata. Organisasi bantuan kemanusiaan tidak diizinkan melakukan apa pun. Satu contoh saja, pejabat PBB yang mencoba membawa makanan dan obat-obatan ke dalam tempat ini tidak hanya tak diberi jalan, bahkan diserang dengan gas air mata.

Pada saat ini, pembantaian dan kekerasan terus tak terpadamkan. Untuk menghentikan pertumpahan darah, untuk memastikan tak ada lagi nyawa melayang, dan agar kedua belah pihak mempunyai masa depan yang cerah dan damai, Israel harus menghentikan pendudukan ini sekaligus dan mengadakan perundingan antar kedua negara. Tapi, seperti dikatakan sebelumnya, satu-satu cara agar perdamaian tercapai, agar keamanan tercipta, dan permusuhan dihentikan adalah dengan perubahan mendasar dalam cara berpikir seluruh pihak. Perubahan ini dapat terjadi jika semua pihak yang terlibat menjalankan sikap tak berlebihan, tenggang rasa, dan kompromi, yakni jika mereka mengikuti nilai-nilai akhlak yang Tuhan putuskan dalam Al-Qur’an.

TEMPAT-TEMPAT SUCI JUGA DITEMBAK OLEH TENTARA ISRAEL
Salah satu bukti yang memicu kritik dunia internasional selama pendudukan terakhir tentara Israel adalah dijadikannya tempat-tempat suci Kristen sebagai sasaran. Israel membela diri bahwa teroris Palestina telah menduduki gereja dan menyandra pendeta-pendeta. Tapi informasi yang diperoleh dari tempat kejadian, termasuk komunikasi dengan para pendeta di gereja-gereja itu, menunjukkan bahwa alasan ini tidak benar. Sebuah laporan BBC berjudul �Bethlehem Siege Sparks Church Fury (Pengepungan Bethlehem Mengobarkan Kemarahan Gereja)� melaporkan informasi ini. Menurut laporan tersebut, juru bicara Gereja Katolik Roma, Romo David Jaeger, seorang warga Israel, dengan keras mengkritik serangan Israel dan menilai bahwa �Israel telah melanggar kewajiban internasionalnya.� Romo Jaeger mengatakan bahwa terbukti gereja dan tempat-tempat suci dijadikan sasaran oleh peluru-peluru Israel. Romo Amjad Sabbara dari Gereja Church of Nativity Bethelehem, sementara itu mengatakan bahwa orang-orang yang mencari tempat pengungsian di sana tak bersenjata dan terutama terdiri dari wanita, anak-anak, dan orang lanjut usia yang mencoba melarikan diri dari tank-tank Israel. Sebuah berita dari web site Islamonline melaporkan bahwa beberapa orang Palestina terluka parah oleh tembakan di gereja, tapi tidak dirawat karena tentara Israel tidak mengizinkan ambulan memasuki wilayah itu.

SELURUH DUNIA MENGUTUK ISRAEL
Pelecehan hak asasi manusia terang-terangan oleh Israel selama pendudukan terakhir, penghinaan seluruh masyarakat, dan perbuatan kejam dan tak berprikemanusiaan telah melahirkan kritik dari banyak negara dan kelompok, termasuk lembaga internasional seperti PBB dan Uni Eropa.
Di luar pernyataan resmi yang mengutuk aksi itu dari banyak pemerintahan, protes juga diserukan berbagai negara yang melibatkan ribuan, bahkan puluhan ribu orang yang mengutuk operasi Israel. Salah satu kalangan yang mengutuk operasi itu adalah kelompok cendekiawan Yahudi Prancis, yang menerbitkan sebuah kolom pada 7 April 2002, edisi Le Monde yang berjudul �Dukungan Israel Tidak Kami Restui.� Mereka lebih lanjut menghimbau Israel untuk mematuhi resolusi PBB dan menarik diri dari Daerah Pendudukan, dan berpendapat bahwa kebijakan Israel saat ini telah menyeret Timur Tengah ke dalam malapetaka. Demonstrasi anti-Israel lainnya berlangsung di Australia, di mana 10.000 orang mengutuk kebijakan keras Israel di Palestina.

Pembantaian yang Terjadi di Jenin
Seperti ditegaskan berita yang dilaporkan dari wilayah ini, Operasi Perisai Pertahanan (Defensive Shield), yang dilakukan atas nama pembasmian teror, mengakibatkan pembantaian lainnya atas warga sipil Palestina. Operasi ini dilakukan tidak hanya untuk tujuan mempertahankan diri, seperti disebutkan oleh namanya, melainkan untuk tujuan merusak. Operasi keseluruhan dicirikan oleh kebrutalan di seluruh Ramallah, Nablus, dan Bethlehem, karena tentara Israel menjadikan warga sipil sebagai sasaran, bukan kelompok bersenjata, dan membunuh wanita dan anak-anak yang bukan penyerang. Seorang tentara Israel yang terlibat dalam operasi ini mengatakan pada BBC:

Sebagai contoh ini saja. Ada satu desa tempat kami memata-matai seseorang yang berencana melakukan serangan teroris. Kami mengepung desa itu dan bergerak ke dalam, tapi ada seorang gembala berumur 17 tahun di ladang di pinggir desa� Apakah saya harus menahan, menutup matanya, mengikat tangannya? Atau saya harus berkata padanya agar segera masuk ke dalam?� Kami dilatih untuk melawan musuh dan tentara, tapi kami harus menghadapi masyarakat dalam keadaan ini� Hal yang paling mengerikan adalah masuk ke rumah-rumah dan melihat mereka hanyalah keluarga biasa. Anak-anak dengan mata ketakutan, saya merasa sangat sulit. Kami semua punya anak-anak di rumah.127

Kejadian kasar yang terjadi selama hari terakhir Maret 2002 tercatat dalam sejarah sebagai puncak pengepungan dan pembantaian brutal. Apa yang disebut media Barat sebagai �Pembantaian Sabra dan Shatilla jilid dua� merupakan serbuan yang diorganisir melawan kamp pengungsi Jenin. Kamp pengungsi ini telah didirikan untuk orang-orang Palestina yang terusir dari tanahnya di tahun 1948. Selama operasi terakhir ini, tentara Israel mengepung kamp ini, yang menjadi rumah bagi 15.000 orang, seperti yang telah dilakukannya pada kota-kota dan kamp-kamp Palestina lainnya. Namun apa yang terjadi selanjutnya berbeda dalam satu hal penting: Jenin tidak sekedar dikepung, tapi malah mengalami salah satu pembantaian paling menyeluruh di tahun-tahun terakhir.

Begitu kamp tersebut dikepung oleh tank-tank Israel, kamp dibombardir terus-menerus oleh roket-roket yang diluncurkan dari helikopter tempur. Bulldozer membongkar rumah-rumah dan tank-tank menembaki segalanya yang bergerak, sementara hampir semua lelaki dikumpulkan dan dibawa pergi. Orang-orang yang tidak terkena roket terjebak di bawah reruntuhan rumah mereka, dan orang-orang yang masih hidup di bawah puing-puing dibunuh oleh tentara Israel. Penolakan Israel untuk mengizinkan ambulan memasuki kamp, yang langsung melanggar keputusan PBB, menyebabkan angka kematian lebih tinggi lagi. Berita berikutnya dari daerah itu menunjukkan bahwa banyak wanita dan anak-anak tumpah darah hingga tewas, banyak jeritan kesakitan, karena ambulan dan dokter tidak diizinkan masuk.

Bahkan setelah Israel mengumumkan bahwa pengepungan berakhir, mereka masih menolak mengizinkan para wartawan, dokter, dan petugas organisasi hak asasi manusia memasuki kamp itu. Israel mengumumkan bahwa orang-orang yang terluka akan diangkut oleh tentara Israel dan mayat-mayat akan dikubur di pemakaman massal di perbatasan Yordania. Ini adalah bukti yang jelas bahwa Israel ingin menutupi pembantaian terakhir dari dunia internasional. Kenyataannya Menteri Luar Negeri Shimon Peres mengakui bahwa tentara Israel telah melakukan pembantaian ketika berbicara pada Knesset Israel:

Ketika dunia melihat gambar-gambar apa yang telah kita lakukan di sana, terlihatlah kerusakan yang parah. Meskipun banyak orang yang kita cari dibunuh di kamp pengungsian, dan meski banyak prasarana teror telah kita ungkap dan hancurkan di sana, tetap tidak ada pembenaran melakukan penghancuran besar seperti ini.
Setelah itu, dunia mulai mendengar tentang besarnya pembantaian dari orang Palestina yang berhasil memberitakan kabar dari dalam kamp dan dari beberapa wartawan yang berhasil memasuki kamp dan berhasil melarikan gambar-gambar itu. Meskipun Israel mencoba menghancurkan seluruh bukti, orang-orang Palestina berhasil melaporkan apa yang terjadi dengan menyalin catatan tertulis tentang pengalaman mereka. Dalam hari-hari pertama pengepungan, surat kabar The Times melaporkan kejadian di Jenin dalam artikel bertanggal 9 April 2002, berjudul �Children Scream for Water (Anak-anak Menjerit Minta Air)”:

Pemandangan terakhir Hamid tentang Kamp Pengungsi Jenin adalah sebuah kota kematian. Siswa sekolah berusia 14 tahun, yang menyerah pada tentara Israel Sabtu malam setelah menyaksikan 30 jam pengeboman, sedikit bergetar ketika melukiskan malapetaka ini. Tumpukan mayat dipinggirkan oleh bulldozer. Rumah-rumah dalam puing-puing terbakar. Anak-anak menjerit minta air; beberapa dipaksa meminum air limbah.

Hamid mengenakan celana baru, yang dibelikan oleh orang Palestina yang kasihan, karena ia ditelanjangi hingga pakaian dalamnya oleh tentara Israel setelah ia menyerah pada mereka� Tiga orang terbunuh oleh roket di dalam rumah tempat ia mengungsi.

“Tapi hal paling mengerikan adalah melihat tentara Israel membawa delapan orang dan membariskan mereka dan membunuh mereka,� katanya, menggambarkan secara rinci perlakuan terhadap mereka dan luka-luka yang dialaminya. Setelah itu, Hamid, saudara kembarnya Ahmed dan kakaknya Khadir membuat bendera putih dan mengibarkannya dari jendela. Mereka tak punya jalan lain.

Kakaknya ditelanjangi, dibelenggu kuat di belakang punggungnya dan matanya ditutup. Mereka dibawa ke suatu kelompok sekitar 100 lelaki Palestina ke Barak Militer Salem di Israel, tempat mereka mengatakan mereka dipukul dan ditawari uang untuk menjadi mata-mata Israel. Setelah 48 jam penyidikan, para lelaki dibawa ke suatu desa terdekat tanpa alas kaki dan disuruh pulang ke Tepi Barat. Ahmed ditendang dengan kasar di punggungnya dan ginjalnya dan terbaring di kasur menggeliat kesakitan. Khadir dengan mata lebam dan memar, tapi mereka bersaudara tetap hidup.

Tapi yang lain, tidak begitu beruntung. Di dalam mesjid beberapa dari lelaki yang menyerah hari Sabtu mengatakan dijadikan perisai hidup oleh para tentara� Khalid Mustafa Mohammed terbaring tengkurap berdarah-darah di atas kasur, dan punggungnya dibalut perban�.

Khalid dengan dua rusuk patah dan pendarahan dalam dan terbaring setengah koma, mengigau kesakitan. Satu-satunya petugas kesehatan di kota, seorang dokter gigi yang sudah kelelahan, Dr. Farouk al Ahmed� �Kami takut akan ada pembantaian,� kata Dr. Farouk. Seorang saksi mata mengatakan bahwa �wanita dan anak-anak dipisahkan dari lelaki itu, dan dibawa ke hutan terdekat.”

Rasa takut sesungguhnya bukanlah karena para pengungsi yang berhasil lari, melainkan yang masih tertinggal. Kenangan kamp pengungsian Sabra dan Shatilla muncul seolah belum lama terjadi.129

Walikota Jenin Walid Abu Muweis, tentang hal ini mengatakan bahwa kalimat yang dapat melukiskan apa yang ia lihat dan alami adalah: �Hal yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri tidak akan bisa diungkap kata-kata. Bagaimana seorang manusia bisa melakukan kebrutalan seperti itu? Saya tidak mengerti.� Muweis yang mengatakan bahwa apa yang terjadi di Jenin jauh lebih mengerikan dibanding yang terjadi 54 tahun lalu di Deir Yassin, ketika menerangkan apa yang ia lihat dalam satu pernyataannya yang muncul di majalah Palestine Monitor:

Saya melihat mayat anak-anak menyembul dari reruntuhan. Saya melihat tubuh orang-orang berusia 60an dan 70an membusuk di jalanan. Ini baru satu kamp, tempat kecil yang diizinkan untuk dimasuki. Kejahatan bersejarah ini akan tetap menjadi kekejian memalukan terhadap dunia beradab yang tetap diam membisu sewaktu ratusan lelaki, wanita, dan anak-anak tak berdaya dijagal tanpa rasa kasihan oleh tentara terbiadab di dunia.130

Seperti dicatat oleh Abu Muweis, kejadian di Jenin akan menulis lembar memalukan dalam sejarah kemanusiaan. Pemandangan mengerikan yang muncul berikutnya di pers membenarkan hal ini. Misalnya, pemandangan pembantaian pertama dari Jenin digambarkan berikut ini dalam The New York Times:

Pengungsi di kamp mengatakan bahwa banyak warga sipil terbunuh. Dua mayat bisa dilihat di sini sekarang� keduanya terbakar tak dikenali lagi. Salah satunya pria� Sebagian sepatu karet masih ada di kaki kanan. Kaki kiri dan tangannya sudah hangus. Seorang wanita berpakaian hitam meratap di dekat mayat itu, lalat-lalat mengerubungi udara busuk karena aroma kematian yang tak perlu� Mayat lainnya, beberapa pintu jauhnya, terkubur di bawah dinding runtuh. Hanya muka hitam dan tak berwajah yang terlihat. Sepatu karet anak-anak� tergeletak di dekatnya. Di kedua peristiwa ini, tak ada senjata terlihat
Justin Higgler dari surat kabar The Independent mempertanyakan pengabaian dunia atas pembantaian terang-terangan ini dalam artikelnya �The Camp That Became a Slaughterhouse� (Kamp yang Menjadi Rumah Jagal):

Selama sembilan hari, kamp Jenin menjadi rumah jagal. Lima belas ribu orang Palestina tinggal dalam tempat satu kilometer persegi di kamp ini, jalur-jalur dengan ruangan sempit. Ribuan orang sipil yang menderita, wanita dan anak-anak, menggigil ketakutan dalam rumah mereka ketika helikopter Israel menghujankan roket pada mereka dan tank-tank menembakkan rudal ke dalam kamp.

Yang terluka ditinggal mati. Tentara Israel menolak mengizinkan ambulan merawat mereka, yang merupakan kejahatan perang menurut Konvensi Jenewa. Palang Merah mengumumkan bahwa orang-orang mati karena Israel menghambat ambulan� Pihak berwenang Israel mungkin dapat menyembunyikan bukti, namun mereka tak bisa membungkam cerita yang telah dilontarkan oleh orang yang berhasil melarikan diri dari pembunuhan di kamp ini� Munir Washashi kehilangan darah dan meninggal beberapa jam setelah sebuah helikopter berputar di sepanjang dinding rumahnya. Ketika sebuah ambulan mendekatinya, tentara Israel menembakinya. Ibu Munir, Maryam, berlari ke jalan berteriak minta tolong pada puteranya dan ditembak di kepalanya oleh tentara Israel.132

Laporan ini diperoleh sekalipun Israel berupaya menghindari segala komunikasi dengan Jenin. Setelah pengepungan ini terungkap, dunia mendapatkan bukti lebih banyak tentang penjagalan ini. Satu-satunya cara untuk memastikan tidak ada lagi tragedi seperti Jenin di masa mendatang, dan menghentikan air mata dan rasa sakit di kedua belah pihak, adalah menghentikan kekerasan sepenuhnya. Memang, agar ini dimungkinkan, kelompok-kelompok tertentu di Palestina harus menghentikan kegiatan mereka menyerang warga sipil Israel yang tak bersalah. Ini, pada akhirnya, adalah pelanggaran atas etika Islam. Tapi Israel harus melupakan tujuannya menghancurkan orang-orang Palestina dan memenuhi kewajibannya pada PBB.

Terorisme: Ritual Setan


Terorisme: Ritual Setan
Karya : Harun Yahya
Download : Islamic.xtgem.com

[[===—-
Pendahuluan

Sepanjang kehidupannya, setiap orang terlibat dalam peperangan melawan musuh, yang tingkat kekuatan dan pengaruhnya mungkin tidak mampu sepenuhnya mereka pahami. Ciri utama dari musuh ini adalah tidak dapat dilihat (gaib). Dia senantiasa mengajak umat manusia untuk melakukan kejahatan, sedangkan banyak manusia yang telah diperalatnya justru tidak menyadari akan hal itu. Manusia yang selalu berada dalam pertentangan dengan orang lain, yang selalu yakin bahwa kekerasan adalah jawaban, yang “menikmati” dalam melakukan tindakan brutal, pembunuhan, kekacauan dan kekisruhan, pendeknya, manusia yang membahayakan perdamaian dan keamanan dunia, telah mengalami kekalahan atas musuh ini, sadar atau tidak, dan telah jatuh di bawah kendalinya. Musuh yang sangat berbahaya ini adalah setan, yang telah digambarkan kepada kita dari segala segi oleh Allah di dalam Al-Qur`an. Setan adalah kekuatan yang sejak zaman Nabi Adam a.s. telah mengerahkan segala kemampuannya untuk memalingkan manusia dari Allah. Salah satu kesalahan paling umum yang dilakukan manusia adalah ketidakmampuan mereka untuk mengenali setan dengan tepat: makhluk yang menghasut mereka kepada kejahatan dan menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Padahal, setan menghadirkan bahaya yang serius bagi manusia dan merupakan musuh yang nyata bagi manusia. Dalam sebuah ayat, Allah berfirman,

“Sesungguhnya, setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Faathir [35]: 6)

Salah satu jebakan paling berbahaya yang telah dipersiapkan oleh setan untuk manusia adalah pertentangan, teror, dan kekacauan. Seperti yang difirmankan oleh Allah swt. dalam ayat lainnya, “Sesungguhnya, setan itu menyebar (benih) perpecahan di antara mereka.” (al-Israa` [17]: 53) Menghancurkan rasa persahabatan, cinta, kasih sayang, saling memaafkan, kedamaian dan kepercayaan di antara manusia, dan menghasut mereka ke arah kekerasaan, adalah tujuan setan. Akan tetapi, satu hal harus ditekankan di sini. Meskipun kelihatannya setan itu makhluk yang bergerak di segala penjuru, dia sebenarnya tetap berada di bawah kendali Allah dan merupakan hamba-Nya. Dia tahu bahwa Allah telah memberinya tangguh hidup hingga hari kiamat dan bahwa dia harus membayar dosa-dosanya ketika saatnya tiba. Janji-janji yang dibuatnya untuk mendorong manusia menjadi temannya dan rencana jahat yang dijalankannya, semuanya adalah bagian dari tipu dayanya. Allah menggambarkan kenyataan tentang setan ini,

“(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia, ‘Kafirlah kamu,’ maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata, ‘Sesungguhnya, aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.'” (al-Hasyr [59]: 16)

Walau begitu, setan tetap mampu memengaruhi orang-orang tertentu (orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan yang tidak tahu atau takut kepada-Nya sebagaimana seharusnya). Tingkat pengaruh ini tergantung pada keadaan. Setan sering berada di balik peristiwa yang menjerumuskan umat manusia ke dalam petaka dan yang menyebabkan derita atas orang-orang yang tak bersalah. Salah satu sumber malapetaka yang disebabkan oleh setan saat ini, tidak bisa dipungkiri, adalah terorisme.

Hadits Nabi Muhammad saw. juga menyebutkan bahwa pada akhir zaman, kekuatan jahat akan muncul, yang ciri utamanya adalah bahwa kekuatan itu akan mengacaukan perdamaian dan ketertiban di kalangan umat manusia. Meskipun demikian, kebanyakan orang tak begitu menghiraukan kekuatan tersebut, yang dikenal sebagai Dajjal (Antichrist). Hal ini karena sebagian besar manusia hanya sedikit mengetahui masalah ini atau malah tidak pernah mendengar hal tersebut sama sekali. Sekalipun demikian, masalah Dajjal ini justru sangat menonjol dalam hadits-hadits Nabi yang menyebutkan semakin dekatnya hari akhir, yang di dalamnya banyak keterangan-keterangan yang diberikan tentang hal itu. Tujuan buku ini adalah menggambarkan sifat-sifat Dajjal, salah satu antek-antek setan yang utama di muka bumi, seperti yang digambarkan dalam hadits, dan mengajak pembaca untuk lebih mengenal kekuatan setan ini, sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Rasulullah saw. kepada kita.

Berdasarkan hadits, kita mungkin akan menganggap Dajjal sebagai seorang manusia. Akan tetapi, selain seorang manusia, dia juga mungkin berarti sebuah paham yang cenderung kepada kekerasan dan kebiadaban, memiliki sifat-sifat jahat, dan menyebabkan penderitaan pada umat manusia. Bab-bab berikut dalam buku ini akan membahas sudut pandang tersebut dan menampilkan Dajjal sebagai gerakan ideologi sesat yang mempunyai pengaruh besar di dunia. Gerakan tersebut membelenggu seluruh masyarakat di bawah pengaruhnya, memikat pengikutnya meskipun terlihat penuh keganjilan dan kesalahan, dan bahkan memiliki aliran tersendiri di dalamnya.

Persoalan penting lainnya yang akan dibahas dalam buku ini adalah bagaimana gerakan ini menimbulkan ketakutan dan kegelisahan di masyarakat, menyebabkan meningkatnya kekacauan dan kekisruhan, dan menghancurkan kedamaian dan keamanan, untuk memperkuat cengkeramannya atas seluruh dunia. Salah satu cara yang paling banyak digunakan oleh gerakan ini untuk mencapai tujuan-tujuannya adalah tindak kekerasan dan terorisme yang ditujukan kepada mereka yang tak bersalah. Dengan kata lain, terorisme adalah unsur paling utama dari cara-cara Dajjal. Unsur inilah yang digunakan oleh para pengikut tata nilai Dajjal ini, dalam kobaran amarah dan kegilaan, seolah-olah merupakan suatu ibadah suci.

Peperangan, pertentangan, aksi-aksi terorisme yang brutal, pembantaian dan pembunuhan massal yang masih berlangsung di berbagai belahan dunia saat ini, merupakan hasil kerja Dajjal, kekuatan jahat paling utama yang terus memainkan perannya hingga hari akhir. Tujuan utama dari sistem Dajjal tersebut adalah memalingkan manusia dari kepercayaan agama, kesusilaan, keindahan nurani, cinta dan semua nilai kemanusiaan, dan mengubah mereka menjadi makhluk tanpa belas kasih yang angkara murka, yang menemukan kenikmatan dalam kebiadaban dan kekerasan, lalu mengubah seluruh dunia menjadi sebuah medan pertempuran. Akan tetapi, jangan lupa bahwa rencana itu tidak akan berhasil dan sistem Dajjal tersebut pasti akan menemui kehancuran. Seberapa tingginya perselisihan dan kekacauan yang berhasil diciptakannya, sistem ajaran Dajjal pasti–karena sunnatullah–akan menemui kekalahan dan kehancuran. Dengan kehendak Allah, kekalahan itu akan datang melalui perang pemikiran yang dilancarkan oleh orang-orang yang kembali kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan dengan usaha yang keras menebarkan keimanan dan akhlaq yang agung ke seluruh dunia. Itulah janji yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman. Melalui ayat berikut ini, Allah swt. berfirman bahwa pada akhirnya kebenaran akan datang dan segala kebatilan akan berakhir.

“Dan katakanlah, ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sesungguhnya, yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (al-Israa` [17]: 81)

[[===—-
Dajjal

Dajjal adalah sebuah kata Arab yang mempunyai beragam makna, di antaranya “pembohong dan penyamar, seseorang yang berbohong, memenuhi dunia dengan pengikut-pengikutnya, dan menyelubungi kebenaran dengan keingkaran.(1) Dalam banyak hadits Nabi Muhammad saw. yang membahas tentang akhir zaman, kata tersebut berulang-ulang disebutkan sebagai salah satu dari tanda-tanda terpenting hari kiamat. Keadaan dunia saat ini menunjukkan banyak kesamaan dengan zaman yang digambarkan oleh Nabi saw.. Di dalam hadits-hadits tersebut, zaman tersebut datang sebagai zaman ketika fitnah (kekacauan dan kejahatan), kekisruhan, dan kekerasan tersebar jauh dan luas, ketika tidak ada kedamaian di dunia, ketika manusia bertempur dengan kejahatan seperti kelaparan, kemiskinan, dan kekurangan harta, dan ketika penindasan berjaya. (Lebih lanjut, silakan lihat The Signs of The Last Day (Tanda-Tanda Hari Akhir), Harun Yahya, 2001). Dajjal adalah jalan pemikiran yang menyebabkan kekacauan dan ketidakstabilan tersebut, yang mendorong manusia kepada kebejatan akhlaq dan kejahatan, menyesatkan seluruh masyarakat di dalam keingkaran dan kedurhakaan, dan merupakan akar utama dari terorisme dan kekerasan. Dajjal menyebarkan kebejatan akhlaq dengan menampilkan kebaikan sebagai kejahatan dan kejahatan sebagai kabaikan. Salah satu hadits tentang hal ini mengatakan,

“Ketika Dajjal muncul, dia akan membawa api dan air bersamanya. Apa yang dianggap manusia sebagai air yang dingin, sesungguhnya adalah api yang membakar (segala sesuatu). Jadi, barangsiapa di antara kamu menemuinya, dia harus memilih yang tampak olehnya sebagai api, karena sesungguhnya, itu adalah air segar yang dingin.”(2)

Dalam hadits-haditsnya, Nabi Muhammad saw. menyatakan bahwa Dajjal tidak disangsikan lagi akan muncul sebelum hari kiamat. Beliau pun menggambarkan keadaan ketika dia akan muncul. Masa ketika Dajjal muncul adalah masa ketika masyarakat tak mampu hidup menurut akhlaq yang dituntunkan agama, ketika keberadaan Allah swt. diingkari dengan terang-terangan, ketika kebejatan akhlaq, kekacauan, perang dan pertentangan terjadi di mana-mana, dan ketika terorisme, pembunuhan, dan kekerasan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Walaupun sepanjang sejarah telah sering terjadi kekisruhan dan kekacauan, tingkat kekacauan dan keruwetan yang akan diciptakan oleh Dajjal akan terjadi dalam tingkat yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Nabi saw. menekankan kenyataan ini dalam sebuah hadits,

“Tidak akan ada ciptaan (yang menciptakan masalah) melebihi Dajjal, dari penciptaan Adam hingga saat-saat terakhir.” (3)

Darwinisme Merupakan Agama Dajjal

Ciri-ciri yang digambarkan oleh banyak hadits yang membahas tentang Dajjal menjadi semakin jelas jika Dajjal dianggap sebagai sebuah paham (ideologi). Semua gagasan dan sistem pemikiran yang mendorong manusia untuk mengingkari keberadaan Allah, yang memalingkan mereka dari akhlaq agama, dan mendorong terjadinya perselisihan dan kekacauan di antara mereka, sesungguhnya adalah perwujudan Dajjal.

Saat ini, materialisme (paham kebendaan) dan berbagai paham serta gerakan-gerakan yang dilahirkannya, adalah hal-hal utama yang menyebabkan penyimpangan di dunia. Karena itu, semua gerakan semacam ini mendapatkan apa yang mereka katakan sebagai pembenaran ilmiah dari sumber yang sama dan berbagai dasar pemikiran yang sama: Darwinisme. Sejak awal Darwinisme dikemukakan, paham ini telah menjadi azas pembenaran untuk paham-paham dan gerakan-gerakan materialis dan anti-agama, dan bahkan telah disetarakan menjadi setingkat agama oleh para pendukung paham tersebut. Cendekiawan besar Islam Bediuzzaman Said Nursi menekankan bahwa Darwinisme akan menjadi agama Dajjal pada akhir zaman,

“Sebuah aliran tirani yang dilahirkan dari filsafat Naturalis dan Materialis akan berangsur-angsur menjadi kuat dan menyebar pada akhir zaman melalui filsafat Materialis, mencapai suatu tingkat sedemikian hingga mengingkari Allah.” (4)

Seperti yang telah dijelaskan oleh Bediuzzaman dengan kalimat “sebuah aliran tirani yang dilahirkan dari filsafat Naturalis dan Materialis”, Darwinisme adalah suatu ajaran yang berpendapat adanya kekuatan berdiri sendiri di alam, yang menyatakan bahwa kehidupan tidaklah diciptakan, tetapi muncul karena kebetulan, dan mencoba menjauhkan umat manusia dari memercayai Tuhan. Dalam buku Taysirul Wusul ila Jami’ul Usul, yang berisi kumpulan hadits Nabi Muhammad saw. berikut tafsirnya, masalah ini disinggung sebagai berikut.

“Ciri paling jelas dan paling penting dari perselisihan di akhir zaman yang dibangkitkan oleh Dajjal adalah bahwa semuanya dipertentangkan dengan agama. Berbagai pandangan ahli kemanusiaan (humanis) dan nilai-nilai yang muncul pada masa itu akan berusaha menggantikan agama. Agama baru ini menjadikan pengingkaran sebagai dasarnya untuk mengesampingkan segala bentuk kekuasaan Tuhan atas manusia…. Ini merupakan sebuah agama yang anti-agama yang dasar ketuhanannya adalah benda dan manusia.(5)

Pandangan ahli kemanusiaan (humanis) yang disebutkan dalam kutipan di atas, pada saat ini benar-benar telah mengambil alih peran agama. Humanisme modern adalah sebuah agama ateis yang mengingkari keberadaan Tuhan dan menganggap manusia sebagai sesuatu yang suci yang harus dimuliakan. Jika kita mempelajari buku-buku pemikir humanis, jelaslah bahwa pandangan mereka atas dunia didasari sepenuhnya pada teori evolusi (Untuk keterangan lebih rinci, lihat Global Freemasonry, karya Harun Yahya, Istambul, 2002)

Kebetulan belaka adalah titik pusat dalil yang digunakan dalam Darwinisme untuk mempertahankan pendapat bahwa kehidupan muncul dari benda mati dan berkembang melalui perkembangan evolusi. Menurut paham yang menyesatkan ini, semua kehidupan dimulai dari satu sel tunggal yang muncul secara kebetulan, dengan kata lain dari moyang yang sama, kemudian berkembang dari satu jenis ke jenis lainnya dari waktu ke waktu melalui perubahan-perubahan kecil, lagi-lagi karena kebetulan belaka. Teori ini kekurangan dasar ilmiah maupun dasar yang dapat diterima akal dan tidak lain hanyalah khayalan, tapi justru diterima luas pada masa Darwin karena tingkat ilmu pengetahuan dan kondisi sosial yang masih terkebelakang waktu itu. Namun begitu, seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemudian disadari bahwa teori ini sebenarnya hanyalah omong kosong. Walaupun demikian, masih saja ada orang-orang pada saat ini yang tidak mampu meninggalkan teori yang tidak masuk akal ini, seperti yang akan kita lihat nanti.

Sejak awal Darwinisme dikemukakan, paham ini telah menjadi pembenaran teori terpenting untuk paham dan gerakan materialis serta anti-agama dan telah disetarakan tingkatnya hingga mendekati bentuk keimanan oleh para pendukungnya.

Ketika orang-orang yang memercayai takhayul ini ditanya bagaimana kehidupan pertama muncul, mereka menjawab, “Makhluk hidup muncul secara kebetulan.” Padahal, sebenarnya kebetulan adalah kekuatan tanpa kendali, tanpa sebab, dan tanpa tujuan. Justru sebaliknya, Allah menciptakan segalanya sesuai dengan rencana, dengan tata cara yang teratur, cerdas, dan teliti. Jika kita mempelajari sebuah hasil penciptaan, kita akan sadar bahwa hal itu merupakan bagian dari sebuah rancangan dan dibuat menjadi ada oleh Zat yang cerdas dan sadar. Sebenarnya, ini bukanlah kesimpulan yang perlu diambil dengan berpikir panjang. Akan langsung terlihat. Sebagai contoh, jika seseorang memasuki sebuah ruangan, dia akan tahu ketika melihat kursi, meja, jam, dan televisi, bahwa benda-benda tersebut dibuat oleh seseorang dan diletakkan di dalam ruangan itu. Dia juga tahu bahwa seseorang meletakkan semua benda tersebut menurut aturan tertentu. Dia pasti tidak pernah berpikir bahwa meja, kursi, jam, dan televisi tersebut muncul dengan sendirinya, atau telah masuk ke dalam ruangan itu dan meletakkan dirinya dengan usaha sendiri. Jika ada yang memercayai hal seperti itu mungkin terjadi, kewarasannya mungkin harus dipertanyakan.

Begitu pula halnya, seseorang yang memercayai pernyataan tak masuk akal seperti Darwinisme, sebenarnya sedang mengatakan bahwa apel, jeruk, strawbery, anggur, melon, semangka, ceri, prem, persik, aprikot, bungur, bakung, violet, magnolia, kembang kertas, kucing, antelop, harimau, kelinci, tupai, zebra, jerapah, dan seluruh makhluk di dunia, bahkan insinyur, dokter, dosen, peneliti, seniman, dan negarawan, pendeknya segala hal di dunia, muncul atas kemauannya sendiri secara kebetulan. Dengan kata lain, orang seperti itu percaya bahwa segala yang ia lihat adalah karena suatu kebetulan. Ini berarti bahwa “kebetulan” adalah tuhan orang tersebut. Padahal, jika diperiksa lebih teliti, yang dianggapnya tuhan itu adalah sesuatu yang tidak punya dalil sama sekali, sehingga bisa disebut sebagai tuhan khayalan yang paling bodoh. “Tuhan” tersebut bahkan tidak menyadari keberadaannya sendiri, juga apa yang telah diciptakannya.

Dalam sebuah hadits yang membahas Dajjal, Nabi Muhammad saw. bersabda, “Sang Dajjal itu buta.”(6) Cendekiawan Islam menafsirkan hadits tersebut sebagai “mata hati Dajjal itu buta”(7) Penafsiran ini membantu kita memahami lebih baik “kebetulan” yang kita bahas tadi. Dengan cara yang sama, mata hati orang yang mempertuhankan suatu kebetulan juga buta, sebagaimana mata akalnya. Orang seperti itu akan segera menolak ketika dikatakan bahwa “Allah telah menciptakan alam semesta dengan kecerdasan, aturan, dan rancangan yang agung”. Akan tetapi, ketika dikatakan bahwa “segalanya terjadi karena kebetulan”, mereka justru menganggapnya sangat masuk akal. Bukannya percaya pada Pencipta yang cerdas dan sadar, mereka malah lebih memilih pemikiran yang benar-benar tidak masuk akal bahwa suatu kebetulan, tanpa kecerdasan dan kemampuan daya cipta, telah menciptakan segalanya dari ketidakteraturan dan kekacauan. Itulah sebabnya, Darwinisme merupakan agama dan takhayul paling tidak masuk akal dalam sejarah dunia. Kenyataan lain yang mengejutkan adalah banyaknya orang berpendidikan tinggi yang menjadikannya sebagai agama, walaupun telah jelas kepalsuannya. Profesor, politisi, guru, pengacara, dan bahkan dokter membiarkan diri mereka memercayai omong kosong ini. Ini menunjukkan seberapa jauh pemikiran Dajjal merasuki manusia seperti mantra sihir.

Jadi, apakah sebenarnya yang menyebabkan mereka memercayai pernyataan yang begitu tidak masuk akal dan tidak logis, dan bahkan dengan gigih mempertahankannya?

Apa yang sedang kita bicarakan adalah godaan dan hasutan besar-besaran yang ditujukan untuk menyebarkan tata nilai ajaran Dajjal pada akhir zaman. Untuk menyampaikannya setepat mungkin, masyarakat dihujani dengan pengajaran paham Dajjal sepanjang hidup mereka, sehingga seiring berjalannya waktu, mereka menjadi terbiasa menerima agama sesat tersebut. Pengajaran ini, yang telah diajarkan sejak masa kecil, terdiri atas berbagai tahap, di mana dalam setiap tahapnya, penerimanya telah mengambil satu langkah lebih jauh ke arah dunia gelap Dajjal. Cara paling tepat untuk melindungi diri kita dari pengajaran sesat yang bertubi-tubi tersebut adalah dengan hanya mendengarkan suara nurani diri sendiri. Karena, dengan rahmat Allah, nurani kita adalah sebuah penuntun yang memastikan kecenderungan kita ke jalan yang benar. Sebaliknya, Darwinisme, yang telah mengalami kejatuhan menyeluruh secara ilmiah, saat ini hanya dipertahankan dari sudut pandang ideologi saja: tidak masuk akalnya paham ini tidak hanya bisa ditunjukkan dengan bukti ilmiah, tetapi juga dengan mendengar suara nurani diri masing-masing.

Untuk melindungi diri kita dalam menghadapi pengajaran paham bertubi-tubi seperti itu, dan untuk memahami cara kerjanya, kita perlu mempelajari berbagai tahap pengajaran paham tersebut.

Tahap 1: Kita diajari kebohongan bahwa “kehidupan terjadi karena kebetulan”

Seorang anak menerima dan menilai apa yang terjadi di sekelilingnya dengan cara yang berbeda dari orang dewasa. Anak-anak selalu bertanya-tanya dan meminta alasan mengapa berbagai hal bisa terjadi di sekeliling mereka, seperti dari mana mereka berasal, mengapa mereka dapat berbicara, bagaimana benda-benda di alam terwujud, siapa yang menciptakan tumbuhan, bagaimana matahari terbit dan terbenam, bagaimana bulan menggantung di langit, dan banyak lagi pertanyaan semacam itu. Sebenarnya hanya ada satu jawaban yang benar yang dapat diberikan kepada seorang anak untuk semua pertanyaan-pertanyaan ini. Akan tetapi, manusia cenderung memberikan dua jenis jawaban. Pertama, dan yang benar, yaitu bahwa Allahlah yang telah menciptakan segalanya, termasuk dirinya, dan manusia bertanggung jawab kepada-Nya, yang telah menciptakan mereka dari ketiadaan dan memungkinkan mereka tumbuh dewasa, makan, minum, dan bernapas, dan Dialah yang melindungi mereka. Allah menguasai alam semesta di bawah kendali-Nya, Dia Mahaada, dan melihat serta mendengar segalanya.

Akan tetapi, sebagian orang tidak memberikan untuk anak-anak mereka jawaban yang benar atas pertanyaan-pertanyaan tadi. Mereka mungkin berkata bahwa Allah telah menciptakan segalanya, tapi mereka tidak meneruskannya dengan berkata bahwa Dialah Penguasa dan Pengatur segalanya, dan semua terjadi atas kehendak-Nya. Sementara itu, lainnya menyesatkan anak-anak mereka dengan cara yang lebih buruk lagi. Mereka mengemukakan pernyataan yang keliru bahwa alam semesta merupakan hasil dari proses kebetulan belaka. Ini karena mereka juga telah diajarkan oleh orang tua atau guru-guru mereka dengan jawaban seperti itu. Mereka terus-menerus dihadapkan pada pengajaran yang mengingkari keberadaan Allah, di sekolah, surat kabar, dan televisi. Tipu daya ini lama kelamaan menjadi bagian dasar dari pola pikir mereka.

Lebih parah lagi, pengajaran ini telah membentuk bangun pemikiran dalam diri manusia, meski mereka melihat begitu banyaknya keajaiban dalam penciptaan, mereka menjadi terbiasa untuk tidak menghiraukan apa yang mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri dan mengenalinya dengan nurani mereka. Padahal, sesungguhnya semua keadaan itu sendiri merupakan keajaiban lainnya dari penciptaan. Kenyataan bahwa pengingkaran manusia terhadap begitu banyaknya keajaiban yang dengan jelas bisa dilihat dengan mata mereka sendiri, adalah sebuah mukjizat yang telah diungkapkan kepada kita di dalam Al-Qur`an. Dalam ayat berikut, Allah berfirman bagaimana sebagian manusia terus mengingkari semua keajaiban yang telah diperlihatkan kepada mereka,

“Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (al-An’aam [6]: 111)

Jalan pemikiran seperti ini, yang menjadi landasan manusia dalam mendidik anak-anak mereka, memiliki kesesuaian dengan agama Dajjal, karena agama itulah yang mereka imani. Itulah sebabnya, begitu banyak manusia dibesarkan, bahkan dari masa kanak-kanaknya, dalam kepercayaan bahwa segalanya merupakan hasil suatu kebetulan belaka, tanpa pernah merenungkan keberadaan Allah swt. dan keindahan ciptaan-Nya. Beberapa keluarga sama sekali tidak memberikan anak-anak mereka pengetahuan tentang hal ini, sehingga membuat mereka menjadi sangat rentan terhadap pengajaran-pengajaran yang bersifat ateis, yang pasti akan mereka temui di televisi dan film, surat kabar, dan buku-buku.

Tahap 2: Kita diajari dengan kebohongan bahwa hidup merupakan perjuangan dengan landasan kekerasan

Seseorang yang mengira bahwa kehidupan merupakan akibat kebetulan belaka, meskipun ia tidak yakin sepenuhnya pada awalnya, akan memercayai bahwa benda adalah satu-satunya hal yang mutlak keberadaannya. Di sini, dia telah lulus dari tahap pertama ajaran Dajjal. Akibatnya, dalam kebudayaan yang masyarakatnya dibesarkan sebagian besar dengan ajaran seperti itu, pengaruh penting lain yang mengakar dalam pikiran seorang anak adalah bahwa dia “hanya akan bertahan selama dia kuat dan mementingkan diri sendiri”.

Pemikiran seperti itu pada awalnya ditanamkan oleh keluaga, dan kemudian menjadi lebih kuat dan lebih meluas lagi pada saat si anak mulai bersekolah. Pengajaran yang diterima anak dari keluarga dan lingkungannya diperkuat oleh teori-teori yang tidak ilmiah, yang setidaknya digambarkan sebagai hal yang telah diterima secara ilmiah, beserta pernyataan “nenek moyang manusia adalah binatang, sehingga cara hidup antarbinatang juga berlaku pada manusia”. Dengan cara ini, anak-anak mulai belajar bahwa ada suatu pertentangan berkelanjutan antarpribadi-pribadi dan di dalam masyarakat, di mana si lemah akan tersingkir, dan perlunya suatu sikap agar bisa selamat dan bertahan. Menurut pendapat ini, pelajaran paling penting dan tidak boleh dilupakan adalah bahwa kekuatan, kekerasan, dan tipu daya bisa digunakan, jika diperlukan, supaya bisa selamat dan bertahan.

Pengajaran tersebut tidak terbatas pada sistem pendidikan. Anak terus menerima pengajaran Darwinisme sosial secara intensif dalam lirik lagu yang mereka dengar, film yang mereka lihat, dalam iklan, video, dan bahkan permainan di komputer yang mereka mainkan. Pendeknya, di segala segi kehidupannya. Sebagai akibat dari pengajaran bertubi-tubi ini, anak mulai membangun hubungannya dengan orang lain atas dasar kebendaan. Ini, pada gilirannya, berarti bahwa kelaliman, egoisme, kepentingan diri, dan ketidakjujuran menguasai setiap saat dalam kehidupannya. Akibat yang tidak terhindarkan dari cara pikir ini adalah, dia terdorong jauh dari nilai akhlaq yang benar menuju sebuah dunia kegelapan.

Sebaliknya, akhlaq Al-Qur`an menawarkan sebuah kehidupan yang sangat berbeda dari contoh tersebut. Dalam Al-Qur`an, manusia dianjurkan kepada kedamaian dan keamanan. Masyarakat tempat akhlaq Al-Qur`an berlaku ditandai oleh cinta, belas kasih, tenggang rasa, kejujuran, pengorbanan diri, dan kemanusiaan. Akhlaq yang tepat yang Allah perintahkan kepada manusia untuk dipatuhi, difirmankan sebagai berikut.

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya, kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya, kami takut akan azab suatu hari yang (di hari itu orang-orang bermuka) masam, penuh kesulitan (yang datang) dari Tuhan kami. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.” (al-Insaan [76]: 8-11)

Tahap 3: Kita diajarkan bahwa kita tidak bertanggung jawab kepada orang lain

Seorang anak yang mendapatkan jawaban materialis dan Darwinis untuk tiap pertanyaannya, tak pelak lagi akhirnya akan setuju terhadap pandangan tersebut. Meskipun dia masih tidak mampu menerangkannya secara terbuka, dia akan mulai menganggap dirinya dan orang di sekitarnya hanyalah sejenis binatang yang telah menjalani tingkat evolusi tinggi.

Akan tetapi, masih ada lagi tahap yang tersisa dari pendidikannya, yaitu pengajaran kepalsuan bahwa dia tidak bertanggung jawab kepada siapa pun kecuali dirinya sendiri. Menurut anggapan ini, jika materi selalu ada dan akan tetap ada, jika seluruh kehidupan merupakan hasil dari suatu kebetulan belaka, dan lebih jauh lagi, jika kematian adalah ketiadaan abadi, satu-satunya yang memeiliki arti adalah keuntungan kebendaan. Dalam dunia yang hanya dibangun atas dasar kebendaan, nilai rohani tidak mendapat tempat. Akibatnya, satu-satunya yang ingin dipikirkan manusia hanyalah memuaskan hasrat dan nafsunya, dengan cara apa pun yang diperlukan. Menurut ayat berikut dalam Al-Qur`an, “Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan dengan main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan kembali kepada Kami?” (al-Mu`minuun [23]: 115) Allah dengan jelas mengungkap pandangan hidup yang menyimpang dari orang-orang ingkar ini.

Orang yang benar-benar percaya bahwa mereka dapat menjalani kehidupan dengan kebebasan mutlak dan bahwa pada akhirnya mereka akan musnah selamanya, sebenarnya tengah melakukan kesalahan besar. Kita bertanggung jawab terhadap Penguasa kita, Yang menciptakan kita dari ketiadaan. Dialah Allah yang menciptakan manusia sesuai dengan takdirnya masing-masing, Yang mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan seseorang, Tuhan Yang akan memanggilnya, setelah kematiannya, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di masa lalu, dan memberi pahala atau menghukum manusia sesuai perbuatannya. Tidak seperti binatang, Allah telah menciptakan manusia dengan jiwa, pikiran, kehendak, dan nurani. Dengan kata lain, meskipun seseorang menghadapi suatu godaan di suatu ketika, dia telah diciptakan dengan segala hal yang diperlukan untuk mencegahnya melakukan kejahatan.

Seseorang yang tidak menyadari atau tidak peduli terhadap kebenaran ini, jelas akan membahayakan masyarakat tempat dia berada. Misalnya, seseorang yang marah karena sesuatu hal yang telah terjadi, bisa saja bertingkah dengan zalim dan menyakiti orang yang membuatnya marah itu tanpa pikir panjang. Tidak peduli apakah orang itu tidak mampu membela dirinya. Yang terpenting adalah melampiaskan amarahnya. Sebaliknya, seseorang yang mengetahui bahwa ia memiliki jiwa yang dianugerahkan padanya oleh Allah, yang menggunakan akal dan nuraninya, ia akan mampu mengendalikan kemarahannya. Dia akan selalu bisa mengendalikan dirinya dan hati-hati. Orang seperti itu tidak akan berani berbuat hal sekecil apa pun yang dapat mengundang hukuman Allah. Jika ia berbuat dosa, ia memohon ampunan dan memperbaikinya.

Beginilah cara Allah mengingatkan manusia yang mengira mereka bebas dari peringatan bahwa mereka telah diciptakan dan akan dibangkitkan lagi setelah kematiannya,

“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang: laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (al-Qiyaamah [75]: 36-40)

Ayat lainnya menyatakan bahwa manusia telah diilhamkan untuk melakukan kejahatan dan kesalahan, maupun untuk menjaga dirinya dari segala kecenderungan kepada kejahatan (asy-Syams [91]: 7-10). Dengan demikian, penyebab utama dari kemerosotan akhlaq manusia dan kejahatan yang mereka lakukan adalah karena mereka tidak beriman kepada Allah, tidak berpikir bahwa mereka akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka kepada-Nya, sehingga tidak merasa takut kepada-Nya. Padahal, sesungguhnya ada tujuan di balik penciptaan tersebut. Dalam sebuah ayat, hal ini diungkapkan sebagai tanggung jawab untuk menyembah Allah, “Dan Aku tidak menciptakan… manusia kecuali untuk menyembah-Ku.” (adz-Dzaariyaat [51]: 56) Manusia diuji dalam kehidupan ini. Jika mereka gagal memenuhi tanggung jawabnya, mereka nanti harus mempertanggungjawabkan hal tersebut. Beberapa di antara tanggung jawab ini disebutkan dalam ayat,

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah [98]: 5)

Agama yang benar adalah agama Allah, namun karena dirasuki oleh ajaran lain yang diterima oleh manusia, banyak manusia yang telah berpaling darinya. Seseorang yang telah menjalani tahap demi tahap pendidikan Darwinis Sosial, ia hanya dihadapkan pada pilihan yang amat sedikit. Pandangannya tentang kehidupan dan kemanusiaan telah terbentuk dalam pola ajaran materialis Darwinis. Akibatnya, dia hanya akan berjuang untuk dirinya dan kepentingannya sendiri, akan terbiasa melihat kekerasan, penindasan, dan tipu daya sebagai satu-satunya cara untuk mencapainya, dan terhempas dari satu dosa ke dosa lainnya, tersesat dalam mimpi buruk ateisme. Parahnya lagi, tidak akan ada yang mencegahnya dari melakukan hal tersebut. Jumlah orang yang selalu “mencari masalah”, bertingkah membabi buta terhadap orang-orang yang tak berdaya, menindas yang lemah dan menginjak-injak hak-hak mereka, menikmati kekerasan, menganggap penderitaan orang lain sebagai cara untuk kebahagiaan dirinya, pendeknya, telah kehilangan sentuhan lembutnya perasaan manusia, semakin meningkat dari hari ke hari.

Penyebab terpenting dari semua ini adalah karena “kebenaran” mengerikan yang diajarkan oleh agama Dajjal ditampilkan seolah-olah itulah sesungguhnya kenyataan hidup.

Aliran-Aliran dalam Agama Dajjal

Telah terungkap dalam hadits bagaimana Dajjal akan menebar perselisihan ke seluruh dunia. Salah satu tandanya adalah bagaimana manusia dari semua agama, bangsa, dan kepercayaan tunduk pada sistem ini. Karena perselisihan tersebut akan sangat besar dan tersebar luas, banyak orang, sadar atau tidak, akan jatuh ke dalam perangkap tersebut, dengan melakukan gaya hidup yang dianjurkan oleh Dajjal. Dangan kata lain, tak peduli apa pun pandangan hidup mereka, semua orang yang melakukan dan menyukai kekacauan, yang melakukan dan membela penggunaan kekerasan, atau menjalankan tindakan yang membahayakan perdamaian, sesungguhnya merupakan pengikut agama Dajjal.

Agama tersebut dapat dibagi lagi ke dalam beberapa “aliran”. Jika kita meninjau abad yang baru saja kita lalui, kita bisa menyaksikan kerusakan parah akibat dua paham yang muncul dari Darwinisme: komunisme dan fasisme.

Kedua paham ini dapat dianggap sebagai dua aliran utama dari agama Dajjal. Para pendiri dan pemimpin kedua paham ini sama-sama merupakan pengikut setia Darwinisme, yang terletak pada akar filsafat Dajjal, dan kedua gerakan ini sangat dipengaruhi oleh Darwinisme. Kedua aliran ini telah membawa malapetaka tak terperikan pada dunia, mengubah dunia menjadi ajang besar peperangan. Ketika kita meneliti kedua paham ini lebih dekat, sebuah temuan menarik mulai muncul. Tak peduli meski keduanya tampak sangat berseberangan, keduanya sebenarnya mempunyai lebih banyak kesamaan dibanding perbedaan yang tampak, dan menjadi sangat jelas bagaimana keduanya terilhami oleh sumber yang sama: Darwinisme (Lebih lanjut, silakan lihat The Disaster Darwinism Brought to Humanity, Harun Yahya, 2000). Pemikiran utama Darwinisme, akar dari kemiripan tersebut, adalah sebagai berikut.

Darwinisme

-Titik tolak Darwinisme adalah pengingkaran menyeluruh terhadap Sang Pencipta. Tujuan utamanya adalah pembentukan masyarakat yang benar-benar terlepas dari agama. Akibatnya, Darwinisme telah menjadi agama yang bertuhankan kesempatan dan kebetulan.

-Darwinisme berpandangan bahwa ada “perjuangan untuk bertahan hidup” di alam ini, sehingga kekejaman pun berlaku. Menurut pernyataan ini, perjuangan tanpa kenal kasihan yang terjadi di antara makhluk hidup lainnya juga berlaku pada manusia. Dalam lingkungan tempat seseorang melihat orang lainnya sebagai musuhnya, perasaan yang paling sering muncul adalah kemarahan, keserakahan, dan kebencian.

-Tidak ada ruang untuk tenggang rasa, belas kasih, atau musyawarah dalam perjuangan untuk bertahan hidup. Jika hanya yang terkuat yang mampu bertahan, maka tenggang rasa, belas kasih, dan musyawarah merupakan pilihan terakhir yang diandalkan oleh manusia.

-Pada dasarnya, Darwinisme adalah sebuah tipu daya besar. Semua pernyataannya telah disangkal oleh ilmu pengetahuan modern.

Komunisme

-Komunisme menggambarkan agama sebagai candu bagi masyarakat. Perjuangan awalnya di semua masyarakat tempat paham ini diterima adalah menentang semua kepercayaan agama.

-Seperti yang dinyatakan Lenin, dengan kata-kata “perkembangan adalah ‘perjuangan’ antara dua pihak yang bertentangan”,(8) komunisme menyatakan bahwa kemajuan hanya bisa terjadi dengan cara pertentangan. Diyakini di sini bahwa tidak mengkin ada kemajuan dan perkembangan tanpa pertumpahan darah.

-Pemberontakan bersenjata dan revolusi merupakan unsur penting dari komunisme. Pada akar dari semuanya itu terletak amarah yang dirasakan terhadap kelompok masyarakat lainnya dan hasrat tanpa ampun untuk membalas dendam.

Dajjal

Dajjal adalah sebuah kata Arab yang mempunyai beragam makna, di antaranya “pembohong dan penyamar, seseorang yang berbohong, memenuhi dunia dengan pengikut-pengikutnya, dan menyelubungi kebenaran dengan keingkaran.(1) Dalam banyak hadits Nabi Muhammad saw. yang membahas tentang akhir zaman, kata tersebut berulang-ulang disebutkan sebagai salah satu dari tanda-tanda terpenting hari kiamat. Keadaan dunia saat ini menunjukkan banyak kesamaan dengan zaman yang digambarkan oleh Nabi saw.. Di dalam hadits-hadits tersebut, zaman tersebut datang sebagai zaman ketika fitnah (kekacauan dan kejahatan), kekisruhan, dan kekerasan tersebar jauh dan luas, ketika tidak ada kedamaian di dunia, ketika manusia bertempur dengan kejahatan seperti kelaparan, kemiskinan, dan kekurangan harta, dan ketika penindasan berjaya. (Lebih lanjut, silakan lihat The Signs of The Last Day (Tanda-Tanda Hari Akhir), Harun Yahya, 2001). Dajjal adalah jalan pemikiran yang menyebabkan kekacauan dan ketidakstabilan tersebut, yang mendorong manusia kepada kebejatan akhlaq dan kejahatan, menyesatkan seluruh masyarakat di dalam keingkaran dan kedurhakaan, dan merupakan akar utama dari terorisme dan kekerasan. Dajjal menyebarkan kebejatan akhlaq dengan menampilkan kebaikan sebagai kejahatan dan kejahatan sebagai kabaikan. Salah satu hadits tentang hal ini mengatakan,

“Ketika Dajjal muncul, dia akan membawa api dan air bersamanya. Apa yang dianggap manusia sebagai air yang dingin, sesungguhnya adalah api yang membakar (segala sesuatu). Jadi, barangsiapa di antara kamu menemuinya, dia harus memilih yang tampak olehnya sebagai api, karena sesungguhnya, itu adalah air segar yang dingin.”(2)

Dalam hadits-haditsnya, Nabi Muhammad saw. menyatakan bahwa Dajjal tidak disangsikan lagi akan muncul sebelum hari kiamat. Beliau pun menggambarkan keadaan ketika dia akan muncul. Masa ketika Dajjal muncul adalah masa ketika masyarakat tak mampu hidup menurut akhlaq yang dituntunkan agama, ketika keberadaan Allah swt. diingkari dengan terang-terangan, ketika kebejatan akhlaq, kekacauan, perang dan pertentangan terjadi di mana-mana, dan ketika terorisme, pembunuhan, dan kekerasan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Walaupun sepanjang sejarah telah sering terjadi kekisruhan dan kekacauan, tingkat kekacauan dan keruwetan yang akan diciptakan oleh Dajjal akan terjadi dalam tingkat yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Nabi saw. menekankan kenyataan ini dalam sebuah hadits,

“Tidak akan ada ciptaan (yang menciptakan masalah) melebihi Dajjal, dari penciptaan Adam hingga saat-saat terakhir.” (3)

Darwinisme Merupakan Agama Dajjal

Ciri-ciri yang digambarkan oleh banyak hadits yang membahas tentang Dajjal menjadi semakin jelas jika Dajjal dianggap sebagai sebuah paham (ideologi). Semua gagasan dan sistem pemikiran yang mendorong manusia untuk mengingkari keberadaan Allah, yang memalingkan mereka dari akhlaq agama, dan mendorong terjadinya perselisihan dan kekacauan di antara mereka, sesungguhnya adalah perwujudan Dajjal.

Saat ini, materialisme (paham kebendaan) dan berbagai paham serta gerakan-gerakan yang dilahirkannya, adalah hal-hal utama yang menyebabkan penyimpangan di dunia. Karena itu, semua gerakan semacam ini mendapatkan apa yang mereka katakan sebagai pembenaran ilmiah dari sumber yang sama dan berbagai dasar pemikiran yang sama: Darwinisme. Sejak awal Darwinisme dikemukakan, paham ini telah menjadi azas pembenaran untuk paham-paham dan gerakan-gerakan materialis dan anti-agama, dan bahkan telah disetarakan menjadi setingkat agama oleh para pendukung paham tersebut. Cendekiawan besar Islam Bediuzzaman Said Nursi menekankan bahwa Darwinisme akan menjadi agama Dajjal pada akhir zaman,

Teori evolusi menyatakan bahwa kehidupan merupakan hasil dari kebetulan belaka, dan muncul dari benda mati, karena sebab-sebab alamiah pada awal terjadinya dunia, seperti yang digambarkan dalam ilustrasi di sebelah, dan hal itu–lagi-lagi karena kebetulan–berkembang menjadi makhluk hidup sempurna yang kita lihat di sekeliling kita saat ini. Pemikiran ini benar-benar tidak masuk akal untuk diterima manusia yang memiliki pikiran.
“Sebuah aliran tirani yang dilahirkan dari filsafat Naturalis dan Materialis akan berangsur-angsur menjadi kuat dan menyebar pada akhir zaman melalui filsafat Materialis, mencapai suatu tingkat sedemikian hingga mengingkari Allah.” (4)

Seperti yang telah dijelaskan oleh Bediuzzaman dengan kalimat “sebuah aliran tirani yang dilahirkan dari filsafat Naturalis dan Materialis”, Darwinisme adalah suatu ajaran yang berpendapat adanya kekuatan berdiri sendiri di alam, yang menyatakan bahwa kehidupan tidaklah diciptakan, tetapi muncul karena kebetulan, dan mencoba menjauhkan umat manusia dari memercayai Tuhan. Dalam buku Taysirul Wusul ila Jami’ul Usul, yang berisi kumpulan hadits Nabi Muhammad saw. berikut tafsirnya, masalah ini disinggung sebagai berikut.

“Ciri paling jelas dan paling penting dari perselisihan di akhir zaman yang dibangkitkan oleh Dajjal adalah bahwa semuanya dipertentangkan dengan agama. Berbagai pandangan ahli kemanusiaan (humanis) dan nilai-nilai yang muncul pada masa itu akan berusaha menggantikan agama. Agama baru ini menjadikan pengingkaran sebagai dasarnya untuk mengesampingkan segala bentuk kekuasaan Tuhan atas manusia…. Ini merupakan sebuah agama yang anti-agama yang dasar ketuhanannya adalah benda dan manusia.(5)

Pandangan ahli kemanusiaan (humanis) yang disebutkan dalam kutipan di atas, pada saat ini benar-benar telah mengambil alih peran agama. Humanisme modern adalah sebuah agama ateis yang mengingkari keberadaan Tuhan dan menganggap manusia sebagai sesuatu yang suci yang harus dimuliakan. Jika kita mempelajari buku-buku pemikir humanis, jelaslah bahwa pandangan mereka atas dunia didasari sepenuhnya pada teori evolusi (Untuk keterangan lebih rinci, lihat Global Freemasonry, karya Harun Yahya, Istambul, 2002)

Kebetulan belaka adalah titik pusat dalil yang digunakan dalam Darwinisme untuk mempertahankan pendapat bahwa kehidupan muncul dari benda mati dan berkembang melalui perkembangan evolusi. Menurut paham yang menyesatkan ini, semua kehidupan dimulai dari satu sel tunggal yang muncul secara kebetulan, dengan kata lain dari moyang yang sama, kemudian berkembang dari satu jenis ke jenis lainnya dari waktu ke waktu melalui perubahan-perubahan kecil, lagi-lagi karena kebetulan belaka. Teori ini kekurangan dasar ilmiah maupun dasar yang dapat diterima akal dan tidak lain hanyalah khayalan, tapi justru diterima luas pada masa Darwin karena tingkat ilmu pengetahuan dan kondisi sosial yang masih terkebelakang waktu itu. Namun begitu, seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemudian disadari bahwa teori ini sebenarnya hanyalah omong kosong. Walaupun demikian, masih saja ada orang-orang pada saat ini yang tidak mampu meninggalkan teori yang tidak masuk akal ini, seperti yang akan kita lihat nanti.

Sejak awal Darwinisme dikemukakan, paham ini telah menjadi pembenaran teori terpenting untuk paham dan gerakan materialis serta anti-agama dan telah disetarakan tingkatnya hingga mendekati bentuk keimanan oleh para pendukungnya.

Ketika orang-orang yang memercayai takhayul ini ditanya bagaimana kehidupan pertama muncul, mereka menjawab, “Makhluk hidup muncul secara kebetulan.” Padahal, sebenarnya kebetulan adalah kekuatan tanpa kendali, tanpa sebab, dan tanpa tujuan. Justru sebaliknya, Allah menciptakan segalanya sesuai dengan rencana, dengan tata cara yang teratur, cerdas, dan teliti. Jika kita mempelajari sebuah hasil penciptaan, kita akan sadar bahwa hal itu merupakan bagian dari sebuah rancangan dan dibuat menjadi ada oleh Zat yang cerdas dan sadar. Sebenarnya, ini bukanlah kesimpulan yang perlu diambil dengan berpikir panjang. Akan langsung terlihat. Sebagai contoh, jika seseorang memasuki sebuah ruangan, dia akan tahu ketika melihat kursi, meja, jam, dan televisi, bahwa benda-benda tersebut dibuat oleh seseorang dan diletakkan di dalam ruangan itu. Dia juga tahu bahwa seseorang meletakkan semua benda tersebut menurut aturan tertentu. Dia pasti tidak pernah berpikir bahwa meja, kursi, jam, dan televisi tersebut muncul dengan sendirinya, atau telah masuk ke dalam ruangan itu dan meletakkan dirinya dengan usaha sendiri. Jika ada yang memercayai hal seperti itu mungkin terjadi, kewarasannya mungkin harus dipertanyakan.

Begitu pula halnya, seseorang yang memercayai pernyataan tak masuk akal seperti Darwinisme, sebenarnya sedang mengatakan bahwa apel, jeruk, strawbery, anggur, melon, semangka, ceri, prem, persik, aprikot, bungur, bakung, violet, magnolia, kembang kertas, kucing, antelop, harimau, kelinci, tupai, zebra, jerapah, dan seluruh makhluk di dunia, bahkan insinyur, dokter, dosen, peneliti, seniman, dan negarawan, pendeknya segala hal di dunia, muncul atas kemauannya sendiri secara kebetulan. Dengan kata lain, orang seperti itu percaya bahwa segala yang ia lihat adalah karena suatu kebetulan. Ini berarti bahwa “kebetulan” adalah tuhan orang tersebut. Padahal, jika diperiksa lebih teliti, yang dianggapnya tuhan itu adalah sesuatu yang tidak punya dalil sama sekali, sehingga bisa disebut sebagai tuhan khayalan yang paling bodoh. “Tuhan” tersebut bahkan tidak menyadari keberadaannya sendiri, juga apa yang telah diciptakannya.

Dalam sebuah hadits yang membahas Dajjal, Nabi Muhammad saw. bersabda, “Sang Dajjal itu buta.”(6) Cendekiawan Islam menafsirkan hadits tersebut sebagai “mata hati Dajjal itu buta”(7) Penafsiran ini membantu kita memahami lebih baik “kebetulan” yang kita bahas tadi. Dengan cara yang sama, mata hati orang yang mempertuhankan suatu kebetulan juga buta, sebagaimana mata akalnya. Orang seperti itu akan segera menolak ketika dikatakan bahwa “Allah telah menciptakan alam semesta dengan kecerdasan, aturan, dan rancangan yang agung”. Akan tetapi, ketika dikatakan bahwa “segalanya terjadi karena kebetulan”, mereka justru menganggapnya sangat masuk akal. Bukannya percaya pada Pencipta yang cerdas dan sadar, mereka malah lebih memilih pemikiran yang benar-benar tidak masuk akal bahwa suatu kebetulan, tanpa kecerdasan dan kemampuan daya cipta, telah menciptakan segalanya dari ketidakteraturan dan kekacauan. Itulah sebabnya, Darwinisme merupakan agama dan takhayul paling tidak masuk akal dalam sejarah dunia. Kenyataan lain yang mengejutkan adalah banyaknya orang berpendidikan tinggi yang menjadikannya sebagai agama, walaupun telah jelas kepalsuannya. Profesor, politisi, guru, pengacara, dan bahkan dokter membiarkan diri mereka memercayai omong kosong ini. Ini menunjukkan seberapa jauh pemikiran Dajjal merasuki manusia seperti mantra sihir.

Jadi, apakah sebenarnya yang menyebabkan mereka memercayai pernyataan yang begitu tidak masuk akal dan tidak logis, dan bahkan dengan gigih mempertahankannya?

Apa yang sedang kita bicarakan adalah godaan dan hasutan besar-besaran yang ditujukan untuk menyebarkan tata nilai ajaran Dajjal pada akhir zaman. Untuk menyampaikannya setepat mungkin, masyarakat dihujani dengan pengajaran paham Dajjal sepanjang hidup mereka, sehingga seiring berjalannya waktu, mereka menjadi terbiasa menerima agama sesat tersebut. Pengajaran ini, yang telah diajarkan sejak masa kecil, terdiri atas berbagai tahap, di mana dalam setiap tahapnya, penerimanya telah mengambil satu langkah lebih jauh ke arah dunia gelap Dajjal. Cara paling tepat untuk melindungi diri kita dari pengajaran sesat yang bertubi-tubi tersebut adalah dengan hanya mendengarkan suara nurani diri sendiri. Karena, dengan rahmat Allah, nurani kita adalah sebuah penuntun yang memastikan kecenderungan kita ke jalan yang benar. Sebaliknya, Darwinisme, yang telah mengalami kejatuhan menyeluruh secara ilmiah, saat ini hanya dipertahankan dari sudut pandang ideologi saja: tidak masuk akalnya paham ini tidak hanya bisa ditunjukkan dengan bukti ilmiah, tetapi juga dengan mendengar suara nurani diri masing-masing.

Untuk melindungi diri kita dalam menghadapi pengajaran paham bertubi-tubi seperti itu, dan untuk memahami cara kerjanya, kita perlu mempelajari berbagai tahap pengajaran paham tersebut.

Tahap 1: Kita diajari kebohongan bahwa “kehidupan terjadi karena kebetulan”

Seorang anak menerima dan menilai apa yang terjadi di sekelilingnya dengan cara yang berbeda dari orang dewasa. Anak-anak selalu bertanya-tanya dan meminta alasan mengapa berbagai hal bisa terjadi di sekeliling mereka, seperti dari mana mereka berasal, mengapa mereka dapat berbicara, bagaimana benda-benda di alam terwujud, siapa yang menciptakan tumbuhan, bagaimana matahari terbit dan terbenam, bagaimana bulan menggantung di langit, dan banyak lagi pertanyaan semacam itu. Sebenarnya hanya ada satu jawaban yang benar yang dapat diberikan kepada seorang anak untuk semua pertanyaan-pertanyaan ini. Akan tetapi, manusia cenderung memberikan dua jenis jawaban. Pertama, dan yang benar, yaitu bahwa Allahlah yang telah menciptakan segalanya, termasuk dirinya, dan manusia bertanggung jawab kepada-Nya, yang telah menciptakan mereka dari ketiadaan dan memungkinkan mereka tumbuh dewasa, makan, minum, dan bernapas, dan Dialah yang melindungi mereka. Allah menguasai alam semesta di bawah kendali-Nya, Dia Mahaada, dan melihat serta mendengar segalanya.

Akan tetapi, sebagian orang tidak memberikan untuk anak-anak mereka jawaban yang benar atas pertanyaan-pertanyaan tadi. Mereka mungkin berkata bahwa Allah telah menciptakan segalanya, tapi mereka tidak meneruskannya dengan berkata bahwa Dialah Penguasa dan Pengatur segalanya, dan semua terjadi atas kehendak-Nya. Sementara itu, lainnya menyesatkan anak-anak mereka dengan cara yang lebih buruk lagi. Mereka mengemukakan pernyataan yang keliru bahwa alam semesta merupakan hasil dari proses kebetulan belaka. Ini karena mereka juga telah diajarkan oleh orang tua atau guru-guru mereka dengan jawaban seperti itu. Mereka terus-menerus dihadapkan pada pengajaran yang mengingkari keberadaan Allah, di sekolah, surat kabar, dan televisi. Tipu daya ini lama kelamaan menjadi bagian dasar dari pola pikir mereka.

Lebih parah lagi, pengajaran ini telah membentuk bangun pemikiran dalam diri manusia, meski mereka melihat begitu banyaknya keajaiban dalam penciptaan, mereka menjadi terbiasa untuk tidak menghiraukan apa yang mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri dan mengenalinya dengan nurani mereka. Padahal, sesungguhnya semua keadaan itu sendiri merupakan keajaiban lainnya dari penciptaan. Kenyataan bahwa pengingkaran manusia terhadap begitu banyaknya keajaiban yang dengan jelas bisa dilihat dengan mata mereka sendiri, adalah sebuah mukjizat yang telah diungkapkan kepada kita di dalam Al-Qur`an. Dalam ayat berikut, Allah berfirman bagaimana sebagian manusia terus mengingkari semua keajaiban yang telah diperlihatkan kepada mereka,

“Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (al-An’aam [6]: 111)

Jalan pemikiran seperti ini, yang menjadi landasan manusia dalam mendidik anak-anak mereka, memiliki kesesuaian dengan agama Dajjal, karena agama itulah yang mereka imani. Itulah sebabnya, begitu banyak manusia dibesarkan, bahkan dari masa kanak-kanaknya, dalam kepercayaan bahwa segalanya merupakan hasil suatu kebetulan belaka, tanpa pernah merenungkan keberadaan Allah swt. dan keindahan ciptaan-Nya. Beberapa keluarga sama sekali tidak memberikan anak-anak mereka pengetahuan tentang hal ini, sehingga membuat mereka menjadi sangat rentan terhadap pengajaran-pengajaran yang bersifat ateis, yang pasti akan mereka temui di televisi dan film, surat kabar, dan buku-buku.

Tahap 2: Kita diajari dengan kebohongan bahwa hidup merupakan perjuangan dengan landasan kekerasan

Seseorang yang mengira bahwa kehidupan merupakan akibat kebetulan belaka, meskipun ia tidak yakin sepenuhnya pada awalnya, akan memercayai bahwa benda adalah satu-satunya hal yang mutlak keberadaannya. Di sini, dia telah lulus dari tahap pertama ajaran Dajjal. Akibatnya, dalam kebudayaan yang masyarakatnya dibesarkan sebagian besar dengan ajaran seperti itu, pengaruh penting lain yang mengakar dalam pikiran seorang anak adalah bahwa dia “hanya akan bertahan selama dia kuat dan mementingkan diri sendiri”.

Pemikiran seperti itu pada awalnya ditanamkan oleh keluaga, dan kemudian menjadi lebih kuat dan lebih meluas lagi pada saat si anak mulai bersekolah. Pengajaran yang diterima anak dari keluarga dan lingkungannya diperkuat oleh teori-teori yang tidak ilmiah, yang setidaknya digambarkan sebagai hal yang telah diterima secara ilmiah, beserta pernyataan “nenek moyang manusia adalah binatang, sehingga cara hidup antarbinatang juga berlaku pada manusia”. Dengan cara ini, anak-anak mulai belajar bahwa ada suatu pertentangan berkelanjutan antarpribadi-pribadi dan di dalam masyarakat, di mana si lemah akan tersingkir, dan perlunya suatu sikap agar bisa selamat dan bertahan. Menurut pendapat ini, pelajaran paling penting dan tidak boleh dilupakan adalah bahwa kekuatan, kekerasan, dan tipu daya bisa digunakan, jika diperlukan, supaya bisa selamat dan bertahan.

Pengajaran tersebut tidak terbatas pada sistem pendidikan. Anak terus menerima pengajaran Darwinisme sosial secara intensif dalam lirik lagu yang mereka dengar, film yang mereka lihat, dalam iklan, video, dan bahkan permainan di komputer yang mereka mainkan. Pendeknya, di segala segi kehidupannya. Sebagai akibat dari pengajaran bertubi-tubi ini, anak mulai membangun hubungannya dengan orang lain atas dasar kebendaan. Ini, pada gilirannya, berarti bahwa kelaliman, egoisme, kepentingan diri, dan ketidakjujuran menguasai setiap saat dalam kehidupannya. Akibat yang tidak terhindarkan dari cara pikir ini adalah, dia terdorong jauh dari nilai akhlaq yang benar menuju sebuah dunia kegelapan.

Sebaliknya, akhlaq Al-Qur`an menawarkan sebuah kehidupan yang sangat berbeda dari contoh tersebut. Dalam Al-Qur`an, manusia dianjurkan kepada kedamaian dan keamanan. Masyarakat tempat akhlaq Al-Qur`an berlaku ditandai oleh cinta, belas kasih, tenggang rasa, kejujuran, pengorbanan diri, dan kemanusiaan. Akhlaq yang tepat yang Allah perintahkan kepada manusia untuk dipatuhi, difirmankan sebagai berikut.

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya, kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya, kami takut akan azab suatu hari yang (di hari itu orang-orang bermuka) masam, penuh kesulitan (yang datang) dari Tuhan kami. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.” (al-Insaan [76]: 8-11)

Tahap 3: Kita diajarkan bahwa kita tidak bertanggung jawab kepada orang lain

Seorang anak yang mendapatkan jawaban materialis dan Darwinis untuk tiap pertanyaannya, tak pelak lagi akhirnya akan setuju terhadap pandangan tersebut. Meskipun dia masih tidak mampu menerangkannya secara terbuka, dia akan mulai menganggap dirinya dan orang di sekitarnya hanyalah sejenis binatang yang telah menjalani tingkat evolusi tinggi.

Orang yang sudah dirasuki oleh pendidikan Darwinis-materialis mengira bahwa mengejar harta benda/materi adalah hal terpenting di dunia. Karena itu, mereka mengira bahwa mereka tidak bertanggung jawab kepada siapa pun dan tidak akan pernah mempetanggungjawabkan tindakan mereka. Mereka menganggap kebejatan moral dan memperturutkan nafsu sendiri sebagai sesuatu yang dibenarkan.
Akan tetapi, masih ada lagi tahap yang tersisa dari pendidikannya, yaitu pengajaran kepalsuan bahwa dia tidak bertanggung jawab kepada siapa pun kecuali dirinya sendiri. Menurut anggapan ini, jika materi selalu ada dan akan tetap ada, jika seluruh kehidupan merupakan hasil dari suatu kebetulan belaka, dan lebih jauh lagi, jika kematian adalah ketiadaan abadi, satu-satunya yang memeiliki arti adalah keuntungan kebendaan. Dalam dunia yang hanya dibangun atas dasar kebendaan, nilai rohani tidak mendapat tempat. Akibatnya, satu-satunya yang ingin dipikirkan manusia hanyalah memuaskan hasrat dan nafsunya, dengan cara apa pun yang diperlukan. Menurut ayat berikut dalam Al-Qur`an, “Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan dengan main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan kembali kepada Kami?” (al-Mu`minuun [23]: 115) Allah dengan jelas mengungkap pandangan hidup yang menyimpang dari orang-orang ingkar ini.

Orang yang benar-benar percaya bahwa mereka dapat menjalani kehidupan dengan kebebasan mutlak dan bahwa pada akhirnya mereka akan musnah selamanya, sebenarnya tengah melakukan kesalahan besar. Kita bertanggung jawab terhadap Penguasa kita, Yang menciptakan kita dari ketiadaan. Dialah Allah yang menciptakan manusia sesuai dengan takdirnya masing-masing, Yang mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan seseorang, Tuhan Yang akan memanggilnya, setelah kematiannya, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di masa lalu, dan memberi pahala atau menghukum manusia sesuai perbuatannya. Tidak seperti binatang, Allah telah menciptakan manusia dengan jiwa, pikiran, kehendak, dan nurani. Dengan kata lain, meskipun seseorang menghadapi suatu godaan di suatu ketika, dia telah diciptakan dengan segala hal yang diperlukan untuk mencegahnya melakukan kejahatan.

Seseorang yang tidak menyadari atau tidak peduli terhadap kebenaran ini, jelas akan membahayakan masyarakat tempat dia berada. Misalnya, seseorang yang marah karena sesuatu hal yang telah terjadi, bisa saja bertingkah dengan zalim dan menyakiti orang yang membuatnya marah itu tanpa pikir panjang. Tidak peduli apakah orang itu tidak mampu membela dirinya. Yang terpenting adalah melampiaskan amarahnya. Sebaliknya, seseorang yang mengetahui bahwa ia memiliki jiwa yang dianugerahkan padanya oleh Allah, yang menggunakan akal dan nuraninya, ia akan mampu mengendalikan kemarahannya. Dia akan selalu bisa mengendalikan dirinya dan hati-hati. Orang seperti itu tidak akan berani berbuat hal sekecil apa pun yang dapat mengundang hukuman Allah. Jika ia berbuat dosa, ia memohon ampunan dan memperbaikinya.

Beginilah cara Allah mengingatkan manusia yang mengira mereka bebas dari peringatan bahwa mereka telah diciptakan dan akan dibangkitkan lagi setelah kematiannya,

“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang: laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (al-Qiyaamah [75]: 36-40)

Ayat lainnya menyatakan bahwa manusia telah diilhamkan untuk melakukan kejahatan dan kesalahan, maupun untuk menjaga dirinya dari segala kecenderungan kepada kejahatan (asy-Syams [91]: 7-10). Dengan demikian, penyebab utama dari kemerosotan akhlaq manusia dan kejahatan yang mereka lakukan adalah karena mereka tidak beriman kepada Allah, tidak berpikir bahwa mereka akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka kepada-Nya, sehingga tidak merasa takut kepada-Nya. Padahal, sesungguhnya ada tujuan di balik penciptaan tersebut. Dalam sebuah ayat, hal ini diungkapkan sebagai tanggung jawab untuk menyembah Allah, “Dan Aku tidak menciptakan… manusia kecuali untuk menyembah-Ku.” (adz-Dzaariyaat [51]: 56) Manusia diuji dalam kehidupan ini. Jika mereka gagal memenuhi tanggung jawabnya, mereka nanti harus mempertanggungjawabkan hal tersebut. Beberapa di antara tanggung jawab ini disebutkan dalam ayat,

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah [98]: 5)

Agama yang benar adalah agama Allah, namun karena dirasuki oleh ajaran lain yang diterima oleh manusia, banyak manusia yang telah berpaling darinya. Seseorang yang telah menjalani tahap demi tahap pendidikan Darwinis Sosial, ia hanya dihadapkan pada pilihan yang amat sedikit. Pandangannya tentang kehidupan dan kemanusiaan telah terbentuk dalam pola ajaran materialis Darwinis. Akibatnya, dia hanya akan berjuang untuk dirinya dan kepentingannya sendiri, akan terbiasa melihat kekerasan, penindasan, dan tipu daya sebagai satu-satunya cara untuk mencapainya, dan terhempas dari satu dosa ke dosa lainnya, tersesat dalam mimpi buruk ateisme. Parahnya lagi, tidak akan ada yang mencegahnya dari melakukan hal tersebut. Jumlah orang yang selalu “mencari masalah”, bertingkah membabi buta terhadap orang-orang yang tak berdaya, menindas yang lemah dan menginjak-injak hak-hak mereka, menikmati kekerasan, menganggap penderitaan orang lain sebagai cara untuk kebahagiaan dirinya, pendeknya, telah kehilangan sentuhan lembutnya perasaan manusia, semakin meningkat dari hari ke hari.

Penyebab terpenting dari semua ini adalah karena “kebenaran” mengerikan yang diajarkan oleh agama Dajjal ditampilkan seolah-olah itulah sesungguhnya kenyataan hidup.

Aliran-Aliran dalam Agama Dajjal

Telah terungkap dalam hadits bagaimana Dajjal akan menebar perselisihan ke seluruh dunia. Salah satu tandanya adalah bagaimana manusia dari semua agama, bangsa, dan kepercayaan tunduk pada sistem ini. Karena perselisihan tersebut akan sangat besar dan tersebar luas, banyak orang, sadar atau tidak, akan jatuh ke dalam perangkap tersebut, dengan melakukan gaya hidup yang dianjurkan oleh Dajjal. Dangan kata lain, tak peduli apa pun pandangan hidup mereka, semua orang yang melakukan dan menyukai kekacauan, yang melakukan dan membela penggunaan kekerasan, atau menjalankan tindakan yang membahayakan perdamaian, sesungguhnya merupakan pengikut agama Dajjal.

Agama tersebut dapat dibagi lagi ke dalam beberapa “aliran”. Jika kita meninjau abad yang baru saja kita lalui, kita bisa menyaksikan kerusakan parah akibat dua paham yang muncul dari Darwinisme: komunisme dan fasisme.

Kedua paham ini dapat dianggap sebagai dua aliran utama dari agama Dajjal. Para pendiri dan pemimpin kedua paham ini sama-sama merupakan pengikut setia Darwinisme, yang terletak pada akar filsafat Dajjal, dan kedua gerakan ini sangat dipengaruhi oleh Darwinisme. Kedua aliran ini telah membawa malapetaka tak terperikan pada dunia, mengubah dunia menjadi ajang besar peperangan. Ketika kita meneliti kedua paham ini lebih dekat, sebuah temuan menarik mulai muncul. Tak peduli meski keduanya tampak sangat berseberangan, keduanya sebenarnya mempunyai lebih banyak kesamaan dibanding perbedaan yang tampak, dan menjadi sangat jelas bagaimana keduanya terilhami oleh sumber yang sama: Darwinisme (Lebih lanjut, silakan lihat The Disaster Darwinism Brought to Humanity, Harun Yahya, 2000). Pemikiran utama Darwinisme, akar dari kemiripan tersebut, adalah sebagai berikut.

Darwinisme

-Titik tolak Darwinisme adalah pengingkaran menyeluruh terhadap Sang Pencipta. Tujuan utamanya adalah pembentukan masyarakat yang benar-benar terlepas dari agama. Akibatnya, Darwinisme telah menjadi agama yang bertuhankan kesempatan dan kebetulan.

-Darwinisme berpandangan bahwa ada “perjuangan untuk bertahan hidup” di alam ini, sehingga kekejaman pun berlaku. Menurut pernyataan ini, perjuangan tanpa kenal kasihan yang terjadi di antara makhluk hidup lainnya juga berlaku pada manusia. Dalam lingkungan tempat seseorang melihat orang lainnya sebagai musuhnya, perasaan yang paling sering muncul adalah kemarahan, keserakahan, dan kebencian.

-Tidak ada ruang untuk tenggang rasa, belas kasih, atau musyawarah dalam perjuangan untuk bertahan hidup. Jika hanya yang terkuat yang mampu bertahan, maka tenggang rasa, belas kasih, dan musyawarah merupakan pilihan terakhir yang diandalkan oleh manusia.

-Pada dasarnya, Darwinisme adalah sebuah tipu daya besar. Semua pernyataannya telah disangkal oleh ilmu pengetahuan modern.

Komunisme

-Komunisme menggambarkan agama sebagai candu bagi masyarakat. Perjuangan awalnya di semua masyarakat tempat paham ini diterima adalah menentang semua kepercayaan agama.

-Seperti yang dinyatakan Lenin, dengan kata-kata “perkembangan adalah ‘perjuangan’ antara dua pihak yang bertentangan”,(8) komunisme menyatakan bahwa kemajuan hanya bisa terjadi dengan cara pertentangan. Diyakini di sini bahwa tidak mengkin ada kemajuan dan perkembangan tanpa pertumpahan darah.

-Pemberontakan bersenjata dan revolusi merupakan unsur penting dari komunisme. Pada akar dari semuanya itu terletak amarah yang dirasakan terhadap kelompok masyarakat lainnya dan hasrat tanpa ampun untuk membalas dendam.

Lenin mewujudkan suatu ideologi komunis melalui revolusi tahun 1917 dan menggiring masyarakatnya kepada masa penuh pertumpahan darah, penderitaan, dan kesedihan. Pemerintahan diktator yang berkuasa dengan bangkitnya revolusi, mengungkap kebrutalan komunisme yang sesungguhnya kepada seluruh dunia.

-Komunisme bertekad melawan setiap penentangan dan perbedaan. Perbedaan hanya berarti satu hal: pertentangan. Hanya boleh ada satu jenis untuk segala hal di dalam pemerintahan komunis, termasuk manusia. Semua yang bermaksud menentang keseragaman dipandang sebagai musuh pemerintah dan tidakan keras akan dilakukan terhadapnya. Dalam keadaan seperti itu, tidak ada tenggang rasa dan tak ada kemungkinan untuk menciptakan musyawarah.

-Dalam pelaksanaannya, penerapan komunisme menjadi petunjuk yang jelas tentang betapa menipunya pemikiran seperti persamaan, keadilan sosial, dan kebebasan yang dikemukakan oleh komunisme dalam rangka memikat pengikutnya. Pemikiran-pemikiran tersebut tak lain dari alat propaganda komunisme, sebuah sistem yang diktator dan mengagungkan diri sendiri.

Fasisme

-Fasisme dan semua cara yang ditempuhnya, bertentangan langsung dengan akhlaq agama. Salah satu sifat yang membedakan fasisme adalah kecenderungannya untuk membunuh orang tak bersalah atas sesuatu yang dinamakannya nilai-nilai “suci” dan menganggap pembantaian tersebut sebagai kebajikan. Itulah sebabnya, perang merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari fasisme.

-Kemarahan dan kebencian yang ditujukan kepada orang dari ras yang berbeda merupakan salah satu unsur mendasar lainnya dari fasisme. Kecenderungan rasis ini telah mengilhami banyak peperangan, pertentangan, kematian, dan pembersihan etnis.

-Disiplin ketat merupakan bagian mendasar dari pemerintahan fasis. Semua pendapat yang bertentangan dengannya akan dimusnahkan. Pembakaran ribuan buku selama Hitler berkuasa, hanya karena buku-buku tersebut mengandung “pemikiran bukan Jerman”, adalah salah satu contohnya.

-Dalam rangka memperoleh dukungan masyarakat, fasisme menanamkan kepada masyarakat gagasan bahwa ras mereka lebih unggul dari yang lainnya. Tujuan sesungguhnya adalah sebuah sistem yang dibangun dengan konsep rasial. Namun demikian, jelaslah bahwa dalam lingkungan di mana setiap ras mengira dirinya lebih unggul, tidak akan ada akhir dari perang dan pertentangan. Bencana yang telah diakibatkan oleh diktator fasis seperti Hitler dan Mussolini pada rakyat mereka sendiri merupakan bukti mencolok akan kenyataan bahwa pemikiran yang didukung oleh fasisme tak lebih dari kepalsuan belaka.

Sifat-sifat yang telah disebutkan di atas merupakan sedikit contoh untuk memberikan kepada Anda suatu gambaran umum tentang paham-paham ini. Jika kita mengingat bagaimana paham-paham ini diterapkan, akan lebih jelas lagi seberapa jauh sesungguhnya kekasaran dan kebrutalan mereka. Akan tetapi, yang paling penting dicatat adalah bahwa cara-cara Dajjal dan paham-paham yang terkait dengannya, bisa saja dianut oleh seluruh lapisan masyarakat, meskipun segala kerusakan parah terbukti telah diciptakannya. Karena alasan inilah, sangat penting artinya mempelajari cara sistem Dajjal membawa seluruh masyarakat di bawah kendalinya. Mengungkapkan bagaimana hal ini terjadi merupakan “tembakan pembuka” dalam perang pemikiran yang akan kita lancarkan terhadap sistem tersebut. Ini karena manusia tidaklah dengan tiba-tiba menjadi pribadi-pribadi yang mementingkan diri sendiri, membabi-buta, dipenuhi kebencian dan nafsu balas dendam dalam waktu semalam saja. Seperti yang telah kita lihat, mereka hanya bisa dibiasakan menerima sistem Dajjal secara perlahan, melalui tahap demi tahap. Prosesnya dimulai ketika seseorang untuk pertama kali menyadari lingkungannya dalam proses pembelajarannya dan terus berlanjut sepanjang hidupnya. Pengajaran itu dimulai dengan memalingkan manusia dari keimanan terhadap Allah.

Aliran-aliran utama yang telah kita bahas sebenarnya juga terdiri atas berbagai kelompok dan pengikut yang berbeda. Bab-bab berikut dari buku ini akan mempelajari kaitan antara Dajjal dan terorisme dengan kelompok-kelompok turunan ini. Namun demikian, akan sangat berguna jika pertama-tama kita melihat bagaimana pembahasan Dajjal di dalam Al-Qur`an.

[[===—-
Hakikat Dajjal Sebagaimana Gambaran Al-Qur`an

Gambaran Nabi Muhammad saw. tentang Dajjal dalam hadits sangat mirip dengan tokoh pendosa dan penjahat yang ada dalam Al-Qur`an. Contoh kebejatan akhlaq yang digambarkan dalam Al-Qur`an, seperti kebohongan, ketidakadilan, kezaliman, kekejaman, didorongnya kejahatan di antara manusia, serta apa yang direkayasa oleh orang kafir untuk dianggap sebagai akhlaq yang baik dalam rangka memalingkan manusia dari agama, juga merupakan sifat-sifat utama dari ideologi kafir Darwinisme.

Orang-orang yang dikatakan Allah sebagai “pendosa” dalam Al-Qur`an adalah mereka yang menyebar kekacauan dan teror di dunia, yang merancang berbagai rencana menuju tujuannya, dan berpihak pada kejahatan. Orang-orang seperti itu menolak mengakui batas-batas yang telah ditetapkan Allah, menolak untuk hidup dengan akhlaq agama, dan cenderung pada dosa dan kejahatan. Sebagaimana difirmankan Allah, “Sesungguhnya, orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka,” (al-Qamar [54]: 47) jalan yang telah diambil oleh mereka yang memilih jenis akhlaq ini adalah jalan yang menyimpang. Berbagai ciri orang-orang yang berbuat dosa telah dicantumkan dalam Al-Qur`an dan kita telah diperingatkan untuk waspada terhadap mereka.

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tidaklah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.” (Yunus [10]: 17)

“Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa.” (Yunus [10]: 13)

Jika kita mencamkan kenyataan bahwa salah satu ciri unik ideologi materialis, seperti komunisme dan fasisme, yang didirikan atas dasar Dawinisme, adalah penghancur tatanan sosial dan menimbulkan kekacauan, jelaslah bahwa mereka yang hidup dengan dan berusaha memajukan sistem ini adalah orang-orang yang berbuat dosa seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur`an. Dalam sebuah ayat, Allah berfirman,

“Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdaya melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.” (al-An’aam [6]: 123)

Seperti yang dinyatakan ayat tersebut, orang-orang ini akan menetapkan rencana demi menyebarkan dan memperkuat kekuatan mereka. Karena itu, sebuah peperangan pemikiran melawan orang-orang seperti itu dan terhadap mereka yang berusaha memajukan sistem seperti itu, merupakan hal yang teramat penting. Kedamaian hanya bisa menggantikan kejahatan, dan ketenangan menggantikan pertentangan dan kekacauan, jika kegiatan mereka yang terlibat dalam kejahatan dapat dicegah. Hal ini pada akhirnya hanya bisa dicapai jika kebusukan dasar paham orang-orang ini bisa disingkapkan dan kemudian dihancurkan. Hanya orang-orang beriman yang bisa mengemban tanggung jawab ini, karena perselisihan yang disebabkan oleh sistem Dajjal tidak akan pernah bisa memengaruhi orang-orang yang sungguh-sungguh beriman. Orang beriman adalah mereka yang dengan tegas menolak untuk menganut akhlaq orang-orang yang berbuat dosa, atau membiarkan diri mereka ternoda meski hanya sepercik darinya. Demikianlah Allah mengungkapkan tanggung jawab untuk mencegah kejahatan yang harus diemban oleh orang-orang yang beriman,

“Maka mengapa tidak ada pada umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan, yang melarang (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara mereka. Dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (Huud [11]: 116)

Bagaimana Dajjal Dibangun atas Dasar Pemuasan Nafsu

Salah satu ciri terpenting dari orang-orang yang berbuat dosa adalah telah dikelabuinya mereka oleh nafsu dan hasrat mereka sendiri, bukannya dituntun oleh akhlaq Al-Qur`an. Padahal, dengan membiarkan dirinya dikuasai oleh hawa nafsu, seseorang akan tersesat dalam sebuah mimpi buruk yang mengerikan. Jika seseorang mulai berperilaku sesuai dengan naluri rendahnya, hal itu akan mengarah pada kekacauan mental dan hilangnya kendali diri. Bukannya kedamaian hati dan ketenangan yang datang dengan mendengarkan suara nurani, melainkan ketidakamanan, kegelisahan, kekuatiran, dan ketidakpuasan. Seperti yang difirmankan Allah dalam sebuah ayat dalam Al-Qur`an, “… Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku…,” (Yusuf [12]: 53) naluri rendah terus-menerus mendorong orang ke arah kejahatan. Ia senantiasa mendorong kecemburuan, iri, kemarahan, kebencian, ketidakpekaan, kekejaman, tidak hormat, tidak bertanggung jawab, dan berbagai bentuk akhlaq buruk lainnya. Walaupun demikian, seorang yang beriman, yang mendengarkan suara nuraninya, bukan nafsu rendahnya, akan menundukkan hawa nafsunya dan menunjukkan akhlaq yang terpuji dan sepatutnya. Hal itu karena dalam Al-Qur`an, Allah memerintahkan manusia untuk menghindari kejahatan nafsu rendahnya, sebuah perintah yang harus ditaati dengan menjadikan diri kita pribadi yang memiliki nurani. Dengan kata lain, karena kita mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, kita juga tahu bagaimana menghindarinya. Kenyataan ini dinyatakan dalam kalimat-kalimat berikut dalam Al-Qur`an.

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams [91]: 7-10)

Walau begitu, banyak manusia yang menekan dan tidak menghiraukan suara nurani mereka, dan membiarkan dirinya dikuasai oleh nafsunya. Terdapat perbedaan yang amat besar antara manusia yang dikuasai oleh nafsunya dan manusia yang diperintah oleh hati nuraninya. Seseorang yang mendengarkan suara hati nuraninya, ia tidak bersikap berlebihan dan mengendalikan amarahnya ketika dihadapkan pada keadaan sulit. Sebaliknya, mereka yang memperturutkan nafsunya, ia terbawa oleh amarahnya dan bertindak dengan perasaan benci dan dendam. Begitu pula, jika seseorang yang mengalami ketidakadilan mendengar suara nuraninya, dia tahu bahwa dia harus menjawab ketidakadilan dengan kejujuran dan keadilan, dan bukan dengan ketidakadilan yang lebih besar lagi. Sebaliknya, orang yang hanya mengikuti hasrat dirinya sendiri, ia akan menginginkan pembalasan terhadap orang yang telah melakukan ketidakadilan terhadapnya. Manusia yang mendengar nuraninya, ia penuh belas kasih, tenggang rasa, sabar, dan mau mengorbankan dirinya. Orang yang memperturutkan nafsunya, ia kejam, bengis, tidak sabar, dan mementingkan diri sendiri. Itulah sebabnya, mustahil berbicara tentang perdamaian dalam masyarakat mana pun ketika jumlah golongan yang hanya mendengarkan nafsunya merupakan jumlah yang terbanyak. Padahal, Allah telah mengungkapkan bahwa tidak akan ada ketenangan di dunia selama manusia masih hanya mementingkan hasrat dirinya sendiri.

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al-Qur`an) mereka, tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (al-Mu`minuun [23]: 71)

Itulah salah satu sebab mengapa Dajjal menjadikan agama dan nilai rohaniah sebagai sasarannya. Akhlaq agama mengharuskan manusia untuk memperhatikan suara nuraninya dan menghindarkan kejahatan yang mungkin dipicu oleh hasrat mereka. Paham-paham Dajjal menghendaki hal yang sebaliknya, sehingga paham tersebut merugikan unsur-unsur yang mengikat dan menjamin kebersamaan masyarakat (yang terpenting dari unsur-unsur tersebut adalah akhlaq agama dan nilai-nilai rohani yang dimunculkannya), dan mendorong manusia ke arah perselisihan dan pertentangan. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad saw. menggambarkan seperti apa jadinya dunia dalam sebuah sistem Dajjal, ketika manusia dikuasai hasratnya,

“Perselisihan di akhir zaman begitu hebatnya, hingga tak seorang pun akan mampu untuk menahan dirinya sendiri.” (9)

Dalam menafsirkan hadits tersebut, cendekiawan Islam telah menjelaskan bahwa Dajjal akan menyeru kepada manusia untuk mengikuti nafsunya, yang ditampakkannya sebagai sesuatu yang baik. Misalnya, Bediuzzaman Said Nursi, mengatakan: “Manusia, …terkalahkan oleh jiwa naluriahnya, dan dengan kenikmatan yang memabukkan, jatuh ke dalam api dan terbakar. (Perselisihan di akhir zaman dan perselisihan Dajjal) akan menarik pencari nafsu dunia ke sekeliling mereka seperti ngengat, memabukkan mereka.”(10)

Dajjal Menebarkan Penyelewengan ke Seluruh Dunia

Sisi yang paling merugikan dari sistem Dajjal adalah bahwa sistem tersebut dibangun atas penyebarluasan penyelewengan dan merusak kedamaian serta ketertiban. Sifat terpenting Dajjal adalah dorongannya pada teror dan kekacauan untuk menyebarkan penyelewengan. Ini pastilah memiliki akibat yang amat luas, dan bisa termasuk menakut-nakuti masyarakat dan membuat mereka tidak nyaman, serta menghancurkan kedamaian dan keamanan. Perang tanpa alasan yang benar antarbangsa-bangsa, pertentangan dalam negeri yang dipicu oleh alasan-alasan yang direkayasa, serangan teroris yang ditujukan kepada penduduk sipil yang tak bersalah, dan tindak kekerasan dalam kehidupan sehari-hari, semuanya bisa dianggap sebagai bentuk-bentuk penyelewengan. Dalam hari-hari ini, contoh-contoh peperangan dan pertentangan yang makin meningkat jumlahnya menjadi penting dari sudut pandang mengungkap bentuk penyelewengan Dajjal.

Penyelewengan ini telah digambarkan dalam Al-Qur`an sebagai salah satu bahaya yang harus dihindari oleh manusia. Allah telah melarang manusia melakukan penyelewengan dan telah berfirman bahwa Dia tidak menyukai orang yang melakukannya. Ayat berikut ini menyebutkan bagaimana orang-orang yang mengingkari Allah terus-menerus mencoba menebar penyelewengan, pertentangan, kekacauan, dan perang.

“… Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (al-Maa`idah [5]: 64)

Seperti yang telah kita lihat, ayat ini menekankan bagaimana orang-orang tersebut mencoba mengobarkan perang. Tindak kejahatan brutal seperti perang, pertentangan, dan teror, merupakan cara yang paling sering digunakan oleh Dajjal. Ayat lainnya membahas akhlaq Dajjal dalam kalimat-kalimat berikut.

“(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (al-Baqarah [2]: 27)

Akhlaq Al-Qur`an, di pihak lain, memberi manfaat pada perdamaian dan keamanan. Tujuannya, sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur`an, adalah pembangunan sebuah lingkungan tempat manusia dari segala kepercayaan dan bangsa agar dapat hidup bersama dalam keamanan. Persoalan dunia hanya bisa dipecahkan dengan hidup dalam akhlaq agama dan oleh manusia yang mendengar suara nurani mereka. Perintah dalam Al-Qur`an berbunyi,

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya, rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (al-A’raaf [7]: 56)

Penyelewengan Mengarah pada Penyebarluasan Kekerasan

Dalam hati orang-orang yang menyebabkan penyelewengan, tenggang rasa dan kesabaran telah digantikan oleh perasaan benci dan dendam. Orang-orang yang menimbulkan perselisihan, pertentangan, dan tindak terorisme adalah orang-orang yang tidak mempunyai pemikiran tentang kendali diri atau perlunya memerintah dengan adil, melainkan lebih menyukai menyelesaikan perselisihan melalui kekerasan, bukan perundingan. Begitu juga, pengikut agama Dajjal lebih cenderung pada pertentangan dan bukan pada kompromi. Kecenderungan ini mendorong perasaan benci, marah, dan permusuhan, dan mengarah pada budaya yang membuat manusia bertentangan satu sama lain. Diungkapkan dalam hadits bahwa Dajjal akan datang pada zaman ketika kebencian, kemarahan, dan kekerasan menyebar luas, sebuah keadaan yang akan dimanfaatkannya. Beberapa hadits itu adalah sebagai berikut.

“Dajjal akan muncul pada masa ketika agama dilemahkan dan ilmu tidak memadai.”(11)

“Itulah hari-hari ketika pikiran dibingungkan. Ketika manusia saling membunuh. Sampai suatu tingkat hingga manusia bisa membunuh tetangganya, sepupunya, kerabatnya. Pembunuh tidak tahu mengapa dia membunuh, begitu juga korban tidak tahu mengapa ia dibunuh.” (12)

Sesungguhnya, sifat-sifat ini juga merupakan beberapa ciri mendasar dari setan. Dia juga memberontak, menentang kompromi, dan penuh dengan kebencian dan kemarahan, dan tujuannya adalah untuk mendorong orang lain mengikuti langkahnya. Itulah sebabnya, setan selalu mencoba untuk datang di antara manusia dan menyebabkan pergesekan di antara mereka. Allah memperingatkan bahaya ini dalam Al-Qur`an,

“Dan kepada hamba-hamba-Ku, ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya, setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya, setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.'” (al-Israa` [17]: 53)

Orang-orang yang jatuh ke dalam pengaruh setan, akan memberi tanggapan berlebihan pada kejadian yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan sedikit tenggang rasa. Mereka menanggapi dengan kemarahan kepada setiap hal yang tidak mereka sukai atau kepada yang tidak menyetujui pendapat mereka. Karena terbawa oleh kemarahannya, mereka tidak bisa berpikir jernih dan tak mampu mempertimbangkan permasalahan secara adil dan semestinya. Setan memanfaatkan mereka yang pada mulanya tidak bisa berpikir jernih dan akhirnya mengubah mereka sedemikian rupa hingga cenderung pada kejahatan. Dia mengajarkan mereka dengan pemikiran bahwa mereka tidak akan mendapatkan kedamaian selama mereka belum bisa memuaskan amarahnya.

Kisah dalam Al-Qur`an, yang berhubungan dengan kejadian yang terjadi antara dua anak Adam a.s., merupakan contoh penting tentang bagaimana seseorang yang bertindak di bawah pengaruh setan bisa bersifat lepas kendali dan membabi buta,

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil), ‘Aku pasti membunuhmu!’ Habil berkata, ‘Sesungguhnya, Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa.’ ‘Sesungguhnya, kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan mengerakkan tanganku untuk membunuhmu. Sesungguhnya, aku takut kepada Allah, Tuhan Seru Sekalian Alam.’ ‘Sesungguhnya, aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa dosa membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah balasan bagi orang-orang yang zalim.’ Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang yang merugi.” (al-Maa`idah [5]: 27-30)

Seperti yang bisa dilihat dari ayat-ayat tersebut, orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan hasutan setan, bertindak atas dasar amarah dan iri hati, bahkan membuatnya melakukan pembunuhan. Sebaliknya saudaranya, yang menunjukkan akhlaq orang beriman, tidak kehilangan keteguhannya walau menghadapi sikap membabi buta dan tidak adil dari pihak lain, selain tetap bersikap dengan akhlaq yang benar.

Dengan cara yang sama, saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. berencana membunuhnya karena iri hati dan amarah karena karunia Allah yang telah diberikan kepadanya. Ketika Nabi Yusuf kembali bertemu dengan saudara-saudaranya itu di lain kesempatan, ia bertenggang rasa dan memaafkan mereka. Inilah prasyarat akhlaq yang mulia yang telah diperintahkan oleh Allah untuk ditunjukkan oleh orang beriman. Akhlaq seorang muslim yang benar adalah yang digambarkan dalam sebuah ayat berikut ini.

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran [3]: 134)

Dajjal Mendorong Manusia ke Arah Tindakan Melampaui Batas

Cara lain yang digunakan Dajjal demi tujuan kecurangan dan kebingungan di dunia adalah mendorong manusia ke arah tindakan melampaui batas (ekstremisme) atau mementingkan diri sendiri (fanatisme). Dengan cara ini, manusia diarahkan untuk percaya bahwa mereka dibenarkan bersikap fanatik demi kepercayaan dan pemikirannya. Mereka diombang-ambingkan sehingga percaya pada pemikiran bahwa hasil yang mestinya bisa dicapai melalui kompromi dan musyawarah hanya bisa dicapai melalui cara kekerasan. Melalui keadaan pikiran seperti ini, sedikit rasa iri atau kemarahan tak beralasan bisa menimbulkan kebiadaban brutal. Karena tindak melampaui batas acapkali merupakan lawan dari sikap tidak berlebihan, akal sehat, dan rasional. Orang semacam itu hanya mengikuti perasaannya. Tanggapan dan cara mereka membawa diri dikuasai oleh kekerasan dan amarah. Itulah yang mengarah pada bangkitnya kelompok-kelompok dan pribadi-pribadi yang terlalu mudah berpaling kepada segala bentuk kekerasan tanpa pernah bertanya mengapa atau merasakan adanya getaran dalam nurani mereka.

Sebaliknya, Al-Qur`an memperingatkan manusia untuk tidak berpaling pada ekstremisme dan bertindak melampaui batas. Dalam sebuah ayat, Allah memperingatkan manusia untuk tidak mengikuti mereka yang berpaling ke arah fanatisme dan membiarkan diri mereka diperintah oleh perasaan nafsu, dan melawan perangkap yang telah disiapkan untuk mereka oleh Dajjal.

“… Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (al-Kahfi [18]: 28)

Ekstremisme memalingkan manusia menjauh dari Al-Qur`an. Salah satu sifat penting dari orang-orang yang beriman adalah, terhadap apa pun yang terjadi, mereka selalu berkeseimbangan dan tidak berlebihan, dan tidak pernah meninggalkan kerendahan hati, pengendalian diri, dan tenggang rasa. Tanggung jawab yang dirasakan oleh orang beriman harus mereka penuhi, memerintahkan mereka untuk bersikap baik terhadap sesama dan menghindari kejahatan. Inilah tanggung jawab yang harus dipenuhi dengan menjelaskan akhlaq agama kepada masyarakat dan melancarkan perang pemikiran melawan filsafat ateis. Dalam pemenuhan kewajiban ini, orang-orang beriman mengetahui bahwa kewajiban mereka hanyalah menyampaikan kebenaran dan menunjukkan kepada manusia jalan yang benar. Dia tidak memaksa orang lain untuk percaya. Seperti yang telah diperintahkan Allah dengan kalimat, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam),” (al-Baqarah [2]: 256) manusia harus disadarkan tanpa keterpaksaan. Allahlah yang membawa manusia ke jalan yang benar, dengan kata lain, yang menganugerahkan iman pada mereka. Orang beriman hanyalah berusaha sekuat-kuatnya untuk menjadi alat demi mencapai hal itu.

“Bukanlah kewajibanmu, menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allahlah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya….” (al-Baqarah [2]: 272)

Ciri-Ciri Umum Orang-Orang yang Telah Disesatkan oleh Dajjal: Bertindak dengan Jalan Pikiran Setan

“Dia (Dajjal) akan memiliki dua sungai yang mengalir: satu tampak seperti air yang murni, dan yang lain tampak seperti api yang menyala. Siapa saja yang hidup dan melihatnya, haruslah memilih sungai yang tampak seperti api,… karena sesungguhnya itu adalah air yang sejuk.”(13)

“Dajjal… akan membawa bersamanya apa yang terlihat seperti surga dan neraka, dan apa yang disebutnya sebagai surga sebenarnya adalah neraka.”(14)

Hadits di atas merupakan dua catatan yang mengungkapkan bahwa Dajjal akan menampilkan kebaikan sebagai keburukan dan keburukan sebagai kebaikan. Dengan cara yang sama pula, Dajjal mendorong manusia ke arah kekacauan dan teror, setan menyatakan bahwa manusia hanya bisa selamat jika memilihnya, dan dia adalah jalan yang benar. Sambil mendorong manusia kepada ateisme dan akhlaq yang mengingkari Allah, dia juga mengatakan kebohongan yang menyatakan bahwa dia hanyalah menginginkan kebaikan,

“Katakanlah, ‘Apakah kita akan menyeru selain dari Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan mudharat kepada kita dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan), ‘Marilah ikuti kami.” Katakanlah, ‘Sesungguhnya, petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kami disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam.” (al-An’aam [6]: 71)

Demikianlah. Cara-cara yang ditempuh oleh orang yang mengikuti pernyataan setan bahwa mereka pun hanya menginginkan kebaikan, juga telah diungkap dalam Al-Qur`an,

“Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah, ‘Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna.'” (an-Nisaa` [4]: 62)

Salah satu contoh yang paling jelas tentang cara Dajjal dalam membuat orang mengira bahwa apa yang jahat sebenarnya adalah baik ialah dengan mulai menunjukkan kekerasan, perkelahian, dan pertentangan sebagai hal yang lumrah; atau seperti yang telah kita lihat sebelumnya, orang yang telah meyakinkan dirinya dan orang lain bahwa cara paling ampuh untuk memperoleh apa yang diinginkan adalah dengan menggunakan kekerasan. Mereka membunuh orang tak bersalah, berkhayal bahwa mereka sedang melaksanakan perjuangan kebenaran, ketika mereka menyakiti orang-orang yang tidak pernah melakukan kejahatan sama sekali. Ketika anggota organisasi teroris, atau orang-orang yang bertanggung jawab atas perang dan pertentangan di berbagai belahan dunia, diwawancarai, semuanya menyatakan bahwa adalah suatu kebenaran memilih cara kekerasan. Padahal, mereka sepenuhnya keliru dan hanya menganggap dirinya sendiri yang benar. Tidak ada perjuangan dengan penggunaan kekerasan terhadap orang tak bersalah dan tak bisa membela diri yang dapat dibenarkan.

Pada akar kesalahan ini terletak kenyataan bahwa orang-orang tersebut telah mengikuti jalan setan dan Dajjal, yang merupakan perpanjangan tangan setan. Dengan kata lain, mereka bertindak menurut jalan pikiran setan. Padahal Allah, Sang Pencipta, telah memerintahkan manusia untuk tidak pernah mengikuti langkah setan. Perintah itu dinyatakan dalam ayat-ayat Al-Qur`an,

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah [2]: 168)

“Sesungguhnya, setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Faathir [35]: 6)

Orang yang bertindak sesuai jalan pikiran setan, walaupun sudah diperintahkan sebaliknya oleh Allah, menutup rapat hati dan pikirannya. Kepicikan itu merupakan ciri umum dari mereka yang mengingkari Allah dan menolak untuk hidup dengan akhlaq agama. Allah telah menutup hati orang-orang seperti itu.

“Sesungguhnya, orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (al-Baqarah [2]: 6-7)

“Dan sesungguhnya telah Kami buat dalam Al-Qur`an ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang yang kafir itu akan berkata, ‘Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka.’ Demikianlah Allah mengunci-mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami.” (ar-Ruum [30]: 58-59)

Seperti difirmankan dalam ayat Al-Qur`an lainnya, “… Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang yang lalai.” (al-A’raaf [7]: 179) Tingkat kemerosotan kesadaran mereka menunjukkan bahwa orang-orang yang mengikuti sistem Dajjal itu kejam, karena sepenuhnya mengabaikan nurani mereka, sehingga kehilangan kemampuan untuk membedakan yang benar dan yang salah. Orang seperti itu tidak menganggap penting kerugian yang mungkin disebabkan oleh tanggapannya terhadap suatu keadaan, dan tidak punya keraguan untuk bertindak lalim. Dia telah benar-benar terbawa dalam kebohongan Dajjal, dan mulai mengira bahwa hitam adalah putih dan putih adalah hitam. Keadaan orang yang demikian itu digambarkan dalam ayat Al-Qur`an berikut ini.

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu, dan berada dalam gelap gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya) niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi petunjuk-Nya), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” (al-An’aam [6]: 39)

Allah juga telah mengungkapkan bahwa orang-orang yang kejam ini, yang bekerja sama dengan setan, dan mencoba mengekalkan jalan pikiran setan di dunia, akan mendapat balasan setimpal di hari kemudian,

“Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka. Mereka itu tempatnya Jahannam dan mereka tidak memperoleh tempat lari darinya.” (an-Nisaa` [4]: 120-121)

Makar Dajjal Berada dalam Kendali Allah swt.

Dalam hadits, Nabi Muhammad saw. telah memperingatkan tipuan dan makar yang direncanakan oleh Dajjal sehingga kita bisa menghindarinya. Sesungguhnya, penyelewengan yang ditebarkan oleh Dajjal telah diatur sampai tingkat kejahatan yang sedemikan rupa hingga kebanyakan orang, kecuali mereka yang beriman dengan ikhlas, akan dengan mudah jatuh ke dalam pengaruhnya. Kita cukup merenungkan menurunnya akhlaq dan merebaknya kekacauan di dunia saat ini, untuk mengetahui besarnya penyelewengan itu. Sebagian besar kita telah melihat kemerosotan dan kekacauan ini, tanpa melihat negara, bangsa, atau ras asalnya.

Masih ada hal lain yang amat penting untuk dicamkan. Telah difirmankan dalam berbagai ayat dalam Al-Qur`an bahwa Yang menentukan semua makar yang disusun oleh orang-orang kafir, adalah Allah. Untuk menguji manusia, untuk mengetahui dan mendidik orang-orang yang benar, juga untuk menunjukkan kekafiran orang kafir, dan untuk banyak alasan lainnya, Allah telah membiarkan perbuatan setan di dunia ini, demikian juga Dajjal, sebagai bagian dari rencana-Nya. Karenanya, makar yang direncanakan oleh mereka yang mengingkari Allah, tidak akan pernah, dengan kehendak-Nya, mencapai tujuan-tujuannya. Hal ini dikuatkan dalam sebuah ayat,

“Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar, padahal di sisi Allahlah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.” (Ibrahim [14]: 46)

Sepanjang sejarah, orang-orang yang telah mengingkari Allah dan berusaha mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama, telah merencanakan segala jenis makar untuk menjerat orang lain. Akan tetapi, sesuai dengan perintah Allah, semua usaha seperti itu akhirnya menemui kegagalan dan hanya akan berbalik melawan mereka sendiri. Inilah hukum kekal dari Allah, seperti yang telah diungkapkan Allah dalam ayat,

“… Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui perubahan bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.” (Faathir [35]: 42-43)

Nasib yang sama sudah menunggu makar yang direncanakan oleh Dajjal dan sistem ideologinya. Seluruh sistem itu sendiri merupakan cara penipuan yang secara khusus dirancang untuk menjauhkan manusia dari Allah. Tak peduli betapa rumitnya makar itu dan betapa luas dan efektifnya rencana tersebut, seluruhnya ada di bawah kendali Allah. Dajjal dan makarnya ada hanya karena kehendak Allah. Seperti yang dinyatakan dalam ayat yang lain, “Dan kamu tidak menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali bila dikehendaki Allah,” (al-Insaan [76]: 30) tak satu pun yang mempunyai kekuatan untuk menginginkan apa pun, juga untuk merencanakan makar maupun untuk menjalankannya, kecuali jika Allah menghendaki demikian.

Dan sesungguhnya orang-orang kafir sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu.
(Al-Qur`an, 13:42)

[[===—-
Terorisme: Ritual Dajjal

Sejauh ini, kita sudah meninjau macam gerakan Dajjal, sumber terbesar perselisihan di hari-hari menjelang kiamat, kaki tangannya, dan orang-orang seperti apa yang terperangkap olehnya. Dalam bab ini, kita akan membahas terorisme, salah satu penyumbang terjahat dari permasalahan ini.

Walau merupakan salah satu istilah yang paling sering terdengar di dunia saat ini, masih tidak ada kesepakatan tentang pengertian terorisme. Salah satu sebab utamanya adalah karena orang yang dianggap sebagai teroris di satu pihak, di pihak lain dianggap sebagai pejuang kebenaran. Apa pun tujuannya, tidak mungkin menganggap kelompok mana pun yang mengambil cara kekerasan dan menjadikan orang tak bersalah sebagai sasaran, sebagai kebenaran. Pribadi-pribadi atau masyarakat bisa saja menginginkan sesuatu dan keinginan tersebut bisa jadi sah sepenuhnya. Akan tetapi, kekerasan bukanlah cara untuk mencapainya. Kekuatan hanya boleh digunakan untuk pembelaan diri. Dengan alasan itulah, setiap tindak kekerasan yang ditujukan pada orang yang tak bersalah bisa dianggap sebagai tindakan terorisme.

Strategi mendasar dari terorisme adalah penyebaran ketakutan, dan dengan cara tersebut, mereka mendapatkan pengaruhnya. Bukannya mengusahakan agar keinginan mereka tercapai melalui cara yang lebih damai dan masuk akal, kelompok teroris malah memilih kekerasan, yang mereka anggap lebih tepat sasaran. Menurut mereka, makin kejam dan merusak suatu tindak terorisme, semakin berpengaruh pula tindakan tersebut. Dengan kata lain, makin dekatlah mereka dalam mencapai tujuannya.

Salah satu sisi yang paling mengerikan dari terorisme adalah kenyataan bahwa terorisme sama sekali tidak memiliki nilai kemanusiaan dan tidak mengakui aturan apa pun. Orang-orang yang memilih terorisme itu tidak mempunyai cinta, perhatian, belas kasih dan tenggang rasa, dan hanya diperintah oleh perasaan benci, marah, dan dendam. Tanpa disadari, niat orang-orang seperti itu adalah untuk melampiaskan kemarahan mereka dan membalas dendam, tanpa memikirkan lagi akibat perbuatan mereka. Bahwasanya tindakan mereka mungkin akan mengakibatkan kerusakan, sedikit pun tidak menggetarkan nurani mereka. Ini karena nurani orang yang menganggap terorisme sebagai pemecahan, sudah tersumbat, hingga demikian pula akalnya, pertimbangannya, dan pengertiannya.

Sekalipun demikian, menurut akhlaq Al-Qur`an, tidak ada ruang bagi amarah. Allah telah mengungkapkan bahwa selama manusia bertindak atas perasaan sendiri, seperti kemarahan, akan ada penyelewengan dan kekacauan di dunia. Dengan demikian, Allah telah memerintahkan kita untuk sepanjang waktu bersikap tenggang rasa, damai, dan penuh semangat persaudaraan. Ketika manusia terikat oleh akhlaq yang demikian, sistem Dajjal, yang didasarkan pada kekerasan, akan hancur sepenuhnya, teror dan kekacauan akan menghilang, dan keadaan kacau yang saat ini menyelubungi dunia akan berakhir. Dalam sebuah ayat, Allah menganjurkan akhlaq tersebut,

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (al-A’raaf [7]: 199)

Orang-orang yang Terlibat Terorisme atas Nama Agama

Akhlaq agama melarang setiap bentuk terorisme, namun demikian, beberapa kelompok teroris mesih saja menyatakan mereka bertindak atas nama agama. Akan tetapi, jika seseorang melihat lebih dekat pada pandangan orang-orang yang melakukan pembantaian atau menggunakan kekerasan sebagai jalannya, jelaslah bahwa mereka adalah orang-orang yang menyimpang. Mereka tidak mengetahui kebenaran agama dan tidak mampu untuk hidup di dalamnya serta mengerti akhlaq agama. Setiap orang yang benar-benar percaya pada keberadaan Allah, yang sungguh-sungguh takut kepada-Nya, dan bersandar pada kitab yang telah diturunkan-Nya, tidak akan pernah sanggup mengambil segala bentuk tindakan yang bisa menyakiti orang-orang yang tak bersalah dan tidak bisa membela diri. Karena itulah, orang yang melaksanakan tindak terorisme dan kekerasan atas nama Islam, tidak bisa dikatakan sebagai kelompok agama.

Pesan sesungguhnya dari sebuah agama atau sistem pemikiran lainnya acapkali diselewengkan oleh mereka yang menamakan diri sebagai pengikutnya, atau ditafsirkan secara keliru. Hal tersebut berlaku untuk Yudaisme maupun Kristen. Para tentara Perang Salib, sebagai contoh, adalah orang-orang Kristen Eropa yang berangkat dari Eropa pada akhir abad ke-11 dengan tujuan membebaskan Tanah Suci. Mereka mungkin berangkat dengan tujuan agama, tapi nyatanya mereka menyebarkan ketakutan dan kebiadaban ke mana pun mereka pergi.

Kebiadaban mereka, yang menyalahtafsirkan agama Kristen, yang merupakan agama cinta kasih dan tentunya tidak memberikan ruang untuk kekerasan, jelas sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama sejati sama sekali.

Sebagian besar orang yang menggunakan teror atas nama agama merupakan kelompok-kelompok fanatik yang terkait dengan kepercayaan penyembah berhala atau ajaran-ajaran mistik yang baru muncul, yang sama sekali bukan agama wahyu. Kelompok-kelompok ini, terutama di Amerika dan Jepang, melaksanakan tindakan kekerasan yang mengerikan terhadap anggotanya sendiri dan juga orang lain. Termasuk di dalamnya kelompok-kelompok yang membakar diri mereka sampai mati di sebuah tanah pertanian, atau melakukan bunuh diri massal di tempat tidur, atau orang-orang yang menyakiti orang lain dengan melepaskan gas beracun di jaringan terowongan kereta bawah tanah di Jepang. Kelompok lainnya yang mulai menarik perhatian karena tindak terorismenya meliputi kelompok rasis fanatik seperti Ku Klux Klan dan kelompok-kelompok neo-Nazi. Selama lebih dari dua puluh tahun terakhir ini, terlihat adanya peningkatan pemikiran rasis dan fasis di kalangan muda, yang telah menyebabkan makin meningkatnya jumlah tindak kekerasan. Serangan-serangan yang ditujukan terhadap orang-orang Turki di Jerman beberapa tahun lalu, penyiksaan dan penyerangan yang ditujukan kepada orang keturunan Asia dan Afrika di negara-negara Eropa lainnya, dan tindak kekerasan terhadap orang berkulit hitam dan Arab masih terjadi di Amerika Serikat hingga hari ini, semuanya bisa disebutkan di antara cara-cara yang digunakan oleh kelompok seperti itu.

Tidak boleh dilupakan bahwa pada akar semua gerakan-gerakan menyimpang, baik yang dibahas dalam buku ini maupun yang tidak, terdapat kenyataan bahwa orang-orang seperti itu telah berpaling dari akhlaq agama dan telah dibesarkan tanpa pengetahuan yang benar tentang agama. Akhlaq yang umum pada agama Islam, Kristen, dan Yahudi amat bertentangan dengan sistem Dajjal, yang dibangun di atas kekerasan dan kebiadaban. Pada akar agama terdapat cinta, perhatian, dan belas kasih. Allah telah memerintahkan kita untuk memperlakukan sesama dengan adil, tenggang rasa, pengertian, belas kasih, dan rasa hormat. Lebih jauh lagi, manusia diwajibkan bersikap seperti itu tanpa memandang agama, bahasa, ras, atau jenis kelamin dari orang yang dihadapinya. Karena itulah, mustahil terdapat kekerasan di dalam masyarakat tempat akhlaq agama berlaku. Akhlaq agama merupakan satu-satunya sistem yang dapat membimbing manusia ke arah kedamaian dan keamanan. Allah mengungkapkan dalam sebuah ayat,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah [2]: 208)

Halaman-halaman berikut berisi beberapa keterangan tentang kelompok dan organisasi yang menganggap kekerasan sebagai hal yang normal dan perlu. Tujuan di balik penulisan bab ini bukanlah untuk memberikan keterangan tentang organisasi-organisasi teroris ini.

Tujuannya adalah mengungkap sistem ideologi Dajjal, yang memperdaya kelompok-kelompok ini hingga menganggap kekerasan sebagai pemecahan masalah, apa pun pahamnya.

Informasi yang diberikan ini amat penting dari sudut pandang penggambaran rumitnya sistem Dajjal, yang saat ini begitu meluas di dunia.

Teror atas Nama Ras

Perang Dunia II adalah kegilaan yang dipicu oleh ideologi rasis dan fasis. Kekerasan dan pertentangan, nilai yang dianggap suci oleh paham-paham ini, dengan cepat merasuki seluruh dunia, menyebabkan kematian 55 juta korban karena kebiadaban fasis. Walaupun pada kenyataannya kemenangan bisa diraih Sekutu yang berarti fasisme berhasil dikalahkan, fasisme tidak menghilang. Dia hanya bersembunyi di bawah permukaan. Secara keseluruhan, telah terjadi peningkatan yang cukup nyata dalam jumlah organisasi rasis dan fasis serta tindak kekerasan di dunia selama sepuluh tahun terakhir. Sementara Eropa mesti berperang dengan tindak kekerasan yang dilanjutkan oleh gerakan neo-Nazi, Amerika Serikat harus berurusan dengan kebangkitan Ku Klux Klan dan organisasi “keunggulan kulit putih” semacam itu. Saat ini, baik neo-Nazi maupun anggota Ku Klux Klan tengah melancarkan serangan dan mendorong anggotanya untuk melakukan tindakan teror dan kekerasan.

Banyak orang mungkin membayangkan bahwa Ku Klux Klan melakukan sebagian besar serangan dan penindasan terhadap orang berkulit hitam hanya pada 1920-an dan 1930-an, tapi kenyataan itu sudah masuk keranjang sampah sejarah di zaman modern ini. Kelompok Klan masih hidup. Saat ini, di seluruh Amerika Serikat, terdapat banyak sekali gereja Ku Klux Klan, bahkan dengan nama yang berbeda, dan banyak organisasi rasis yang terkait dengan ajaran-ajaran gereja tersebut. Gereja dan organisasi yang terkait dengannya itu tidak hanya bermusuhan dengan orang berkulit hitam, tetapi juga memusuhi semua ras bukan Eropa, terutama muslimin yang tinggal di Amerika, dengan memercayai perlunya suatu kerja sama dalam perjuangan untuk melawan ras-ras tersebut. “Perjuangan” tersebut meliputi pembentukan satuan-satuan bersenjata.

Bukan rahasia lagi bahwa dasar ajaran-ajaran Klan adalah bahwa ras kulit putih Eropa lebih unggul daripada semua ras lainnya, dan bahwa ras kulit putih tidak boleh dikotori oleh ras lainnya. Dalam rangka mencegah pencemaran seperti itu, ras lainnya tidak boleh diizinkan hidup di wilayah ras kulit putih. Pemikirannya adalah bahwa ras lain tidak punya hak untuk setiap bentuk kesempatan yang dinikmati oleh ras kulit putih. Ras-ras ini dianggap sebagai hama yang mencoba mencemari kemurnian dan keunggulan ras kulit putih, dan mereka percaya bahwa segala tindakan yang perlu harus dilakukan untuk melawannya. Pandangan Klan inilah yang menjadi dasar dari serangan-serangan yang dilakukan terhadap ras lain di Amerika. Pada akar pemikiran ini terdapat kebencian dan agresi, dan bukannya cinta, tenggang rasa, dan musyawarah.

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (al-A�raaf [7]: 199)

Yang sering dikemukakan sebagai pembenaran ilmiah untuk pemikiran tentang keunggulan ras kulit putih adalah teori evolusi Darwin. Darwin telah mengemukakan bahwa ras tertentu, ras Eropa contohnya, telah berkembang melebihi ras lainnya selama proses evolusi. Mereka yang berada di luar ras yang maju ini, dalam pandangannya, merupakan makhluk primitif yang hanya sedikit lebih baik dari kera. Dengan kata lain, sementara beberapa ras telah melangkah jauh dalam proses evolusi, yang lain tidak beranjak jauh dari moyang primitif manusia: kera. Darwin telah tenggelam dalam prasangka berdasar ras tentang masa depan dan menulis,

“Di masa mendatang, yang tidak begitu lama jika diukur dalam abad, ras-ras beradab manusia hampir bisa dipastikan akan memusnahkan, dan menggantikan, ras-ras biadab di seluruh dunia. Pada waktu yang sama, kera anthropomorphous (seperti manusia),… tak disangsikan lagi telah dipunahkan. Jarak antara manusia dan sepupu terdekatnya dengan demikian makin melebar.”(15)

Pandangan rasis Darwin ini telah menjadi pembenaran penting yang dipakai oleh kekuatan penjajahan pada masa itu untuk menyamarkan kebrutalan mereka. Pernyataan yang dikedepankan oleh Darwin menggambarkan teorinya begitu menarik dari sudut pandang pengungkapan pengabaian dan prasangkanya. Dalam sebuah surat kepada seorang ilmuwan bernama W.Graham di tahun 1881, Darwin menyebut bangsa Turki sebagai bukti dari teorinya. Menurut omong kosong Darwin ini, bangsa Turki adalah salah satu bangsa terbelakang yang akan segera lenyap,

“Saya bisa menunjukkan perjuangan dalam seleksi alamiah yang telah terjadi dan telah memberi kemajuan bagi peradaban melebihi dari yang mungkin Anda akui. Ingatlah bahaya yang dialami bangsa Eropa, hanya beberapa abad yang lalu ketika hampir dikuasai oleh orang-orang Turki, dan betapa anehnya pikiran seperti itu sekarang! Ras Kaukasus yang lebih beradab telah memukul bangsa Turki dalam perjuangan hidup dan mati. Dengan melihat dunia, tak lama lagi nanti, betapa banyak ras rendah yang akan dimusnahkan oleh ras yang lebih beradab di seluruh dunia.”(16)

Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. (al-Mu`minuun [23]: 96)

Bahkan saat ini, kita masih mendengar tentang gereja orang kulit hitam di berbagai negara bagian Amerika yang dibakar, tentang serangan terhadap masjid dan sinagog, dan serangan terhadap anggota ras yang lain. Menyusul serangan teroris terhadap World Trade Center pada 11 September 2001, khususnya, lingkaran tertentu yang telah terpengaruh dan berbagai organisasi sejenis telah meningkatkan serangannya. Tempat usaha, masjid, dan organisasi muslim di beberapa negara bagian diserang. Pelajar muslim tidak diperbolehkan pergi ke sekolah dan anak-anak muslim diserang di jalan-jalan. Setiap orang yang tidak kehilangan akal sehat dan pikiran yang jernih, tentu tahu bahwa dunia Islam dan muslim sipil yang tidak bersalah, khususnya anak-anak, tidak bisa dianggap bertanggung jawab atas serangan yang kejam ini. (Kenyataannya, menyusul serangan 11 September, telah bangkit reaksi yang cukup mencolok dari orang-orang yang memiliki kecerdasan dan akal sehat, yang mulai memperhatikan Islam. Juga terdapat peningkatan dalam jumlah orang yang pindah agama menjadi Islam). Di pihak lain, keadaan ini hanyalah merupakan satu petunjuk tentang bahaya yang bisa ditimbulkan oleh didorongnya kebencian yang didasarkan atas ras dan kepercayaan.

Namun begitu, anggota Klan tentunya tidak setuju. Mereka sedang sibuk menyiapkan perang besar antarras, yang mereka percayai akan terjadi pada abad ke-21 ini.

Bentuk Pertentangan Ras di Amerika

Ku Klux Klan didirikan pada tahun 1870 dan menjadi amat kuat di Amerika ketika bangkitnya Perang Dunia I. Pada 1920-an, Klan mempunyai sekitar 3-4 juta anggota.(17)

Seperti semua ideologi rasis lainnya, akar paham dan ajaran Klan, yang dimulai dengan pernyataan bahwa “kami akan membantai musuh-musuh kami ketika perang untuk melindungi ras kulit putih dimulai”, merupakan pandangan bahwa ras kulit putih menduduki tempat teratas pada garis evolusi, sedangkan ras lainnya diletakkan lebih rendah di bawah, yang menyebabkan mereka mendapatkan perlakuan tidak manusiawi. Banyak sekali jumlah orang di Amerika yang masih berpegang pada pandangan ini. Bisa dikatakan bahwa kelompok-kelompok ini, yang dikelola dengan nama-nama berbeda, seperti National Alliance (Aliansi Nasional), the World Church of the Creator (Gereja Dunia Sang Pencipta) dan Arian Nation (Bangsa Aria), sebenarnya beroperasi di bawah payung Ku Klux Klan.

Persamaan hal terpenting dari pandangan organisasi-organisasi ini, yang beberapa di antaranya akan dibahas di bawah ini, adalah bahwa mereka tidak mempunyai keraguan atas penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuannya, dan justru sering menganggap kekerasan dan penyerangan perlu dilakukan.

World Church of the Creator (WCOTC)

WCOTC merupakan salah satu dari organisasi rasis di Amerika yang semakin kuat dari hari ke hari. Organisasi menyimpang ini mengingkari keberadaan Tuhan, hari akhir, surga dan neraka, dan juga mempunyai banyak pengikut di luar Amerika. Pemikiran keunggulan ras kulit putih menjadi dasar ideologi organisasi ini. Dalam situs internetnya, Ben Klassen, pendiri kelompok rasis ini, berkata tentang ideologi mereka,

“Tujuan dari (agama kami) adalah: Kelangsungan Hidup, Perluasan dan Kemajuan Ras Kulit Putih. (Agama kami) didasarkan atas cinta: cinta pada ras kulit putih…. Dengan demikian, kami menolak… malaikat dan setan dan dewa-dewa….

Golden Rule kami secara singkat dapat disimpulkan sebagai berikut. Bahwa apa yang baik untuk ras kulit putih merupakan pahala tertinggi; apa yang buruk untuk ras kulit putih merupakan dosa terbesar…. Alam memberi tahu kita untuk peduli pada jenis kita sendiri dan hanya jenis kita sendiri. Kami tidak menganggap ras lumpur sebagai bagian dari jenis kami…. Negro, tak pelak lagi, berada pada dasar terendah dari tangga, tidak jauh di atas monyet dan simpanse…. Kami tidak punya niat menolong ras lumpur untuk sejahtera, berkembang biak, dan menyesaki kami dalam tempat terbatas di planet ini.”(18)

Pemikiran jahat ini, seperti yang kita lihat, telah diperlakukan sebagai agama oleh para pengikutnya; para anggotanya mengamini hal itu sepenuhnya. Namun begitu, tentunya, sama sekali tak berdasar untuk menyebut kejahatan seperti ini sebagai sebuah agama. Akan lebih tepat jika kita namakan hal tersebut sebuah nama lain dari Darwinisme Sosial, yang ajaran utamanya adalah perjuangan di masa depan melawan ras lainnya. Pernyataan itu sebenarnya telah dinyatakan dengan semboyan “Rahowa” (Racial Holy War/Perang Suci Rasial) dan telah dianggap sebagai nilai inti oleh kelompok tersebut. Dalam pidato lainnya, Ben Klassen memberitahukan kepada pengikut-pengikutnya apa makna Rahowa sebenarnya dan tidak ragu untuk mengajak mereka mengangkat senjata,

“RAHOWA! Dalam satu kata ini, kita merangkul seluruh tujuan dan program, tidak hanya Church of the Creator, tetapi juga seluruh ras kulit putih, dan inilah dia: kita menerima tantangan. Kita bersiap untuk perang total melawan Yahudi dan seluruh ras lumpur bedebah di dunia, secara politik, militer, keuangan, moral, maupun agama. Memang kita menganggap hal itu sebagai jantung dari ajaran agama kita dan ajaran yang paling suci dari segalanya. Kita menganggapnya sebagai perang suci hingga akhir: sebuah perang suci demi ras kita.”(19)

Perang yang dinanti-nantikan antarras merupakan salah satu tujuan utama dari organisasi Klan. Hal tersebut ditekankan dalam hampir setiap pertemuan. Selama pidato, anggota Klan dipenuhi dengan gairah untuk berperang, dan banyak petunjuk ke arah itu dimuat dalam tulisan-tulisan mereka. Hasutan ke arah perang ini, yang saat ini sudah mencapai kedudukan mistis di antara mereka, sering dapat dilihat dalam terbitan-terbitan Klan. Sebagai contoh, jurnal Knight-Ridder, yang meliput pertemuan nasional di Kolombia, menyebutkan kalimat-kalimat berikut.

“King adalah pemimpin dari Christian Knights (Ksatria-Ksatria Kristen), yang mengidamkan kebangkitan Ku Klux Klan… Dia menunjuk ke arah jalan tempat dia dan seorang temannya menghiasi halaman depan mereka dengan patung berjubah Klan. Dia berkata, ‘Perang ras akan datang. Klan merupakan satu-satunya harapan bagi ras kulit putih.'”(20)

Seperti kebanyakan organisasi rasis, Rahowa didirikan atas kepercayaan evolusi. Tingkat permusuhan terhadap ras lain seperti itu dan tidak adanya penyesalan atas penggunaan kekerasan sebagai jalannya, semuanya merupakan akibat kepercayaan pada teori evolusi. Tidak ada yang bisa mencegah seseorang yang menganggap orang lain sebagai binatang untuk menyiksa, menyerang, dan jika perlu membunuh orang tersebut.

Pernyataan Matt Hale berikut ini, yang menjadi pemimpin organisasi setelah Ben Klassen, merupakan salah satu contoh dekatnya hubungan antara pemikiran yang mereka perlakukan seperti agama dan kepercayaan pada evolusi.

“Tapi kita memang binatang. Itulah masalahnya. Kita tidak menerima pemikiran bahwa karena kita bisa berpikir dan berbicara dan berjalan di atas dua kaki lalu kita tidak terikat dengan hukum-hukum alam. Kita memang terikat.”(21)

Kata-kata ini merupakan sebuah petunjuk tentang keanehan, pandangan berbeda organisasi ini tentang agama. Tentunya, agama tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan Kristen, yang menganjurkan kerendahan hati, cinta, dan tenggang rasa. Dan, para pemimpin organisasi tersebut tidak ragu untuk mengakui kenyataan ini. Berikut merupakan kutipan dari wawancara Matt Hale yang menyimpulkan dengan baik pandangan mereka tentang agama.

“(Kita tidak butuh) agama seperti Kristen, yang menyuruh manusia untuk mencintai musuh-musuhnya, mencintai yang tak berdaya dan lemah. Kita butuh agama yang meninggikan rakyat kita dan hanya rakyat kita sendiri…. Jadi, kita perlu mengakui hal ini dan menyingkirkan pemikiran bahwa semua manusia diciptakan sederajat dan pernyataan tolol semacam itu…. Apa yang kita percayai untuk dilakukan adalah mengakhiri segala bantuan kepada semua yang bukan ras kulit putih. Kita percaya bahwa tanpa bantuan ini, orang yang bukan ras kulit putih akan dengan cepat menyusut jumlahnya. Mereka tidak bisa memberi makan diri mereka sendiri…. Kita percaya bahwa sebuah dunia sempurna akan lebih dimungkinkan tercapai dengan hanya berisikan ras kulit putih, persaudaraan ras kulit putih di seluruh dunia. Kita pun percaya bahwa ketika ras bukan kulit putih telah disingkirkan dan ras kulit putih telah dipersatukan dengan ajaran yang mendukung hidup dan kehidupan seperti ajaran Creativity, akan ada perdamaian dan kemakmuran untuk rakyat kulit putih kita.”(22)

Orang-orang yang menyatakan keunggulan satu ras dan memercayai bahwa sifat-sifat mereka membuat mereka lebih unggul dari yang lain, sedang melupakan satu kenyataan penting: tidak satu pun nilai-nilai tersebut yang abadi. Setiap manusia, beriman atau kafir, cepat atau lambat akan mati, meninggalkan semua yang dia miliki di dunia ini, dan mempertanggungjawabkan dirinya ke hadapan Tuhan. Pada hari itu, tidak seorang pun akan mampu menolong yang lain, tidak ada ras, warna kulit, atau nenek moyang yang punya nilai walau sedikit, tidak ada miliknya di dunia yang akan memberi manfaat baginya walau sedikit, dan tidak seorang pun akan mampu memberikan alasan untuk membenarkan tindakannya. Allah menggambarkannya dalam sebuah ayat,

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya.” (al-Mu`minuun [23]: 101)

Ajaran-Ajaran Klan

Tulisan berikut diambil dari sebuah pidato Matt Hale pada sebuah pertemuan Klan tanggal 14 Januari 2001.

-Mengutarakan persamaan ras adalah penghinaan untuk ras kita.

-Kita memandang hina dan membenci penyatuan, perkawinan antarras, dan membanjirnya kedatangan ras bukan kulit putih ke negara ini.

-Perkawinan antarras adalah dosa terhadap masyarakat kita.

-Gerakan Hak-Hak Sipil adalah keliru bagi kita. Hal itu keliru untuk kepentingan kita.

-Ras kulit putih dalam hal kecerdasan lebih unggul dari semua ras lainnya.

-Saat kemenangan kita tiba, saat kita berkuasa di dunia ini seperti yang kita inginkan, seperti yang akan kita alami, pastilah kita akan memberi pertolongan terbaik untuk ras kita, yang terpandai di antara ras kita untuk memiliki keturunan terbanyak.

-Masa depan akan menjadi masa ketika kita memiliki tanah yang putih dan kita akan mengusir ras lainnya.

-Mereka akan didorong dengan paksa ke dalam perahu pengungsi, dengan sah menurut hukum! Itulah yang akan menjadi hukum.

-Ras bukan putih sama sekali tidak ada artinya. Jika mereka tergeletak dalam kolam darah, itu pun sama sekali tak ada artinya. Apa yang saya pedulikan adalah ras dari keluarga saya sendiri.

-Otak yang membuat ras berbeda. Tiap ras memiliki bentuk dan ukuran otak yang berbeda.

-Tentang mengapa kebanyakan pembunuh berantai berkulit putih…. Orang kulit putih merencanakan apa yang mereka kerjakan. Orang kulit putih sungguh-sungguh berpikir. Kebanyakan kejahatan yang dilakukan orang kulit hitam merupakan tindakan spontan. Orang kulit putih berpikir tentang kejahatan yang akan dilakukannya. Orang kulit putih terlibat jenis kejahatan tersebut karena hal tersebut memerlukan banyak perencanaan.(23)

-Kata-kata ini dengan jelas mengungkapkan cara berpikir anggota Klan. Jenis mental seperti inilah yang memungkinkan bahkan tindakan pembunuhan berantai pun menjadi sumber kebanggaan dan kebiadaban dibenarkan atas nama keunggulan ras.

The National Alliance

Salah satu organisasi fasis yang mendapat dukungan dari kalangan muda di Amerika adalah The National Alliance (Aliansi Nasional). Organisasi ini awalnya didirikan pada tahun 1970 oleh Dr. William Pierce, seorang dosen muda bidang fisika pada Oregon State University, dengan nama The National Youth Alliance (Aliansi Pemuda Nasional). Cirinya yang menonjol adalah menjadikan perguruan tinggi dan universitas sebagai sasaran. Umur keanggotaan dibatasi di bawah tiga puluh tahun. Namun selanjutnya, batasan umur dihapuskan dan sebuah organisasi baru diciptakan dengan nama The National Alliance. Salah satu tujuan utama organisasi ini adalah menekankan sangat pentingnya mendidik pemuda dengan pemikiran-pemikiran rasis. Hal itu, dipercayai, akan memungkinkan munculnya generasi mendatang yang punya kesadaran akan keunggulan ras mereka. Seperti semua organisasi rasis lainnya, The National Alliance bertujuan untuk mempertahankan keunggulan ras kulit putih dalam keadaan apa pun. Dr. Pierce merangkum tujuan-tujuan ini dalam sebuah wawancara dengannya pada tahun 1997,

“Pada akhirnya, kita harus memisahkan diri kita dari orang-orang kulit hitam dan orang-orang bukan kulit putih lainnya, dan mempertahankan agar kita tetap terpisah, tak peduli apa pun yang diperlukan untuk mencapai hal itu…. Pada akhirnya, kita harus mengejar mereka dan menyingkirkan mereka.”(24)

Hal itu, tentu saja, bukanlah satu-satunya kemiripan antara The National Alliance dengan organisasi fasis lainnya. Seperti halnya dengan orang-orang yang percaya pada teori evolusi, hal tersebut juga tampak jelas pada The National Alliance. Tak peduli berapa banyak anggota organisasi yang mengaku taat beragama, pernyataan-pernyataan mereka mengungkapkan bahwa kepercayaan mereka benar-benar bertentangan dengan agama. Secara umum, pernyataan mereka adalah sebagai berikut.

Kami melihat diri kami sebagai bagian tak terpisahkan dengan kesatuan dunia di sekeliling kami, yang berputar sesuai dengan hukum alam. Dengan kata paling sederhana: Hanya ada satu kenyataan, yang kami namakan Alam:… Kami adalah bagian dari alam dan berada di bawah hukum-hukum alam. Dalam cakupan hukum-hukum inilah, kami bisa menentukan nasib kami sendiri…. Dengan kata lain, kami sendirilah yang bertanggung jawab atas segala hal, dan untuk itu kami memiliki kekuatan untuk memilih: khususnya, dalam lingkungan kami dan untuk masa depan ras kami. Pandangan ini mungkin berlawanan dengan pandangan Yahudi.”(25)

Seperti yang telah kita lihat, penggunaan prinsip-prinsip agama dalam pidato-pidato oleh kelompok rasis dan fasis, dan usaha mereka untuk menampilkan diri mereka sebagai orang yang hidup dengan moral agama, adalah sekadar taktik tipuan. Penelitian oleh sosiolog dan akademisi menegaskan kenyataan ini. Salah seorang akademisi itu adalah Jack Levin, direktur studi tentang Kekerasan dan Pertentangan Sosial pada Boston’s Northeastern University. Levin menyatakan bahwa alasan kelompok-kelompok ini menggunakan sumber-sumber Alkitab adalah untuk “memberikan sebuah citra kebenaran agama” untuk pesan-pesan mereka yang penuh kebencian.(
Neo-Nazisme: Sebuah Ideologi yang Didasarkan pada Kekerasan dan Teror

Sementara kelompok-kelompok rasis dan anti-perbedaan di Amerika bersatu di bawah payung Ku Klux Klan, neo-Nazi mengambil peran serupa di Eropa. Rasisme Eropa dimulai dengan orang-orang keras kepala di Inggris, yang kemudian berubah menjadi gerakan neo-Nazi di tahun 1990-an. Ciri utama dari kelompok yang menamakan diri mereka sebagai neo-Nazi adalah, seperti juga Ku Klux Klan, mereka menyatakan keunggulan ras kulit putih dan menyerang orang-orang asing dan orang-orang yang tinggal di lingkungan miskin.

Gerakan neo-Nazi telah tumbuh semakin kuat dalam sepuluh tahun terakhir ini dan lingkup pengaruh mereka makin meluas. Anggota mereka saat ini berjumlah sekitar 70.000 orang. Neo-Nazi telah menetapkan berbagai sasaran mereka di negara-negara yang berbeda. Menurut sebuah penelitian, orang-orang Turki di Jerman, Gipsi di Hungaria, Slowakia dan Republik Ceko, orang-orang Asia di Inggris, orang-orang Afrika Utara di Prancis, dan orang-orang Timur Laut di Brazil, adalah di antara orang-orang yang sudah tercatat sebagai korban. Ciri-ciri menonjol neo-Nazi adalah kekerasan, kebencian, penggunaan ancaman, dan pengrusakan.

Menurut catatan resmi di Jerman, pada tahun 1997 saja terjadi 10.037 kali kejadian yang terkait dengan rasisme dan anti-ras lain. Angka ini pada tahun 2000 mencapai lebih dari 10.000 kali. Di Inggris, terjadi 10.982 kejadian yang terkait rasisme pada periode antara April dan September saja. Lebih dari separuh dari kejahatan ini meliputi ancaman, gangguan, dan intimidasi. Sisanya terdiri atas pembunuhan, penyerangan, pengrusakan rumah dan usaha, dan lain-lain.

Louis Beam dam William Pierce, pengemuka paham ekstrem kanan Amerika, saling mendukung pada posisi yang penting dalam gerakan neo-Nazi yang berkembang selama 1990-an. Pemikiran seperti “perlawanan tanpa pimpinan” dan “revolusi putih” yang dikemukakan kedua orang ini sekarang telah menguasai pemikiran dari gerakan neo-Nazi. Pada akar dari berbagai tindakan teror, seperti pengeboman, penjarahan, dan pengrusakan tempat-tempat kerja di berbagai negara di dunia, selalu dapat ditemukan pemikiran mereka tentang “perlawanan tanpa pimpinan”. Menurut pemikiran mereka, tindakan neo-Nazi harus dilaksanakan atas dasar gerakan perorangan dan kelompok-kelompok kecil.

Buku Hunter dan The Turner Diaries yang ditulis oleh William Pierce telah dianggap sebagai sumber ilham utama di balik teror neo-Nazi. Selebaran A Practical Guide to Aryan Revolution oleh Gerakan Nasionalis Sosialis Prancis, yang mengambil buku-buku tersebut sebagai dasar teorinya, berisikan semua keterangan yang diperlukan seorang neo-Nazi. Selebaran ini merupakan buku panduan teroris yang rinci, yang terbagi dalam bab-bab yang berjudul seperti Metode Aksi Langsung Terselubung, Pelarian dan Persembunyian, Pembunuhan, Teror Bom, Sabotase, Perang Ras, Bagaimana Menciptakan Keadaan Revolusi, Peraturan Pertempuran: Aturan Tentang Perilaku Prajurit dari Tentara Pembebasan Bangsa Arya.(27)

Meskipun mereka tidak berperan giat dalam kelompok-kelompok ini, banyak orang yang justru mendukung fasisme dan terpengaruh oleh buku-buku ini. The Turner Diaries, misalnya, menggambarkan tentang bagaimana sebuah kelompok bawah tanah mengorganisir diri dalam melawan negara dan kegiatan apa yang mereka lakukan. Dalam pembelaannya, seorang pria bernama John William King, yang membunuh seorang pria berkulit hitam bernama James Byrd Jr. di tahun 1998 dengan mengikat dan menyeretnya di belakang mobil pick-up, dilaporkan telah menyatakan, “Kami akan memulai The Turner Diaries lebih dini.”(28)

Menyusul pemboman Oklahoma 1993 oleh Timothy McVeigh, perhatian beralih kepada buku William Pierce, Hunter, di mana di dalamnya Pierce menggambarkan tindakan seorang pengebom yang bertindak sendirian. Pahlawan dalam buku ini tidak mendapat dukungan dari kelompok atau organisasi mana pun, tapi dengan sadar melaksanakan serangan teroris sendirian, seperti yang telah dilakukan oleh Timothy McVeigh.
Pengebom Oklahoma adalah Seorang Neo-Nazi

Hingga 11 September 2001, serangan teroris terburuk yang pernah disaksikan orang Amerika adalah serangan pada Gedung Federal di Oklahoma oleh Timothy McVeigh, yang mengakibatkan 168 orang kehilangan nyawa, termasuk sejumlah anak-anak. Yang menarik dari pengeboman ini adalah Timothy McVeigh merupakan anggota dari sebuah aliran pemujaan sesat dan juga seorang neo-Nazi.

McVeigh menyatakan bahwa pengeboman itu merupakan pembalasan atas David Koresh dan pengikutnya yang terbakar sampai mati di sebuah pertanian pada 1993. Menurut McVeigh, Koresh dan anggota aliran pemujaan tersebut tidaklah bunuh diri, tetapi dibunuh oleh negara Amerika sendiri. Karena itulah, dia memutuskan untuk membalas dendam terhadap negara dan berencana mengebom orang-orang yang bekerja atas nama negara di Gedung Federal. Tepat dua tahun setelah kematian Koresh dan pengikut aliran pemujaannya, pada peringatan tahun kedua kejadian itu, McVeigh dengan darah dingin memarkir kendaraan gandeng penuh bahan peledak di depan Gedung Federal dan selanjutnya telah tercatat dalam sejarah. Setelah serangan, McVeigh ditolong oleh seorang neo-Nazi lainnya, Terry Nichols. Kenyataan terpenting dari terungkapnya orang-orang yang membantu Nichols dan McVeigh sebelum penyerangan, yang membantu pengadaan bahan peledak dan mengetahui apa yang direncanakan McVeigh, adalah bahwa mereka semuanya pengikut neo-Nazi.

Sesaat sebelum hukuman matinya, McVeigh mengirimkan sebuah surat kepada The Buffalo News yang di dalamnya ia berkata tidak menyesali pengeboman itu, yang ia pandang sebagai sebuah “taktik yang sah” dalam perang pribadinya melawan pemerintahan federal. Serangan tersebut, akibat terganggunya jiwanya, sekali lagi merupakan petunjuk jelas tentang betapa hebat kerusakan yang ditimbulkan oleh gerakan yang sedang kita bahas terhadap perorangan maupun masyarakat.
Seperti yang telah dapat kita ketahui dari banyak contoh, orang-orang yang terperangkap di dalam sistem Dajjal percaya bahwa adalah hal yang sangat dapat dibenarkan jika kita membedakan manusia atas dasar ras, bahasa, dan jenis kelamin, dan melakukan kebrutalan terhadap mereka. Bahkan, membeda-bedakan antarmasyarakat itu bisa berubah menjadi sejenis perbuatan membabi buta yang mengarah pada perang dan penghancuran. Orang-orang diserang hanya karena bahasa, agama atau ras mereka, dan tanpa sebab harus menderita berbagai bentuk penyiksaan. Salah satu penyebabnya, seperti yang telah dijelaskan dalam Al-Qur`an, adalah karena setan menampakkan “keganasan fanatik” sebagai hal yang benar dan terhormat. Kebanyakan dari kelompok-kelompok yang saat ini mendorong terorisme, atau yang melakukan tindakan sedemikian, telah terperangkap dalam godaan ini dan mendasarkan tindakannya pada pernyataan-pernyataan rasis. Jelaslah dari ayat-ayat berikut betapa besarnya

hasutan-hasutan rasis tersebut melanggar prinsip-prinsip Islam.

“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat taqwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Fat-h [48]: 26)

Perbedaan yang ada pada manusia di dunia diciptakan agar manusia saling mengenal, untuk menjalin hubungan baik satu sama lain, bukan untuk bermusuhan satu dengan yang lainnya. Dalam Al-Qur`an, Allah telah mengungkapkan bahwa ideologi “ras unggul” yang menyebabkan suasana teror yang diinginkan oleh Dajjal, adalah sama sekali palsu. Hanya akhlaq yang lebih baik yang memberikan suatu keunggulan kepada masyarakat, budaya, atau pribadi. Memang, apa pun ras seseorang, apa pun bahasa yang dipakainya, atau apa pun warna kulit mereka, semua itu tidaklah menentukan. Mencoba mengungkit keunggulan atas dasar nilai-nilai tersebut di atas dan melabuhkan perasaan benci terhadap masyarakat lainnya, merupakan akibat dari paham-paham Dajjal. Berikut ini, Allah berfirman bahwa perbedaan antarras merupakan alat untuk menciptakan persahabatan dan pertukaran budaya, dan keunggulan hanya tergantung atas taqwa, dengan kata lain, atas iman dan akhlaq.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (al-Hujuraat [49]: 13)

Setanisme, Teror oleh Setan

Setanisme (Satanism, ajaran setan) adalah ajaran sesat yang menjadikan kekerasan dan kebiadaban sebagai ibadah dalam ajarannya. Pemeluk Setanisme (Satanist), orang-orang yang menyebut dirinya demikian, menjadikan perbuatan tak berperikemanusiaan dan kebrutalan sebagai tindak pemujaan.

Ketika kata Setanisme disebutkan, sebagian besar orang hanya membayangkan penyebaran pengaruhnya atas jiwa kalangan muda dan menganggapnya sebagai gerakan mistis yang tidak begitu penting. Juga, karena pengaruh media massa, mereka mungkin mengira pemeluk Setanisme sebagai orang-orang yang melakukan ibadah aneh, yang tidak dilakukan oleh orang waras dan orang biasa pada umumnya. Memang benar bahwa pemeluk Setanisme merupakan bagian dari budaya kekerasan dan melakukan ibadah yang aneh serta mengerikan, namun yang tidak diketahui oleh sebagian besar orang adalah bahwa Setanisme merupakan paham materialis dan ateis yang mendukung kekerasan dan sudah ada sejak 1800-an. Ideologi tersebut bahkan mempunyai banyak pengikut di seluruh dunia.

Terorisme: Ritual Dajjal

Sejauh ini, kita sudah meninjau macam gerakan Dajjal, sumber terbesar perselisihan di hari-hari menjelang kiamat, kaki tangannya, dan orang-orang seperti apa yang terperangkap olehnya. Dalam bab ini, kita akan membahas terorisme, salah satu penyumbang terjahat dari permasalahan ini.

Walau merupakan salah satu istilah yang paling sering terdengar di dunia saat ini, masih tidak ada kesepakatan tentang pengertian terorisme. Salah satu sebab utamanya adalah karena orang yang dianggap sebagai teroris di satu pihak, di pihak lain dianggap sebagai pejuang kebenaran. Apa pun tujuannya, tidak mungkin menganggap kelompok mana pun yang mengambil cara kekerasan dan menjadikan orang tak bersalah sebagai sasaran, sebagai kebenaran. Pribadi-pribadi atau masyarakat bisa saja menginginkan sesuatu dan keinginan tersebut bisa jadi sah sepenuhnya. Akan tetapi, kekerasan bukanlah cara untuk mencapainya. Kekuatan hanya boleh digunakan untuk pembelaan diri. Dengan alasan itulah, setiap tindak kekerasan yang ditujukan pada orang yang tak bersalah bisa dianggap sebagai tindakan terorisme.

Strategi mendasar dari terorisme adalah penyebaran ketakutan, dan dengan cara tersebut, mereka mendapatkan pengaruhnya. Bukannya mengusahakan agar keinginan mereka tercapai melalui cara yang lebih damai dan masuk akal, kelompok teroris malah memilih kekerasan, yang mereka anggap lebih tepat sasaran. Menurut mereka, makin kejam dan merusak suatu tindak terorisme, semakin berpengaruh pula tindakan tersebut. Dengan kata lain, makin dekatlah mereka dalam mencapai tujuannya.

Teror telah menjadi persoalan besar yang mengganggu banyak negara di dunia saat ini. Kelompok-kelompok yang mengambil jalan kekerasan, dan dengan keliru meyakini bahwa pertentangan bersenjata adalah satu-satunya cara untuk mencapai tujuan mereka, melaksanakan tindakan-tindakan yang membawa kematian dan luka bagi banyak orang.
Salah satu sisi yang paling mengerikan dari terorisme adalah kenyataan bahwa terorisme sama sekali tidak memiliki nilai kemanusiaan dan tidak mengakui aturan apa pun. Orang-orang yang memilih terorisme itu tidak mempunyai cinta, perhatian, belas kasih dan tenggang rasa, dan hanya diperintah oleh perasaan benci, marah, dan dendam. Tanpa disadari, niat orang-orang seperti itu adalah untuk melampiaskan kemarahan mereka dan membalas dendam, tanpa memikirkan lagi akibat perbuatan mereka. Bahwasanya tindakan mereka mungkin akan mengakibatkan kerusakan, sedikit pun tidak menggetarkan nurani mereka. Ini karena nurani orang yang menganggap terorisme sebagai pemecahan, sudah tersumbat, hingga demikian pula akalnya, pertimbangannya, dan pengertiannya.

Sekalipun demikian, menurut akhlaq Al-Qur`an, tidak ada ruang bagi amarah. Allah telah mengungkapkan bahwa selama manusia bertindak atas perasaan sendiri, seperti kemarahan, akan ada penyelewengan dan kekacauan di dunia. Dengan demikian, Allah telah memerintahkan kita untuk sepanjang waktu bersikap tenggang rasa, damai, dan penuh semangat persaudaraan. Ketika manusia terikat oleh akhlaq yang demikian, sistem Dajjal, yang didasarkan pada kekerasan, akan hancur sepenuhnya, teror dan kekacauan akan menghilang, dan keadaan kacau yang saat ini menyelubungi dunia akan berakhir. Dalam sebuah ayat, Allah menganjurkan akhlaq tersebut,

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (al-A’raaf [7]: 199)

Orang-orang yang Terlibat Terorisme atas Nama Agama

Gambar yang berasal dari akhir Abad Pertengahan ini menunjukkan Louis IX bertempur bersama 15.000 tentaranya di tepian Sungai Nil.
Akhlaq agama melarang setiap bentuk terorisme, namun demikian, beberapa kelompok teroris mesih saja menyatakan mereka bertindak atas nama agama. Akan tetapi, jika seseorang melihat lebih dekat pada pandangan orang-orang yang melakukan pembantaian atau menggunakan kekerasan sebagai jalannya, jelaslah bahwa mereka adalah orang-orang yang menyimpang. Mereka tidak mengetahui kebenaran agama dan tidak mampu untuk hidup di dalamnya serta mengerti akhlaq agama. Setiap orang yang benar-benar percaya pada keberadaan Allah, yang sungguh-sungguh takut kepada-Nya, dan bersandar pada kitab yang telah diturunkan-Nya, tidak akan pernah sanggup mengambil segala bentuk tindakan yang bisa menyakiti orang-orang yang tak bersalah dan tidak bisa membela diri. Karena itulah, orang yang melaksanakan tindak terorisme dan kekerasan atas nama Islam, tidak bisa dikatakan sebagai kelompok agama.

Pesan sesungguhnya dari sebuah agama atau sistem pemikiran lainnya acapkali diselewengkan oleh mereka yang menamakan diri sebagai pengikutnya, atau ditafsirkan secara keliru. Hal tersebut berlaku untuk Yudaisme maupun Kristen. Para tentara Perang Salib, sebagai contoh, adalah orang-orang Kristen Eropa yang berangkat dari Eropa pada akhir abad ke-11 dengan tujuan membebaskan Tanah Suci. Mereka mungkin berangkat dengan tujuan agama, tapi nyatanya mereka menyebarkan ketakutan dan kebiadaban ke mana pun mereka pergi.

Kebiadaban mereka, yang menyalahtafsirkan agama Kristen, yang merupakan agama cinta kasih dan tentunya tidak memberikan ruang untuk kekerasan, jelas sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama sejati sama sekali.

Sebagian besar orang yang menggunakan teror atas nama agama merupakan kelompok-kelompok fanatik yang terkait dengan kepercayaan penyembah berhala atau ajaran-ajaran mistik yang baru muncul, yang sama sekali bukan agama wahyu. Kelompok-kelompok ini, terutama di Amerika dan Jepang, melaksanakan tindakan kekerasan yang mengerikan terhadap anggotanya sendiri dan juga orang lain. Termasuk di dalamnya kelompok-kelompok yang membakar diri mereka sampai mati di sebuah tanah pertanian, atau melakukan bunuh diri massal di tempat tidur, atau orang-orang yang menyakiti orang lain dengan melepaskan gas beracun di jaringan terowongan kereta bawah tanah di Jepang. Kelompok lainnya yang mulai menarik perhatian karena tindak terorismenya meliputi kelompok rasis fanatik seperti Ku Klux Klan dan kelompok-kelompok neo-Nazi. Selama lebih dari dua puluh tahun terakhir ini, terlihat adanya peningkatan pemikiran rasis dan fasis di kalangan muda, yang telah menyebabkan makin meningkatnya jumlah tindak kekerasan. Serangan-serangan yang ditujukan terhadap orang-orang Turki di Jerman beberapa tahun lalu, penyiksaan dan penyerangan yang ditujukan kepada orang keturunan Asia dan Afrika di negara-negara Eropa lainnya, dan tindak kekerasan terhadap orang berkulit hitam dan Arab masih terjadi di Amerika Serikat hingga hari ini, semuanya bisa disebutkan di antara cara-cara yang digunakan oleh kelompok seperti itu.

Tidak boleh dilupakan bahwa pada akar semua gerakan-gerakan menyimpang, baik yang dibahas dalam buku ini maupun yang tidak, terdapat kenyataan bahwa orang-orang seperti itu telah berpaling dari akhlaq agama dan telah dibesarkan tanpa pengetahuan yang benar tentang agama. Akhlaq yang umum pada agama Islam, Kristen, dan Yahudi amat bertentangan dengan sistem Dajjal, yang dibangun di atas kekerasan dan kebiadaban. Pada akar agama terdapat cinta, perhatian, dan belas kasih. Allah telah memerintahkan kita untuk memperlakukan sesama dengan adil, tenggang rasa, pengertian, belas kasih, dan rasa hormat. Lebih jauh lagi, manusia diwajibkan bersikap seperti itu tanpa memandang agama, bahasa, ras, atau jenis kelamin dari orang yang dihadapinya. Karena itulah, mustahil terdapat kekerasan di dalam masyarakat tempat akhlaq agama berlaku. Akhlaq agama merupakan satu-satunya sistem yang dapat membimbing manusia ke arah kedamaian dan keamanan. Allah mengungkapkan dalam sebuah ayat,

Serangan terhadap World Trade Center dan Pentagon pada 11 September 2001, dianggap sebagai tindak terorisme terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Perang melawan terorisme, sekali lagi, menjadi prioritas karena tewasnya ribuan orang tak bersalah dalam serangan ini.
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah [2]: 208)

Halaman-halaman berikut berisi beberapa keterangan tentang kelompok dan organisasi yang menganggap kekerasan sebagai hal yang normal dan perlu. Tujuan di balik penulisan bab ini bukanlah untuk memberikan keterangan tentang organisasi-organisasi teroris ini.

Tujuannya adalah mengungkap sistem ideologi Dajjal, yang memperdaya kelompok-kelompok ini hingga menganggap kekerasan sebagai pemecahan masalah, apa pun pahamnya.

Informasi yang diberikan ini amat penting dari sudut pandang penggambaran rumitnya sistem Dajjal, yang saat ini begitu meluas di dunia.

Teror atas Nama Ras

Salah satu bagian dari cerita sampul di majalah Time tahun 1995, adalah peningkatan pesat dalam jumlah organisasi rasis. Artikel ini menggambarkan bagaimana gerakan rasis bergerak di bawah tanah sejak Perang Dunia II, tapi tidak pernah menghentikan kegiatannya; meningkatnya jumlah serangan rasis di tahun-tahun terakhir ini merupakan sebuah petunjuk tentang hal tersebut.
Perang Dunia II adalah kegilaan yang dipicu oleh ideologi rasis dan fasis. Kekerasan dan pertentangan, nilai yang dianggap suci oleh paham-paham ini, dengan cepat merasuki seluruh dunia, menyebabkan kematian 55 juta korban karena kebiadaban fasis. Walaupun pada kenyataannya kemenangan bisa diraih Sekutu yang berarti fasisme berhasil dikalahkan, fasisme tidak menghilang. Dia hanya bersembunyi di bawah permukaan. Secara keseluruhan, telah terjadi peningkatan yang cukup nyata dalam jumlah organisasi rasis dan fasis serta tindak kekerasan di dunia selama sepuluh tahun terakhir. Sementara Eropa mesti berperang dengan tindak kekerasan yang dilanjutkan oleh gerakan neo-Nazi, Amerika Serikat harus berurusan dengan kebangkitan Ku Klux Klan dan organisasi “keunggulan kulit putih” semacam itu. Saat ini, baik neo-Nazi maupun anggota Ku Klux Klan tengah melancarkan serangan dan mendorong anggotanya untuk melakukan tindakan teror dan kekerasan.

Banyak orang mungkin membayangkan bahwa Ku Klux Klan melakukan sebagian besar serangan dan penindasan terhadap orang berkulit hitam hanya pada 1920-an dan 1930-an, tapi kenyataan itu sudah masuk keranjang sampah sejarah di zaman modern ini. Kelompok Klan masih hidup. Saat ini, di seluruh Amerika Serikat, terdapat banyak sekali gereja Ku Klux Klan, bahkan dengan nama yang berbeda, dan banyak organisasi rasis yang terkait dengan ajaran-ajaran gereja tersebut. Gereja dan organisasi yang terkait dengannya itu tidak hanya bermusuhan dengan orang berkulit hitam, tetapi juga memusuhi semua ras bukan Eropa, terutama muslimin yang tinggal di Amerika, dengan memercayai perlunya suatu kerja sama dalam perjuangan untuk melawan ras-ras tersebut. “Perjuangan” tersebut meliputi pembentukan satuan-satuan bersenjata.

Bukan rahasia lagi bahwa dasar ajaran-ajaran Klan adalah bahwa ras kulit putih Eropa lebih unggul daripada semua ras lainnya, dan bahwa ras kulit putih tidak boleh dikotori oleh ras lainnya. Dalam rangka mencegah pencemaran seperti itu, ras lainnya tidak boleh diizinkan hidup di wilayah ras kulit putih. Pemikirannya adalah bahwa ras lain tidak punya hak untuk setiap bentuk kesempatan yang dinikmati oleh ras kulit putih. Ras-ras ini dianggap sebagai hama yang mencoba mencemari kemurnian dan keunggulan ras kulit putih, dan mereka percaya bahwa segala tindakan yang perlu harus dilakukan untuk melawannya. Pandangan Klan inilah yang menjadi dasar dari serangan-serangan yang dilakukan terhadap ras lain di Amerika. Pada akar pemikiran ini terdapat kebencian dan agresi, dan bukannya cinta, tenggang rasa, dan musyawarah.

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (al-A�raaf [7]: 199)

Warga Turki telah menderita di tangan gerakan rasis yang makin meningkatkan kegiatannya di Jerman. Rumah-rumah imigran Turki dijarah, dibakar, dan orang di dalamnya terbakar hidup-hidup oleh monster-monster yang kepalanya dipenuhi dengan ajaran-ajaran rasis.
Yang sering dikemukakan sebagai pembenaran ilmiah untuk pemikiran tentang keunggulan ras kulit putih adalah teori evolusi Darwin. Darwin telah mengemukakan bahwa ras tertentu, ras Eropa contohnya, telah berkembang melebihi ras lainnya selama proses evolusi. Mereka yang berada di luar ras yang maju ini, dalam pandangannya, merupakan makhluk primitif yang hanya sedikit lebih baik dari kera. Dengan kata lain, sementara beberapa ras telah melangkah jauh dalam proses evolusi, yang lain tidak beranjak jauh dari moyang primitif manusia: kera. Darwin telah tenggelam dalam prasangka berdasar ras tentang masa depan dan menulis,

“Di masa mendatang, yang tidak begitu lama jika diukur dalam abad, ras-ras beradab manusia hampir bisa dipastikan akan memusnahkan, dan menggantikan, ras-ras biadab di seluruh dunia. Pada waktu yang sama, kera anthropomorphous (seperti manusia),… tak disangsikan lagi telah dipunahkan. Jarak antara manusia dan sepupu terdekatnya dengan demikian makin melebar.”(15)

Pandangan rasis Darwin ini telah menjadi pembenaran penting yang dipakai oleh kekuatan penjajahan pada masa itu untuk menyamarkan kebrutalan mereka. Pernyataan yang dikedepankan oleh Darwin menggambarkan teorinya begitu menarik dari sudut pandang pengungkapan pengabaian dan prasangkanya. Dalam sebuah surat kepada seorang ilmuwan bernama W.Graham di tahun 1881, Darwin menyebut bangsa Turki sebagai bukti dari teorinya. Menurut omong kosong Darwin ini, bangsa Turki adalah salah satu bangsa terbelakang yang akan segera lenyap,

“Saya bisa menunjukkan perjuangan dalam seleksi alamiah yang telah terjadi dan telah memberi kemajuan bagi peradaban melebihi dari yang mungkin Anda akui. Ingatlah bahaya yang dialami bangsa Eropa, hanya beberapa abad yang lalu ketika hampir dikuasai oleh orang-orang Turki, dan betapa anehnya pikiran seperti itu sekarang! Ras Kaukasus yang lebih beradab telah memukul bangsa Turki dalam perjuangan hidup dan mati. Dengan melihat dunia, tak lama lagi nanti, betapa banyak ras rendah yang akan dimusnahkan oleh ras yang lebih beradab di seluruh dunia.”(16)

Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. (al-Mu`minuun [23]: 96)

Bahkan saat ini, kita masih mendengar tentang gereja orang kulit hitam di berbagai negara bagian Amerika yang dibakar, tentang serangan terhadap masjid dan sinagog, dan serangan terhadap anggota ras yang lain. Menyusul serangan teroris terhadap World Trade Center pada 11 September 2001, khususnya, lingkaran tertentu yang telah terpengaruh dan berbagai organisasi sejenis telah meningkatkan serangannya. Tempat usaha, masjid, dan organisasi muslim di beberapa negara bagian diserang. Pelajar muslim tidak diperbolehkan pergi ke sekolah dan anak-anak muslim diserang di jalan-jalan. Setiap orang yang tidak kehilangan akal sehat dan pikiran yang jernih, tentu tahu bahwa dunia Islam dan muslim sipil yang tidak bersalah, khususnya anak-anak, tidak bisa dianggap bertanggung jawab atas serangan yang kejam ini. (Kenyataannya, menyusul serangan 11 September, telah bangkit reaksi yang cukup mencolok dari orang-orang yang memiliki kecerdasan dan akal sehat, yang mulai memperhatikan Islam. Juga terdapat peningkatan dalam jumlah orang yang pindah agama menjadi Islam). Di pihak lain, keadaan ini hanyalah merupakan satu petunjuk tentang bahaya yang bisa ditimbulkan oleh didorongnya kebencian yang didasarkan atas ras dan kepercayaan.

Namun begitu, anggota Klan tentunya tidak setuju. Mereka sedang sibuk menyiapkan perang besar antarras, yang mereka percayai akan terjadi pada abad ke-21 ini.

Menyusul serangan 11 September terhadap World Trade Center, terlihat peningkatan serangan-serangan bersifat rasis di Amerika, tempat rasisme menyebar luas selama tahun 1990-an. Orang-orang tak bersalah kehilangan nyawa dalam serangan-serangan ini, yang ditujukan pada rumah-rumah muslimin, tempat-tempat kerja dan sekolah, dengan cara yang sama seperti pada serangan terhadap World Trade Center.

Bentuk Pertentangan Ras di Amerika

Ku Klux Klan didirikan pada tahun 1870 dan menjadi amat kuat di Amerika ketika bangkitnya Perang Dunia I. Pada 1920-an, Klan mempunyai sekitar 3-4 juta anggota.(17)

Seperti semua ideologi rasis lainnya, akar paham dan ajaran Klan, yang dimulai dengan pernyataan bahwa “kami akan membantai musuh-musuh kami ketika perang untuk melindungi ras kulit putih dimulai”, merupakan pandangan bahwa ras kulit putih menduduki tempat teratas pada garis evolusi, sedangkan ras lainnya diletakkan lebih rendah di bawah, yang menyebabkan mereka mendapatkan perlakuan tidak manusiawi. Banyak sekali jumlah orang di Amerika yang masih berpegang pada pandangan ini. Bisa dikatakan bahwa kelompok-kelompok ini, yang dikelola dengan nama-nama berbeda, seperti National Alliance (Aliansi Nasional), the World Church of the Creator (Gereja Dunia Sang Pencipta) dan Arian Nation (Bangsa Aria), sebenarnya beroperasi di bawah payung Ku Klux Klan.

Persamaan hal terpenting dari pandangan organisasi-organisasi ini, yang beberapa di antaranya akan dibahas di bawah ini, adalah bahwa mereka tidak mempunyai keraguan atas penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuannya, dan justru sering menganggap kekerasan dan penyerangan perlu dilakukan.

World Church of the Creator (WCOTC)

Lambang-lambang dan semboyan yang digunakan oleh kelompok-kelompok rasis yang aktif di Amerika Serikat, dengan jelas menyingkap kecenderungan kekerasan dari organisasi-organisasi ini. �Pembersihan Etnis� dalam gambar di bawah ini dijadikan sebuah permainan komputer yang diperuntukkan bagi kalangan muda rasis. Cara memenangkan permainan ini adalah dengan membunuh sebanyak mungkin orang dari ras yang berbeda.
WCOTC merupakan salah satu dari organisasi rasis di Amerika yang semakin kuat dari hari ke hari. Organisasi menyimpang ini mengingkari keberadaan Tuhan, hari akhir, surga dan neraka, dan juga mempunyai banyak pengikut di luar Amerika. Pemikiran keunggulan ras kulit putih menjadi dasar ideologi organisasi ini. Dalam situs internetnya, Ben Klassen, pendiri kelompok rasis ini, berkata tentang ideologi mereka,

“Tujuan dari (agama kami) adalah: Kelangsungan Hidup, Perluasan dan Kemajuan Ras Kulit Putih. (Agama kami) didasarkan atas cinta: cinta pada ras kulit putih…. Dengan demikian, kami menolak… malaikat dan setan dan dewa-dewa….

Golden Rule kami secara singkat dapat disimpulkan sebagai berikut. Bahwa apa yang baik untuk ras kulit putih merupakan pahala tertinggi; apa yang buruk untuk ras kulit putih merupakan dosa terbesar…. Alam memberi tahu kita untuk peduli pada jenis kita sendiri dan hanya jenis kita sendiri. Kami tidak menganggap ras lumpur sebagai bagian dari jenis kami…. Negro, tak pelak lagi, berada pada dasar terendah dari tangga, tidak jauh di atas monyet dan simpanse…. Kami tidak punya niat menolong ras lumpur untuk sejahtera, berkembang biak, dan menyesaki kami dalam tempat terbatas di planet ini.”(18)

Pemikiran jahat ini, seperti yang kita lihat, telah diperlakukan sebagai agama oleh para pengikutnya; para anggotanya mengamini hal itu sepenuhnya. Namun begitu, tentunya, sama sekali tak berdasar untuk menyebut kejahatan seperti ini sebagai sebuah agama. Akan lebih tepat jika kita namakan hal tersebut sebuah nama lain dari Darwinisme Sosial, yang ajaran utamanya adalah perjuangan di masa depan melawan ras lainnya. Pernyataan itu sebenarnya telah dinyatakan dengan semboyan “Rahowa” (Racial Holy War/Perang Suci Rasial) dan telah dianggap sebagai nilai inti oleh kelompok tersebut. Dalam pidato lainnya, Ben Klassen memberitahukan kepada pengikut-pengikutnya apa makna Rahowa sebenarnya dan tidak ragu untuk mengajak mereka mengangkat senjata,

“RAHOWA! Dalam satu kata ini, kita merangkul seluruh tujuan dan program, tidak hanya Church of the Creator, tetapi juga seluruh ras kulit putih, dan inilah dia: kita menerima tantangan. Kita bersiap untuk perang total melawan Yahudi dan seluruh ras lumpur bedebah di dunia, secara politik, militer, keuangan, moral, maupun agama. Memang kita menganggap hal itu sebagai jantung dari ajaran agama kita dan ajaran yang paling suci dari segalanya. Kita menganggapnya sebagai perang suci hingga akhir: sebuah perang suci demi ras kita.”(19)

Perang yang dinanti-nantikan antarras merupakan salah satu tujuan utama dari organisasi Klan. Hal tersebut ditekankan dalam hampir setiap pertemuan. Selama pidato, anggota Klan dipenuhi dengan gairah untuk berperang, dan banyak petunjuk ke arah itu dimuat dalam tulisan-tulisan mereka. Hasutan ke arah perang ini, yang saat ini sudah mencapai kedudukan mistis di antara mereka, sering dapat dilihat dalam terbitan-terbitan Klan. Sebagai contoh, jurnal Knight-Ridder, yang meliput pertemuan nasional di Kolombia, menyebutkan kalimat-kalimat berikut.

Ben Klassen
“King adalah pemimpin dari Christian Knights (Ksatria-Ksatria Kristen), yang mengidamkan kebangkitan Ku Klux Klan… Dia menunjuk ke arah jalan tempat dia dan seorang temannya menghiasi halaman depan mereka dengan patung berjubah Klan. Dia berkata, ‘Perang ras akan datang. Klan merupakan satu-satunya harapan bagi ras kulit putih.'”(20)

Seperti kebanyakan organisasi rasis, Rahowa didirikan atas kepercayaan evolusi. Tingkat permusuhan terhadap ras lain seperti itu dan tidak adanya penyesalan atas penggunaan kekerasan sebagai jalannya, semuanya merupakan akibat kepercayaan pada teori evolusi. Tidak ada yang bisa mencegah seseorang yang menganggap orang lain sebagai binatang untuk menyiksa, menyerang, dan jika perlu membunuh orang tersebut.

Pernyataan Matt Hale berikut ini, yang menjadi pemimpin organisasi setelah Ben Klassen, merupakan salah satu contoh dekatnya hubungan antara pemikiran yang mereka perlakukan seperti agama dan kepercayaan pada evolusi.

“Tapi kita memang binatang. Itulah masalahnya. Kita tidak menerima pemikiran bahwa karena kita bisa berpikir dan berbicara dan berjalan di atas dua kaki lalu kita tidak terikat dengan hukum-hukum alam. Kita memang terikat.”(21)

Kata-kata ini merupakan sebuah petunjuk tentang keanehan, pandangan berbeda organisasi ini tentang agama. Tentunya, agama tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan Kristen, yang menganjurkan kerendahan hati, cinta, dan tenggang rasa. Dan, para pemimpin organisasi tersebut tidak ragu untuk mengakui kenyataan ini. Berikut merupakan kutipan dari wawancara Matt Hale yang menyimpulkan dengan baik pandangan mereka tentang agama.

Matt Hale
“(Kita tidak butuh) agama seperti Kristen, yang menyuruh manusia untuk mencintai musuh-musuhnya, mencintai yang tak berdaya dan lemah. Kita butuh agama yang meninggikan rakyat kita dan hanya rakyat kita sendiri…. Jadi, kita perlu mengakui hal ini dan menyingkirkan pemikiran bahwa semua manusia diciptakan sederajat dan pernyataan tolol semacam itu…. Apa yang kita percayai untuk dilakukan adalah mengakhiri segala bantuan kepada semua yang bukan ras kulit putih. Kita percaya bahwa tanpa bantuan ini, orang yang bukan ras kulit putih akan dengan cepat menyusut jumlahnya. Mereka tidak bisa memberi makan diri mereka sendiri…. Kita percaya bahwa sebuah dunia sempurna akan lebih dimungkinkan tercapai dengan hanya berisikan ras kulit putih, persaudaraan ras kulit putih di seluruh dunia. Kita pun percaya bahwa ketika ras bukan kulit putih telah disingkirkan dan ras kulit putih telah dipersatukan dengan ajaran yang mendukung hidup dan kehidupan seperti ajaran Creativity, akan ada perdamaian dan kemakmuran untuk rakyat kulit putih kita.”(22)

Orang-orang yang menyatakan keunggulan satu ras dan memercayai bahwa sifat-sifat mereka membuat mereka lebih unggul dari yang lain, sedang melupakan satu kenyataan penting: tidak satu pun nilai-nilai tersebut yang abadi. Setiap manusia, beriman atau kafir, cepat atau lambat akan mati, meninggalkan semua yang dia miliki di dunia ini, dan mempertanggungjawabkan dirinya ke hadapan Tuhan. Pada hari itu, tidak seorang pun akan mampu menolong yang lain, tidak ada ras, warna kulit, atau nenek moyang yang punya nilai walau sedikit, tidak ada miliknya di dunia yang akan memberi manfaat baginya walau sedikit, dan tidak seorang pun akan mampu memberikan alasan untuk membenarkan tindakannya. Allah menggambarkannya dalam sebuah ayat,

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya.” (al-Mu`minuun [23]: 101)

Ajaran-Ajaran Klan

Tulisan berikut diambil dari sebuah pidato Matt Hale pada sebuah pertemuan Klan tanggal 14 Januari 2001.

-Mengutarakan persamaan ras adalah penghinaan untuk ras kita.

-Kita memandang hina dan membenci penyatuan, perkawinan antarras, dan membanjirnya kedatangan ras bukan kulit putih ke negara ini.

-Perkawinan antarras adalah dosa terhadap masyarakat kita.

-Gerakan Hak-Hak Sipil adalah keliru bagi kita. Hal itu keliru untuk kepentingan kita.

-Ras kulit putih dalam hal kecerdasan lebih unggul dari semua ras lainnya.

-Saat kemenangan kita tiba, saat kita berkuasa di dunia ini seperti yang kita inginkan, seperti yang akan kita alami, pastilah kita akan memberi pertolongan terbaik untuk ras kita, yang terpandai di antara ras kita untuk memiliki keturunan terbanyak.

-Masa depan akan menjadi masa ketika kita memiliki tanah yang putih dan kita akan mengusir ras lainnya.

-Mereka akan didorong dengan paksa ke dalam perahu pengungsi, dengan sah menurut hukum! Itulah yang akan menjadi hukum.

-Ras bukan putih sama sekali tidak ada artinya. Jika mereka tergeletak dalam kolam darah, itu pun sama sekali tak ada artinya. Apa yang saya pedulikan adalah ras dari keluarga saya sendiri.

-Otak yang membuat ras berbeda. Tiap ras memiliki bentuk dan ukuran otak yang berbeda.

-Tentang mengapa kebanyakan pembunuh berantai berkulit putih…. Orang kulit putih merencanakan apa yang mereka kerjakan. Orang kulit putih sungguh-sungguh berpikir. Kebanyakan kejahatan yang dilakukan orang kulit hitam merupakan tindakan spontan. Orang kulit putih berpikir tentang kejahatan yang akan dilakukannya. Orang kulit putih terlibat jenis kejahatan tersebut karena hal tersebut memerlukan banyak perencanaan.(23)

-Kata-kata ini dengan jelas mengungkapkan cara berpikir anggota Klan. Jenis mental seperti inilah yang memungkinkan bahkan tindakan pembunuhan berantai pun menjadi sumber kebanggaan dan kebiadaban dibenarkan atas nama keunggulan ras.

The National Alliance

Salah satu organisasi fasis yang mendapat dukungan dari kalangan muda di Amerika adalah The National Alliance (Aliansi Nasional). Organisasi ini awalnya didirikan pada tahun 1970 oleh Dr. William Pierce, seorang dosen muda bidang fisika pada Oregon State University, dengan nama The National Youth Alliance (Aliansi Pemuda Nasional). Cirinya yang menonjol adalah menjadikan perguruan tinggi dan universitas sebagai sasaran. Umur keanggotaan dibatasi di bawah tiga puluh tahun. Namun selanjutnya, batasan umur dihapuskan dan sebuah organisasi baru diciptakan dengan nama The National Alliance. Salah satu tujuan utama organisasi ini adalah menekankan sangat pentingnya mendidik pemuda dengan pemikiran-pemikiran rasis. Hal itu, dipercayai, akan memungkinkan munculnya generasi mendatang yang punya kesadaran akan keunggulan ras mereka. Seperti semua organisasi rasis lainnya, The National Alliance bertujuan untuk mempertahankan keunggulan ras kulit putih dalam keadaan apa pun. Dr. Pierce merangkum tujuan-tujuan ini dalam sebuah wawancara dengannya pada tahun 1997,

“Pada akhirnya, kita harus memisahkan diri kita dari orang-orang kulit hitam dan orang-orang bukan kulit putih lainnya, dan mempertahankan agar kita tetap terpisah, tak peduli apa pun yang diperlukan untuk mencapai hal itu…. Pada akhirnya, kita harus mengejar mereka dan menyingkirkan mereka.”(24)

Hal itu, tentu saja, bukanlah satu-satunya kemiripan antara The National Alliance dengan organisasi fasis lainnya. Seperti halnya dengan orang-orang yang percaya pada teori evolusi, hal tersebut juga tampak jelas pada The National Alliance. Tak peduli berapa banyak anggota organisasi yang mengaku taat beragama, pernyataan-pernyataan mereka mengungkapkan bahwa kepercayaan mereka benar-benar bertentangan dengan agama. Secara umum, pernyataan mereka adalah sebagai berikut.

Dr. William Pierce
“Kami melihat diri kami sebagai bagian tak terpisahkan dengan kesatuan dunia di sekeliling kami, yang berputar sesuai dengan hukum alam. Dengan kata paling sederhana: Hanya ada satu kenyataan, yang kami namakan Alam:… Kami adalah bagian dari alam dan berada di bawah hukum-hukum alam. Dalam cakupan hukum-hukum inilah, kami bisa menentukan nasib kami sendiri…. Dengan kata lain, kami sendirilah yang bertanggung jawab atas segala hal, dan untuk itu kami memiliki kekuatan untuk memilih: khususnya, dalam lingkungan kami dan untuk masa depan ras kami. Pandangan ini mungkin berlawanan dengan pandangan Yahudi.”(25)

Seperti yang telah kita lihat, penggunaan prinsip-prinsip agama dalam pidato-pidato oleh kelompok rasis dan fasis, dan usaha mereka untuk menampilkan diri mereka sebagai orang yang hidup dengan moral agama, adalah sekadar taktik tipuan. Penelitian oleh sosiolog dan akademisi menegaskan kenyataan ini. Salah seorang akademisi itu adalah Jack Levin, direktur studi tentang Kekerasan dan Pertentangan Sosial pada Boston’s Northeastern University. Levin menyatakan bahwa alasan kelompok-kelompok ini menggunakan sumber-sumber Alkitab adalah untuk “memberikan sebuah citra kebenaran agama” untuk pesan-pesan mereka yang penuh kebencian.(26)

Neo-Nazisme: Sebuah Ideologi yang Didasarkan pada Kekerasan dan Teror

Sementara kelompok-kelompok rasis dan anti-perbedaan di Amerika bersatu di bawah payung Ku Klux Klan, neo-Nazi mengambil peran serupa di Eropa. Rasisme Eropa dimulai dengan orang-orang keras kepala di Inggris, yang kemudian berubah menjadi gerakan neo-Nazi di tahun 1990-an. Ciri utama dari kelompok yang menamakan diri mereka sebagai neo-Nazi adalah, seperti juga Ku Klux Klan, mereka menyatakan keunggulan ras kulit putih dan menyerang orang-orang asing dan orang-orang yang tinggal di lingkungan miskin.

Gerakan neo-Nazi telah tumbuh semakin kuat dalam sepuluh tahun terakhir ini dan lingkup pengaruh mereka makin meluas. Anggota mereka saat ini berjumlah sekitar 70.000 orang. Neo-Nazi telah menetapkan berbagai sasaran mereka di negara-negara yang berbeda. Menurut sebuah penelitian, orang-orang Turki di Jerman, Gipsi di Hungaria, Slowakia dan Republik Ceko, orang-orang Asia di Inggris, orang-orang Afrika Utara di Prancis, dan orang-orang Timur Laut di Brazil, adalah di antara orang-orang yang sudah tercatat sebagai korban. Ciri-ciri menonjol neo-Nazi adalah kekerasan, kebencian, penggunaan ancaman, dan pengrusakan.

Menurut catatan resmi di Jerman, pada tahun 1997 saja terjadi 10.037 kali kejadian yang terkait dengan rasisme dan anti-ras lain. Angka ini pada tahun 2000 mencapai lebih dari 10.000 kali. Di Inggris, terjadi 10.982 kejadian yang terkait rasisme pada periode antara April dan September saja. Lebih dari separuh dari kejahatan ini meliputi ancaman, gangguan, dan intimidasi. Sisanya terdiri atas pembunuhan, penyerangan, pengrusakan rumah dan usaha, dan lain-lain.

Buku The Turner Diaries dan Hunter, ditulis oleh William Pierce dengan nama samaran Andrew Mcdonald, salah seorang pemimpin National Alliance, merupakan sumber inspirasi yang penting bagi kalangan rasis di seluruh dunia. The Turner Diaries menceritakan bagaimana seorang rasis sendirian mengebom markas FBI. Pahlawan dalam buku Hunter membunuh orang Yahudi dan orang-orang minoritas lainnya.
Louis Beam dam William Pierce, pengemuka paham ekstrem kanan Amerika, saling mendukung pada posisi yang penting dalam gerakan neo-Nazi yang berkembang selama 1990-an. Pemikiran seperti “perlawanan tanpa pimpinan” dan “revolusi putih” yang dikemukakan kedua orang ini sekarang telah menguasai pemikiran dari gerakan neo-Nazi. Pada akar dari berbagai tindakan teror, seperti pengeboman, penjarahan, dan pengrusakan tempat-tempat kerja di berbagai negara di dunia, selalu dapat ditemukan pemikiran mereka tentang “perlawanan tanpa pimpinan”. Menurut pemikiran mereka, tindakan neo-Nazi harus dilaksanakan atas dasar gerakan perorangan dan kelompok-kelompok kecil.

Buku Hunter dan The Turner Diaries yang ditulis oleh William Pierce telah dianggap sebagai sumber ilham utama di balik teror neo-Nazi. Selebaran A Practical Guide to Aryan Revolution oleh Gerakan Nasionalis Sosialis Prancis, yang mengambil buku-buku tersebut sebagai dasar teorinya, berisikan semua keterangan yang diperlukan seorang neo-Nazi. Selebaran ini merupakan buku panduan teroris yang rinci, yang terbagi dalam bab-bab yang berjudul seperti Metode Aksi Langsung Terselubung, Pelarian dan Persembunyian, Pembunuhan, Teror Bom, Sabotase, Perang Ras, Bagaimana Menciptakan Keadaan Revolusi, Peraturan Pertempuran: Aturan Tentang Perilaku Prajurit dari Tentara Pembebasan Bangsa Arya.(27)

Meskipun mereka tidak berperan giat dalam kelompok-kelompok ini, banyak orang yang justru mendukung fasisme dan terpengaruh oleh buku-buku ini. The Turner Diaries, misalnya, menggambarkan tentang bagaimana sebuah kelompok bawah tanah mengorganisir diri dalam melawan negara dan kegiatan apa yang mereka lakukan. Dalam pembelaannya, seorang pria bernama John William King, yang membunuh seorang pria berkulit hitam bernama James Byrd Jr. di tahun 1998 dengan mengikat dan menyeretnya di belakang mobil pick-up, dilaporkan telah menyatakan, “Kami akan memulai The Turner Diaries lebih dini.”(28)

Menyusul pemboman Oklahoma 1993 oleh Timothy McVeigh, perhatian beralih kepada buku William Pierce, Hunter, di mana di dalamnya Pierce menggambarkan tindakan seorang pengebom yang bertindak sendirian. Pahlawan dalam buku ini tidak mendapat dukungan dari kelompok atau organisasi mana pun, tapi dengan sadar melaksanakan serangan teroris sendirian, seperti yang telah dilakukan oleh Timothy McVeigh.(29)

Ideologi neo-Nazi, yang bergerak pesat kembali di seluruh dunia dalam tahun-tahun terakhir, mengubah anggotanya menjadi orang yang menikmati kekerasan dan pertumpahan darah. Gerakan neo-Nazi memikat anggota masyarakat yang apatis dan tetap menjadi ancaman di banyak negara.

Pengebom Oklahoma adalah Seorang Neo-Nazi

Hingga 11 September 2001, serangan teroris terburuk yang pernah disaksikan orang Amerika adalah serangan pada Gedung Federal di Oklahoma oleh Timothy McVeigh, yang mengakibatkan 168 orang kehilangan nyawa, termasuk sejumlah anak-anak. Yang menarik dari pengeboman ini adalah Timothy McVeigh merupakan anggota dari sebuah aliran pemujaan sesat dan juga seorang neo-Nazi.

McVeigh menyatakan bahwa pengeboman itu merupakan pembalasan atas David Koresh dan pengikutnya yang terbakar sampai mati di sebuah pertanian pada 1993. Menurut McVeigh, Koresh dan anggota aliran pemujaan tersebut tidaklah bunuh diri, tetapi dibunuh oleh negara Amerika sendiri. Karena itulah, dia memutuskan untuk membalas dendam terhadap negara dan berencana mengebom orang-orang yang bekerja atas nama negara di Gedung Federal. Tepat dua tahun setelah kematian Koresh dan pengikut aliran pemujaannya, pada peringatan tahun kedua kejadian itu, McVeigh dengan darah dingin memarkir kendaraan gandeng penuh bahan peledak di depan Gedung Federal dan selanjutnya telah tercatat dalam sejarah. Setelah serangan, McVeigh ditolong oleh seorang neo-Nazi lainnya, Terry Nichols. Kenyataan terpenting dari terungkapnya orang-orang yang membantu Nichols dan McVeigh sebelum penyerangan, yang membantu pengadaan bahan peledak dan mengetahui apa yang direncanakan McVeigh, adalah bahwa mereka semuanya pengikut neo-Nazi.

Sesaat sebelum hukuman matinya, McVeigh mengirimkan sebuah surat kepada The Buffalo News yang di dalamnya ia berkata tidak menyesali pengeboman itu, yang ia pandang sebagai sebuah “taktik yang sah” dalam perang pribadinya melawan pemerintahan federal. Serangan tersebut, akibat terganggunya jiwanya, sekali lagi merupakan petunjuk jelas tentang betapa hebat kerusakan yang ditimbulkan oleh gerakan yang sedang kita bahas terhadap perorangan maupun masyarakat.(30)

Pengeboman di Oklahoma oleh Timothy McVeigh menjadi sampul majalah Time. Gambar di halaman samping dan di sebelahnya memperlihatkan pemandangan setelah serangan.
Seperti yang telah dapat kita ketahui dari banyak contoh, orang-orang yang terperangkap di dalam sistem Dajjal percaya bahwa adalah hal yang sangat dapat dibenarkan jika kita membedakan manusia atas dasar ras, bahasa, dan jenis kelamin, dan melakukan kebrutalan terhadap mereka. Bahkan, membeda-bedakan antarmasyarakat itu bisa berubah menjadi sejenis perbuatan membabi buta yang mengarah pada perang dan penghancuran. Orang-orang diserang hanya karena bahasa, agama atau ras mereka, dan tanpa sebab harus menderita berbagai bentuk penyiksaan. Salah satu penyebabnya, seperti yang telah dijelaskan dalam Al-Qur`an, adalah karena setan menampakkan “keganasan fanatik” sebagai hal yang benar dan terhormat. Kebanyakan dari kelompok-kelompok yang saat ini mendorong terorisme, atau yang melakukan tindakan sedemikian, telah terperangkap dalam godaan ini dan mendasarkan tindakannya pada pernyataan-pernyataan rasis. Jelaslah dari ayat-ayat berikut betapa besarnya

hasutan-hasutan rasis tersebut melanggar prinsip-prinsip Islam.

“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat taqwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Fat-h [48]: 26)

Perbedaan yang ada pada manusia di dunia diciptakan agar manusia saling mengenal, untuk menjalin hubungan baik satu sama lain, bukan untuk bermusuhan satu dengan yang lainnya. Dalam Al-Qur`an, Allah telah mengungkapkan bahwa ideologi “ras unggul” yang menyebabkan suasana teror yang diinginkan oleh Dajjal, adalah sama sekali palsu. Hanya akhlaq yang lebih baik yang memberikan suatu keunggulan kepada masyarakat, budaya, atau pribadi. Memang, apa pun ras seseorang, apa pun bahasa yang dipakainya, atau apa pun warna kulit mereka, semua itu tidaklah menentukan. Mencoba mengungkit keunggulan atas dasar nilai-nilai tersebut di atas dan melabuhkan perasaan benci terhadap masyarakat lainnya, merupakan akibat dari paham-paham Dajjal. Berikut ini, Allah berfirman bahwa perbedaan antarras merupakan alat untuk menciptakan persahabatan dan pertukaran budaya, dan keunggulan hanya tergantung atas taqwa, dengan kata lain, atas iman dan akhlaq.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (al-Hujuraat [49]: 13)

Setanisme, Teror oleh Setan

Setanisme (Satanism, ajaran setan) adalah ajaran sesat yang menjadikan kekerasan dan kebiadaban sebagai ibadah dalam ajarannya. Pemeluk Setanisme (Satanist), orang-orang yang menyebut dirinya demikian, menjadikan perbuatan tak berperikemanusiaan dan kebrutalan sebagai tindak pemujaan.

Ketika kata Setanisme disebutkan, sebagian besar orang hanya membayangkan penyebaran pengaruhnya atas jiwa kalangan muda dan menganggapnya sebagai gerakan mistis yang tidak begitu penting. Juga, karena pengaruh media massa, mereka mungkin mengira pemeluk Setanisme sebagai orang-orang yang melakukan ibadah aneh, yang tidak dilakukan oleh orang waras dan orang biasa pada umumnya. Memang benar bahwa pemeluk Setanisme merupakan bagian dari budaya kekerasan dan melakukan ibadah yang aneh serta mengerikan, namun yang tidak diketahui oleh sebagian besar orang adalah bahwa Setanisme merupakan paham materialis dan ateis yang mendukung kekerasan dan sudah ada sejak 1800-an. Ideologi tersebut bahkan mempunyai banyak pengikut di seluruh dunia.

Prinsip utama Setanisme adalah penolakannya terhadap semua nilai agama, mengambil setan sebagai tuhannya, dan menyatakan bahwa neraka merupakan suatu jalan keselamatan. Menurut kepercayaan Setanisme, manusia tidak punya kewajiban selain dari memuaskan hasratnya sendiri. Jika hasratnya mengarahkan dirinya pada kemarahan, kebencian, dendam, tipu daya, pencurian, dan menyakiti orang lain atau bahkan pembunuhan, hal tersebut lumrah. Jalan pikiran dasar Setanisme bersandar pada (yang mendukung kepercayaan tersebut) pernyataan bahwa penghindaran kejahatan merupakan bentuk ketidakjujuran. Dengan kata lain, kepercayaan sesat ini percaya jika hasrat seseorang mendorong dirinya untuk membunuh orang lain dan jika dia bertindak menuruti dorongan itu, dia telah bertindak jujur.

Kebaikan, seperti cinta, tenggang rasa, kesabaran, dan sifat pemaaf, yang sangat dihormati oleh sebagian besar manusia dan merupakan bagian dari moral yang benar, justru dibenci oleh penganut Setanisme. Ideologi menyimpang ini menyatakan bahwa tidak boleh ada pembatasan atas kejahatan dan perasaan seperti kebencian, kemarahan, dan dendam. Pasal 5 dari The Satanic Bible, yang diterima secara luas sebagai buku acuan Setanisme, menyatakan–bertolak belakang dengan prinsip Alkitab yang mengatakan “kepada orang yang menampar pipi kirimu, berikan juga pipi kananmu”–bahwa “setan menyukai pembalasan dendam, bukan menyerahkan pipi kananmu”. Di bagian lain buku tersebut terdapat perintah,

“Bencilah musuhmu dengan sepenuh hati, dan jika seseorang menamparmu di pipi kirimu, HAJAR dia di pipi kanannya.”(31)

Jelaslah bahwa menurut pemikiran seperti itu, akan mustahil untuk mencegah setiap bentuk kejahatan. Suasana seperti ini tak pelak lagi akan mengarah kepada kekacauan dan perselisihan. Mustahil berbicara tentang ketertiban, ketenangan dan keamanan, maaf-memaafkan, atau tenggang rasa dalam masyarakat yang orang-orangnya tidak mendengarkan suara nurani mereka sehingga tidak bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan, atau menggunakan kehendak dan keputusannya untuk melakukan kebajikan. Dalam lingkungan seperti itu, seseorang yang merasakan kemarahan terhadap orang lain, ia tidak akan mampu menahan amarah dan bersikap tidak berlebihan, dan akhirnya akan berusaha membalaskan dendamnya. Atau, daripada bersikap sabar dalam keadaan sulit dan miskin, dan mencoba mengatasi masalah menurut akal sehat, orang-orang ini malah memilih pencurian dan tindak kejahatan lainnya. Setanisme merupakan pembenaran mereka dalam melakukan hal tersebut.

Jenis masyarakat yang diinginkan oleh ideologi Setanisme tidak mengenal aturan dan batasan. Tujuannya adalah kebebasan menyatakan hasrat dan kejahatan. Dalam bukunya The Satanic Bible, Anton LaVey, yang dianggap sebagai pendiri Setanisme modern, menganjurkan pada pengikutnya agar mereka hidup dengan dan untuk menganjurkan kejahatan sesuka mereka. Dalam sebuah wawancara, LaVey bahkan berkata, “Saya merasa bahwa hukum, tentunya, dibuat untuk dilanggar…. Saya tidak melihat ada yang salah dengan merampok orang di jalan.”(32)

Penolakan Setanisme untuk mengakui adanya batasan, tidak berhenti sampai di situ. Manusia tidak hanya akan menyakiti diri mereka sendiri dan orang di sekeliling mereka, tetapi juga akan menujukan permusuhan dan kemarahannya kepada semua orang. Lebih jauh dari itu, penolakan untuk mengakui batasan akan mengarah pada dianggapnya kekerasan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Menurut Setanisme, kekerasan merupakan kenyataan alamiah, dan dengan begitu tidak bisa dihindarkan. Karena itu, pandangan yang sesat ini menyatakan adalah sangat dibolehkan jika ada orang yang ingin menggunakan kekerasan. Karena segala upaya mencegah atau mengurangi kekerasan itu melanggar apa yang disebut alamiah, segala upaya untuk melakukan hal itu adalah sia-sia, sehingga juga tidak masuk akal.

Seperti yang telah kita lihat, Setanisme menganut kepercayaan yang amat sesat, yang mendorong manusia untuk bertindak membabi buta, untuk melakukan pembunuhan, bahkan pembantaian massal. Di Amerika, khususnya, para akademisi sepakat bahwa Setanisme berada pada akar teror nasional dan harus diambil langkah serius untuk mengatasinya. Salah seorang dari para akademisi tersebut, Carl Roschke, seorang dosen pada Denver Univesity, menekankan pentingnya masalah ini dengan menyatakan, “Kita jelas-jelas sedang berurusan dengan jalan yang ditempuh pikiran setan yang mendasari terorisme dalam negeri.”(33) Roschke berkata bahwa langkah terpenting dalam perang yang akan dilancarkan terhadap Setanisme adalah dengan menyatakan bahwa para pengikut Setanisme bukanlah sekadar “orang gila yang tak berbahaya”, karena jika kejahatan mereka ditelaah, kita akan paham betapa berbahayanya orang yang mengaku sebagai penganut Setanisme.(34)

Tidak disangkal lagi, pertempuran terpenting melawan gerakan seperti ini harus pula bersifat perang pemikiran, sehingga kita harus mengenal atas dasar ideologi apakah Setanisme itu didirikan.

Darwinisme Merupakan Dasar Pemikiran Setanisme

The Secret Life of a Satanist merupakan biografi Anton LaVey.
Salah satu cara yang paling lazim digunakan oleh pemeluk Setanisme untuk memperkenalkan diri mereka, dalam buku-buku, majalah dan terbitan-terbitan, dan juga situs internet mereka, adalah menganggap manusia sebagai “jenis binatang yang sudah maju” dan menyatakan bahwa “hanya yang terkuat dapat bertahan”. Inilah bukti terpenting yang membuktikan bahwa Darwinisme terdapat pada akar kepercayaan pemeluk Setanisme. Kenyataannya, banyak pemeluk Setanisme yang tidak ragu mengakui kenyataan itu. Dalam A Description of Satanism, seorang penulis Setanisme menggambarkan ideologi ini dalam kalimat berikut.

“… Pertama-pertama, manusia adalah binatang sosial… semua orang dan binatang saling berbagi sumber daya yang sama dalam kehidupan. Setanisme adalah kepercayaan bahwa manusia itu tidak lebih dari sekadar jenis binatang yang lebih tinggi tingkatannya: kita tidak punya tempat khusus dalam penciptaan kecuali selain lebih beruntung telah berevolusi dan bertahan….”(35)

Terbitan pemikir Setanisme lainnya, The Church of Satan, menggambarkan bagaimana mereka memercayai bahwa manusia adalah jenis binatang yang telah maju,

“Karena Setanisme mengakui bahwa manusia adalah binatang, telah banyak pencipta di banyak kebudayaan masa lalu yang menerima pandangan ini dan menyelidikinya dalam lingkup masyarakat mereka, sehingga kita menggali pernyataan filsafat seni ini dan memandangnya sebagai akar dari kesadaran kita saat ini.”(36)

Jelaslah dari penjelasan tadi bahwa Setanisme menganggap teori Darwin, bahwa manusia berevolusi dari binatang, sebagai sumber dari “kesadaran” ideologinya. Dalam pembukaan sebuah wawancara dengan Anton LaVey, yang dilakukan jurnal musik MF Magazine, digambarkan suatu hubungan antara Setanisme dan Darwinisme,

Satan Speaks dan The Devil’s Notebook oleh Anton LaVey mengungkap kepercayaan menyimpang pemeluk Setanisme.
“Pada akhir 1960-an, Anton LaVey mengemukakan sebuah doktrin yang bisa dipahami dengan mudah tentang Darwinisme sosial dan pemikiran positif yang kuat (bersifat magis) kepada sejumlah orang-orang yang makin meningkat jumlahnya, yang sudah bosan baik pada hura-hura maupun pada moral Kristen yang macet.”(37)

Mgr. Peter H. Gilmore, seorang pendeta pada Gereja Setan (The Church of Satan), menggambarkan agama sesat ini dengan pernyataan berikut.

“… Marilah kita tinjau Setanisme modern yang sebenarnya: sebuah agama brutal dalam kelompok tersendiri dan Darwinisme Sosial yang bertujuan untuk menegakkan kekuasaan golongan yang kuat atas orang-orang bodoh, keadilan kilat atas ketidakadilan, dan penolakan atas segala bentuk persamaan sebagai mitos yang telah menghambat kemajuan makhluk manusia selama dua ribu tahun terakhir.”(38)

Tentu saja, pemikiran tentang keadilan, seperti yang disebutkan di atas, sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan makna keadilan yang kita anggap sewajarnya, yaitu, yang ditegakkan atas prinsip-prinsip persamaan. Pendapat di atas merupakan sebuah pemikiran pemeluk Setanisme tentang keadilan. Seperti yang akan terlihat dari penjelasannya, pendapat ini membolehkan siapa pun yang menganggap dirinya lebih unggul dari orang lain untuk menyerobot semua hak dan kekuasaan.

Cara-cara Setanisme yang memiliki begitu banyak kesamaan dengan Darwinisme Sosial, yang menganggap masyarakat Barat lebih unggul daripada masyarakat lain, telah mengarah pada kerja sama antara penganut Setanisme dan gerakan rasis, dan pengagungan terhadap bangsa sendiri lainnya, terutama fasisme. Kita dapat menemukan pribadi-pribadi yang percaya pada Setanisme di antara pengikut Sosialis Nasional Hitler dan Baju Hitam Mussolini. Anton LaVey mengutip adanya kerja sama tersebut,

“Itu adalah persekutuan kotor. Banyak orang seperti itu dari kalangan berbeda yang dulu pernah menghubungi kami. Kekuatan anti-Kristen dari Sosialis Nasional merupakan bagian dari daya tarik orang-orang Setanisme: dalam drama, pencahayaan, tarian, yang mereka gunakan untuk menggerakkan jutaan orang.”(39)

Darwinisme merupakan landasan utama yang memiliki kesamaan kecenderungan dengan Setanisme. Darwinisme Sosial, yang terletak di jantung ideologi-ideologi menyimpang ini, dibela oleh para satanis sebagai berikut.

Salah satu kriteria utama yang dikemukakan oleh teori eugenika adalah ukuran tengkorak manusia. Menurut pernyataan yang tidak ilmiah ini, orang-orang dengan tengkorak yang lebih kecil itu lebih terbelakang dan akan mengalami kemusnahan.
“Prinsip kemampuan bertahan hidup golongan yang kuat diajarkan pada semua tingkat masyarakat, mulai dari membiarkan seseorang bertahan atau kalah, hingga membiarkan bangsa-bangsa yang tidak mampu mengurus dirinya sendiri menerima akibat dari ketidakmampuannya…. Akan terjadi pengurangan penduduk dunia sebagai akibat yang lemah dibiarkan untuk menderita akibat Darwinisme Sosial. Begitulah alam selalu bertindak untuk membersihkan dan memperkuat anak-anaknya…. Kami menerima kenyataan dan tidak mencoba untuk mengubahnya agar menjadi angan-angan kosong yang berlawanan dengan kenyataan sesungguhnya.”(40)

Pendapat Setanisme lain yang terkait pada Darwinisme Sosial adalah dukungan kuat mereka untuk teori eugenika, yang merupakan hasil dari fasisme. Teori eugenika menyatakan bahwa orang-orang yang sakit dan cacat seharusnya disingkirkan dari masyarakat, sedangkan jumlah pribadi-pribadi sehat diperbanyak melalui perkembangbiakan. Teori ini paling banyak diterapkan oleh Nazi Jerman. Menurut teori eugenika, seperti binatang ternak yang dikembangbiakkan dengan mengawinkan jenis ternak yang sehat, begitu pulalah ras manusia juga dapat diperbaiki. Unsur-unsur yang menghalangi pembiakan (orang sakit, cacat, terbelakang, dan lainnya) perlu dibasmi. Sewaktu kebijakan ini diterapkan oleh Nazi Jerman, puluhan ribu orang yang menyandang penyakit turunan dan kejiwaan dibantai dengan kejam.

Setanisme juga menyetujui sikap tanpa ampun yang mengerikan itu. Buku-buku terbitan mereka mengungkap pandangan mereka tentang eugenika,

“Para penganut Setanisme juga berusaha memperkaya hukum-humum alam dengan memusatkan perhatian pada praktik eugenika…. Yaitu praktik yang mendorong manusia berbakat dan berkemampuan untuk berkembang biak, untuk memperkaya sifat-sifat turunan yang akan menjadi asal perkembangan bangsa kita. Hal ini telah secara umum dilakukan di seluruh dunia…. Hingga kode genetika bisa dipecahkan dan kita bisa memilih sifat-sifat keturunan kita sesuai keinginan, penganut Setanisme berusaha menjodohkan yang terbaik dengan yang terbaik.”(41)

Ibadah Sesat Setanisme

Misa hitam, juga hal-hal mengerikan yang dilakukan di dalamnya, adalah hal yang terlintas dalam pikiran seseorang ketika Setanisme disebutkan. Akan tetapi, banyak orang percaya bahwa hal itu hanya mungkin terjadi di dalam film-film dan tak ada kejadian seperti itu dalam kehidupan yang sesungguhnya. Padahal, pemandangan mengerikan yang biasa kita lihat dalam film-film memang merupakan bagian dan ciri dari ibadah serta misa pemeluk Setanisme.

Tujuan sesungguhnya di balik ibadah-ibadah ini adalah untuk menjalin hubungan dengan setan dan mempelajari apa yang dikenal sebagai ajaran-ajarannya. Untuk melihat betapa pentingnya ibadah-ibadah jahat ini dalam Setanisme, tinjauan singkat atas buku-buku dan situs internet mereka sudah lebih dari cukup. Ciri-ciri umum dari publikasi ini adalah cara mereka mempersembahkan tempat untuk hal-hal menakutkan dan menekankan pentingnya misa hitam. Dalam sebuah situs internet Setanisme yang terkenal, ditampilkan berbagai pesan-pesan pemeluk Setanisme untuk remaja di bawah usia delapan belas tahun. Apa yang mereka sebut sebagai misa ini ditekankan sebagai bagian terpenting dari Setanisme, sedangkan para pemuda yang tidak bisa menghadiri persekutuan tersebut, paling tidak harus melakukan ibadahnya sendiri. Perincian ibadah yang diperintahkan bagi para remaja adalah sebagai berikut.

“Janganlah merasa terganggu atau takut atau mengira bahwa kamu gila ketika kamu merasa telah terhubung dengan Sang Gelap…. Dekatilah Penguasa Kegelapan dengan tingkat penghormatan yang layak dan cara yang baik: itulah tujuan dari ibadah, untuk menjalin hubungan…. Kamu tidaklah memerlukan semua yang disebutkan dalam buku-buku Dr. LaVey untuk melakukan ibadah yang bermakna. Mungkin kamu tidak punya uang untuk mendapatkan atau mempunyai tempat pribadi untuk menyimpan benda-benda seperti pedang, piala, jubah hitam, gong, atau altar yang mewah. Inilah ibadah sakti yang bisa kamu lakukan…. Nyalakan lilin dan letakkan di depanmu…. Sambil memandang nyalanya, ucapkan dalam hatimu atau dengan keras, ‘Aku siap, wahai Penguasa Kegelapan. Aku merasakan kekuatanmu dalam diriku dan bermaksud menghormatimu dalam kehidupanku. Aku salah satu milik setan. Hidup setan!’…. Inilah cara paling sederhana untuk memunculkan setan dalam kehidupanmu.”(42)

Internet merupakan salah satu alat propaganda pemeluk Setanisme yang paling sering digunakan. Kalangan muda dipikat memasuki dunia kegelapan dalam situs-situs ini, tempat mereka dipengaruhi ke dalam kesesatan dan kekerasan, dan mendorong mereka untuk menaati perintah setan dan ambil bagian dalam ibadah-ibadah yang meliputi pembunuhan, penyiksaan, dan bentuk kebrutalan lain.
Kita dapat mengenali kesesatan seperti itu, kebejatan moral, dan kebiadaban dalam masyarakat mana pun yang menjadikan setan sebagai pembimbingnya. Bagi pemeluk Setanisme, semua ini diilhami oleh setan sendiri dan harus ditaati. Pemeluk Setanisme, yang memang setia menjalankannya, terjerumus ke dalam bentuk penyimpangan seksual, penyiksaan manusia dan juga binatang, dan bahkan melakukan hal-hal yang menjijikkan, seperti meminum darah makhluk atau manusia yang mereka bunuh. Di banyak negara di dunia, para pemuda yang menyebut diri mereka sebagai pemeluk Setanisme mengadakan pesta narkoba ketika segala jenis kebejatan dan penyimpangan dilakukan, yang acapkali diakhiri dengan pembunuhan salah seorang dari mereka atas nama setan.

Cara penganut Setanisme yang menekankan pentingnya penumpahan darah dalam ibadah-ibadahnya merupakan contoh kecil dari rencana setan untuk umat manusia. Setan membenci umat manusia dan menginginkan timbulnya penderitaan sebanyak mungkin. Karena itu, merupakan tujuannya untuk mengisi dunia dengan pertumpahan darah. Ideologi-ideologi Dajjal yang telah dibicarakan di awal, seperti fasisme, rasisme, dan komunisme, semuanya melayani tujuan setan itu. Semua peperangan, pembantaian, pembunuhan, dan tindak terorisme, yang terkait dengan ideologi-ideologi ateis semacam itu, semuanya merupakan “misa setan” yang ditujukan untuk memuaskan nafsu setan akan darah.

Orang-orang yang secara terbuka menyebut dirinya sebagai pemeluk Setanisme melakukan pertumpahan darah sebagai tindak pemujaan. Orang-orang yang menghasut melakukan teror dan kekacauan di dunia sesungguhnya sedang melakukan ibadah yang sama, dengan cara yang lebih tersembunyi dan akibat yang jauh lebih luas. Pendeknya, setan, juga sistem Dajjal yang ditegakkannya di dunia, tengah memanfaatkan orang-orang yang sudah berhasil dipengaruhinya dan mencoba mengubah dunia menjadi medan pertempuran yang brutal.

Setanisme Adalah Ideologi yang Telah Dikalahkan

Kita perlu mengingat pandangan-pandangan setan itu sendiri dalam merenungkan ancaman yang ditimbulkannya. Ketika para pemeluk Setanisme ditanya berapa jumlah mereka, mereka menyatakan jumlah pengikut yang besar, karena memang banyak orang yang sebenarnya hidup dengan nilai-nilai Setanisme tanpa menyadari kenyataan itu. Di satu sisi, itu memang benar. Banyak orang, yang sadar atau tidak, menyetujui pandangan para pemeluk Setanisme. Ini karena dengan menolak hati nurani atau menolak hidup dengan akhlaq yang terpuji, sehingga memperturutkan hawa nafsunya sendiri, adalah sama dengan menaati perintah-perintah setan. Jika seseorang merenungkan segala bentuk kerusakan yang disebabkan oleh para pemeluk Setanisme hingga hari ini, jelaslah betapa mengerikannya akhir dari masyarakat yang berisi orang-orang seperti itu akan terjadi.

Pernyataan bahwa manusia adalah sejenis binatang, yang menjadi landasan Setanisme, adalah omong kosong sama sekali. Umat manusia tidak mucul sebagai hasil dari kebetulan belaka. Pencipta umat manusia, juga keteraturan serta kemegahan alam semesta, adalah Allah yang Mahakuasa, Mahaunggul, dan Mahabijaksana, Dia yang tidak mempunyai kelemahan apa pun. Dia telah menciptakan manusia dengan kemampuan berpikir dan akal, untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, dan juga dengan tanggung jawab terhadap Sang Pencipta. Walau nafsunya mengarahkan manusia pada kejahatan, nuraninya melindunginya dari hal demikian dan memerintahkannya untuk berpaling darinya. Kewajiban manusialah untuk mendengarkan suara nuraninya, bukan nafsunya, dan menunjukkan akhlaq yang diridhai Allah. Akhlaq seperti itu tidak hanya akan memungkinkan pribadi yang bersangkutan, juga masyarakat tempat kehidupannya, menikmati suasana penuh kedamaian dan keamanan, tapi juga akan–atas kehendak Allah–mendapatkan balasan kemuliaan di hari kemudian.

Salah satu kenyataan penting yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa kehidupan yang ditawarkan setan, yang dibuatnya terlihat amat menarik, hanyalah tipu daya. Setan bisa saja membuat segala macam janji tentang peluang dalam hidup di dunia ini, mungkin pula mencoba untuk memalingkan manusia dari jalan yang benar, namun tidaklah boleh dilupakan bahwa jalan yang ditunjukkannya untuk diikuti manusia hanya mengarah pada kehancuran bagi mereka yang menempuhnya. Sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam ayat,

“… Mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka, yang dilaknati Allah dan setan itu mengatakan, ‘Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian dari yang sudah ditentukan (untuk saya), dan saya benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan saya suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu mereka benar-benar mengubahnya.’ Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (an-Nisaa` [4]: 117-119)

Aliran-Aliran Menyimpang Menawarkan Bentuk Lain dari Kekerasan

Kita telah membahas dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya adanya aliran-aliran pemujaan takhayul yang mengikuti sistem kepercayaan yang menyimpang di beberapa negara di dunia, khususnya di Amerika Serikat, dan bagaimana kelompok ini terlibat dalam tindakan-tindakan teror. Kelompok-kelompok mistik ini menghancurkan ketertiban masyarakat, mendorong bangsa-bangsa ke arah kekerasan, dan menjerumuskannya pada pembunuhan dan bahkan bunuh diri. Beberapa di antaranya yang terkenal adalah: David Koresh dan pengikutnya yang melakukan bunuh diri massal, aliran pemujaan Heaven’s Gate yang melakukan hal yang sama, dan Aum Shinrikyo, aliran pemujaan yang membahayakan ratusan orang dengan melepaskan gas beracun ke jaringan kereta bawah tanah di Jepang.

Akan tetapi, di samping semua itu, setiap hari di Amerika terjadi serangan-serangan yang dilakukan kelompok-kelompok tak dikenal serta bunuh diri massal. Bunuh diri massal terburuk sejauh ini adalah yang dilakukan oleh aliran pemujaan “The People’s Temple”.

Didirikan pada akhir tahun 1970-an, di bawah kepemimpinan Jim Jones, aliran pemujaan ini hidup menyendiri terpisah dari dunia di sebuah hutan di Amerika Selatan. Menyusul adanya sejumlah keluhan, pada tahun 1978, anggota kongres Amerika, Leo Ryan, mengunjungi wilayah Jonestown dalam misi pencari fakta. Ketika Ryan akan meninggalkan Jonestown, delapan belas anggota aliran pemujaan yang ingin meninggalkan aliran pemujaan itu mencoba ikut menyertainya, yang sekaligus menjadi saat ketika kekerasan meletus. Anggota aliran pemujaan melepaskan tembakan kepada mereka yang mencoba meninggalkan aliran pemujaan itu. Anggota kongres Ryan, tiga orang wartawan, dan seorang anggota aliran pemujaan yang mencoba lari, terbunuh. Sebelas orang terluka. Beberapa jam setelah kejadian, pemimpin aliran pemujaan memerintahkan anggota-anggotanya untuk melakukan bunuh diri massal dengan meminum potasium sianida. Anak-anak meninggal lebih dulu, bayi dibunuh dengan racun yang dimasukkan ke mulut dengan sedotan. Setelah itu, lebih dari sembilan ratus orang, termasuk anak-anak, meracuni diri mereka sendiri.(43)

Akan tetapi, pada tahun 1990-an, kelompok yang menarik perhatian karena kematian massal adalah aliran pemujaan David Koresh
Ketika satuan-satuan keamanan bermaksud melakukan pemeriksaan terhadap sebuah tanah pertanian di Texas pada 28 Februari 1993, anggota aliran pemujaan melepaskan tembakan kepada mereka. Pengepungan yang berlangsung selama 51 hari pun dilakukan. Ketika seorang anggota pasukan keamanan mencoba masuk ke dalam pertanian itu pada hari ke-51, asap tiba-tiba mulai mengepul. Pasukan keamanan kemudian mengumumkan bahwa David Koresh telah membakar pertanian, dan berbagai jebakan yang dipasang di berbagai tempat pertanian itu telah mengubah tempat itu menjadi sebuah neraka, di mana sekitar sembilan puluh orang terbakar sampai mati.

Aliran pemujaan yang menyimpang kembali menjadi berita utama pada tahun 1997, ketika empat puluh orang yang mengenakan kaos hitam dan sepatu olah raga melakukan bunuh diri massal di utara San Diego. Berusia antara 26 dan 72 tahun, mereka telah membunuh dirinya sendiri atas kepercayaan bahwa komet Hale-Bopp, yang saat itu sedang melintasi bumi, akan membawa mereka ke tingkat evolusi yang lebih tinggi. Di bawah ini adalah bagaimana pemikiran mereka dituangkan dalam situs internet mereka,

Kabar gembira, karena Anggota Tua dalam Tingkat Evolusi di atas manusia telah menjelaskan kepada kami bahwa mendekatnya Halle-Bopp merupakan ‘tanda’ yang telah kami tunggu-tunggu…. Masa 22 tahun di ruangan di bumi akhirnya mendekati akhir ‘kelulusan’ dari Tingkat Evolusi Manusia.

Kami dengan bahagia bersiap untuk meninggalkan ‘dunia ini’ dan pergi bersama awak Ti (Ti merujuk pada Bonnie Lu Trusdale salah seorang pendiri yang meninggal karena kanker pada tahun 1985).”(44)

Kisah-kisah ini rasanya mungkin hanya sedikit hubungannya dengan kehidupan Anda, para pembaca. Akan tetapi, janganlah ada yang tertipu karena kami hanya membahas tiga contoh secara rinci. Sejumlah besar aliran pemujaan dan organisasi yang menyimpang terus memengaruhi kalangan muda di banyak negara di dunia.

Kenyataan bahwa sebagian orang menganggap gerakan-gerakan ini jauh tak menyentuh mereka, tidak berarti gerakan-gerakan ini tidak menyebabkan kerusakan yang mengerikan terhadap perorangan maupun masyarakat secara keseluruhan.

Sebaliknya, semua itu telah mengungkap bentuk berbeda dari perselisihan yang diciptakan Dajjal dan betapa meluasnya hal itu sesungguhnya.

Serangan Bawah Tanah oleh Aliran Pemujaan Jepang

Kerusakan yang disebabkan oleh aliran pemujaan yang menyimpang terhadap kehidupan dan harta milik para anggotanya, bukanlah satu-satunya ancaman yang mereka hadirkan. Pemikiran-pemikiran menyimpang dan gaya hidup yang dianjurkan oleh aliran-aliran pemujaan ini juga merusak tatanan dalam masyarakat. Dari waktu ke waktu, beberapa anggotanya melakukan serangan yang ditujukan langsung kepada penduduk sipil. Salah satu contoh terbaru adalah pada aliran pemujaan Aum Shinrikyo di Jepang. Mereka melepaskan gas di dalam sebuah stasiun kereta bawah tanah di Tokyo. Aliran pemujaan ini juga dianggap bertanggung jawab atas serangan gas yang serupa di Matsumoto dekat Tokyo, di mana tujuh orang meninggal dan 144 terluka.

Menurut ajaran-ajaran pemimpin aliran pemujaan ini, Shoko Asahara, seseorang hanya bisa membersihkan jiwanya dengan cara membunuh. Penguasaan dunia hanya mungkin melalui penerapan kekerasan seperti yang diajarkannya pada para pengikutnya. Tindakan yang oleh orang normal dianggap sebagai berdarah dingin, bagi anggota aliran pemujaan dianggap sebagai contoh moral yang benar.

Sasaran pertama serangan, yang dimulai tahun 1994, adalah para hakim yang telah mengajukan tuntutan untuk aliran pemujaan tersebut dan tinggal di tempat yang disediakan oleh Kementerian Kehakiman. Serangan pertama menyebabkan tujuh kematian. Pada saat yang sama, aliran pemujaan tersebut memulai pembangunan fasilitas pembuat gas sarin dengan kapasitas 70 ton, atas perintah Asahara, yang juga memerintahkan pembuatan 1.000 senapan otomatis dan sejuta peluru. Dengan pertolongan ahli-ahli Rusia yang dibayar aliran pemujaan tersebut, dilakukan pula usaha untuk membuat semacam senjata nuklir. Masih dalam lingkup kegiatan Asahara, dilakukan pula penculikan dan pembunuhan, khususnya pada pengacara dan jaksa yang menentang kegiatan aliran pemujaan ini.

Serangan pada jaringan kereta bawah tanah menyebabkan reaksi yang lebih keras terhadap aliran pemujaan ini. Ribuan orang yang akan berangkat bekerja terkena serangan. Dua belas orang meninggal dan lebih dari lima ribu orang mendapat perawatan di rumah sakit. Serangan itu pun menjadi contoh menakutkan dari ancaman yang dihadirkan oleh kelompok-kelompok seperti itu terhadap kepentingan umum.

Seperti yang telah kita lihat pada contoh-contoh di atas, setiap bentuk kebejatan moral mungkin saja datang dari kelompok-kelompok yang mengembangkan kepercayaannya sendiri yang jauh dari akhlaq agama. Anggota-anggota organisasi semacam itu sangat mampu melakukan segala bentuk penyimpangan, mulai dari penyalahgunaan obat hingga pencurian, dari penculikan hingga penyiksaan, walau acapkali pada akhirnya mereka akan berakhir dengan mengakhiri hidupnya sendiri.

Kita tidak boleh melupakan bahwa tidaklah mengherankan bahwa orang yang tidak beriman kepada Allah, tidak takut kepada-Nya, dan menolak untuk mengakui akhlaq yang benar, bisa terlibat dalam tindakan-tindakan kekerasan. Hal itu karena mereka tidak percaya bahwa mereka harus bertanggung jawab atas perbuatannya, mereka juga tidak percaya bahwa mereka akan menerima balasan perbuatan mereka di hari kemudian. Lebih jauh lagi, mereka mungkin memeluk kepercayaan yang tidak benar atau palsu dalam hal kehidupan setelah mati, yang semuanya memperturutkan hawa nafsu mereka. Namun demikian, satu-satunya jalan yang benar adalah yang ditunjukkan oleh Allah kepada hamba-hambanya. Setiap orang yang mengenal Allah dan hidup dengan kesadaran akan hal tersebut, tidak akan bersikap berlebihan dan ia senantiasa tenang. Terlebih lagi, dalam Al-Qur`an, Allah telah memerintahkan manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya. Dengan demikian, adalah mustahil bagi orang yang sungguh-sungguh beriman untuk bisa terperangkap dalam suatu bentuk kepercayaan tanpa mendengarkan suara nurani dan menggunakan kekuatan akal mereka. Orang beriman bertindak sesuai dengan apa yang diperintahkan nurani dalam setiap saat kehidupan mereka, juga bertindak dengan pikiran jernih. Hal itu pada gilirannya, akan melindungi mereka dari kebejatan moral dan kejahatan. Orang yang sungguh-sunguh beriman adalah orang yang teguh di jalan yang sudah ditetapkan Allah. Dengan demikian, jelaslah bahwa aliran pemujaan dan organisasi semacamnya telah jauh berpaling dari jalan tersebut.

Tidak disangkal lagi, tindak kekerasan dan teror yang telah kita bahas bukanlah satu-satunya perwujudan teror di dunia saat ini. Banyak organisasi teroris di banyak negara yang telah bertahun-tahun menyebarkan ketakutan, teror, dan juga kematian bagi banyak orang yang tak bersalah. Kelompok-kelompok ini meliputi IRA, yang selama bertahun-tahun telah menjadi duri bagi pemerintahan Inggris; ETA di wilayah Basque, Spanyol; ASALA, organisasi teroris Armenia yang selama bertahun-tahun menyerang diplomat Turki yang berdinas di luar negeri; dan Partai Buruh Kurdistan. Walau mereka mempunyai dorongan ideologi yang bebeda, semua kelompok teroris dan orang-orang yang mendukung penggunaan kekerasan, disebutkan di sini atau tidak, dan sadar tentang kenyataan ini atau tidak, semuanya sepakat tentang satu hal, yaitu penolakan terhadap agama. Apa pun ideologinya dan pandangannya, alasan sesungguhnya mengapa seseorang berpaling kepada kekacauan dan kekerasan adalah karena mereka tidak memiliki kepercayaan dan kesadaran untuk mencegah mereka melakukan perbuatan tersebut.

[[===—-
Kesimpulan

Seperti yang telah kita tekankan sepanjang buku ini, penolakan manusia untuk mendengar suara nurani merekalah yang memalingkan mereka ke arah kekerasan dan kebiadaban. Mereka sama sekali tidak mempedulikan kenyataan bahwa mereka bertanggung jawab terhadap Allah dan mereka akan dituntut untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hari kemudian. Karena itu, cara paling mujarab untuk menjauhkan orang-orang seperti itu dari kekerasan dan terorisme adalah dengan pertama-tama memulihkan ketidakpedulian yang telah menuntun mereka ke jalan yang keliru tersebut. Meski sebagian besar bangsa-bangsa mengandalkan aparat penegak hukum dan menggunakan strategi politik serta ekonomi ketika berhadapan dengan terorisme, tidak satu pun dari cara-cara ini yang mencukupi untuk memecahkan masalah mereka sendiri. Apa yang benar-benar perlu dilakukan adalah menghancurkan dasar ideologi terorisme. Hal itu memerlukan perang pada tingkat pemikiran untuk melawan semua ideologi yang menganjurkan kebencian dan kemarahan, dan menggantinya dengan kebaikan akhlaq yang diajarkan agama.

Seperti yang telah kita lihat sepanjang buku ini, Darwinisme merupakan dasar utama dari ideologi-ideologi semacam itu. Satu-satunya alasan mengapa teori tersebut, yang saat ini telah kehilangan semua kesahihan ilmiahnya serta telah terbukti bertentangan dengan akal dan logika, masih hidup dan dihidup-hidupkan, adalah adanya ideologi yang menempel padanya. Ketika dasarnya disingkirkan, ideologi yang dibangun di atasnya pun akan runtuh. Dengan alasan itulah, perang pemikiran melawan Darwinisme adalah hal yang penting untuk menciptakan perdamaian dan keamanan untuk umat manusia.

Salah satu siasat penting dalam perang seperti itu adalah pengungkapan sumber sebenarnya dari ideologi-ideologi tersebut beserta kekeliruan dan tipu dayanya. Tahap penting lainnya adalah menjelaskan akhlaq agama, yang akan membawa kedamaian sesungguhnya dan keamanan. Karena sebagian besar orang saat ini hanya memiliki sedikit gambaran tentang apakah agama yang benar itu, mereka pun jatuh di bawah pengaruh ateisme. Itulah sebabnya, menjelaskan agama yang benar dan mencontohkan akhlaq yang diperintahkan Allah ke seluruh dunia, merupakan tugas setiap orang yang tahu dan hidup di dalamnya.

Saat ini, di dunia secara keseluruhan, sistem Dajjal sedang berlaku, dengan kata lain, kericuhan, perselisihan, dan kekacauan tersebar luas. Sepanjang sejarah, Allah telah menghancurkan banyak sekali masyarakat yang jahat dan menyeleweng. Semua masyarakat dan gerakan yang didirikan atas kebengisan dan kekejaman, yang menggunakan kekerasan dan terorisme, akan menghadapi akhir yang sama. Semua pelaku kekacauan dan teror pasti akan hancur. Semua bangsa yang mendukung kekacauan dan teror akan disingkirkan. Kekejaman tidak bisa bertahan. Beginilah akhir dari orang-orang zalim digambarkan dalam Al-Qur`an,

“Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (al-An’aam [6]: 45)

Dajjal juga akan menghadapi akhir yang sama. Tidak ada keraguan tentang itu. Mereka yang menggunakan kekerasan dan terorisme, karena alasan ini, haruslah berpaling dari jalan tersebut karena dikhawatirkan akan menghadapi nasib yang sama. Allah berfirman bahwa Dia akan memaafkan mereka yang menyesali dosa-dosanya dan kembali kepada kebaikan. Allah tidak akan menuntut tanggung jawab untuk tindakan yang dilakukan karena kebodohan atau karena mereka tidak mengetahui akhlaq agama. Allah adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jadi, mereka yang menganjurkan kekacauan dan menyakiti orang lain janganlah mengira bahwa “sudah tidak ada jalan kembali”. Tidak pernah ada kata terlambat untuk menjauhi kekacauan dan teror. Yang mereka perlukan hanyalah meminta ampunan kepada Allah dengan hati yang ikhlas dan menghentikan apa yang mereka perbuat. Ayat berikut mengungkap bagaimana Allah menjanjikan pengampunan bagi mereka yang melakukan kejahatan karena kebodohan dan kemudian mencari ampunan-Nya.

“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, ‘Salamun ‘alaikum.’ Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwa barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertobat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-An’aam [6]: 54)

Tanda-Tanda Kiamat


Tanda-Tanda Kiamat
Karya : Harun Yahya
Download : Islamic.xtgem.com

[[===—-
Pendahuluan

Di sepanjang sejarah, umat manusia telah memahami keagungan gunung-gunung dan luasnya langit, walaupun menggunakan metode-metode pengamatan yang masih primitif. Akan tetapi, mereka telah salah dalam mengira bahwa benda-benda tersebut akan ada selama-lamanya. Kepercayaan ini telah menjadi tulang punggung filsafat-filsafat politeisme dan materialisme Yunani, serta agama-agama di Sumeria dan Mesir.

Al-Qur�an memberitahukan kepada kita bahwa orang-orang yang memiliki kepercayaan yang demikian berada dalam kesalahan yang berat. Salah satu hal yang diwahyukan oleh Allah di dalam al-Qur�an adalah bahwasanya alam semesta ini telah diciptakan dan akan sampai pada titik akhirnya. Alam semesta ini akan, sebagaimana halnya umat manusia dan segala makhluk hidup lainnya, berakhir. Dunia yang teratur ini, yang berfungsi secara sempurna selama milyaran tahun, adalah karya Tuhan, Yang telah menciptakan segalanya, walaupun akan sampai juga pada titik akhir atas perintah-Nya, dan pada saat yang telah ditetapkan-Nya.

Waktu yang ditetapkan di mana alam semesta dan segala makhluk di dalamnya, mulai dari mikroorganisme hingga umat manusia, termasuk bintang-bintang dan galaksi-galaksi, akan sampai pada titik akhirnya, disebut as-Sa�ah di dalam al-Qur�an. As-Sa�ah ini bukannya menunjuk pada sembarang saat; namun adalah sebuah kata yang dipakai secara khusus di dalam al-Qur�an guna menunjukkan waktu tersebut tatkala dunia ini akan berakhir.

Seiring dengan pengumuman tentang akhir dunia ini, al-Qur�an mengandung gambaran terperinci mengenai proses kejadian tersebut: �Apabila langit terbelah,� �Ketika lautan dijadikan meluap,� �Tatkala gunung-gunung beterbangan,� �Apabila matahari digulung …� kengerian dan kepanikan yang dialami oleh orang-orang ketika bencana yang mengerikan itu terjadi diceritakan secara rinci di dalam al-Qur�an; ayatayat tersebut menandaskan bahwa tak ada jalan untuk meloloskan diri dan tak ada tempat untuk sembunyi. Yang dapat kita simpulkan dari hal ini adalah bahwasanya akhir dunia ini akan berupa suatu bencana sedemikian rupa yang belum pernah dialami dunia sebelumnya. Rincian mengenai kejadian tersebut juga dapat dijumpai dalam buku-buku kami lainnya yang berjudul, The Day of Resurrection (Hari Kebangkitan), Death Resurrection Hell (Kematian Kebangkitan Neraka). Buku yang Anda baca ini akan memaparkan peristiwa-peristiwa yang terjadi menjelang Hari Akhir (Kiamat).

Pertama-tama, harus dinyatakan bahwa sudah jelas dari sekian banyak ayat al-Qur�an, bahwa pokok pembahasan ten-tang akhir dunia yang tak terelakkan ini telah menarik perhatian manusia dalam setiap periode sejarah. Dalam beberapa ayat tertentu, diceritakan bahwa orang-orang telah bertanya kepada Nabi Muhammad saw. tentang kapan terjadinya akhir dunia ini:

Mereka menanyakan kepadamu tentang as-Sa�ah: �Bilakah terjadinya?� �(Q.s. al-A�raf: 187).

(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit (as-Sa�ah), kapankah terjadinya? (Q.s. an-Nazi�at: 42).

Allah memerintahkan Nabi saw. untuk menjawab pertanyaan ini sebagai berikut: �� Pengetahuan tentang hal itu berada di sisi Tuhanku �� (Q.s. al-A�raf: 187), yang artinya bahwa hanya Dia Yang tahu kapan terjadinya as-Sa�ah itu. Dari ayat ini kita memahami bahwa pengetahuan tentang kapan tibanya as-Sa�ah itu tersembunyi bagi manusia.

Tentu ada suatu alasan ilahiah mengapa Tuhan kita merahasiakan waktu dari as-Sa�ah ini. Misalnya, ada baiknya bagi semua orang, entah pada abad berapapun mereka hidup, untuk �� merasa takut akan tibanya as-Sa�ah (Hari Kiamat)� (Q.s. al-Anbiya�: 49), dan agar memikirkan dengan mendalam akan kekuasaan Allah yang agung dan tak terbatas. Sebelum hari yang sangat penuh penderitaan tersebut datang kepada mereka secara tiba-tiba, mereka hendaknya memahami bahwasanya, selain Allah, tak ada tempat untuk berlindung. Andaikata kapan terjadinya as-Sa�ah tersebut diketahui, orang-orang yang hidup sebelum masa sekarang tidak akan merasa tergugah untuk memikirkan dengan sungguh-sungguh mengenai akhir dunia ini; mereka akan tidak peduli terhadap peristiwaperistiwa terakhir yang digambarkan di dalam al-Qur�an.

Namun, harus diterangkan bahwa ada banyak ayat yang memberitahukan tentang as-Sa�ah itu, dan bila kita menelaahnya kita pun menemukan suatu kebenaran yang besar. Al-Qur�an tidak menunjukkan kapan terjadinya as-Sa�ah itu, namun ia memberikan gambaran mengenai peristiwaperistiwa yang akan terjadi sebelumnya. Salah satu ayat menceritakan bahwa ada sekian banyak tanda-tanda as-Sa�ah itu:

Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan Hari Kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Hari Kiamat sudah datang? (Q.s. Muhammad: 18).

Dari ayat ini kita mempelajari bahwa al-Qur�an memberikan gambaran mengenai tanda-tanda yang memberitahukan kedatangan Kiamat. Guna memahami tanda-tanda �pengumuman besar� tersebut kita harus merenungkan ayat-ayat ini. Jika tidak, sebagaimana ditunjukkan oleh ayat tadi, pemikiran kita akan tidak berguna lagi manakala Kiamat itu tibatiba terjadi pada kita.

Sebagian dari apa yang disabdakan oleh Nabi saw. yang telah sampai kepada kita menerangkan mengenai tanda-tanda as-Sa�ah tersebut. Dalam hadis-hadis Nabi saw. ini, terdapat tanda-tanda as-Sa�ah dan informasi rinci mengenai periode yang mendahuluinya. Periode ini, di mana tanda-tanda as-Sa�ah itu akan terjadi, disebut �Akhir Zaman�. Perkara tentang Akhir Zaman dan tanda-tanda as-Sa�ah ini telah menarik banyak perhatian di sepanjang sejarah Islam; ia telah menjadi pokok pembahasan dalam banyak karya para ulama dan peneliti Islam.

Bila kita kumpulkan semua informasi ini bersama-sama, kita pun sampai pada sebuah kesimpulan yang penting. Ayatayat al-Qur�an dan hadis-hadis Nabi saw. menunjukkan bahwa Akhir Zaman terbagi menjadi dua tahap. Periode pertama adalah di mana cobaan-cobaan material dan spiritual akan menimpa dunia ini; periode kedua yang datang disebut sebagai Zaman Keemasan, suatu masa di mana ajaran moral al-Qur�an akan mendominasi, menghasilkan kesadaran yang mendalam mengenai kebaikan pada diri semua manusia. Manakala Zaman Keemasan ini berakhir, dan setelah dunia ini mulai memasuki sebuah periode kemunduran sosial, maka kedatangan Kiamat pun sudah pasti.

Maksud buku ini adalah untuk menelaah tanda-tanda as-Sa�ah tersebut melalui ayat-ayat al-Qur�an dan hadis-hadis Nabi saw., dan untuk memperlihatkan bahwa tanda-tanda ini telah mulai muncul pada zaman kita. Fakta bahwa kedatangan daripada tanda-tanda ini telah diwahyukan empat belas abad yang lalu hendaknya meningkatkan keimanan seorang mukmin kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya. Halaman halaman berikut telah ditulis dengan mencamkan baik-baik janji Tuhan kita:

�Katakanlah: �Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya …� (Q.s. an-Naml: 93).

Kendati demikian, ada satu hal khusus yang penting bahwa kami ingin menarik perhatian pembaca terhadap: Allah tahu hakikat segala sesuatu. Sedangkan dalam segala hal, apa yang kita ketahui tentang akhir dunia ini hanya datang dari apa yang telah diwahyukan-Nya kepada kita.

[[===—-
I. Tanda-tanda Kiamat di dalam Al-Qur�an

HARI KIAMAT (AS-SA�AH) ITU SUDAH DEKAT

Kebanyakan orang sedikitnya tahu tentang Hari Kiamat (as-Sa�ah). Hampir setiap orang telah mendengar satu dan lain hal tentang kengerian kiamat itu. Akan tetapi, kebanyakan orang cenderung untuk bereaksi sama terhadapnya sebagaimana halnya sikap mereka atas perkara-perkara yang sangat penting lainnya, yaitu, mereka tidak ingin membicarakannya atau bahkan memikirkannya. Mereka berusaha dengan sangat keras agar tidak memikirkan teror yang akan mereka alami pada Hari Kiamat. Mereka tidak sanggup menahan (keprihatinan) hal-hal yang mengingatkan pada Hari Kiamat yang terdapat pada suatu berita mengenai sebuah kecelakaan yang mengerikan atau sebuah berita film tentang suatu bencana. Mereka menghindar untuk memikirkan tentang fakta bahwa hari itu pasti akan datang. Mereka tidak mau mendengar orang-orang lain yang membicarakan tentang hari yang luar biasa itu, atau membaca tulisan-tulisan para penulis tentangnya. Ini adalah sebagian cara yang dikembangkan oleh orang-orang itu guna terlepas dari memikirkan tentang kengerian Hari Kiamat.

Banyak orang tidak sungguh-sungguh percaya bahwa Hari Kiamat itu sedang menjelang. Kita diberi contoh tentang hal ini dalam sebuah ayat di dalam Surat al-Kahfi, tentang seorang pemilik kebun anggur yang kaya raya:

Dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu. (Q.s. al-Kahfi: 36).

Ayat di atas memberitahukan mentalitas sesungguhnya dari seseorang yang mengaku percaya kepada Allah namun menghindari untuk memikirkan tentang kenyataan Hari Kiamat dan mengajukan pernyataan yang bertentangan dengan sebagian ayat al-Qur�an. Ayat yang lain menceritakan keraguan dan ketidakpastian yang melingkari orang-orang kafir mengenai waktu terjadinya saat terakhir.

Dan apabila dikatakan (kepadamu): �Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,� niscaya kamu menjawab: �Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya).� (Q.s. al-Jatsiyyah: 32).

Sebagian orang menyangkal sepenuhnya bahwa Hari Kiamat sedang menjelang. Mereka yang memiliki pendapat ini disebutkan di dalam al-Qur�an sebagai berikut:

Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat. Dan Kami menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan Hari Kiamat. (Q.s. al-Furqan: 11).

Sumber yang dapat membimbing jalan kita dan menunjukkan pada yang haq adalah al-Qur�an. Tatkala kita lihat apa yang dikatakannya, kita mempelajari sebuah fakta yang jelas. Mereka yang menipu dirinya sendiri mengenai Hari Kiamat ini melakukan kesalahan yang berat, karena Allah mewahyukan di dalam al-Qur�an bahwa tidak terdapat keraguan bahwa Kiamat itu sudah dekat.

Dan sesungguhnya as-Sa�ah (Hari Kiamat) itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya � (Q.s. al-Hajj: 7).

Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya as-Sa�ah (Hari Kiamat) itu pasti akan datang. (Q.s. al-Hijr: 85).

Sesungguhnya as-Sa�ah (Hari Kiamat) pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya � (Q.s. al-Mu�min: 59).

Mungkin ada sebagian orang yang berpikir bahwa pesan yang disampaikan al-Qur�an mengenai Hari Kiamat ini diwahyukan lebih dari 1.400 tahun yang lalu dan ini adalah sebuah jangka waktu yang panjang dibandingkan dengan panjangnya umur seorang manusia. Namun ini adalah perkara tentang akhir dunia, matahari dan bintang-bintang � pendek kata � alam semesta. Bila kita pikirkan dengan mendalam bahwa alam semesta ini usianya sudah milyaran tahun, empat belas abad adalah sebuah kurun waktu yang sangat singkat.

Seorang ulama besar pada masa ini, Bediuzzaman Said Nursi, menanggapi masalah serupa itu dengan demikian:

Al-Qur�an mengatakan, �as-Sa�ah itu telah dekat.� (Q.s. al-Qamar: 1). Yaitu, Hari Kiamat sudah dekat. Bahwasanya belum datang setelah seribu tahun atau bertahun-tahun ini tidaklah mengurangi kedekatannya. Karena, Hari Kiamat adalah saat yang ditetapkan atas dunia ini, dan dalam kaitannya dengan umur dunia ini seribu atau dua ribu tahun adalah bagaikan satu atau dua menit saja dikaitkan dengan setahun. Saat Kiamat bukan hanya saat yang ditetapkan atas umat manusia sehingga ia hendaknya dikaitkan dengannya dan dilihat dari jarak jauh.1

MEMPROKLAMIRKAN AJARAN MORAL AL-QUR�AN KE SELURUH DUNIA

Di dalam al-Qur�an, kita berkali-kali menemukan frasa �sunnatullah.� Ini adalah sebuah ungkapan yang berarti cara Allah, atau hukum-hukum Allah. Menurut al-Qur�an, hukumhukum ini selamanya valid. Sebuah ayat menyatakan:

Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. (Q.s. al-Ahzab: 62).

Salah satu hukum Allah yang tidak berubah adalah, sebelum dimusnahkan, umat-umat diberi peringatan dulu oleh seorang pemberi peringatan. Fakta ini diwahyukan dalam firman-firman ini:

Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan. (Q.s. asy-Syu�ara�: 208).

Di sepanjang sejarah, Allah telah mengutus seorang pemberi peringatan kepada tiap-tiap umat yang telah berbuat kerusakan, menyeru mereka agar mengikuti jalan yang benar. Akan tetapi, orang-orang yang tetap berkeras dalam kezaliman mereka dimusnahkan setelah tiba saat yang ditentukan bagi mereka, dan menjadi contoh bagi generasi-generasi setelahnya. Bila kita pikirkan dengan mendalam hukum Allah ini, sejumlah misteri yang penting pun terkuak bagi kita.

Hari Kiamat adalah bencana terakhir yang menimpa dunia ini. Al-Qur�an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan untuk memberi nasihat kepada umat manusia, yang petunjuknya tetap bertahan hingga akhir dunia. Dalam salah satu ayatnya, dikatakan, �� al-Qur�an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat.� (Q.s. al-An�am: 90). Orang-orang yang punya pikiran bahwa al-Qur�an hanya berbicara untuk suatu masa atau tempat tertentu sungguh-sungguh telah keliru, karena al-Qur�an adalah sebuah seruan umum kepada seluruh �alam�.

Semenjak zaman Nabi saw., kebenaran al-Qur�an telah disampaikan ke seluruh penjuru dunia. Karena perkembangan-perkembangan teknologi yang tiada taranya pada zaman kita sekarang, perintah-perintah al-Qur�an dapat diproklamirkan kepada seluruh umat manusia. Pada hari ini, sains, pendidikan, komunikasi, dan transportasi sudah hampir mencapai titik puncak perkembangannya. Berkat adanya komputer dan teknologi Internet khususnya, orang-orang yang berada di tempat-tempat yang jauh di dunia ini dengan cepat dapat berbagi informasi dan membangun komunikasi. Revolusi dalam sains dan teknologi telah menyatukan seluruh bangsa di dunia ini; ungkapan-ungkapan seperti �globalisasi� dan �kewarganegaraan dunia� telah masuk ke dalam perbendaharaan kosa kata kita. Singkatnya, semua penghalang yang merintangi persatuan manusia di seluruh penjuru dunia kini sedang dihapuskan dengan cepat.

Dengan menilik dari berbagai fakta ini, dengan mudah dapat dikatakan bahwa pada �zaman informasi� kita ini, Allah telah memberikan segala macam perkembangan teknologi sebagai alat untuk kemaslahatan kita. Adalah tanggung jawab kaum muslimin guna menggunakan dengan sebaik-baiknya peluang-peluang yang telah ditawarkan oleh Allah ini, dan untuk mengajak manusia dari berbagai kalangan agar menerima ajaran moral al-Qur�an.

PARA RASUL

Kami telah menyebutkan hukum-hukum yang tidak berubah yang telah ditetapkan oleh Allah semenjak diciptakannya dunia ini. Salah satu hukum ilahiah tersebut adalah bahwa Allah tidak akan menghukum suatu kaum yang belum didatangkan seorang utusan-Nya kepada mereka. Janji ini diungkapkan dalam ayat-ayat berikut ini:

Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman. (Q.s. al-Qashash: 59).

… Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Q.s. al-Isra�: 15).

Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan untuk menjadi peringatan. Dan Kami se-kali-kali tidak berlaku zalim. (Q.s. asy-Syu�ara�: 208-209).

Ayat-ayat ini memperlihatkan bahwa Allah mengirimkan para rasul ke kota-kota besar untuk memberi peringatan kepada manusia. Para rasul ini menyampaikan perintah-perintah Allah, namun golongan orang-orang kafir dari kaum-kaum di setiap zaman ini telah mengolok-olok mereka, menuduh mereka berdusta, penipu atau gila, dan melemparkan berbagai fitnah terhadap mereka. Allah menghancurkan kaum-kaum yang terus-menerus hidup dalam kezaliman dan kefasikan melalui beberapa bencana besar, pada saat mereka hampirhampir tidak menyangkanya. Kehancuran yang dialami oleh kaum Nuh, Luth, �Ad, Tsamud, dan lain-lain yang tersebut di dalam al-Qur�an adalah contoh-contoh dari bentuk pemusnahan ini.

Di dalam al-Qur�an, Allah mewahyukan mengapa Dia telah mengutus para nabi: guna menyampaikan kabar gembira kepada umat-umat, untuk memberikan kesempatan yang penting bagi umat mereka agar meninggalkan kepercayaankepercayaan palsu mereka, dan menjalani hidup mereka sesuai dengan agama Allah dan akhlak yang mulia, dan untuk memberi peringatan kepada manusia sehingga mereka tidak akan memiliki dalih pada Hari Kiamat nanti karena tidak mengindahkan peringatan-peringatan yang disampaikan kepada mereka. Dalam sebuah ayat, tujuan-tujuan ini dinyatakan sebagai:

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. (Q.s. an-Nisa�: 165).

Sebagaimana dikatakan di dalam ayat 40 Surat al-Azhab, Nabi Muhammad saw. adalah nabi terakhir. Muhammad saw. adalah �… Rasul Allah dan penutup nabi-nabi …� (Q.s. al-Azhab: 40). Dengan kata lain, melalui perantaraan Nabi Muhammad saw., rangkaian wahyu Allah kepada umat manusia telah lengkap. Walaupun demikian, tanggung jawab untuk menyampaikan dan mengingatkan manusia akan al-Qur�an yang disampaikan oleh Nabi saw. berada di pundak setiap orang Islam hingga akhir dunia.

KEUNGGULAN AKHLAK ISLAM DI DUNIA

Salah satu tema yang senantiasa diangkat di dalam al-Qur�an adalah mengenai orang-orang yang telah dihancurkan oleh Allah, karena kezaliman dan kedurhakaan mereka, dan contoh yang bisa diambil dari mereka itu. Tentu saja, terdapat sebuah sisi yang sangat besar di antara persamaan umat pada masa lalu dan pada masa kita sekarang. Pada zaman kita, ada orang-orang yang sikap dan cara hidupnya bahkan melampaui penyimpangan seksual yang dilakukan oleh kaum Luth, kecurangan penduduk Madyan, kesombongan dan kepongahan kaum Nuh, kedurhakaan dan kezaliman kaum Tsamud, rasa tidak tahu terima kasih kaum Iram, beserta tingkah laku dari berbagai macam umat lainnya yang telah dimusnahkan. Alasan yang jelas dari semua kerusakan moral ini adalah orang-orang tersebut telah melupakan Allah dan maksud penciptaan diri mereka.

Pembunuhan, ketidakadilan sosial, pengkhianatan, penipuan, dan kerusakan moral pada zaman di mana kita hidup ini bahkan telah mendorong sebagian orang untuk berputus asa. Namun, janganlah dilupakan bahwa al-Qur�an memerintahkan agar kita tidak berputus asa dari pertolongan Allah. Putus asa dan patah semangat adalah cara berpikir yang tidak dapat diterima bagi orang-orang yang beriman. Allah memberitahukan bahwa mereka yang mengabdi kepada-Nya dengan tulus � dengan tanpa menyekutukan-Nya dengan makhluk-makhluk-Nya yang mana pun sebagai tuhan-tuhan di samping-Nya � dan beramal saleh guna mendapat keridha-an-Nya, akan mendapat kekuatan dan kekuasaan.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benarbenar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (Q.s. an-Nur: 55).

Dalam sejumlah ayat, juga dikatakan bahwa adalah sebuah hukum ilahiah bahwa hamba-hamba yang setia dan menjalankan agama yang haq di dalam hatinya akan dijadikan sebagai para pewaris atas dunia ini:

Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lawh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai oleh hamba-hamba-Ku yang saleh. (Q.s. al-Anbiya�: 105).

Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku. (Q.s. Ibrahim: 14).

Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umatumat yang sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa. Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat. (Q.s. Yunus: 13-14).

Musa berkata kepada kaumnya: �Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; diwariskan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. Kaum Musa berkata: �Kami telah ditindas (oleh Fir�aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang.� Musa menjawab: �Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(-Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.� (Q.s. al-A�raf: 128-129).

Allah telah menetapkan: �Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.� Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Q.s. al-Mujadalah: 21).

Bersamaan dengan kabar gembira yang disampaikan pada ayat-ayat di atas, Allah telah memberikan sebuah janji yang sangat penting kepada orang-orang beriman. Dia berfirman di dalam al-Qur�an bahwa agama Islam diturunkan kepada umat manusia untuk mengatasi segala agama.

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Qur�an) dan agama yang benar untuk dime-nangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (Q.s. at-Taubah: 32-33).

Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (Q.s. ash-Shaff: 8-9).

Tak ada keraguan bahwa Allah akan memenuhi janji-janji-Nya. Akhlak mulia yang akan menaklukkan filsafat-filsafat yang menyimpang, ideologi-ideologi yang terdistorsi, dan pemahaman agama palsu adalah akhlak Islam ini. Ayat-ayat yang dikutip di atas menandaskan bahwa orang-orang kafir dan penyembah berhala tak mampu menghindari terjadinya hal ini.

Periode ini, di mana akhlak Islam akan tegak, akan menjadi saat di mana setiap waktu ada cinta, pengorbanan, kedermawanan, kejujuran, keadilan sosial, keamanan dan kesejahteraan pribadi. Periode ini telah disebut sebagai Zaman Keemasan karena kemiripannya dengan gambaran-gambaran tentang Surga, namun, sejauh ini, zaman seperti itu belum sempat terwujud. Zaman yang diberkahi ini akan mendahului Hari Kiamat; dan kini sedang menunggu-nunggu saat itu di mana Allah telah menetapkan akan kedatangannya.

NABI ISA A.S. KEMBALI KE BUMI

Isa a.s. adalah seorang nabi pilihan Allah. Beliau adalah salah satu nabi yang paling banyak disebut-sebut dalam sejarah dunia. Puji syukur kepada Allah sehingga ada sebuah sumber di mana kita dapat memeriksa mana yang benar dan mana yang palsu tentang apa yang telah dikatakan selama ini tentang diri beliau. Sumber tersebut adalah al-Qur�an, satu-satunya wahyu Allah yang tetap tidak berubah dan tidak mengalami distorsi.

Tatkala kita merujuk kepada al-Qur�an untuk mengungkap kebenaran sejati tentang Nabi Isa a.s., kita melihat bahwa:

Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang terjadi dengan) kalimat-Nya. (Q.s. an-Nisa�:171).
Allah memberinya nama al-Masih Isa putra Maryam. (Q.s. Ali �Imran: 45).
Dia jadikan beliau sebagai tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. (Q.s. al-Anbiya�: 91).
Isa a.s. berbicara kepada manusia dalam buaian dan dia memiliki sekian banyak mukjizat. (Surat Ali �Imran: 46),
Mukjizat lainnya adalah bahwa dia akan kembali lagi ke bumi pada Akhir Zaman dan berbicara kepada manusia.
(Q.s. Ali �Imran: 46; Q.s. al-Ma�idah: 110).
Isa a.s. diberi Injil. (Q.s. al-Hadid: 27).
Orang-orang yang menuhankannya telah berbuat kesalahan dan menjadi kafir. (Q.s. al-Ma�idah: 72).
Orang-orang kafir membuat tipu daya untuk membunuh beliau, namun Allah membalas tipu daya mereka. (Q.s. Ali �Imran: 54).
Allah tidak mengizinkan orang-orang kafir membunuh Isa a.s., namun mengangkat beliau ke hadirat-Nya, dan mengumumkan kabar gembira kepada umat manusia bahwa beliau akan datang kembali suatu hari nanti. Al-Qur�an memberikan informasi tentang kembalinya Isa a.s. dalam sekian banyak ayat:

Salah satu ayat mengatakan bahwa orang-orang kafir yang memasang jebakan untuk membunuh Isa a.s. tidak berhasil;

Dan karena ucapan mereka: �Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, rasul Allah,� padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa a.s. benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (Q.s. an-Nisa�: 157).

Salah satu ayat lain mengatakan bahwa Isa a.s. tidaklah wafat, namun diangkat dari ruang lingkup manusia ke hadirat Allah.

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Q.s. an-Nisa�: 158).

Di dalam ayat ke-55 Surat Ali �Imran, kita mempelajari bahwa Allah akan menempatkan orang-orang yang mengikuti Isa di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kebangkitan. Adalah sebuah fakta historis bahwasanya, 2.000 tahun yang lalu, murid-murid Isa tidak memiliki kekuatan politik. Orang-orang Nasrani yang hidup di antara periode itu dengan zaman kita telah mempercayai sejumlah doktrin palsu, yang puncaknya adalah doktrin Trinitas. Oleh sebab itu, sebagaimana telah begitu gamblang, mereka tak dapat disebut sebagai para pengikut Isa a.s., karena, sebagaimana dinyatakan dalam sekian banyak tempat di dalam al-Qur�an, mereka yang meyakini Trinitas telah tergelincir ke dalam kekafiran. Dalam kasus yang demikian, pada waktu sebelum Hari Kiamat, para pengikut Isa a.s. yang sejati akan mengalahkan orang-orang yang ingkar dan menjadi manifestasi dari janji Allah yang terkandung di dalam Surat Ali �Imran. Tentu saja, kelompok yang diberkahi ini akan dapat dikenali tatkala Isa a.s. kembali lagi ke bumi.

Sekali lagi, al-Qur�an menyatakan bahwa para Ahli Kitab akan beriman kepada Isa a.s. sebelum mereka meninggal.

Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa a.s.) sebelum kematiannya. Dan pada Hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (Q.s. an-Nisa�: 159).

Kita dengan jelas mengkaji dari ayat ini bahwa masih ada tiga janji yang belum dipenuhi tentang Isa a.s. Pertama, sebagaimana halnya setiap manusia lainnya, Nabi Isa a.s. akan wafat. Kedua, semua orang dari kalangan Ahli Kitab akan melihat beliau dalam wujud jasmaniah dan akan menaatinya sewaktu beliau hidup. Tak ada keraguan bahwa kedua prediksi ini akan dipenuhi tatkala Isa a.s. datang kembali sebelum Hari Kiamat. Prediksi ketiga tentang Isa a.s. yang menyampaikan kesaksian terhadap para Ahli Kitab akan dipenuhi pada Hari Kiamat.

Ayat lain dalam Surat Maryam membahas kematian Isa a.s.

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. (Q.s. Maryam: 33).

Tatkala kita bandingkan ayat ini dengan ayat ke-55 Surat Ali �Imran, kita dapat menemukan sebuah fakta yang sangat penting. Ayat di dalam Surat Ali �Imran berbicara tentang Isa a.s. yang sedang diangkat ke hadirat Allah. Dalam ayat ini, tak ada informasi yang diberikan tentang apakah Isa a.s. telah meninggal ataukah tidak. Namun dalam ayat ke-33 Surat Maryam, kematian Isa a.s. disebut. Kematian kedua ini hanya mungkin bila Isa a.s. kembali lagi ke bumi dan wafat setelah hidup di sini selama beberapa waktu. Wallahu a�lam! (Hanya Allah Yang Mahatahu).

Ayat lain yang menyinggung kembalinya Isa a.s. ke bumi berbunyi:

Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil. (Q.s. Ali �Imran: 48).

Guna memahami penyebutan kata �Kitab� yang disebut dalam ayat ini, kita harus melihat ke ayat-ayat lainnya di dalam al-Qur�an yang relevan dengan pokok pembahasan ini: bila Kitab itu dinyatakan dalam satu ayat bersama-sama dengan Taurat dan Injil, maka ia harusnya berarti al-Qur�an. Ayat ketiga Surat Ali �Imran memberikan sebuah contoh yang demikian:

Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri. Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur �an) kepadamu dengan sebenar nya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (al-Qur�an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan alFurqan (pembeda antara yang haq dan bathil). (Q.s. Ali �Imran: 2-4).

Dalam kasus ini, kitab yang dimaksud dalam ayat 48, yang dipelajari Isa a.s., hanya dapat berarti al-Qur�an. Kita tahu bahwa Isa a.s. sudah mengenal Taurat dan Injil pada masa hidupnya, yaitu, kira-kira 2.000 tahun yang lalu. Maka jelas, al-Qur�an yang akan dipelajarinya tatkala beliau kembali lagi ke bumi.

Apa yang ditawarkan di dalam ayat 59 Surat Ali �Imran sangatlah menarik: �Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam �� Da-lam ayat ini kita dapat melihat bahwa pasti terdapat sejumlah kemiripan antara kedua nabi tadi. Sebagaimana kita ketahui, baik Adam a.s. dan Isa a.s. tidak memiliki ayah, namun kita dapat menarik kemiripan yang lebih jauh lagi dari ayat di atas, antara diturunkannya Adam ke bumi ini dari Surga dan diturunkannya Isa a.s. dari hadirat Allah pada Akhir Zaman.

Al-Qur�an mengatakan berikut ini tentang Isa a.s.:

Dan sesungguhnya Isa a.s. itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang Hari Kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang Kiamat itu dan ikutilah aku. Inilah jalan yang lurus. (Q.s. az-Zukhruf: 61).

Kita mengetahui bahwa Isa a.s. hidup enam abad sebelum al-Qur�an diturunkan. Dengan demikian, ayat ini haruslah menunjuk, bukan pada kehidupan pertamanya, namun pada kedatangannya kembali pada Hari Akhir. Baik dunia Kristen maupun Islam menanti-nantikan kedatangan Isa a.s. yang kedua kalinya ini dengan penuh harap. Kehadiran tamu mulia yang diberkahi ini ke muka bumi akan menjadi tanda penting Hari Kiamat.

Bukti lebih jauh tentang kedatangan kedua kalinya Isa a.s. dapat ditemukan dalam penggunaan kata wakahlan dalam Surat al-Maidah 110, dan Surat Ali �Imran 46. Dalam ayatayat tersebut, kita diberi tahu mengenai perintah-perintah ini:

(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: �Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa (wakahlan) �� (Q.s. al-Ma�idah: 110).

Dan dia berbicara kepada manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa (wakahlan)dan dia adalah salah se-orang di antara orang-orang yang saleh. (Q.s. Ali �Imran: 46).

Kata ini terdapat hanya pada kedua ayat tadi dan hanya merujuk kepada Isa a.s. Kata ini dipakai untuk menggambarkan usia Isa a.s. yang lebih dewasa. Kata tersebut merujuk pada usia antara 30 dan 50, yaitu pada akhir masa muda dan menjelang usia tua. Para ulama sepakat dalam menerjemahkan kata ini untuk merujuk pada kurun waktu usia 35.

Para ulama berpegang pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. tentang kesimpulan bahwa Isa a.s. diangkat ke hadirat Allah sewaktu masih muda, yaitu, pada awal usia 30an, dan bahwa tatkala beliau kembali lagi ke bumi, beliau tinggal memiliki sisa umur 40 tahun. Isa a.s. akan menjalani masa tuanya setelah beliau kembali ke bumi, maka ayat ini dapat dikatakan sebagai suatu bukti akan kedatangan Isa a.s. untuk yang kedua kalinya ke bumi. 2

Sebagaimana telah disebutkan, bila kita telaah al-Qur�an dengan cermat, kita pun melihat bahwa kata ini hanya dipakai untuk merujuk kepada Isa a.s. Semua nabi telah berbicara kepada manusia dan mengajak mereka untuk menerima agama. Mereka semua telah menyampaikan risalahnya tatkala mereka telah berusia dewasa. Akan tetapi, al-Qur�an tidak mengatakan hal yang serupa itu mengenai nabi lainnya. Kata ini hanya dipakai untuk Isa a.s., dan suatu mukjizat. Frasa �dalam buaian� dan �setelah beranjak dewasa� merujuk pada dua mukjizat yang sangat besar.

Adalah sebuah mukjizat bahwasanya Isa a.s. berbicara ketika beliau masih berada dalam buaian. Ini adalah suatu hal yang belum pernah terlihat sebelumnya, dan al-Qur�an berulang kali berbicara tentang peristiwa yang ajaib ini. Setelah kata-kata ini segera diikuti dengan frasa �dan berbicara kepada manusia ketika sudah dewasa.� Kata-kata ini pun merujuk pada sebuah keajaiban. Bila kata-kata �ketika sudah dewasa� merujuk pada kehidupan beliau yang sebelumnya pada waktu sebelum diangkat ke hadirat Allah, maka berbicaranya Isa a.s. tidak akan menjadi sebuah keajaiban. Dan karena bukan suatu keajaiban, maka tidak akan dipakai setelah berbicara ketika masih dalam buaian atau dengan cara yang sama dalam suatu situasi yang ajaib. Dalam kasus demikian, sebuah ungkapan seperti �dalam buaian dan ketika sudah dewasa� akan dipakai dan akan mengungkapkan komunikasi yang berlangsung semenjak dari waktu Isa a.s. mulai berbicara dalam buaian hingga saat beliau diangkat ke hadirat Allah. Namun, ayat tadi menarik perhatian kita pada dua peristiwa yang amat sangat ajaib. Yang pertama adalah berbicara ketika masih dalam buaian; yang lainnya, pembicaraan Isa a.s. pada usia dewasanya. Dengan demikian, ungkapan �ketika sudah dewasa� merujuk pada suatu waktu yang merupakan sebuah keajaiban. Yaitu waktu di mana Isa a.s. akan berbicara kepada manusia dalam usia dewasanya setelah beliau kembali lagi ke bumi. Wallahu a�lam!

Dalam hadis-hadis Nabi Muhammad saw. terdapat informasi tentang kedatangan kedua Isa a.s. Dalam beberapa hadis, informasi ini diberikan bersamaan dengan informasi lainnya tentang apa yang akan dilakukan oleh Isa a.s. sewaktu beliau berada di dunia. Anda dapat membaca hadis-hadis yang relevan dengan pokok pembahasan ini dalam bab di buku ini yang berjudul �Kembalinya Isa a.s. Setelah Kemunculan Nabinabi Palsu.� (Guna memperoleh informasi yang lebih lengkap, silakan baca buku Harun Yahya yang berjudul Jesus Will Return, Ta-Ha Publishers, Februari 2001.)

Akan bermanfaat untuk mengingatkan kepada para pembaca di sini tentang sebuah perkara yang sangat penting: Allah telah mengutus Nabi Muhammad saw. kepada umat manusia sebagai nabi pamungkas. Allah telah mewahyukan al-Qur�an kepada Nabi Muhammad saw., dan membebankan atas semua manusia tanggung jawab dalam menaati al-Qur�an hingga Hari Pengadilan. Isa a.s. akan kembali secara ajaib ke dunia pada Akhir Zaman namun, sebagaimana dikatakan oleh Nabi Muhammad saw., beliau tidak akan membawa agama baru. Agama sejati yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. adalah Islam, yang mana Isa a.s. pun akan tunduk tatkala beliau datang kembali ke bumi ini.

TERBELAHNYA BULAN

Surat 54 dari al-Qur�an disebut �Surat al-Qamar�. Qamar berarti bulan. Dalam beberapa ayatnya, surat ini menceritakan tentang kehancuran yang menimpa kaum Nuh, �Ad, Tsamud, Luth, dan Fir�aun, karena mereka menolak peringatan dari para nabi. Pada saat yang sama, ada sebuah pesan yang sangat penting yang dinyatakan di dalam ayat pertama, yang berkenaan dengan Hari Akhir.

Telah dekat (datangnya) as-Sa’ah (Hari Kiamat) dan telah terbelah bulan. (Q.s. al-Qamar: 1).

Kata �belah� yang dipakai dalam ayat ini dalam bahasa Arabnya adalah syaqqa, yang dalam bahasa Arab memiliki beragam arti. Dalam beberapa tafsir al-Qur�an, makna �belah� lebih dipilih. Namun syaqqa dalam bahasa Arab juga dapat berarti �mencangkul� atau �menggali� bumi. Sebagai contoh dari penggunaan yang pertama, kita dapat merujuk pada ayat 26 Surat al-Abasa:

Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayursayuran, zaitun dan pohon kurma. (Q.s. �Abasa: 25-29).

Dapat terlihat dengan jelas bahwa makna syaqqa di sini bukanlah �belah�. Arti yang dipakai adalah mencangkul tanah agar dapat ditumbuhi beragam tanaman.

Bila kita kembali menengok ke tahun 1969, kita akan melihat salah satu keajaiban al-Qur�an. Eksperimen yang dijalankan di permukaan bulan pada tanggal 20 Juli 1969, dapat mengisyaratkan terpenuhinya berita yang telah disampaikan 1.400 tahun yang lampau di dalam Surat al-Qamar. Pada tanggal itu, para astronot Amerika menjejakkan kaki mereka di bulan. Dengan menggali tanah bulan, mereka pun melakukan ekspe-rimen-eksperimen ilmiah dan mengumpulkan contoh-contoh bebatuan dan tanah. Sungguh sangat menarik bahwa kemajuan-kemajuan ini sepenuhnya persis dengan pernyataanpernyataan di dalam ayat tadi.

Sewaktu para astronot itu sedang bekerja di permukaan bulan, mereka mengumpulkan 15,4 kilogram contoh-contoh batu dan tanah. Contoh-contoh ini kelak menarik banyak perhatian. Menurut laporan NASA, minat yang diperlihatkan oleh orang-orang terhadap contoh-contoh ini barangkali melampaui minat mereka terhadap semua bentuk eksplorasi ruang angkasa lainnya pada abad ke-20. 3

Eksplorasi bulan ini ditandai dengan slogan: �Satu langkah kecil bagi seorang manusia; satu lompatan raksasa bagi umat manusia.� Ini adalah sebuah momentum bersejarah dalam riset ruang angkasa; ia adalah sebuah peristiwa yang didokumentasikan oleh kamera, dan setiap orang mulai saat itu hingga sekarang telah menyaksikannya. Sebagaimana telah dinyatakan dalam ayat pertama Surat al-Qamar, peristiwa besar ini bisa jadi juga merupakan sebuah tanda Hari Akhir. Ia bisa jadi adalah sebuah tanda bahwa dunia sudah berada pada Akhir Zaman sebelum datangnya Pengadilan. Wallahu a�lam!

Akhir kata, biarlah kami terangkan bahwa terdapat sebuah peringatan yang sangat penting yang mengikuti ayat-ayat ini. Terdapat peringatan bahwa tanda-tanda ini adalah sebuah peluang yang penting bagi manusia untuk meninggalkan perbuatan dosa, dan mereka yang tidak mengindahkan per-ingatan-peringatan ini akan kecewa manakala mereka akan dihidupkan kembali pada Hari Pengadilan yang digambarkan di dalam al-Qur�an sebagai �sesuatu yang tak terperikan kengeriannya.�

Telah dekat (datangnya) as-Sa�ah (Hari Kiamat) itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: �(Ini adalah) sihir yang terusmenerus.� Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran), itulah suatu hikmat yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tiada berguna (bagi mereka). Maka berpalinglah kamu dari mereka. (Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan), sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan, mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata: �Ini adalah hari yang berat.� (Q.s. al-Qamar: 1-8).

[[===—-
ii. TANDA-TANDA KIAMAT DI DALAM HADIS-HADIS NABI MUHAMMAD SAW.

PERANG DAN ANARKI

Empat belas abad yang lalu, Nabi Muhammad saw. menceritakan sejumlah rahasia yang berkenaan dengan Hari Kiamat � dan mengenai pikiran beliau tentang hal tersebut � kepada para sahabatnya. Sabda-sabda yang berharga ini telah disampaikan dari satu generasi ke generasi hingga hari ini dalam bentuk kitab-kitab hadis dan karya-karya para ulama. Hadis-hadis yang digunakan dalam bagian-bagian selanjutnya dari buku ini mengandung informasi yang diberikan oleh Nabi Muhammad saw. tentang hal ini.

Dalam hal ini, mungkin saja muncul suatu keraguan dalam hati pembaca berkenaan dengan kesahihan dan keotentikan hadis-hadis tentang Hari Kiamat. Memang adalah suatu fakta yang diakui bahwasanya, pada masa lalu, telah terdapat sejumlah hadis palsu yang dibuat-buat dan dinisbatkan kepada Nabi Muhammad saw., namun hadis-hadis yang menjadi pokok pembahasan penelaahan kita akan dengan mudah dikenali bahwa asalnya adalah dari Nabi Muhammad saw. Terdapat metode untuk membedakan antara hadis-hadis yang sahih dengan hadis-hadis yang palsu. Sebagaimana kita ketahui, hadis-hadis tentang Hari Kiamat menceritakan peristiwaperistiwa yang akan terjadi pada masa depan. Dengan alasan inilah, manakala sebuah hadis terbukti kebenarannya seiring berjalannya waktu, segala keraguan tentang sumber dari sabdasabda ini pun hilang.

Sekian banyak ulama yang melakukan penelitian mengenai pokok pembahasan Akhir Zaman dan tanda-tanda Hari Kiamat telah menggunakan kriteria ini. Seorang pakar dalam pokok pembahasan ini, Bediuzzaman Said Nursi, mengatakan bahwasanya merupakan fakta bahwa hadis-hadis yang berkenaan dengan Akhir Zaman memiliki hubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terlihat pada masa kita menunjukkan kesahihan dari hadis-hadis tersebut.1

Beberapa tanda-tanda yang diceritakan di dalam hadis-hadis tersebut telah dapat dilihat di sebagian wilayah dunia ini pada suatu kurun waktu selama 1.400 tahun sejarah Islam, namun hal itu tidak akan membuktikan bahwa periode tersebut adalah Akhir Zaman. Untuk suatu periode tertentu yang disebut Akhir Zaman, semua tanda Hari Akhir harus dapat diamati terjadinya dalam satu kurun waktu yang sama. Hal ini diungkapkan dalam sebuah hadis:

Tanda-tandanya terjadi secara berurutan bagaikan bagian-bagian dari kalung yang jatuh satu demi satu tatkala untaiannya terputus. (H.r. Tirmizi)

Manakala kita menelaah Akhir Zaman dari sudut pandang informasi yang diceritakan di atas, kita pun sampai pada sebuah kesimpulan yang mencengangkan. Tanda-tanda yang digambarkan oleh Nabi Muhammad saw. secara rinci sedang terjadi satu demi satu di setiap penjuru dunia, sebagaimana tergambar pada abad di mana kita hidup sekarang ini. Begitulah, bahwa hadis-hadis tersebut melukiskan dengan sempurna potret zaman kita. Sungguh ini adalah sebuah keajaiban, dan menuntut adanya pertimbangan yang matang. Setiap tanda yang terjadi adalah untuk mengingatkan kepada manusia sekali lagi akan sangat dekatnya Hari Kiamat, suatu hari manakala mereka akan memberikan pertanggungjawaban atas diri mereka sendiri di hadirat Allah, dan dengan demikian, mereka hendaknya bersegera menerapkan nilai-nilai akhlak al-Qur�an dalam kehidupan mereka.

PERANG DAN ANARKI

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad saw. menggambarkan Akhir Zaman sebagai berikut:

Rasulullah saw. bersabda: �Akan banyak terjadi alharj.� Para sahabat bertanya, �Apakah al-harj itu?� Beliau menjawab, �(Yaitu) pembunuhan, pertumpahan darah.� (H.r. Bukhari)

Makna harj yang disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad saw. di atas adalah �kekacaubalauan total� dan �ketidakteraturan�, yang tidak terbatas pada satu wilayah tertentu, namun akan tersebar luas di seluruh penjuru dunia.

Sekali lagi, tentang topik ini, sabda-sabda Nabi Muhammad saw. berikut telah sampai kepada kita:

As-Sa�ah (Hari Kiamat) akan tiba manakala keke rasan, pertumpahan darah, dan anarki telah merata di mana-mana. (Al-Muttaqi al-Hindi, Muntakhab Kanzul �Ummaal)

Dunia ini belum akan kiamat hingga datang suatu hari di mana akan terjadi pembunuhan dan pertumpahan darah di mana-mana. (H.r. Muslim)

Manakala kita telaah hadis-hadis di atas, kita pun mengarah pada sebuah kesimpulan yang penting. Nabi Muhammad saw. telah menggambarkan terjadinya konflik-konflik, kekacauan, pembunuhan, peperangan yang melibatkan seluruh dunia, dan munculnya teror, dan memberitahukan bahwa peristiwa-peristiwa ini adalah tanda-tanda Hari Akhir.

Bila kita menilik empat belas abad terakhir, kita pun melihat bahwa sebelum memasuki abad ke-20 peperangan bersifat regional. Akan tetapi, peperangan yang berpengaruh pada setiap orang di dunia ini, sistem-sistem politik, keseluruhan struktur ekonomi dan sosial, hanya pernah terjadi baru-baru ini saja, dalam dua perang dunia. Dalam Perang Dunia I, lebih dari 20 juta orang terbunuh; dalam Perang Dunia II, korbannya lebih dari 50 juta jiwa. Pada saat yang sama, Perang Dunia II diakui sebagai perang yang paling berdarah, terbesar, dan paling destruktif dalam sejarah.

Teknologi militer modern, termasuk senjata-senjata nuklir, biologi, dan kimia, telah meningkatkan efek-efek perang hingga pada suatu batasan yang tak pernah terlihat sebelumnya dalam sejarah. Oleh karena senjata-senjata pemusnah massal yang telah dikembangkan, sudah diterima secara umum bahwa dunia ini tidak akan memasuki suatu perang dunia ketiga.

Konflik-konflik yang terjadi pasca-Perang Dunia II � Perang Dingin, Perang Korea, Perang Vietnam, konflik ArabIsrael, dan Perang Teluk � adalah di antara sekian peristiwa yang paling kritis pada masa kita. Demikian pula halnya, perang-perang regional, konflik-konflik dan perang-perang sipil, telah menimbulkan kerusakan di banyak tempat di dunia ini. Di tempat-tempat seperti Bosnia, Palestina, Chechnya, Afghanistan, Kashmir dan banyak lagi lainnya, berbagai persoalan membahayakan umat manusia.

Contoh lain dari suatu tipe �kekacauan� yang memprihatinkan umat manusia yang sama besarnya dengan perang adalah terorisme internasional yang terorganisasi. Sebagaimana disepakati juga oleh para pemegang otoritas atas pokok pembahasan ini, aksi-aksi teror telah berlipat ganda pada paro terakhir abad ke-20.2 Sungguh, bahkan mungkin saja dapat dikatakan bahwa teror tersebut adalah suatu fenomena yang khas pada abad ke-20. Organisasi-organisasi yang mengabdi pada rasisme, komunisme, dan ideologi-ideologi serupa itu, atau dengan tujuan-tujuan nasionalis, telah terlibat dalam aksiaksi brutal dengan bantuan teknologi yang berkembang.

Dalam sejarah dunia akhir-akhir ini, aksi-aksi teror telah berulang kali menimbulkan kekacauan. Banyak darah yang sudah tertumpah dan tak terhitung orang-orang tidak berdosa yang kehilangan anggota tubuhnya atau terbunuh. Namun tetap saja, umat manusia masih belum mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa yang tragis ini.

Di banyak tempat di dunia ini, teror terus berlangsung sebagai akar-akar aksi anarki yang mematikan.

Terdapat sejumlah ayat al-Qur�an yang relevan dengan pokok pembahasan ini. Dalam Surat ar-Rum, dinyatakan bahwa kekacaubalauan tersebut telah menimpa dunia ini karena apa yang telah diperbuat oleh tangan manusia:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Q.s. ar-Rum: 41).

Kita harus menambahkan bahwa ayat ini adalah sebagai peringatan bagi diri kita akan sebuah kebenaran yang sangat penting. Rasa sakit dan perih yang timbul dari kesalahankesalahan yang dibuat oleh umat manusia adalah suatu bentuk peluang untuk membantu mereka agar meninggalkan ke-salahan-kesalahan ini.
Singkatnya, kini kita sedang hidup pada abad kekacaubalauan dan ketidakteraturan di mana lagi-lagi tanda lain dari Akhir Zaman yang dapat dikenali. Tanda ini adalah sebuah peringatan keras agar manusia hendaknya segera mulai menjalani kehidupan mereka sesuai dengan ajaran-ajaran moral dari al-Qur�an.

KEHANCURAN KOTA-KOTA BESAR: PEPERANGAN DAN BENCANA

Salah satu pemberitahuan yang disampaikan kepada kita oleh Nabi Muhammad saw. tentang Akhir Zaman adalah sebagai berikut:

Kota-kota besar akan hancur hingga seakan-akan belum pernah ada sebelumnya. (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi �Alamat al-Mahdi Akhir az-Zaman)

Kehancuran kota-kota besar yang dibicarakan dalam hadis ini mengingatkan akan kehancuran yang kini ditimbulkan dari perang dan berbagai bencana alam. Senjata-senjata nuklir yang dikembangkan secara mutakhir, pesawat terbang, bom-bom, rudal-rudal, dan senjata-senjata modern lainnya, telah mengakibatkan kehancuran yang tak terperikan. Senjata-senjata mengerikan ini telah mendatangkan suatu tingkat kehancuran yang tak pernah terlihat sebelumnya. Sungguh, kota-kota besar yang menjadi targetlah yang paling terpengaruh oleh kehancuran ini. Kehancuran yang tiada taranya pada Perang Dunia II adalah satu contoh dari hal ini. Dengan penggunaan bom atom dalam perang dunia terbesar, Hiroshima dan Nagasaki benar-benar hancur lebur. Hasil dari aksi pemboman besarbesaran, ibukota-ibukota Eropa dan kota-kota penting lainnya menderita kerusakan yang sangat parah. The Encyclopedia Britannica menggambarkan kerusakan yang mengakibatkan kondisi memburuknya kota-kota Eropa selama Perang Dunia II:

Hasil penghancuran besar-besaran ini telah mengubah banyak wilayah Eropa menjadi lengang dan sunyi: kota-kota hancur lebur atau menjadi santapan badai api, daerah pinggiran kota hangus dan menghitam, jalan-jalan penuh lobang dampak dari ledakan granat atau bom, rel-rel tidak berfungsi lagi, jembatan-jembatan hancur atau putus, pe-labuhan-pelabuhan dipenuhi dengan kapal-kapal yang tenggelam dan miring. �Berlin,� kata Jenderal Lucius D. Clay, deputi gubernur militer zona AS di Jerman pascaperang, �ketika itu seperti kota mati.�3

Singkatnya, kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya yang diakibatkan oleh Perang Dunia II seluruhnya cocok dengan apa yang digambarkan di dalam hadis Nabi Muhammad saw.

Sebab lain kehancuran kota-kota besar adalah bencana alam. Adalah sebuah fakta statistik bahwa era dimana kita hidup di dalamnya telah melihat peningkatan baik dalam jumlah maupun keseriusan peristiwa bencana alam. Dalam sepuluh tahun terakhir, bencana-bencana yang diakibatkan oleh perubahan-perubahan iklim adalah sebuah fenomena baru. Sebuah produk sampingan dari industri yang berbahaya dan tak dikehendaki adalah pemanasan global. Industri secara berangsur-angsur telah mengganggu keseimbangan atmosfir bumi, meningkatkan perubahan iklim. Tahun 1998 adalah tahun terpanas di muka bumi ini dari catatan-catatan yang pernah ada.4 Menurut informasi dari American National Climate Data Center, jumlah terbesar bencana-bencana yang berhubungan dengan cuaca terjadi pada tahun 1998.5 Contohnya, Badai Mitch telah disebut-sebut oleh sejumlah pengamat sebagai bencana alam terburuk di dunia yang pernah melanda Amerika Tengah

Dalam salah satu hadis, diungkapkan bahwa, pada Hari Kiamat, kota-kota besar akan dimusnahkan seakan-akan mereka tidak pernah ada. Pada satu abad yang lalu, banyak kota-kota dihancurkan dengan cara tertentu. Tidak ada yang lain kecuali terdapat dua contoh di sini yang cukup dapat menggambarkannya. Kota Hiroshima setelah peristiwa bom atom (di atas), dan beberapa kota di Chechnya. (Inset)

Dalam beberapa tahun terakhir ini, angin topan hurricane, badai, angin topan, dan bencana-bencana lain yang seperti itu telah menimbulkan efek destruktif pada benua Amerika serta sekian banyak tempat lain di dunia. Di samping itu, banjirbanjir telah mengakibatkan longsoran-longsoran lumpur, yang melanda pusat-pusat populasi tertentu. Lebih jauh lagi, gempa bumi, gunung berapi, dan gelombang pasang juga telah mengakibatkan kerusakan yang sangat besar. Dengan demikian, semua kehancuran yang melanda kota-kota besar ini, yang diakibatkan oleh bencana-bencana tersebut adalah sebuah tanda penting dalam masing-masing kasus.
Acapkali abad ke-20 diidentikkan dengan abad banyaknya bencana. Banyak kematian diakibatkan berbagai bencana alam seperti gempa bumi, angin topan, dan banjir, sementara banyak lainnya yang disebabkan oleh perang sipil, berbagai konflik dan kecelakaan yang dahsyat baik di laut maupun di udara. Dan keadaan ini tetap tidak berubah hingga di memasuki awal tahun di abad ke-21 ini. Kehancuran kota-kota dan binasanya para penduduknya menjadi jelas, menurut hadis, sebagai tanda-tanda Hari Kiamat.

GEMPA BUMI

Tak ada keraguan bahwa tak pernah ada peristiwa-peristiwa alam lain dalam sejarah yang pernah berpengaruh pada manusia hingga sampai pada batas sebagaimana halnya gempa bumi. Gempa dapat terjadi di mana saja dan kapan saja. Di sepanjang abad, gempa telah mengakibatkan banyak kematian dan kerugian material yang sangat besar. Oleh sebab itulah, gempa ini amat sangat ditakuti. Bahkan teknologi abad ke-20 dan ke-21 pun hanya mampu mencegah kerusakan akibat gempa pada suatu batasan tertentu.

Gempa yang terjadi pada tahun 1995 di Kobe adalah sebuah contoh bagi mereka yang suka berpikir bahwa teknologi akan memungkinkan untuk mengendalikan alam. Akan dikenang bahwa gempa ini datang dengan tanpa diprediksi pada pusat industri dan transportasi terbesar Jepang. Meskipun faktanya hanya berlangsung selama 20 detik, sebagaimana dilaporkan oleh majalah Time, gempa tersebut mengakibatkan kerusakan senilai 100 milyar dollar. 7

Dalam beberapa tahun terakhir ini, gempa-gempa besar telah terjadi berulang kali dan menjadi suatu hal yang paling menakutkan bagi manusia di seluruh dunia. Bila kita lihat pada data yang dikumpulkan oleh American National Earthquake Information Center untuk tahun 1999, kita dapati bahwa 20.832 gempa terjadi di suatu tempat di dunia. Menyebabkan sekitar 22.711 orang kehilangan nyawa

Semua hal seperti itu mengingatkan apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad saw. 1.400 tahun yang lalu:

As-Sa�ah (Hari Kiamat) tidak akan tiba hingga � sering sekali terjadi gempa-gempa. (H.r. Bukhari)

Ada dua kejadian besar sebelum Hari Pengadilan � dan tahun-tahun di mana terjadi gempa-gempa. (Diriwayatkan dari Ummu Salamah r.a.)

Di dalam al-Qur�an, terdapat ayat-ayat tertentu yang menerangkan hubungan antara gempa-gempa dan Akhir Zaman. Surat 99 bernama Surat az-Zalzalah; zalzalah artinya goncangan yang sangat hebat, atau gempa bumi. Surat ini, terdiri dari 8 ayat, menggambarkan goncangan dahsyat di atas bumi dan menyatakan bahwa, setelah itu, akan tibalah Hari Pengadilan, orang-orang akan dibangkitkan dari kubur mereka, memberikan pertanggungjawaban atas diri mereka kepada Allah, dan menerima ganjaran yang adil, bahkan untuk hal terkecil yang pernah mereka lakukan:

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya dan manusia bertanya: �Mengapa bumi (jadi begini)?� pada hari itu bumi menceritakan beritanya karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Q.s. az-Zalzalah: 1-8).
KEMISKINAN

Sudah diketahui umum bahwa kemiskinan adalah kekurangan pangan, tempat tinggal, pakaian, pelayanan kesehatan, dan kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya, yang disebabkan oleh rendahnya tingkat pendapatan. Walaupun adanya peluangpeluang yang disediakan oleh teknologi maju, kemiskinan pada hari ini adalah salah satu dari masalah paling serius yang dihadapi oleh dunia. Di Afrika, Asia, Amerika Selatan, dan Eropa Timur, banyak orang hidup dalam kelaparan setiap harinya. Penjajahan dan kapitalisme yang tak terkendali telah mencegah distribusi pendapatan di seluruh penjuru dunia dan kemajuan negara-negara miskin dan sedang berkembang. Ada segelintir orang yang hidup enak dan memiliki lebih dari apa yang mereka butuhkan, sementara terdapat sangat banyak orang yang bergulat dengan masalah-masalah kemiskinan dan kemelaratan.

Di dunia pada hari ini, kemiskinan telah mencapai proporsi yang parah. Laporan terakhir dari UNICEF menyatakan bahwa satu dari empat orang yang hidup dalam populasi dunia hidup dalam �penderitaan dan kekurangan yang tak terbayang-kan�. 9
Ada 1,3 milyar orang di dunia bertahan hidup dengan kurang dari 1 dolar sehari. Dan 3 milyar orang di dunia hari ini bergulat untuk bertahan hidup pada 2 dolar sehari. 10
Kira-kira 1,3 milyar orang kekurangan air bersih, 2,6 milyar orang tanpa akses atas kebersihan yang memadai.

Menurut laporan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), untuk tahun 2000, 826 juta orang di seluruh dunia tidak mendapatkan pangan yang cukup. Dengan kata lain, satu dari enam orang menderita kelaparan. 12
Dalam sepuluh tahun terakhir, ketidakadilan distribusi pendapatan telah meningkat lebih dari yang dapat dibayangkan oleh seorang manusia. Laporan PBB menunjukkan bahwa, pada tahun 1960, 20% orang di dunia yang hidup di negaranegara paling kaya memiliki pendapatan yang besarnya 30 kali lipat 20 negara paling miskin; pada tahun 1995 sudah naik menjadi 82 kalinya. 13
Sebagai contoh dari runtuhnya keadilan sosial, kekayaan dari 225 orang paling kaya di dunia setara dengan pendapatan tahunan 47% orang paling miskin. 14

Data statistik yang sedang berjalan ini menunjuk pada apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad saw. tentang meningkatnya kemiskinan. Dalam beberapa hadis, diberitahukan bahwa kemiskinan dan kelaparan akan menjadi tanda-tanda dari periode pertama Akhir Zaman.

Orang miskin akan bertambah jumlahnya.
(Amal ad-Din al-Qazwini, Mufid al-�Ulum Ma-mubid alhumum)

Kekayaan hanya dibagikan di kalangan orang-orang kaya saja, dengan tidak ada manfaatnya bagi orang-orang miskin.
(H.r. Tirmizi)
Jelaslah, bahwa periode yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad saw. menggambarkan kondisi-kondisi pada masa kita. Bila kita tilik pada abad-abad yang lampau, kita melihat bahwa kesulitan-kesulitan dan kerisauan yang dibawa oleh kemarau, perang, dan bencana-bencana lainnya bersifat sementara dan terbatas pada wilayah tertentu. Akan tetapi, pada hari ini, kemiskinan dan kesulitan dalam mencari nafkah bersifat permanen dan endemik.

Tentu saja, Tuhan kita memiliki rahmat dan kasih sayang yang tiada habisnya; Dia tidak menzalimi manusia. Namun, karena tidak adanya rasa syukur dari manusia, dan kejahatan yang mereka kerjakan, kemiskinan dan keprihatinan telah melembaga. Sungguh, keadaan yang menyedihkan ini menunjukkan dengan jelas bahwa dunia ini tersusun di atas landasan yang mementingkan diri sendiri dan keserakahan dibandingkan landasan agama, nilai-nilai moral, dan nurani.

Sebagian dari kalian yang memiliki kekayaan yang melimpah dan lebih dari cukup janganlah menyatakan sumpah bahwa mereka tidak akan memberi (bantuan) kepada kerabat, kaum miskin, dan mereka yang berhijrah di jalan Allah. Seharusnya mereka memberi maaf dan melupakan (atas kesalahan di masa lalu). Tidaklah kalian lebih menyukai (jika) Allah memberikan ampunan bagi kalian? Allah adalah Maha pemberi ampun dan Maha pengasih.
(Q.s. an-Nur: 22).

RUNTUHNYA NILAI-NILAI MORAL

Pada masa kita, terdapat sebuah bahaya besar yang mengancam susunan kemasyarakatan dunia. Sebagaimana halnya virus yang membunuh tubuh manusia, bahaya ini mendatangkan keruntuhan sosial yang halus. Bahaya ini adalah degradasi nilai-nilai moral yang menjaga masyarakat yang sehat secara ruhani. Homoseksual, pelacuran, hubungan kelamin sebelum dan di luar nikah, pelanggaran seksual, pornografi, pelecehan seksual, dan meningkatnya penyakit-penyakit kelamin, adalah sejumlah indikasi penting dari keruntuhan nilai-nilai moral.

Semua hal ini tetap men jadi hal-hal yang senantiasa menjadi keprihatinan publik. Sejumlah besar orang tidak menyadari bahaya yang meningkat di sekeliling mereka, dan dengan salah menganggapnya sebagai suatu hal yang normal. Namun, statistik menunjukkan bahwa, hari demi hari, jangkauan bahaya ini bertambah dengan tiada terkira.

Proporsi penyakit kelamin adalah sebuah kriteria penting untuk membantu menunjukkan tingkat masalah yang sedang dihadapi kemanusiaan. Menurut catatan-catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit-penyakit kelamin merupakan salah satu segmen penyakit yang terbesar. Laporanlaporan ini menunjukkan bahwa kira-kira 333 juta kasus baru penyakit menular seksual yang terjadi di dunia ini setiap tahunnya.15 Di samping itu, AIDS terus menjadi masalah yang paling serius. Statistik dari WHO menunjukkan bahwa jumlah keseluruhan kematian karena AIDS semenjak dimulainya epidemi ini sudah mencapai 18,8 juta jiwa.16 Laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia untuk tahun 2000 menerangkan situasi tersebut dengan ringkas dan tepat:

�AIDS memiliki keunikan dalam hal dampak kerusakannya terhadap fondasi-fondasi sosial, ekonomi, dan demografi yang menyangga kemajuan.�

Di antara perkembangan-perkembangan yang paling mengerikan adalah penyebaran homoseksualitas. Di beberapa negara, kaum homo ini dapat menikah secara legal, menikmati manfaat-manfaat sosial dari perkawinan, dan membentuk perkumpulan-perkumpulan dan organisasi-organisasi. Di seantero dunia aktivitas-aktivitas mereka memperlihatkan sikap penentangan atas keyakinan agama dan sikap antagonis terhadap nilai-nilai agama. Ini adalah sebuah karakteristik abad kita; hal-hal semacam ini tak pernah terjadi sebelumnya semenjak masa Nabi Muhammad saw.

Keberanian kaum homoseks pada hari ini membuat orang berpikir tentang akhir dari kaum Luth yang tercatat karena tindakan homoseksual mereka. Sebagaimana dikatakan di dalam al-Qur�an, tatkala mereka dengan beramai-ramai menolak ajakan Luth a.s. ke jalan yang benar, Allah menghancurkan kota dan penduduknya dengan sebuah bencana yang sangat besar. Sebagai sebuah peringatan, sisa-sisa dari kaum yang menyimpang ini masih berada di bawah air di Danau Luth (Laut Mati).

Sudah jelas bahwa hadis-hadis yang memberikan gambaran tentang Akhir Zaman dan kerusakan moralnya sedang menjadi kenyataan pada hari ini.
Salah satu hadis menunjukkan bahwa hilangnya rasa malu dalam melakukan tindakan pelacuran adalah salah satu tanda Hari Akhir.

Perzinaan akan lazim dilakukan secara terang terangan.
(H.r. Bukhari)

Nabi Muhammad saw. bersabda bahwa menyebarnya hubungan kelamin di luar nikah di tengah masyarakat adalah sebuah tanda:

As-Sa�ah akan tiba manakala perzinaan telah merajalela.
(Al-Haytsami, Kitab al-Fitan)

Lemahnya nilai-nilai moral dan rasa malu digambarkan dalam sabda-sabda berikut:

Saat Akhir tidak akan tiba hingga mereka (orang orang jahat) berbuat zina di jalan-jalan (tempat lalu lintas umum).
(H.r. Ibnu Hibban dan Bazzar)

Menarik untuk dilihat bahwa, baru-baru ini, pemandangan prostitusi yang tertangkap oleh kamera-kamera tersembunyi telah disiarkan di saluran-saluran televisi. Para pelacur melakukan perzinaan dengan para pelanggan mereka di tempat terbuka di tengah jalan. Ini adalah tanda lain dari Hari Akhir yang diberitahukan dalam sebuah hadis; jutaan orang telah menyaksikan tanda ini. Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa bersikap toleran terhadap perbuatan homoseksual sebagai suatu cara hidup yang normal adalah sebuah tanda penting dari periode sebelum Hari Akhir.

Laki-laki akan meniru-niru perempuan; dan perempuan akan meniru-niru laki-laki.
(�Allamah Jalaluddin Suyuthi, ad-Durr-Mantsur)

Orang-orang akan memperturutkan hawa nafsunya dalam melakukan perbuatan homoseksual dan lesbianisme.
(Al-Muttaqi al-Hindi, Muntakhab Kanzul �Ummaal)

PENOLAKAN ATAS AGAMA YANG HAQ DAN NILAI-NILAI MORAL AL-QUR�AN

Hadis yang menerangkan tanda-tanda Hari Akhir memberikan kepada kita paparan rinci mengenai periode di mana tanda-tanda ini akan muncul. Kita dapat memahami dari hadishadis Nabi Muhammad saw., bahwa tahap pertama dari Akhir Zaman adalah sebuah periode yang tampaknya relijius, namun justru merupakan periode yang hampir sepenuhnya menolak agama Allah dan nilai-nilai moral al-Qur�an. Ia adalah suatu periode dimana di dalamnya telah dengan jelas ditunjukkan bahwa ayat-ayat al-Qur�an diabaikan, penilaianpenilaian yang non-Islami diberikan dengan memakai nama Allah, agama menjadi bahan pertikaian, ibadah dilakukan untuk riya�, dan agama dipakai sebagai sarana untuk mendapatkan laba semata. Inilah karakteristik masa ini di mana iman tidak tergantung pada pengetahuan dan kajian namun pada taklid. Dalam masa ini, orang yang dipanggil sebagai muslim jumlahnya mayoritas, sementara para ulama dan orang-orang Islam yang sejati jumlahnya minoritas.

Berikut ini adalah tanda-tanda yang diberitahukan oleh Nabi Muhammad saw. empat belas abad yang lalu, dan yang sedang menjadi kenyataan pada abad di mana kita hidup sekarang ini:

Menurut al-Qur�an, pada Hari Akhir nanti Nabi Muhammad saw. akan berkata bahwa umatnya akan meninggalkan al-Qur�an: �Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur�an ini suatu yang tidak diacuhkan …� (Q.s. al-Furqan: 30). Juga diungkap dalam hadis-hadis bahwa, pada waktu Akhir Zaman, hidayah al-Qur�an akan disepelekan dan orang-orang akan menyimpang darinya.

Mendekati as-Sa�ah (Hari Kiamat) akan muncul suatu waktu di mana ilmu (agama) akan dicabut (lenyap) dan kebodohan menyebar di mana-mana �
(H.r. Bukhari)

Akan tiba suatu masa pada umatku, tatkala tak ada yang tersisa dari al-Qur�an kecuali bentuk lahirnya, dan tak ada yang tersisa dari Islam kecuali namanya dan mereka akan menyebut diri mereka dengan nama ini walaupun mereka adalah orang-orang yang paling jauh darinya.
(Ibnu Babuya, Tsawab al-A�mal)

Sebuah perbandingan yang dibuat di dalam Surat Jumu�ah, ayat 5: �Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya (menerapkan sesuai dengan hukumnya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal …� Tak ada keraguan bahwa ayat ini merupakan sebuah peringatan bagi kaum muslimin, yang mengingatkan mereka agar berhati-hati supaya tidak terperosok ke dalam kesalahan besar yang sama. Al-Qur�an diturunkan sebagai kitab suci yang menjadi hidayah bagi manusia untuk dikaji.

Nabi Muhammad saw. bersabda bahwa, walaupun faktanya al-Qur�an akan dibaca, namun ilmu dan hikmah yang terkandung di dalamnya tidak akan dipikirkan dengan mendalam. Ini adalah satu tanda lain lagi tentang waktu dari Akhir Zaman.

Akan tiba suatu masa pada umat ini tatkala orang-orang akan membaca al-Qur�an, namun al-Qur�an itu tidak akan jauh � menuju kalbu mereka, melainkan � sebatas (dari tenggorokan mereka).
(H.r. Bukhari)

Rasulullah saw. berbicara mengenai sesuatu dan bersabda:
�Akan terjadi di mana ilmu tidak ada lagi.� (Ziyad) bertanya: �Ya Rasulullah, bagaimana ilmu akan lenyap padahal kami masih membaca al-Qur�an dan mengajarkan bacaannya kepada anak-anak kami, dan anak-anak kami pun akan mengajarkannya kepada anak-anak mereka hingga Hari Kebangkitan?� Beliau saw. bersabda: �Ziyad, tidakkah orang-orang Yahudi dan Nasrani membaca Taurat dan Injil namun tidak berbuat sesuai dengan apa yang terkandung di dalamnya?�
(H.r. Ahmad, Ibnu Majah, Tirmizi)

Sebuah tanda Akhir Zaman adalah sebagian orang Islam akan mengikuti orang-orang Yahudi dan Nasrani yang melakukan bid�ah dan meniru-niru mereka dengan membabi buta.

Nabi Muhammad saw. bersabda,
�Sungguh, kalian akan mengikuti jejak-jejak, dari umat-umat sebelum kalian, sehasta demi sehasta, sedepa demi sedepa sehingga bila mereka memasuki lubang biawak pun, kalian juga akan mengikuti mereka,� Kami (para Sahabat) berkata, �Ya Rasulullah, apakah yang engkau maksud adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani?� Beliau menjawab, �Siapa lagi?�
(H.r. Bukhari)

Ayat 26 Surat al-An�am berbicara tentang orang-orang yang menjauhkan orang lain dari al-Qur�an. Kita dapat memahami dari hadis-hadis ini bahwa akan ada cara berpikir korup yang merajalela sebelum tibanya Hari Kiamat, dan bahwa sistem-sistem yang akan muncul tersebut jauh dari kebenaran dan keadilan, yang hanya akan mengakibatkan perselisihan besar dan menyeret orang-orang untuk menjauh dari jalan Allah.

Rasulullah saw. bersabda:
Sebelum Hari Kiamat akan ada huru hara bagaikan bagian-bagian dari suatu malam yang gelap gulita.
(H.r. Abu Dawud)

Sebelum Hari Kiamat akan terjadi huru hara bagaikan bagian-bagian malam yang kelam di mana seorang laki-laki pada pagi harinya masih beriman dan pada sore harinya menjadi kafir, atau sore harinya masih beriman dan pagi harinya kafir.
(H.r. Abu Dawud)

Akan menjadi sebuah tanda Hari Akhir yaitu setelah Allah dengan lengkap mewahyukan di dalam al-Qur�an mana yang halal dan mana yang haram, hukum-hukum dan perin-tah-perintah akan diperlakukan tidak ada esensinya dari agama:

Akan tiba suatu saat di mana seorang laki-laki tidak peduli lagi tentang bagaimana caranya dia memperoleh sesuatu, entah itu dengan cara halal ataukah haram.
(H.r. Bukhari)

Rasulullah saw. memberitahukan kepada kita bahwa pada Akhir Zaman sebagian orang yang dianggap sebagai ulama sesungguhnya adalah pendusta bermuka dua:

Serigala-serigala akan memberikan petunjuk dan arahan pada Akhir Zaman. Hendaknya mereka yang menjumpai saat itu berlindung kepada Allah dari kejahatan mereka. Mereka adalah seburuk-buruk manusia. Kemunafikan akan merajalela, dan tak seorang pun yang merasa malu dengannya dan perwujudannya.
(H.r. Tirmizi, Nawadir al-Ushul)

Akan tampak pada masa akhir nanti orang-orang yang akan memperoleh keuntungan duniawi dengan menggunakan agama.
(H.r. Tirmizi)

Rasulullah saw. bersabda, �Pada Akhir Zaman akan muncul orang-orang yang tidak segan-segan menggunakan agama demi tujuan-tujuan duniawi dan mengenakan shuf (pakaian dari bahan bulu domba) di depan umum untuk memperlihatkan kesahajaan. Lidah mereka lebih manis daripada gula, tetapi hati mereka adalah hati serigala.�
(H.r. Tirmizi)

Orang-orang ini digambarkan sebagai tidak memperlihatkan rasa hormat terhadap hukum-hukum Islam, dan tidak ragu-ragu menggunakan agama sebagai alat untuk mendapatkan keuntungannya sendiri:

Pada Akhir Zaman di kalangan orang-orang beriman, orang-orang, yang menghias masjid-masjid namun hati mereka sendiri dibiarkan berada dalam puing-puing, yang tidak merawat agama mereka sebagaimana halnya mereka begitu pedulinya terhadap pakaian mereka, yang mengabaikan kewajiban-kewajiban agama mereka demi kepentingan duniawi mereka, akan bertambah banyak jumlahnya.
(H.r. Bukhari dan Muslim)

Salah satu tanda sudah makin dekatnya Hari Kiamat adalah manusia tahu bahwa Allah memerintahkan agar berbuat kebajikan dan menjauhi kemungkaran, namun mereka tidak mematuhinya:

Hari Kiamat tidak akan tiba hingga yang tersisa adalah orang-orang yang tidak menyadari kebaikan ataupun tak pernah mencegah kemungkaran.
(H.r. Ahmad)

Menjelang as-Sa�ah (Hari Kiamat), amal saleh makin sedikit.
(H.r. Bukhari)

Dalam sebuah hadis diberitahukan bahwa salah satu tanda Hari Akhir adalah bahwa orang-orang Islam sejati akan menjadi lemah dan berada di bawah tekanan para pendosa:

As-Sa�ah (Hari Kiamat) akan tiba manakala suara suara ditinggikan di dalam masjid-masjid.
(H.r. Tirmizi)

As-Sa�ah (Hari Kiamat) akan tiba manakala para penguasa adalah penindas.
(Al-Haytsami, Kitab al-Fitan)

Nabi Muhammad saw. bersabda bahwa, pada Akhir Zaman, akan ada sangat sedikit orang yang dapat disebut sebagai orang-orang yang benar-benar beriman:

Akan datang suatu masa pada umatku di mana … masjid-masjid akan dipenuhi manusia namun kosong dari hidayah yang benar. (Ibnu Babuya, Tsawab al-A�mal)

Salah satu hadis menyebutkan bahwa kelak orang-orang yang benar-benar murni keislamannya harus menyembunyikan keimanannya dan menjalankan ibadah mereka secara sembunyi-sembunyi:

Akan datang suatu masa di mana orang-orang munafik akan hidup secara diam-diam di tengahtengah kalian, dan orang-orang yang beriman akan berusaha menjalankan agama mereka secara rahasia di tengah-tengah orang-orang lainnya.
(H.r. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis yang dikutip di bawah ini, diberitahukan bahwa salah satu tanda Hari Akhir adalah bahwa masjid-masjid dan sekolah-sekolah Islam hanya akan dijadikan sebagai tempat-tempat pertemuan umum:

Akan datang suatu masa di mana orang-orang menjadikan masjid sebagai tempat pertemuan.
(Diriwayatkan oleh Hasan r.a.)

Pada Akhir Zaman, akan muncul orang-orang yang membaca al-Qur�an untuk memperoleh keuntungan daripada mengharapkan keridhaan Allah:

Siapa saja yang membaca al-Qur�an maka mintalah (ganjarannya) kepada Allah. Karena pada saat-saat terakhir nanti akan banyak orang yang membaca al-Qur�an dan meminta upah darinya kepada orang lain.
(H.r. Tirmizi)

Juga merupakan salah satu tanda bahwa al-Qur�an akan dibaca hanya untuk hiburan, seperti lagu:

Manakala al-Qur�an dibaca seperti sedang menyanyikan sebuah lagu, dan manakala seseorang dimuliakan karena membaca, dengan demikian, walaupun dia bukan orang alim (berilmu)�
(Ath-Thabarani, Al-Kabir)

Sebagian orang yang dikenal sebagai orang-orang Islam akan memiliki pemahaman yang menyimpang tentang takdir, sementara sebagian akan meyakini bahwa bintang-bintang dapat memastikan pengetahuan tentang masa depan. Ini adalah sebuah indikasi lain tentang Akhir Zaman:

Hari Kiamat akan tiba manakala orang-orang percaya kepada bintang-bintang dan menolak al-Qadar (takdir Allah).
(Al-Haytsami, Kitab al-Fitan)

Walaupun Allah telah mengharamkan riba (mengambil bunga), namun hal ini dipraktikkan dengan terang-terangan. Dalam salah satu hadis, hal ini diberitahukan sebagai salah satu tanda:

Tak disangsikan, akan tiba suatu masa pada manusia di mana tak seorang pun akan selamat dari riba. Apabila seseorang dapat menghindarkan diri agar tak terlibat secara langsung, namun dia tidak akan lolos dari asap-asap (akibat-akibat)nya � Akibatakibatnya ini bagaimanapun akan mengenainya.
(Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.)

Salah satu di antara tanda-tanda Akhir Zaman adalah perjalanan ibadah haji dilakukan untuk bertamasya, bisnis, riya, atau mengemis.

Akan tiba suatu masa di mana orang-orang kaya akan pergi haji untuk bertamasya, orang yang berpunya untuk kepentingan bisnis, orang bijak untuk pamer dan orang miskin untuk mengemis.
(Diriwayatkan oleh Anas r.a.)

SEMAKIN RUSAKNYA PERGAULAN SOSIAL

Masalah serius yang dihadapi oleh orang-orang dewasa ini adalah disintegrasi tatanan sosial kemasyarakatan. Keruntuhan ini dapat dirasakan dalam beragam hal. Keluarga-keluarga yang berantakan, meningkatnya angka perceraian dan kelahiran di luar nikah secara alami mengarah pada runtuhnya lembaga keluarga. Stres, kerisauan, ketidakbahagiaan, kecemasan, dan kekacauan mengubah kehidupan banyak orang menjadi mimpi buruk yang nyata. Orang-orang hidup dalam kehampaan spiritual, mencari-cari jalan keluar dari depresi yang mereka alami, terperosok ke dalam lumpur gelap alkohol atau obatobat psikotropika. Sebagian, yang berpikir bahwa tak ada solusi yang dapat ditemukan, meng anggap bahwa bunuh diri adalah suatu jalan keluar.

Salah satu tanda yang mencolok dari kemunduran sosial adalah sangat tingginya perbuatan-perbuatan haram. Tingkat kejahatan telah mencapai proporsi yang mencengangkan bahkan bagi para pakar. Laporan yang bertajuk �Universal Crime and Justice� yang disusun oleh United Nations�International Crime Prevention Center, memuat sebuah taksiran umum kejahatan di seluruh penjuru dunia:

Pada dasarnya, sebagaimana pada tahun 1980an, tingkat kejahatan terus meningkat pada tahun 1990an.
Di mana-mana di dunia ini, dalam kurun waktu lima tahun, dua pertiga dari orang yang tinggal di kota-kota besar telah menjadi sasaran paling sedikit sekali aksi kejahatan.
Di seluruh penjuru dunia, orang asing yang menjadi target dari suatu kejahatan serius (perampokan, kejahatan seksual, serangan) adalah satu berbanding lima. Tanpa memandang wilayahnya, kejahatan terhadap hak milik, dan kejahatan kekerasan yang dilakukan oleh generasi muda, keduanya memiliki percabangan ekonomis.
Jumlah daripada jenis obat-obatan terlarang telah meningkat dan sifatnya pun telah beragam dalam tahun-tahun terakhir ini.

Sesungguhnya, semua ini tidaklah mengejutkan. Sebabsebab dari adanya fenomena sosial seperti ini telah dijelaskan di dalam al-Qur�an, dalam kisah-kisah mengenai umat-umat pada masa lalu. Semakin parahnya kehidupan sosial, dan segala ragam masalah yang berkaitan dengannya, adalah buah yang tak terelakkan akibat dari manusia melupakan Allah dan maksud penciptaan diri mereka, dan pengabaian mereka terhadap agama dan nilai-nilai spiritual.

Aspek-aspek dari kerusakan kehidupan sosial yang kita saksikan sedang merajalela terjadi di mana-mana, ini telah diramalkan oleh Nabi Muhammad saw. empat belas abad yang lalu. Rasulullah saw. menggambarkan Akhir Zaman sebagai �Tatkala manusia menderita karena adanya perselisihan dan pergolakan sosial� (Ahmad Dhiya� ad-Din al-Kamushkhanawi, Ramuz al-Ahadits).

Berikut ini adalah hadis-hadis yang relevan dengan fase pertamanya:

Dapat dipahami dari hadis-hadis ini bahwa meningkatnya jumlah orang-orang jahat, fakta bahwa orang-orang yang dipandang memiliki sifat amanah (dapat dipercaya) ternyata adalah pendusta, dan fakta bahwasanya sebagian orang yang dipandang sebagai pendusta sesungguhnya adalah orang-orang yang memiliki sifat amanah, merupakan karakteristik-karak-teristik dari Akhir Zaman.

Akan ada tahun-tahun penipuan, di mana orang-orang yang memiliki amanah tidak akan dipercayai sedangkan orang yang pembohong akan dipercaya.
(Ibnu Katsir)

Akan tiba tahun-tahun terjadinya kebingungan. Orang-orang akan mempercayai seorang pembohong, dan tidak percaya kepada orang yang berkata jujur. Orang-orang tidak akan mempercayai seorang yang memiliki sifat amanah, dan mempercayai orang yang memiliki sifat khianat.
(H.r. Ahmad)

Hari Pengadilan tidak akan tiba hingga orang-orang yang paling rendah adalah orang-orang yang paling berbahagia.
(H.r. Tirmizi)

Sebuah hadis memberitahukan bahwa akan terdapat sedikit orang-orang yang memiliki sifat amanah dan sedikit uang yang diperoleh dengan cara yang sesuai dengan hukumhukum agama kita:

Pada Akhir Zaman, orang-orang akan menjalankan perniagaan mereka namun hampir tak ada seorang pun yang dapat dipercaya.
(H.r. Bukhari dan Muslim)

Kesaksian yang jujur akan diabaikan sedangkan kesaksian palsu dan fitnah akan tersebar luas. Ini adalah satu lagi tanda lainnya:

Sungguh, ketika tiba Saat Terakhir, akan terdapat� kesaksian palsu dan penggelapan bukti-bukti.
(H.r. Ahmad dan Hakim) .

Satu-satunya ukuran dalam menilai seseorang adalah kekayaan, rasa hormat tergantung pada seberapa kaya seseorang:

Sebelum tibanya as-Sa�ah (Hari Kiamat), akan ada salam khusus bagi orang-orang yang diistimewakan.
(H.r. Ahmad)

Tidak akan ada Pengadilan hingga salam tidak diberikan kepada orang-orang namun hanya kepada orang-orang tertentu saja.
(Mukhtashar Tadzkirah karya Qurthubi)

Disebutkan dalam hadis-hadis bahwa tanda lainnya adalah runtuhnya hubungan-hubungan sosial di antara manusia:

Hanya orang-orang yang dikenal saja yang akan mendapatkan ucapan salam �
(Ahmad Dhiya� ad-Din al-Kamushkhanawi, Ramuz al-Ahadits)

Dalam hadis yang dikutip di bawah ini, ditandaskan bahwa posisi-posisi yang ada tanggung jawabnya akan diberikan kepada mereka yang tidak memiliki kompetensi:

Tatkala kekuasaan atau otoritas diserahkan ke tangan orang-orang yang tidak layak, maka tunggulah kehancurannya (Kiamat).
(H.r. Bukhari)

Karakteristik lain dari periode ini adalah bubarnya hubungan di antara sanak keluarga, antara teman-teman dan tetangga, dan hilangnya nilai-nilai ruhani dan kemasyarakatan:

Seseorang tidak lagi memiliki ikatan kasih sayang dengan ibunya, dan mengusir ayahnya jauh-jauh �
(H.r. Tirmizi)

Pertama-tama akan ada keributan pada diri sese-orang mengenai keluarganya, harta bendanya, diri nya sendiri, anak-anaknya, tetangga-tetangganya.
(H.r. Bukhari dan Muslim)

Generasi muda akan memiliki sifat memberontak dan rasa cinta serta hormat antara kawula muda dan orang dewasa akan memburuk:

Manakala yang tua tidak mengasihi yang muda, manakala yang muda tidak menghormati yang tua � tatkala anak-anak jadi pemarah � maka Pengadilan sudah sangat dekat.
(Diriwayatkan oleh Umar r.a.)

Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa karakteristik lain dari Akhir Zaman adalah meningkatnya angka perceraian dan kelahiran anak-anak di luar nikah:

Perceraian akan menjadi peristiwa sehari-hari.
(�Allamah Safarini, Ahwal Yaum al-Qiyamah)

Akan terdapat banyak sekali anak-anak yang lahir dari perzinaan.
(Al-Muttaqi al-Hindi, Muntakhab Kanzul �Ummaal)

Terpengaruh oleh materialisme dan pandangan globalnya, orang-orang akan sangat lengket dengan dunia ini, dan melupakan akhirat. Ini adalah karakteristik lain dari Akhir Zaman:

Kepicikan dan keserakahan akan berlipat ganda.
(H.r. Muslim dan Ibnu Majah)

Pada saat itu, orang-orang akan menjual agamanya demi secuil benda-benda duniawi.
(H.r. Ahmad)

Sebuah hadis memberitahukan bahwa orang-orang akan saling mengutuk dan menyumpahi satu sama lain:

Pada Hari Akhir, akan ada orang-orang yang ketika bertemu mereka saling mengutuk dan mencela, bukannya saling memberi salam.
(�Allamah Jalaluddin Suyuthi, Durar-Mantsur)

Karakteristik lainnya dari periode ini adalah adanya gosip dan olok-olok terhadap orang lain:

Akan ada banyak sekali tukang kritik, al-qashshash (tukang cerita), yang suka melakukan ghibah (membicarakan kejelekan seseorang dari belakang), dan tukang ejek di tengah masyarakat.
(Al-Muttaqi al-Hindi, Muntakhab Kanzul �Ummaal)

Para penjilat akan dihormati:

Ketika Pengadilan makin dekat … orang-orang yang paling dihormati pada zaman itu adalah para penjilat dan orang-orang yang suka mencari muka.
(H.r. Bukhari dan Muslim)

Saat Akhir tidak akan tiba hingga munculnya orang-orang yang mencari nafkah dengan lidah mereka sebagaimana halnya sapi makan dengan lidahnya.
(H.r. Tirmizi).

Tanda lainnya dari Akhir Zaman yang sering dijumpai adalah akan adanya kecurangan dalam bisnis dan sogokan:

Penipuan dan kecurangan akan menjadi hal yang lazim.
(�Allamah Safarini, Ahwal Yaum al-Qiyamah)

Penyuapan akan disebut hadiah, dan akan dianggap halal.
(Amal ad-Din al-Qazwini, Mufid al-�Ulum wa-Mubid al-Humum)

Nabi Muhammad saw. menggambarkan meningkatnya pembunuhan pada Akhir Zaman dengan kata-kata ini:

As-Sa�ah (Hari Akhir) tidak akan terjadi hingga meningkatnya pembunuhan.
(H.r. Bukhari)

SAINS DAN TEKNOLOGI

Nabi Muhammad saw., sebagaimana kita semua tahu, hidup empat belas abad yang lampau. Catatan-catatan sejarah memperlihatkan bahwa, tatkala al-Qur�an diwahyukan, masyarakat Arab tidak memiliki teknologi yang memungkinkan mereka untuk melakukan penyelidikan-penyelidikan tentang dunia ini atau alam semesta. Dengan demikian, terdapat suatu perbedaan yang signifikan antara tingkat sains dan teknologi pada waktu itu, tatkala Nabi Muhammad saw. masih hidup, dengan zaman kita. Sesungguhnya, perbedaan ini terus berjalan pada awal mula abad ke-20 dan ke-21. Sebuah bukti yang gamblang tentang ini adalah bahwa segelintir penemuan teknologis yang namanya tak dapat disebutkan hanya beberapa dekade yang lalu telah menjadi unsur-unsur yang sangat dibutuhkan pada kehidupan kita saat ini.

Meskipun adanya perbedaan-perbedaan yang sangat banyak ini, pada abad ke-7, Nabi Muhammad saw. telah memberitahukan sejumlah kebenaran mengenai masa depan. Dalam halaman-halaman berikut, kita akan menelaah hadis-hadis yang menggambarkan tingkat pengetahuan ilmiah dan teknologi Akhir Zaman. Kita akan melihat bahwa apa yang diramalkan oleh Nabi Muhammad saw. empat belas abad yang lalu sedang menjadi kenyataan pada zaman kita.

Teknologi Kedokteran:
Selama berabad-abad, memiliki umur yang panjang sudah menjadi salah satu dari tujuan utama umat manusia, di mana mereka telah mengerahkan banyak usaha guna mencapainya. Mengenai hal ini, Nabi Muhammad saw. memberitahukan kepada kita suatu kemajuan pada Akhir Zaman:

Pada saat itu � usia hidup akan makin bertambah panjang.
(Ibnu Hajar Haytsami, Al-Qawl al-Mukhtashar fi �Alamat al-Mahdi al-Muntazhar)

Empat belas abad telah berlalu semenjak Nabi Muhammad saw. menyampaikan kata-kata ini. Catatan-catatan yang tersimpan mengenai beberapa tahun terakhir ini telah menunjukkan dengan jelas bahwa rata-rata harapan hidup pada zaman kita jauh lebih besar daripada pada setiap awal abad sebelumnya. Bahkan, sudah ada suatu perbedaan yang besar sekali antara awal dan akhir abad ke-20. Misalnya, seseorang yang lahir pada tahun 1995 dapat berharap untuk hidup lebih lama 35 tahun daripada seseorang yang lahir pada tahun 1900.19

Sebuah contoh lain yang mencolok tentang hal ini adalah, pada masa lalu, jarang orang yang berusia hingga 100 tahun; pada hari ini banyak orang yang mencapai usia tersebut.

Menurut United Nations Department of National Population, selama beberapa tahun terakhir ini, populasi dunia terus mengalami transisi yang luar biasa dari suatu tingkat kelahiran dan kematian yang tinggi ke tingkat kelahiran dan kematian yang rendah. Substansi dari transisi ini adalah pertumbuhan dalam jumlah dan proporsi orang-orang yang lebih tua. Peningkatan yang cepat, besar, dan amat bisa dirasakan ini tak pernah terlihat sebelumnya dalam sejarah peradaban.20

Meningkatnya harapan hidup ini tentunya memiliki suatu sebab. Kemajuan layanan kesehatan yang merupakan konse-kuensi dari kemajuan teknologi kedokteran telah memungkinkan situasi yang demikian. Di samping itu, perkembanganperkembangan dalam ilmu genetika dan pesatnya kemajuan Proyek Gen Manusia (Human Genome Project) segera mengawali lahirnya sebuah era yang sama sekali baru di bidang kesehatan. Kemajuan-kemajuan ini merupakan proporsi yang oleh orang-orang yang hidup pada masa-masa terdahulu tak pernah terbayangkan. Berdasarkan pada semua perkembangan ini, kita dapat mengatakan bahwa orang-orang yang hidup pada zaman kita telah mencapai hidup yang panjang dan sehat seperti digambarkan dalam hadis di atas.

Sebuah perbedaan signifikan yang membedakan abad ke20 dan ke-21 dengan abad-abad sebelumnya adalah majunya kemampuan baca tulis. Pada masa-masa yang lebih awal, kemampuan baca tulis hanya dimiliki oleh segelintir orang yang memiliki status istimewa, sedangkan, menjelang akhir abad ke-20, UNESCO dan organisasi-organisasi pemerintah dan swasta lainnya, telah menyelenggarakan kampanye-kampanye di seantero dunia untuk melawan kecenderungan ini. Mobilisasi sumber-sumber daya pendidikan ini, dengan bantuan penemuan-penemuan teknologi dan layanan-layanan kemanusiaan, telah membuahkan hasil pada zaman kita. Menurut sebuah laporan dari UNESCO, rata-rata tingkat kemampuan baca tulis pada tahun 1997 adalah 77,4%.21
Angka ini tentu saja adalah yang tertinggi dalam 14 abad. Pada saat yang sama, Nabi Muhammad saw. menggambarkan masyarakat pada Akhir Zaman dalam hadis beliau:

Suatu tanda kemajuan teknologi pada abad di mana kita hidup dan, yang mana Nabi Muhammad saw. telah menyebutkannya adalah dibangunnya gedung-gedung yang tinggi.

Tidak akan ada [Hari] Pengadilan � hingga gedunggedung yang sangat tinggi dibangun.
(Diriwayatkan oleh Abu Hurairah)

As-Sa�ah (Hari Kiamat) tidak akan tiba hingga manusia berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.
(H.r. Bukhari)

Bila kita tilik sejarah arsitektur dan teknik, kita lihat bahwa gedung-gedung berlantai banyak mulai dibangun hanya menjelang akhir abad ke-19. Perkembangan-perkembangan teknologi, meningkatnya penggunaan baja dan lift mempercepat laju pembangunan struktur-struktur yang disebut pencakar langit. Pencakar langit telah menjadi sebuah bagian penting dari arsitektur abad ke-20 dan ke-21, dan pada hari ini telah menjadi sebuah lambang prestise. Apa yang dikatakan oleh hadis tadi telah menjadi kenyataan: manusia memang telah berlomba-lomba dalam membangun gedung-gedung tinggi, dan bangsa-bangsa pun saling berlomba-lomba dalam membangun pencakar langit tertinggi.

Teknologi Transportasi:
Di sepanjang sejarah sudah ada suatu hubungan langsung antara kekayaan dan kekuatan rakyatnya dengan teknologi transportasinya. Masyarakat-masyarakat yang memiliki kemampuan untuk mengadakan sistem transportasi yang efektif dapat meningkatkan taraf kemajuan mereka.

Berbicara tentang karakteristik-karakteristik Akhir Zaman, Nabi Muhammad saw. bersabda mengenai perkembangan transportasi:

Hari Akhir tidak akan tiba hingga … waktu berjalan dengan cepatnya.
(H.r. Bukhari)

Jarak-jarak yang sangat jauh akan dilintasi dengan waktu singkat.
(H.r. Ahmad, Musnad)

Pesan dari hadis di atas cukup jelas. Pada Akhir Zaman, jarak-jarak yang sangat jauh akan ditempuh dalam waktu yang singkat oleh kendaraan-kendaraan baru. Pada zaman kita, pesawat terbang supersonik, kereta api dan kendaraan-kendaraan canggih lainnya dapat, dalam sekian jam saja, melintasi jarak yang dulunya ditempuh selama berbulan-bulan, dan melakukannya dengan lebih mudah, nyaman, dan aman. Dalam hal ini, isyarat yang diriwayatkan dalam hadis tadi telah menjadi kenyataan.

Al-Qur�an menyebutkan kendaraan-kendaraan yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi modern:

Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. (Q.s. an-Nahl: 8).

Di sini, kita dapat memikirkan dengan mendalam makna ungkapan �waktu akan berjalan dengan cepat� dalam hadis pertama, dari sudut pandang apa yang telah kami ceritakan. Jelaslah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw., pada waktu Akhir Zaman, tugas-tugas akan dirampungkan dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan dengan kurunkurun waktu lainnya. Sungguh, kemajuan-kemajuan dalam sains telah memungkinkan adanya peluang bagi hampir semua hal untuk diselesaikan dalam waktu yang jauh lebih singkat dan dengan hasil yang jauh lebih baik. Sebuah hadis serupa menguatkan pandangan ini:

Saat Akhir tidak akan tiba sebelum waktu menyusut, setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari, sehari bagaikan sejam, dan sejam bagaikan nyala lilin.
(H.r. Tirmizi)

Misalnya, berabad-abad yang lalu, komunikasi internasional, yang lamanya sampai berminggu-minggu, kini dapat ditempuh dalam hitungan detik saja dengan menggunakan Internet dan teknologi komunikasi modern lainnya. Pada masa lalu, barang-barang yang dulunya sampai ke tujuan setelah menempuh perjalanan selama berbulan-bulan dalam kafilahkafilah, kini dapat dikirim dengan cepat. Pada hari ini, jutaan buku dapat diterbitkan dalam waktu yang beberapa abad yang lalu hanya dapat untuk menghasilkan satu buah buku saja. Hal-hal sehari-hari sudah begitu saja menjadi hal yang lazim, seperti kebersihan, cara-cara penyajian makanan, dan keperluan untuk perawatan anak-anak, sudah tidak lagi menghabiskan banyak waktu berkat adanya keajaiban-keajaiban teknologi modern.

Kita dengan mudah dapat memberikan sekian banyak contoh seperti itu. Akan tetapi, yang harus kita pikirkan dengan mendalam di sini adalah tanda-tanda yang diberitahukan oleh Nabi Muhammad saw. pada abad ke-7 dulu yang kini sedang menjadi kenyataan.

Tanda lainnya lagi dari Akhir Zaman yang diberitahukan dalam hadis-hadis adalah tersebar luasnya perdagangan (Diriwayatkan oleh Ibnu Masud r.a.) yang seiring dengan kemaju-an-kemajuan di bidang transportasi. Transportasi-transportasi modern telah memungkinkan tiap negeri di dunia ini untuk melakukan hubungan perdagangan yang erat dengan negerinegeri lainnya.

Teknologi Komunikasi:
Sebagian dari informasi paling menarik yang diberitakan oleh Nabi Muhammad saw. terdapat dalam hadis beliau yang menggambarkan teknologi komunikasi di masa modern. Salah satu hal yang beliau katakan cukup mencengangkan:

Hari Akhir tak akan tiba sebelum seseorang berbicara dengan gagang cambuknya.
(H.r. Tirmizi)

Bila kita lihat hadis ini dengan lebih dekat lagi, kita dapat melihat kebenaran yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana kita maklumi, pada zaman dulu, cambuk dipakai secara luas untuk menaiki hewan-hewan tunggangan, khususnya onta dan kuda. Manakala kita telaah hadis ini kita pun melihat bahwa Nabi Muhammad saw. sedang membuat sebuah perbandingan.

Mari kita tanyakan kepada orang-orang pada zaman sekarang: �Benda berbicara apa yang dapat kita perbandingkan dengan bentuk sebuah cambuk?� Jawaban yang paling mendekati atas pertanyaan ini adalah sebuah telepon genggam atau suatu perangkat komunikasi lainnya yang serupa itu. Bila kita ingat-ingat, perangkat komunikasi nirkabel, seperti telepon genggam atau telepon satelit, adalah perkembangan yang baru-baru ini terjadi, maka kita akan paham be-tapa futuristiknya gambaran Nabi Muhammad saw. 1.400 yang lalu. Maka, ini adalah satu lagi pemberitahuan akan waktu sebelum Hari Pengadilan di mana kita hidup di dalamnya.

Dalam riwayat lainnya dari Nabi Muhammad saw., beliau menyoroti perkembangan teknologi komunikasi:

Tak ada Hari Pengadilan … hingga seseorang berbicara dengan suaranya sendiri.
(Mukhtashar Tadzkirah karya Qurthubi)

Pesan dalam hadis ini sudah cukup jelas: ia menyatakan bahwa seseorang mendengar suaranya sendiri merupakan sebuah karakteristik Akhir Zaman. Tentu saja, bagi seseorang agar dapat mendengar suaranya sendiri, pertama-tama suara itu harus direkam dan kemudian didengarkan. Teknologi rekaman dan reproduksi suara adalah produk-produk dari abad ke-20. Perkembangan ini merupakan titik balik dari kemajuan sains, salah satunya yang memungkinkan lahirnya industri-industri yang bergerak di bidang komunikasi dan media. Rekaman suara kini sudah mencapai titik puncaknya, dengan perkembangan-perkembangan mutakhir dalam komputer dan teknologi laser.

Pendeknya, perangkat-perangkat elektronik pada hari ini, seperti mikrofon dan pengeras suara, telah memungkinkan untuk merekam dan mendengar suara seseorang, yang menunjukkan bahwa apa yang disebutkan dalam hadis di atas kepada kita telah menjadi kenyataan.

Apa yang dikatakan dalam hadis-hadis yang menggambarkan Akhir Zaman mengenai teknologi komunikasi tidak terbatas pada hadis yang dikutip di atas saja. Masih ada tandatanda lain yang sangat menarik dalam hadis-hadis lainnya:

Tanda hari itu: Sebuah tangan akan menjulur dari langit, dan orang-orang akan menyaksikannya.
(Ibnu Hajar Haytsami, Al-Qawl al-Mukhtashar fi �Alamat al-Mahdi al-Muntazhar)

Tanda hari itu adalah sebuah tangan menjulur di langit dan orang-orang pun berhenti untuk melihatnya.
(Al-Muttaqi al-Hindi, �Al-Burhan fi �Alamat al-Mahdi Akhir az-Zaman)
Jelaslah bahwa kata �tangan� dalam hadis di atas merupakan kiasan. Pada zaman dahulu, sebuah tangan yang dijulurkan dari langit dan orang-orang menyaksikannya, sebagaimana tersebut dalam hadis tadi barangkali tidak begitu berarti bagi mereka. Namun bila kita mempertimbangkan teknologi pada hari ini, pernyataan tadi dapat ditafsirkan dengan sejumlah cara. Misalnya, televisi, yang kini sudah menjadi suatu bagian yang tak terpisahkan dari dunia ini, dan ia, beserta dengan kamera dan komputer, dapat menjelaskan dengan sangat baik apa yang digambarkan oleh hadis tadi. Kata �tangan� yang disebut dalam hadis itu mungkin saja dipakai untuk mengiaskan kekuasaan. Bisa dipakai untuk menyebut gambar-gambar yang muncul dari langit dalam bentuk gelombang, yaitu, televisi.

Beberapa contoh lain yang relevan juga sangat menarik:

Suatu suara yang memanggil namanya � dan bahkan orang-orang di timur dan barat akan mendengarnya.
(Ibnu Hajar Haytsami, Al-Qawl al-Mukhtashar fi �Alamat al-Mahdi al-Muntazhar)

Suara ini akan tersebar ke seluruh penjuru dunia, dan setiap suku bangsa akan mendengarnya dalam bahasa mereka.
(Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi �Alamat al-Mahdi Akhir az-Zaman)

Sebuah suara dari langit yang mana setiap orang akan mendengarnya dalam bahasa mereka sendirisendiri.
(Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi �Alamat al-Mahdi Akhir az-Zaman)

Hadis ini menyebutkan sebuah suara yang akan terdengar ke seluruh penjuru dunia dan dalam bahasa setiap orang masing-masing. Jelaslah, yang dimaksud adalah radio, televisi, dan metode-metode komunikasi lainnya yang semacam itu. Adalah sebuah keajaiban bahwa, 1.400 tahun yang lalu, Nabi Muhammad saw. memberi isyarat suatu perkembangan yang bahkan tak terbayangkan pada seratus tahun yang lalu.

Tatkala Bediuzzaman Said Nursi menafsirkan hadis-hadis ini, beliau menerangkan bahwa hadis-hadis ini secara menakjubkan meramalkan kemunculan radio, televisi, dan perang-kat-perangkat komunikasi lainnya yang semacam itu
KEMBALINYA NABI ISA A.S. SETELAH KEMUNCULAN NABI-NABI PALSU

Sudah dimaklumi bahwa, di sepanjang sejarah, telah banyak bermunculan nabi-nabi palsu. Demi mencari keuntungan bagi diri mereka sendiri, para pendusta ini telah melakukan caracara penipuan, dengan mengeksploitasi keluguan orang-orang. Juga dalam hadis-hadis ini, diberitahukan bahwa nabinabi palsu tersebut akan muncul sebelum Hari Pengadilan.

Saat Terakhir tak akan tiba sebelum muncul 30 Dajjal (para pendusta), yang masing-masing mengaku sebagai nabi Allah.
(H.r. Abu Dawud)

Hadis di atas mengingatkan kepada kita perkembanganperkembangan pada zaman kita sendiri. Dengan mengambil untung dari harapan umat Islam dan Nasrani mengenai kedatangan Nabi Isa a.s. untuk yang kedua kalinya, sejumlah penipu telah mengaku-ngaku sebagai nabi dan kadang-kadang menimbulkan penderitaan yang besar.

Para pakar telah mencatat bahwa telah bertambahnya jumlah dari apa yang disebut sebagai para messiah yang mulai bermunculan pada tahun 1970an, dan yang semenjak saat itu telah meningkat secara substansial. Menurut para pakar ini, terdapat dua alasan mendasar peningkatan ini. Pertama adalah runtuhnya komunisme, dan kedua adalah peluang-peluang yang disediakan oleh teknologi Internet. 23

Kutipan-kutipan yang telah dipilih berikut ini adalah contoh yang membantu kita agar lebih baik lagi dalam memahami fenomena tersebut:

Kematian yang tampaknya dilakukan dengan antusias di perkampungan Cabang Davidian di Waco, Texas, yang telah merenggut nyawa David Koresh dan paling sedikit 74 orang pengikutnya � 24

Pekan kemarin di dua tempat di Swiss dan satu tempat di Kanada di mana 53 orang pengikut Jouret beserta anakanak mereka mati. Para polisi di kedua negara tersebut berusaha mencari tahu apakah kematian tersebut disebabkan oleh bunuh diri massal, pembunuhan massal, atau suatu kombinasi yang tidak lazim dari keduanya. 25

Sun Myung Moon, pendiri Gereja Unifikasi, menyebut dirinya sebagai sang Messiah pada Kedatangan Kedua dan bahwa keluarganya adalah keluarga pertama yang sejati dalam seluruh sejarah! � Gereja Unifikasi secara resmi didirikan pada tahun 1954 oleh Moon, yang menyatakan bahwa pada tahun 1936, tatkala dia berusia 16 tahun, Isa a.s. muncul kepadanya di lereng gunung di sebelah barat laut Korea dan mengatakan kepadanya bahwa Tuhan telah memilihnya untuk menjalankan misi menegakkan Kerajaan Surga di muka bumi. 26

Bukti mengerikan tentang pembantaian terburuk suatu sekte � Sampai 1.000 orang pengikut dikhawatirkan tewas sementara makin banyak lagi kuburan yang ditemukan di Uganda � 27

Ada suatu kejadian yang mengguncangkan seluruh penjuru dunia � bunuh diri massal terburuk dalam sejarah modern. Lebih dari 900 orang, anggota sebuah sekte, ditemukan bersama-sama dalam jarak yang rapat di hutan Amerika Selatan. Orang-orang yang tewas tersebut adalah para pengikut Pendeta Jim Jones, pemimpin People�s Temple (Anak-anak Sekte Kuil) di San Francisco. 28

Al-Qur�an juga menerangkan kemunculan nabi-nabi palsu. Salah satu ayat yang bertalian dengan topik ini adalah sebagai berikut:

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: �Telah diwahyukan kepada saya,� padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata: �Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.� Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanantekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): �Keluarkanlah nyawamu.� Di hari ini kamu dibalas dengan penyiksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (Q.s. al-An�am: 93).

Sebagaimana yang dapat ditegaskan setelah memahami ayat ini, orang-orang tersebut tentu akan menerima balasan atas dusta yang telah mereka buat-buat.

Tak ada keraguan bahwa akan tiba suatu masa di mana semua kebohongan dari semua nabi palsu ini akan dihapuskan. Nabi Muhammad saw. memberitakan bahwa, setelah para pendusta tersebut lenyap, Isa a.s. akan kembali.

Kami telah menyebutkan sebelum ini bahwa al-Qur�an memberitakan tentang kembalinya Isa a.s. ke bumi, dan baik orang-orang Islam maupun Nasrani sama-sama sangat menunggu-nunggu peristiwa ini. Ada beberapa hadis dari Nabi Muhammad saw. yang merujuk tentang kedatangan Isa a.s. untuk yang kedua kalinya ini, dan bahwa informasi yang terkandung di dalam hadis-hadis ini tak dapat dipalsukan. (Ibnu Majah)

Terdapat bahan informasi penting lainnya yang sampai kepada kita melalui hadis-hadis ini. Kembalinya Isa a.s. akan terjadi pada fase kedua Akhir Zaman, dan akan menjadi sebuah tanda penting Hari Pengadilan. Dalam hal ini, hadis-hadis berikut ada kaitannya:

Saat Terakhir tak akan tiba hingga kalian menyaksikan turunnya Isa putra Maryam.
(H.r. Muslim)

Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, putra Maryam, Isa a.s., tak lama lagi akan turun di tengahtengah kalian (orang-orang Islam) sebagai seorang pemimpin yang adil.
(H.r. Bukhari)

As-Sa�ah (Hari Kiamat) tak akan tiba hingga putra Maryam (yaitu Isa a.s.) turun di tengah-tengah kalian sebagai seorang pemimpin yang adil.
(H.r. Bukhari)

Nabi Muhammad saw. memberitahukan apa yang akan dilakukan oleh Isa a.s. tatkala beliau kembali:

Pada waktu (menjelang) kematiannya, Isa a.s. akan muncul kembali di bumi ini selama empat puluh tahun.
(H.r. Abu Dawud)

Isa a.s., putra Maryam, akan turun, memerintah selama 40 tahun dengan kitab Allah dan sunnahku, lalu wafat.
(Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi �Alamat al-Mahdi Akhir az-Zaman)

Isa a.s., putra Maryam, akan menjadi hakim yang adil dan pemimpin yang adil (di tengah-tengah umatku), mematahkan dan menghancurkan salib dan membunuh babi � Bumi ini akan dipenuhi oleh kedamaian sebagaimana bejana dipenuhi dengan air. Seluruh dunia ini akan mengucapkan dan mengikuti satu kalimat yang sama dan tak seorang pun yang menyembah selain Allah.
(H.r. Ibnu Majah)

As-Sa�ah (Hari Kiamat) tak akan tiba hingga putra Maryam (yaitu Isa a.s.) turun ke tengah kalian sebagai seorang pemimpin yang adil, dia akan mematahkan salib, membunuh babi �
(H.r. Bukhari)

Dengan demikian, tatkala Isa a.s. kembali, doktrin-doktrin sesat seperti Trinitas, salib dan kependetaan, dan perbuatan perbuatan dosa seperti makan babi, akan disapu bersih, orang-orang Nasrani akan diselamatkan dari keadaan bid�ah yang mereka buat-buat, dan semua orang akan diseru agar hidup sesuai dengan agama yang haq dan nilai-nilai moral yang terkandung di dalam al-Qur�an.

Pada saat ini, terdapat sebuah pokok persoalan yang harus kita renungkan. Di dalam al-Qur�an dan hadis, tak ada keraguan bahwa Isa a.s. akan kembali ke bumi pada Akhir Zaman. Hari ini, di sisi lain, sebagian orang Islam meremehkan bukti-bukti yang terang benderang tentang kedatangannya itu, dan mengemukakan bahwa mungkin saja Isa a.s. akan kembali setelah kedatangan Nabi Muhammad saw. Akan tetapi, orang-orang Islam yang punya pikiran seperti itu hendaknya berusaha agar menginterpretasikan ayat-ayat dan hadis-hadis yang relevan secara obyektif dan tanpa prasangka.

Dan, kedua, tak ada kontradiksi antara fakta bahwa Nabi Muhammad saw. adalah nabi terakhir dan Isa a.s. akan kembali ke bumi. Tatkala Isa a.s. datang untuk yang kedua kalinya, beliau tidak akan membawa agama baru namun akan tunduk pada agama yang haq yang disampaikan oleh al-Qur�an dan Nabi Muhammad saw.

Seorang ulama besar Imam Rabbani berkata: �Isa a.s. akan turun dari langit, namun dia akan mengikuti jalan Nabi Muhammad saw.� (Imam-i Rabbani, Letters of Rabbani, Volume II, Letter 67); Iman Nawawi berkata: �� Beliau (Isa a.s.) akan datang dan menerapkan sunnah Muhammad saw.� (Al-Qawl al-Mukhtashar fi �Alamat al-Mahdi al-Muntazhar) Pada topik ini; Qadhi �Iyad berkata:
�Isa a.s. akan memerintah dengan hukum Islam dan akan menghidupkan kembali sunnah-sunnah yang telah diabaikan oleh umatnya.� (H.r. Ibnu Majah).

Ulama besar abad yang lalu, Bediuzzaman Said Nursi telah memberikan pemaparan yang menarik tentang perkara ini dalam kitabnya Risale-i Nur Collection. Menurut analisa Bediuzzaman, Isa a.s. akan kembali ke bumi dengan tubuh fisiknya pada Akhir Zaman dan akan menentang dan menepis ideologi-ideologi anti-agama yang mewakili filsafat materialisme dan naturalisme. Di bawah pemerintahannya, orang-orang Nasrani dan Islam akan bersatu dan kekuatan-kekuatan anti-agama akan disapu bersih. Kristenitas akan dibersihkan dari berbagai keyakinannya yang keliru, bid�ah-bid�ah dan mitos-mitosnya, dan menjadi tunduk pada al-Qur�an. Bediuzzaman mengatakan bahwa, dalam menyampaikan pemberitahuan ini, Nabi Muhammad saw. berlandaskan pada firman-firman Allah yang Mahabesar dan dengan demikian maka hal itu pasti akan terjadi. 29

Kini sampailah kita pada sebuah pertanyaan yang menarik. Bagaimana orang-orang bisa mengenali Isa a.s.? Tentu saja, indikasi paling jelas adalah bahwa beliaulah orang yang akan memiliki semua ciri yang umumnya ada pada diri seorang nabi sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur�an. Di samping itu, beliau akan membawa sebuah tanda penting untuk menunjukkan bahwa beliaulah Isa a.s. Tatkala beliau tiba, tak akan ada seorang pun yang pernah melihat Isa a.s. sebelumnya secara pribadi dan dengan demikian tak ada seorang pun yang akan mengenalnya. Tak seorang pun yang akan dapat mengenalnya dengan penampilan fisiknya atau dengan suaranya. Tak seorang pun yang akan dapat mengatakan bahwa dia kenal Isa a.s. secara pribadi, atau melihatnya pada suatu waktu; tak seorang pun yang akan pernah mengetahui keluarga atau sanak kerabat beliau. Semua orang yang pernah mengenal beliau telah wafat 2.000 tahun yang lalu. Maryam a.s., Zakariyya a.s., murid-mu-rid beliau, yang telah hidup selama bertahun-tahun bersama beliau, serta orang-orang yang dulu pernah mendapat dakwah Isa a.s., telah wafat. Dengan demikian, tak akan ada seorang pun yang akan melihat kelahiran beliau, masa kanak-kanaknya, masa remaja atau dewasanya tatkala beliau datang untuk yang kedua kalinya. Tak seorang pun yang akan tahu apa pun tentang beliau.

Sebagaimana telah kami jelaskan di bagian awal dari buku ini, atas perintah Allah, �Jadilah,� Isa a.s. telah hadir ke dunia ini tanpa seorang ayah. Jelaslah, setelah sekian abad, dia tidak akan memiliki sanak kerabat yang masih hidup. Dalam hal ini, Allah membandingkan situasi Isa a.s. dengan penciptaan Adam a.s.:

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: �Jadilah� (seorang manusia), maka jadilah dia. (Q.s. Ali �Imran: 59).

Ayat ini mengungkapkan bahwa Allah berfirman �Jadilah� dan Adam a.s. pun tercipta. Isa a.s. pun telah diciptakan dengan perintah yang sama. Adam a.s. tidak memiliki ibu dan ayah sementara Isa a.s. hanya memiliki ibu tatkala beliau hadir ke dunia ini. Namun, manakala beliau hadir kembali untuk yang kedua kalinya, ibu beliau tidak akan hidup lagi.

Dengan demikian, kebingungan yang ditimbulkan oleh para messiah palsu yang akan muncul dari waktu ke waktu tidak mendatangkan hasil. Tatkala Isa a.s. kembali lagi ke dunia, tak akan ada peluang untuk menuding keraguan apa pun atas fakta bahwa orang itu adalah beliau. Tak seorang pun akan mampu menemukan alasan tepat untuk mengatakan bahwa beliau tidak mungkin adalah Isa a.s. Isa a.s. akan dikenali dengan satu karakteristik yang akan memisahkan diri beliau dengan setiap orang lainnya: tak seorang pun di dunia ini yang akan mengenali beliau.

Kesimpulan, informasi yang disajikan di sini hendaknya mengarahkan kita agar mengenali bahwa datangnya waktu dari janji-janji yang berkenaan dengan kedatangan Isa a.s., dan hal-hal yang akan beliau lakukan, sudah dekat. Tentu saja, sudah menjadi tugas kita untuk mempersiapkan diri dengan sebaikbaiknya guna menyambut orang yang diberkahi ini yang telah begitu lama kita tunggu-tunggu kedatangannya.

ZAMAN KEEMASAN

Tanda-tanda Zaman Keemasan, digambarkan dengan rinci oleh Rasulullah saw., adalah tanda-tanda penting Hari Pengadilan. Periode ini disebut �Zaman Keemasan�, karena gambarannya yang mirip dengan Surga oleh para ulama. Dapat dipahami dari hadis-hadis bahwa Zaman Keemasan akan tiba pada periode kedua dari Akhir Zaman.

Salah satu ciri utama periode suka cita ini adalah akan munculnya kemakmuran yang sangat melimpah. Hadis-hadis menekankan bahwa kemakmuran ini akan menjadi sebuah fenomena yang unik dalam sejarah:

Umatku akan mendapati suatu kemakmuran pada saat itu yang tak akan pernah ada taranya sebelumnya.
(H.r. Ibnu Majah)

Umatku, baik yang saleh maupun yang jahat, akan diberkahi dengan berbagai karunia yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.
(Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi �Alamat al-Mahdi Akhir az-Zaman)

Hadis lain menggambarkan kekayaan pada periode ini:

Pada periode ini, bumi akan menumpahkan keluar harta kekayaannya�
(Ibnu Hajar Haytsami, Al-Qawl al-Mukhtashar fi �Alamat al-Mahdi al-Muntazhar)

Salah satu hadis menceritakan bahwa tahun-tahun kerisauan dan kesulitan akan berakhir; tak seorang pun yang akan memiliki hajat. Bahkan tak didapati seorang pun yang akan diberi zakat:

Tunaikanlah zakat karena akan tiba suatu masa pada umat ini di mana seseorang akan keluar berkeliling membawa zakatnya namun tidak akan menemukan seorang pun yang akan menerimannya.
(H.r. Bukhari)

Kekayaan tentu akan berlipat ganda dan mengalir bagaikan air pada saat itu, namun tak seorang pun yang akan memungutinya.
(H.r. Al-Halimi)

Karakteristik utama dari Zaman Keemasan adalah ditegakkannya keadilan dan kebenaran. Akan datang suatu masa di mana hukum dan keadilan mengganti kekhawatiran, konflik, dan ketidakadilan. Sebagaimana kita baca dalam hadis-hadis, �Bumi akan dipenuhi keadilan, menggantikan kekejaman dan penganiayaan.� (Ahmad Dhiya� ad-Din al-Kamushkhanawi, Ramuz al-Ahadits) Di antara tanda-tanda yang paling signifikan dari periode ini adalah, tidak adanya letusan senjata, berakhirnya permusuhan, konflik, dan perpecahan sosial; dan terbinanya persahabatan dan cinta kasih di antara manusia. Jumlah uang yang luar biasa besar yang dibelanjakan untuk industri perang akan diinvestasikan untuk makanan, kesehatan, pembangunan, kebudayaan, dan pada hal-hal yang mendatangkan kebahagiaan atas umat manusia.

Ciri lainnya dari periode yang diberkahi ini adalah kembalinya fondasi-fondasi agama sebagaimana halnya dulu pada masa Nabi Muhammad saw. Hukum-hukum, mitos-mitos, dan tradisi-tradisi yang dibuat-buat setelah Islam dan tidak memiliki akar darinya akan dihilangkan. Perselisihan di kalangan orang-orang Islam dalam menjalankan praktik agama mereka juga akan berhenti.

Singkatnya, Zaman Keemasan akan menjadi masa penuh kekayaan, kemakmuran, perdamaian, kebahagiaan, kesejahteraan, dan kemudahan. Ia akan menjadi suatu zaman di mana perkembangan seni, kedokteran, komunikasi, produksi, transportasi, dan bidang-bidang kehidupan lainnya yang seperti itu akan terjadi sebagaimana tak pernah ada sebelumnya dalam sejarah dunia ini. Dan, orang-orang hidup sesuai dengan nilai-nilai moral al-Qur�an.

SETELAH ZAMAN KEEMASAN

Tatkala kita membaca riwayat para nabi di dalam al-Qur�an, kita lihat bahwa sebuah hukum ilahi yang penting berlaku di segala zaman. Umat-umat yang membantah rasul Allah yang diutus kepada mereka pasti dihancurkan, sementara mereka yang tunduk pada sang rasul memperoleh kekayaan material dan kedamaian spiritual yang dibawa oleh agama yang haq. Pada periode setelah para rasul ini, sebagian umat lalu menolak agama yang haq yang telah dengan jelas disampaikan kepada mereka, dan mulai mengada-adakan sekutu bagi Allah. Pertentangan dan konflik pun menyusul. Sesungguhnya, mereka sendirilah yang telah ikut andil dari akhir kehancuran yang mereka alami dengan tangan mereka.

Hukum ini pun tentu berlaku pula pada Akhir Zaman. Nabi Muhammad saw. memberitahukan bahwa as-Sa�ah akan tiba setelah wafatnya Isa a.s. dan pada akhir Zaman Keemasan ini:

Setelah dia (Nabi Isa a.s.), maka Hari Pengadilan tinggal sebentar lagi.
(Ahmad Dhiya� ad-Din al-Kamushkhanawi, Ramuz al-Ahadits)

Hari Pengadilan akan datang setelahnya (Nabi Isa a.s.).
(Ahmad Dhiya� ad-Din al-Kamushkhanawi, Ramuz al-Ahadits)

Tentu saja, Akhir Zaman dan Zaman Keemasan akan menjadi kurun-kurun waktu di mana peringatan terakhir akan diberikan kepada umat manusia. Sejumlah hadis menyoroti bahwa kelak tak akan ada kebaikan yang tersisa setelah periode ini. Maka, kita melihat bahwa, tak lama setelah wafatnya Isa a.s., semua orang di dunia ini, yang bergelimang dengan kekayaan dari Zaman Keemasan, akan menjadi jahat dan menolak agama yang haq. Boleh dibilang bahwa dalam kondisi itulah as-Sa�ah (Hari Kiamat) akan tiba, namun, tentu saja, hanya Allah yang Mahatahu.

[[===—-
KESIMPULAN

Tentu saja, Allah melampaui ruang dan waktu, sedangkan manusia terikat oleh keduanya. Kenyataan yang gamblang ini berarti bahwa masa lalu, masa kini, dan masa depan hanyalah satu waktu saja dalam pandangan Allah. Dalam pandangan-Nya, segala hal berawal dan berakhir dalam satu saat. Mulai dari penciptaan dunia ini hingga Hari Pengadilan, segala hal telah ditakdirkan oleh Allah, sampai ke masalah yang sekecil-kecilnya. Setiap kejadian, dari yang paling kecil hingga yang paling besar, telah dicatat dalam sebuah kitab yang disebut �Lawh Mahfuzh� (Kitab Induk).

Setiap kejadian, dalam setiap rincian yang sekecil-kecilnya, beserta waktu dan tempatnya, sudah terkandung di dalam takdir yang telah ditetapkan oleh Allah. Di dalam al-Qur�an, fakta ini dinyatakan dalam firman-firman berikut: �Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.� (Q.s. al-An�am: 67). Waktu ini telah ditetapkan dengan tepat sehingga �ia tak dapat ditunda ataupun diajukan sesaat pun.�

Tentu saja, saat di mana tanda-tanda Hari Akhir dan Akhir Zaman akan tiba telah ditentukan dalam pandangan Allah hingga ke detik terakhirnya. Selama berabad-abad, orang-orang beriman yang benar-benar tulus keimanannya kepada Allah telah mengamati terjadinya tanda-tanda Hari Akhir dengan penuh perhatian dan antisipasi, dengan mengetahui bahwa apa yang sedang mereka amati itu adalah perjalanan takdir yang sedang berlangsung. Mereka telah mempertimbangkan dengan sangat hati-hati tanda-tanda di dalam al-Qur�an dan hadis-hadis, dan telah berupaya untuk mempersiapkan diri dalam menyambut kekacauan dan penderitaan dari periode pertama Akhir Zaman. Demikian pula, mereka pun telah memiliki hasrat yang kuat untuk hidup di Zaman Keemasan yang diberkahi.

Ayat-ayat al-Qur�an dan hadis-hadis yang ditelaah di seluruh buku ini telah menyajikan dengan jelas sejumlah fakta mengenai janji-janji Allah. Periode di mana kita hidup adalah salah satu kurun waktu di mana sejumlah besar dari tandatanda as-Sa�ah (Hari Kiamat) tersebut sudah terjadi. Dunia pada hari ini menyaksikan, untuk pertama kalinya dalam sejarah, terpenuhinya dengan jelas janji-janji ilahi ini, satu demi satu. Sungguh, ini adalah perkembangan paling penting semenjak masa Nabi Muhammad saw. Mengabaikan, menafikan, atau membantah tanda-tanda ilahi ini adalah suatu kerugian yang sangat besar.

Maka, dapat kita pahami bahwa abad ke-21 menandai awal dari suatu era yang sama sekali baru dalam sejarah dunia.

Janji Allah tentu saja adalah benar. Tak seorang pun yang dapat mengubah janji-Nya atau mencegah terlaksananya janji itu. Sebagaimana dalam segala hal, kata terbaik dan terindah dalam perkara ini dinyatakan dalam al-Qur�an:

Katakanlah: �Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya �� (Q.s. an-Naml: 93).

[[===—-
A P E N D I K S :
KEPADA PARA PEMBACA
Alasan mengapa diluangkan sebuah bab khusus [Apendiks] mengenai runtuhnya teori evolusi adalah karena teori ini merupakan dasar dari semua filsafat anti agama. Oleh karena Darwinisme menolak fakta penciptaan, dan demikian pula atas eksistensi Tuhan, selama 140 tahun terakhir teori ini telah menyebabkan banyak orang mengabaikan agama mereka atau mengalami keragu-raguan. Dengan demikian, memperlihatkan bahwa teori ini sebuah tipuan adalah sebuah tugas sangat penting, yang sangat berkaitan dengan agama (din). Merupakan sebuah kewajiban agar tugas penting ini dijalankan kepada setiap orang. Sebagian dari para pembaca kami mung-kin hanya berkesempatan membaca salah satu saja dari bukubuku kami. Oleh sebab itulah, kami menganggap layak untuk memuat satu bab sebagai sebuah ringkasan dari pokok pembahasan ini.

Di dalam semua buku dari penulis, pokok-pokok persoalan yang berkaitan dengan keimanan disampaikan dengan menggunakan ayat-ayat al-Qur�an dan orang-orang diajak untuk mempelajari ayat-ayat Allah dan mengamalkannya dalam kehidupan. Semua pokok pembahasan yang berkenaan dengan ayat-ayat Allah diterangkan dengan sedemikian rupa sehingga tidak ada celah keraguan atau tanda tanya di dalam benak para pembaca. Penggunaan cara bertutur yang tulus, apa adanya, dan fasih memastikan bahwa setiap orang dari berbagai usia dan kelompok sosial dapat dengan mudah memahami buku-buku ini. Cara penuturan yang efektif dan gamblang memungkinkan untuk membaca buku ini sekali duduk. Bahkan orang-orang yang menolak spiritualitas pun terpengaruh oleh berbagai fakta yang dituturkan di dalam buku-buku ini dan tidak dapat menolak kebenaran yang terkandung di dalamnya.

Buku ini dan semua karya penulis yang lain dapat dibaca secara individu atau dikaji secara berkelompok dalam suatu perbincangan. Pembacaan buku-buku ini oleh sekelompok pembaca dengan maksud untuk memetik manfaat darinya akan berguna bila dengan pengertian bahwa para pembaca tadi dapat saling mengaitkan perenungan dan pengalaman mereka sendiri satu sama lain.

Di samping itu, akan menjadi suatu amal saleh yang sangat besar untuk ikut serta memberikan sumbangan dalam mempresentasikan dan membaca buku-buku ini, yang ditulis semata-mata demi mendapatkan keridhaan Allah. Semua buku dari penulis sangat meyakinkan. Karena alasan inilah, bagi mereka yang ingin menyampaikan din kepada orang lain, salah satu metode yang paling efektif adalah dengan mendorong mereka untuk membaca buku-buku ini. Diharapkan pembaca akan meluangkan waktunya guna membaca tinjauan (review) dari buku-buku lainnya yang terdapat pada halaman-halaman terakhir buku ini, dan memperoleh kepahaman akan kayanya sumber-sumber yang berkenaan dengan isu-isu keagamaan, yang mana begitu berguna dan menyenangkan untuk dibaca.

Di dalam buku-buku tersebut, seseorang tidak akan menemukan, sebagaimana pada sebagian buku-buku lainnya, pandangan-pandangan pribadi penulis, penjelasan-penjelasan yang berlandaskan sumber-sumber yang meragukan, gaya-gaya yang ceroboh dalam menyikapi pokok-pokok pembahasan yang suci, atau keputusasaan, keragu-raguan, dan keterang-an-keterangan yang bersifat pesimistis sehingga menimbulkan penyimpangan-penyimpangan di dalam hati.

APENDIKS:

Kesalahan Konsep Darwinisme

Setiap detil di alam semesta ini menunjuk kepada penciptaan yang superior. Sebaliknya, materialisme, yang berupaya untuk menolak fakta tentang konsep penciptaan dalam alam semesta, tidak lain adalah suatu kepalsuan ilmiah.

Sekali materialisme dinyatakan tidak absah, seluruh teoriteori lain yang berasaskan dari filsafat ini dipandang tak memiliki landasan. Berada pada urutan utama di antara teoriteori ini adalah Darwinisme, yakni teori tentang evolusi. Teori ini, yang mempertahankan bahwa kehidupan berasal dari materi yang tak bernyawa melalui kebetulan, telah digugurkan oleh pengakuan bahwa alam semesta telah diciptakan Allah. Pakar astrofisika Amerika Serikat, bernama Hugh Ross, menerangkan tentang hal ini sebagai berikut.

Ateisme, Darwinisme, dan hampir seluruh �isme� lahir dari filsafat-filsafat yang berkembang di abad ke-18 sampai abad ke-20 dibangun atas dasar asumsi � anggapan yang salah � bahwa alam semesta ini adalah azali. Anggapan tentang keazalian alam ini telah membawa kita untuk berhadap-hadapan dengan persoalan tentang kausa atau � penyebab � yang mengatasi/ berada di balik/yang ada sebelum alam semesta dan seluruh seisinya, termasuk persoalan tentang kehidupan itu sendiri.1

Allah-lah yang telah menciptakan alam semesta ini dan yang telah merancangnya hingga mendetail sampai sekecilkecilnya. Dengan demikian, mustahil teori evolusi � yang berpegang pada pendapat bahwa makhluk hidup tidak diciptakan oleh Allah, melainkan adalah produk dari berbagai peristiwa yang kebetulan � ini benar.

Tidaklah mengejutkan, tatkala kita tilik teori evolusi ini, akan kita saksikan bahwa teori ini dikritisi dengan adanya berbagai temuan ilmiah. Desain dalam kehidupan amat sangat kompleks dan mempesona. Di dunia tak hidup (inanimate world), misalnya, kita dapat menjelajahi betapa pekanya keseimbangan atom-atom, dan lebih jauh lagi, di dunia hidup (animate world), kita dapat mengamati betapa kompleksnya atom-atom ini terkumpul menjadi satu dalam sebuah desain, dan betapa luar biasanya berbagai mekanisme dan struktur seperti protein, enzim, dan sel, yang diproduksi.

Desain yang luar biasa dalam kehidupan ini membuat Darwinisme tidak valid lagi pada akhir abad ke-20.

Kami telah membahas permasalahan ini dengan amat rinci pada sebagian dari kajian-kajian kami yang lain, dan akan terus dilakukan. Meskipun demikian kami berpikir bahwa dengan mempertimbangkan nilainya yang penting, akan sangat membantu untuk menyajikan suatu ringkasan yang singkat di sini.

RUNTUHNYA DARWINISME SECARA ILMIAH

Meskipun merupakan sebuah doktrin yang berasal jauh ke belakang pada masa Yunani kuno, teori evolusi dikemukakan secara meluas pada abad ke-19. Perkembangan terpenting yang membuat teori ini menjadi topik utama dunia ilmu pengetahuan adalah buku Charles Darwin yang berjudul The Origin of Species yang diterbitkan pada tahun 1859. Dalam buku ini, Darwin menyangkal bahwa berbagai spesies makhluk hidup di bumi ini diciptakan secara sendiri-sendiri oleh Allah. Menurut Darwin, semua makhluk hidup memiliki satu leluhur yang sama dan mereka berkembang menjadi beraneka ragam seiring berjalannya waktu melalui perubahanperubahan kecil.

Teori Darwin tidak didasarkan pada penemuan ilmiah apa pun yang pasti; sebagaimana diakuinya sendiri, teori ini sekadar �asumsi�. Lagi pula, sebagaimana diakui oleh Darwin dalam sebuah bab yang panjang dalam bukunya itu, yang berjudul Difficulties of the Theory (Kesulitan-kesulitan Teori Ini), teori ini selalu gagal dalam menghadapi sekian banyak pertanyaan yang kritis.

Darwin menanamkan semua harapannya pada penemuanpenemuan ilmiah baru, yang diperkirakannya akan memecahkan �Kesulitan-kesulitan Teori Ini�. Akan tetapi, berlawanan dengan perkiraannya, penemuan-penemuan ilmiah justru memperlebar dimensi kesulitan-kesulitan ini.

Kekalahan Darwinisme atas sains dapat ditinjau dari tiga topik dasar:

1) Teori ini sama sekali tidak menerangkan bagaimana asal-usul kehidupan di bumi.

2) Tak ada penemuan ilmiah yang menunjukkan bahwa �mekanisme-mekanisme evolusi� yang dikemukakan oleh teori ini memiliki suatu kekuatan untuk berkembang sama sekali.

3) Catatan fosil sepenuhnya membuktikan hal-hal yang berlawanan dengan pernyataan-pernyataan teori evolusi.

Dalam bagian ini, kita akan menguji ketiga hal mendasar tadi secara garis besar:

LANGKAH PERTAMA YANG TAK MAMPU DIATASI: ASAL-USUL KEHIDUPAN

Teori evolusi beranggapan bahwa semua spesies makhluk hidup berkembang dari satu sel hidup tunggal yang muncul di bumi primitif 3,8 milyar tahun yang lalu. Bagaimana sebuah sel tunggal dapat menghasilkan jutaan spesies hidup yang kompleks dan, andaikata evolusi seperti itu memang benar terjadi, mengapa bekas-bekasnya tak dapat diamati pada catatan fosil adalah beberapa pertanyaan yang tak dapat dijawab oleh teori tersebut. Bagaimanapun, pertama-tama dan utama, dari langkah awal proses evolusi yang dinyatakan dengan tanpa bukti itu yang harus diselidiki adalah: Bagaimana asal-usul �sel pertama� ini?

Oleh karena teori evolusi ini mengingkari penciptaan dan tidak menerima campur tangan supernatural dalam bentuk apa pun, teori ini mempertahankan bahwa �sel pertama� berasal secara kebetulan di dalam hukum alam, tanpa rancangan, perencanaan, atau penataan apa pun. Menurut teori ini, materi tak hidup telah memproduksi sebuah sel hidup sebagai hasil dari berbagai peristiwa kebetulan. Bagaimanapun, ini adalah sebuah klaim yang tidak konsisten bahkan dengan hukumhukum biologi yang tak terbantahkan.

�KEHIDUPAN BERASAL DARI KEHIDUPAN�
Di dalam bukunya, Darwin tak pernah merujuk ke asalusul kehidupan. Pemahaman primitif sains pada masa hidupnya bertumpu pada asumsi bahwa makhluk hidup memiliki struktur yang sangat sederhana. Semenjak Zaman Pertengahan, generasi spontan (generatio spontanea), teori yang menyatakan bahwa material-material tak hidup berkumpul menjadi satu untuk membentuk organisme-organisme hidup, telah diterima secara luas. Sudah menjadi kepercayaan umum pada saat itu bahwa serangga berasal dari sisa-sisa makanan, dan tikus berasal dari gandum. Percobaan-percobaan yang menarik telah dilakukan guna membuktikan teori ini. Beberapa butir gandum diletakkan di atas sehelai kain kotor, dan diyakini bahwa tikus-tikus akan muncul dari sana setelah beberapa saat.

Serupa itu, ulat-ulat yang muncul dan tumbuh dari daging diasumsikan sebagai bukti generasi spontan. Akan tetapi, hanya beberapa saat kemudian dipahami bahwa ulat-ulat tidak muncul pada daging secara spontan, namun dibawa ke sana oleh lalat dalam bentuk larva yang tak terlihat oleh mata telanjang.

Bahkan pada periode di mana Darwin menulis The Origin of Species, kepercayaan bahwa bakteri dapat muncul dari materi tidak hidup telah diterima secara luas di dunia sains.

Akan tetapi, lima tahun setelah buku Darwin terbit, penemuan Louis Pasteur mengumumkan hasil-hasil temuannya setelah penelaahan dan percobaan yang lama, yang menggugurkan teori generasi spontan, yang merupakan batu pijakan teori evolusi Darwin. Dalam kuliah yang dia berikan dengan gemilang di Universitas Sorbonne pada 1864, Pasteur berkata, �Tidak akan pernah lagi doktrin genarasi spontan ini dapat pulih setelah serangan mematikan yang dilancarkan oleh eksperimen sederhana ini.�2

Para pendukung teori evolusi pun menolak hasil penemuan Pasteur dalam waktu yang lama. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan sains yang menguak misteri struktur sel makhluk hidup yang kompleks, pemikiran bahwa kehidupan dapat terjadi secara kebetulan bahkan menghadapi kebuntuan yang lebih besar lagi.

USAHA-USAHA YANG TIDAK MEYAKINKAN PADA ABAD KE-20
Evolusionis pertama yang terlibat dalam pokok pembahasan asal-usul kehidupan pada abad ke-20 adalah ahli biologi terkenal Rusia, Alexander Oparin. Dengan berbagai tesis yang dikemukakannya pada tahun 1930an, dia berusaha membuktikan bahwa sel suatu makhluk hidup dapat dihasilkan secara kebetulan. Akan tetapi, kajian-kajian ini mengalami kegagalan, dan Oparin harus membuat pengakuan berikut: �Sayangnya, asal-usul sel ini tetap menjadi sebuah persoalan yang hingga kini menjadi titik tergelap dari keseluruhan kajian evolusi makhluk organisme.� 3

Para evolusionis pengikut Oparin pun berusaha melakukan berbagai percobaan untuk memecahkan masalah asal-usul kehidupan. Yang paling terkenal dari percobaan ini adalah yang dilakukan oleh ahli kimia Amerika Serikat, Stanley Miller pada tahun 1953. Dengan menggabungkan gas-gas yang dinyatakannya dengan tanpa bukti telah ada pada atmosfir bumi pada tahap paling awal dalam sebuah percobaan yang telah dipersiapkan, dan dengan menambahkan energi dalam campurannya, Miller telah mensintesiskan sekian banyak molekul organis (asam-asam amino) yang terdapat pada struktur protein.

Kemudian tak sampai sekian tahun lamanya, akhirnya terkuak bahwa percobaan ini, yang kemudian dipersembahkan sebagai sebuah langkah penting atas nama evolusi, ternyata tidak valid, atmosfir yang dipakai dalam percobaan tadi sangat berbeda dengan kondisi bumi yang sesungguhnya. 4

Setelah sekian lama membisu, Miller pun mengakui bahwa media atmosfir yang dipakainya dulu tidak realistis. 5

Segala upaya yang dikerahkan oleh kaum evolusionis di sepanjang abad ke-20 untuk menerangkan asal-usul kehidupan berakhir dengan kegagalan. Ahli geokimia Jeffrey Bada dari San Diego Scripps Institute mengakui fakta ini dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam Majalah Earth pada tahun 1998:

Saat ini, sementara kita meninggalkan abad ke-20, kita masih menghadapi masalah terbesar yang tak terpecahkan sejak kita memasuki abad ke-20: Bagaimanakah dulunya kehidupan bermula di bumi ini? 6

STRUKTUR KEHIDUPAN YANG KOMPLEKS
Alasan utama mengapa teori evolusi berakhir dengan kebuntuan besar yang sedemikian itu mengenai asal-usul kehidupan adalah bahwa bahkan organisme-organisme hidup yang dipandang paling sederhana pun memiliki struktur yang luar biasa kompleksnya. Sel suatu makhluk hidup lebih kompleks daripada semua produk teknologi yang diproduksi oleh manusia. Hari ini, bahkan di berbagai laboratorium yang paling maju di dunia ini, sebuah sel hidup tak dapat diproduksi dengan menggunakan material-material non-organik yang digabungkan secara bersama-sama.

Kondisi-kondisi yang disyaratkan bagi terbentuknya sebuah sel jauh lebih pelik untuk dijelaskan dengan peristiwa kebetulan. Kemungkinan protein, belahan-belahan pembangun sel, untuk tersintesis secara kebetulan adalah 1 banding 950 untuk rata-rata protein yang tersusun dari 500 asam amino. Dalam matematika, sebuah probabilitas yang lebih kecil daripada 1 dibagi 1050 praktis dipandang sebagai kemustahilan.

Molekul DNA, yang terletak di dalam inti sel dan menyimpan informasi genetika, adalah sebuah bank data yang luar biasa. Dikalkulasikan bahwa andaikata informasi yang diberi kode DNA dituliskan, maka akan tersusun dalam sebuah perpustakaan raksasa yang terdiri dari 900 volume ensiklopedia yang masing-masingnya berisi 500 halaman.

Sebuah dilema yang sangat menarik muncul dalam hal ini: DNA tersebut hanya dapat direplikasikan dengan bantuan beberapa protein khusus (enzim). Akan tetapi, sintesis dari enzim-enzim ini hanya dapat direalisasikan oleh informasi yang ada dalam kode DNA. Karena keduanya saling tergantung satu sama lain, maka keduanya pun harus ada dalam waktu yang sama untuk replikasi ini. Hal ini mengantarkan skenario bahwa kehidupan muncul dengan sendirinya ke jalan buntu. Prof. Leslie Orgel, seorang evolusionis tersohor dari University of San Diego, California, mengakui fakta ini dalam majalah Scientific American yang terbit pada bulan September 1994:

Sangatlah tidak mungkin berbagai protein dan asam nukleat, yang keduanya memiliki struktur yang kompleks, muncul secara spontan di tempat yang sama pada waktu yang sama pula. Namun tampaknya mustahil pula bila salah satunya terbentuk tanpa yang lainnya. Dengan demikian, sedari awal, seseorang terpaksa harus menyimpulkan bahwa kehidupan ini tak mungkin berasal dari hasil reaksireaksi kimia.7

Tak diragukan, bila memang mustahil kehidupan ini berasal dari sebab-sebab yang natural, maka haruslah diakui bahwa kehidupan ini �tercipta� secara supernatural. Fakta ini secara tersurat membuat teori evolusi, yang tujuan utamanya adalah mengingkari penciptaan, menjadi tidak valid.

MEKANISME KHAYALAN EVOLUSI
Hal penting kedua yang menafikan teori Darwin adalah bahwa kedua konsep yang dikemukakan oleh teori tersebut sebagai �mekanisme-mekanisme evolusioner�, dalam kenyataannya, telah dipahami sebagai tidak memiliki kekuatan evolusioner.

Darwin mendasarkan dugaan evolusinya tadi secara keseluruhan pada mekanisme �seleksi alam (natural selection)�. Pentingnya kedudukan mekanisme ini baginya tampak nyata dalam judul bukunya: The Origin of Species, By Means Of Natural Selection …

Seleksi alam menyatakan bahwa makhluk-makhluk hidup yang lebih kuat dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi alam tempatnya berada akan dapat bertahan hidup. Misalnya, dalam sekawanan rusa yang berada di bawah ancaman serangan dari berbagai binatang buas, maka yang larinya lebih kencang akan tetap bertahan hidup. Dengan demikian, kawanan rusa tersebut akan terdiri dari individuindividu yang lebih cepat dan lebih kuat. Akan tetapi, tidaklah mengherankan, mekanisme ini tidak akan menyebabkan rusa untuk berkembang dan mengubah bentuknya menjadi spesies makhluk hidup lainnya, menjadi kuda, misalnya.

Dengan demikian, mekanisme seleksi alam tidak memiliki kekuatan evolusioner. Darwin pun menyadari fakta ini dan harus menyatakannya di dalam bukunya The Origin of Species:

Seleksi alam tidak berperan apa pun hingga pada perbedaan-perbedaan atau variasi dalam individu itu memiliki peluangnya.8

PENGARUH LAMARCK
Maka, bagaimanakah �variasi-variasi yang memiliki peluang� ini bisa terjadi? Darwin berusaha menjawab pertanyaan ini dari sudut pandang pemahaman sains primitif pada masa hidupnya. Menurut ahli biologi Prancis, bernama Lamarck, yang hidup sebelum Darwin, makhluk-makhluk hidup menurunkan ciri-ciri pembawaan yang mereka peroleh pada masa hidupnya kepada generasi berikutnya, dan ciri-ciri pembawaan ini, berakumulasi dari satu generasi ke generasi berikutnya, menyebabkan terbentuknya spesies baru. Misalnya, menurut Lamarck, jerapah berkembang dari antelop (semacam kijang bertanduk, pent.); sewaktu hewan-hewan ini berusaha untuk memakan dedaunan yang terletak di pohonpohon yang tinggi, leher hewan-hewan ini pun lalu memanjang dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Darwin juga memberikan contoh-contoh yang serupa dengan itu, dan di dalam bukunya The Origin of Species, misalnya, disebutkan bahwa beberapa beruang yang masuk ke dalam air untuk mencari makan telah berubah bentuknya menjadi ikan paus seiring berjalannya waktu.9

Akan tetapi, hukum sifat pewarisan genetika (laws of inheritance) yang ditemukan oleh Mendel dan telah diperiksa ulang kebenarannya oleh ilmu genetika yang mengalami kemajuan pesat pada abad ke-20, menghapuskan seluruhnya legenda tentang ciri-ciri pembawaan yang diperoleh dilanjutkan kepada generasi-generasi berikutnya. Dan dengan demikian, seleksi alam tidak ada landasan sebagaimana mekanisme evolusi.

NEO-DARWINISME DAN MUTASI
Dalam rangka memperoleh suatu solusi, para penganut Darwinisme mengajukan �Teori Sintetis Modern�, atau lebih umum dikenal sebagai Neo-Darwinisme, pada akhir tahun 1930an. Neo-Darwinisme menambahkan mutasi, yang merupakan distorsi yang terbentuk di dalam gen-gen dari makhluk hidup yang diakibatkan oleh berbagai faktor eksternal seperti radiasi atau kesalahan-kesalahan replikasi, sebagai �penyebab variasi-variasi yang memiliki peluang� di samping mutasi alami.

Saat ini, model yang dipakai bagi evolusi di dunia adalah Neo-Darwinisme. Teori ini mempertahankan bahwa jutaan makhluk hidup yang hadir di bumi ini terbentuk sebagai hasil dari sebuah proses yang dengannya sekian banyak organ kompleks organisme-organisme ini seperti telinga, mata, paru-paru, dan sayap, mengalami �mutasi�, yaitu, kelainan genetika. Namun, terdapat sebuah fakta ilmiah telak yang meruntuhkan teori ini secara total: Mutasi tidak menyebabkan makhluk-makhluk hidup mengalami perkembangan evolusif; sebaliknya, hal ini justru mendatangkan bahaya bagi makhluk hidup.

Alasannya sangat sederhana: DNA memiliki sebuah struktur yang sangat kompleks dan efek-efek yang terjadi secara acak hanya dapat mendatangkan kerusakan baginya. Ahli genetika Amerika B.G. Ranganathan menjelaskan hal ini sebagai berikut:

Pertama-tama, secara alamiah proses mutasi yang asli adalah sangat jarang terjadi. Kedua, kebanyakan dari proses-proses mutasi adalah membahayakan karena terjadi secara tidak teratur, ketimbang sebagai proses perubahanperubahan yang teratur dalam struktur gen; perubahanperubahan apa pun yang tidak beraturan pada suatu sistem yang amat teratur akan berdampak lebih buruk, bukan menuju yang lebih baik. Contoh, tatkala bencana gempa bumi telah membuat guncangan pada suatu struktur yang tersusun amat teratur seperti suatu gedung, akan terjadi perubahan yang serampangan pada rangkaian struktur gedung, yang dalam segala kemungkinannya, perubahan itu tentu saja bukan suatu proses peningkatan dari kondisi sebelumnya.10

Tidaklah mengejutkan, tak ada contoh mutasi yang memiliki dampak positif, yaitu yang telah diteliti yang mengembangkan kode genetika, yang selama ini diamati sejauh ini. Semua mutasi telah terbukti membawa dampak negatif. Telah dipahami bahwa mutasi, yang dihadirkan sebagai sebuah �mekanisme evolusi�, sesungguhnya adalah suatu kejadian genetika yang membawa dampak yang berbahaya bagi makh-luk-makhluk hidup, dan meninggalkan kecacatan. (Efek mutasi paling umum pada manusia adalah kanker). Tak diragukan, sebuah mekanisme yang destruktif tak dapat disebut sebuah �mekanisme evolusi�. Seleksi alam, pada sisi lain, �tak dapat berbuat apa-apa dengan sendirinya� sebagaimana diakui pula oleh Darwin. Fakta ini memperlihatkan kepada kita bahwa tak ada �mekanisme evolusi� di alam. Oleh karena tak ada mekanisme evolusi, maka tak ada pula proses khayalan yang disebut evolusi yang telah terjadi.

CATATAN FOSIL: TAK ADA TANDA BENTUK-BENTUK PERALIHAN (INTERMEDIATE FORMS)
Bukti paling jelas bahwa skenario yang dinyatakan oleh teori evolusi tidak terjadi adalah catatan fosil.

Menurut teori evolusi, setiap spesies hidup dulunya berasal dari satu moyang. Suatu spesies yang lebih dulu ada telah berubah menjadi sesuatu yang lain dalam perjalanan waktu dan semua spesies muncul menjadi ada dengan cara ini. Menurut teori ini, transformasi tersebut berlangsung secara berangsur-angsur selama jutaan tahun.

Andaikata dulu memang demikian kasusnya, maka spesies peralihan yang tak terhitung jumlahnya seharusnya pernah ada dan hidup di dalam periode transformasi yang panjang ini.

Misalnya, beberapa makhluk setengah ikan-setengah reptil semestinya pernah hidup pada masa lalu yang telah memperoleh sebagian ciri bawaan reptil di samping ciri bawaan ikan yang telah dimilikinya. Atau seharusnya pernah ada beberapa burung-reptil, yang memperoleh sebagian ciri bawaan burung di samping ciri bawaan reptil yang telah dimilikinya. Oleh karena makhluk-makhluk ini ada pada fase transisi, semestinya makhluk-makhluk tersebut mengalami kecacatan. Para evolusionis merujuk ke makhluk-makhluk khayalan ini, yang mereka yakini pernah hidup pada masa lalu, sebagai �bentukbentuk peralihan�.

Andaikata hewan-hewan seperti itu memang pernah ada, maka seharusnya ada jutaan dan bahkan milyaran jumlah dan ragamnya. Lebih penting lagi, sisa-sisa dari makhluk-makhluk aneh ini seharusnya muncul pada catatan fosil. Di dalam The Origin of Species, Darwin menerangkan:

Andaikata teori saya benar, beragam makhluk peralihan yang tak terhitung jumlahnya, yang menghubungkan sedekat mungkin semua spesies dari kelompok yang sama secara bersama-sama harusnya pasti pernah ada � Konsekuensinya, bukti bahwa makhluk-makhluk tersebut pernah ada hanya dapat ditemukan di antara sisa-sisa fosil.11

HARAPAN DARWIN HANCUR BERKEPING-KEPING
Akan tetapi, walaupun para evolusionis telah melakukan berbagai usaha yang keras selama ini untuk menemukan fosilfosil semenjak pertengahan abad ke-19 di seluruh penjuru dunia, belum ada bentuk-bentuk peralihan yang pernah ditemukan. Semua fosil yang diangkat dari penggalian-peng-galian memperlihatkan bahwa, berlawanan dengan harapan para evolusionis, kehidupan muncul di bumi ini dengan tibatiba dan telah sempurna.

Seorang ahli fosil Inggris terkenal, Derek V. Ager, mengakui fakta ini, meskipun dia adalah seorang evolusionis:

Hal yang muncul tatkala kami memeriksa catatan fosil secara mendetail, baik pada tingkatan ordo atau spesies, kami menemukan � lagi dan lagi � bukannya evolusi bertahap, namun suatu kemunculan mendadak sekelompok makhluk hidup disertai punahnya sekelompok makhluk hidup yang lain.12

Ini berarti bahwa di dalam catatan fosil, semua spesies makhluk hidup muncul dengan tiba-tiba dalam keadaan yang telah sempurna, tanpa adanya bentuk-bentuk peralihan apa pun yang berada di antara bentuk-bentuk itu. Ini saja sama sekali berlawanan dengan asumsi-asumsi Darwin. Juga, ini adalah bukti yang sangat kuat bahwa makhluk hidup diciptakan. Satu-satunya penjelasan suatu spesies makhluk hidup muncul dengan tiba-tiba dan sempurna hingga setiap detailnya tanpa adanya moyang evolusioner apa pun adalah bahwa spesies ini memang diciptakan. Fakta ini juga diakui oleh ahli biologi dan evolusionis yang sangat terkenal, Douglas Futuyma:

Kreasi (penciptaan) dan evolusi, di masing-masing yang memegangi pendangan ini, telah berusaha keras membuat penjelasan sebisa mungkin atas asal-usul makhluk hidup. Apakah organisme-organisme muncul di bumi dalam bentuk yang sudah sepenuhnya sempurna baik atau sebaliknya. Jika tidak, maka organisme-organisme tersebut harus berkembang dari bakal-spesies yang ada sebelumnya melalui suatu modifikasi [perubahan sesuai dengan faktor lingkungan, bukan genetis, peny.]. Jika organisme-organisme tersebut memang muncul dalam keadaan yang sudah sempurna, sudah tentu telah diciptakan oleh suatu kecerdasan yang mahakuasa.13

Sisa-sisa fosil menunjukkan bahwa makhluk hidup muncul dalam keadaan yang mengalami perkembangan yang terbaik dan kondisi yang sempurna di bumi ini. Ini bermakna bahwa �asal-usul spesies adalah � kebalikan dari anggapan Darwin � bukan melalui evolusi melainkan penciptaan.

DONGENG EVOLUSI MANUSIA
Pokok pembahasan yang kerap diangkat oleh para pendukung teori evolusi adalah pokok bahasan tentang asal-usul manusia. Klaim Darwinian menyatakan bahwa manusia modern saat ini berkembang dari sejenis makhluk serupa kera. Pada waktu berlangsung proses evolusi yang berupa dugaan ini, yang dianggap dimulai 4�5 juta tahun yang lalu, dinyatakan bahwa ada suatu �bentuk-bentuk peralihan� antara manusia modern dan para leluhurnya itu. Menurut skenario yang sepenuhnya khayalan ini, empat �kategori� dasar masuk dalam daftar:

1. Australopithecus [�Manusia-Kera yang menggunakan kakinya dalam berjalan�].
2. Homo habilis [�Manusia yang terampil menggunakan tangannya untuk berbagai keperluan� atau �handy man�].
3. Homo erectus [�Manusia yang berdiri tegak�].
4. Homo sapiens [�Manusia yang berpikir�].

Para evolusionis menyebut para moyang pertama yang disebut serupa kera tadi sebagai manusia �Australopithecus� yang artinya �kera Afrika Selatan�. Makhluk-makhluk ini sesungguhnya tak lain kecuali suatu spesies kera kuno yang telah punah. Penelitian yang luas atas berbagai spesimen atau contoh Australopithecus oleh dua orang ahli anatomi dunia terkenal dari Inggris dan Amerika Serikat, yaitu Lord Solly Zuckerman dan Prof. Charles Oxnard, telah memperlihatkan bahwa spesimen-spesimen tadi berasal dari suatu spesies kera biasa yang telah punah dan tidak ada kemiripannya dengan manusia.14

Para evolusionis menggolongkan tahapan evolusi manusia yang berikutnya sebagai �homo�, yaitu �manusia�. Menurut klaim evolusionis, makhluk hidup dalam rangkaian Homo lebih maju daripada Australopithecus. Para evolusionis merancang sebuah skema evolusi khayalan dengan menata berbagai fosil makhluk-makhluk ini dalam sebuah urutan tertentu. Skema ini khayalan karena tak pernah terbukti adanya hubungan evolusi di antara dua kelas yang berbeda. Ernst Mayr, salah seorang pendukung teori evolusi terkemuka pada abad ke-20, mencantumkan dalam bukunya berjudul One Long Argument bahwa �[teka-teki] bersejarah yang amat khusus seperti asal-asal kehidupan atau asal-usul Homo sapiens, adalah sangat sulit dan bahkan mungkin jauh dari adanya penjelasan memuaskan dengan tuntas.�15

Dengan membuat sketsa tentang matarantai yaitu �Australopithecus > Homo habilis > Homo erectus > Homo sapiens�, para evolusionis menyiratkan bahwa masing-masing dari spesies ini adalah moyang satu sama lain. Akan tetapi, penemuan-penemuan terbaru dari para ahli fosil mengungkapkan bahwa Australopithecus, Homo habilis, dan Homo erectus hidup di berbagai bagian dunia ini pada waktu yang sama.16

Lagi pula, sebuah segmen tertentu dari manusia yang digolongkan sebagai Homo erectus hidup hingga zaman yang sangat modern. Homo sapiens neandarthalensis dan Homo sapiens sapiens (manusia modern) hidup secara berdampingan di wilayah yang sama.17

Situasi ini tampaknya menunjukkan tidak validnya klaim bahwa mereka adalah moyang satu sama lain. Seorang ahli fosil dari Harvard University, Stephen Jay Gould, menerangkan kebuntuan teori evolusi ini walaupun dia sendiri adalah seorang evolusionis:

Apa yang terjadi pada �pohon kekerabatan� kita jika terdapat tiga garis keturunan hominid yang hidup bersama (A. africanus, Australopithecus yang kekar, dan H. habilis), yang mana tak satu pun jelas-jelas berasal dari yang lainnya? Lagi pula, tak satu pun dari ketiganya memperlihatkan kecenderungan evolusi apa pun pada masa hidupnya di muka bumi.18

Singkat kata, skenario evolusi manusia, yang diusahakan dengan dukungan alat bantu berbagai gambar beberapa makhluk �setengah kera, setengah manusia� yang muncul di media dan buku-buku pelajaran, yaitu sebagai sarana propaganda secara terang-terangan, tak lain hanyalah dongeng yang tidak memiliki landasan ilmiah.

Lord Solly Zuckerman, salah seorang ilmuwan paling terkenal dan disegani di Inggris, yang telah melakukan penelitian pada pokok pembahasan ini selama bertahun-tahun, dan khususnya mempelajari fosil-fosil Australopithecus selama 15 tahun, akhirnya menyimpulkan � meskipun dirinya sendiri adalah seorang evolusionis � bahwa sesungguhnya tidak terdapat pohon keluarga yang bercabang ke luar dari makhlukmakhluk seperti kera ke manusia.

Zuckerman juga membuat sebuah �spektrum sains� yang menarik. Dia membuat sebuah spektrum sains yang memiliki rentang dari yang dipandangnya ilmiah hingga yang dipandangnya tidak ilmiah. Menurut spektrum Zuckerman, bidang sains yang paling �ilmiah� � yaitu, tergantung pada data konkret � adalah kimia dan fisika. Setelah itu barulah ilmuilmu biologi dan kemudian ilmu pengetahuan sosial. Jauh di ujung spektrum tersebut, yang merupakan bagian yang dipandang paling �tidak ilmiah�, adalah �persepsi ekstra sensoris� � konsep-konsep seperti telepati dan indera keenam � dan terakhir adalah �evolusi manusia�. Zuckerman menerangkan penalarannya:

Kita pun kemudian tergerak menjauhi daftar kebenaran obyektif dan merambah ke bidang-bidang yang disangka sebagai ilmu biologi, seperti pengetahuan yang diperoleh tanpa menggunakan panca indera atau penafsiran sejarah fosil manusia, yang mana bagi penganut setia (pada evolusi) apa saja adalah mungkin � dan yang mana bagi seorang yang sangat percaya (terhadap evolusi) kadang-kadang bisa saja mempercayai sekian banyak hal yang bertentangan pada saat yang sama.19

Dongeng evolusi manusia tidak membuat informasi penting apa pun kecuali berbagai interpretasi yang sifatnya pra-anggapan terhadap sebagian fosil yang digali oleh orang-orang tertentu, yang berpegang teguh secara membabi buta pada teori mereka.

TEKNOLOGI DI DALAM MATA DAN TELINGA
Pokok pembahasan lain yang masih tak terjawab oleh teori evolusi adalah kualitas persepsi yang luar biasa hebat di dalam mata dan telinga.

Sebelum melanjutkan pada pokok pembahasan mengenai mata, mari kita jawab secara singkat pertanyaan tentang �bagaimana kita melihat�. Berkas cahaya yang datang dari sebuah benda jatuh berlawanan pada retina mata. Di sini, berkas cahaya ini diteruskan dalam bentuk sinyal-sinyal listrik oleh sel-sel dan sampai pada sebuah titik kecil di belakang otak yang disebut pusat penglihatan. Sinyal-sinyal listrik ini ditangkap di dalam pusat otak tadi sebagai sebuah citra setelah melewati serangkaian proses. Dengan latar belakang teknis ini, mari kita berpikir sedikit.

Otak terisolasi dari cahaya. Artinya adalah bahwa bagian dalam otak gelap gulita, dan cahaya tidak sampai ke lokasi di mana otak berada. Tempat yang disebut sebagai pusat penglihatan tadi adalah sebuah tempat yang gelap gulita di mana tak pernah ada cahaya yang pernah mencapainya; mungkin bisa jadi adalah tempat tergelap yang pernah anda ketahui. Meskipun demikian, anda mengamati sebuah dunia yang bercahaya dan terang di dalam tempat yang gelap gulita ini.

Citra yang terbentuk di dalam mata begitu tajam dan jelas yang bahkan teknologi abad ke-20 belum mampu mencapainya. Misalnya, lihatlah buku yang sedang anda baca ini, kedua tangan anda yang memegangnya, lalu angkatlah kepala anda dan lihatlah ke sekeliling diri anda. Pernahkah anda melihat citra yang setajam dan sejelas ini di tempat lain mana pun? Bahkan layar televisi yang paling canggih buatan pabrik televisi terbesar di dunia ini pun tak dapat memberikan citra yang setajam ini bagi anda. Ini adalah sebuah citra tiga dimensi, berwarna, dan sangat tajam. Selama lebih dari 100 tahun, sudah ribuan insinyur berusaha untuk mencapai ketajaman ini. Pabrik-pabrik, gagasan-gagasan besar telah diajukan, banyak penelitian sudah dilakukan, berbagai rancangan dan desain telah dibuat untuk mencapai tujuan ini. Sekali lagi, lihatlah ke layar TV dan buku yang anda pegang ini. Anda akan melihat ada sebuah perbedaan besar dari segi ketajaman dan kejelasannya. Di samping itu, layar TV memperlihatkan kepada anda sebuah citra dua dimensi, sedangkan dengan kedua mata anda, anda melihat sebuah perspektif tiga dimensi yang memiliki kedalaman.

Selama bertahun-tahun, puluhan ribu insinyur telah berusaha membuat TV tiga dimensi, dan mencapai kualitas daya penglihatan mata. Ya, mereka telah membuat sebuah sistem televisi tiga dimensi namun tidak mungkin untuk menontonnya tanpa mengenakan kacamata khusus; lagi pula, itu pun hanyalah tiga dimensi buatan. Latar belakangnya lebih kabur, latar depannya tampak seperti setting kertas. Tak pernah mungkin menghasilkan gambar yang tajam dan jelas seperti mata. Baik pada kamera dan televisi, terdapat kualitas gambar yang hilang.

Para evolusionis mengklaim bahwa mekanisme yang menghasilkan gambar yang tajam dan jelas ini telah terbentuk secara kebetulan. Kini, bila seseorang mengatakan kepada anda bahwa televisi di kamar anda terbentuk sebagai hasil dari kebetulan, bahwa semua atomnya secara kebetulan berkumpul menjadi satu dan menyusun alat yang menghasilkan sebuah gambar, bagaimana menurut anda? Bagaimana atom-atom tersebut melakukan sesuatu yang tak dapat dilakukan oleh ribuan orang?

Bila sebuah alat yang menghasilkan sebuah gambar yang lebih primitif daripada mata tidak mungkin terbentuk secara kebetulan, maka sangat jelaslah bahwa mata dan gambar yang dilihat oleh mata tidak mungkin terbentuk secara kebetulan pula. Situasi yang sama berlaku juga pada telinga. Telinga luar menangkap bunyi-bunyi yang ada pada aurikel dan mengarahkannya ke telinga tengah; telinga tengah meneruskan getarangetaran bunyi dengan mengintensifkannya; telinga bagian dalam mengirimkan getaran-getaran ini ke otak dengan menerjemahkannya ke dalam sinyal-sinyal listrik. Sebagaimana halnya pada mata, aksi mendengar berakhir di pusat pendengaran di otak.

Situasi di dalam mata juga berlaku pada telinga. Yaitu, otak terisolasi dari bunyi sebagaimana halnya dari cahaya: ia tak membiarkan bunyi apa pun masuk. Dengan demikian, tak peduli seribut apa pun keadaan di luar, bagian dalam otak sama sekali sunyi. Akan tetapi, bunyi yang paling tajam ditangkap dan dirasakan di dalam otak. Di dalam otak anda, yang terisolasi dari bunyi, anda mendengarkan simfoni sebuah orkestra, dan mendengarkan semua hiruk pikuk di sebuah tempat keramaian. Akan tetapi, andaikata tingkat bunyi di dalam otak anda diukur oleh sebuah alat yang akurat pada saat itu, akan terlihat bahwa keadaan yang berlaku di sana adalah kesunyian belaka.

Sebagaimana halnya kasus yang terjadi pada pencitraan atau gambar, sudah puluhan tahun usaha dicurahkan dalam rangka menghasilkan dan mereproduksi bunyi yang tepat dengan aslinya. Hasil dari berbagai upaya ini adalah perekam bunyi (sound recorder), sistem HI-FI (high-fidelity system), dan sistemsistem untuk mengindera bunyi. Walaupun adanya semua teknologi ini dan ribuan insinyur dan pakar telah bekerja dalam tugas besar ini, belum ada bunyi yang berhasil memiliki ketajaman dan kejernihan sebagaimana halnya bunyi yang ditangkap oleh telinga. Pikirkan kualitas tertinggi sistem HIFI yang dihasilkan oleh perusahaan terbesar dalam industri musik. Bahkan di dalam alat-alat ini, tatkala bunyi direkam maka sebagiannya ada yang hilang; atau tatkala anda menyalakan sebuah HI-FI maka anda selalu mendengar desisan sebelum musiknya dimulai. Akan tetapi, bunyi yang dihasilkan oleh teknologi tubuh manusia amat sangat tajam dan jernih. Telinga manusia tak pernah menangkap suatu bunyi yang disertai oleh desisan atau bunyi atmosferis sebagaimana halnya HI-FI; ia menangkap bunyi tepat sebagaimana adanya, tajam dan jernih. Demikianlah adanya semenjak manusia diciptakan.

Sejauh ini, tak ada perangkat visual atau perekam buatan manusia yang memiliki kepekaan dan keberhasilan dalam menangkap data sensoris sebagaimana halnya mata dan telinga.

Walaupun demikian, sejauh yang berkaitan tentang penglihatan dan pendengaran, sebuah fakta yang lebih luhur ada di balik semua ini.

MILIK SIAPAKAH KESADARAN YANG MELIHAT DAN MENDENGAR DI DALAM OTAK INI?
Siapakah dia yang menyaksikan dunia yang mempesona di dalam otaknya, mendengarkan berbagai simponi dan kicau burung-burung, dan mencium keharuman bunga mawar?

Rangsangan yang berasal dari mata, telinga, dan hidung manusia menuju ke otak sebagai impuls-impuls syaraf listrik kimiawi. Dalam buku-buku biologi, fisiologi, dan biokimia, anda dapat memperoleh banyak rincian tentang bagaimana citra ini terbentuk di dalam otak. Bagaimana tidak akan pernah terbayangkan pada diri anda fakta terpenting mengenai pokok pembahasan ini:

Siapakah yang menangkap impuls-impuls syaraf listrik kimiawi sebagai citra, bunyi, bau, dan peristiwaperistiwa sensoris di dalam otak? Ada sebuah kesadaran di dalam otak yang menangkap dan merasakan semua ini tanpa merasa perlu memiliki mata, telinga, dan hidung. Milik siapakah kesadaran ini? Tak diragukan bahwa kesadaran ini bukanlah milik syaraf-syaraf, lapisan lemak, dan neuron yang menyusun otak. Inilah sebabnya mengapa para materialis Darwinian, yang meyakini bahwa segala hal terdiri dari materi, tak mampu memberikan jawaban apa pun atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Kesadaran ini adalah ruh yang diciptakan oleh Allah. Ruh ini tak memerlukan mata untuk menyaksikan gambar, ataupun telinga untuk mendengar bunyi. Lagi pula, ia tak memerlukan otak untuk berpikir.

Setiap orang yang membaca fakta yang eksplisit dan ilmiah ini hendaknya berpikir mendalam tentang Allah Yang Mahakuasa, hendaknya bertakwa dan berlindung kepada-Nya, Dia-lah Yang telah menjejalkan seluruh alam semesta ini ke dalam sebuah tempat yang gelap gulita yang volumenya beberapa sentimeter kubik saja dalam bentuk tiga dimensi, berwarna, memiliki bayang-bayang, dan bercahaya.

KEYAKINAN MATERIALIS
Informasi yang telah kami sajikan sejauh ini memperlihatkan kepada kita bahwa teori evolusi adalah sebuah klaim yang jelas-jelas tidak sejalan dengan penemuan-penemuan ilmiah. Klaim teori ini mengenai asal-usul kehidupan tidak konsisten dengan sains, mekanisme evolusi yang diajukannya tidak memiliki kekuatan evolusioner, dan fosil-fosil menunjukkan bahwa bentuk-bentuk peralihan yang menjadi syarat teori ini tidak pernah ada. Maka, tentu saja selanjutnya teori ini mesti disisihkan sebagai sebuah pemikiran yang tidak ilmiah. Inilah bagaimana sekian banyak pemikiran seperti model bumi sebagai pusat alam semesta telah dicabut dari agenda sains di sepanjang sejarah.

Akan tetapi, teori evolusi tetap disimpan rapat-rapat dalam agenda sains. Beberapa orang bahkan berupaya untuk menggambarkan kritikan yang diarahkan terhadap teori ini sebagai sebuah �serangan terhadap sains�. Mengapa?

Alasannya adalah karena teori evolusi adalah sebuah kepercayaan dogmatis bagi beberapa kalangan. Kalangan-kalangan ini dengan membabi buta bersikap setia pada filsafat materialisme dan mengadopsi Darwinisme karena inilah satu-satunya penjelasan materialis yang dapat dikemukakan mengenai bagaimana proses bekerjanya alam ini.

Cukup menarik, mereka juga mengakui fakta ini dari waktu ke waktu. Seorang ahli genetika terkenal dan seorang evolusionis yang lantang, Richard C. Lewontin dari Harvard University, mengakui bahwa dirinya �pertama-tama dan terutama adalah seorang materialis dan kemudian barulah seorang ilmuwan�:

Bagaimanapun bukanlah metode-metode dan lembagalembaga ilmu pengetahuan itu yang membuat kami menerima sebuah penjelasan material tentang fenomena dunia, namun justru sebaliknya, kami dipaksa oleh kesetiaan kami yang sifatnya a priori kepada sebab-sebab material untuk menciptakan sebuah alat penyelidikan dan seperangkat konsep yang menghasilkan penjelasan-penjelasan yang bersifat material, tak peduli betapapun hal ini bertentangan dengan intuisi, tak peduli betapapun membingungkannya bagi orang yang masih awam. Lagi pula, materialisme adalah absolut, maka kita tidak dapat membiarkan adanya pembahasan yang berhubungan dengan Tuhan dalam hal ini.20

Ini adalah pernyataan-pernyataan yang tersurat bahwa Darwinisme adalah sebuah dogma yang tetap hidup hanya demi kesetiaan terhadap filsafat materialisme. Dogma ini mempertahankan bahwa tak ada wujud kecuali materi. Dengan demikian, argumen yang dikemukakannya adalah bahwa materi tak bernyawa dan tidak memiliki kesadaran itulah yang menciptakan kehidupan. Teori ini dengan gigih menyatakan bahwa jutaan ragam spesies makhluk hidup; misalnya, burung, ikan, jerapah, harimau, serangga, pohon, bunga, ikan paus, dan manusia berasal dari hasil interaksi di antara materi seperti hujan yang turun, kilat yang bercahaya, dsb., berasal dari materi yang tak hidup. Ini adalah sebuah ajaran yang bertentangan baik dengan akal dan sains. Namun para Darwinian terus mempertahankannya sedemikian itu hanya demi agar �tidak membiarkan adanya pembahasan tentang Tuhan dalam hal ini.�

Siapa pun yang tidak melihat ke asal-usul makhluk hidup dengan sebuah prasangka materialis akan melihat kebenaran yang sangat jelas ini: Semua makhluk hidup adalah karya Sang Pencipta, Yang Mahakuasa, Mahabijaksana, dan Maha Mengetahui. Sang Pencipta ini adalah Allah, yang telah menciptakan seluruh alam semesta dari ketidakadaan, mendesainnya dalam bentuk yang paling sempurna, dan memberi bentuk kepada semua makhluk hidup.

TEORI EVOLUSI ADALAH MANTRA SIHIR PALING AMPUH DI DUNIA
Patut untuk memberikan penegasan di sini bahwa siapa pun yang terlepas dari prasangka dan pengaruh dari ideologi tertentu, yakni yang hanya menggunakan nalar dan logika berpikirnya, akan dapat memahami dengan gamblang bahwa menerima begitu saja sebagai suatu kebenaran pada teori evolusi � yang menyajikan kepada nalar berbagai takhayul dari masyarakat-masyarakat yang tak memiliki pengatahuan atau budaya � adalah sangat mustahil.

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, mereka yang mempercayai teori evolusi berpikir bahwa beberapa unsur atom dan molekul yang diletakkan di dalam suatu tangki kosong yang besar mampu memproduksi sendiri aktivitas berpikir, penalaran, para profesor, mahasiswa, ilmuwan seperti Einstein dan Galileo, seniman sekaliber Humphrey Bogart [terkenal dengan perannya dalam film Casablanca, 1942, peny.], Frank Sinatra dan Luciano Pavarotti, demikian juga antilop, buah lemon dan bunga mawar berwarna pink [Dianthus caryophyllus, peny.]. Lebih jauh lagi, para ilmuwan dan guru-guru besar yang mempercayai kebohongan ini adalah tokohtokoh yang terpelajar. Inilah yang menjadi alasan yang amat dapat dibenarkan untuk menyatakan bahwa teori evolusi sebagai �mantra sihir paling ampuh sepanjang sejarah�. Belum pernah sebelumnya sistem kepercayaan atau gagasan lain apa pun yang begitu dapat mempengaruhi daya nalar manusia, sampai enggan untuk membiarkan kemampuan nalar itu agar berpikir cerdas dan logis, dan begitu gigih menutup-nutupi kebenaran dari nalar seakan-akan potensi berpikir ini telah dibutakan. Ini bahkan kebutaan yang lebih burruk dan tidak dapat dipercaya ketimbang bangsa Mesir yang menyembah Ra, Dewa Matahari, penyembahan totem di beberapa bagian dari belahan benua Afrika, rakyat Saba� [Yaman Selatan, sebelum bersatu, peny.] yang menyembah matahari, suku bangsa Nabi Ibrahim yang menyembah berhala yang mereka buat sendiri dengan tangan mereka atau umat Nabi Musa yang menyembah Anak Sapi yang terbuat dari emas.

Sesungguhnya, keadaan ini adalah dampak dari tidak digunakannya nalar seperti yang telah diisyaratkan oleh Allah dalam al-Qur�an. Dia mewahyukan dalam banyak ayat bahwa sebagian akal pikiran kelompok manusia akan dibuat tidak berfungsi dan mereka akan tidak mempunyai kemampuan untuk melihat kebenaran. Beberapa dari ayat itu adalah sebagai berikut:

Bagi orang-orang yang tidak beriman, sama saja bagi mereka apakah engkau memberi peringatan kepada mereka, atau tidak [memberi mereka peringatan], mereka tidak akan beriman. Allah telah menutup erat-erat kalbukalbu dan pendengaran mereka, sedangkan penglihatan mereka diberi penutup. Mereka akan mendapatkan hukuman siksaan yang mengerikan.
(Q.s. al-Baqarah: 6-7).

… Mereka memiliki kalbu-kalbu yang tidak digunakan untuk memahami. Mereka memiliki mata [hati] yang tidak dipergunakan untuk mengamati. Mereka memiliki telingatelinga yang tidak digunakan untuk mendegarkan. Orang-orang semacam itu seperti binatang ternak. Sama sekali tidak, mereka bahkan lebih jauh tersesat! Mereka adalah yang tidak memiliki kesadaran.
(Q.s. al-A�raf: 179).

Bahkan, jika kami bukakan bagi mereka salah satu pintu menuju langit, dan menghabiskan waktunya melakukan pendakian menembus [langit] itu, mereka sebatas akan mengucapkan kata-kata, �Penglihatan-penglihatan mata [kalbu] kami telah dibuat tidak berpikir jernih! Atau lebih buruk kami telah dikuasai di bawah pengaruh [mantra] sihir!�
(Q.s. al-Hijr: 14-15).

Ungkapan kata-kata tidak dapat melukiskan betapa mengherankannya kejadian semacam itu bahwa mantra sihir telah mencengkeram erat kelompok besar suatu masyarakat di bawah kendali pengaruhnya, menghalangi sekelompok orang dari kebenaran, yang tidak dapat dipatahkan selama 150 tahun. Mudah untuk mencari alasan yang dapat dipahami dari seseorang atau sekelompok kecil masyarakat begitu rela untuk percaya pada skenario dan klaim-klaim yang sukar dipercaya penuh dengan kebodohan dan kepalsuan dari segi logika berpikir. Meskipun begitu, �sihir� adalah penjelasan yang paling memungkinkan ditujukan bagi kelompok manusia dari pelbagai penjuru dunia yang mempercayai bahwa unsur-unsur atom yang tidak memiliki kesadaran dan ruh secara tiba-tiba memutuskan atas kemauannya saling menggabungkan diri dan membentuk alam semesta yang menjalankan fungsinya, tanpa adanya suatu sistem pengaturan yang tidak memiliki cacat, memiliki disiplin, nalar, dan kesadaran; membentuk planet Bumi beserta panoramanya dengan begitu sempurna untuk mendukung kehidupan, dan membentuk makhluk hidup penuh dengan sistem yang amat kompleks.

Sesunggguhnya, Allah menyatakan dalam wahyu-Nya tentang kisah peristiwa antara Musa dan Firaun bahwa sebagian kelompok manusia yang mendukung filsafat ateistik sebenarnya mempengaruhi orang-orang lain melalui sihir. Tatkala Firaun diberi penjelasan tentang ajaran agama yang benar, dia bertitah kepada Nabi Musa untuk menemui ahli-ahli sihir di istananya. Ketika Nabi Musa melakukannya, dia menyuruh mereka untuk meperlihatkan kemampuan mereka lebih dahulu. Ayat di dalam al-Qur�an lantas melanjutkan:

Dia [Musa] berkata, �Lemparkanlah!� Dan tatkala mereka melemparkan, ahli-ahli sihir itu menebarkan [mantra-mantra] sihir ke penglihatan orang-orang dan mempengaruhi yang hadir dengan ketakutan yang besar terhadap mereka. Para ahli sihir itu mengeluarkan sihir yang sangat kuat.
(Q.s. al-A�raf: 116).

Sebagaimana yang dapat kita pahami, ahli-ahli sihir Firaun mampu menipu setiap orang, kecuali Nabi Musa dan orang-orang yang beriman kepada ajarannya. Meskipun begitu, kebenaran yang nyata yang dihadirkan oleh Nabi Musa dapat mematahkan mantra sihir itu, atau �telah menelan apa yang telah mereka buat dengan tangan mereka� sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat berikut ini.

Kami wahyukan kepada Musa, �Jatuhkanlah tongkat kayu milikmu.� Dan tongkat itu langsung saja telah menelan apa yang telah mereka buat dengan tangan mereka. Demikianlah, kebenaran menjadi nyata, dan apa yang mereka perbuat ditunjukkan sebagai kepalsuan.
(Q.s. al-A�raf: 117-119).

Sebagaimana yang dapat dipahami dari ayat di atas, tatkala ditunjukkan bahwa perbuatan kelompok orang yang pertama kali menebarkan mantra-mantra ini kepada orang lain semata mata adalah tipuan ilusi, pelaku-pelakunya kehilangan muatan nilai-nilai yang membuat dia dipercaya. Pada hari ini pun, kecuali mereka yang berada di bawah pengaruh mantra sihir serupa mempercayai klaim-klaim pendapat [penganut teori evolusi] yang konyol itu di balik kedok sikap ilmiah mereka dan menghabiskan usia mereka membela hal [yang konyol] biarkanlah mereka, orang-orang itu juga nantinya akan merasa dipermalukan tatakala kebenaran yang sepenuhnya akan muncul dan mantra [sihirnya] itu dipatahkan. Pada kenyataannya, Malcolm Muggeridge, seorang filosof ateis dan pendukung teori evolusi mengakui dia khawatir hanya dengan kemungkinan semacam itu di masa mendatang.

Saya sendiri yakin bahwa teori evolusi, khususnya sejauh yang selama ini telah diterapkan, akan berubah menjadi salah satu lelucon terbesar dalam buku-buku sejarah di masa depan. Generasi di masa yang akan datang kelak terheranheran dan bertanya-tanya bagaimana bisa suatu hipotesis yang begitu tidak meyakinkan dan meragukan dapat diterima sedemikian rupa dengan muatan-muatan diterima secara amat tergesa-gesa di dalamnya.21

Masa depan itu tidaklah begitu jauh: Sebaliknya, orang-orang secepatnya akan melihat bahwa teori �kebetulan� tidak mengandung kebaikan, dan akan meninjau ulang teori evolusi sebagai penipuan dan mantra yang paling buruk di dunia. Mantra sihir ini mulai dengan amat cepat diangkat dari kalbu orang-orang di berbagai penjuru dunia. Banyak orang yang bertanya-tanya dengan penasaran bagaimana bisa bahwa mereka pernah tertipu oleh kebohongan itu.

Mereka menjawab: �Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha mengetahui lagi Mahabijaksana.�
(Surat al-Baqarah: 32).

Semangat dan Gairah


Semangat dan Gairah
Karya : Harun Yahya
Download : Islamic.xtgem.com

\\\________
PENDAHULUAN

Orang-orang beriman adalah mereka yang menjadikan ridha Allah sebagai tujuan tertinggi dalam kehidupan mereka dan berusaha keras untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam al-Qur’an, Allah menyebut mereka orang-orang yang berjuang dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah.1 Karena mereka telah mengabdikan hidup mereka untuk Allah dan bersedia mengorbankan segala sesuatu yang mereka miliki, harta dan lain-lainnya, untuk mencari ridha Allah dan mendapatkan surga-Nya, orang-orang beriman punya sifat-sifat penting yang memungkinkan mereka untuk menyibukkan diri, dan dalam keadaan yang sangat berat sekalipun, mengucapkan, Hasbunallah (cukuplah bagiku Allah).2 Mereka mendambakan keridhaan Allah.

Gairah yang dihasilkan oleh iman merupakan kekuatan yang dapat meningkatkan kemampuan fisik dan mental, sehingga dia dapat menjalani setiap saat dalam kehidupannya dengan sangat baik dan produktif. Semangat yang tumbuh karena kecintaan kepada Allah ini memberikan kekuatan spiritual, kekuatan dan daya tahan yang besar, kemauan dan keberanian yang membaja. Melalui kekuatan spiritual orang-orang beriman mengatasi setiap kesulitan dan terus berusaha keras untuk menuju Allah apa pun kondisi dan keadaan yang mereka hadapi.

Buku ini membicarakan gairah orang-orang beriman yang terus meningkat sampai akhir hidup mereka. Tujuan buku ini ialah mendorong semua Muslim untuk lebih bergairah dengan menunjukkan bahwa gairah merupakan nikmat yang besar dan merupakan sifat yang memperkuat orang-orang beriman. Pembaca akan memahami rahasia penting yang membuat orang berhasil sekalipun dalam kondisi yang sangat sulit. Di samping itu, dia akan mengetahui karunia yang telah dijanjikan kepada mereka yang tidak pernah kehilangan gairah dan yang menghadapi kesulitan dengan bertawakal kepada Allah. Buku ini memberikan semangat kepada manusia untuk mematuhi perintah Allah:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (Q.s. Ali Imran: 133).

Tujuan lainnya adalah memberikan motivasi kepada mereka yang hanya mengikuti jalan tengah ketika menjalankan prinsip-prinsip Islam dan merasa puas dengan ini dan tidak berusaha untuk menjadi pelopor.

\\\________
APA ITU SEMANGAT?

Semangat dan gairah adalah perasaan yang sangat kuat yang dialami oleh setiap orang. Namun, tujuan utama membicarakan konsep semangat dalam buku ini ialah untuk menguak perbedaan antara semangat yang dialami dalam masyarakat secara umum dan semangat yang dibicarakan dalam al-Qur’an kepada manusia.

Semangat, dalam pengertian umum, digunakan untuk mengungkapkan minat yang menggebu dan pengorbanan untuk meraih tujuan, dan kegigihan dalam mewujudkannya. Apakah penting atau tidak, setiap orang punya tujuan yang ingin dia raih sepanjang hidupnya. Antusiasme, yang sering ditujukan untuk keuntungan material, juga mengemuka ketika nafsu keduniaan dibicarakan. Sebagian orang berusaha untuk menjadi kaya, untuk memiliki karir yang cemerlang atau jabatan yang prestisius, sementara yang lain berusaha untuk tampil lebih unggul atau untuk meraih prestise, penghormatan, dan pujian.

Sebagai contoh, setiap orang memahami tekad yang ditunjukkan oleh seorang siswa SMU untuk lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN), antusiasme seseorang yang diterima untuk menduduki jabatan yang diinginkan di sebuah perusahaan, atau ambisi dan upaya yang dilakukan untuk menggolkan transaksi bisnis yang diharapkan akan sangat menguntungkan. Ada satu ciri umum yang menonjol dalam semua ini – antusiasme menimbulkan karakter kuat dan khas pada seseorang yang kecil kemungkinannya akan muncul jika tidak ada semangat. Risiko-risiko yang dalam keadaan normal dihindari akan diambilnya demi mewujudkan suatu tujuan. Pengorbanan diri yang belum pernah dilakukan sebelumnya, dilakukan tanpa ragu-ragu. Memang, orang mungkin akhirnya memperoleh kekuatan yang besar baik dalam pengertian material dan spiritual dengan menggunakan pengetahuannya dan kemampuannya secara maksimal.

Namun, semangat sebagian besar orang tidak bertahan seumur hidup karena tidak punya landasan yang kuat. Sering kali tidak ada tujuan khusus yang akan mempertahankan semangat dalam semua keadaan dan memberikan kekuatan kepada mereka. Satu-satunya orang yang tidak pernah kehilangan semangat di hati mereka sepanjang hidup adalah orang-orang beriman, karena sumber semangat mereka ialah keimanan kepada Allah dan tujuan utama mereka ialah memperoleh keridhaan Allah, rahmat-Nya dan surga-Nya.

Sebelum meneruskan pembicaraan tentang masalah ini, akan sangat membantu jika kita mendefinisikan konsep semangat yang menonjol di masyarakat Jahiliah, di mana orang tidak mengenal al-Qur’an atau hidup dengannya.

\\\________
KONSEP GAIRAH DALAM MASYARAKAT JAHILIAH

Siapa yang Termasuk Anggota Masyarakat Jahiliah?

Kebodohan biasanya dipahami sebagai tak berpendidikan dan tak berbudaya. Namun, orang-orang bodoh yang digambarkan sepanjang buku ini adalah mereka yang bodoh mengenai agama Islam, mengenai kebesaran dan Sifat-sifat Allah yang menciptakan mereka, dan mengenai al-Qur’an yang telah diwahyukan untuk umat manusia. Orang-orang seperti itu hidup sesuai dengan informasi yang didiktekan kepada mereka oleh masyarakat yang sarat miskonsepsi, dan bukannya fakta-fakta yang terdapat dalam al-Qur’an. Allah mendefinisikan orang-orang bodoh sebagaimana mereka “agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.” (Q.s. Yasin: 6).

Kehidupan orang-orang yang lalai dari al-Qur’an dan tidak mengetahui hakikat kehidupan dunia, kebenaran tentang mati, dan pengalaman surga dan neraka setelah mati adalah cocok dengan kebodohan mereka. Akibatnya, masalah-masalah yang membuat mereka merasa bahagia, bersemangat dan bergairah didasarkan pada keyakinan yang salah.

Orang-orang yang Bodoh Hanya Bergairah Mengenai Tujuan-tujuan Keduniaan

“Mereka yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.” (Q.s. al-A’raf: 51).

Sebagaimana ditunjukkan dalam ayat di atas, orang-orang dalam masyarakat jahiliah tertipu oleh kehidupan dunia ini. Meskipun tahu mengenai sifat kehidupan dunia yang singkat dan tidak sempurna, mereka lebih menyukai kehidupan yang sementara ini daripada kehidupan abadi di akhirat, karena mereka merasa lebih mudah untuk memperoleh kesenangan dunia dan ragu mengenai kehidupan akhirat. Alasan yang salah ini menganggap bahwa dunia berada dalam jangkauan mereka, sementara akhirat jauh sekali.

Ini jelas merupakan jenis penalaran yang sangat dangkal dan irasional. Bagaimanapun, kehidupan manusia di dunia ini terbatas pada periode waktu yang sangat singkat. Kehidupan manusia yang hanya enam atau tujuh puluh tahun, separonya dihabiskan di masa kanak-kanak dan kehidupan lanjut usia, jelas sangat pendek dibandingkan dengan kehidupan abadi di akhirat. Di samping itu, bahkan sebelum mencapai usia enam atau tujuh puluh tahun, orang mungkin sudah mati karena berbagai alasan. Setiap saat dia bisa mendapati kehidupannya, yang dia anggap berada dalam genggaman tangannya, tiba-tiba dicabut, dan mungkin, pada waktu yang tak diduga-duga, mendapati dirinya telah masuk ke kehidupan abadi di akhirat, meskipun selama ini dia menganggapnya sangat jauh.

Orang-orang bodoh dan yang lalai berusaha untuk mencari kepuasan sebanyak-banyaknya dalam kehidupan dunia, selama periode waktu yang singkat ini, ketimbang berusaha untuk memperoleh ridha Allah dan surga-Nya. Akibatnya, masalah-masalah memberinya semangat terbatas pada tujuan-tujuan kecil menyangkut dunia ini. Faktanya, perasaan yang mereka bayangkan sebagai semangat dan gairah tidak lain adalah kerakusan. Mereka, yang sangat bergairah menjalani kehidupan ini, merasakan kegairahan besar terhadap segala sesuatu dimana mereka mengharapkan akan memperoleh keuntungan dan kondisi kehidupan yang lebih baik. Maka, orang merasakan hasrat kuat untuk menjadi kaya atau memiliki status atau karir yang prestisius. Untuk mencapai tujuan semacam itu mereka melakukan semua bentuk pengorbanan diri dan menahan segala kesulitan.

Kehidupan sehari-hari orang-orang ini terikat dengan kejadian-kejadian yang mengungkapkan pemahaman mereka tentang semangat. Sebagai contoh, untuk memperoleh diploma, prestisius yang akan membuat dirinya memperoleh pengakuan, seorang mahasiswa mungkin menenggelamkan dirinya di tengah buku-buku selama bertahun-tahun. Sadar bahwa ini kondusif bagi keberhasilan, dia rela menghabiskan malam-malam tanpa tidur dan menghindari pergaulan, jika perlu. Hari-harinya dimulai dengan suasana pagi di kendaraan umum yang sesak dan dihabiskan dalam usaha keras, dimana dia menerima dengan senang hati. Namun, dia menolak untuk melakukan pengorbanan yang sama untuk membantu seorang teman karena hal itu tidak memberikan keuntungan duniawi. Apa yang digarisbawahi di sini ialah, bahwa meskipun sebagian besar orang tahu bagaimana menyelesaikan suatu tugas dengan semangat dan gairah, mereka hanya akan melakukannya jika tugas itu sesuai dengan kepentingan mereka. Mereka tidak memperlihatkan ambisi yang sama untuk sesuatu yang akan mendatangkan ridha Allah, dan memperlihatkan ketidakmautahuan jika keuntungan duniawi tak bisa diharapkan.

Mentalitas jahiliah ini, yang hanya didasarkan pada keuntungan duniawi, dapat digambarkan dengan contoh berikut ini. Seorang eksekutif yang perusahaannya di ambang kebangkrutan mencurahkan seluruh energinya, pengetahuannya, sarana dan waktunya untuk menyelesaikan masalah itu. Tetapi karyawannya tidak merasakan kegairahan yang sama untuk menyelamatkan perusahaan dan kecil kemungkinannya untuk mencari solusi karena dia bukan orang yang akan mengalami kerugian langsung ketika perusahaan bangkrut. Sebagaimana terlihat, keuntungan duniawi umumnya melandasi semangat dan tekad yang dirasakan oleh para anggota masyarakat jahiliah. Sebesar mana keuntungannya, sebesar ambisi yang mereka miliki.

Gairah Para Anggotanya Hanyalah Keinginan Sementara

Konsep semangat dalam masyarakat jahiliah terlihat dalam kegairahannya dalam urusan keduniaan. Orang-orang mungkin mengalami gejolak minat dan semangat terhadap masalah tertentu dan kemudian suatu hari perasaan ini lenyap dengan tiba-tiba. Dalam masyarakat jahiliah hampir semua orang meluncurkan berbagai proyek dengan antusias. Namun, mereka meninggalkan proyek itu tak lama kemudian, hanya karena jenuh dan malas untuk melanjutkan. Sebagai contoh, sebagian besar orang yang ingin bermain musik segera kehilangan minat dan meninggalkan kursus. Seseorang yang ingin membantu orang yang membutuhkan dan segera memulai kerja amal, tak lama kemudian, mungkin ia akan kehilangan semangat dan menghentikan pekerjaannya. Karena orang-orang semacam itu tidak benar-benar berpegang pada cita-cita mulia, membantu orang miskin, melakukan perbuatan baik atau memperluas wawasan dalam bidang tertentu terbukti hanya merupakan tingkat sesaat. Menghabiskan hidup sehari-hari, dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka yang dekat, dan memperoleh penghargaan orang lain sering sudah cukup untuk memuaskan orang-orang ini. Tidak ada sesuatu yang lebih tinggi dari itu yang bermakna bagi mereka. Karena itu, mereka kadang-kadang memberikan perhatian pada beberapa masalah yang tidak berkaitan dengan kebutuhan dan kepentingan mereka sendiri, tetapi tak lama kemudian kepentingan mereka dikalahkan oleh kejenuhan dan kemonotonan.

Selama orang percaya usahanya akan memberikan kebaikan dan keuntungan baginya, semangat dan gairahnya tidak pernah padam. Namun tidak satu pun tujuan yang hendak dicapai oleh orang yang melalaikan akhirat tidak layak untuk diberi semangat terus-menerus. Jika menjumpai kesulitan sedikit saja, kegagalan atau kritik, dia mungkin tiba-tiba merasa letih dan meninggalkan tujuannya. Di samping itu, dia mungkin menjadi putus asa. Pemikiran negatif seperti, “Saya sudah bersusah-payah untuk mencapainya tetapi gagal,” menyeret dia ke dalam pesimisme dan memadamkan semangatnya.

Orang yang telah bertahun-tahun memendam ambisi untuk menjadi seorang arsitek mungkin tiba-tiba kehilangan semangat ketika dia menjumpai kesulitan-kesulitan dalam menggambar bangunan. Atau orang yang tertarik untuk melukis mungkin kehilangan semua minatnya setelah beberapa kali mencoba. Sering kali, komitmen mereka yang terlibat dalam kerja sukarela di organisasi amal dipuji di koran-koran dan oleh teman-temannya. Kesenangan yang diperoleh dari melakukan kerja amal, perasaan senang yang ditimbulkan oleh prosedur kerja itu, mungkin menarik orang lain. Namun, mereka yang terlibat dalam kerja amal untuk memperoleh prestise di masyarakat mungkin kehilangan minat setelah beberapa lama, dan satu-satunya cara untuk mempertahankan semangat ialah menjadikan usaha mereka diketahui publik dan memujinya. Yakni, mereka harus menerima manfaat, sekalipun manfaat psikologis; kalau tidak, bahkan bangun pagi di akhir pekan terasa sulit dan menjadi alasan untuk meninggalkan kegiatan-kegiatan seperti itu.

Namun, orang-orang beriman, yang terlibat dalam perbuatan baik dan membantu orang lain sebagai alat untuk memperoleh ridha Allah, tidak pernah kehilangan semangat mereka. Menghadapi kesulitan tidak akan membuat mereka meninggalkan cita-cita mereka. Sebaliknya, karena tahu bahwa adanya kesulitan-kesulitan menjadikan pekerjaan semacam itu lebih prestisius di mata Allah, mereka memperoleh kesenangan dan merasakan semangat yang lebih besar.

\\\________
SEMANGAT ORANG-ORANG BERIMAN

Sumber Semangat Orang-orang Beriman: Iman, Cinta, dan Takwa Mereka kepada Allah

Semangat dan gairah orang-orang beriman sangat berbeda dari konsep yang banyak dianut masyarakat jahiliah, yang didasarkan pada kepentingan. Kecintaan orang-orang beriman kepada Allah dan ketaatan mereka kepada-Nya adalah penyebabnya. Mereka tidak merasa terikat dengan kehidupan dunia ini seperti para anggota masyarakat jahiliah, tetapi terikat dengan Allah, Yang Maha Pengasih, yang menciptakan mereka dari bukan apa-apa, dan memberi mereka berbagai sarana. Alasan yang terpenting ialah bahwa orang-orang beriman mengevaluasi peristiwa-peristiwa dengan kesadaran yang jernih. Mereka sadar bahwa Allah menjaga kehidupan seseorang setiap saat, bahwa Dia melindungi semua makhluk, dan bahwa semua makhluk bergantung kepada-Nya. Disebabkan oleh cinta mereka dan ketaatan mereka kepada Allah, mereka berusaha keras untuk memperoleh keridhaan-Nya sepanjang hidup mereka. Hasrat untuk memperoleh ridha Allah merupakan sumber terpenting semangat dan kegembiraan bagi orang-orang beriman. Cita-cita untuk memperoleh ridha Allah dan mencapai surga menjadi sumber energi dan semangat dalam diri orang-orang beriman.

Semangat Orang-orang Beriman Tidak Pernah Padam

“Sesungguhnya orang-orang mukmin hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka demi membela agama Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.s. al-Hujurat: 15).

Penjelasan ini menunjukkan bahwa semangat orang-orang beriman bersemayam dalam hati. Hal ini disebabkan karena perjuangan untuk mendukung nilai-nilai mereka berlangsung seumur hidup dan hanya ditopang dengan semangat yang bersumber pada keimanan. Kegigihan orang-orang beriman dalam usaha mereka yang terus menerus juga dinyatakan oleh Nabi Muhammad saw: “Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah perbuatan yang dilakukan dengan istiqamah.” (H.r. Bukhari).

Faktor lain yang membuat semangat orang-orang beriman tetap kuat dan segar adalah rasa penghargaan yang disertai dengan kerinduan dalam hati mereka, yang mereka alami sepanjang hidup:

“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.s. al-A’raf: 56).

Makna dari “Rasa takut dan harapan” ialah sebagai berikut: Orang beriman tidak pernah dapat yakin apakah Allah ridha dengan mereka, dan apakah mereka telah memperlihatkan perilaku moral yang baik, yang membuat mereka layak mendapatkan surga. Karena alasan ini mereka takut akan hukuman Allah dan terus-menerus berusaha untuk menyempurnakan moral. Sementara itu, mereka tahu bahwa melalui gairah dan ketulusan, mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh ridha Allah, cinta-Nya dan rahmat-Nya. Mereka mengalami ketakutan dan harapan sekaligus; mereka bekerja keras tetapi tidak pernah merasa usaha mereka cukup dan tidak pernah menganggap diri mereka sempurna, sebagaimana dinyatakan dalam ayat:

“Mereka takut kepada Tuhannya dan takut dengan hisab (perhitungan amal) yang buruk.” (Q.s. ar-Ra’d: 21).

Karena itu, mereka memeluk agama Allah dengan semangat besar dan melakukan usaha besar untuk kepentingan ini. Rasa takut kepada Allah menyebabkan mereka tidak lemah-hati atau lalai, dan perasaan ini mendukung semangatnya. Karena tahu bahwa Allah memberikan kabar gembira tentang surga bagi mereka yang beriman dan beramal saleh, sehingga mendorong mereka untuk terus beramal dan memperkuat komitmennya.

Sebagaimana terlihat, konsep orang beriman tentang semangat sangat berbeda dari konsep masyarakat jahiliah. Dibandingkan dengan semangat kontemporer orang-orang kafir, semangat orang beriman merupakan luapan kegembiraan yang dipelihara oleh iman kepada Allah. Dia telah memberikan kepada orang-orang beriman kabar gembira tentang hasil dari semangat yang terus-menerus dalam al-Qur’an:

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin, bahwa sesungguhnya mereka memperoleh karunia yang besar dari Allah.” (Q.s. al-Ahzab: 47).

Mereka Lebih Dahulu Berbuat Kebaikan

Iman dan ketaatan seseorang kepada Allah tidaklah sama. Allah telah menyatakan bahwa dalam hal keimanan, orang-orang beriman itu memiliki tingkatan-tingkatan tertentu:

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya dirinya sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Q.s. Fathir: 32).

Apa yang memberikan kekuatan kepada mereka yang “lebih dahulu” ialah ketaatan mereka kepada Allah dan kerendahan hati mereka di hadapan-Nya. Keimanan mereka yang tulus memberi mereka semangat yang besar untuk berlomba-lomba dalam memperoleh ridha Allah. Dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa mereka yang berusaha dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan diri mereka akan diberi derajat yang tinggi di sisi Allah:

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad demi membela agama Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad di atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. Yaitu beberapa derajat daripada-Nya ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. an-Nisa': 95-6).

Mereka yang “pertengahan” adalah orang-orang yang lebih memilih jalan tengah daripada berusaha keras dengan hati dan jiwa mereka untuk memperoleh ridha Allah. Tak diragukan lagi, kondisi mereka di akhirat tidak akan sama dengan mereka yang lebih dahulu dalam beramal.

Di samping itu, Allah telah menyebutkan kelompok ketiga di kalangan orang-orang Islam: mereka yang tertinggal dalam hal gairah mereka untuk beramal.

“Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran).” (Q.s. an-Nisa': 72).

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat yang dikutip sebelumnya dari Surat Fathir, orang-orang semacam itu menganiaya diri mereka sendiri, dan keadaan mereka di akhirat akan mencerminkan perbedaan itu. Sementara mereka yang lebih dahulu dalam beramal akan memperoleh derajat tertinggi dalam pandangan Allah, tetapi mereka yang lalai akan melihat usaha mereka hilang kecuali jika mereka bertobat dan mengganti kelalaiannya. Dua ayat dari al-Qur’an dapat dikutip sebagai contoh tentang masing-masing keadaan:

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad demi agama Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (Q.s. at-Taubah: 20).

“Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan pahala amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Q.s. al-Ahzab: 19).

\\\________
USAHA SETAN UNTUK MEMATAHKAN SEMANGAT ORANG BERIMAN

Di halaman-halaman sebelumnya telah dinyatakan bahwa semangat orang beriman tidak pernah padam dan selalu segar dan kuat dan bahwa sumber keberlangsungan dan kegigihan gairah orang beriman adalah iman yang tulus. Karena itu, setan berusaha keras untuk memperlemah tekad orang beriman dan menggoyahkan gairah dan semangat mereka. Tujuan setan di dunia ini ialah menipu orang dan mendorong mereka kepada kehancuran dengan membisikkan saran-saran. Misi jahat setan diceritakan dalam al-Qur’an berikut ini:

“Dan saya benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong.” (Q.s. an-Nisa': 119).

Setan mendekati orang-orang beriman dengan berbagai cara, sebagaimana dilakukan terhadap semua orang, dan berusaha untuk menjadikan hal-hal yang baik tampak salah. Dengan menggambarkan masalah-masalah sebagai tak terpecahkan, setan ingin memalingkan manusia dan mencegah mereka untuk menyelesaikan amal yang baik. Dia berusaha untuk membisikkan keputusasaan, dengan mengemukakan bahwa tugas mereka sulit, dan dia menggoda agar lalai, mendorong untuk putus asa dan menginginkan mereka memperlihatkan kehendak yang lemah. Namun, al-Qur’an menekankan bahwa semua usaha setan dan rekayasanya gagal:

“Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal apa yang dijanjikan setan hanyalah tipuan belaka.” (Q.s. an-Nisa': 120).

“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (Q.s. an-Nisa': 76).

Mereka yang dilukiskan al-Qur’an sebagai orang-orang yang tidak punya keimanan yang utuh dapat dengan mudah jatuh ke dalam perangkap setan, karena mereka tidak menggunakan ilmu dan kesadaran. Orang-orang semacam itu mengaku memiliki iman, tetapi tidak pernah merasakannya jauh di kedalaman hati mereka. Panggilan setan dan gaya hidup yang disodorkan tampak menggiurkan, sehingga mereka mengikutinya dengan senang. Namun, sebagaimana biasanya, setan hanya menipu orang-orang supaya jatuh ke neraka, tempat hukuman abadi. Orang-orang beriman tahu bahwa tipu daya setan itu lemah dan mereka juga tahu jenis tipu daya yang digunakan setan ketika mendekati mereka. Mereka tahu cara-cara untuk mengalahkannya dan tidak pernah membiarkan setan mematahkan semangat karena mereka membentuk kehidupan mereka sesuai dengan ajaran al-Qur’an. Sikap tegas dan tulus orang beriman digambarkan sebagai berikut:

“Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (Q.s. al-A’raf: 200-1).

Orang-orang beriman meminta perlindungan kepada Allah dari semua kerusakan, dan dengan demikian, tidak terpengaruh oleh bisikan setan yang mendorong mereka kepada kemalasan dan kecerobohan. Sebuah contoh tentang doa orang beriman dan permintaan perlindungan kepada Allah tampak dalam doa Nabi Muhammad saw.: “Ya Allah, aku mohon perlindungan-Mu dari kesedihan, dari kegagalan dan kemalasan, dan dari beban utang dan dari dikuasai oleh manusia.” (H.r. Bukhari-Muslim).

\\\________
JENIS-JENIS PERILAKU YANG MENUNJUKKAN GAIRAH ORANG-ORANG BERIMAN

Keunggulan orang yang memiliki keimanan yang teguh di hatinya tampak dalam setiap waktu yang dihabiskannya, setiap sikapnya, dan setiap kata yang diucapkannya. Kegairahan iman ini melahirkan kesempurnaan dalam perilaku, sehingga orang-orang beriman lainnya yang memiliki gairah yang sama di hatinya segera mengenali semangat yang dihasilkan dari keimanan dan ketaatan kepada Allah. Orang-orang yang tidak beriman juga melihat semangat, komitmen dan kekuatan spiritual orang-orang beriman. Namun, mereka tidak pernah melihat sumber komitmen ini, karena mereka tidak mengakui agama yang sejati, atau tahu bagaimana cara bersandar hanya semata kepada Allah. Meskipun orang-orang yang tidak beriman tidak dapat menunjukkan sumbernya, mereka melihat jenis karakter pemberani dari orang-orang beriman yang tidak terlihat pada orang lain.

Jenis-jenis perilaku yang menunjukkan gairah sangat penting bagi orang-orang beriman, karena mustahil untuk membuat keputusan tegas mengenai keunggulan agama lain dan kedekatannya dengan Allah. Hanya Allah yang tahu pasti mana orang yang memiliki iman yang dalam dan mana yang munafik, tetapi Dia telah memberikan petunjuk, yakni gairah dan semangat di dalam diri orang-orang beriman untuk memperoleh keridhaan Allah dan untuk hidup sesuai tuntunan agama-Nya. Dengan cara ini orang dapat dengan mudah mengidentifikasi mereka yang punya iman yang sesungguhnya, yang telah mengabdikan diri untuk Allah. Demikian pula, dia akan melihat kelemahan orang-orang yang tidak beriman, kelalaiannya sangat mencolok ketika dibandingkan dengan semangat orang-orang beriman, sebagaimana dia dapat melihat orang-orang yang kuat dan bisa diandalkan diantara orang-orang beriman. Orang-orang beriman dapat meraih kesempatan untuk memperkuat keimanan orang-orang yang memiliki semangat yang rendah.

Setia kepada Allah sampai Akhir Hayat

Sepanjang hidupnya orang menjumpai berbagai peluang yang mendatangkan keuntungan material atau psikologis bagi mereka. Ketika mereka memperoleh kesempatan seperti itu, sebagian besar orang meninggalkan apa pun yang mereka anggap penting sampai waktu itu, bahkan teman karib, dengan harapan untuk memperoleh keuntungan. Tujuan-tujuan yang dengan antusias mereka kukuhi tiba-tiba menjadi tidak bermakna bagi mereka – tujuan-tujuan yang mereka telah berjanji tidak akan melepaskan bagaimanapun keadaannya. Tidak adanya kesetiaan sejati adalah penyebab sikap tak konsisten ini.

Satu-satunya orang yang hidup dengan kesetiaan sejati dalam pengertian yang sebenarnya adalah orang-orang yang percaya kepada Allah dan berjanji akan tetap setia kepada-Nya. Mereka tahu tidak ada apa pun di muka bumi yang lebih berharga daripada memperoleh keridhaan Allah, karena mereka telah paham bahwa satu-satunya yang patut ditaati ialah Allah Yang Maha Besar. Komitmen orang-orang beriman dilukiskan dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” (Q.s. al-Ahzab: 23).

“(Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.” (Q.s. ar-Ra’d: 20).

Kesetiaan orang-orang beriman kepada Allah tampak dalam kesungguhan komitmen mereka pada Islam. Memang, tidak ada keuntungan duniawi, tidak ada kepentingan material atau lainnya dapat menggoda mereka untuk meninggalkan ketaatan dan kesetiaan mereka kepada Allah. Dan tidak ada yang lebih menarik hati mereka kecuali memperoleh ridha Allah. Kesetiaan mendorong mereka untuk terus bekerja bagi agama dan melakukan perbuatan baik dengan gairah, sebagaimana ditegaskan Allah dalam al-Qur’an:

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam’.” (Q.s. al-An’am: 162).

Dan Allah memberikan kabar gembira bahwa Dia akan memberikan balasan bagi orang yang bertakwa:

“Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. al-Ahzab: 24).

Melakukan Perbuatan yang Paling Diridhai Allah

Melalui ayat-ayat al-Qur’an, Allah menyampaikan kepada manusia jenis moral dan cara hidup yang diridhai-Nya. Hanya orang-orang beriman yang mau mematuhi perintah Allah dengan cara yang terbaik. Bahkan ketika mereka memiliki pengetahuan tentangnya, sebagian besar orang mengabaikan gaya hidup yang diridhai Allah karena mereka tidak punya tujuan untuk menyenangkan-Nya. Sebaliknya, orang-orang beriman berusaha untuk mematuhi setiap ayat dalam al-Qur’an dengan sungguh-sungguh dan tidak ada konsesi dalam masalah ini. Bahkan ketika mereka menghadapi situasi yang bertentangan dengan kecenderungan duniawi mereka, mereka tidak menampakkan sedikit pun ketakutan; sebaliknya, mereka memenuhi tugas-tugas sulit dengan gairah besar sepanjang hidup mereka.

Yang menunjukkan gairah orang-orang beriman untuk mendapatkan ridha Allah ialah usaha mereka untuk menyenangkan Allah. Ketika seorang beriman menjumpai beberapa pilihan, dia memilih yang paling disukai Allah. Dia mendasarkan keputusannya pada kriteria yang ditetapkan al-Qur’an, Sunah dan kemudian hati nuraninya. Dalam al-Qur’an, Allah memberi tahu orang-orang beriman tentang cara hidup yang paling baik dalam pandangan-Nya dan menjelaskan kepada mereka perilaku yang paling menyenangkan-Nya. Karena itu sepanjang hidupnya, orang-orang beriman dibimbing oleh hati nurani yang senantiasa menyarankan tindakan terbaik dan paling benar. Diantara banyak pilihan, hati nurani mengarahkan manusia ke jalan yang benar yang didasarkan pada pengetahuan dari al-Qur’an.

Berikut ini adalah contoh petunjuk Allah dalam masalah tersebut:

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku untuk mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (Q.s. al-Isra': 53).

Allah memerintah manusia untuk mengucapkan “perkataan yang lebih baik” kepada satu sama lain. Mengucapkan kata yang baik adalah suatu tindakan yang akan memperoleh ridha Allah. Namun, mengucapkan “perkataan yang lebih baik” adalah yang paling diridhai Allah dan menambah balasannya karena Allah memberi tahu kita bahwa itu merupakan amal yang paling baik.

Demikian pula, Allah menyatakan dalam al-Qur’an bahwa perbuatan jahat bisa dibalas dengan perbuatan yang setimpal dengannya. Namun, Allah juga menyuruh kita untuk melihat fakta bahwa memaafkan dan memperlihatkan sikap yang baik guna memperbaiki moralitas orang yang berbuat salah adalah lebih baik:

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Q.s. asy-Syura: 40).

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat itu, membalas kejahatan dengan kejahatan adalah tindakan yang sesuai dengan hukum Allah. Namun, memaafkan adalah tindakan yang lebih baik dan mendorong orang untuk memperoleh ridha Allah. Dalam suatu situasi di mana orang dapat melaksanakan haknya, berusaha untuk mengendalikan kemarahan dan memaafkan orang yang berbuat salah adalah pertanda kesempurnaan moral. Itu karena orang menolak untuk mematuhi keinginan nafsunya dan menampakkan kesabaran yang mulia demi memperoleh ridha Allah. Ayat berikut ini menyatakan:

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Q.s. asy-Syura: 43).

Perbedaan dengan orang-orang yang memiliki gairah kuat terlihat dari sikap mereka yang selalu memilih yang terbaik. Apa pun keadaannya, mereka memperlihatkan tekad untuk melakukan yang paling disenangi Allah. Sebagai balasannya Allah memberi mereka kabar baik bahwa Dia akan menunjukkan mereka kepada keselamatan:

“Dengan Kitab itulah Allah menunjukkan orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjukan mereka ke jalan yang lurus.” (Q.s. al-Ma’idah: 16).

Mengutamakan Kepentingan Agama daripada Kepentingan Mereka Sendiri

Seperti disebutkan sebelumnya, sebagian besar orang dalam masyarakat jahiliah berusaha untuk memperoleh keuntungan dari masyarakat tempat mereka tinggal melalui hubungan personal, dan bahkan dari teman-teman karibnya. Jika terjadi konflik kepentingan, mereka tidak pernah ragu untuk mendahulukan kepentingan mereka sendiri dan, dalam sekejap mata, dapat dengan mudah mengorbankan orang lain bahkan kawannya sendiri. Itu karena mereka mengutamakan diri mereka ketimbang apa pun dan siapa pun.

Namun, situasinya berbeda bagi orang-orang beriman. Mereka tidak menetapkan tujuan-tujuan individual dan dengan demikian tidak berkonsentrasi hanya pada kepentingan pribadi tetapi mempertimbangkan kepentingan orang beriman lain dan Islam. Memang, ketika kepentingan orang beriman dan Islam dipenuhi, kepentingan mereka sendiri akan terpenuhi. Mereka tidak dikuasai oleh kepentingan duniawi, tetapi yang terpenting bagi mereka dalam hidup ini ialah untuk memperoleh perilaku yang paling menyenangkan Allah, karena itulah yang akan berguna bagi mereka baik di dunia maupun di akhirat. Mereka yang memiliki jenis mentalitas ini selalu bekerja untuk kepentingan Islam dengan penuh gairah.

Pada titik ini perlu dijelaskan apa itu “kepentingan” Islam. Allah mewahyukan agama-Nya kepada semua orang sebagai petunjuk di atas jalan lurus. Menyampaikan kepada orang keyakinan dan amal agama dan kebahagiaan yang muncul dari moralitasnya ditambah dengan semua keuntungan spiritual dan materialnya merupakan kewajiban semua orang beriman. Mereka memenuhi kewajiban ini dengan memberi contoh bagaimana hidup dengan prinsip-prinsip al-Qur’an dan dengan menyampaikan kepada manusia melalui kata atau menyebarkan publikasi yang relevan. Orang beriman menganggap mengajak satu orang kepada keselamatan abadi merupakan bentuk ibadah yang penting. Ini merupakan aspek utama dari “kepentingan” Islam. Dalam bidang-bidang yang berkaitan dengan pencapaian perdamaian sosial dan individual dan pencegahan imoralitas, kesengsaraan dan ketidakadilan, orang-orang beriman mengesampingkan kepentingan mereka sendiri. Pendekatan ini diambil dari sabda Nabi Muhammad saw: “Engkau tidak akan benar-benar beriman sampai hawa nafsunya disandarkan kepada agama yang aku bawa.” (An-Nawawi, Hadis No. 41).

Dalam situasi-situasi seperti itu orang beriman mungkin mencela hak mereka sendiri. Ketika mereka harus mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri, sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai kesalahan konsepsi; mereka mungkin mendefinisikan sikap orang beriman ini sebagai “ketololan”.

Ada sebagian orang yang berpikir sesuai dengan kondisi masyarakat dan akan berkata, “Apakah anda orang yang akan menyelamatkan dunia?” Namun, berbeda dari yang mereka bayangkan, orang beriman tidak mengabaikan kepentingan pribadi demi kepentingan akhirat; mereka mengharapkan balasan pengorbanannya dari Tuhan. Karena alasan ini mereka rela berkorban untuk Islam, menyampaikan pesan moral yang baik dan mengajak orang kepada keselamatan abadi. Allah memberikan kabar baik bahwa sebagai balasan bagi tekad kuat mereka Dia akan memberi mereka balasan yang lebih baik dan lebih tinggi. Akibatnya, seseorang yang mengesampingkan kepentingan pribadi dan memenuhi kepentingan agama sebenarnya memperoleh manfaat yang paling baik, baik di dunia maupun di akhirat. Itu karena melalui usaha sungguh-sungguh dia memperoleh keridhaan Allah dan kehidupan yang baik di dunia ini. Mengenai ini Allah berfirman:

“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.s. an-Nahl: 97).

Kita dapat melihat perilaku orang beriman dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sebagai contoh, orang beriman tidak ragu untuk mengesampingkan bisnis yang menguntungkannya, agar dia dapat terlibat dalam tugas lain tanpa imbalan keduniaan jika dia percaya hal itu akan lebih menyenangkan Allah. Demikian pula, dia akan mudah mengeluarkan uangnya yang telah dia simpan guna membiayai proyek amal yang dirancang untuk menyampaikan pesan-pesan moral al-Qur’an kepada umat manusia. Sebagaimana tampak dalam contoh, seorang beriman yang gigih segera mengesampingkan kepentingan pribadinya dan mengabdikan diri untuk kepentingan agama tanpa ragu.

Kesadaran seseorang untuk mengabaikan hak-haknya dalam situasi tertentu berkaitan dengan kesadarannya, bahwa apa yang dia lakukan merupakan sesuatu yang besar imbalannya dan bukan suatu kerugian. Dia mungkin mengabaikan kontrak yang menguntungkan, dan bahkan, menimbulkan kerugian material yang banyak; tetapi, dia akan memperoleh sesuatu yang jauh lebih tinggi dari itu: keridhaan Allah. Di samping itu, orang beriman tahu bahwa yang memberi dan menahan sesuatu adalah Allah. Yang memberi makanan, kekayaan, dan meningkatkan penghasilannya adalah Allah; karena itu, tak ada gunanya bersikap rakus atau cemas tentang akibatnya. Allah menyatakan bahwa sebagai imbalan bagi moral mereka yang baik dan usaha yang sungguh-sungguh, orang beriman akan memperoleh tambahan pahala:

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (Q.s. Yunus: 26).

Lebih mengutamakan kepentingan Islam daripada kepentingan pribadi tidak terbatas pada masalah materi. Mungkin ada kepentingan untuk mengorbankan tubuh juga. Sebagai contoh, bantuan mungkin diperlukan ketika orang merasa letih, lapar atau kurang sehat. Pada waktu-waktu seperti itu, orang beriman terus memberikan bantuan tanpa menunda-nunda. Itu karena mereka menganggap pengorbanan materi atau fisik bukan merupakan suatu kesulitan melainkan kesempatan yang diciptakan oleh Allah. Ini adalah kesempatan-kesempatan yang dekat yang ditunggu oleh orang-orang beriman, yang sangat merindukan kedekatan dengan Allah dan mendapatkan ridha-Nya. Karena alasan ini, tanpa merasa sedih, mereka berpaling kepada tugas yang paling menguntungkan. Tak diragukan lagi, gairah dan tekad yang mereka tunjukkan merupakan indikasi dari iman dan keikhlasan.

Komitmen untuk Menjaga Moral yang Baik

Orang yang ingin memperoleh ridha Allah dalam kehidupan di dunia ini akan memperlihatkan tekad besar untuk menjaga moral yang baik yang disukai Allah. Mereka yang tidak memiliki keimanan yang ikhlas kepada Allah dan yang tidak bersemangat untuk memperoleh ridha-Nya, akan merasa bahwa tugas itu berat. Itu disebabkan karena moral yang baik meliputi pelaksanaan secara sempurna atas kehendak dan hati nurani. Mereka yang tidak punya gairah dan semangat keimanan di hatinya tidak akan menampakkan kepekaan hati nurani dan kehendak. Konsekuensinya, mereka tidak memperlihatkan moral yang baik dalam pengertian yang sebenarnya.

Orang-orang beriman yang memeluk agama dengan gigih, sebaliknya, akan dengan senang hati menjalani kehidupan sesuai dengan prinsip moral yang dijelaskan dalam al-Qur’an dan mendapatkan kesenangan dari pengamalan itu. Kadang-kadang mungkin mereka menghadapi situasi-situasi yang menggoda, tetapi ketika mereka menolak untuk mengikuti naluri hewani, mereka merasa puas mencapai prestasi moral ini. Mereka sering menjumpai kesulitan-kesulitan dan masalah-masalah namun tetap tegar dan berani.

Menghadapi sikap agresif yang dapat memancing kemarahan, mereka sabar dan menahan diri. Mereka membalas perbuatan jahat dengan perbuatan baik. Ketika diperlakukan tidak adil, mereka lebih suka bermurah hati dan memaafkan, sekalipun mereka berada dalam posisi benar. Dalam situasi-situasi yang paling sulit dan menyusahkan pun, mereka tetap mengesampingkan kepentingannya sendiri dengan memberikan prioritas kepada keinginan orang lain, dan senang berkorban untuk orang-orang beriman lainnya. Ketika menyadari bahwa mereka berbuat kesalahan, mereka berusaha sungguh-sungguh untuk memperbaiki. Meskipun mereka mungkin dalam keadaan sangat membutuhkan, mereka tetap bersedekah kepada anak-anak yatim, orang miskin, musafir dan senantiasa taat kepada perintah Allah. Mereka selalu berbuat adil dan menunjukkan sikap jujur ketika memberikan kesaksian, bahkan ketika bertentangan dengan kepentingannya sendiri. Mereka tidak memata-matai orang lain atau berkhianat satu sama lain. Yang terpenting, mereka berpegang teguh pada nilai-nilai al-Qur’an sampai akhir hayat menjemput.

Hanya gairah keimanan memberikan kepada seseorang kemampuan untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai al-Qur’an. Komitmen orang beriman pada nilai-nilai yang baik mencerminkan kedalaman iman mereka. Tentu saja ada saatnya ketika orang Islam berjuang melawan hawa nafsu dan ketika mereka tergoda oleh setan. Namun, hamba Allah yang bijaksana selalu menampakkan tekad untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai moral yang akan menyenangkan Allah disebabkan oleh ketaatan kepada-Nya, dan cita-cita mereka untuk dekat dengan-Nya.

Menyerahkan Diri dan Harta Mereka untuk Allah

Diri dan harta adalah dua konsep yang dianggap sangat penting oleh masyarakat jahiliah. Faktanya, bagi banyak orang diri dan harta merupakan satu-satunya tujuan kehidupan. Sepanjang hidup mereka, orang berusaha untuk memperoleh status yang dengannya mereka dapat dihormati dan bisa unggul. Dalam al-Qur’an, Allah menyuruh manusia untuk memperhatikan fakta bahwa memiliki harta dan dihormati di masyarakat adalah nafsu banyak orang-orang bodoh:

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).” (Q.s. Ali Imran: 14).

Dalam ayat lain Allah menyatakan bahwa harta dan status tidak lain adalah ujian:

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap diri dan hartamu.” (Q.s. 187).

Dengan nafsu yang menyala di hati, orang-orang dalam masyarakat jahiliah bercita-cita untuk memiliki harta yang banyak. Ketakutan terbesar mereka ialah kerusakan terhadap harta mereka atau sesuatu yang mereka banggakan, karena kerusakan itu akan mempengaruhi tujuan utama mereka dalam kehidupan. Karena alasan ini mereka mengorbankan segala sesuatu demi melindungi kekayaan, diri, dan kemajuan kepentingan duniawi mereka. Pandangan mereka bahwa kehidupan dunia ini, apa-apa yang ada di dalamnya dan kesenangan-kesenangannya yang menggoda, adalah lebih bernilai daripada ridha Allah, menjadi sumber sikap seperti itu.

Sebaliknya, orang-orang beriman segera mengesampingkan keuntungan material (yang diburu oleh orang-orang jahiliah) demi memperoleh ridha Allah dan surga. Mereka sadar bahwa mereka sedang diuji melalui harta dan diri mereka, dan bahwa Allah adalah pemilik sesungguhnya atas apa-apa yang diberikan di dunia ini. Akibatnya, Allah mungkin mengambil kembali apa yang telah Dia amanatkan kapan pun Dia menghendaki, karena Allah memegang kekuasaan mutlak atas segala sesuatu di alam semesta ini.

“Diri” seseorang, yang adalah tubuhnya, akhirnya akan mengalami proses kemunduran yang cepat setelah usia enam puluh atau tujuh puluh tahun, dan hartanya tidak akan memberi manfaat baginya di akhirat. Tetapi ketika seseorang menggunakan hartanya di jalan Allah, dia akan menuai kepuasan baik di dunia ini maupun di akhirat. Orang-orang beriman menyerahkan diri mereka kepada Allah, dan gairah dalam hati merekalah yang menyebabkan mereka berserah diri kepada-Nya. Dalam al-Qur’an dinyatakan sebagai berikut:

“Sesungguhnya Allah telah membeli diri dan harta orang mukmin dengan surga.” (Q.s. at-Taubah: 111).

Ayat di atas ditutup dengan:

“Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan ini, dan itulah kemenangan yang besar.” (Q.s. at-Taubah: 111).

Ayat ini memungkinkan orang-orang beriman untuk senantiasa mengalami kebahagiaan dan gairah di hati mereka. Ketika diperlukan, mereka dengan bersemangat menggunakan hartanya untuk tujuan yang baik guna mendapatkan ridha Allah. Mereka menggunakan diri mereka untuk berbakti kepada agama dan berbuat amal baik untuk mendapatkan ridha Allah. Tak diragukan lagi, mereka sadar bahwa kadang-kadang harta dan hidup mereka mungkin dalam bahaya, tetapi mereka menerima itu dengan senang hati karena mereka menganggap itu sebagai keuntungan dan bukan kerugian. Dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk menghadapi kesulitan dengan tawakal:

“Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal’.” (Q.s. at-Taubah: 51).

Al-Qur’an juga menceritakan suatu kejadian yang memperlihatkan betapa bergairahnya orang beriman menyerahkan harta dan diri mereka untuk Allah. Sekelompok orang beriman di zaman Nabi Muhammad saw. dengan ikhlas berkeinginan untuk berjuang di jalan Allah, tetapi keadaan tidak memungkinkan mereka. Allah menghargai niat tulus mereka dan memaafkan mereka:

“Dan tiada dosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu’, lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (Q.s. at-Taubah: 92).

Ini merupakan isyarat yang jelas tentang betapa tulusnya orang-orang beriman berkeinginan untuk menggunakan harta dan diri mereka di jalan Allah dan gairah yang dia rasakan untuk tujuan ini. Tak diragukan lagi, jenis pengabdian yang diberikan seorang yang beriman akan berubah sesuai dengan waktu dan situasi. Di zaman Nabi Muhammad saw. perang harus dilancarkan untuk melindungi hak-hak orang beriman. Di zaman kita sekarang ini umat Islam perlu berjuang dalam bidang intelektual, dan mengabdi dalam bidang keilmuan.

Setiap orang yang melakukan pengorbanan tulus untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai al-Qur’an dan menyampaikan keindahan hidup seperti itu kepada orang lain, semata mengharapkan balasan dari Tuhannya. Balasan bagi mereka yang menggunakan waktu dan harta di dunia ini di jalan Allah ditegaskan dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (Q.s. al-Hadid: 11).

Berlomba-lomba dalam Kebaikan

“Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada amal-amal kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.” (Q.s. Ali Imran: 114).

“Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (Q.s. al-Ma’idah: 48).

Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Namun berlomba-lomba ini bukanlah seperti dalam masyarakat jahiliah untuk tujuan mengalahkan orang lain. Sebaliknya, ini adalah berlomba untuk memperbanyak kebajikan dan amal. Tujuan orang-orang beriman berlomba-lomba bukanlah untuk memperoleh keuntungan dunia atau untuk mengungguli orang lain. Sebaliknya, mereka berlomba-lomba untuk taat kepada perintah Allah, untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai yang disenangi Allah, dan untuk mencapai ridha Allah. Keterlibatan mereka dalam lomba seperti itu adalah manifestasi dari ketakutan dan iman mereka kepada Allah. Memang, usaha yang dilakukan seseorang merupakan ukuran tentang keikhlasan dan komitmennya. Dia ingin Allah ridha, memberi rahmat, dan surga, maka dia melakukan segala upaya dengan sungguh-sungguh. Dengan menggunakan akal budi, hati nurani, dan kemampuan fisiknya secara maksimal, dia berusaha untuk hidup sesuai dengan al-Qur’an dalam cara sesempurna mungkin. Allah memberi tahu kita, bahwa usaha tulus merekalah yang membuat orang-orang beriman unggul dalam pandangan Allah.

“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (Q.s. al-Mu’minun: 61).

Sikap Nabi Zakaria dijadikan sebagai contoh:

“Maka Kami kabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (Q.s. al-Anbiya': 90).

Di sini, Allah meminta perhatian kita kepada fakta bahwa bersegera kepada amal kebaikan juga merupakan sifat para nabi. Sepanjang hidupnya para nabi berusaha untuk memperoleh ridha Allah, maka orang beriman menjadikan para nabi sebagai teladan.

Alasan lain orang-orang beriman berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan ialah mereka sadar bahwa kehidupan dunia ini sangat singkat dan kematian sangat dekat. Mereka tahu kematian dapat menimpanya kapan pun, dan bahwa mereka akan merasa menyesal jika tidak berusaha sungguh-sungguh untuk memperoleh ridha Allah. Karena begitu seseorang masuk alam akhirat, mustahil untuk kembali ke alam dunia lagi untuk berlomba dalam beramal kebajikan. Dengan demikian, orang beriman berlomba-lomba dengan waktu untuk berbuat baik lebih banyak lagi, dan selama mereka masih diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini. Mereka dengan bersemangat menggunakan setiap kesempatan untuk berbuat baik. Sebuah doa orang-orang beriman yang mukhlis dikutip dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’.” (Q.s. al-Furqan: 74).

Dengan gairah dan tekad orang-orang beriman memenuhi perintah Allah:

“Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Q.s. asy-Syarh: 7-8).

Mereka tidak menyia-nyiakan waktu dan bersegera berbuat kebaikan dengan gairah besar, karena tahu bahwa manusia tidak pernah dapat menganggap usahanya sudah cukup. Mereka tidak pernah lupa bahwa mereka harus memberikan pertanggungjawaban atas setiap detik waktu yang digunakan di dunia ini, dan bahwa mereka akan bertanggung jawab atas setiap detik yang tidak mereka gunakan untuk menuruti hati nurani atau terlibat dalam kegiatan yang tidak berguna di saat mereka dapat berbuat lebih baik lagi. Di luar waktu yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok pribadinya, mereka terlibat dalam usaha terus-menerus untuk melakukan hal-hal yang lebih baik.

Sadar bahwa pengorbanan fisik dan mental di jalan Allah mendatangkan balasan yang besar, mereka tidak pernah menganggap keletihan sebagai hal yang mengganggu, sebagaimana anggapan masyarakat jahiliah. Mereka memandang ini sebagai kesempatan penting untuk keuntungan di akhirat, dan segera setelah pekerjaan selesai, mereka dengan bersemangat melakukan pekerjaan lain untuk menyenangkan Allah. Dinyatakan dalam al-Qur’an:

“Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (Q.s. al-Isra': 19).

Sebagai imbalan bagi usaha mereka yang sungguh-sungguh dan komitmen mereka untuk berbuat baik, hamba-hamba-Nya yang beriman akan ditempatkan oleh Allah di rumah-rumah besar dan megah dan menikmati karunia yang besar untuk selamanya:

“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman. Mereka itulah orang yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam surga-surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.” (Q.s. al-Waqi’ah: 10-6).

Allah telah menyampaikan kabar gembira bahwa mereka yang berletih-letih dalam kehidupan dunia ini demi meraih ridha Allah tidak akan merasa letih di akhirat:

“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya.” (Q.s. al-Hijr: 48).

“Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu.” (Q.s. Fathir: 35).

Tetap Sabar Menghadapi Kesulitan

Dalam al-Qur’an, Allah menggambarkan Dirinya sendiri sebagai berikut:

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.” (Q.s. al-Mulk: 2).

Dia menyuruh manusia memperhatikan fakta bahwa kehidupan dunia ini adalah saat ujian. Memang, peristiwa-peristiwa yang kelihatannya baik atau tidak baik dalam kehidupan ini penting dalam menyingkap watak aslinya seseorang. Bencana, secara khusus, akan menyingkap derajat keikhlasan seseorang.

Salah satu kualitas paling mencolok dari orang-orang beriman ialah karakter mereka yang stabil. Baik di saat sejahtera atau susah, mereka memperlihatkan semangat dan keikhlasan yang sama. Ini timbul dari persepsi yang unik tentang konsep “kesulitan”, karena mereka menganggap saat-saat sulit sebagai kesempatan untuk membuktikan ketaatan kepada Allah dan kekuatan imannya. Mereka mengakui bahwa saat-saat sulit adalah situasi khusus yang diciptakan oleh Allah untuk membedakan antara “mereka yang dalam hatinya ada penyakit” dan “mereka yang tulus ikhlas dalam beriman kepada-Nya.” Dalam menghadapi apa pun, mereka menampakkan ketegaran dan bertawakal kepada Allah sesuai perintah-Nya:

“Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik” (Q.s. al-Ma’arij: 5).

Al-Qur’an juga menyatakan:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya.” (Q.s. al-Baqarah: 286).

Orang beriman merasa aman dan nyaman karena tahu bahwa Allah tidak membebani mereka melebihi apa yang dapat mereka tanggung. Dalam menghadapi kesusahan, mereka ingat bahwa ini adalah kejadian yang akan dapat mereka atasi, dan karena itu mereka menghadapinya dengan sabar. Maka, tak peduli betapapun berat penderitaan, mereka berusaha untuk menunjukkan sikap berserah diri kepada Allah.

Di samping itu, mereka tahu bahwa penderitaan-penderitaan telah menimpa orang-orang beriman di masa lalu, dan bahwa cobaan yang dihadapi orang di masa lalu akan mereka hadapi juga. Seseorang beriman sadar akan fakta ini, siap sejak lama sebelum dia benar-benar menghadapi kesulitan; dia telah bertekad bahwa dia akan tetap setia kepada Tuhannya, dan dengan demikian, bertekad untuk menunjukkan kesabaran dan tawakal kepada Allah dalam keadaan apa pun.

“Dan sesunguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah dahulu bahwa mereka tidak akan berbalik ke belakang. Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungjawabannya.” (Q.s. al-Ahzab: 15).

Seorang beriman memenuhi janjinya kepada Allah. Dia menghadapi kelaparan, kemiskinan, ketakutan, cedera atau kematian dengan teguh, menerimanya dan memperlihatkan sikap bersyukur kepada Tuhannya. Bahkan jika berbagai kesulitan menimpanya terus menerus dan seluruh hidupnya dijalani dalam kesulitan, dia tahu bahwa ketika menerima kesulitan dalam kehidupan ini (yang hanya berlangsung puluhan tahun) dengan kesabaran, maka kelak dia tidak akan mengalami kesulitan dalam kehidupan abadi – tidak sedetik pun. Perilakunya yang teguh, dengan izin Allah, akan memberikan kepadanya karunia yang indah: kesenangan dan rahmat Allah dan surga-Nya. Kabar gembira ini disampaikan dalam al-Qur’an:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.s. al-Baqarah: 155).

Ada hal terakhir yang harus diingat. Cara orang-orang beriman menghadapi kesulitan dengan kesabaran berbeda dari pemahaman orang jahiliah tentang kesabaran, yang sekadar pasrah. Namun, pemahaman orang beriman, bukan hanya “pasrah” tetapi menghadapi masalah dan berusaha menyelesaikan dan mengatasinya. Karena itu, orang beriman berusaha secara maksimal mencari solusi dengan menggunakan akal budinya dan semua sarana material dan fisiknya. Sambil melakukan itu semua, mereka berdoa kepada Allah agar memberi mereka kekuatan:

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Q.s. al-Baqarah: 286).

Sungguh, sikap dalam menghadapi kesulitan inilah – usaha sungguh-sungguh dan sikap menerima – yang menunjukkan gairah sejati. Kekuatan iman mereka kepada Allah dan akhirat memungkinkan orang beriman untuk berjuang keras menghadapi kesulitan-kesulitan tanpa pernah merasa lemah-hati.

Menjadi Lebih Bergairah ketika

Menghadapi Kesukaran

Telah dinyatakan bahwa diantara tanda-tanda terpenting keimanan dan gairah ialah sikap yang dimiliki orang beriman ketika menghadapi kesukaran. Tanda lain yang menunjukkan iman orang-orang beriman di saat-saat sulit ialah, bahwa mereka tidak pernah menjadi lemah semangat. Sebaliknya, ketika mereka menghadapi kesukaran, gairah mereka tumbuh bahkan lebih besar lagi, karena orang tidak dapat mencapai surga kecuali jika mereka telah diuji dengan kesulitan-kesulitan sebagaimana orang-orang dari generasi masa lalu.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?” (Q.s. al-Baqarah: 214).

Karena itu, orang beriman pasti akan menjumpai masalah-masalah dan kesulitan dan hal itu merupakan ketentuan agama. Dengan kata lain, ujian-ujian ini menentukan sifat-sifat penting orang-orang beriman dan memberikan petunjuk bahwa mereka berada di jalan yang lurus.

Berperilaku sesuai dengan ayat al-Qur’an saat menghadapi kesulitan, menjadikan seseorang diridhai oleh Allah. Karena itu, merupakan keinginan orang beriman untuk menghadapi kesulitan sebagaimana para nabi, sahabat-sahabat mereka dan semua orang beriman yang pernah hidup sepanjang sejarah. Dengan gairah dan kegembiraan mereka menunggu waktu ketika janji Allah dipenuhi. Diuji dengan kesulitan-kesulitan yang sama berarti bahwa mereka mengikuti jejak para nabi. Tentu saja, mereka tidak mencari kesulitan, tetapi kesukaran yang mereka hadapi akan menambah gairah dan kekuatan mereka. Mereka berharap akan memperoleh balasan yang lebih baik sebagai imbalan bagi kesukaran, karena mereka akan menjadi orang-orang yang tetap setia kepada Allah tanpa patah semangat dan akan berkata:

“Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” (Q.s. al-Ahzab: 22).

Mencari Ridha Ilahi dengan Senang Hati

Sifat lain orang beriman ialah kegembiraan dan kebahagiaan yang mereka rasakan ketika terlibat dalam suatu perbuatan yang akan mendatangkan ridha Allah. Ini adalah “kegembiraan iman”. Kegembiraan iman adalah kegembiraan batin yang tulus yang tidak dapat dirasakan oleh mereka yang tidak hidup dengan berpegang pada agama, karena ini adalah kegembiraan yang berkaitan dengan iman, yang merindukan keridhaan Allah, rahmat-Nya dan surga-Nya

Mereka yang imannya kepada Allah tidak sepenuhnya hampir pasti tidak mengalami kegembiraan seperti itu. Sama dengan orang-orang jahiliah, yang hanya menemukan kegembiraan dalam apa yang berhubungan dekat dengan kepentingan pribadinya, ketika mereka merasakan sesuatu “yang menguntungkan”. Namun, ini hanyalah kegembiraan sementara. Begitu keuntungan dunia hilang, kegembiraan juga hilang.

Mereka yang tidak memiliki iman sejati di hati akan merasa frustrasi jika untuk memperoleh ridha Allah harus melaksanakan tugas yang mereka merasa sulit melaksanakannya. Mereka menunjukkan keengganan dan ketidakacuhan dengan melakukan tugas itu dengan setengah hati. Mereka sering menganggap bahwa kerja sukarela atau pengabdian sebagai kegiatan yang membuang-buang waktu, tanpa menghargai bahwa memperoleh ridha Allah adalah balasan terbaik dan paling berharga. Maka mereka merasa seolah-olah telah memikul tanggung jawab besar, atau melakukan pengorbanan besar. Pada titik ini muncullah sifat khusus berupa semangat orang beriman. Apakah sukar atau sederhana, tugas apa pun tidak pernah membuat frustrasi orang beriman, karena dia dengan sepenuh hati dan senang hati beribadah kepada Allah. Semangat ini termanifestasi dalam sikap kegembiraan dan kebahagiaan.

Bahwa orang beriman mengharapkan balasan hanya dari Allah juga dinyatakan oleh Rasulullah saw. Ditanya balasan apa bagi orang yang mendambakan popularitas dan kompensasi atas perjuangannya di jalan Allah, Nabi saw. bersabda, “Tidak ada balasan bagi dia.” Kemudian beliau bersabda, “Allah menerima amal yang dilakukan dengan ikhlas dan untuk mencari ridha-Nya.” (H.r. Abu Dawud dan an-Nasa’i).

Tidak Terpengaruh oleh Mereka yang di Hatinya Terdapat Penyakit

Di bagian awal buku ini telah dinyatakan bahwa keimanan dan kedekatan seseorang kepada Allah tidaklah sama, dan bahwa ada sebagian orang yang berserah diri kepada Allah dan mereka yang di hatinya terdapat penyakit.1 Orang-orang yang tidak memiliki keimanan kuat (meskipun mereka hidup di antara orang-orang beriman dan menegaskan bahwa mereka beriman) memperlihatkan realitas iman dalam cara mereka berperilaku. Mereka tidak memiliki gairah untuk hidup menurut agama dan memperoleh ridha Allah, dan bahkan ingin memperlemah semangat dari hati orang beriman.

Namun, mereka yang punya iman yang kuat tidak terpengaruh oleh kata-kata dan tindakan mereka seperti itu, karena orang-orang beriman memahami apa yang difirmankan Allah dalam al-Qur’an:

“Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini kebenaran ayat-ayat Allah itu menggelisahkan kamu.” (Q.s. ar-Rum: 6).

Kelalaian sebagian orang sebenarnya merupakan akibat dari ketidakyakinan mereka. Sadar akan fakta ini, orang beriman tidak merasa frustrasi; sebaliknya, mereka makin bertekad untuk berjuang demi kepentingan Islam, karena orang lain tidak punya tanggung jawab atas agama dan tidak berusaha untuk menyebarkan nilai-nilai Islam. Makin kuat tekad mereka untuk mengingatkan nilai-nilai al-Qur’an dan untuk hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dalam cara yang terbaik.

Seorang ulama besar, Said Nursi, yang juga dikenal sebagai Bediuzzaman, mengungkapkan bagaimana orang-orang yang berusaha sungguh-sungguh untuk mendapat ridha Allah mendekati orang-orang yang tak punya semangat, “Kelemahan hati dan kemunduran orang lain menjadi sebab meningkatnya gairah dan usaha orang-orang beriman, karena mereka merasa bertanggung jawab atas tugas mereka yang telah meninggalkannya.”2

Bediuzzaman mengamati bahwa setiap kali orang-orang beriman melihat mereka yang di dalam hatinya terdapat penyakit untuk menghindari pengabdian kepada Islam, maka mereka akan memeluk agama dengan komitmen yang makin kuat. Kelalaian orang-orang yang tidak bersemangat untuk berpegang kepada nilai-nilai Qur’ani dan untuk menyampaikannya, mengingatkan orang-orang beriman tentang tanggung jawab mereka sendiri yang besar. Keengganan orang-orang lain untuk mengamalkan nilai-nilai yang baik menjadi sebab bagi orang-orang beriman untuk berperilaku lebih baik lagi. Berbeda dari orang-orang yang tidak punya keyakinan tentang Allah dan para rasul-Nya, orang beriman memperlihatkan ketaatannya yang luar biasa dengan mengatakan, “kami mendengar dan kami menaati”.

Mereka yang tidak memiliki keimanan yang sungguh-sungguh di hati mereka secara tidak sadar telah menyumbang pada perkembangan orang-orang beriman dalam banyak cara. Namun mereka tidak dapat menularkan kelalaian mereka ke dalam hati orang-orang beriman, karena orang-orang beriman memperoleh gairah dan keimanan dari hubungan mereka dengan Allah dan bukan dari sikap orang-orang di sekitar mereka. Apakah orang-orang beriman menyaksikan kelalaian orang-orang seperti itu atau tidak, mereka tetap berusaha sungguh-sungguh untuk memenuhi perintah Allah. Namun, setelah melihat kelemahan hati orang lain mereka bertambah kuat komitmennya untuk berpegang kepada agama Allah. Sementara orang yang lalai tidak terlalu memikirkan kehidupan yang kekal, dia secara tidak sadar telah menambah gairah orang-orang beriman dan mendorong mereka ke arah yang lebih baik.

SEPERTI APAKAH GAIRAH DAN SEMANGAT ORANG-ORANG BERIMAN

Dalam masyarakat-masyarakat yang jauh dari nilai-nilai al-Qur’an, kata “kegairahan” sering mengungkapkan perasaan gelisah, cemas, stress dan marah saat menghadapi peristiwa-peristiwa tertentu. Ia bukanlah perasaan positif melainkan sesuatu yang menyedihkan. Kegairahan orang-orang beriman, sebaliknya, adalah perasaan yang meluap-luap yang dialami karena memikirkan keindahan Allah, karunia-karunia-Nya, dan kehidupan abadi di surga.

Orang-orang yang tidak memiliki iman mengalami perasaan sedih karena mereka tidak bertawakal kepada Allah. Bertawakal kepada Allah berarti menjadikan Allah sebagai pelindung dan tempat bersandar. Karena orang-orang yang lalai tidak menghargai kebesaran Allah, mereka tidak dapat mengalami perasaan tawakal dan berserah diri. Tidak juga menjadikan Allah sebagai pelindungnya, mereka berharap akan menerima bantuan dari sumber-sumber keduniawian. Karena alasan ini mereka tidak dapat membebaskan diri dari ketakutan dan kecemasan.

Namun, orang-orang beriman tidak dilanda perasaan sedih sebagaimana dialami oleh masyarakat jahiliah berkat tawakal mereka kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang mengalami kegairahan iman yang dilukiskan oleh al-Qur’an, sebagai sifat orang-orang beriman. Itu disebabkan karena mereka sadar bahwa setiap kejadian diciptakan untuk tujuan Ilahi dan, dengan demikian, merenungkan dalam-dalam untuk memahami tujuan-tujuan Ilahi. Dengan menggunakan kesadaran, mereka dapat dengan mudah melihat tujuan-tujuan yang tersembunyi dalam detail-detail yang sangat lembut. Ketika dibandingkan dengan orang-orang yang lalai, mereka memperlihatkan kepekaan yang lebih besar terhadap kejadian yang sama, mendapat kesenangan dan kegairahan yang lebih besar darinya. Mereka mengalami kegairahan karena mengetahui bahwa mereka diciptakan bukan dari apa-apa dan masuk ke sebuah dunia yang penuh warna di mana ratusan ribu, bahkan jutaan keajaiban muncul bersama dalam waktu yang sama. Ke mana pun mereka memandang, mereka melihat keindahan Allah: alam semesta, angkasa, mata hari, bulan, kupu-kupu, jutaan binatang, tanaman, buah-buahan, dan sebagainya. Seorang mukmin merasa sangat berbunga-bunga ketika dia membayangkan semua ini.

\\\________
APA YANG MEMBANGKITKAN GAIRAH ORANG-ORANG BERIMAN

Pengamatan atas Keindahan Ciptaan Allah

Kemana pun seseorang memandang, ia akan mendapati contoh-contoh indahnya ciptaan Allah yang menakjubkan. Di dalam ayat-ayat al-Qur’an Allah berfirman:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Q.s. Fushilat: 53).

Orang-orang beriman senantiasa bangkit gairahnya tatkala mereka memperhatikan susunan dan kesempurnaan yang terus menerus diciptakan oleh Allah di setiap sudut alam semesta ini. Mereka menyaksikan adanya kebijakan, keagungan, dan keindahan tiada tara di balik keajaiban-keajaiban ini, dan timbul perasaan bahagia di dalam hatinya ketika merenungkan keagungan ciptaan Allah tadi. Mereka merasa heran tatkala memperhatikan orang-orang yang tetap tidak memiliki kepekaan atas keajaiban-keajaiban ini. Jika orang-orang semacam itu mau mendengarkan suara hati nuraninya sebentar saja dan berpikir dengan jujur, maka mereka pun pasti akan merasakan keagungan dan betapa eloknya ciptaan Allah. Sebagaimana dinyatakan di dalam banyak ayat al-Qur’an, kesempurnaan ciptaan Allah benar-benar sangat mengesankan sehingga siapa pun yang mau menggunakan hati nuraninya dapat menyaksikannya. Dalam sebuah ayat dinyatakan bahwa ketika orang-orang beriman memikirkan adanya keagungan di dalam ciptaan Allah, mereka pun merasa takjub:

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (Q.s. Ali Imran: 191).

Orang-orang beriman yang merenungkan dengan sungguh-sungguh hal-hal yang masuk di dalam kesadarannya menyadari, bahwa penciptaan langit dan bumi merupakan tanda adanya kebijaksanaan dan kekuasaan yang abadi. Mereka menyadari bahwa Allah menyimpan ratusan dan ribuan maksud dalam setiap ciptaan-Nya dan mereka benar-benar merasa sangat takjub susunannya atas kesempurnaan. Tidak sebagaimana perasaan gusar yang dimiliki oleh masyarakat jahiliah, seseorang mendapat bimbingan ke jalan Allah yang lurus karena adanya rasa takjub dan bahagia. Konsekuensi dari rasa takjub dan pemahaman yang menyeluruh ini adalah semakin kuat rasa keimanan, bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Semakin orang-orang beriman berpikir mengenai keindahan dan keelokan makhluk-makhluk yang terdapat di sekitar mereka, maka mereka pun semakin menyadari kekuasaan, kebijaksanaan, dan keagungan Allah, dimana merupakan satu-satunya kawan dan pelindung bagi seseorang. Mereka pun bersegera berdzikir kepada-Nya, memuji-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari azab-Nya, sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas tadi: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Menyaksikan Rahmat dan Keindahan

Orang-orang yang paling merasakan takjub atas berbagai rahmat Allah dan mendapatkan paling banyak kenikmatan darinya adalah mereka yang beriman. Mereka tahu bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan menyadari bahwa apa pun peristiwa yang mereka temui dan mereka lihat merupakan rahmat daripada-Nya. Dengan demikian suatu keindahan tertentu memiliki makna yang sangat berarti bagi mereka dibandingkan bagi orang-orang lainnya.

Alasan lain mengapa orang-orang beriman dapat merasakan takjub, adalah karena mereka dapat memperhatikan secara rinci dan detail apa-apa yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Mereka yang tidak dapat menggunakan akalnya secara semestinya dan tidak merenungkan secara mendalam atas kejadian-kejadian yang ada hanya akan memahami penampakan lahirnya saja. Dengan demikian, rasa takjub mereka sangatlah terbatas. Akan tetapi sebaliknya, bagi orang-orang beriman, mereka mampu melihat sisi-sisi yang berkaitan dengan keimanan dan maksud-maksud Ilahiah yang terkandung di dalam segala sesuatu yang mereka jumpai. Dengan demikian, mereka dapat menghargai banyak detail dan rahmat yang memberikan kebahagiaan serta rasa kagum yang lebih besar.

Alasan lainnya lagi mengapa orang-orang beriman dapat melihat rahmat-rahmat ini secara mendetail dan lebih memiliki kesan adalah sebagai berikut: seseorang yang bersikap sombong kepada Allah tidak dapat mengenali keindahan dan keajaiban ciptaan-Nya, karena bila ia mengakui kekuasaan Allah itu berarti ia mengakui kekurangan dirinya. Karena ia tidak dapat menerima hal ini, maka ia pun tidak akan mampu melihat keindahan yang terdapat pada makhluk-makhluk sebagaimana mestinya. Bahkan andaikata ia memperhatikan makhluk-makhluk itu, ia lebih suka menjelaskannya begitu saja dan menekan rasa kekagumannya.

Lepas dari sikap angkuh dan kepura-puraan, orang-orang beriman tidak pernah luput dalam menghargai keindahan benda-benda dan menyaksikan kehebatan ciptaan Allah, dan mereka pun menyatakan perasaan dalam hatinya serta kekagumannya secara terbuka. Misal, tatkala mereka menyaksikan sekuntum bunga mawar atau warna ungu yang dapat ditangkap oleh mata, maka bangkitlah kebahagiaan memandang keindahan itu dan mereka pun menyadari bahwa ini adalah perwujudan dari sifat Allah yang indah “al-Jamil”. Keindahan dan pesona yang terpancar dari makhluk-makhluk mengarahkan mereka untuk merenungkan kekuasaan yang tidak terhingga serta keindahan sang Pencipta. Dalam perenungan ini mereka semakin merasa takjub, karena mereka dapat merasakan bahwa semua keindahan ini telah diciptakan untuk mereka dan bahwa semuanya itu adalah karunia dari Allah. Mereka merasakan kekaguman dengan mengetahui bahwa semua itu adalah tanda-tanda kasih sayang Allah kepada mereka. Mereka berpikir dengan bahagia bahwa sekalipun semua keindahan ini tidak banyak berarti bagi banyak orang, namun mereka telah menjadi orang-orang yang beruntung, telah menjadi kekasih-kekasih Allah yang mendapatkan kebahagiaan paling banyak dari rahmat-rahmat-Nya. Mereka merasa bersyukur bahwa Dia telah menganugerahkan kepada mereka kesempatan untuk melihat keindahan-keindahan ini dan telah mencurahkan karunia-Nya kepada mereka, dan mereka merasakan kebahagiaan yang amat sangat karena dapat bersyukur kepada Allah.

Mereka merasa bahagia karena Allah telah memberinya mata untuk melihat keindahan-keindahan ini, kesadaran yang jernih untuk memahaminya, dan keimanan yang tulus untuk mensyukurinya. Mereka merasa diistimewakan, karena banyak orang yang tidak dapat menikmati kebahagiaan dari hal-hal yang indah diakibatkan oleh kebutaan ruhaninya. Namun mereka dapat melihat dan menikmati keindahan-keindahan ini karena Allah telah memilih mereka dan menjadikan mereka mencintai agama. Selain itu, setelah mereka merenungkan berbagai rahmat, desain-desainnya yang sempurna serta kebijakan abadi yang terwujud di dalamnya, mereka meningkatkan rasa takzim kepada Allah dan kekaguman mereka atas keindahan ciptaan-Nya. Sebagaimana firman Allah:

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu minta kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Q.s. Ibrahim: 34).

Dengan demikian, mereka dalam keadaan takjub atas berbagai karunia yang tidak terkira jumlahnya yang ada di dunia ini. Dengan rasa syukur kepada Allah mereka bergembira karena berpikir bahwa Allah telah memberikan semua karunia ini dari rahmat-Nya; Ia telah memberikan karunia sebanyak ini, padahal kalau mau dapat saja Ia memberinya lebih sedikit dari ini. Allah berfirman:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.s. Ibrahim: 7).

Dengan mengingat bahwa Allah akan menambah nikmat lebih banyak lagi kepada mereka yang bersyukur adalah kebahagiaan tambahan.

Dengan mengetahui bahwa Allah telah menciptakan bagi mereka masa hidup yang penuh dengan karunia dan keindahan serta suatu takdir yang senantiasa membawa kebaikan membuat semangat mereka segar kembali. Orang beriman menyadari bahwa Allah melindungi dan melimpahkan kasih sayang-Nya kepadanya setiap saat, dan kedua hal ini adalah karunia dari-Nya. Sungguh, Allah melimpahkan kasih sayangnya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan seseorang berjalan ke arah kehidupan yang menyenangkan dan membahagiakan hanyalah semata-mata karena Allah telah menetapkannya. Fakta ini telah ditekankan di dalam banyak ayat seperti berikut ini:

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih.” (Q.s. al-Qashash: 68).

“Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekufuran) kepada cahaya (iman).” (Q.s. al-Baqarah: 257).

“Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Q.s. al-Baqarah: 213).

Seorang yang beriman tahu bahwa ia berhutang budi atas rahmat-rahmat yang dinikmatinya itu kepada Allah. Allah telah memilihnya, memberinya kesempatan untuk hidup dengan nyaman, menjauhkannya dari kejahatan, dan menciptakannya dengan kemampuan-kemampuan khusus, dimana hal ini benar-benar sangat menyenangkannya. Dengan gairah ia pun kembali kepada-Nya dan bekerja sungguh-sungguh demi mendapatkan keridhaan-Nya, baik melalui sikap maupun perilakunya. Sebagaimana ketika ia mengamati keindahan-keindahan yang ada di dunia ini, ia berpikir tentang surga, pasti betapa sempurna dan tiada cacatnya keindahan-keindahan di surga sana, dan menjadi sangat bergairah untuk mencapainya. Semangat yang ada pada diri orang-orang beriman dinyatakan dalam sabda Nabi Muhammad saw.: “Sungguh, dalam setiap tasbih adalah sedekah, dalam setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan dalam mengatakan ‘Tidak ada tuhan selain Allah’ adalah sedekah pula.” (H.r. Muslim dan Ahmad).

Apa yang telah disebutkan di atas tadi hanyalah sedikit contoh dari hal-hal yang membangkitkan gairah orang-orang beriman. Buku ini terlalu terbatas untuk menyebutkan semua rincian tentang hal-hal yang diperhatikan oleh orang-orang beriman. Cakrawala pandangan mereka luas, dan kemampuan refleksi mereka juga kuat. Kesenangan yang tidak pernah dialami oleh orang-orang kafir adalah karunia besar yang dianugerahkan kepada orang-orang beriman.

Cinta dan Persahabatan

Kebanyakan orang mengeluh karena tidak dapat menemukan cinta dan persahabatan sejati di sepanjang hidup mereka dan benar-benar merasa yakin bahwa adalah hal yang mustahil untuk mendapatkannya. Hal ini memang benar bagi mereka yang hidup di tengah-tengah masyarakat jahiliah, yang tidak pernah meraih cinta dan persahabatan sejati, oleh karena rasa kasih sayang yang mereka berikan satu sama lain sering kali adalah karena dorongan kepentingan. Begitu mereka tidak lagi mendapatkan keuntungan-keuntungan yang dapat diraih, keakraban yang selama ini mereka anggap sebagai cinta atau persahabatan pun berakhir.

Orang-orang yang mengalami cinta dan persahabatan sejati serta menjalaninya dengan makna yang sesungguhnya adalah orang-orang beriman. Alasan utamanya, sebagaimana dinyatakan di muka dalam buku ini, adalah karena mereka mencintai satu sama lain, bukan karena mencari keuntungan, namun hanyalah semata-mata karena orang-orang yang mereka cintai itu adalah orang-orang yang memiliki iman yang tulus dan taat. Apa yang membuat seseorang dicintai dan memiliki daya tarik untuk dijadikan teman adalah karena ketakwaannya kepada Allah, dan kesalehannya yang telah membuat seseorang hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an secara cermat. Seseorang yang hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an juga mengetahui karakteristik-karakteristik apa saja yang mesti dimilikinya agar dapat dijadikan sebagai seorang teman yang berharga, dan dia pun mengambil karakteristik-karakteristik ini sesempurna mungkin. Dan demikian pula, ia pun dapat mengapresiasi karakteristik-karakteristik yang dapat dikagumi pada orang lain dan dapat mencintai dengan sesungguhnya.

Selama pemahaman mengenai hal ini senantiasa ada dan nilai-nilai Qur’ani meliputi diri mereka, kebahagiaan yang diperoleh dari cinta dan persahabatan tidak pernah hilang. Lebih jauh lagi, semakin orang itu memperlihatkan akhlak yang baik, kesenangan dan kebahagiaan yang mereka dapati dari cinta dan persahabatan pun senantiasa meningkat. Tatkala mereka saling memperhatikan satu sama lain sifat-sifat khas yang ada pada diri orang-orang beriman, tanda-tanda adanya iman dan nurani, ketulusan, ketakwaan kepada Allah dan kesalehan, maka gairah mereka pun semakin tumbuh subur. Gairah mereka terasa terbangkitkan karena berada di tengah-tengah lingkungan orang-orang yang mendapat keridhaan dan kasih sayang dari Allah serta senantiasa cenderung untuk berusaha meraih kedudukan yang tinggi di akhirat kelak. Begitulah, mereka merasa bahagia bersahabat dengan orang-orang yang oleh Allah sendiri telah dijadikan sebagai para kekasih-Nya.

Oleh karena kecintaan di antara mereka dilandasi oleh sebuah pemahaman tentang persahabatan yang kekal selamanya, maka kecintaan itu tidak akan berkurang atau berakhir dengan adanya kematian. Sebaliknya, justru makin kekal secara sempurna. Dari aspek inilah pemahaman tentang cinta bagi orang-orang beriman berbeda dengan pemahaman masyarakat jahiliah. Cinta dan persahabatan pada masyarakat jahiliah tidak dilandasi niat untuk senantiasa bersama selama-lamanya, maka mereka pun tidak dapat mempraktikkan konsep-konsep kesetiaan, kepercayaan, dan amanah yang sejati. Jika dua orang yang mengaku sebagai kawan membuat suatu syarat khusus yang melandasi persahabatan mereka, maka itu berarti mereka dapat mengakhiri pertemanan mereka kapan saja. Kedua belah pihak yang menyadari adanya kemungkinan ini pun lalu bersikap saling hati-hati satu sama lain dan merasa tidak nyaman. Kehatian-hatian merusak ketulusan, dimana hal ini merupakan prasyarat dalam menjalin cinta dan persahabatan. Dalam hubungan-hubungan yang sifatnya duniawi orang-orang senantiasa memperhitungkan adanya kemungkinan berakhirnya persahabatan mereka dan, dengan demikian, mereka pun menghindari untuk menunjukkan sifat ketulusan dimana nantinya dapat membuat mereka merasa malu bila kelak keramah-tamahan ini telah berakhir.

Di lain pihak, bagi orang-orang beriman, mereka memiliki ketulusan dan tidak pernah bersikap pura-pura. Seseorang yang berniat untuk bersama-sama dengan orang lain untuk selama-lamanya adalah seseorang yang telah memiliki komitmen untuk menunjukkan kesetiaan, cinta, dan persahabatan yang tiada putus-putusnya. Karakteristik istimewa mengenai cinta dan persahabatan dari orang-orang beriman ini, yaitu kesediaan untuk bersama-sama selama-lamanya, membuat mereka dapat memperoleh kebahagiaan yang besar dari kasih sayang yang mereka alami serta kegembiraan karena punya harapan untuk berada bersama-sama dengan orang-orang yang mereka cintai di surga nanti. Ini juga merupakan kesenangan, karena adanya kepastian, sehingga mereka akan bersikap setia kepada orang-orang yang mereka cintai selama-lamanya.

Melindungi Kebenaran

“Mengapa kamu tidak mau berperang demi membela agama Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau’.” (Q.s. an-Nisa': 75).

Di dalam ayat ini Allah meminta perhatian atas situasi orang-orang yang tertindas dan menunggu adanya dukungan atau sekutu. Ayat ini berkenaan dengan upaya untuk melindungi orang-orang yang tidak bersalah yang tidak mampu untuk membela hak-hak mereka sendiri, menolong mereka dan menjamin adanya keselamatan atas diri mereka sebagai sebuah tanggung jawab bagi orang-orang beriman.

Orang-orang beriman yang memiliki kesadaran atas tanggung jawab-tanggung jawab mereka merasakan adanya hasrat dan keinginan yang sangat besar untuk menyelamatkan orang-orang yang tertindas hanya karena mereka beriman kepada Allah. Mereka memiliki nurani dan pemahaman yang tepat tentang keadilan, maka mereka pun tidak pernah mau memaafkan adanya penindasan terhadap orang-orang yang tidak bersalah; maka, mereka pun memberikan dukungan secara moral dan material. Untuk tujuan inilah gairah dan semangat mereka memberikan keberanian dan kekuatan yang sangat besar kepada mereka.

Allah juga meminta tanggung jawab kepada orang-orang beriman untuk memerangi kemungkaran dan mencegahnya, dimana hal ini menambah semangat mereka. Memerangi kemungkaran, menghapuskan tirani dari muka bumi, dan mewujudkan perdamaian serta kesejahteraan adalah termasuk diantara perbuatan-perbuatan yang paling mulia dan luhur bagi kemanusiaan. Mengenai pentingnya memenuhi tugas untuk mencegah kemungkaran ini dinyatakan di dalam al-Qur’an:

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Q.s. al-A’raf: 165).

Di dalam al-Qur’an banyak nabi yang disebutkan karena semangat dan keteguhan mereka dalam membela kebenaran dan memerangi kemungkaran. Nabi Musa a.s. misalnya, telah berjuang keras untuk menyelamatkan Bani Israel dari tirani Fir’aun. Dalam al-Qur’an, Fir’aun digambarkan sebagai “Berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.” (Q.s. Yunus: 83). Dia telah memperbudak bangsa Mesir, membunuh anak laki-laki mereka dan menistakan anak-anak perempuan mereka. Allah mewahyukan kepada Nabi Musa a.s.:

“Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dan katakanlah: ‘Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israel bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk’.” (Q.s. Thaha: 47).

Maka beliau pun mendatangi Fir’aun dan memintanya untuk menghentikan tiraninya atas bangsanya dan membiarkan mereka untuk meninggalkan Mesir bersamanya.

Ayat ini memberikan contoh betapa Nabi Musa a.s. memikul tanggung jawab untuk melindungi bangsanya, dan untuk inilah ia berjuang tiada henti selama bertahun-tahun hingga akhirnya tirani Fir’aun pun tamat riwayatnya. Selain itu, beliau pun berjuang untuk memperkuat moral bangsanya, dan dengan sabar menyeru mereka agar memohon pertolongan kepada Allah. Sungguh, sebagai hasil dari semangat dan keteguhan yang diperlihatkannya, Allah pun memberikan kemenangan kepada beliau dan para pengikutnya atas diri Fir’aun.

Sebagaimana diungkapkan oleh contoh-contoh semacam ini, orang-orang beriman senantiasa berada pada pihak yang benar, yaitu berada bersama-sama dengan orang-orang yang memiliki kasih sayang, toleransi, sikap siap membantu dan rela berkorban ketika menghadapi orang-orang yang melakukan keangkaramurkaan, tidak adil, dan mementingkan diri sendiri. Mereka senantiasa berjuang untuk menghentikan tirani para penindas dan membebaskan mereka yang tertindas. Dalam melakukan hal ini, mereka merasakan gairah dan kebahagiaan karena dapat memenuhi perintah Allah. Dan melalui amal kesalehan ini mereka menerapkan keadilan yang disukai oleh Allah, mendengarkan suara hati nurani mereka, hidup dengan nilai-nilai Qur’ani, dan menjaga keselamatan orang-orang yang tidak berdosa. Maka mereka pun memperoleh kebahagiaan dari semua amal kebajikan ini dan pahala-pahala yang mereka terima.

Komitmen dari orang-orang beriman dalam masalah ini meningkatkan akhlak mereka. Badiuzzaman (Said Nursi) memberi tahu akan fakta bahwa mereka yang memikul tanggung jawab besar dengan niat untuk memperoleh keridhaan Allah akan mencapai kematangan moral: “Manakala seseorang punya komitmen pada dirinya sendiri dengan tujuan-tujuan yang mulia, maka amal-amalnya pun menjadi semakin ikhlas. Dan ketika ia melakukan amal-amal yang semakin banyak demi kepentingan kaum muslimin, maka dia sendiri mencapai kematangan moral.”1

Ibadah

Bagi orang-orang beriman mencari keridhaan dan kecintaan Allah merupakan suatu hal yang mendapat prioritas atas segala hal lainnya. Dengan demikian, sepanjang hayatnya mereka terus menerus mencari jalan untuk makin mendekatkan diri kepada-Nya. Allah telah memerintahkan:

“Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (Q.s. al-Ma’idah: 35).

Orang-orang beriman memandang bahwa menjalankan kewajiban-kewajiban ibadah yang diperintahkan di dalam al-Qur’an adalah termasuk sarana yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah. Meskipun demikian, mereka menyadari bahwa hanya melakukan hal ini saja tidaklah cukup, dan yang lebih penting lagi adalah adanya keikhlasan dan semangat yang dirasakan oleh seseorang ketika sedang beribadah. Sesungguhnya, Allah telah menyatakan bahwa daging dan darah dari hewan-hewan korban itu tidak akan sampai kepada-Nya namun ketakwaan dari orang-orang yang berkorban itulah yang akan sampai kepada-Nya:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.s. al-Hajj: 37).

Kesadaran atas fakta ini mengarahkan orang-orang beriman untuk menyibukkan diri di dalam amal-amal saleh dengan penuh semangat untuk menjalankan suatu kewajiban dalam beribadah. Mereka memahami bahwa keikhlasan adalah sifat yang paling dihargai oleh Allah. Bahwa amal-amal yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah mendapat penghargaan yang besar di mata Allah, juga disebutkan di dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad saw., di mana seorang mukmin yang baik digambarkan sebagai seseorang yang merasakan kebahagiaan ketika mengerjakan shalat, menjalankan ibadah kepada Tuhannya dengan sebaik-baiknya, dan menaati-Nya ketika sedang dalam keadaan sunyi. Di dalam al-Qur’an banyak diberikan contoh mengenai semangat dan gairah yang dirasakan oleh orang-orang beriman dalam menjalankan ibadah. Beberapa di antaranya akan disebutkan dalam halaman-halaman selanjutnya.

Membaca al-Qur’an

Di dalam al-Qur’an Allah memberikan gambaran mengenai orang-orang beriman:

“Sesungguhnya orang-orang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri.” (Q.s. as-Sajdah: 15).

Bersujud ketika dibacakan ayat-ayat al-Qur’an merupakan tanda adanya keimanan yang kuat dan kebahagiaan yang mereka rasakan karena menjadi hamba Allah.

Mereka merasa sangat bersuka cita karena memiliki al-Qur’an, kitab yang diwahyukan Allah yang mencakup semua pengetahuan, dengan menyadari bahwa setiap ayat dari al-Qur’an adalah manifestasi dari kasih sayang, rahmat, dan keadilan Allah terhadap diri mereka. Lebih jauh lagi, mereka merasakan kebahagiaan yang sangat besar di dalam jiwa mereka karena telah diberi nikmat kesadaran yang jernih sehingga mereka dapat memahami semua itu. Dengan demikian, mereka pun merasa dekat kepada Allah dan merasakan adanya keterikatan yang mendalam dengan-Nya, yang memberikan mereka perasaan tenang. Di dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa orang-orang beriman menyungkur sujud, menangis karena perasaan yang mereka alami tatkala mendengarkan firman-firman Allah:

“Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepadaNya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).’ Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Mahasuci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (Q.s. al-Isra': 107-9).

Di dalam ayat-ayat di atas Allah memberitahukan bahwa al-Qur’an, manakala dibacakan kepada orang-orang beriman, meningkatkan rasa rendah diri mereka, yaitu ketakutan dan rasa takzim mereka kepada-Nya. Dan Allah memberitahukan kepada kita bahwa para nabi pun juga menyungkur sujud, sambil menangis karena perasaan mereka ketika mendengar ayat-ayat Allah:

“Mereka adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Q.s. Maryam: 58).

Di dalam ayat lainnya dinyatakan bahwa kulit-kulit orang-orang beriman yang takut kepada Allah bergetar manakala mereka mendengar ayat-ayat al-Qur’an:

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.” (Q.s. az-Zumar: 23).

Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad saw. bahwa orang-orang beriman mengetahui bahwa pahala bagi mereka yang membaca al-Qur’an dan berdzikir kepada Allah adalah begitu besarnya, dan hal itu semakin menambah gairah mereka: “Bertakwalah kepada Allah, karena Dialah yang akan membuat baik semua hal yang merisaukanmu. Bacalah al-Qur’an dan senantiasalah mengingat Allah, karena dengan demikian kalian akan diingat pula di langit sana, dan akan menjadi cahaya bagimu di muka bumi ini.” (H.r. Ahmad).

Doa

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.s. al-Baqarah: 186).

Allah telah menyeru semua orang untuk berdoa. Dia telah memberitahukan kepada mereka bahwa Dia lebih dekat kepada mereka dibandingkan urat leher mereka sendiri. Dia mendengar mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya, dan Dia pun akan menjawab doa-doa mereka. Kesempatan yang diberikan oleh Allah tersebut kepada manusia dan bahwa Dia menjadi saksi atas segala hal yang mereka ucapkan atau pikirkan adalah penyebab munculnya rasa suka cita bagi orang-orang beriman, rasa suka cita karena mengetahui bahwa Allah ada bersama mereka, perlindungan-Nya yang senantiasa diberikan atas diri-diri mereka, dan karunia-Nya terhadap mereka. Dengan alasan inilah orang-orang beriman berlindung kepada Tuhan mereka dengan perasaan yang sangat mendalam, benar-benar merasakan perlunya mendapat bimbingan dari-Nya, dan senantiasa memohon pertolongan-Nya setiap saat. Penyebab kegembiraan yang lain adalah bahwa tidak ada batas bagi mereka untuk meminta apa saja kepada Allah. Setiap orang berpeluang untuk memohon apa saja yang diperlukannya, baik hal itu penting atau tidak penting, yang sifatnya ruhaniah maupun material. Allah menjawab doa dari hamba-hamba-Nya sesuai dengan apa yang terbaik bagi mereka.

Bertobat untuk Mendekatkan Diri kepada Allah

Manusia mudah membuat kesalahan. Adalah suatu hal yang mustahil untuk mengharapkan bahwa ada seseorang yang mengetahui segala hal atau dapat melakukan apa saja dengan sempurna karena dunia ini adalah tempat di mana Allah menguji manusia. Manusia hanya akan tinggal sementara waktu saja di dunia, di mana dia akan memperoleh sifat-sifat yang lebih baik melalui petunjuk Tuhannya, dan kemudian akan melanjutkan perjalanannya ke akhirat, yang merupakan tempat tinggalnya yang abadi. Itulah sebabnya mengapa kesalahan, ketidaksempurnaan dan kegagalan adalah hal lumrah di dunia ini, dimana merupakan tempat untuk melakukan ujian. Hal yang penting adalah bagaimana caranya untuk tidak terus menerus melakukan kesalahan, namun sesegera mungkin mengikuti kebenaran begitu mengenalinya, dan meninggalkan kebiasaan buruk sebelumnya. Proses ini terus berkesinambungan menuju penyempurnaan, sekalipun orang-orang beriman menyadari bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang lemah dan tidak sempurna. Dengan demikian, mereka pun meminta ampunan dari Allah dan bertobat. Tobat, suatu bentuk ibadah yang penting dan diperintahkan di dalam al-Qur’an, membuat mereka merasakan kebahagiaan ruhaniah.

Manakala orang-orang beriman melakukan kesalahan, mereka tidak memperlihatkan sikap pesimis; akan tetapi mereka merasakan adanya harapan bahwa Allah akan mengampuni mereka. Begitu mereka menyadari bahwa mereka telah melakukan suatu perbuatan dosa, mereka segera meminta perlindungan kepada Allah dan memohon ampunan-Nya. Allah menggambarkan karakteristik dari hamba-Nya yang ikhlas ini di dalam al-Qur’an:

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.s. Ali Imran: 135).

Kabar gembira dari Allah bahwa Dia menerima tobat dari hamba-hamba-Nya yang ikhlas mendatangkan harapan dan kegembiraan. Hal ini karena hingga kematian datang kepada mereka, bahkan orang yang paling jahat pun di dunia ini memiliki kesempatan untuk menyucikan dirinya dari dosa dan memperoleh atribut untuk memasuki surga. Allah menggambarkan rahmat dan kasih sayang-Nya terhadap semua umat manusia sebagai berikut:

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Q.s. az-Zumar: 53).

Dengan merasakan kasih sayang dan rahmat Allah kepada mereka dan mengharapkan ampunan-Nya setiap saat mereka kembali kepada-Nya mendatangkan rasa cinta dan kegembiraan yang mendalam di dalam hati orang-orang beriman.

Menyampaikan Nilai-nilai

Luhur al-Qur’an

Allah memerintahkan dibentuknya suatu jamaah di tengah-tengah umat manusia yang menyeru kepada kebaikan:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.s. Ali Imran: 104).

Sesuai dengan seruan yang tercantum di dalam ayat ini orang-orang beriman memiliki keikhlasan, berupaya untuk menyampaikan kebaikan nilai-nilai akhlak yang terdapat di dalam al-Qur’an, menunjukkan kerusakan akhlak yang terdapat di tengah-tengah masyarakat jahiliah, dan dengan kehendak Allah, membimbing manusia ke jalan yang benar. Karena mereka sendiri sudah merasakan kedamaian dan kenyamanan dengan cara hidup yang Islami, mereka pun mengharapkan agar orang lain juga dapat mengalami hal yang sama. Selanjutnya, karena mengetahui bahwa neraka benar-benar ada, mereka ingin melindungi semua orang dari siksaan yang kekal dengan cara mendorong mereka untuk menjalani kehidupan yang diridhai oleh Allah, karena amal-amal seseorang di dunia ini menentukan kehidupan abadinya kelak di surga atau neraka. Bahkan keselamatan abadi bagi satu orang saja punya arti yang besar bagi orang-orang beriman. Dengan alasan inilah mereka punya komitmen untuk mengorbankan apa saja dalam rangka menyelamatkan seseorang dari neraka dan membimbingnya menuju ampunan dan kasih sayang Allah. Barangkali mereka akan mencurahkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun, siang dan malam, guna membantu seseorang agar menerapkan nilai-nilai Islami yang baik. Demikian pula, mereka pun dengan bersemangat mengeluarkan harta kekayaannya demi hal ini. Semangat yang mereka rasakan memberikan kekuatan yang besar baik secara fisik maupun ruhani. Hingga akhir hayatnya mereka tidak pernah berhenti menyampaikan pesan-pesan Allah dengan cara yang paling baik dan paling bijaksana.

Meskipun demikian, perlu dijelaskan bahwa sekalipun semua upaya mereka tidak mendatangkan hasil atas turunnya hidayah kepada satu orang pun, mereka tidak akan pernah merasa frustrasi karena tugas dari seorang mukmin hanyalah sekadar menyampaikan pesan, sedangkan Allahlah yang sesungguhnya memberikan hidayah kepada seseorang. Dari al-Qur’an kita tahu bahwa banyak penyembah berhala di Mekkah yang tidak memeluk Islam, sekalipun Nabi Muhammad saw. telah melakukan berbagai upaya dengan tulus dan sungguh-sungguh. Akan tetapi usaha-usaha yang telah beliau saw. kerjakan tadi tetap mendapatkan ganjaran, dan Allah mewahyukan kepada beliau saw.:

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.s. al-Qashash: 56).

Di dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa semua nabi telah menunjukkan komitmen yang sama dalam menyampaikan risalah dari Tuhan mereka. Kesukaran-kesukaran yang mereka hadapi tidak pernah mematahkan semangat mereka. Bahkan sebaliknya, mereka senantiasa melakukan berbagai upaya untuk menunjukkan jalan yang benar kepada umat mereka. Upaya-upaya penuh semangat yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh a.s. telah digambarkan sebagai berikut:

“Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah berdakwah kepada kaumku malam dan siang, namun dakwah itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku berdakwah kepada mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. Kemudian sesungguhnya aku telah berdakwah kepada mereka (untuk beriman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (berdakwah kepada) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun’.” (Q.s. Nuh: 5-10).

Sebagaimana diungkapkan dalam ayat-ayat tadi, Nabi Nuh a.s. telah menyampaikan risalah Tuhannya dengan semangat yang tinggi untuk mendamaikan hati umatnya. Meskipun mereka selalu menolak namun beliau tidak pernah patah semangat dalam menyampaikan atribut-atribut Allah. Kendati demikian, umatnya yang berkepala batu selalu saja berpaling setiap kali mereka mendengarkan kebenaran. Karena semangat dan rasa suka cita yang dirasakannya dalam menjalankan perintah Allah untuk menyampaikan pesan-Nya, Nabi Nuh a.s. tidak mencela sikap mereka namun beliau terus saja melanjutkan tugasnya dengan keteguhan yang tiada henti. Meskipun umatnya menunjukkan keangkuhan, beliau berupaya mencari cara-cara lain yang memungkinkan guna melunakkan hati mereka. Niat beliau adalah untuk membebaskan mereka dari kerusakan masyarakat jahiliah dengan cara mengingatkan kepada mereka mengenai kebesaran Allah, baik secara terbuka maupun tertutup.

Perlu diingat bahwa upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh a.s. dan yang lainnya dalam menyampaikan risalah ini, dengan semangat yang tinggi dan keikhlasan, tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa ganjaran. Insya Allah, setiap kata yang disampaikan dan setiap detik yang dicurahkan di jalan-Nya akan mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda.

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (Q.s. at-Taubah: 112).

Berpikir tentang Surga

Salah satu hal yang paling menimbulkan perasaan gembira bagi orang-orang beriman adalah surga dan karunia-karunia yang akan mereka peroleh di sana. Surga adalah tempat yang selama ini belum pernah ada dalam kehidupan dunia ini; tak ada satu pun cacat dan celanya kehidupan di sana. Surga diciptakan bukan sebagai ujian, sebagaimana kehidupan di dunia ini, namun adalah tempat untuk memberikan ganjaran. Lagi pula, Allah memang sengaja menciptakan dunia ini sebagai tempat yang tidak sempurna sehingga umat manusia merindukan surga dan berjuang keras untuk mencapainya. Seseorang yang berjuang untuk mencapai kesempurnaan, seumur hidupnya menginginkan surga dengan semangat yang lebih besar lagi.

Di akhirat nanti orang-orang beriman akan bergembira karena telah diselamatkan dari siksa neraka, yang selama hidupnya mereka telah berjuang untuk menghindarinya. Pada sisi lain, mereka yang memerangi agama Allah, dan orang-orang yang mengikuti al-Qur’an, serta mereka yang menentang orang-orang beriman dan berupaya menindas mereka akan mendapatkan ganjaran yang sepadan sebagai bukti keadilan Allah. Bagaimana ganjaran yang akan diterima oleh orang-orang semacam ini dan kegembiraan yang dirasakan oleh orang-orang beriman tatkala mereka menyaksikannya, dinyatakan di dalam al-Qur’an:

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang beriman. Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini,2 orang-orang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Q.s. al-Muthaffifin: 29-36).

Fakta bahwa kelak orang-orang yang tidak beriman akan mendapatkan ganjaran yang sepantasnya dari Allah, menyembuhkan luka di hati orang-orang mukmin. Sungguh, hanya dengan memikirkan janji Allah saja sudah dapat membangkitkan rasa suka cita di hati orang-orang beriman.

Selain itu, mengingat salam dan ucapan selamat datang dari para malaikat di surga dan betapa kedudukan orang-orang beriman akan ditinggikan di sana adalah sumber kebahagiaan utama. Mereka akan bertemu dengan malaikat-malaikat Allah yang akan mengantar mereka ke surga, tempat tinggal mereka yang abadi. Sementara mereka yang tidak mau mengabdi kepada Allah dalam hidupnya di dunia ini, akan berada dalam ketakutan dan kesakitan ketika disergap oleh malaikat azab, sementara orang-orang beriman diiringi oleh malaikat-malaikat rahmat berada dalam kedamaian dan keamanan. Harapan ini membuat orang-orang beriman merasakan kegembiraan yang luar biasa. Bagaimana mereka akan dipertemukan di dalam surga nanti digambarkan di dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum’. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Q.s. ar-Ra’d: 23-4).

“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): ‘Salamun ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.s. an-Nahl: 32).

Alasan lain mengapa pemikiran tentang surga ini membangkitkan kegembiraan di hati orang-orang beriman tidak ragu lagi adalah karunia yang dijanjikan kepada mereka yang selama ini belum dapat mereka bayangkan seperti apa wujudnya. Namun yang lebih membahagiakan lagi daripada itu adalah manakala mereka mendapatkan keridhaan Allah, suatu tujuan yang selama ini sangat mereka inginkan dan perjuangkan seumur hidup mereka:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin3 dan Anshar4 dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q.s. at-Taubah: 100).

Dalam ayat di atas Allah memberikan kabar gembira bahwa Dia akan meridhai orang-orang yang dimasukkan-Nya ke dalam surga. Demikianlah, ditekankan di dalam al-Qur’an bahwa karunia terbesar di dalam surga adalah keridhaan Allah:

“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (Q.s. at-Taubah: 72).

Selain itu, Allah memberikan kabar yang lebih baik lagi kepada orang-orang beriman mengenai karunia surga:

“Salam, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (Q.s. Yasin: 85).

Dan ini adalah ganjaran terbaik bagi perjuangan tulus yang telah dilakukan oleh orang-orang beriman sepanjang hidup mereka.

Orang-orang beriman juga merasakan kegembiraan manakala memikirkan betapa indahnya surga, dimana jauh dari apa yang dapat dibayangkan oleh manusia, sekalipun sudah banyak diberikan gambaran yang rinci di dalam al-Qur’an. Allah telah berfirman bahwa di sana nanti terdapat banyak keindahan dan karunia yang selama ini pernah diinginkan oleh jiwa manusia atau yang selama ini dapat dibayangkannya. Cakrawala pandang manusia di dunia ini terlalu terbatas untuk dapat memberikan gambaran yang sepenuhnya mengenai berbagai macam karunia abadi tadi. Sungguh, surga dipenuhi dengan hadiah-hadiah mengejutkan yang tiada henti-hentinya bagi orang-orang beriman. Memikirkan hadiah-hadiah mengejutkan ini saja dan mengetahui bahwa mereka dengan izin Allah akan hidup kekal selamanya membuat mereka merasa sangat berbahagia.

Bahkan sejak sekarang pun orang-orang beriman telah mengetahui karunia-karunia tertentu di surga, karena telah mendapatkan gambaran-gambaran dari al-Qur’an. Misalnya, orang-orang beriman mengetahui bahwa kelak mereka akan bersama-sama dengan kawan-kawan dan orang-orang yang mereka cintai. Mereka akan berkawan dengan para nabi, syuhada, siddiqin, dan orang-orang saleh terdahulu dan akan mendapatkan penghormatan menjadi sahabat-sahabat orang-orang suci yang diridhai oleh Allah. Mereka akan menemui cinta dan persahabatan sejati di sana, dan tidak akan pernah merasa bosan.

Setan tak akan dapat mendekati para penduduk surga; ia akan dilemparkan ke dalam siksaan yang abadi di dalam api neraka, maka di surga nanti setiap orang akan memiliki sifat-sifat yang baik, tulus, dan jujur di hadapan Tuhan mereka. Di sana tidak akan dijumpai akhlak-akhlak buruk yang ada pada masyarakat jahiliah (seperti kebencian, kemarahan atau dengki); semua sifat-sifat jelek ini akan hilang untuk selama-lamanya.

Di surga nanti tidak akan ada kesulitan-kesulitan seperti yang terdapat di dunia ini. Mereka tidak perlu cemas atas rencana-rencana jahat dari orang-orang munafik. Orang-orang beriman akan diangkat derajatnya selama-lamanya, hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan di tengah-tengah kenikmatan apa pun yang diinginkan oleh nafsu mereka. Semua orang akan diciptakan dengan bentuk yang sempurna dan dibebaskan dari segala macam cacat. Bentuk tubuh mereka elok, memiliki perasaan saling menyayangi dan berusia setara. Hukum-hukum alam yang berlaku sebagaimana di dunia ini tidak lagi berjalan; suatu kehidupan baru dengan kenikmatan-kenikmatan baru telah tersedia untuk mereka yang imannya terjamin. Selain itu, surga adalah sebuah tempat yang berisi kemegahan-kemegahan fisik seperti mahligai-mahligai, pohon-pohon yang senantiasa berbuah dan mudah dipetik, sungai madu, dan keindahan-keindahan yang menarik hati lainnya.

Lebih dari itu, “keabadian”, sebuah konsep yang dalam pikiran manusia sulit untuk dibayangkan, berlaku di surga. Kehidupan di surga tidak hanya terbatas selama ratusan, ribuan, miliaran, atau triliunan tahun … namun kehidupan di sana adalah kehidupan yang kekal abadi. Manusia tidak akan merasa letih dan jenuh tinggal di sana, dan ia akan merasakan kesenangan yang besar selama-lamanya dalam setiap saat yang dilewatinya.

Memikirkan tentang kenikmatan-kenikmatan ini, sementara dirinya masih berada di dunia, dan harapan untuk mencapai surga merupakan sumber semangat dan hasrat utama orang-orang beriman. Dengan rangsangan untuk memperoleh kenikmatan-kenikmatan tersebut, mereka menjadi semakin bergairah dan melakukan upaya-upaya yang lebih banyak untuk menjadi hamba-hamba Allah yang layak menjadi penghuni surga. Sebagaimana digambarkan di dalam al-Qur’an, mereka berlomba-lomba satu sama lain dalam melakukan amal kebajikan dan berjuang untuk menjadi pemenang terbaik untuk mendapatkan “surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Q.s. Ali Imran: 133).

\\\________
MANFAAT SEMANGAT DAN KEGEMBIRAAN BAGI ORANG-ORANG BERIMAN

Memperoleh Kekuasaan dan Kekuatan

Sepanjang hayatnya orang-orang berupaya untuk mencari jalan guna memperoleh kekuatan mental dan fisik. Demi tercapai tujuan ini mereka pun menggunakan pengobatan dan ilmu pengetahuan dengan harapan mendapatkan hasil dari berbagai obat-obatan atau latihan-latihan mental. Meskipun demikian, mereka tidak berhasil mendapatkan formula yang dapat membuat mereka tetap tangkas, bersemangat, dan enerjik hingga akhir hayatnya.

Satu-satunya cara yang dapat membuat seseorang dapat tetap kuat dan cekatan secara mental dan fisik adalah iman. Ketakwaan kepada Allah di dalam hati seseorang membuatnya cekatan, waspada, dan kuat setiap saat. Allah mengaruniai orang-orang beriman kekuatan ini karena keimanan mereka kepada-Nya dan mengamalkan al-Qur’an, lagi pula hasrat dan semangat orang-orang beriman dalam memperoleh keridhaan Allah memberikan kepada mereka kekuatan yang tak terbatas. Karena senantiasa mengingat fakta bahwa kehidupan di dunia ini adalah singkat saja dan kematian serta pengadilan adalah dekat, senantiasa menjadi sumber motivasi dan aktivitas mereka. Semangat mereka yang berkaitan dengan iman ini tidak memungkinkan adanya rasa putus asa dan kekecewaan serta memberikan energi yang segar untuk melakukan amal-amal kebajikan satu demi satu, siang dan malam.

Selain kekuatan fisik, orang-orang beriman juga memiliki kesadaran dan keinsyafan yang jernih. Mereka dapat merasakan dengan cepat sisi-sisi yang rumit dari peristiwa-peristiwa, membuat solusi yang terang yang tidak dapat dilihat oleh orang-orang lainnya, mengidentifikasi kejadian-kejadian dengan cara yang paling komprehensif, dan menarik kesimpulan-kesimpulan paling akurat. Bahkan pada saat-saat kecapaian pun, mereka memiliki kesadaran yang tajam karena semangat yang ada pada diri mereka. Mereka menjalankan tugas-tugas mereka dengan cara setepat dan sesempurna mungkin dan, dengan kehendak Allah, memperoleh hasil-hasil yang sukses. Singkatnya, mereka memperlihatkan kemantapan dan kekuatan yang tak terkira dalam mengerjakan apa saja yang mereka lakukan dan tidak pernah loyo. Bilamana mereka tidak mencapai keberhasilan yang segera, mereka tidak pernah merasa putus asa dan kehilangan komitmen mereka, karena menyadari bahwa hasil akhir dari setiap amal senantiasa layak bagi orang-orang beriman.

Mendapatkan Bantuan dan Dukungan dari Allah

“Dan sungguh Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Maha Perkasa.” (Q.s. al-Hajj: 40).

Dalam ayat ini Allah menjanjikan pertolongan-Nya kepada mereka yang berpegang teguh kepada agama mereka dengan bersemangat. Di dalam al-Qur’an, Allah memberikan contoh mengenai Thalut dan pasukannya. Beberapa orang anggota pasukan Thalut yang akan bertempur dengan pasukan Jalut menunjukkan keloyoan dan berlagak seolah-olah mereka tidak memiliki kekuatan untuk bertempur. Meskipun demikian, mereka yang memiliki iman sejati kepada Allah dan mengabdi kepada-Nya dengan penuh semangat memperlihatkan keberanian dan berkata:

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.s. al-Baqarah: 249).

Mereka mencari perlindungan kepada Allah, maka Allah pun menolong hamba-hamba yang saleh ini dengan bantuan-Nya dan memenangkan mereka atas pasukan Jalut, sekalipun jumlah mereka sedikit. Kejadian ini diceritakan di dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: ‘Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: ‘Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.’ Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan bertemu Allah berkata: ‘Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.’ Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, mereka pun berdoa: ‘Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.’ Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (Q.s. al-Baqarah: 249-51).

Selain itu, Allah menambahkan keimanan yang lebih banyak lagi atas iman para hamba-Nya yang berbakti dan menguatkan mereka dengan mengirimkan ketenangan ke dalam hati-hati mereka manakala mereka berpegang teguh kepada agama. Perasaan tenang ini membuat mereka tidak merasa cemas atas apa pun yang akan menimpa mereka. Bantuan Allah kepada orang-orang beriman untuk membangkitkan semangat mereka, dinyatakan di dalam al-Qur’an:

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allahlah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.s. al-Fath: 4).

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (Q.s. al-Fath: 18).

“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang kafir.” (Q.s. at-Taubah: 26).

Kita juga diberitahu di dalam al-Qur’an bahwa manakala orang-orang kafir membuat rencana untuk membunuh Nabi saw., Allah menolongnya dengan menurunkan ketenangan:

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang1 ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.s. at-Taubah: 40).

Pertolongan Allah, sebagaimana dinyatakan di dalam al-Qur’an, adalah salah satu ganjaran yang akan diterima oleh orang-orang beriman di dunia ini karena semangat mereka. Pahala yang mereka dapatkan di akhirat nanti, pada satu sisi, tentu saja lebih besar.

Memperoleh Surga

Allah telah memberi kabar gembira tentang surga bagi mereka yang beriman dan beramal saleh:

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.’ Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (Q.s. al-Baqarah: 25).

Allah akan mengaruniakan kenikmatan-kenikmatan ini kepada mereka sebagai balasan atas semangat dan usaha yang telah mereka perlihatkan dalam kehidupan di dunia ini. Orang-orang beriman mengamalkan ayat ini:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (Q.s. Ali Imran: 123).

Mereka mencurahkan segala upaya mereka untuk mencapai surga, karena Allah berfirman:

“Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 158).

Allah membalas amal-amal kebajikan yang dikerjakan secara tulus ikhlas dan sepenuh hati, dengan demikian orang-orang beriman akan mendapat pahala untuk segala amal yang mereka kerjakan dengan ikhlas, sekalipun hanya sebesar atom. Dengan demikian, mereka akan merasa ridha terhadap Tuhan mereka dan Tuhan mereka pun akan merasa ridha kepada mereka:

“Allah berfirman: ‘Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar’.” (Q.s. al-Ma’idah: 119).

Kepada orang-orang yang benar akan dikatakan:

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.s. al-Fajr: 27-30).

\\\________
KELALAIAN MEREKA YANG IMANNYA TIDAK SUNGGUH-SUNGGUH

Pada awal tadi telah dinyatakan bahwa iman dari setiap orang yang berkata, “Aku beriman” tidaklah sama. Dalam bagian ini akan dibahas mengenai kelalaian dari orang-orang yang tidak beriman dengan benar. Kurangnya komitmen yang sejati adalah suatu hal yang menyebabkan lemahnya iman. Sebelum melanjutkan topik ini, alasan-alasan mengenai adanya perbedaan ini dapat dijelaskan dengan melihat bagaimana al-Qur’an mengidentifikasi orang-orang semacam ini, pandangan mereka mengenai agama, dan tujuan hidup mereka.

Mereka yang Imannya Tidak Sungguh-sungguh

Di dalam al-Qur’an orang-orang semacam ini juga disebut sebagai “mereka yang di dalam hatinya berpenyakit”, “munafik”, “mereka yang berbalik ke belakang” atau “mereka yang tinggal di belakang”. Dapat dicermati bahwa mereka secara utuh bukanlah termasuk golongan orang-orang beriman maupun orang-orang jahiliah, sebagaimana dinyatakan di dalam ayat-ayat berikut ini:

“Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka.” (Q.s. al-Mujadalah: 14).

“Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir).” (Q.s. an-Nisa': 143).

Meskipun demikian, perlu diperhatikan bahwa orang-orang semacam ini umumnya tinggal di tengah-tengah kaum muslimin. Penampilan, gaya hidup, dan sebagian dari perilaku mereka menyerupai orang-orang beriman. Namun, sesungguhnya, orang-orang ini tidaklah benar-benar seperti mereka karena karakteristik yang paling istimewa dari orang-orang beriman adalah keikhlasan mereka dalam beribadah kepada Allah, sementara orang-orang ini tidak memiliki keimanan yang kuat di dalam hati mereka. Sekalipun mereka menyatakan keimanan, mereka bukanlah orang-orang beriman yang sesungguhnya. Mengenai hal ini Allah berfirman sebagai berikut:

“Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (Q.s. al-Baqarah: 8-9).

Apa yang mereka nyatakan sangat berbeda dengan apa yang disembunyikan di dalam hati mereka, ini dikarenakan “penyakit” yang ada di dalam hati mereka. Fakta ini juga dinyatakan di dalam al-Qur’an:

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Q.s. al-Baqarah: 10).

Di sini maksudnya bukanlah penyakit secara fisik, namun yang sifatnya secara ruhani. Di dalam hati orang yang ada penyakitnya seperti ini maka ia tidak dapat memahami agama secara benar dan mengamalkannya di dalam kehidupan. Sekalipun ia menyaksikan tanda-tanda keberadaan Allah secara terang benderang, ia tidak dapat menundukkan hatinya kepada-Nya, dan tidak dapat mencermati batasan-batasan-Nya. Ia tidak mampu hidup dengan agama Allah secara lengkap karena meskipun nuraninya telah membimbingnya kepada kebenaran, dirinya terlalu lemah untuk mengamalkan apa yang dinyatakan oleh lidahnya. Dibandingkan dengan kenikmatan-kenikmatan yang ada di surga, ia menganggap bahwa keuntungan-keuntungan duniawi ini lebih mudah diperoleh. Dengan demikian, maka ia pun begitu terikat dengan dunia ini dan tidak dapat menghargai nilai akhirat dengan selayaknya.

Keberadaan Mereka di Tengah-tengah Orang-orang Beriman

Tentu saja merupakan suatu hal yang menarik untuk diperhatikan, bahwa mereka yang di dalam hatinya ada penyakit lebih suka tinggal bersama-sama dengan orang-orang beriman, meskipun mereka tidak memiliki cita-cita yang sama. Salah satu alasan kenapa mereka lebih senang demikian adalah karena orang-orang semacam ini ingin mendapatkan untung dari agama dan kedamaian serta keamanan lingkungan dari orang-orang beriman. Mereka merasa lebih nyaman berada di tengah-tengah orang-orang beriman yang memperlihatkan akhlak mulia, dan lebih senang tinggal di tengah-tengah masyarakat seperti ini yang tidak dapat dijumpainya pada masyarakat jahiliah. Sementara keimanan di hati mereka sedikit, mereka tidaklah kafir seluruhnya, meskipun demikian mereka tidak dapat berintegrasi seutuhnya ke dalam masyarakat jahiliah ataupun ke dalam masyarakat Islam. Keraguan di dalam hati mereka menimbulkan dilema ini. Mereka mendapati bahwa kehidupan di dunia ini lebih menarik namun mereka juga ingin mendapatkan karunia-karunia yang dijanjikan Allah kepada orang-orang beriman di dunia ini dan di akhirat nanti. Meskipun mereka tidak memiliki keimanan yang sungguh-sungguh, punya pikiran-pikiran semacam, “Apakah ini benar?” dan “Bagaimana kalau janji-janji itu benar-benar nyata?” menyebabkan mereka berharap bahwa selain mendapatkan kesenangan-kesenangan duniawi, mereka juga dapat memetik keuntungan dari rahmat-rahmat dan karunia-karunia yang dicapai oleh orang-orang beriman.

Mereka mengharapkan agar orang-orang beriman dengan tulus akan melaksanakan tugas-tugas yang diperintahkan oleh agama, sementara mereka sendiri dapat mengambil keuntungan duniawi darinya. Namun demikian, bila ada kesulitan dan masalah mereka tidak mau bergabung bersama-sama dengan orang-orang beriman. Di dalam al-Qur’an perilaku orang-orang semacam itu pada masa Nabi Muhammad saw. digambarkan sebagai berikut:

“Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: ‘Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka. Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: ‘Andaikan, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)’.” (Q.s. an-Nisa': 72-3).

“(yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: ‘Bukankah kami (turut berperang) bersama kamu?’ Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: ‘Bukankah kami turut memenangkanmu dan membela kamu dari orang-orang mukmin?’ Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari Kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman.” (Q.s. an-Nisa': 141).

Orang-orang ini ingin memetik keuntungan dari manfaat yang diperoleh oleh orang-orang beriman, maka kadang kala mereka berupaya menarik perhatian dan meyakinkan orang-orang beriman mengenai komitmen mereka atas agama. Kendati demikian, karena orang-orang beriman telah menyaksikan sendiri keacuhan dan keloyoan yang telah tampak secara terang-terangan, maka mereka tidak berhasil untuk mempengaruhinya.

Orang-orang munafik memiliki pikiran-pikiran rusak, sehingga mereka berupaya untuk melakukan tipu daya sekalipun diantara mereka sendiri, dan berpikir bahwa mereka dapat ikut menikmati ganjaran-ganjaran yang diterima oleh orang-orang beriman pada kehidupan yang berikutnya. Di dalam al-Qur’an posisi mereka yang sesungguhnya digambarkan:

“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman: ‘Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.’ Dikatakan (kepada mereka): ‘Kembalilah kamu ke belakang1 dan carilah sendiri cahaya (untukmu).’ Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: ‘Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: ‘Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali.” (Q.s. al-Hadid: 12-5).

Orang-orang semacam ini hendaknya menyadari bahwa jika mereka tidak memiliki keimanan yang tulus di dalam hati mereka, kehidupan mereka di tengah-tengah orang-orang beriman tidak ada gunanya di hadapan Allah. Oleh karena Allah telah menganugerahkan hati nurani, kebijaksanaan, dan kemampuan untuk menimbang kepada manusia, Ia akan menanyai setiap orang secara individu dan memberinya ganjaran atau menghukumnya sesuai dengan itu. Amal-amal yang dikerjakan oleh seseorang secara ikhlas, untuk memperoleh keridhaan-Nya, akan mendapatkan pahala dari-Nya. Hanya menyatakan ketaatan saja tidaklah cukup, karena tingkah laku seseorang mesti cocok dengan apa yang dikatakannya. Dengan demikian, orang-orang yang lalai menipu diri mereka sendiri dengan berpikir bahwa hanya dengan tinggal di tengah-tengah orang-orang beriman akan menolong mereka pada Hari Pengadilan nanti. Akibat yang akan ditanggung di akhirat kelak oleh orang beramal demi kepentingan hawa nafsunya sendiri daripada untuk mencari keridhaan Allah, dinyatakan dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad saw.: “Barangsiapa yang ingin didengar (amal kebajikannya) – Allah akan membuat (niatnya yang sebenarnya) didengar; dan barangsiapa memperlihatkan (amal kebajikannya) – Allah akan memperlihatkannya.” (H.r. Bukhari Muslim).

Kelalaian Mereka yang di dalam Hatinya Ada Penyakit

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Q.s. al-Hajj: 11).

Ayat ini mengungkapkan tipe “semangat” yang ditunjukkan oleh orang-orang yang tidak berpegang teguh kepada agama. Mereka tampaknya begitu bersemangat selama kepentingan pribadinya tidak terpengaruh. Meskipun demikian, bila terjadi konflik kepentingan, maka semangat dan kegembiraan mereka pun akan lenyap. Karena mereka tidak yakin atas kepastian, situasi semacam ini akan membuat mereka meninjau kembali kewajiban-kewajiban yang dituntunkan dalam ajaran agama Islam. Mereka lupa bahwa Allah menciptakan dunia ini sebagai ujian, bahwa Allah akan menguji manusia melalui berbagai macam bentuk, baik yang tampaknya baik ataupun buruk, dan bahwa hanya mereka yang istiqamah sajalah yang akan mendapatkan pahala. Penyakit yang ada di dalam hati mereka membuat mereka merasa ragu atas adanya pertolongan Allah. Daripada mempercayakan nasib mereka kepada Allah, mereka malah jatuh ke lembah keputusasaan dan mulai berpikir yang jelek-jelek terhadap Allah. Dengan demikian, maka penyakit yang tersembunyi di dalam hati mereka pun menjadi tampak ke permukaan. Di dalam al-Qur’an, Allah menggambarkan bagaimana mereka kehilangan semangat secara tiba-tiba ketika menghadapi cobaan dan mulai meragukan janji Allah:

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya’.” (Q.s. al-Ahzab: 12).

Sikap ini tentu saja karena adanya kekurangan dalam iman mereka. Orang-orang seperti ini tidak dapat memahami bahwa apa saja yang mereka hadapi sesungguhnya memang dibuat untuk menguji mereka. Mereka yang hatinya berpenyakit berbeda dengan orang-orang beriman yang dengan sikap tulus ketika sedang menghadapi ujian-ujian semacam itu. Orang-orang beriman menjadi semakin bersemangat dan merasa damai dengan menggantungkan kepercayaan mereka kepada Allah, apa pun yang akan menimpa mereka, dan mengetahui bahwa pertolongan Allah senantiasa dekat.

Mereka yang Tinggal di Belakang

Orang-orang yang memperlihatkan kecenderungan munafik mempunyai pemikiran yang benar-benar berbeda dengan orang-orang beriman serta sangat jauh dari al-Qur’an. Karena cacatnya keyakinan mereka, pemikiran tidak didasarkan pada bagaimana caranya menggapai keridhaan Allah namun semata-mata dalam rangka untuk memuaskan hawa nafsu mereka sendiri dan mengambil keuntungan pribadi. Karena alasan inilah mereka menganggap bahwa menyibukkan diri dalam amal-amal Islami merupakan suatu hal yang sia-sia. Karena keimanan mereka kepada akhirat agak samar-samar, mereka berpendapat bahwa amal-amal yang dilakukan untuk akhirat tidak membawa keuntungan yang memadai sebagai ganjaran dari semua kerja dan keletihan mereka. Dengan demikian, mereka punya pikiran bahwa lebih menguntungkan untuk mencurahkan waktu mereka guna memperoleh keuntungan-keuntungan duniawi yang segera daripada memberikan manfaat-manfaat kepada Islam. Karena takut tertipu, mereka lebih suka tertahan di belakang mengambil sikap “moderat”, sebagaimana dinyatakan di dalam al-Qur’an:

“Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran).” (Q.s. an-Nisa': 72).

Pendek kata, mereka tidak bersemangat terhadap apa saja yang tidak memberikan keuntungan-keuntungan duniawi yang nyata kepada mereka.

Ketika dihadapkan pada situasi yang membutuhkan usaha-usaha demi kepentingan mereka yang membutuhkan, mereka yang tertindas atau orang-orang beriman, mereka mundur ke belakang. Senantiasa mengajukan uzur, mereka berupaya untuk membuatnya sangat sulit. Karena mereka tidak hidup dengan agama, mereka kekurangan motivasi dan energi untuk memecahkan masalah atau menyelesaikan suatu pekerjaan yang baik. Mereka memperlihatkan sikap enggan, baik dengan cara menarik diri secara tiba-tiba dan meninggalkan orang-orang beriman dalam kesukaran atau dengan bekerja secara apatis.

Meskipun demikian, apabila orang yang lalai ini diberi tawaran untuk menduduki suatu posisi yang bergengsi di sebuah perusahaan dengan gaji yang tinggi dan selanjutnya ia juga dijanjikan bahwa nantinya juga akan menjadi pemegang saham, maka ia pun memperlihatkan kinerja yang luar biasa, sikapnya akan sangat berbeda. Tidak diragukan lagi, menimbang keuntungan-keuntungan dari posisi itu, ia akan menunjukkan semangat yang luar biasa dalam kerjanya dan dengan cepat mampu memberikan penyelesaian-penyelesaian masalah yang memuaskan. Ada perbedaan yang mencolok antara keengganan orang-orang ini ketika diharapkan untuk bekerja demi kepentingan Islam, dan semangat yang mereka tunjukkan ketika kepentingan mereka dipertaruhkan. Karena mereka lebih suka pada manfaat-manfaat duniawi dibandingkan keridhaan Allah inilah yang menyebabkan sikap mereka berubah-ubah demikian itu.

Tinggal di Belakang Tidak Menguntungkan Namun Suatu Kebodohan

Tentu saja, keengganan dari mereka yang di dalam hatinya ada penyakit ini mengungkapkan betapa besarnya kebohongan di dalam kehidupan mereka. Tidak dapat berjuang untuk mencapai keridhaan Allah adalah suatu kerugian, karena usaha apa pun yang dicurahkan di jalan Allah akan mendatangkan keuntungan terbesar yang mungkin dicapai. Setiap amal yang dikerjakan oleh seseorang dengan ikhlas akan mendatangkan keridhaan Allah. Allah menjanjikan memberi yang terbaik kepada hamba-hamba-Nya yang diridhai-Nya, baik ketika masih berada di dunia ini maupun di akhirat kelak. Seorang mukmin yang saleh tidak bersemangat karena ia mengharap balasan yang segera di dunia ini. Mengetahui bahwa Allah ridha dengan amal yang dilakukannya saja sudah cukup baginya. Allah, pemilik keadilan, cinta, kasih sayang dan keagungan yang abadi, senantiasa siap dalam memberikan penghargaan atas amal-amal yang dikerjakan di Jalan-Nya, dan menyatakan bahwa amal apa saja, sekalipun hanya sebesar biji sawi atau atom, tidak akan disia-siakan:

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (Q.s. an-Nisa': 40).

“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (Q.s. an-Nahl: 30).

“(Luqman) berkata: ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. Luqman: 16).

Sungguh suatu hal yang sangat tidak bijaksana bersikap enggan dalam menjalankan amal-amal saleh karena semakin serius seseorang beramal, semakin besar ganjaran yang diterimanya baik di dunia ini dan di akhirat nanti. Demikian pula, semakin ia lalai, semakin rugi pulalah dirinya.

\\\________
AKIBAT-AKIBAT BERAMAL DENGAN TIDAK SUNGGUH-SUNGGUH

Sebagian besar orang menganggap bahwa kelalaian yang diperlihatkan banyak orang untuk hidup dengan prinsip-prinsip Islam sebagai suatu hal yang biasa saja. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak berupaya sungguh-sungguh untuk menghilangkan sikap ini. Sungguh, mereka tidak merasakan adanya bahaya yang dapat menyeret seseorang ke dalam kerugian yang sangat besar untuk selama-lamanya. Namun di dalam al-Qur’an, Allah mengingatkan akan bahaya penyakit ini dan bahayanya. Di akhirat nanti tidak seorang pun akan diberi kesempatan untuk membela diri atas kerugian yang diakibatkan oleh kelalaiannya. Ada gunanya di sini untuk menggarisbawahi beberapa kerugian yang diderita oleh orang-orang yang lalai:

Di dalam al-Qur’an Allah berfirman:

“Sungguh Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Q.s. al-Hajj: 40).

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang benar-benar berpegang teguh pada agama dan hanya mencari keridhaan-Nya. Dengan demikian, orang-orang yang berpendirian bahwa menarik diri atau tinggal di belakang itu lebih bermanfaat, maka mereka tidak akan memperoleh pertolongan Allah. Orang-orang seperti ini tidak akan mendapatkan hikmah atau kejernihan hati nurani. Mereka tidak dapat meningkatkan kegairahannya yang berlandaskan pada iman yang lurus. Karena mereka mengerjakan sebagian perintah al-Qur’an dan meninggalkan sebagian lainnya, mereka tidak memperoleh petunjuk kepada jalan yang benar. Keputusan dan perilaku mereka berdasarkan pada pemikiran jahil yang tidak dapat membantu mereka untuk memperoleh keberhasilan hakiki.

Hati mereka yang lalai menyebabkan pikiran mereka dalam keadaan malas dan lalai. Mereka menjadi malas, dan karena tidak melakukan usaha yang sungguh-sungguh untuk melakukan perbuatan yang memasukkan mereka ke dalam surga, mereka tidak pernah menyelesaikan tugas dalam waktu yang tepat. Mereka tidak mempunyai alasan untuk segera menyelesaikan tugas atau mengerahkan energi secara fisik maupun mental. Jika menghadapi suatu masalah, mereka tidak mampu mengatasinya dengan teguh, sekalipun barangkali memiliki kemampuan untuk menemukan banyak penyelesaian. Singkatnya, pekerjaan-pekerjaan orang-orang yang tidak bersemangat itu biasanya tidak produktif dan tidak membuahkan hasil. Apa pun uzur yang mereka ajukan, sesungguhnya adalah karena mereka tidak memiliki semangat dan kegembiraan atas iman.

Meskipun demikian, perlu diingat bahwa orang-orang yang memiliki penyakit semacam itu membuat kerugian paling besar kepada diri mereka sendiri, karena lepas dari apa pun kerugian yang mereka derita di dunia ini, mereka pun akan mengalami kekecewaan di akhirat kelak. Kemudian mereka akan menyesal, karena tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dimuliakan:

“Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila Kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: ‘Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang Kiamat itu!’, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.” (Q.s. al-An’am: 31).

Di akhirat mereka akan melihat bahwa apa yang mereka kerjakan dahulu secara berpura-pura atau telah mereka hindari seluruhnya telah mendatangkan kerugian kepada mereka. Demikian pula, mereka akan menyaksikan bahwa apa pun yang telah mereka tunaikan tidak berguna, karena mereka dahulu tidak mampu memahami pentingnya mencapai keridhaan Allah dan tidak melakukan amal yang dibutuhkan untuknya. Pendek kata, apa pun yang telah mereka kerjakan akan menjadi sia-sia.

“Dan orang-orang beriman akan mengatakan: ‘Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?’ Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi.” (Q.s. al-Ma’idah: 53).

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (Q.s. Muhammad: 28).

“Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah serta memusuhi rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.” (Q.s. Muhammad: 32).

“Banyak muka pada hari itu tunduk terhina. Bekerja keras lagi kepayahan.” (Q.s. al-Ghasyiyah: 2-3).1

Selanjutnya, pada saat pengadilan nanti orang-orang ini akan menerima kitab catatan amalnya dengan tangan kiri, sekalipun mereka berharap bahwa mereka akan menerimanya dengan tangan kanan. Mereka menyangka bahwa dengan hidup di tengah-tengah orang-orang beriman semasa masih di dunia dahulu, akan mendatangkan keselamatan bagi mereka di akhirat nanti. Meskipun demikian, sebagaimana disebutkan sebelumnya, setiap orang akan diberikan catatan amalnya satu per satu di hadapan Allah. Semangat dan amal saleh dari orang-orang lain tidak akan mendatangkan kebaikan apa pun kepada mereka. Pada hari itu orang-orang yang dahulunya lalai akan berseru kepada orang-orang beriman:

“Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” (Q.s. al-Hadid: 14).

Namun, akan dikatakan kepada mereka:

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (Q.s. al-Isra': 14).

Kemudian mereka akan melihat kenyataan apa yang dahulunya telah mereka peroleh dan menyadari akan semua yang telah mereka abaikan. Selanjutnya, mereka akan mengakui bahwa diri mereka memang pantas mendapatkan balasan yang memang patut untuk mereka terima.

CARA MENGATASI KELOYOAN

Satu-satunya Cara agar Tidak Loyo: Takwa kepada Allah

Seseorang yang memahami bahwa akar dari kelalaian ini (suatu penyakit perilaku yang berbahaya) terletak pada kelemahan iman, hendaknya segera beralih kepada metode-metode yang telah diajarkan di dalam al-Qur’an guna menyembuhkan dirinya sendiri dari penyakit ini. Pertama-tama, ia mesti menyadari bahwa sumber kekuatan yang utama adalah kesadaran terhadap Allah dan mengerahkan upaya-upaya untuk mencapainya. Melalui perenungan yang dalam ia harus berjuang mencapai keimanan yang dalam pula. Ia mesti berdoa kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya, sambil tidak ragu-ragu melakukan apa saja yang dapat memperbaiki keadaannya.

Tidak diragukan, dalam keadaan demikian ini seseorang perlu menggunakan akalnya. Di dalam al-Qur’an, Allah menunjukkan bahwa menggunakan akal adalah cara yang dapat membimbing seseorang untuk menuju ke jalan yang benar. Seseorang mesti memikirkan wujud dan kebesaran Allah, kasih sayang-Nya kepada umat manusia, dan selanjutnya memahami pentingnya berupaya untuk menggapai keridhaan-Nya. Demikian pula, ia mesti memikirkan tujuan ia diciptakan dan bagaimana Allah mengujinya. Ia mesti menyadari bahwa Allah bersamanya dan senantiasa melihat dan mendengarnya. Ia harus senantiasa mengingat bahwa apa pun yang dikerjakannya, entah itu dianggap penting atau sepele, diketahui oleh Allah dan bahwa kelak ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa-apa yang dikerjakannya pada Hari Pengadilan nanti.

Ia juga harus mengingat bahwa kematian sangat dekat dan dapat mendatanginya secara tiba-tiba. Lagi pula, ia mesti memahami kenyataan bahwa hidup di dunia ini singkat saja dan bahwa menyibukkan diri untuk melakukan amal-amal kebajikan agar mendapat surga merupakan hal yang sangat penting.

Ia hendaknya merenungkan betapa indahnya surga dan kesenangan luar biasa dari berbagai macam kenikmatan yang ada di sana, dan berupaya untuk memahami konsep keabadian. Ia hendaknya menyadari bahwa neraka adalah sebuah tempat yang diciptakan hanya untuk memberikan kesengsaraan kepada tubuh dan jiwa manusia; tak ada hal-hal yang baik, menggembirakan dan menyenangkan di sana, dan para penghuninya akan tinggal di sana untuk selama-lamanya. Ia harus menyadari bahwa ia akan dirundung penyesalan yang mendalam setiap saat dalam kehidupan abadinya nanti bila ia tidak mengindahkan peringatan ini dengan serius.

Jika seseorang memikirkan dengan serius, tentulah ia akan sampai pada kesimpulan yang tepat. Ia akan melihat bahwa daripada menemui akhir seperti itu, adalah lebih mudah bila mengikuti suara hatinya dan berpegang teguh kepada agama secara sungguh-sungguh. Dengan begitu, ia akan membuat keputusan yang tepat dan mencurahkan segenap kehidupannya – tidak lebih dari beberapa dasawarsa saja – untuk mencapai keridhaan Allah, kasih sayang dan rahmat-Nya, dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh surga yang dijanjikan oleh Allah.

Merenungkan kemungkinan untuk berada di neraka walau hanya sesaat saja menyebabkan seseorang mengubah tingkah lakunya karena neraka adalah tempat dimana rasa sesal di dunia ini dapat dibandingkan dengan rasa sesal yang dirasakan di sana. Demikian pula, tak ada rasa sakit di dunia ini yang lebih berat daripada rasa sakit di neraka. Dengan membaca ayat-ayat yang berkenaan dengan neraka, dalam rangka memperoleh sebuah pemahaman yang utuh tentangnya sebagai sesuatu yang mesti dihindari adalah cara yang efektif agar menjadi lebih bersemangat.

Setiap orang hendaknya memikirkan fakta-fakta ini dan menyadari bahwa kurangnya semangat adalah hasil dari penyimpangan cara pandang atas dunia ini dan akhirat, dan selanjutnya mulai menyibukkan diri dengan amal-amal saleh sesegera mungkin. Ia harus ingat bahwa kelalaian yang ditunjukkannya dalam menghadapi kejadian-kejadian di seputar dirinya dapat menyebabkannya, pada saat itu, kehilangan kepekaan hati nuraninya secara menyeluruh. Dengan demikian, ia harus segera menghindari kondisi semacam itu:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.s. al-Hadid: 16).

Pada ayat lain Allah juga mengingatkan tentang mengerasnya hati:

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Q.s. al-Baqarah: 74).

Pada ayat di atas Allah telah memberikan sebuah contoh mengenai bebatuan yang darinya muncul air dan bebatuan lainnya yang pecah berantakan karena takut kepada-Nya. Takut kepada Allah, sebagaimana diungkapkan dalam contoh ini, akan membuat orang-orang yang tidak bersemangat menjadi bersemangat, dan membimbing mereka untuk menerapkan nilai-nilai kesalehan sehingga mereka dapat berlomba-lomba dalam kebajikan di jalan Allah.

\\\________
KHATIMAH

Seluruh buku ini telah membahas bagaimana orang-orang beriman dengan sungguh-sungguh menjalani kehidupan berdasarkan prinsip-prinsip agama, bagaimana mereka memperoleh kesenangan dari perjuangan mereka, dan bagaimana mereka akan mendapatkan ganjaran dengan karunia dan kehormatan yang besar di mata Allah. Perhatian dicurahkan pada intensitas, keteguhan, dan keberanian yang ditimbulkan oleh semangat kepada orang-orang beriman. Yang juga berhubungan dengan ini adalah betapa ayat, “…. padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang beriman.” (Q.s. Ali Imran: 139). Merupakan manifestasi bagi mereka yang berjuang dengan ikhlas.

Demikian pula telah digambarkan, kegagalan bagi mereka yang tidak berjuang dengan sungguh-sungguh dan tertinggal di belakang, sekalipun mereka benar-benar mengetahui adanya Allah dan akhirat. Juga dijelaskan kerugian yang akan mereka derita dan besarnya penyesalan yang akan mereka rasakan serta ratapan mereka, “Seandainya aku dahulu termasuk orang-orang yang memeluk agama ini dengan penuh kesungguhan…” Mereka telah diingatkan bahwa mereka dapat saja termasuk orang-orang yang hidupnya sia-sia dan telah diseru agar supaya beriman dengan sepenuh hati sementara mereka masih memiliki waktu. Mereka yang hidup di tengah orang-orang beriman dan membaca al-Qur’an, namun menunjukkan karakter yang berbeda dengan orang-orang beriman telah diserukan agar beriman dengan tulus dan beramal dengan sungguh-sungguh.

Telah diingatkan mengenai kabar gembira, yaitu kasih sayang Allah bagi mereka yang memeluk Islam, sementara bagi mereka yang hidup di tengah-tengah orang-orang beriman dan melihat dari jarak dekat kesempurnaan nilai-nilai al-Qur’an dan agama Allah namun tidak menanggapinya, maka mereka diingatkan agar berhati-hati bahwa kehidupan mereka nantinya akan berakhir dengan kerugian yang amat besar. Sebagaimana firman Allah di dalam al-Qur’an:

“Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.” (Q.s. ash-Shaffat: 73).

Sekali lagi, semua orang yang berakal diingatkan agar supaya mendengarkan suara hati nurani mereka dan bersungguh-sungguh menanggapi panggilan Allah. Ini karena manusia hanya punya kesempatan untuk hidup di dunia ini sekali saja. Dengan demikian, ia hanya akan diuji sekali saja. Begitu maut datang menjemputnya, tidak ada lagi kesempatan kedua.

Kehidupan di dunia ini berlalu “sekejab mata”. Dalam kehidupan sekarang ini bila seseorang mengikuti nuraninya dan mengerahkan daya kehendaknya untuk waktu yang terbatas ini, ia akan menikmati karunia yang dianugerahkan oleh Allah untuk selama-lamanya. Namun bila ia berpaling dari agama yang hak, dan berkata, “Aku lebih suka menuruti hawa nafsuku,” ia akan kehilangan karunia abadi sebagai harga yang harus dibayarnya untuk kehidupan yang singkat dan tidak sempurna ini, dimana hal ini adalah pertukaran yang tidak menguntungkan dan tidak bijaksana.

Satu-satunya hal yang bijak untuk dikerjakan adalah menghentikan obsesi atas kehidupan dunia ini dan mencari pahala untuk akhirat. Karena begitu seseorang bertemu dengan malaikat maut, ia tidak akan punya waktu untuk berpikir atas kesenangan-kesenangan yang dinikmatinya di dunia ini atau pun hal-hal yang dianggapnya begitu penting. Begitu nyawa sampai di tenggorokan, ia tidak akan ingat lagi pada kesenangan-kesenangan yang pernah dirasakannya dalam kehidupan di dunia ini dan hanya akan menghadapi teror Hari Pengadilan.

Meskipun demikian, bila seseorang mencurahkan hidupnya untuk Allah dan dengan penuh gairah memeluk Islam, tidak ada alasan baginya untuk merasa takut terhadap siksaan dan akan mendapatkan kedamaian hati dan pikiran karena catatannya bersih. Dengan tidak merasa takut, pada hari itu ia akan berkata dengan gembira:

“Maka dia berkata: ‘Ambillah, bacalah kitabku ini’.” (Q.s. al-Haqqah: 19).

Sementara sekarang masih ada waktu untuk mendapatkan akhir kehidupan yang penuh karunia, mengapa seseorang malah memilih untuk merasa takut diungkapkannya catatan amalnya kelak dan menderita penyesalan serta siksa yang kekal? Satu-satunya hal yang diperlukan untuk mendapatkan akhir kehidupan yang berbahagia adalah dengan mengikuti hati nurani dan hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an secara tulus dan penuh gairah. Satu-satunya cara untuk mendapatkan kedamaian dan memperoleh kesenangan di dunia ini dalam arti yang sebenarnya adalah dengan cara hidup ini. Jika seseorang lebih suka menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk kepentingan yang sifatnya material, ia akan segera menyadari bahwa ia tidak memperoleh apa-apa darinya.

Itulah sebabnya mengapa buku ini menyeru kepada semua orang untuk menggunakan pertimbangan hati nuraninya. Mereka didorong bukannya untuk menganggap bahwa apa pun amalan yang telah mereka kerjakan sejauh ini sudah cukup untuk dijadikan bekal terbaik di akhirat nanti namun agar supaya terus beramal dengan semangat, kesabaran, dan usaha seperti para nabi. Mereka diseru untuk berlomba-lomba menjadi orang yang paling unggul dalam berpacu mencapai keridhaan Allah, mencapai surga dan kasih sayang yang abadi. Allah memuji mereka yang memeluk Islam dengan penuh semangat dan menjanjikan mereka taman-taman di surga yang dipenuhi dengan berbagai kenikmatan:

“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (Q.s. al-Waqi’ah: 10-4).

RIWAYAT HIDUP ADNAN OKTAR


RIWAYAT HIDUP ADNAN OKTAR
[HARUN YAHYA]
Downlod : Islamic.xtgem.com

Adnan Oktar dikenal sebagai seorang penulis dengan nama pena �Harun Yahya�. Beliau adalah seorang �alim yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk berdakwah tentang keberadaan dan keesaan Allah dan keluhuran akhlaq Al Qur�an kepada masyarakat. Berawal ketika masih duduk di bangku universitas, beliau telah menggunakan setiap saat dalam hidupnya demi dakwah ini dan tidak pernah takut berhadapan dengan segala kesulitan yang merintangi jalan. Hingga kini, beliau tetap berdiri kokoh, tegar dan sabar dalam menghadapi segala tekanan dan fitnahan. Di bawah ini adalah sedikit dari perjalanan hidup Adnan Oktar, yan g juga dikenal dengan nama pena Harun Yahya.
Adnan Oktar dilahirkan pada tahun 1956 di Ankara dan dibesarkan di kota ini hingga lulus SMU. Komitment beliau terhadap Islam tumbuh semakin kuat ketika beliau duduk di bangku SMU. Pada periode ini, pengetahuan yang mendalam tentang Islam beliau dapatkan dari membaca berbagai buku-buku agama. Di samping itu, beliau juga memperoleh pemahaman tentang fakta-fakta penting lain yang kemudian beliau beritahukan kepada orang-orang di sekitarnya. Pada tahun 1979, Adnan Oktar pindah ke Istanbul untuk menuntut ilmu di Universitas Mimar Sinan. Di masa inilah beliau mulai melaksanakan misi dakwah, menyeru manusia kepada akhlaq yang baik dan memerintahkan yang ma�ruf dan mencegah yang munkar.

Masa-masa di Universitas Mimar Sinan

Sejak sebelum Adnan Oktar memulai kuliah di Universitas Mimar Sinan, Istanbul, institusi pendidikan tersebut telah berada di bawah pengaruh berbagai organisasi ilegal berhaluan Marxisme, sehingga pemikiran kekirian tampak jelas mendominasi kampus. Setiap orang, apakah ia staf di sebuah fakultas ataupun mahasiswa, adalah sosok materialis yang berpola pikir atheis. Sungguh, para staf pengajar mengambil setiap kesempatan yang ada untuk menyebarkan filsafat materialistik dan Darwinisme dalam kuliah-kuliah yang mereka berikan kendatipun dua hal ini tidak ada hubungannya dengan topik kuliah mereka. Dalam lingkungan dimana ajaran agama dan akhlaq tidak dipedulikan dan sama sekali ditolak, Adnan Oktar menyeru orang-orang di sekitar beliau kepada keesaan dan keberadaan Allah. Sebagaimana mungkin telah dimaklumi, dalam kondisi demikian, Islam tidak diberi kesempatan untuk tumbuh berkembang. Ibu beliau, Ny. Mediha Oktar, menuturkan bahwa pada masa itu beliau hanya tidur beberapa jam saja di malam hari, sebagian besar sisa waktu beliau gunakan untuk membaca, membuat catatan dan menyimpan kumpulan catatan tersebut. Beliau membaca ratusan buku, termasuk karya-karya pokok tentang Marxisme, komunisme dan filsafat materialistik, dan mempelajari buku-buku ideologi kiri, termasuk karya-karya klasik ataupun literatur-literatur lain yang jarang dibaca orang. Beliau meneliti karya-karya tersebut, menandai bagian-bagian penting dan membuat catatan-catatan di bagian belakang buku tersebut. Hal ini membuat beliau sangat tahu tentang filsafat-filsafat serta ideologi-ideologi tersebut, jauh lebih tahu dibandingkan para pendukung ideologi itu sendiri. Beliau juga melakukan riset yang mendalam tentang teori evolusi yang dianggap sebagai landasan ilmiah dari ideologi-ideologi tersebut dan mengumpulkan berbagai dokumen dan informasi yang berhubungan dengannya. Setelah mengumpulkan informasi yang berlimpah tentang berbagai kebuntuan, kontradiksi dan kebohongan yang terdapat dalam filsafat dan ideologi yang didasarkan atas pengingkaran terhadap Allah ini; tanpa membuang-buang waktu lagi, Adnan Oktar menggunakan informasi tersebut untuk menyebarkan fakta-fakta yang ada. Hampir ke setiap orang, termasuk para mahasiswa dan staf pengajar di universitas, beliau mendakwahkan keberadaan dan keesaan Allah, serta Al Qur�an, Kitab Suci yang diwahyukan Allah, dengan menggunakan bukti-bukti saintifik. Di tengah-tengah pembicaraan di kantin kampus, di koridor-koridor di saat jam istirahat, seseorang dapat melihat beliau sedang menjelaskan kelemahan dan kesalahan filsafat materialistik dan Marxisme dengan mengambil cuplikan dari buku-buku yang menjadi referensi dari ideologi itu sendiri. Beliau memberikan perhatian khusus kepada teori evolusi. Teori yang dimunculkan oleh kelompok tertentu untuk melawan fakta penciptaan ini diyakini sebagai sesuatu yang benar oleh para mahasiswa universitas secara luas. Dengan menggunakan kedok sains, teori tersebut sebenarnya bertujuan untuk meracuni dan menghancurkan akidah dan akhlaq dari para pemuda tersebut. Seandainya makar jahat dari kebohongan ilmiah ini tidak dibongkar, maka akan muncul generasi penerus yang sama sekali tidak memiliki nilai-nilai spiritual, moral dan religius.

Karya Pertama Tentang Teori Evolusi

Adnan Oktar memusatkan usahanya dalam membuktikan kebohongan serta ancaman yang terselubung dari teori evolusi tersebut. Karena teori evolusi disebarkan dengan jalur ilmiah, beliau berpendapat bahwa sains merupakan sarana yang paling tepat untuk membongkar kepalsuan dari dasar berpijak teori buatan ini. Beliau mempersiapkan sebuah buku berjudul �Teori Evolusi�, sebuah rangkuman dari penelitian dan pengkajian beliau yang dalam tentang teori evolusi. Beliau menanggung sendiri semua biaya yang dikeluarkan untuk pencetakan dan penggandaan buku tersebut dari uang hasi penjualan beberapa harta warisan yang beliau terima dari keluarganya. Kemudian beliau membagi-bagikan buku-buku tersebut secara gratis kepada para mahasiswa dan mendiskusikannya dengan siapapun yang ditemuinya. Buku ini memuat ulasan yang sangat lengkap yang membuktikan bahwa teori evolusi adalah sebuah kebohongan yang tidak logis dan tidak memiliki nilai ilmiah sama sekali. Setiap orang yang berdiskusi dengan beliau dapat dengan jelas memahami bahwa teori evolusi tidak memiliki kebenaran ilmiah sedikitpun. Sehingga seseorang dapat dengan mudah memahami fakta bahwa tak satu makhluk hidup pun yang dapat muncul di dunia ini secara kebetulan kecuali dengan kehendak Allah. Namun sebagian mahasiswa yang taklid secara buta terhadap pemikiran materialisme, kendatipun telah mengetahui kebenaran, secara terang-terangan menyatakan pengingkaran mereka. Beberapa diantara mereka sampai berani mengatakan: �Bahkan seandainya saya melihat Allah dengan mata kepala saya sendiri, saya akan tetap berperang melawan-Nya.� Lebih dari itu, beberapa mahasiswa militan di universitas tersebut secara terang-terangan mengancam Adnan Oktar dengan mengatakan bahwa nyawa beliau dalam bahaya jika beliau tidak mau berhenti dari aktifitasnya. Namun semua tekanan dan ancaman ini hanyalah membuat tekad Adnan Oktar semakin kuat dan kokoh. Reaksi yang keras dan kekhawatiran dari kaum materialis dan atheis adalah bukti yang nyata bahwa Adnan Oktar berada pada pihak yang benar. Di universitas yang didominasi oleh kaum Marxis, dimana sering terjadi perbuatan anarki, setiap hari puluhan orang mati terbunuh. Dalam kondisi yang demikian, beliau secara terbuka mendakwahkan tentang keberadaan dan keesaan Allah serta kemuliaan Al Qur�an. Di sebuah institusi pendidikan dimana orang-orang menyembunyikan keimanan mereka, beliau secara rutin datang ke masjid Molla dan melakukan sholat tanpa mengindahkan semua tanggapan dan ancaman yang ditujukan kepadanya.

Ketakutan Staf Pengajar Atheis

Adnan Oktar selalu menghadiri kuliah-kuliah dengan membawa dokumen-dokumen saintifik serta kumpulan riset-risetnya dan melakukan diskusi dengan para staf pengajar mengenai filsafat materialistik dan teori evolusi. Pada saat itu, ada dua orang staf pengajar yang tak henti-hentinya berbicara tentang evolusi dan melakukan propaganda atheisme. Karenanya, dua orang ini menjadi populer dan dihormati di kalangan para mahasiswa Marxis. Namun ketidakbecusan dalam mempertahankan pendapat mereka dalam diskusi-diskusi mereka dengan Adnan Oktar, ditambah dengan jawaban-jawaban yang tidak logis yang mereka berikan telah secara gamblang memperlihatkan kegagalan dan kepalsuan dari teori-teori yang mereka ajarkan kepada para mahasiswa.

Suatu hari setelah kuliah, satu dari staf pengajar ini melakukan diskusi singkat namun cukup mengena dengan Adnan Oktar mengenai kebuntuan teori evolusi. Pengajar ini tidak mampu memberikan penjelasan dan jawaban yang masuk akal atas dokumen-dokumen saintifik dan penjelasan logis yang diberikan Adnan Oktar. Segala yang ia dapat lakukan adalah tergopoh-gopoh meninggalkan tempat itu. Kekalahannya dalam berdiskusi di hadapan mata para mahasiswa membuatnya sangat terpukul. Semenjak itu, staf pengajar yang biasanya membuat pembicaraan filsafat yang �serius� dan panjang dengan para mahasiswanya di koridor-koridor setelah kuliah kini terlihat tergesa-gesa untuk menuju kantornya agar tidak bertemu dengan Adnan Oktar. Sebagian besar dari para mahasiswa Universitas Mimar Sinan pada masa itu mengetahui tentang hal ini.

Seorang Diri Selama Tiga Tahun

Ketika pertama kali mendakwahkan Islam di Universita Mimar Sinan, Adnan Oktar hanyalah seorang diri. Selama lebih dari tiga tahun, tak seorang pun yang menerima dakwah beliau. Orang-orang yang memiliki keyakinan yang sama dan mendukung beliau secara penuh belum nampak ataupun menyertai beliau dalam periode tersebut. Namun kurangnya dukungan tidak merubah komitmen beliau. Beliau sadar bahwa Allah adalah satu-satunya Penolong dan beliau melakukan ini semua demi mendapatkan keridhaan Allah. Kadang ada beberapa pemuda yang mendengarkan dan setuju dengan ide beliau. Namun ini hanyalah sebatas ketertarikan yang tidak pernah berkembang menjadi dukungan penuh. Tiga tahun telah berlalu di Universitas Mimar Sinan dan dalam jangka waktu tersebut, Adnan Oktar berusaha untuk menemukan orang-orang yang dapat memahami keberadaan Allah. Ini adalah periode dimana beliau melakukan sebuah perjuangan ideologi melawan Marxisme dan atheisme seorang diri dengan sarana yang beliau miliki. Lama kelamaan para tokoh Marxis di kampus mulai menghindari beliau. Merasa tak mampu membantah argumentasi saintifiknya tentang teori evolusi dan Marxisme, mereka tak dapat melakukan apa-apa lagi kecuali mencemooh dan mengkritik jenggot, pakaian serta cara hidup beliau.

Para Pendukung Beliau Yang Pertama

Adnan Oktar memperoleh nilai yang tinggi dalam tes masuk Universitas Mimar Sinan. Beliau memiliki kemampuan yang mengagumkan dalam bidang seni lukis. Beliau dapat saja dengan mudah mengambil jurusan seni rupa dan mencapai karir hingga puncaknya. Beliau mungkin saja berpikir, �Pertama-tama biarlah saya mencapai apa yang saya cita-citakan dan setelah itu baru saya akan mendakwahkan Islam�; namun beliau tidak melakukannya. Beliau menghabiskan seluruh waktu, energi dan sarana yang ada untuk tujuan yang satu. Ketiadaan pendukung selama tahun-tahun ini sebenarnya dapat saja mendorong Adnan Oktar untuk berpikir bahwa segala usahanya telah sia-sia dan lebih baik berhenti. Namun beliau tidaklah demikian. Berbekal tekad dan komitmen, beliau terus berdakwah menyebarkan kalimat Allah kepada orang-orang di sekitar beliau dengan senantiasa mengingat perkataan Bediuzzaman Said Nursi, �Yang dibutuhkan bukanlah keahlian dalam mengumpulkan jumlah pendengar yang banyak, akan tetapi bagaimana untuk mendapatkan keridhaan Allah�. Akhirnya di tahun 1982, untuk pertama kali, beberapa mahasiswa baru Universitas Mimar Sinan memutuskan untuk mendukung Adnan Oktar dalam dakwahnya. Seiring dengan bergantinya bulan dan tahun, jumlah para pemuda yang sependapat dengan beliau bertambah. Keajaiban dalam ciptaan Allah, kepalsuan pandangan-pandangan golongan Marxis yang merupakan ideologi dominan waktu itu adalah tema utama dari pembicaraan Adnan Oktar dengan para pemuda ini. Ambisi utama beliau adalah untuk mengarahkan para pemuda tersebut agar menjadi orang-orang yang terhormat. Dari tahun 1982 hingga 1984, sebuah kelompok yang beranggotakan sekitar 20-30 orang telah terbentuk. Pada tahun 1984, beberapa pemuda yang merupakan anak dari kalangan keluarga terhormat di Istanbul diperkenalkan kepada beliau. Mereka berasal dari keluarga yang dikenal, memiliki kedudukan serta status ekonomi yang tinggi dalam masyarakat. Selama berdiskusi dengan Adnan Oktar, para pemuda ini memahami secara menyeluruh pentingnya nilai-nilai akhlaq dan mulai merubah pola hidup mereka. Ketaatan mereka terhadap akhlaq Islam sungguh membuat takjub masyarakat di sekitar mereka tinggal. Selama dua tahun setelah tahun 1984, pembicaraan yang diadakan bersama dengan para pemuda yang waktu itu masih duduk di bangku sekolah menengah tingkat atas swasta di Istanbul berkisar masalah akhlaq. Selama tahun-tahun ini, Adnan Oktar tidak lagi belajar di universitas Mimar Sinan. Beliau terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah fakultas baru di Universitas Istanbul, jurusan Filsafat. Para pemuda yang bertemu Adnan Oktar sangatlah bersimpati kepada beliau dan sangat kagum atas perilaku, pandangan dan sikap beliau yang santun. Oleh karena para pemuda ini juga memperkenalkan beliau kepada teman-teman mereka, sejumlah besar siswa sekolah menengah tingkat atas berkesempatan untuk bertemu dengan beliau. Nama beliau muncul untuk pertama kali di majalah Nokta (Titik) pada tahun 1986 dan ini adalah kali pertama beliau dikenal masyarakat luas.

Kemunculan di Media Masa

Ihwal tentang Adnan Oktar muncul sebagai berita utama pada majalah Nokta setelah kunjungan Rusen Cakir, seorang koresponden majalah tersebut, ke sebuah masjid dimana Adnan Oktar melakukan pertemuan dan diskusi dengan para rekannya. Laporan yang di muat dengan judul �Pendukung setia dari kampus� ini berkisah tentang Adnan Oktar dan cara beliau mengkomunikasikan pesan-pesan Islam kepada para pemuda di sekelilingnya. Selama periode ini, banyak para mahasiswa universitas, kebanyakan dari Universitas Bosphorus yang merupakan salah satu universitas paling ternama di Turki, mulai berdatangan dan ikut berdiskusi dengan Adnan Oktar. Hingga awal musim panas di tahun yang sama, pihak media masa memuat laporan tentang Adnan Oktar hampir setiap hari. Banyak surat kabar yang menampilkan nama beliau dalam judul laporan utama. Keberhasilah Adnan Oktar dalam mendakwahkan pesan-pesan Islam kepada lapisan masyarakat yang terkesan paling jauh dari agama sungguh mengejutkan kalangan media masa.

Yahudi dan Freemasonry

Ketika itu, karya Adnan Oktar tentang Yahudi dan freemasonry sebentar lagi akan diterbitkan. Adnan Oktar memusatkan kerja kerasnya untuk masalah yang satu ini mengingat dalam Al Qur�an Allah memalingkan perhatian kita kepada kaum Yahudi, salah satu musuh terbesar kaum mukmin. Dari penelitiannya, Oktar sampai pada kesimpulan bahwa aktifitas Zionisme di negara Turki dilakukan oleh freemasonry, sebuah kelompok rahasia. Ada pengaruh yang terselubung namun meluas dari freemasonry pada kantor-kantor pemerintah, lembaga-lembaga pendidikan tinggi, organisasi-organisasi politik dan media masa. Misi utama mereka adalah untuk secara bertahap menjauhkan bangsa Turki dari nilai-nilai spiritual, religius dan moral dan menjadikan mereka seperti binatang sebagaimana yang tercantum dalam Taurat yang sudah diubah-ubah. Untuk mencapai tujuan ini, pandangan para materialis, teori evolusi dan pola hidup yang amoral dan bertentangan dengan agama disebarluaskan kepada masyarakat. Para anggota freemasonry di semua lembaga pemerintahan, media masa dan institusi pendidikan memegang kendali utama dalam melaksanakan indoktrinasi ini secara besar-besaran. Inilah yang menyebabkan Adnan Oktar memusatkan perhatiannya kepada masalah tersebut. Dengan melalui rintangan yang sangat berat, akhirnya beliau berhasil mendapatkan publikasi-publikasi yang asli dari kaum freemasonry yang sebenarnya dikhususkan untuk kalangan mereka sendiri. Buku Yahudi dan Freemasonry diterbitkan pada periode ini dan merupakan sebuah hasil dari penelitian yang mendalam dan terinci yang dilakukan terhadap literatur-literatur asli freemasonry selama bertahun-tahun. Penerbitan buku Yahudi dan freemasonry waktu itu menjadi titik kulminasi bagi Adnan Oktar. Masyarakat luas mendapatkan akses ke �dalam� freemasonry, sebuah organisasi yang melakukan aktifitasnya secara rahasia. Buku ini membeberkan daftar anggota kuil-kuil Freemason, jabatan tiap-tiap anggota dalam organisasi tersebut, daftar orang-orang Freemason yang duduk dalam pemerintahan, berbagai perusahaan dan institusi Freemason, aktifitas-aktifitas mereka, kekuatan ekonomi dan politik yang dipegang oleh Freemason. Sumber utama dari segala informasi ini adalah publikasi asli dari Freemason. Pendek kata, buku ini membongkar wajah gelap dari freemasonry, yakni sebuah kelompok rahasia yang memiliki hubungan akrab dengan Zionisme. Dalam buku tersebut, para pembaca dapat mengetahui tentang aktifitas Freemason yang memiliki keterkaitan erat dengan cita-cita kaum Zionis, struktur organisasi dan hirarki dari freemasonry, simbol-simbol dan acara-acara ritual, hubungan antara freemasonry dan agama Yahudi, kitab Taurat yang telah dirubah dan tradisi Kabbalah.

Kelompok Freemasonry Mulai Menyerang

Terbongkarnya bagian paling rahasia dari para freemasonry di hadapan umum tentunya tidak disukai oleh para anggota organisasi terselubung ini. Di lain pihak, sebagian keluarga-keluarga elit merasa terganggu dikarenakan anak-anak mereka mulai merubah gaya hidup mereka dan mulai melaksanakan kewajiban-kewajiban agama. Pada intinya, dua faktor inilah yang mendorong kaum Freemason berupaya untuk menghentikan aktifitas Adnan Oktar.

Mulanya, melalui �mediators� atau �pihak ketiga� mereka menawarkan sejumlah besar uang kepada Adnan Oktar agar mau menghentikan penerbitan buku Yahudi dan Freemasonry. Setelah mendapatkan jawaban �tidak�, mereka mulai mengancam beliau. Setelah cara yang kedua ini pun gagal, mereka lalu menahan Adnan Oktar dengan tuduhan melakukan tindak kriminal yang beliau sendiri tidak pernah mengetahuinya. Berita yang beredar kemudian mengatakan bahwa alasan beliau ditahan adalah karena perkataan beliau: �Saya berasal dari suku bangsa Ibrahim dan Turki� dalam wawancara yang dimuat di sebuah surat kabar. Di saat yang bersamaan, laporan palsu, berita yang tidak ada buktinya dan fitnah terhadap beliau mulai bermunculan di media masa. Sudah pasti bahwa kelompok freemasonry menganggap beliau sebagai ancaman yang serius bagi eksistensi mereka. Sebelum segala sesuatunya terlambat, mereka mengambil inisiatif untuk menghentikan aktifitasnya.

Siksaan di Rumah Sakit Jiwa

Adnan Oktar dikurung di ruangan bersama para pasien penyakit jiwa yang berbahaya. Rekan-rekannya hanya diperbolehkan menjenguknya 5 � 10 menit di balik jeruji besi. Beliau seringkali mengingatkan kepada para penjenguknya, �Janganlah khawatir, Allah bersama kita.�

Adnan Oktar dikurung di ruangan bersama para pasien penyakit jiwa yang berbahaya. Rekan-rekannya hanya diperbolehkan menjenguknya 5 � 10 menit di balik jeruji besi. Beliau seringkali mengingatkan kepada para penjenguknya, �Janganlah khawatir, Allah bersama kita.�

Adnan Oktar mula-mula ditahan dan ditempatkan dalam sebuah penjara. Lalu, beliau dipindahkan ke rumah sakit jiwa Bakirk�y dan ditempatkan di bawah pengawasan dengan alasan yang dibuat-buat, yakni bahwa secara mental beliau tidak sehat. Dalam rumah sakit tersebut beiau di tempatkan di ruang 14A, sebuah bagian khusus tempat tinggal pasien-pasien yang sangat berbahaya dan orang-orang yang kebal hukuman. Pembunuhan adalah kejadian biasa bagi para pasien sakit jiwa ini, sehingga Oktar diperkirakan akan menjadi korban dari salah seorang di antara mereka. Untuk beberapa lama kaki beliau dirantai ke sebuah tempat tidur dan beliau diperlakukan secara biadab. Secara paksa, beliau diberi obat yang mengganggu kesadarannya. Di sisi lain, para sahabat beliau yang masih muda yang secara diam-diam berhasil menjenguk dan melihatnya menyaksikan bahwa beliau tidak pernah kehilangan komitmen dan semangat selama berada di rumah sakit tersebut. Segala sesuatu yang beliau alami justru meningkatkan komitmennya. Ekspresi wajah beliau yang terlihat dalam foto yang diambil di depan jendela jeruji merupakan indikasi yang terang bahwa Adnan Oktar bertekad untuk meneruskan perjuangannya. Oktar dimasukkan dalam penjara dan rumah sakit jiwa secara keseluruhan selama 19 bulan untuk kemudian dinyatakan terbukti tidak bersalah dan dibebaskan oleh pengadilan karena pernyataanya terbukti tidak bersifat ofensif. Setelah dibebaskan, beliau melihat bahwa selama berada di rumah sakit jiwa, jumlah pendukung dari kalangan muda meningkat pesat. Sebagian dari mereka melihat beliau untuk pertama kali di rumah sakit tersebut. Karena ada larangan mengunjungi beliau, mereka hanya dapat melihatnya dibelakang jeruji besi rumah sakit. Pembicaraan yang berlangsung beberapa menit yang mereka lakukan dengan Adnan Oktar di belakang jeruji besi ini -seseorang hanya dapat pergi ke tempat tersebut dengan memanjat pagar rumah sakit- membuat para pemuda ini memiliki rasa kecintaan dan hormat yang mendalam terhadapnya.

Teori Evolusi

Semenjak tahun 1979, yakni ketika Adnan Oktar mulai mendakwahkan Islam, tujuan beliau yang utama adalah membongkar wajah asli dari teori evolusi. Teori evolusi selalu menjadi topik yang memiliki prioritas di atas yang lain. Dengan kebulatan tekad, beliau melakukan aktifitas-aktifitasnya melawan Darwinisme. Pada tahun 1986, beliau mengumpulkan semua hasil risetnya yang berharga mengenai Darwinisme dalam buku: �Makhluk Hidup dan Evolusi�. Dengan menggunakan sumber-sumber ilmiah, buku ini membeberkan kebuntuan teori evolusi dan menyodorkan fakta penciptaan. Selama bertahun-tahun, buku tersebut dijadikan rujukan utama anti-Darwinisme. Dalam tahun-tahun tersebut, para pendukung Adnan Oktar juga memusatkan pekerjaan mereka dalam masalah ini. Mereka mengerahkan segala upaya untuk memberitahukan kepada orang-orang tentang kebohongan teori evolusi. Di kampus-kampus dan sekolah-sekolah, penjelasan ilmiah tentang kebohongan teori Darwin disebar luaskan kepada para pelajar. Hal ini merupakan kejutan besar bagi staf pengajar senior yang meyakini secara buta ajaran Darwinisme. Ini adalah kali pertama dalam hidup mereka menjumpai mahasiswa-mahasiswa yang tahu banyak tentang teori evolusi. Yang membuat mereka terkejut, ternyata para pemuda ini mengetahui teori tersebut lebih banyak dari mereka sendiri dan mempertahankan teori penciptaan dengan argumen-argumen yang meyakinkan. Di beberapa universitas, diselenggarakan konferensi tentang teori evolusi. Para mahasiswa dan staff pengajar yang atheis yang antusias mengikuti konferensi ini merasa kecewa dan terkejut dengan bukti-bukti ilmiah yang dibeberkan dalam konferensi tersebut. Berita bahwa teori evolusi ternyata tidak terbukti secara ilmiah bahkan tersebar di berbagai pameran buku, pusat-pusat kebudayaan hingga di kendaraan-kendaraan umum. Ini hanyalah pembukaan dari kampanye yang sedianya akan diadakan pada tahun 1998. Tujuan kampanye tersebut sangatlah jelas: untuk menghapus teori evolusi dan materialisme dari sejarah.

Komunitas Baru

Hingga saat Adnan Oktar dibebaskan pada tahun 1988, kebanyakan dari teman-teman beliau telah berada di bangku Universitas. Usaha Adnan Oktar untuk menyebarkan pesan-pesan Islam dan nilai-nilai moral tidak lagi terbatas di sekolah-sekolah. Saat itu adalah kali pertama ketika berbagai lapisan masyarakat menerima pandangan-pandangan tersebut. Adnan Oktar dan teman-temannya memikul tanggung jawab untuk mengingatkan para generasi muda yang tidak memiliki tujuan hidup kecuali menikmati hidup mereka sepuas-puasnya, bahwa mereka akan dimintai pertanggung jawaban atas segala yang mereka perbuat dan pikirkan dan bahwa mereka pada akhirnya akan dihisab di hadapan Allah. Oleh karena itu mereka menasehati para pemuda ini agar merubah sikap dan perilaku hidup mereka dengan mengarahkan diri mereka sesuai dengan kehendak Allah. Sungguh, beberapa dari mereka yang telah terjerumus dalam kehidupan yang penuh kenistaan meninggalkan cara hidup yang merugikan ini dan berubah menjadi orang-orang yang sadar dan penuh rasa tanggung jawab. Sadar bahwa seseorang tidak akan pernah memperbaiki perilakunya sebagaimana ajaran Islam tanpa keikhlasan, Adnan Oktar menasehati para pemuda yang mengelilinginya agar menjadikan keridhaan Allah sebagai tujuan utama hidup mereka. Beliau selalu berpesan bahwa setiap orang akan dihisab di hadapan Allah dan oleh karenanya mereka hendaknya berperilaku sebaik mungkin dalam kondisi apapun.

Lembaga Riset Sains

Dua tahun setelah beliau dibebaskan pada tahun 1988, Adnan Oktar meletakkan landasan ideologi dari Lembaga Riset Sains (Science Research Foundation, SRF) yang didirikan pada tahun 1990. Beliau menyelenggarakan diskusi-diskusi tenta ng nilai-nilai moral dengan rekan-rekan beliau yang memiliki pandangan yang sama. Pada masa inilah pijakan intelektual dari SRF dibentuk dengan masukan-masukan dari Adnan Oktar. Akhirnya, pada bulan Januari 1990, Adnan Oktar dan rekan-rekan mudanya mendirikan SRF untuk melaksanakan aktifitas mereka melalui sebuah institusi dan agar dapat menjangkau masyarakat luas. Lembaga ini memungkinkan diselenggarakannya beberapa aktifitas; anggota lembaga tersebut menerbitkan buku-buku dan melakukan kajian kultural, menyelenggarakan berbagai panel, diskusi dan konferensi untuk mempertahankan dan menghidupkan nilai-nilai moral. Setelah pendirian lembaga tersebut, sebuah penggerebekan besar dilakukan oleh polisi terhadap sekitar 100 orang yang sedang menghadiri pertemuan rutin. Lebih dari seratus anggota ditahan dan diinterogasi oleh polisi. Di hari berikutnya, beberapa media masa milik freemasonry memberitakan kisah penggerebekan ini sebagaimana sebuah sindikat kejahatan besar telah tertangkap. Sebagian besar dari anggota tersebut dibebaskan setelah 3-4 jam. Namun berita bohong dan tuduhan keji yang diberondongkan oleh media mas a berlangsung selama beberapa hari. Kalangan pers menulis skenario yang tidak masuk akan tentang Adnan Oktar dan para anggota SRF. Tujuan utama pemberitaan yang subyektif ini adalah untuk membohongi pihak keamanan dan institusi peradilah dengan berbagai tuduhan yang dibuat-buat. Namun segala upaya ini sia-sia belaka. Adnan Oktar yang ditahan dan diinterogasi selama seminggu akhirnya dibebaskan karena tidak ditemukannya elemen kejahatan dalam peristiwa tersebut. Ini adalah bukti nyata bahwa kelompok yang sama melakukan ini semua sebagai cara untuk memberikan peringatan keras.

Makar Kokain

Sejumlah tuduhan dan makar telah dilakukan terhadap Adnan Oktar karena keyakinan dan aktifitas dakwahnya. Beliau telah ditahan berulang kali, dipenjara selama berbulan-bulan, akan tetapi pada akhirnya senantiasa dinyatakan tidak bersalah. Gambar ini memperlihatkan beliau sedang dibawa ke pengadilan oleh petugas keamanan.

Selama tahun 1990, aktifitas SRF terus berjalan dengan tekad yang lebih kuat. Di pertengahan tahun 1991, dua orang anggota Lembaga melangsungkan pernikahan secara resmi. Akan tetapi keluarga dari kedua mempelai melakukan gugatan terhadap pernikahan tersebut. Anehnya Adnan Oktar lah yang disalahkan atas terjadinya pernikahan yang wajar tersebut, yang tidak mengandung satu unsur pun yang tidak sah. Alasan tersebut mengakibatkan Adnan Oktar ditahan lagi. Namun kali ini keberadaan makar yang terselubung sangatlah terlihat. Para petugas yang menggerebek rumah Adnan Oktar di Ortak�y dimana beliau tinggal dengan ibunya menemukan satu paket kokain yang terselip dalam sebuah buku. Terdapat sekitar seribu buku dalam rak-rak yang menutupi dua tembok rumahnya, dan para petugas tersebut menemukan kokain dalam waktu beberapa menit saja seolah-olah mereka lah yang baru saja menaruh kokain di tempat itu. Segera setelah kejadian ini Adnan Oktar yang saat itu berada di Izmir dengan beberapa rekan beliau ditahan. Beliau kemudian dipindahkan ke Markas Besar Keamanan, Istanbul, dan ditahan selama 62 jam. Setelah itu, beliau dikirim ke Lembaga Kedokteran Forensik (Forensic Medicine Institution) untuk menjalani test kokain. Hasil test tersebut sungguh sangat mengejutkan! Dosis tinggi dari produk metabolisme kokain terdeteksi dalam darah beliau! Tetapi setelah beberapa lama, bukti-bukti menunjukkan bahwa ini adalah sebuah makar. Pertama-tama, kokain yang dianggap telah ditemukan di rumah Adnan Oktar ternyata bagian dari makar tersebut. Beberapa saat sebelum makar ini dilakukan, Adnan Oktar memperoleh firasat bahwa ada rencana jahat yang sedang ditujukan terhadapnya sehingga beliau meninggalkan rumahnya di Ortak�y, Istanbul. Lalu beliau menelpon ibunya dan mengatakan bahwa kemungkinan besar sebuah makar jahat sedang dilakukan terhadapnya. Lalu beliau meminta bantuan ibunya untuk membersihkan dan mengecek rumah secara menyeluruh dengan bantuan beberapa orang lain agar nantinya mereka dapat menjadi saksi. Ibu Adnan Oktar, Ny. Mediha Oktar lalu memanggil salah seorang tetangga dan penjaga rumah dan mereka bersama-sama membersihkan rumah secara keseluruhan, membersihkan debu yang menempel pada buku-buku di atas rak-rak satu per satu. Kendatipun Adnan Oktar tidak pernah pulang ke rumah setelah pembersihan ini, 16 petugas polisi yang menggerebek rumah tersebut dengan tiba-tiba menemukan �satu paket kokain� dalam sebuah buku. Tetangga Ny. Mediha Oktar dan penjaga pintu memberikan kesaksian pribadi mereka di hadapan umum dengan mengatakan bahwa, �Kami sebelumnya telah membersihkan seluruh buku-buku Adnan Oktar satu demi satu; dan tidak ada satu paket semacam itu di tempat tersebut.�

Bagian kedua dari makar kokain tersebut adalah adanya produk metabolisme kokain yang terdeteksi dalam darah Adnan Oktar. Bukti-bukti ilmiah dan pengadilan membantah tuduhan ini. Adnan Oktar berada di Markas Besar Keamanan selama 62 jam dan tes kokain dilakukan setelah 62 jam tersebut. Dengan mengetahui kadar produk metabolisme kokain dalam darah beliau, seseorang dapat menghitung secara pasti kadar kokain yang masuk dalam tubuh. Di samping itu, hasil penghitungan ini dapat menunjukkan berapa jam yang lalu kokain tersebut dikonsumsi. Dosis kokain yang terdeteksi dalam darah Adnan Oktar ternyata berada pada level yang mematikan jika ditelan 62 jam yang lalu. Dengan kata lain, dosis kokain yang sedemikian tinggi akan membunuh beliau jika beliau menelannya 62 jam yang lalu. Temuan ini dengan jelas membuktikan bahwa kokain yang terdeteksi dalam darah Adnan Oktar memasuki tubuhnya dalam kurun waktu 62 jam tersebut. Beliau diberi kokain selama beliau ditahan di Markas Besar tersebut. Kokain tersebut dicampurkan dalam makanan beliau ketika sedang dalam penahanan polisi. Kebenaran temuan ini juga dikonfirmasi oleh 30 lembaga kedokteran forensik internasional termasuk Scotland Yard. Mereka semua memeriksa berkas yang dikirimkan kepada mereka yang berisi tentang kasus ini. Kesimpulan hasil pemeriksaan mereka adalah: �Kokain tersebut telah dicampurkan ke dalam makanannya ketika beliau berada dalam penahanan polisi. Peristiwa ini adalah sebuah makar. Kemudian, Lembaga Kedokteran Forensik Turki juga menkonfirmasi bahwa kokain telah dicampurkan ke dalam makanan ketika beliau sedang dalam penahanan polisi. Adnan Oktar pun dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan. Kendatipun demikian, makar kokain ini memberikan sebuah fakta penting: ada kelompok jahat yang memiliki rasa permusuhan yang sangat mendalam terhadap Adnan Oktar dan, oleh karenanya, menghalalkan segala cara untuk menghalangi aktifitas beliau. Adnan Oktar mengumumkan bahwa pihaknya tengah mempersiapkan sebuah buku baru tentang freemasonry yang akan membongkar strategi rahasia mereka di Turki. Telah terbukti bahwa pusat-pusat Masonik (sebutan lain dari freemasonry), yang sebelumnya telah melakukan intimidasi terhadap Oktar melalui penahanan dan tekanan, berada di balik makar kokain tersebut.

Peran Media Masa dalam Mendukung Makar Kokain

Melalui makar kokain tersebut terdapat niat busuk dari organisasi gelap freemasonry, yakni agar Adnan Oktar mendekam dalam penjara selama bertahun-tahun terlepas adanya fakta yang menunjukkan bahwa Adnan Oktar tidak pernah melakukan satu tindak kejahatan pun. Maksud jahat yang lain adalah untuk menunjukkan bahwa beliau adalah seorang pencandu obat terlarang sehingga hal ini akan menjatuhkan kehormatan beliau di depan publik. Sungguh, tindakan beberapa media masa yang dikuasai oleh Freemason yang melakukan kampanye penghinaan terhadap beliau merupakan bentuk nyata dukungan yang mereka berikan terhadap Freemason. Beberapa surat kabar menuliskan kata-kata penghinaan dengan huruf yang berukuran besar sebagai judul artikel utama. Tujuan utama mereka adalah untuk menghentikan segala aktifitas orang-orang yang memiliki komitmen dalam menyebarkan kalimat Allah dan akhlaq yang mulia. Perjuangan Adnan Oktar berada pada posisi berhadap-hadapan dengan cita-cita mereka, dan mereka menggunakan cara yang keji ini untuk mendirikan sebuah masyarakat yang benar-benar materialis yang sama sekali tidak mengenal nilai-nilai moral. Sikap subyektif yang ditunjukkan pihak media masa ini menjadi semakin kentara di tahun-tahun berikutnya. Sebuah surat kabar yang sangat anti terhadap Adnan Oktar menyediakan delapan kolom untuk berita yang berisi penghinaan terhadap Adnan Oktar; namun berita bahwa Adnan Oktar telah dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan oleh pengadilan tidak dimuat, atau dimuat dalam beberapa baris saja dan itupun dengan kata-kata yang kurang pada tempatnya.

Fakta bahwa kaum freemason dan materialis bahu membahu dalam melawan Adnan Oktar adalah bukti yang paling nyata bahwa beliau berada di pihak yang benar. Segala penghinaan terhadap kaum muslimin yang disebut dalam Al Qur�an ditujukan pula terhadap beliau. Beliau dikatakan sebagai �tukang sihir�, �orang gila� dan �orang yang berjuang untuk keuntungan diri sendiri�. Semua cemoohan yang menjijikkan terhadap beliau dan yang disebarluaskan ini dikarenakan kejujuran dan kebersihannya. Namun, Adnan Oktar sering kali menekankan bahwa penghinaan dan serangan sebagaimana yang dilakukan sekelompok orang yang berada pada jalan yang sesat tersebut terhadap diri beliau merupakan penghormatan bagi dirinya.

Adnan Oktar Mengasingkan Diri

Sejumlah tuduhan dan makar telah dilakukan terhadap Adnan Oktar karena keyakinan dan aktifitas dakwahnya. Beliau telah ditahan berulang kali, dipenjara selama berbulan-bulan, akan tetapi pada akhirnya senantiasa dinyatakan tidak bersalah. Gambar ini memperlihatkan beliau sedang dibawa ke pengadilan oleh petugas keamanan.

Setelah Adnan Oktar menyusun misi Lembaga Riset Sains, beliau mengawasi secara dekat aktifitas lembaga tersebut selama dua tahun tanpa henti dan menjelang tahun 1991, beliau menghabiskan seluruh waktunya untuk menulis buku. Khususnya setelah makar kokain dilakukan terhadap beliau, beliau mengasingkan diri dengan tujuan menghindarkan diri dari makar dan serangan yang serupa, dan untuk memberikan waktu bagi penulisan buku-buku. Beliau menghabiskan waktu di rumah beliau. Kadang-kadang beliau mengunjungi teman-teman beliau dan ikut serta dalam beberapa diskusi. Beliau senantiasa menolak ketika dimintai wawancara oleh beberapa surat kabar dan stasiun televisi meskipun mereka sangat mengharapkannya.

Dalam masa ini, keikutsertaan Adnan Oktar dalam aktifitas Lembaga Riset Sains terbatas pada memberikan ide-ide bagi tahap peletakan prinsip-prinsip dasar dari lembaga tersebut. Beliau hanya dapat memberikan beberapa rekomendasi kepada anggota lembaga tersebut tentang prinsip-prinsip Al Qur�an dan perilaku yang baik. Periode ini berlangsung hingga 12 November 1999, yakni di saat polisi melakukan operasi terhadap anggota Lembaga Riset Sains.

Dakwah Islam kepada Kalangan Atas

Satu di antara cita-cita Adnan Oktar adalah untuk melakukan perubahan radikal pada keyakinan masyarakat tentang agama, yakni bahwa �agama hanyalah diperuntukkan bagi orang-orang tua dan sebagian kalangan masyarakat saja�. Anggapan ini benar-benar menjadi penghalang masuknya kebenaran Al Qur�an kepada sebagian besar masyarakat. Mereka yang dianggap contoh teladan bagi generasi muda adalah kaum homoseksual, penipu, orang-orang yang tidak senonoh dan lain sebagainya. Sejumlah besar masyarakat yang mengalami degradasi, yang sama sekali tidak memiliki nilai-nilai agama dan akhlaq, mendzalimi diri dengan mengarahkan diri mereka ke kehancuran hari demi hari. Namun, masih ada harapan untuk menyelamatkan sebagian besar dari orang-orang ini seandainya kepada mereka disampaikan kebenaran. Untuk menghilangkan anggapan yang dipercayai masyarakat luas sebagaimana di atas, Adnan Oktar melakukan inisiatif untuk menghubungi orang-orang yang dapat melakukan perubahan �simbolik� terhadap masyarakat dan memberitahukan kepada mereka tentang nilai-nilai moral. Inilah yang mendorong beberapa anggota Lembaga Riset Sains melakukan kontak terhadap orang-orang yang terkenal seperti para model, penyanyi dan artis. Hal ini diberitakan dalam jumpa pers yang diselenggarakan oleh SRF sebagaimana berikut: �Dialog yang dilakukan antara anggota SRF dengan para model didasarkan atas niat untuk membuat mereka mengenal nilai-nilai akhlaq yang baik. Khususnya selama tahun 1994-95, beberapa anggota SRF menjalin persahabatan dengan beberapa model. Dalam masa ini, para anggota SRF menjelaskan kepada orang-orang ini tentang degradasi moral yang dialami masyarakat dan memberitahukan kepada mereka tentang keberadaan Allah. Banyak buku-buku tentang keajaiban Al Qur�an dan akhlaq yang baik diberikan kelpada mereka. Pendekatan yang tulus tersebut mengakibatkan kebangkitan spiritual dalam diri beberapa orang tersebut.� G�lay Pinarbasi adalah contoh yang nyata dari adanya kebangkitan spiritual ini. Ia adalah seorang model wanita sebelum bertemu dengan anggota SRF; namun setelah itu ia memutuskan untuk merubah cara hidupnya. Dengan segera ia meninggalkan cara hidupnya terdahulu dan memulai kehidupan yang mulia. Ia menghabiskan waktunya untuk melakukan studi religius dan ilmiah, dan setelah beberapa saat ia memulai karirnya sebagai kolumnis dalam sebuah surat kabar konservatif. Selain itu, beberapa model pria yang juga tersentuh oleh kebenaran yang disampaikan oleh anggota-anggota SRF berhenti dari karir mereka dan memulai merubah haluan hidup mereka ke arah yang sama sekali berbeda dengan yang sebelumnya.

Perjuangan yang Tiada Henti Melawan Darwinisme

Di awal 1998, Adnan Oktar dan teman-teman melakukan kampanye intelektual besar-besaran melawan Darwinisme. Kampanye ini diawali dengan menyebarkan secara gratis ribuan buku karya Adnan Oktar, yang berjudul Kebohongan Teori Evolusi dan selebaran lain yang diambil dari buku tersebut disebarkan di seluruh penjuru Turki. SRF lalu menyelenggarakan serentetan konferensi �Runtuhnya Teori Evolusi dan Fakta Penciptaan� di seluruh Turki. Tiga konferensi pertama yang diselenggarakan di Istanbul dan Ankara menampilkan para ilmuwan tingkat dunia dari Amerika sebagai pembicara. Kemudian konferensi yang serupa diselenggarakan di 120 kota besar dan kecil di Turki. Dalam konferensi tersebut, anggota SRF, masing-masing dengan bidang spesialisasi mereka, memberikan ceramahnya. Tujuan dari semua ini adalah untuk membungkam dengan bukti-bukti ilmiah ajaran Darwinisme, sebuah teori bohong yang disebarkan dengan kedok sains. Sehingga dengan konferensi ini pemikiran dan pemahaman kaum materialis menjadi hancur lebur. Aktifitas yang dilakukan oleh SRF dibawah pimpinan Adnan Oktar tersebut meraih keberhasilan yang besar. Orang-orang, yang dulunya tidak memiliki pengetahuan tentang teori evolusi, saat itu mendapatkan kesempatan untuk mengetahui bagian dalam dari teori evolusi dan berbagai dimensi dari pemalsuan saintifik yang telah tersebar ke seluruh dunia. Rakyat Turki akhirnya menyadari fakta bahwa sistem pendidikan yang ada ternyata didasarkan pada pendoktrinan teori evolusi terhadap otak genearsi muda. Ini adalah bagian dari rencana tersembunyi dalam penghancuran nilai sosial dan moral generasi masa depan. Di samping itu, mereka mendapatkan kesempatan untuk mengetahui bahwa filsafat materialis dan teori evolusi, yang disebut-sebut sebagai dasar pijakan ilmiah dari filsafat materialis tersebut, adalah sumber dari ajaran komunisme, penyebab munculnya tindakan anarki dan teror di berbagai negara. Penerbitan buku-buku, penyelenggaraan konferensi, pembuatan kaset video dan CD adalah bagian dari aktifitas-aktifitas pokok yang dilakukan dengan kontribusi dari SRF. Beragam produksi tersebut pada intinya berkisar seputar masalah kebohongan teori evolusi, latar belakang ideologi dari teori tersebut serta fakta penciptaan. Buku-buku tersebut ditulis dengan nama pena �Harun Yahya� dan produk-produk yang dihasilkan oleh SRF terdiri dari lebih dari 100 buku yang membahas masalah politik, saintifik dan agama, 5 film dokumentari, lusinan kaset dan CD interaktif seputar teori evolusi dan fakta penciptaan. Koleksi yang berkualitas tinggi dengan tampilan yang menarik serta isi yang sahih atau diakui keabsahannya ini merupakan sumber materi yang penting.

Tekanan lagi�

Segala aktifitas yang penuh komitmen ini sangat membuat geram dan marah pihak-pihak tertentu. Dengan dukungan dari kelompok materialis dan freemason, mereka melakukan serangan terhadap aktifitas-aktifitas SRF. Mereka mengeluarkan pernyataan seperti: �Konferensi yang diadakan oleh Lembaga Riset Sains harus dihentikan sama sekali.� Tujuannya tiada lain adalah untuk mencegah segala kajian ilmiah yang menyangkal teori evolusi. Mereka menjadi marah dan merasa tidak mampu melawan pukulan mematikan yang diberikan oleh aktifitas SRF terhadap filsafat mereka. Mereka hanya mengklaim agar semua aktifitas ini dihentikan sesegera mungkin, tanpa memberikan argumentasi ilmiah apapun. Di mata masyarakat Turki, mereka terlihat tidak mampu berdiri mempertahankan serangan total terhadap teori evolusi yang mereka yakini secara buta. Perjuangan Adnan Oktar dan kawan-kawan untuk membuktikan kebohongan teori evolusi berlangsung hingga musim gugur tahun 1999. Ini berbarengan dengan saat ketika berita tentang �Global Freemasonry�, sebuah karya besar Harun Yahya yang terdiri atas tiga volume, beredar�sebuah ancaman besar bagi beberapa kelompok tertentu. Tanpa mengambil resiko, mereka merencanakan makar, melontarkan tuduhan dan membuat provokasi. Beberapa saat kemudian terjadi operasi besar polisi Republik Turki! Sudah barang tentu Adnan Oktar secara terang-terangan tidak dituduh �mengajak orang kepada jalan Allah, mengingatkan mereka akan Allah, agama dan akhlaq Islam yang baik, dan agar mereka menjauhi materialisme, kekufuran dan akhlaq yang buruk.� Di mata mereka yang ingin menghalangi beliau, ini semua adalah �tindak kejahatan� yang beliau lakukan. Sementara itu, media masa, seperti biasanya, melakukan tugasnya dengan menyebarkan kenyataan yang ada sebagai gambaran yang sama sekali berbeda kepada masyarakat�Menjelang tanggal 12 Nopember 1999, beberapa media masa yang sangat anti terhadap Adnan Oktar menggunakan cara yang biasa mereka gunakan untuk menyebarkan penghinaan, tuduhan palsu, skenario dan segala kebohongan. Penghinaan dan kebohongan yang tak terbayangkan muncul di media masa setiap hari dan sangatlah menarik bahwa ini semua satu demi satu di bantah dengan kebohongan yang lain. Apa yang dilakukan media masa tersebut hanyalah pencerminan dari rasa permusuhan mereka terhadap Adnan Oktar selama bertahun-tahun. Namun, seperti yang Adnan Oktar selalu katakan, mereka sebenarnya tunduk kepada kehendak Allah dan, kendatipun tidak menyadarinya, mereka menjalankan peran yang diperuntukkan bagi mereka yang sebaik mungkin sebagaimana yang telah Allah takdirkan untuk mereka.

Mereka tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya melakukan peran mereka dalam kehidupan kaum muslimin dalam artian bahwa kaum muslimin diuji dan mendapatkan keridhaan Allah melalui apa yang mereka perbuat terhadap kaum muslimin. Di samping itu, ini adalah cara bagaimana Allah menjadikan orang-orang yang memperjuangkan kebenaran terlihat jelas agar dikenali oleh setiap orang.
Berpedomankan ayat Al Qur�an: �Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik� (QS. Fushshilat, 41:34), beliau melakukan pendekatan secara baik-baik dan toleran kepada mereka yang memiliki rasa permusuhan terhadap beliau. Dan beliau menekankan fakta bahwa, �Ketentuan yang Allah ciptakan senantiasa sempurna, terdapat kebaikan dalam segala hal�. Kesempurnaan takdir yang diciptakan Allah insya Allah akan disaksikan oleh setiap orang.

Mengenal Allah Lewat Akal


Mengenal Allah Lewat Akal
Karya : Harun Yahya
Download : Islamic.xtgem.com

PENDAHULUAN

Lihatlah sekeliling anda dari tempat duduk anda. Akan anda dapati bahwa segala sesuatu di ruang ini adalah “buatan”: dindingnya,a sendiri. pelapisnya, atapnya, kursi tempat duduk anda, gelas di atas meja dan pernak-pernik tak terhitung lainnya. Tidak ada satu pun yang berada di ruang anda dengan kehendak merekGulungan tikar sederhana pun dibuat oleh seseorang: mereka tidak muncul dengan spontan atau secara kebetulan.

Orang yang hendak membaca buku mengetahui bahwa buku ini ditulis oleh pengarangnya karena alasan tertentu. Tak pernah terpikir olehnya bahwa barangkali buku ini muncul secara kebetulan. Begitu pula, orang yang memandang suatu pahatan tidak sangsi sama sekali bahwa pahatan ini dibuat oleh seorang pemahat. Hal ini bukan mengenai karya seni saja: batu bata yang bertumpukan pun pasti dikira oleh siapa saja bahwa tumpukan batu bata sedemikian itu disusun oleh seseorang dengan rencana tertentu. Karena itu, di mana saja yang terdapat suatu keteraturan-entah besar entah kecil-pasti ada penyusun dan pelindung keteraturan ini. Jika pada suatu hari seseorang berkata dan menyatakan bahwa besi mentah dan batu bara bersama-sama membentuk baja secara kebetulan, yang kemudian membentuk Menara Eiffel secara lagi-lagi kebetulan, tidakkah ia dan orang yang mempercayainya akan dianggap gila?

Pernyataan teori evolusi, suatu metode unik penyangkal keberadaan Allah, tidak berbeda daripada ini. Menurut teori ini, molekul-molekul anorganik membentuk asam-asam amino secara kebetulan, asam-asam amino membentuk protein-protein secara kebetulan, dan akhirnya protein-protein membentuk makhluk hidup secara lagi-lagi kebetulan. Akan tetapi, kemungkinan pembentukan makhluk hidup secara kebetulan ini lebih kecil daripada kemungkinan pembentukan Menara Eiffel dengan cara yang serupa, karena sel manusia bahkan lebih rumit daripada segala struktur buatan manusia di dunia ini.

Bagaimana mungkin mengira bahwa keseimbangan di dunia ini timbul secara kebetulan bila keserasian alam yang luar biasa ini pun bisa teramati dengan mata telanjang? Pernyataan bahwa alam semesta, yang semua unsurnya menyiratkan keberadaan Penciptanya, muncul dengan kehendaknya sendiri itu tidak masuk akal.

Karena itu, pada keseimbangan yang bisa dilihat di mana-mana dari tubuh kita sampai ujung-ujung terjauh alam semesta yang luasnya tak terbayangkan ini pasti ada pemiliknya. Jadi, siapakah Pencipta ini yang mentakdirkan segala sesuatu secara cermat dan menciptakan semuanya?

Ia tidak mungkin zat material yang hadir di alam semesta ini, karena Ia pasti sudah ada sebelum adanya alam semesta dan menciptakan alam semesta dari sana. Pencipta Yang Mahakuasa ialah yang mengadakan segala sesuatu, sekalipun keberadaan-Nya tanpa awal atau pun akhir.

Agama mengajari kita identitas Pencipta kita yang keberadaannya kita temukan melalui akal kita. Melalui agama yang diungkapkan kepada kita, kita tahu bahwa Dia itu Allah, Maha Pengasih dan Maha Pemurah, Yang menciptakan langit dan bumi dari kehampaan.

Meskipun kebanyakan orang mempunyai kemampuan untuk memahami kenyataan ini, mereka menjalani kehidupan tanpa menyadari hal itu. Bila mereka memandang lukisan pajangan, mereka takjub siapa pelukisnya. Lalu, mereka memuji-muji senimannya panjang-lebar perihal keindahan karya seninya. Walau ada kenyataan bahwa mereka menghadapi begitu banyak keaslian yang menggambarkan hal itu di sekeliling mereka, mereka masih tidak mengakui keberadaan Allah, satu-satunya pemilik keindahan-keindahan ini. Sesungguhnya, penelitian yang mendalam pun tidak dibutuhkan untuk memahami keberadaan Allah. Bahkan seandainya seseorang harus tinggal di suatu ruang sejak kelahirannya, pernak-pernik bukti di ruang itu saja sudah cukup bagi dia untuk menyadari keberadaan Allah.

Tubuh manusia menyediakan begitu banyak bukti yang mungkin tidak terdapat di berjilid-jilid ensiklopedi. Bahkan dengan berpikir beberapa menit saja mengenai itu semua sudah memadai untuk memahami keberadaan Allah. Tatanan yang ada ini dilindungi dan dipelihara oleh Dia.

Tubuh manusia bukan satu-satunya bahan pemikiran. Kehidupan itu ada di setiap milimeter bidang di bumi ini, entah bisa diamati oleh manusia entah tidak. Dunia ini mengandung begitu banyak makhluk hidup, dari organisme uniseluler hingga tanaman, dari serangga hingga binatang laut, dan dari burung hingga manusia. Jika anda menjumput segenggam tanah dan memandangnya, di sini pun anda bisa menemukan banyak makhluk hidup dengan karakteristik yang berlainan. Di kulit anda pun, terdapat banyak makhluk hidup yang namanya tidak anda kenal. Di isi perut semua makhluk hidup terdapat jutaan bakteri atau organisme uniseluler yang membantu pencernaan. Populasi hewan di dunia ini jauh lebih banyak daripada populasi manusia. Jika kita juga mempertimbangkan dunia flora, kita lihat bahwa tidak ada noktah tunggal di bumi ini yang tidak mengandung kehidupan. Semua makhluk ini yang tertebar di suatu bidang seluas lebih daripada jutaan kilometer persegi itu mempunyai sistem tubuh yang berlainan, kehidupan yang berbeda, dan pengaruh yang berbeda terhadap keseimbangan lingkungan. Pernyataan bahwa semua ini muncul secara kebetulan tanpa maksud atau pun tujuan itu gila-gilaan. Tidak ada makhluk hidup yang muncul melalui kehendak atau upaya mereka sendiri. Tidak ada peristiwa kebetulan yang bisa menghasilkan sistem-sistem yang serumit itu.

Semua bukti ini mengarahkan kita ke suatu kesimpulan bahwa alam semesta berjalan dengan “kesadaran” (consciousness) tertentu. Lantas, apa sumber kesadaran ini? Tentu saja bukan makhluk-makhluk yang terdapat di dalamnya. Tidak ada satu pun yang menjaga keserasian tatanan ini. Keberadaan dan keagungan Allah mengungkap sendiri melalui bukti-bukti yang tak terhitung di alam semesta. Sebenarnya, tidak ada satu orang pun di bumi ini yang tidak akan menerima kenyataan bukti ini dalam hati sanubarinya. Sekalipun demikian, mereka masih mengingkarinya “secara lalim dan angkuh, kendati hati sanubari mereka meyakininya” sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an. (Surat an-Naml, 14)

Buku ini ditulis untuk menunjukkan kenyataan yang diingkari oleh sebagian orang ini karena keberadaannya asing menurut perhatian mereka, dan juga untuk membongkar penipuan dan penyimpulan jahiliyah yang menjadi sandaran mereka. Karena inilah maka banyak persoalan yang ditelaah di buku ini.

Orang yang membaca buku ini akan segera lebih mengamati bukti-bukti keberadaan Allah yang tak terbantah dan menyaksikan bahwa keberadaan Allah mencakup segala benda: “akal” mengetahui hal ini. Sebagaimana Ia menciptakan tatanan yang menyeluruh ini, Dialah yang juga memeliharanya dengan tak henti-hentinya.

ADA DARI TIADA

Pertanyaan tentang bagaimana alam semesta berasal, ke mana bergeraknya, dan bagaimana hukum-hukum mempertahankan keteraturan dan keseimbangan selalu menjadi topik yang menarik. Para ilmuwan dan pakar membahas subyek ini dengan tiada henti dan telah menghasilkan beberapa teori.

Teori yang berlaku sampai awal abad ke-20 ialah bahwa alam semesta mempunyai ukuran yang tidak terbatas, ada tanpa awal, dan bahwa terus ada untuk selama-lamanya. Menurut pandangan ini, yang disebut ‘model alam semesta statis’, alam semesta tidak mempunyai awal ataupun akhir.

Dengan mengacu filsafat materialis, pandangan ini menolak adanya Pencipta seraya masih berpendapat bahwa alam semesta merupakan sekumpulan zat yang konstan, stabil, dan tidak berubah.

Materialisme ialah sistem pemikiran yang menganggap bahwa zat itu merupakan suatu makhluk yang mutlak dan menolak segala keberadaan kecuali keberadaan zat. Dengan berakar pada filsafat Yunani Kuno dan semakin diterimanya materialisme ini di abad ke-19, sistem pemikiran ini menjadi terkenal dalam bentuk materialisme dialektis Karl Marx.

Seperti yang telah kita nyatakan tadi, model alam semesta abad ke-19 menyiapkan landasan bagi filsafat materialis. George Politzer, dalam bukunya yang berjudul Principes Fondamentaux de Philosophie, menyatakan berdasarkan model alam semesta statis bahwa “alam semesta bukan merupakan obyek yang diciptakan”, dan katanya lagi:

Kalau begitu, alam semesta pasti diciptakan sekaligus oleh Tuhan dan dijadikan dari ketiadaan. Untuk menghasilkan ciptaan, maka di tempat pertama, Penciptanya harus menghasilkan keberadaan tersebut pada waktu alam semesta tidak ada, dan bahwa segala sesuatu muncul dari ketiadaan. Inilah yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.1

Ketika Politzer menyatakan bahwa alam semesta tidak terbuat dari sesuatu yang tidak ada, ia berpijak pada model alam semesta statis abad 19 tersebut, dan mengira bahwa ia berpandangan ilmiah. Namun begitu, berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi memutarbalikkan konsep-konsep lama seperti model alam semesta statis yang menjadi dasar bagi ilmuwan yang menganut materialisme. Kini, di awal abad ke-21, dengan eksperimen, observasi dan perhitungan, fisika modern telah membuktikan bahwa alam semesta memiliki suatu awal dan diciptakan dari ketiadaan melalui ledakan dahsyat.

Bahwa alam semesta memiliki suatu awal berarti kosmos bukan dihasilkan dari sesuatu yang tidak ada, melainkan diciptakan. Jika ciptaan itu ada (yang sebelumnya tidak ada), maka tentu saja ada Pencipta alam semesta. Ada dari tiada ialah sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh benak manusia. (Manusia tidak dapat memahaminya karena tidak berkesempatan untuk mengalaminya). Karena itu, ada dari tiada itu sama sekali bukan pengumpulan obyek-obyek untuk membentuk obyek baru sekaligus (seperti karya seni atau penemuan teknologi). Alam semesta sendiri merupakan ayat Allah yang menciptakan segalanya sekali-jadi dan dalam satu peristiwa saja dengan sempurna, karena benda-benda yang diciptakan itu sebelumnya tidak bercontoh dan bahkan tidak ada waktu dan ruang untuk menciptakannya.

Munculnya alam semesta dari tiada menjadi ada tersebut merupakan bukti terbesar diciptakannya alam semesta. Mempelajari fakta ini akan mengubah banyak hal. Ini membantu manusia memahami arti kehidupan dan memperbaiki sikap dan tujuannya. Karena itu, banyak kalangan ilmuwan berupaya mengabaikan fakta penciptaan yang tidak dapat mereka pahami sepenuhnya, meskipun buktinya jelas bagi mereka. Kenyataan bahwa semua bukti ilmiah mengarah pada keberadaan Pencipta telah memaksa mereka untuk mencari alternatif-alternatif yang bagi alam pikiran orang awam membingungkan. Meskipun demikian, bukti ilmu pengetahuan sendiri jelas-jelas mengakhiri perjalanan teori-teori ini.

Kini, mari kita pelajari sekilas proses perkembangan ilmiah terjadinya alam semesta.

MELUASNYA ALAM SEMESTA

Hubble menghadirkan salah satu penemuan terbesar dalam sejarah astronomi. Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia dapati bahwa cahaya dari bintang-bintang itu berubah ujung spektrumnya menjadi merah dan bahwa perubahan ini lebih memperjelas bahwa itu bintang-bintang yang menjauh dari bumi. Penemuan ini berpengaruh bagi dunia ilmu pengetahuan, karena menurut aturan ilmu fisika yang sudah diakui, spektrum cahaya berkedip-kedip yang bergerak mendekati tempat observasi tersebut cenderung mendekati warna lembayung, sedangkan spektrum cahaya berkerlap-kerlip yang menjauh dari tempat observasi itu cenderung mendekati warna merah. Artinya, bintang-bintang itu menjauh dari kita secara tetap.

Lama sebelumnya, Hubble menemukan penemuan lain yang sangat penting: Bintang dan galaksi bergerak menjauh bukan hanya dari kita, tetapi juga saling menjauh. Satu-satunya kesimpulan yang dapat ditarik dari suatu alam semesta di mana semua bintang dan galaksi menjauh dari bintang dan galaksi lain adalah bahwa alam semesta ‘bertambah luas’ secara tetap.

Untuk lebih memahaminya, alam semesta dapat dianggap sebagai permukaan balon yang meledak. Karena bagian-bagian di permukaan balon ini saling memisah sebagai akibat dari pemompaan atau penggelembungan, hal ini berlaku juga untuk obyek-obyek di ruang angkasa yang saling memisah sebagai akibat dari terus bertambah luasnya alam semesta.

Sebenarnya, teori ini telah ditemukan jauh sebelumnya. Albert Einstein, yang dianggap merupakan ilmuwan terbesar abad 20, telah menyimpulkan dalam teori fisikanya setelah melalui perhitungan yang cermat bahwa alam semesta itu dinamis dan tidak statis. Namun bagaimanapun, ia telah meletakkan penemuannya bukan untuk bertentangan dengan teori model alam semesta statis yang sudah diakui luas di zamannya. Einsten kemudian mengidentifikasi tindakannya itu sebagai kesalahan terbesar sepanjang karir keilmuwanannya. Sesudah itu, menjadi jelas melalui pengamatan Hubbles bahwa alam semesta bertambah luas.

Jadi, apa yang penting dari fakta bahwa alam semesta bertambah luas terhadap proses terjadinya alam semesta?

Alam semesta yang bertambah luas itu menunjukkan bahwa jika alam semesta dapat bergerak mundur dalam hal waktu, maka alam semesta terbukti berasal dari ‘titik tunggal’. Perhitungan menunjukkan bahwa titik tunggal ini yang mengandung pengertian semua zat atau materi yang ada di alam semesta mempunyai ‘volume nol’ dan ‘kerapatan yang tak terbatas’. Alam semesta terjadi karena adanya ledakan dari titik tunggal yang bervolume nol ini. Ledakan yang luar biasa dahsyatnya yang disebut Ledakan Dahsyat ini menandai awal dimulainya alam semesta.

‘Volume nol’ merupakan satuan teoretis yang digunakan untuk tujuan pemaparan. Ilmu pengetahuan dapat menetapkan konsep ‘ketidakadaan’, yang berada di luar jangkauan batas-batas pemahaman manusia, dengan hanya mengungkapkannya sebagai ‘suatu titik yang bervolume nol’. Alam semesta muncul dari ‘ketidakadaan’. Dengan kata lain, alam semesta itu diciptakan.

Teori Ledakan Dahsyat itu menunjukkan bahwa pada awalnya, semua obyek di alam semesta merupakan satu bagian dan kemudian terpisah-pisah. Kenyataan ini, yang ditunjukkan dengan teori Ledakan Dahsyat, dinyatakan dalam Al-Qur’an 14 abad lalu, ketika manusia masih memiliki pengetahuan yang amat terbatas tentang alam semesta:

Tidakkah orang-orang kafir mengerti bahwa langit dan bumi semula berpadu (sebagai satu kesatuan dalam penciptaan), lalu keduanya Kami pisahkan? Dari air Kami jadikan segalanya hidup. Tidakkah mereka mau beriman juga? (Surat al-Anbiyaa’, 30)

Seperti yang dinyatakan dalam ayat tersebut, apa saja, bahkan di ‘langit dan bumi’ yang belum tercipta sekalipun, diciptakan dengan suatu Ledakan Dahsyat dari suatu titik tunggal, dan membentuk alam semesta yang sekarang ini dengan saling terpisah.

Jika kita bandingkan pernyataan ayat itu dengan teori Ledakan Dahsyat, maka kita mengetahui bahwa ayat itu sepenuhnya cocok dengan teori tersebut. Namun, baru pada abad ke-20, Ledakan Dahsyat dikemukakansebagai teori ilmiah.

Meluasnya alam semesta itu merupakan salah satu bukti terpenting bahwa alam semesta diciptakan dari ketidakadaan. Meskipun kenyatan ini tidak ditemukan oleh ilmu pengetahuan sampai abad ke-20, Allah telah menjelaskan kepada kita kenyataan ini dalam Al-Qur’an, 1.400 tahun silam:

Dengan kekuasaan Kami membangun cakrawala, dan Kami yang menciptakan angkasa luas. (Surat adz-Dzaariyaat, 47)

MENCARI ALTERNATIF PENGGANTI TEORI LEDAKAN DAHSYAT

Seperti yang jelas terlihat, teori Ledakan Dahsyat membuktikan bahwa alam semesta ‘diciptakan dari ketiadaan’, dengan kata lain, diciptakan oleh Allah. Karena alasan inilah, para astronom penganut materialisme tetap bersikukuh mempertahankan teori Ledakan Dahsyat dan teori keadaan-tetap. Hal ini ditunjukkan oleh A. S. Eddington, seorang pakar fisika terkemuka penganut materialisme: “Secara filosofis, saya tidak menyukai gagasan tentang permulaan yang spontan untuk tataalam yang sekarang ini.”2

Salah seorang yang terusik dengan teori Ledakan Dahsyat itu ialah Sir Fred Hoyle. Pada pertengahan abad ke-20, Hoyle mengemukakan suatu teori yang disebut keadaan-tetap yang mirip dengan pendekatan tentang alam semesta yang bersifat tetap pada abad ke-19. Teori keadaan-tetap berpendapat bahwa ukuran alam semesta tidak terbatas dan waktunya kekal. Dengan satu-satunya tujuan yang mengakui filsafat materialisme, teori ini sepenuhnya berbeda dengan teori Ledakan Dahsyat, yang berasumsi bahwa alam emesta mempunyai permulaan.

Para pembela teori keadaan-tetap itu menentang teori Ledakan Dahsyat dalam waktu yang lama. Namun demikian, teori-teori itu berlawanan dengan ilmu pengetahuan.

Sebaliknya, sebagian ilmuwan sedang mencari jalan untuk mengembangkan alternatif-alternatif.

Di tahun 1948, George Gamov muncul dengan gagasan lain tentang teori Ledakan Dahsyat itu. Ia menyatakan bahwa setelah terbentuknya alam semesta melalui peledakan dahsyat, ada radiasi yang melimpah di alam semesta yang tertinggal karena peledakan ini. Lagipula, radiasi ini tersebar merata di alam semesta.

Bukti yang ‘mestinya telah ada ini’ akan segera ditemukan.

SATU BUKTI LAGI: RADIASI LATAR KOSMOS

Di tahun 1965, dua peneliti, Arno Penzias dan Robert Wilson, secara kebetulan menemukan gelombang-gelombang ini. Radiasi ini, yang disebut ‘radiasi kosmos’, tampaknya tidak dipancarkan dari sumber tertentu, tetapi merembesi seluruh ruang angkasa. Jadi, panas gelombang yang diradiasikan secara merata dari sekeliling ruang angkasa itu tertinggal sisanya dari tahap awal Ledakan Dahsyat. Penzias dan Wilson mendapat penghargaan Nobel atas penemuan ini.

Di tahun 1989, NASA mengirim Satelit Cosmic Background Explorer (COBE) ke ruang angkasa untuk meneliti radiasi latar kosmos. Hanya membutuhkan delapan menit, scanner-scanner salelit ini menguatkan pengukuran dari Penzias dan Wilson. COBE telah menemukan sisa dari Ledakan Dahsyat yang terjadi pada awal-mula alam semesta.

Karena dianggap sebagai penemuan astronomi terbesar sepanjang masa, kesimpulan ini secara eksplisit membuktikan teori Ledakan Dahsyat. Dari ruang angkasa dikirim temuan dari satelit COBE 2 setelah satelit COBE menjelaskan perhitungannya dengan cermat berdasarkan teori Ledakan Dahsyat itu.

Sebuah bukti lain yang penting untuk Ledakan Dahsyat itu ialah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa. Dalam hitungan terakhir, konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta sesuai dengan perhitungan konsentrasi hidrogen-helium yang merupakan sisa dari Ledakan Dahsyat itu. Jika alam semesta tidak mempunyai permulaan dan jika alam semesta ada karena keabadian ada, maka unsur hidrogennya sepenuhnya telah digunakan dan diubah ke helium.

Semua bukti ini menyebabkan teori Ledakan Dahsyat diterima oleh para ilmuwan. Model ledakan dahsyat itu merupakan bagian terakhir yang dicapai oleh ilmu pengetahuan berkenaan dengan terbentuknya dan dimulainya alam semesta.

Dengan mempertahankan teori keadaan-tetap yang juga sejalan dengan gagasan Fred Hoyle selama bertahun-tahun, Dennis Sciama menguraikan pandangan akhir yang mereka capai setelah terungkapnya semua bukti tentang teori Ledakan Dahsyat. Sciama menyatakan bahwa ia turut mengambil bagian dalam perdebatan sengit antara yang mempertahankan teori keadaan-tetap dan yang menolaknya. Ia mencetuskan bahwa ia membela teori keadaan-tetap, bukan karena menganggapnya sahih, melainkan karena menghendakinya sahih. Fred Hoyle bergeming terhadap semua keberatan ketika bukti-bukti terhadap teori ini mulai terbuka. Sciama sendiri mula-mula sejalan dengan Hoyle tetapi kemudian, karena bukti-bukti mulai semakin tampak dan menumpuk, ia menerima bahwa permainan telah berakhir dan bahwa teori keadaan-tetap harus ditolak.

Prof. George Abel dari Universitas California menyatakan juga bahwa bukti mutaakhir yang tersedia menunjukkan bahwa alam semesta dimulai milyaran tahun silam dengan Ledakan Dahsyat. Ia mengakui tidak ada pilihan lain kecuali menerima teori Ledakan Dahsyat itu.

Dengan diterimanya teori Ledakan Dahsyat, konsep ‘zat kekal’ yang merupakan dasar filosofi materialisme terlempar jauh ke dalam tumpukan sampah sejarah. Lantas, apa yang terjadi sebelum Ledakan Dahsyat dan kekuatan apa yang menyebabkan alam semesta ‘ada’ dengan melalui adanya ledakan dahsyat itu ketika alam semesta ‘tidak ada’? Pertanyaan ini tentunya menyiratkan, menurut kata-kata Arthur Eddington, fakta yang ‘secara filosofis kurang menyenangkan’, yaitu adanya Sang Pencipta. Filosof ateis masyhur Antony Flew berkomentar perihal ini:

Pengakuan itu baik bagi rohani. Karena itu, saya akan mengawalinya dengan mengakui bahwa kaum ateis itu harus malu dengan konsensus mengenai kosmologi saat ini. Untuk itu, para kosmolog perlu memberi bukti ilmiah tentang apa yang St. Thomas nyatakan tidak terbukti menurut filsafat, yaitu bahwa alam semesta memiliki suatu awal. Jadi, selama alam semesta dianggap ada bukan hanya tanpa akhir melainkan juga tanpa permulaan, akan mudah dikemukakan opini bahwa keberadaan tampilannya, dan apa pun yang pada temuannya menjadi ciri atau sifat yang paling mendasar, sepatutnya diterima sebagai penjelasan akhir. Meskipun saya yakin bahwa teori keadaan-tetap masih benar, mempertahankannya dalam menghadapi teori Ledakan Dahsyat tentunya tidak mudah dan tidak menyamankan.4

Sebagian ilmuwan yang tidak mengkondisikan mereka sendiri untuk menjadi ateis telah mengakui adanya peranan Pencipta Yang Maha Kuasa dalam menciptakan alam semesta. Sang Pencipta ini pasti merupakan sesuatu Yang telah menciptakan baik zat (materi) maupun waktu, tetapi Yang tidak terpengaruh oleh keduanya. Astrofisikawan terkenal Hugh Ross mengakui hal ini dengan menuturkan:

Jika permulaan waktu bersamaan dengan awal keberadaan alam semesta, seperti teorema-angkasa jelaskan, maka penyebab alam semesta harus merupakan kesatuan yang berfungsi dalam suatu dimensi waktu yang sepenuhnya terpisah dan sudah ada sebelumnya terhadap dimensi waktu kosmos. Kesimpulan ini sangat penting untuk pemahaman kita tentang Siapa Tuhan dan Siapa atau Apa yang bukan Tuhan. Tuhan bukan alam semesta sendiri, dan tidak terkandung dalam alam semesta.5

Zat dan waktu diciptakan oleh Tuhan Yang Mahakuasa yang tidak bergantung pada semua pernyataan ini. Sang Pencipta ini ialah Allah, Yang merupakan Pemilik atau Penguasa langit dan bumi.

SANGAT SEIMBANG DI ANGKASA

Sebenarnya, teori ledakan dahsyat lebih menyulitkan penganut materialisme daripada si filosof ateis, Antony Flew. Ini karena ledakan dahsyat itu bukan hanya membuktikan bahwa alam semesta diciptakan dari sesuatu yang tidak ada, tetapi juga bahwa alam semesta diadakan dengan cara yang sangat terencana, sistematis dan terkontrol.

Ledakan Dahsyat terjadi dengan ledakan dari titik yang berisikan semua zat dan energi dari alam semesta dan tersebar di ruang angkasa ke segala arah dengan kecepatan yang luar biasa. Lepas dari zat dan energi ini, terjadi keseimbangan luar biasa yang berisikan galaksi, bintang, matahari, bumi dan semua benda langit lainnya. Selanjutnya, terbentuklah hukum yang disebut ‘hukum fisika’, yang sama di seluruh penjuru alam semesta dan tidak berubah. Semua ini menunjukkkan bahwa tata aturan yang sempurna muncul setelah terjadinya Ledakan Dahsyat.

Akan tetapi, ledakan ini tidak menghasilkan tatanan. Semua ledakan yang bisa diamati ini cenderung berbahaya, menceraiberaikan dan merusak apa yang sudah ada. Contohnya, ledakan atom dan hidrogen, ledakan dinamit, ledakan gunung berapi, ledakan gas alam, ledakan matahari: semua ledakan ini memiliki pengaruh yang merusak.

Jika kita mengetahui tatanan yang terperinci setelah terjadinya suatu ledakan–contohnya, jika ledakan di bawah tanah memunculkan karya seni yang sempurna, istana yang megah, atau rumah yang mengesankan–maka kita bisa berkesimpulan bahwa ada campur tangan ‘supranatural’ di belakang ledakan ini dan bahwa semua bagian-bagian yang tersebar karena ledakan itu bergerak dengan cara yang sangat tidak terkontrol.

Kutipan dari Sir Fred Hoyle, yang mengakui kesalahannya itu setelah bertahun-tahun menentang teori Ledakan Dahsyat, mengungkapkan situasi ini dengan sangat baik:

Teori ledakan dahsyat berpendapat bahwa alam semesta dimulai dengan suatu ledakan tunggal. Tetapi seperti yang dapat dilihat di bawah ini, suatu ledakan hanya memisahkan zat, sedangkan ledakan dahsyat secara misterius menghasilkan pengaruh yang bertolak belakang–dengan zat yang menumpuk atau menyatu bersama-sama dalam bentuk galaksi-galaksi.6

Seraya menyatakan bahwa penunaian keteraturan Ledakan Dahsyat itu tidak bersesuaian, ia secara yakin menafsirkan ledakan dahsyat dengan bias materialistik dan menganggap bahwa ini merupakan ‘ledakan yang tak terkontrol’. Ia pada kenyataanya merupakan orang yang bersifat kontradiktif-sendiri dengan begitu saja membuat pernyataan sedemikian itu untuk menolak keberadaan Sang Pencipta. Alasan kita, jika tata aturan yang luar biasa itu muncul dengan suatu ledakan, maka konsep “ledakan yang tak terkendali” sebaiknya dikesampingkan, dan harus diterima bahwa ledakan tersebut dikendalikan secara luar biasa.

Segi lain dari tatanan luar biasa yang terbentuk pada alam semesta yang melalui Ledakan Dahsyat ini ialah penciptaan ‘alam yang dapat dihuni’. Syarat pembentukan planet yang dapat dihuni ini begitu banyak dan begitu rumit sehingga hampir tak mungkin terbayang bahwa pembentukan planet ini secara kebetulan.

Paul Davies, profesor masyhur fisika teoretis, menghitung seberapa ‘baik penyetelan’ langkah peluasan setelah terjadi Ledakan Dahsyat, dan ia mendapatkan kesimpulan yang menakjubkan. Menurut Davies, jika tingkat peluasan setelah terjadinya Ledakan Dahsyat itu berbeda walau hanya dengan rasio 1 : 1.000.000.000�, maka tidak akan terbentuk bintang yang dapat dihuni:

Pengukuran secara cermat menghasilkan angka peluasan yang sangat mendekati nilai kritis di mana alam semesta akan melepaskan gravitasinya sendiri dan bertambah luas selama-lamanya. Bila diperpelan sedikit, kosmos ini akan jatuh; bila dipercepat sedikit, bahan-bahan kosmos tersebut akan sepenuhnya terpencar. Lantas yang menarik adalah pertanyaan seberapa rumitkah tingkat pertambahan luas ‘disetel dengan baik’ supaya tiba pada garis pembagi yang tipis di antara dua bencana alam itu. Jika pada waktu I S (pada waktu terbentuk pola pertambahan luas) tingkat ekspansinya berselisih dari nilai sebenarnya sampai lebih dari 10-18 kali, maka ini sudah memadai untuk membatalkan keseimbangan yang rumit itu. Jadi, daya ledak alam semesta ini bersesuaian dengan akurasi gaya gravitasinya yang luar biasa. Ledakan dahsyat ini ternyata bukan ledakan kolot, tetapi ledakan yang besarnya tertata dengan tajam dan sangat indah.7

Hukum fisika yang muncul bersamaan dengan teori Ledakan Dahsyat itu tidak berubah selama jangka waktu 15 milyar tahun. Selanjutnya, hukum-hukum ini berlandaskan pada perhitungan yang begitu seksama sehingga selisih satu milimeter pun dari nilai yang berlaku dapat menyebabkan penghancuran struktur dan konfigurasi alam semesta.

Fisikawan terkenal Prof. Stephen Hawking menyatakan dalam bukunya, A Brief History of Time, bahwa alam semesta tersusun berdasarkan pada perhitungan dan keseimbangan yang tersetel dengan lebih baik daripada yang dapat kita rasakan. Hawking menyatakan dengan mengacu angka ekspansi alam semesta:

Mengapa alam semesta mulai terbentuk dengan tingkat ekspansi yang begitu mendekati kritis yang memisahkan model-model yang berurai berkeping-keping sehingga terus meluas selamanya, sampai-sampai sekarang pun, sepuluh ribu juta tahun berikutnya, masih terus bertambah luas mendekati tingkat kritis? Jika tingkat ekspansi satu detik setelah ledakan dahsyat lebih kecil bahkan mendekati satu per seratus ribu juta, maka alam semesta akan berkeping-keping sebelum mencapai ukurannya yang sekarang ini.8

Paul Davies juga memaparkan konsekuensi yang tidak bisa dihindari yang berasal dari keseimbangan dan perhitungan yang sangat cermat dan tepat itu:

Kesan bahwa struktur terkini alam semesta, yang tampaknya begitu sensitif terhadap sedikit perubahan jumlah, telah direncanakan secara cermat itu sulit untuk ditentang. … Sederetan nilai numerik yang alam tunjukkan melalui konstanta dasarnya masih menjadi bukti yang paling pasti untuk unsur disain kosmik.9

Sehubungan dengan fakta itu pula, seorang Profesor Astronomi dari Amerika, George Greenstein, menulis dalam bukunya, The Symbiotic Universe:

Tatkala kami meneliti semua bukti tersebut, muncul pikiran bahwa sebentuk perantara supranatural pasti terlibat.10

PENCIPTAAN ZAT

Atom, bagian pembangun zat, menjadi ada setelah terjadinya Ledakan Dahsyat. Atom-atom ini kemudian mengumpul bersama-sama membentuk alam semesta dengan bintang, bumi, dan matahari. Kemudian, atom-atom tersebut membentuk kehidupan di bumi. Dengan berkumpulnya atom-atom, segala yang anda lihat di sekitar anda: tubuh anda, kursi yang anda duduki, buku yang ada di tangan anda, langit yang terlihat melalui jendela, tanah, beton, buah-buahan, tanaman, semua makhluk hidup dan segala yang bisa anda bayangkan itu memasuki kehidupan.

Lantas, terbuat dari apakah atom itu, bagian pembangun segala sesuatu, dan jenis struktur apa yang atom miliki?

Bila kita periksa struktur atom, kita lihat bahwa semua bagiannya mempunyai tata aturan dan disain yang menonjol. Setiap atom mempunyai nukleus yang mengandung protron dan neutron yang jumlahnya tertentu. Di samping itu, ada elektron-elektron yang bergerak mengelilingi nukleus dalam suatu orbit yang tetap dengan kecepatan 1.000 km per detik.11 Jumlah elektron suatu atom sama dengan jumlah protonnya, karena proton yang bermuatan positif dan elektron yang bermuatan negatif selalu seimbang satu sama lain. Jika salah satu dari jumlah ini berbeda, maka tidak ada atom karena keseimbangan elektromagnetiknya terganggu. Nukleus atau inti atom, protron dan neutron yang ada di dalamnya, dan elektron di sekitarnya selalu bergerak. Elektron-elektron ini berputar mengelilingi inti atom mereka sendiri dan dengan kecepatan tertentu tanpa saling menyimpang. Kecepatannya selalu seimbang dengan yang lainnya dan selalu menjaga kelangsungan hidup atomnya. Tidak pernah terjadi salah-atur, perbedaan, atau pun perubahan.

Sangatlah gamblang bahwa kesatuan yang sangat teratur dan tertentu itu ada setelah peledakan dahsyat yang berlangsung pada yang non-ada. Jika Ledakan Dahsyat itu merupakan ledakan yang kebetulan dan tidak terkontrol, maka mestinya diikuti dengan kejadian acak dan tersebarnya segala yang terbentuk itu dalam suatu kekacaubalauan yang luar biasa dahsyatnya.

Sebenarnya, tatanan yang tak bercacat telah berlaku di setiap tahap sejak awal keberadaannya. Contohnya, alam semesta terbentuk di tempat dan waktu yang berbeda, namun begitu terorganisir sehingga alam semesta seakan-akan dihasilkan dari satu-satunya pabrik dengan kesadaran masing-masing. Mula-mula, elektron mendapati sendiri suatu nukleus dan mulai mengelilinginya. Kemudian, atom-atom menyatu untuk membentuk zat, dan semuanya menghasilkan obyek-obyek yang bermakna, bertujuan, dan masuk-akal. Sesuatu yang tidak wajar, mendua, tidak normal, tidak bermanfaat, dan tidak bertujuan tidak pernah terjadi. Segala sesuatu, dari unit terkecil sampai unsur terbesar, terorganisir dan mempunyai tujuan yang beragam

Semuanya ini merupakan bukti kuat adanya Pencipta, Yang Mahakuasa, dan menunjukkan kenyataan bahwa segala sesuatu itu menjadi ada sesuai dengan kemauan-Nya kapan saja Ia kehendaki. Dalam Al-Qur’an, Allah menunjukkan penciptaan-Nya sehingga:

Dialah Yang menciptakan langit dan bumi dengan sebenarnya; tatkala Ia berfirman, “Jadilah!” maka ia pun jadi. Firman-Nya adalah kebenaran. (Surat al-An’aam, 73)

SETELAH LEDAKAN DAHSYAT
Ketika Roger Penrose, seorang fisikawan yang mendalami penelitian tentang asal-usul alam semesta, membuktikan bahwa adanya alam semesta bukan kebetulan belaka, ini menunjukkan bahwa pasti ada tujuannya. Bagi sebagian orang, ‘alam semesta itu sudah lama di sana’ dan akan tetap di sana. Kita hanya mendapati diri berada tepat di tengah-tengah benda semesta ini. Pandangan ini mungkin tidak dapat membantu kita dalam memahami alam semesta. Menurut pandangan Penrose, ada banyak masalah yang mendalam tentang alam semesta yang di luar jangkauan indera kita saat ini. 12

Tatanan di dalam struktur atom itu mengatur segenap alam. Dengan atom dan partikelnya yang bergerak dengan aturan tertentu, gunung-gunung tidak tercerai-berai, tanah tidak terurai, langit tidak terbelah dan, singkatnya, zat disatukan bersama-sama dan konstan.

Pandangan Roger Penrose ini sesungguhnya merupakan bahan pemikiran yang baik. Seperti yang kata-kata ini tunjukkan, banyak orang salah mengira bahwa adanya alam semesta dengan segala keharmonisannya yang sempurna itu ada bukan demi apa-apa dan bahwa mereka hidup di alam semesta ini demi peran yang lagi-lagi tidak bermakna.

Akan tetapi, tidaklah lumrah sama sekali bahwa suatu tatanan yang sempurna dan menakjubkan itu terjadi setelah adanya Ledakan Dahsyat, yang bagi kalangan ilmiah berarti pembentukan alam semesta.

Singkatnya, bila kita periksa sistem hebat ini di alam semesta, kita lihat bahwa adanya alam semesta dan cara kerjanya itu bersandar pada keseimbangan yang sangat cermat dan keteraturan yang, karena terlalu rumit, tidak bisa dijelaskan dengan penyebab-penyebab yang kebetulan. Sebagai bukti, alam semesta sama sekali tidak mungkin terbentuk sendiri atau secara kebetulan setelah terjadinya suatu ledakan dahsyat. Terbentuknya tata aturan sedemikian itu yang mengikuti suatu ledakan seperti Ledakan dahsyat hanya dimungkinkan sebagai hasil dari penciptaan yang supernatural.

Rencana dan tata aturan yang tiada banding itu tentunya membuktikan keberadaan sang Pencipta dengan pengetahuan, kebijakan dan kekuatan yang tidak terbatas, Yang telah menciptakan zat dari sesuatu yang tidak ada dan Yang mengendalikan dan mengaturnya secara berkesinambungan. Sang Pencipta ini ialah Allah, Penguasa langit, bumi dan seisinya. Semua fakta ini juga menunjukkan kita bagaimana filosofi materialisme, yang hanya merupakan suatu dogma abad ke-19, diganti dengan ilmu pengetahuan abad ke-20.

Dengan menguak rencana, disain, dan tata aturan hebat yang lazim ditemui di alam semesta itu, ilmu pengetahuan modern telah membuktikan keberadaan Sang Pencipta Yang telah menciptakan dan mengatur semua makhluk: yaitu, Allah.

Dengan berpijak pada jumlah manusia yang luar biasa banyaknya selama berabad-abad dan bahkan telah mengaburkan sendiri dengan topeng ilmu pengetahuan, materialisme membuat kesalahan besar dan menolak keberadaan Allah, Yang menciptakan dan mengatur zat dari sesuatu yang tidak ada.

Pada suatu hari, materialisme akan dikenang dalam sejarah sebagai keyakinan primitif dan takhyul yang bertentangan dengan akal dan juga ilmu pengetahuan.

AYAT-AYAT DI LANGIT DAN DI BUMI

Bayangkan bahwa anda membangun sebuah kota besar dengan menyertakan jutaan Legos bersama-sama. Misalkan di kota ini ada gedung-gedung pencakar langit, jalan-jalan berkelak-kelok, stasiun kereta api, pelabuhan udara, pusat-pusat perbelanjaan, lorong-lorong bawah tanah, dan juga sungai-sungai, danau-danau, hutan, dan pantai. Misalkan ada juga yang tinggal di dalamnya ribuan orang yang berseliweran di jalan raya, duduk-duduk di rumah, dan bekerja di kantor. Masukkan juga seluk-beluknya, termasuk lampu lalulintas, kotak pos, dan papan sinyal di terminal bus.

Jika seseorang mendatangi anda dan mengatakan bahwa semua Legos kota ini, yang anda dirikan dengan perencanaan yang matang hingga serinci-rincinya, dan semua bagian yang anda tempatkan dengan susah-payah itu muncul secara kebetulan hingga terwujud kota ini, bagaimanakah keadaan jiwa orang ini menurut anda?

Kini, tengoklah lagi kota yang telah anda bangun itu dan ingatlah bahwa keseluruhan kota ini akan rata dengan tanah bila anda lupa meletakkan sepotong Lego di tempatnya atau mengubah letaknya. Bisakah anda bayangkan seberapa besar keseimbangan dan tatanan yang telah anda tegakkan?

Kehidupan di dunia tempat tinggal ini juga mungkin dibuat dengan penghimpunan sejumlah besar bagian kecil seperti itu yang tak terbayangkan oleh benak manusia. Ketiadaan satu bagian kecil saja mungkin berarti akhir riwayat bumi ini.

Segala benda, dari unit terkecil zat yang berupa atom hingga galaksi yang mengandung trilyunan bintang, dari bulan pelengkap bumi hingga sistem matahari, semuanya berjalan dengan keserasian yang sempurna. Sistem yang tertata rapi ini berjalan mulus bagaikan arloji. Orang-orang sangat yakin bahwa sistem yang telah berumur trilyunan tahun ini akan berfungsi tanpa mengesampingkan bagian terkecil, sehingga mereka dapat menyusun rencana dengan bebas mengenai sesuatu yang mereka perkirakan akan terwujud dalam 10 tahun mendatang. Tak seorang pun khawatir kalau-kalau matahari tidak terbit esok hari. Sebagian besar orang tidak berpikir tentang ‘mungkinkah bumi ini berubah menjadi lepas dari gravitasi matahari dan mulai bergerak menuju kegelapgulitaan entah di mana?'; atau bertanya, ‘Apa yang mencegahnya dari kejadian ini?’

Dengan cara yang sama, manakala orang-orang menjelang tidur, mereka yakin bahwa jantung atau sistem pernafasan mereka tidak akan sesantai otak mereka. Akan tetapi, bila salah satu dari dua sistem penting ini berhenti-henti beberapa detik saja, maka bisa-bisa nyawa melayang.

Ketika ‘kacamata biasa’ di sekitar kehidupan kita tanggalkan dan sebab-akibat peristiwa-peristiwa tidak lagi ditaksir seolah-olah ‘berlangsung dalam kejadian alamiahnya’, kita lihat dengan gamblang bahwa segala benda tersusun dari sistem terencana yang amat teliti dan sangat saling bergantung sehingga seolah-olah kita bergantung pada kehidupan dengan kulit atau gigi kita. Perhatikanlah tatanan hebat yang berlaku di tempat ke mana pun anda memandang. Tentu saja, ada kekuatan besar yang menciptakan tatanan dan keserasian sedemikian itu. Pemilik kekuatan besar ini ialah Allah, Yang menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan. Dalam satu ayat Al-Qur’an difirmankan:

Dia yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis; tak akan kau lihat ketidakseimbangan dalam ciptaan (Allah) Yang Maha Pemurah. Balikkanlah pandanganmu sekali lagi, tampakkah olehmu ada yang cacat? Lalu ulanglah pandanganmu sekali lagi; pandanganmu akan berbalik kepadamu, letih dan membingungkan. (Surat al-Mulk, 3-4)

Bila kita memandang makhluk-makhluk di langit, di bumi, dan semua yang terletak di antaranya, ternyata mereka semua membuktikan keberadaan Pencipta mereka dengan sendirinya. Di bab ini, kita akan memikirkan gejala alam dan makhluk hidup yang terlihat oleh semua orang, sekalipun tak pernah terpikirkan, dan bagaimana mereka menjadi ada dan melanjutkan keberadaan mereka. Jika kita hendak menuliskan semua ayat Allah di alam semesta, maka diperlukan ribuan jilid ensiklopedi. Karena itu, dalam bab ini, kita hanya akan secara singkat berurusan dengan beberapa pokok-persoalan yang layak untuk dipertimbangkan panjang-lebar.

Akan tetapi, penyebutan-penyebutan singkat ini pun akan membantu para ‘manusia yang berakal’ yang insyaf untuk memperhatikan fakta terpenting kehidupan mereka atau sekurang-kurangnya membantu mereka mengingatnya sekali lagi.

Karena Allah itu Ada.

Karena Dialah asal pertama langit dan bumi dan Dia bisa dipahami melalui akal.

KEAJAIBAN DI TUBUH KITA

‘Mata Yang Setengah-Jadi Tak Bisa Melihat’

Apa yang terbersit di benak anda manakala mendengar kata ‘mata’? Sadarkah anda bahwa salah satu hal terpenting dalam kehidupan adalah kemampuan untuk melihat? Jika menyadarinya, sudahkan anda memikirkan tanda-tanda lain yang terkandung dalam mata anda?

Mata adalah sepotong bukti yang paling nyata bahwa makhluk-makhluk hidup diciptakan. Semua organ penglihatan, termasuk mata binatang dan mata manusia, merupakan contoh yang sangat menonjol perihal rancangan yang sempurna. Organ istimewa ini amat rumit sampai-sampai mengungguli peralatan tercanggih di dunia ini.

Supaya mata dapat melihat, semua bagiannya harus bekerja sama secara serasi. Sebagai misal, jika mata kehilangan kelopak, tetapi masih mempunyai semua bagian lain seperti kornea, selaput penghubung, selaput pelangi, biji mata, lensa mata, retina, selaput koroid, urat mata, dan kelenjar airmata, itu pun sudah amat rusak dan akan segera kehilangan fungsi penglihatannya. Begitu pula, jika produksi airmata berhenti, maka mata akan segera kering dan menjadi buta kendati semua organ lain masih ada.

‘Rantai kebetulan’ yang diajukan oleh para evolusionis kehilangan semua maknanya menghadapi susunan rumit ini. Mustahil menjelaskan keberadaan mata kecuali sebagai zat ciptaan istimewa. Mata itu memiliki sistem rumit dengan banyak bagian dan, sebagaimana dibahas di atas, semua bagian pembentuk ini pasti menjadi ada pada waktu yang sama. Mustahil mata yang setengah-jadi berfungsi pada ‘setengah melihat’. Pada keadaan-keadaan semacam ini, peristiwa penglihatan tak bisa berlangsung sama sekali. Seorang ilmuwan evolusionis menerima kebenaran ini:

Ciri umum mata dan sayap adalah hanya berfungsi jika tersusun sepenuhnya. Dengan kata lain, mata yang setengah-jadi tidak bisa melihat; burung dengan sayap setengah-sayap tidak dapat terbang.13

Dalam hal ini, kita menghadapi lagi pertanyaan yang sangat penting: siapa yang menciptakan semua unsur mata sekaligus?

Pemilik mata tentu saja bukan orang yang membuat putusan mengenai pembentukannya. Karena bagi yang tiada berpengetahuan tentang seperti apakah penglihatan itu tidak mungkin berhasrat untuk mempunyai organ penglihatan dan melekatkannya pada tubuhnya. Jadi, kita harus menerima keberadaan Pemilik Yang Maha Bijaksana yang menciptakan makhluk hidup dengan indera seperti penglihatan, pendengaran, dan sebagainya. Ada pernyataan lain bahwa sel-sel yang tak bernyawa bisa mencapai fungsi yang mensyaratkan nyawa seperti penglihatan dan pendengaran dengan kehendak dan upaya mereka sendiri. Sangatlah jelas bahwa ini mustahil. Dalam Al-Qur’an, dinyatakan bahwa penglihatan dilimpahkan kepada makhluk hidup oleh Allah:

Katakanlah: Dialah Yang telah menjadikan kamu dan membuatkan untuk kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani; sedikit sekali kamu bersyukur. (Surat al-Mulk, 23)

Pasukan di Dalam Tubuh Manusia

Setiap hari, berlangsung pertempuran di bagian terdalam raga yang tidak anda rasakan. Di satu pihak, virus dan bakteri bermaksud menyerbu tubuh anda dan mengambil kendali terhadapnya dan di pihak lain, sel-sel kekebalan melindungi tubuh dari musuh-musuh ini.

Musuh-musuh ini menunggu dalam keadaan siap-serang untuk memasuki kawasan yang mereka tuju; begitu ada kesempatan, mereka menuju kawasan sasaran. Namun demikian, para prajurit kawasan sasaran yang berdisiplin, tertata dan kuat itu tidak mudah menyerah kepada musuh. Pertama, para prajurit (fagosit) yang menelan dan menahan pasukan musuh itu tiba di medan tempur. Walau begitu, kadang-kadang pertempuran tersebut lebih liat daripada kemampuan tempur prajurit-prajurit ini. Pada keadaan semacam ini, prajurit-prajurit lain (makrofaga) dikerahkan. Keterlibatan mereka menyebabkan kehebohan di kawasan sasaran dan para prajurit lain (sel T pembantu) pun dipanggil untuk bertempur.

Prajurit-prajurit ini sangat mengenal penghuni setempat. Mereka dengan cepat bisa membedakan pasukan mereka sendiri dari pasukan musuh. Mereka segera mengerahkan prajurit (sel-sel B) yang ditugaskan untuk memproduksi senjata. Para serdadu ini mempunyai kemampuan luar biasa. Meskipun mereka tidak pernah melihat musuh, mereka dapat menghasilkan senjata yang akan menyebabkan musuh tak berdaya. Di samping itu, mereka mengangkut senjata-senjata yang mereka hasilkan itu sejauh semestinya. Selama perjalanan dalam tugas yang sulit ini mereka berhasil tidak menyebabkan kerusakan apa pun pada mereka sendiri atau pada sekutu-sekutu mereka. Kemudian, tim penyerang (sel-sel T pembunuh) menyiangi jalan. Mereka membongkar bahan beracun yang mereka angkut sendiri ke lokasi tergenting musuh. Bila menang, sekelompok prajurit lain (sel-sel T pendesak) tiba di medan tempur dan mengirimkan semua serdadu mereka kembali ke barak mereka. Para prajurit yang tiba di medan tempur terakhir (sel-sel memori) mencatat semua informasi yang relevan mengenai musuh, sehingga bisa dipakai di kejadian penyerbuan serupa di masa mendatang.

Pasukan hebat yang dibahas di atas tersebut ialah sistem kekebalan di tubuh manusia. Segala hal yang dijelaskan tersebut dilakukan oleh sel-sel mikroskopik yang tak terlihat dengan mata telanjang. (Untuk informasi lebih lanjut, silakan lihat Harun Yahya, For Men of Understanding, “The Signs in the Heaven and the Earth”.)

Berapa banyak orang yang sadar bahwa mereka memiliki pasukan yang tertata, berdisiplin, dan sempurna di dalam tubuh mereka? Berapa banyak dari mereka yang sadar bahwa mereka dikelilingi dari semua sisi oleh mikroba-mikroba yang, jika tak terhalang, akan menyebabkan mereka menderita penyakit yang parah atau bahkan meninggal? Sesungguhnya, terdapat banyak mikroba yang berbahaya di udara yang kita hirup, di air yang kita minum, di makanan yang kita makan, dan di permukaan benda yang kita sentuh. Walaupun seseorang tak menyadari semua itu, sel-sel tersebut di tubuhnya berupaya sekuat tenaga untuk menyelamatkannya dari penyakit yang mungkin bahkan bisa menimbulkan kematiannya.

Kemampuan semua sel kekebalan untuk membedakan sel-sel musuh dari sel-sel tubuh, kemampuan sel-sel B untuk menyiapkan senjata selama dibutuhkan tanpa merugikan sel-sel tubuh lainnya, terpenuhinya tugas sel-sel penerima sinyal secara komplit tanpa masalah apa pun segera seusai mereka selesaikan pekerjaan mereka, dan kemampuan sel-sel memori tersebut hanyalah beberapa ciri istimewa sistem ini.

Karena semua alasan itu, cerita pembentukan sistem kekebalan tak pernah diangkat oleh para penulis evolusionis.

Dengan berfungsinya penyakit atau tanpa sistem kekebalan, sangatlah sulit bagi seseorang untuk bertahan hidup karena ia akan terbuka bagi semua mikroba dan virus di dunia luar. Saat ini, orang seperti ini hanya bisa hidup dalam ruang khusus tanpa kontak langsung dengan apa pun di luar ruang. Karena itu, tanpa sistem kekebalan, tak mungkin seseorang bertahan hidup di lingkungan primitif. Ini mengarahkan kita kepada fakta bahwa suatu sistem yang sangat rumit semacam sistem kekebalan hanya bisa diciptakan seluruhnya sekaligus dengan semua unsurnya.

Sistem Terencana Secara Rinci

Bernafas, makan, berjalan, dan lain-lain merupakan fungsi manusia yang amat alamiah. Namun kebanyakan orang tidak memikirkan bagaimana tindakan-tindakan dasar ini berlangsung. Sebagai contoh, bila anda makan buah, anda tidak memikirkan bagaimana makanan ini bisa bermanfaat bagi tubuh anda. Satu-satunya hal di benak anda adalah memakan makanan yang menyehatkan; pada saat yang sama, tubuh anda terlibat dalam suatu proses luar biasa yang sangat rinci dengan tujuan menjadikan makanan ini sesuatu yang menyehatkan.

Sistem pencernaan yang melangsungkan proses rinci ini mulai berfungsi segera sesudah sepotong makanan masuk ke dalam mulut. Dengan terlibat dalam suatu sistem sejak awal-mula, air liur membasahi makanan dan mempermudah pengunyahannya oleh gigi dan peluncurannya melalui kerongkongan.

Kerongkongan membantu pengangkutan makanan ke perut dengan bekerjanya suatu keseimbangan yang sempurna. Di sini, makanan itu dicerna dengan asam hidroklorik yang terdapat di perut. Asam ini sangat kuat sehingga mampu melarutkan tidak hanya makanan, tetapi juga dinding perut. Tentu saja, kerusakan semacam ini tidak diperbolehkan di sistem yang sempurna ini. Suatu keluaran yang disebut lendir yang keluar selama pencernaan itu menutupi seluruh dinding perut dan memberikan perlindungan yang sempurna melawan pengaruh buruk asam hidroklorik. Jadi, perut tercegah dari penghancuran diri-sendiri.

Bagian lain dari sistem pencernaan itu terencana juga. Potongan-potongan makanan berfaedah yang dilumatkan dengan sistem pencernaan itu diserap oleh dinding usus kecil dan memasuki pembuluh darah. Permukaan-dalam usus kecil ini ditutupi dengan sulur mungil yang disebut ‘vilus’. Di puncak sel-sel ini di atas vilus adalah panjangan mikroskopik yang disebut mikrovilus. Panjangan-panjangan ini berfungsi sebagai pompa untuk menyerap gizi. Beginilah cara penyerapan gizi oleh pompa-pompa yang disampaikan semuanya ke seluruh tubuh dengan sistem peredaran.

Hal yang layak diperhatikan di sini adalah bahwa evolusi sama sekali tidak bisa menjelaskan sistem yang baru saja diringkas dengan singkat ini. Menurut teori evolusi, organisme yang rumit itu berkembang dari keadaan primitif melalui akumulasi perubahan susunan kecil-kecilan secara bertahap. Bagaimanapun, sebagaimana telah dinyatakan dengan jelas, sistem di dalam perut tidak mungkin terbentuk selangkah demi selangkah. Ketiadaan satu faktor saja akan menimbulkan kematian organismenya.

Tatkala makanan diterima masuk ke dalam perut, getah-perut memperoleh kemampuan untuk melumatkan makanan sebagai hasil dari serangkaian perubahan kimiawi. Kini, bayangkanlah makhluk hidup yang dalam suatu proses yang katanya evolusi; dalam tubuhnya tidak mungkin terjadi transformasi kimiawi yang terencana semacam itu. Makhluk hidup ini tidak bisa memperoleh kemampuan ini, sehingga tidak bisa mencerna makanan yang dimakannya dan akan kelaparan sampai mati dengan setumpuk makanan di perutnya.

Selain itu, selama pengeluaran asam pelarut ini, dinding perut harus menghasilkan keluaran yang disebut lendir pada saat itu juga. Kalau tidak, asam di dalam perut ini akan meremukkan perut. Karena itu, supaya kehidupan berlanjut, perut harus mengeluarkan keduanya (asam dan lendir) pada waktu yang bersamaan. Ini memperlihatkan bahwa yang pasti terjadi sebetulnya bukan evolusi secara kebetulan setahap demi setahap, melainkan suatu penciptaan terencana dengan semua sistemnya.

Semua ini menunjukkan bahwa raga manusia mirip pabrik besar yang tercipta dari banyak mesin kecil yang bekerja bersama-sama dengan keserasian yang sempurna. Sebagaimana pabrik-pabrik yang memiliki perancang, insinyur, dan perencana, tubuh manusia pun memiliki Pencipta Yang Agung.

HEWAN DAN TUMBUHAN

Jutaan jenis hewan dan tumbuhan yang terdapat di dunia ini hadir sebagai ayat yang membuktikan keberadaan dan kemungkinan Pencipta kita.

Semua makhluk hidup ini–sejumlah kecilnya akan kita bahas di sini sebagai contoh–pantas untuk diperiksa sendiri-sendiri. Mereka semua memiliki sistem tubuh yang berlainan, taktik pertahanan yang beragam, cara makan yang unik, dan metode perkembangbiakan yang menarik. Sayangnya, tidak mungkin memaparkan semua sifat mereka dalam sejilid buku. Berjilid-jilid ensiklopedi pun tidak akan cukup untuk tugas ini.

Akan tetapi, sedikit contoh yang akan kita bahas di sini pun akan memadai untuk membuktikan bahwa kehidupan di bumi tidak mungkin dijelaskan dengan mengatakannya kejadian kebetulan.

Dari Ulat ke Kupu-Kupu

ila anda mempunyai 450-500 telur dan harus melindunginya dari ancaman lingkungan, apa yang akan anda lakukan? Langkah terbijak bagi anda adalah mengambil tindakan pencegahan supaya tidak terpencar berhamburan, umpamanya karena angin atau faktor lingkungan lainnya. Dengan menjadi hewan yang menelurkan kebanyakan telurnya pada satu waktu (450-500), ulat sutera menggunakan cara yang sangat cerdas untuk melindungi telur-telurnya: ulat sutera itu menyatukan telur-telur tersebut dengan zat kental (benang) yang dikeluarkannya untuk mencegah supaya telur-telur itu tidak terpencar ke sekitarnya.

Ulat-ulat yang memunculkan telur-telur mereka mula-mula mendapati cabang yang aman bagi mereka sendiri dan kemudian mengikatkannya dengan benang yang sama. Lalu, untuk mengembangbiakkan mereka sendiri, mereka mulai memintal kepompong dengan benang yang mereka keluarkan. Untuk melengkapi proses ini, diperlukan waktu 3-4 hari bagi ulat yang baru membuka mata menatap kehidupan. Selama jangka waktu ini, ulat itu membuat ribuan putaran dan menghasilkan benang sepanjang rata-rata 900-1500 meter.14 Pada akhir proses ini, mulailah tugas baru sebagai bagian dari metamorfosis untuk menjadi kupu-kupu yang anggun.

Tindakan yang dilakukan oleh ulat sutera induk untuk melindungi telur-telurnya atau pun perilaku ulat mungil tanpa kesadaran, pendidikan, atau pengetahuan tersebut tidak bisa dijelaskan oleh teori evolusi. Khususnya, ajaibnya kemampuan si induk untuk menghasilkan benang yang dipakai untuk mengamankan telur-telurnya. Pengetahuan ulat yang baru lahir tentang lingkungan yang paling cocok bagi dirinya sendiri, pemintalan kepompongnya yang sesuai dengan hal ini, pelaksanaan metamorfosisnya, dan kehadirannya melalui metamorfosis yang tanpa masalah ini berada di luar pemahaman manusia. Karenanya, kita bisa mengatakan ala kadarnya bahwa setiap ulat lahir ke dunia dengan dibekali pengetahuan tentang apa yang harus dilakukannya, yang berarti bahwa semua hal ini ‘diajarkan’ sebelum ia lahir.

Mari kita jelaskan ini dengan sebuah contoh. Apa pendapat anda jika melihat bayi yang baru lahir bisa berdiri selama beberapa jam setelah kelahirannya, mengumpulkan benda-benda yang ia butuhkan untuk membuat alas tidurnya (seperti selimut kapas, bantal, kasur), dan kemudian menyatukannya dengan rapi, membuat alas tidurnya dan berbaring di atasnya? Setelah anda pulih dari keterkejutan terhadap peristiwa ini, mungkin anda mengira bahwa bayi itu pasti diajari dengan cara yang luar biasa di rahim induknya untuk mengerjakan proses seperti itu. Kejadian ulat itu tidak berbeda dari bayi dalam contoh ini.

Ini sekali lagi mengarahkan kita pada kesimpulan yang sama: makhluk-makhluk hidup hadir ke dalam kehidupan, berkelakuan dan hidup dengan cara yang ditentukan oleh Allah Yang menciptakan mereka. Ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah memberi ilham kepada lebah dan memerintahkannya untuk membuat madu (Surat an-Nahl, 68-69) memberi contoh tentang rahasia besar dunia makhluk hidup. Rahasia ini adalah bahwa semua makhluk hidup tunduk kepada kehendak Allah dan mengikuti takdir yang ditentukan oleh Dia. Karena inilah lebah membuat madu dan ulat sutera membuat sutera.

Sayap Yang Simetris

Bila kita pandang sayap-sayap kupu-kupu di gambar, kita lihat kesimetrisan sempurna yang terdapat pada sayap-sayap ini. Sayap-sayap yang seperti renda ini banyak dihiasi dengan pola, sorotan, dan warna yang masing-masing bagaikan karya seni.

Bila anda lihat sayap-sayap kupu-kupu ini, anda perhatikan bahwa pola dan warnanya pada kedua sisi sama persis, kendati anda lihat seteliti mungkin. Bahkan titik terkecil pun terdapat pada kedua sayap, yang dengan demikian menunjukkan kesimeterisan dan tatanan yang tidak bercacat.

Di samping itu, tak satu pun dari warna-warna di sayap-sayap tipis ini bercampur dengan yang lain, masing-masing terpisah dengan tegas dari yang lain. Sebenarnya, warna-warna ini terbentuk melalui penumpukan sisik-sisik mungil yang menggugus satu sama lain. Tidakkah merupakan keajaiban bagaimana sisik-sisik kecil, yang mudah tersebar dengan sentuhan lembut tangan anda, bisa tertata di kedua sayap tanpa kekeliruan sedikit pun di pembagiannya sehingga menghasilkan pola yang tepat sama? Pemindahan sebuah sisik tunggal pun akan menghancurkan kesimetrisan sayap dan merusak keindahannya. Namun demikian, anda tak pernah melihat kecampuradukan sayap kupu-kupu di bumi ini. Sayap-sayap itu rapi dan anggun seolah-olah dibuat oleh seniman. Sesungguhnya sayap-sayap tersebut buatan Pencipta Yang Agung.

Hewan dengan Leher Terpanjang: Jerapah

Jerapah mempunyai banyak karakteristik yang menakjubkan. Salah satunya adalah bahwa lehernya tegak pada 7 tulang belakang, sama dengan mamalia lainnya, walaupun leher ini sangat panjang. Fakta yang menakjubkan lainnya adalah bahwa jerapah sama sekali tidak memiliki masalah pemompaan darah naik ke otaknya di puncak lehernya yang panjang. Dengan sedikit berpikir saja akan terlintas betapa sulitnya keharusan pemompaan darah sedemikian tinggi. Namun jerapah tidak mempunyai masalah mengenai hal ini, karena jantungnya dilengkapi dengan perlengkapan untuk memompa darah setinggi sesuai dengan keperluannya. Ini memungkinkan jerapah menjalani kehidupannya tanpa susah-payah.

Sekalipun begitu, jerapah masih menghadapi masalah lain ketika minum air. Pada dasarnya, jerapah mestinya mati karena tekanan darah yang tinggi setiap membungkukkan leher untuk minum air. Akan tetapi, sistem yang sempurna di lehernya meredam risiko ini dengan lengkap. Ketika jerapah membungkuk, katup-katup di kantung lehernya menutup dan mencegah darah yang berlebihan akibat aliran ke otak.

Tidak ada keraguan bahwa jerapah tidak memperoleh ciri-ciri ini dengan merencanakannya menurut kebutuhannya. Bahkan lebih tidak masuk akal bila mengatakan bahwa semua perlengkapan penting ini dibentuk seiring dengan berlalunya waktu melalui proses evolusi secara bertahap. Supaya tetap hidup, jerapah membutuhkan sistem pemompaan untuk mengalirkan darah ke otak dan sistem katup untuk mencegah tekanan darah yang tinggi sewaktu membungkuk. Jika salah satu dari karakteristik ini tidak ada atau tidak berfungsi dengan tepat, maka mustahil bagi jerapah untuk terus hidup.

Kesimpulan yang harus ditarik dari semua ini adalah bahwa spesies jerapah lahir ke dunia dengan segala karakteristiknya yang amat penting bagi kehidupannya. Mustahil bagi makhluk yang tidak menguasai tubuhnya untuk mendapatkan ciri-ciri dasarnya secara sengaja. Jadi, ini jelas-jelas membuktikan bahwa jerapah diciptakan melalui penciptaan yang disengaja, yaitu oleh Allah.

Penyu Laut

Penyu-penyu laut hidup di gelombang samudera dengan bergerombol menuju pantai bila tiba saatnya untuk berkembang biak. Walaupun ini bukan pantai biasa. Pantai yang mereka datangi untuk berkembang biak pasti tempat kelahirannya.15 Kadang-kadang penyu laut harus melakukan perjalanan sejauh 800 kilometer untuk tiba di sana. Namun perjalanan yang panjang dan keras tidak mengubah keadaan ini. Mereka tiba di pantai tempat kelahiran mereka untuk melahirkan keturunan mereka, apa pun yang terjadi.

Sungguh luar biasa bagaimana suatu makhluk hidup bisa menemukan jalan kembalinya ke pantai yang sama persis sesudah 20-25 tahun keberangkatannya dari sana.16 Yang lebih luar biasa, penyu laut bisa menemukan arah tempat kelahirannya di kedalaman samudera yang cahayanya sedikit sekali, dan kemudian membedakannya dari begitu banyak pantai yang serupa.

Akhirnya, ribuan musafir yang tanpa kompas ini mencapai pantai yang sama pada waktu yang sama. Alasan yang melandasi pertemuan yang bertubi-tubi ini yang pada mulanya merupakan misteri itu kini menjadi kejutan besar ketika akhirnya terkuak. Karena penyu-penyu tahu bahwa keturunan mereka tidak bisa bertahan hidup di keadaan laut, mereka memendam telur mereka di bawah pasir di pantai. Tetapi mengapa mereka semua bertemu di pantai yang sama pada waktu yang sama? Apakah bayi mereka tidak akan bertahan hidup jika mereka melakukan hal yang sama di waktu yang berbeda dan di pantai yang berlainan? Orang-orang yang melakukan penelitian mengenai topik ini dihadapkan dengan situasi yang menarik. Ribuan keturunan di bawah pasir itu harus mengatasi sejumlah kendala besar setelah memecahkan telur mereka dengan gumpalan keras pada kepala mereka. Bayi penyu seberat rata-rata 31 gram ini tidak bisa secar sendiri-sendiri menggali

lapisan tanah di atas mereka. Mereka semua saling membantu. Ketika ribuan bayi penyu di pantai mulai menggali tanah, mereka membuatnya pada permukaan pasir selama beberapa hari. Walau demikian, sebelum muncul di permukaan, mereka menunggu sesaat hingga malam tiba. Ini karena pada siang hari, terdapat bahaya yang mengintai dari para pemangsa. Di samping itu, akan cukup sulit bagi mereka untuk merangkak di atas pasir yang terbakar oleh sinar matahari. Bila malam tiba, mereka naik ke permukaan setelah menyudahi proses penggalian. Kendati gelap, mereka bekerja keras menuju laut dan berangkat dari pantai untuk kembali ke sana pada 20-25 tahun kemudian.

Dan dalam penciptaan kamu sendiri dan bahwa binatang-binatang tersebar (di seluruh penjuru bumi), ada ayat-ayat bagi mereka yang benar-benar beriman. (Surat al-Jatsiyah, 4)

Mustahil bagi bayi-bayi penyu ini untuk mengetahui bahwa mereka harus menggali jalan mereka ke atas sesudah bermunculan dari telur mereka dan menunggu sesaat pada jarak tertentu dari laut. Sama sekali tidak mungkin bagi mereka untuk mengetahui, tatkala masih terpendam di tanah, apakah ini siang ataukah malam, bahwa para pemangsa terdapat di luar sana dan bahwa mereka bisa menjadi mangsa predator, bahwa pasirnya terbakar karena matahari, bahwa ini bisa membahayakan mereka, dan bahwa mereka harus bekerja keras menuju laut. Jadi, bagaimanakah pelaksanaan yang disengaja ini muncul?

Satu-satunya jawaban atas pertanyaan ini adalah bahwa bayi-bayi penyu ini telah agak ‘terprogram’ untuk berperilaku secara demikian, yang berarti bahwa Pencipta mereka telah mengilhami mereka naluri yang menolong mereka menyelamatkan kehidupan mereka.

Kumbang Pengebom

Kumbang pengebom merupakan serangga yang padanya telah banyak dilakukan penelitian. Ciri yang menyebabkan serangga ini sangat populer adalah bahwa kumbang pengebom menggunakan metode kimiawi untuk melindungi diri dari musuh-musuhnya.

Pada keadaan bahaya, serangga ini menyemprotkan hidrogem peroksida dan hidroquinon yang tersimpan di tubuhnya ke arah si musuh untuk melindungi diri. Sebelum bertempur, susunan-susunan istimewa yang disebut cuping pengeluar membuat campuran pekat kedua zat kimia ini. Campuran ini disimpan di ruang terpisah yang disebut ruang penyimpanan. Ruang ini dihubungkan dengan ruang kedua yang disebut ruang peledakan. Kedua ruang ini dijaga agar terpisah satu sama lain dengan otot sfingter. Ketika serangga ini merasakan bahaya, ia memencet otot-otot yang mengelilingi ruang penyimpanan seraya mengendurkan otot sfingter, sedangkan zat kimia di ruang penyimpanan dipindahkan ke ruang peledakan. Sejumlah besar panas diluncurkan dan terjadilah penguapan. Uap dan gas oksigen luncuran ini menggunakan tekanan pada dinding-dinding ruang peledakan, dan zat kimianya disemprotkan ke arah musuh melalui suatu saluran yang mengarah keluar dari tubuh kumbang tersebut.17

Masih merupakan misteri besar bagi para peneliti, bagaimana serangga bisa melabuhkan sistem kokoh di dalam dirinya sendiri yang akan cukup untuk memicu reaksi kimia yang dengan mudah bisa membahayakannya seraya juga mengisolasi diri dari pengaruh sistem ini. Tak meragukan, keberadaan dan bekerjanya sistem ini terlalu rumit untuk disifatkan pada serangga sendiri. Masih merupakan bahan diskusi, bagaimana kumbang pengebom membuat sistem sedemikian itu bekerja dalam tubuh mungilnya yang berukuran sekitar 2 cm panjangnya, ketika manusia yang pakar hanya bisa menampilkannya di laboratorium.

Satu-satunya kebenaran yang muncul di sini adalah bahwa serangga ini merupakan contoh nyata yang menolak teori evolusi sepenuhnya, karena mustahil bagi sistem kimia rumit ini untuk dibentuk dengan serangkaian berbagai kebetulan dan berlalu hingga generasi mendatang. Bahkan, kerusakan atau ‘cacat’ kecil pun pada sepotong tunggal sistem itu membuat hewan tersebut tak berdaya, sehingga akan segera terbunuh atau akan menyebabkannya bunuh-diri. Karena itu, satu-satunya penjelasan adalah bahwa senjata kimia di tubuh serangga ini pasti muncul sekaligus beserta semua bagiannya dan tanpa cacat.

Sarang Rayap

Semua orang mungkin terkejut bila menyaksikan sarang rayap yang didirikan di tanah. Sarang-sarang ini merupakan keajaiban arsitektur, yang tingginya mencapai 5 atau 6 meter.

Bila anda bandingkan ukuran rayap dan sarangnya, akan anda dapati bahwa rayap itu telah berhasil merampungkan proyek arsitekturnya yang berukuran 300 kali lebih besar daripada dirinya sendiri. Namun yang lebih aneh lagi ialah bahwa rayap-rayap itu buta.

Orang yang tak pernah melihat sarang besar yang dibangun oleh rayap buta mungkin mengira bahwa sarang itu terbuat dari gundukan pasir yang saling bertumpukan. Akan tetapi, sarang rayap membuktikan rancangan yang mengagumkan yang tak terbayangkan oleh benak manusia; di dalamnya terdapat saluran-saluran yang saling berhubungan, lorong-lorong, sistem ventilasi, langsiran produksi cendawan khusus, dan pintu keluar pengaman.

Jika anda mengumpulkan ribuan orang buta dan memberi mereka semua jenis peralatan teknik, anda tak akan pernah bisa membuat mereka menyusun sarang yang serupa dengan yang dibuat oleh sekumpulan rayap. Jadi, pikirkan saja:

Bagaimana bisa seekor rayap yang panjangnya 1-2 cm mempelajari informasi rekayasa dan arsitektur yang dibutuhkan untuk memuluskan rancangan tersebut?

Bagaimana bisa ribuan ekor rayap buta mengelola pekerjaan secara serasi untuk membangun bangunan ini yang merupakan keajaiban artistik?

Jika anda belah sarang rayap menjadi dua pada tahap awal pembangunannya, dan kemudian menyatukannya kembali, maka akan anda lihat bahwa semua gang, saluran, dan jalan saling bersesuaian. Bagaimana kejadian ajaib ini bisa dijelaskan?

Kesimpulan yang harus ditarik dari contoh ini adalah bahwa Allah telah menciptakan semua makhluk hidup secara unik dan tanpa contoh lebih dahulu. Bahkan satu sarang rayap pun cukup bagi manusia untuk memahami Allah dan yakin bahwa Dialah Yang menciptakan semuanya.

Burung Pelatuk

Sebagaimana kita ketahui bersama, burung-burung pelatuk membangun sarang-sarang mereka dengan mengebor lubang-lubang di batang pohon dengan paruh mereka. Ini mungkin terdengar biasa bagi kebanyakan orang. Namun hal yang lalai untuk diperhatikan adalah mengapa burung pelatuk tidak mengalami pendarahan ketika mereka memukul-mukul secara dahsyat dengan kepala mereka. Yang dilakukan oleh burung pelatuk ini serupa dengan orang yang memukul paku ke dinding dengan kepalanya. Jika orang mencoba melakukan perbuatan seperti ini, mungkin ia akan mengalami pusing yang diikuti dengan gegar otak. Akan tetapi, burung pelatuk bisa mematuk batang pohon yang keras 38-43 kali dalam waktu dua atau tiga detik saja tanpa menderita apa-apa.
Tidak terjadi apa-apa karena struktur kepala burung pelatuk tercipta secara ideal untuk tugas semacam itu. Tengkorak burung pelatuk mempunyai sistem suspensi yang luar biasa yang menyerap daya pukulan. Muka dan beberapa urat tengkoraknya yang berdampingan dengan paruh dan rahangnya itu sangat kokoh sehingga turut mengurangi efek pukulan yang kuat selama pematukan.19

Rancangan dan perencanaan tidak berakhir di sini. Dengan terutama lebih menyukai kayu tusam, burung pelatuk mengecek umur pohon sebelum mengebor lubang padanya dan memilah yang umurnya lebih dari 100 tahun, karena kayu tusam yang umurnya lebih dari 100 tahun menderita suatu penyakit yang menyebabkan kulit kayu keras dan tebal untuk dilembutkan. Baru-baru ini sajalah hal ini ditemukan oleh sains dan mungkin anda membacanya di sini untuk pertama kalinya dalam kehidupan anda; burung pelatuk telah mengetahuinya selama berabad-abad.

Ini bukan satu-satunya alasan mengapa burung pelatuk lebih menyukai kayu tusam. Burung pelatuk menggali rongga di sekeliling sarang mereka yang fungsinya pada mulanya tidak terpahami. Kemudian rongga-rongga ini terpahami untuk melindungi mereka dari bahaya besar. Seiring dengan waktu, damar lengket yang lolos dari kayu tusam memenuhi rongga sehingga rintisan sarang burung pelatuk penuh dengan genangan yang dengan demikian ini, burung pelatuk bisa terlindung dari ular, musuh terbesar mereka.

Corak menarik lain burung pelatuk adalah mulut mereka yang cukup tipis untuk juga menyusup sarang semut di pohon. Mulut mereka juga lengket yang memungkinkan mereka untuk mengumpulkan semut di sana. Kesempurnaan penciptaan ini selanjutnya terungkap oleh fakta bahwa mulut mereka mempunyai susunan yang mencegah mereka dari bahaya asam di tubuh semut-semut.20

Burung pelatuk, yang setiap cirinya dibahas di berbagai paragraf di atas, dengan semua corak rincinya membuktikan bahwa mereka itu ‘diciptakan’. Jika burung pelatuk berkembang secara kebetulan sebagaimana klaim teori evolusi, mereka akan mati sebelum memperoleh ciri konsisten yang luar biasa seperti itu dan mereka akan punah. Akan tetapi, karena mereka diciptakan oleh Allah dengan ‘rancangan’ istimewa yang disesuaikan dengan kehidupan mereka, mereka memulai kehidupan mereka dengan semua sifat-sifat pentingnya.

Kamuflase

Salah satu strategi pertahanan hewan adalah kamuflase. Beberapa hewan mempunyai perlindungan khusus yang berupa struktur tubuh dan pewarnaan yang semuanya sesuai dengan habitat mereka. Tubuh-tubuh makhluk hidup ini sangat serasi dengan lingkungan mereka yang bila anda lihat di gambar, tidak bisa anda katakan apakah itu tanaman ataukah hewan, atau membedakan mereka dari sekeliling mereka.

Sebagaimana yang akan kita lihat pada halaman-halaman berikut, keserupaan yang luar biasa pada seekor serangga dengan daun membantunya mengalihkan perhatian musuh-musuhnya. Jelas bahwa hewan mungil ini tidak membuat tubuhnya kelihatan seperti daun. Mungkin ia tidak sadar juga bahwa ia terlindung karena terlihat seperti daun. Namun demikian, kamuflase ini sedemikian tangkas sehingga segera mengena sebagai taktik pertahanan yang terencana secara khusus dan ‘tercipta’.

MATA PALSU MEMBINGUNGKAN!

Bila kupu-kupu membuka sayap, kita dapati sepasang mata. Mata-mata ini meyakinkan musuh-musuhnya bahwa ia bukan kupu-kupu. Terutama, wajah palsu beberapa spesies kupu-kupu seperti kupu-kupu Shonling yang terlihat di atas sangat sempurna dengan sinar mata, corak wajah, alis mata mengerut, mulut dan hidung sehingga gambaran keseluruhannya cukup menggetarkan bagi banyak musuhnya.

Orang yang berkepala batu dengan menyangkal Allah mungkin berusaha menyokong pandangannya yang tak masuk-akal dengan penjelasan evolusionis yang berupa “teori kebetulan yang menarik”. Ia mungkin juga menyatakan bahwa ‘kupu-kupulah yang menghasilkan pola ini pada tubuhnya dengan memikirkan bahwa ini akan berguna baginya’.

Jika seseorang membuat pernyataan sedemikian ini dan menaksir bahwa pola-pola yang mengungguli keindahan lukisan seniman ini muncul secara kebetulan, maka tidak ada yang tersisa pada bagian ‘ulul albab’. Ini karena pernyataan itu tidak sesuai sama sekali dengan nalar dan akal sehat.

Mata Palsu

Ada beberapa metode pertahanan menarik yang tak terbayangkan dan luar biasa di dunia hewan. Salah satunya ialah mata palsu. Dengan mata palsu semacam ini, berbagai kupu-kupu, ulat, dan spesies ikan meyakinkan musuh mereka bahwa mereka ‘berbahaya’.

Kupu-kupu di gambar kiri membuka sayap mereka segera sesudah merasakan suatu bahaya dan mempertontonkan sepasang mata di setiap sayap mereka yang tampaknya cukup mengancam musuh-musuh mereka.

Mari kita luangkan waktu dan berpikir: mungkinkah mata yang sangat meyakinkan tersebut merupakan hasil dari kebetulan? Bagaimana mungkin kupu-kupu tahu bahwa sepasang mata yang menakutkan akan tampak bila ia membuka sayapnya dan bahwa pandangan ini akan menggetarkan musuhnya? Pernahkah kupu-kupu melihat pola pada sayapnya dan memutuskan bahwa pola ini menakutkan dan bahwa ini bisa berfaedah pada kejadian bahaya?

Pola yang meyakinkan seperti itu hanya mungkin merupakan hasil dari rancangan yang disengaja, bukan dari kebetulan. Lagipula, sama sekali tidak mungkin bahwa kupu-kupu menyadari pola-pola pada sayapnya dan menemukannya sendiri sebagai taktik pembelaan. Jelas bahwa Allah, Yang menciptakan kupu-kupu, melimpahkan pada tubuhnya pola seperti itu dan memberi ilham naluri kepada hewan untuk dipakai pada keadaan bahaya.

Bunga Teratai

Bunga-bunga kecil biasanya dianggap biasa oleh orang-orang, meski sempurna sepenuhnya. Orang-orang tidak mencerap keajaiban penciptaan bunga-bunga ini karena terlihat ada di mana-mana setiap hari. Karena itu, bunga-bunga yang tumbuh di tempat yang sangat berbeda, dalam keadaan yang sangat lain, dan dalam ukuran yang sangat berbeda akan ditaksir tanpa ‘kacamata biasa’ dan dengan demikian membantu kita mencerap keberadaan Allah.

Teratai-teratai Amazon yang tumbuh di lumpur lengket yang menutupi dasar Sungai Amazon cukup menarik untuk mengganti ‘kacamata biasa’ orang-orang, karena mereka melangsungkan kehidupan mereka tidak dengan cara yang biasanya kita saksikan setiap hari, tetapi dengan perjuangan yang sangat lain.

Tanaman-tanaman ini mulai tumbuh di lumpur dasar Sungai Amazon, dan kemudian menjangkau permukaan sungai. Tujuannya adalah mencapai sinar matahari yang sangat penting untuk keberadaan mereka. Tatkala akhirnya mencapai permukaan air, mereka berhenti tumbuh dan mengembangkan pucuk bundar berduri. Pucuk-pucuk ini berkembang menjadi daun-daun raksasa dengan jangkauan 2 meter dalam beberapa jam. Dengan ‘mengetahui’ bahwa semakin banyak menutupi permukaan sungai dengan daun-daun yang berhamparan, semakin mampu mereka memanfaatkan sinar matahari, teratai-teratai ini banyak menggunakan siang hari untuk melakukan fotosintesis. Mereka ‘tahu’ bahwa kalau tidak, mereka tidak akan dapat bertahan hidup di dasar sungai karena langkanya cahaya. Tentu saja, menjalankan taktik ‘cerdik’ seperti ini jelas merupakan ilham bagi tanaman.

Akan tetapi, sinar matahari saja tidak memadai bagi terata-teratai Amazon. Mereka juga membutuhkan oksigen. Sekalipun demikian, tentu saja oksigen ini tidak ada di tanah berlumpur tempat akar-akar mereka. Karena inilah teratai membentangkan tangkai yang berkembang dari akar ke atas menuju permukaan air yang mengambangkan daun-daun mereka. Kadang-kadang tangkai-tangkai ini tumbuh setinggi 11 meter; mereka berkaitan dengan daun-daun dan berfungsi sebagai pengangkut oksigen antara daun dan akar.21

Bagaimana pucuk itu bisa tahu pada tahap awal kehidupannya di kedalaman sungai bahwa ia membutuhkan oksigen dan sinar matahari untuk mempertahankan hidup, bahwa ia tidak akan bisa hidup tanpanya, dan bahwa segala sesuatu yang dibutuhkannya ini terdapat di permukaan air? Makhluk yang baru saja mengenal kehidupan ini tidak menyadari kenyataan bahwa air ini mempunyai permukaan atau pun keberadaan matahari dan oksigen.

Karena itu, jika seluruh kejadian ini ditaksir dari sudut pandang evolusionis, tumbuh-tumbuhan ini pasti sudah lama takluk oleh keadaan lingkungan dan menjadi punah. Akan tetapi, teratai masih ada saat ini dengan segala kesempurnaannya.

Perjuangan kehidupan teratai-teratai yang sulit dipercaya ini masih berlangsung setelah mereka mencapai sinar dan oksigen di permukaan air, yang di sini mereka menggulung daun-daun raksasa mereka ke atas supaya tidak tenggelam.

Mereka dapat melangsungkan kehidupan dengan semua pencegahan ini. Sekalipun demikian, mereka tahu bahwa ini tidak cukup untuk perkembangbiakan. Mereka membutuhkan makhluk hidup yang akan membawa serbuk-sari mereka ke teratai lain, dan makhluk hidup ini ialah kumbang yang tercipta dengan ketertarikannya pada warna putih. Hewan ini lebih suka teratai putih ini daripada bunga-bunga menarik lainnya di Sungai Amazon. Ketika teratai Amazon dikunjungi oleh hewan ini yang akan melestarikan spesies mereka, mereka menutup semua daun mereka, membelenggu mereka, dan menawari mereka serbuk-sari yang cukup banyak. Mereka membiarkan mereka bebas setelah menyekap mereka selama satu malam, dan kemudian mengubah warna mereka supaya mereka tidak membawa kembali serbuk-sari yang sama kepada mereka. Segera setelah putih murni, teratai meriah lalu menghiasi sungai Amazon dengan warna merah-muda.

Bisakah rencana-rencana yang diperhitungkan secara baik dan tanpa cacat seperti itu merupakan karya pucuk yang tidak menyadari segalanya? Tentu tidak. Mereka ialah hasil dari kebijaksanaan Allah, Yang mengciptakan segala sesuatu. Semua seluk-beluk yang diringkas di sini menunjukkan bahwa tanaman, seperti semua makhluk hidup di alam semesta ini, menjadi ada dengan telah diperlengkapi dengan sistem yang paling sesuai, dan bersyukurlah kepada Pencipta mereka.

KESIMPULAN

Bisakah angin membentuk pesawat terbang secara kebetulan? Fisikawan terkenal Sir Fred Hoyle membuat pengamatan yang sangat tajam mengenai asal-usul kehidupan. Dalam bukunya The Intelligent Universe ia menulis:

Peluang bahwa bentuk kehidupan yang lebih tinggi mungkin muncul dengan cara ini [secara kebetulan] sebanding dengan peluang bahwa angin puyuh yang melanda melalui tempat barang rongsokan bisa membentuk Boeing 747 dari bahan-bahan di situ.22

Pembandingan Hoyle ini cukup berilham. Contoh-contoh yang kita bahas tadi juga mengungkapkan bahwa keberadaan kehidupan dan juga kesempurnaan sistemnya tersebut memaksa kita untuk mencari kekuatan hebat yang menjadikan ini semua. Sebagaimana angin topan yang tidak bisa menghasilkan pesawat terbang sebagai hasil dari kebetulan, mustahil juga bagi alam semesta untuk menjadi ada sebagai hasil dari kejadian yang tak terencana dan lebih-lebih mengandung susunan yang sangat rumit di dalamnya. Yang benar, alam semesta diperlengkapi dengan banyak sekali sistem dengan kerumitan yang jauh lebih tak terbatas daripada sistem pesawat terbang.

Segala yang kami katakan di bab ini menantang kita dengan bukti perencanaan yang tak bercacat bukan hanya di sekeliling yang dekat dengan kita, melainkan juga di pedalaman. Orang yang menaksir ayat-ayat ini yang juga merupakan bukti yang tak terbantahkan baik oleh akal maupun nurani hanya bisa sampai pada satu kesimpulan: tidak ada tempat bagi kebetulan di alam semesta ini; alam semesta ini DICIPTAKAN dengan segala hal-hal kecil di dalamnya.

Dan Allah, Pencipta sistem yang sempurna ini, Dialah Yang mempunyai kekuatan dan pengetahuan yang tak terbatas.

PARA ILMUWAN MENYAKSIKAN AYAT-AYAT ALLAH

Liputan kita sejauh ini memperlihatkan bahwa sifat-sifat alam semesta yang ditemukan dengan ilmu pengetahuan menunjukkan keberadaan Allah. Ilmu pengetahuan mengarahkan kita kepada kesimpulan bahwa alam semesta memiliki Pencipta dan bahwa Pencipta ini sempurna dalam hal kekuasaan, kebijaksanaan, dan pengetahuan. Agamalah yang memperlihatkan jalan kepada kita untuk mengenal Allah. Karena itu, bisa dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah metode yang kita gunakan untuk melihat dan menyelidiki dengan lebih baik kenyataan-kenyataan yang disebut oleh agama. Namun demikian, sekarang, beberapa ilmuwan yang melangkah maju atas nama ilmu pengetahuan mengambil sudut pandang yang seluruhnya berbeda. Dalam pandangan mereka, penyelidikan ilmiah tidak menyiratkan ciptaan Allah. Mereka justru meluncurkan pemahaman ilmu pengetahuan yang ateistik dengan mengatakan bahwa mustahil menjangkau Allah melalui data ilmiah: mereka mengklaim bahwa ilmu pengetahuan dan agama merupakan dua pandangan yang berbenturan.

Sesungguhnya, pemahaman ilmu pengetahuan yang ateistik ini belum lama. Sampai beberapa abad yang lalu, ilmu pengetahuan dan agama tidak pernah dikira berbenturan satu sama lain, dan ilmu pengetahuan diterima sebagai metode pembuktian keberadaan Allah. Pemahaman ilmu pengetahuan yang disebut ateistik ini baru berkembang sesudah filsafat materialis dan positivis melanda dunia ilmui pengetahuan pada abad ke-18 dan ke-19.

Terutama setelah Charles Darwin merumuskan teori evolusi pada 1859, kalangan yang berpandangan materialistik mulai secara ideologis membela teori ini, yang mereka lihat sebagai altertnatif terhadap agama. Teori evolusi berpendapat bahwa alam semesta tidak diciptakan oleh suatu pencipta, tetapi menjadi ada secara kebetulan. Akibatnya, agama disangka bertentangan tajam dengan ilmu pengetahuan. Para peneliti dari Britania yaitu Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln berpendapat mengenai persoalan ini bahwa satu setengah abad sebelum Darwin, ilmu pengetahuan belum bercerai dari agama dan sebenarnya merupakan bagian darinya, dengan maksud utama untuk melayaninya. Namun dengan munculnya Darwin, ilmu pengetahuan menjadi terlepas dari agama dan menetapkan diri sebagai pesaing mutlaknya dan alternatif terhadap agama. Tiga peneliti ini akhirnya menyimpulkan bahwa karenanya manusia terpaksa membuat pilihan antara keduanya.23

Sebagaimana yang kami nyatakan tadi, “jurang” antara ilmu pengetahuan dan agama bersifat ideologi sepenuhnya. Beberapa ilmuwan, yang dengan serius mempercayai materialisme, mengkondisikan mereka sendiri untuk membuktikan bahwa alam semesta tidak mempunyai pencipta dan mereka membuat berbagai teori dalam konteks ini. Teori evolusi adalah yang paling terkenal dan paling penting di antara berbagai teori itu. Di bidang astronomi pun jelas ada teori yang dikembangkan seperti “teori keadaan-tetap” atau “teori kekacaubalauan”. Akan tetapi, semua teori yang menolak penciptaan ini lumpuh oleh karena ilmu pengetahuan itu sendiri, sebagaimana yang telah kami tunjukkan dengan jelas di bab-bab terdahulu.

Dewasa ini, para ilmuwan yang masih mempertahankan teori-teori ini dan bersikeras menolak semua hal yang religius ialah orang-orang yang dogmatik dan fanatik, yang mengkondisikan mereka sendiri tidak untuk mengimani Allah. Seorang evolusionis dan zoolog terkenal, D.M.S. Watson mengakui dogmatisme ini ketika ia menjelaskan mengapa ia dan rekan-rekannya menerima teori evolusi:

Kalau begitu, ini akan menyajikan kesejajaran dengan teori evolusi itu sendiri, teori yang secara universal diterima, bukan karena bisa dibuktikan dengan bukti yang secara logis benar, melainkan karena satu-satunya alternatif, ciptaan istimewa, jelas-jelas sulit dipercaya.24

Apa yang dimaksud oleh Watson dengan “ciptaan istimewa” adalah ciptaan Allah. Sebagaimana yang diakui, para ilmuwan ini menganggapnya “tak bisa diterima”. Namun mengapa? Apakah karena ilmu pengetahuan mengatakannya demikian? Sebenarnya tidak. Sebaliknya, ilmu pengetahuan membuktikan kebenaran penciptaan. Satu-satunya alasan mengapa Watson menganggap fakta ini tak dapat diterima adalah karena ia telah mengkondisikan diri untuk menyangkal keberadaan Allah. Semua evolusionis lain mengambil sikap yang sama.

Para evolusionis tidak bersandar pada ilmu pengetahuan, tetapi filsafat materialisme dan mereka menyelewengkan ilmu pengetahuan untuk membuatnya cocok dengan filsafat ini. Seorang ahli genetika dan evolusionis terkenal dari Universitas Harvard, Richard Lewontin, mengakui kebenaran ini:

Ini bukan bahwa metode dan institusi ilmu pengetahuan agak memaksa kita untuk menerima penjelasan materialisme tentang dunia fenomenal, melainkan, sebaliknya, bahwa kita terpaksa oleh kesetiaan apriori kita terhadap penyebab materialis untuk membuat alat penyelidikan dan perangkat konsep yang menghasilkan penjelasan materialis, tidak peduli betapa konter-intuitifnya, tidak peduli betapa membingungkannya hal yang tak berawal. Lagipula, materialisme itu mutlak, sehingga kita tidak mungkin membiarkan Kaki Ilahi di pintu tersebut.25

Sebaliknya, dewasa ini, seperti dalam sejarah, terdapat ilmuwan-ilmuwan yang mempertegas keberadaan Allah, yang berlawanan dengan kelompok materialis dogmatis ini, dan mengakui ilmu pengetahuan sebagai jalan untuk mengenal Dia. Beberapa kecenderungan yang berkembang di A.S. semisal “Kreasionisme” atau “Desain Cerdas” membuktikan dengan bukti ilmiah bahwa semua makhluk hidup diciptakan oleh Allah.

Ini memperlihatkan kepada kita bahwa ilmu pengetahuan dan agama bukan sumber informasi yang bertentangan, melainkan bahwa ilmu pengetahuan justru merupakan metode yang mengesahkan kebenaran mutlak yang disediakan oleh agama. Perseteruan antara agama dan ilmu pengetahuan hanya berlangsung pada agama tertentu yang mengambil beberapa unsur takhyul di samping sumber ilahi. Akan tetapi, tentu saja ini bukan persoalan bagi Islam, yang hanya bergantung kepada wahyu murni dari Allah. Lebih-lebih, Islam terutama mendorong penyelidikan ilmiah, dan mengumumkan bahwa penyelidikan alam semesta merupakan metode untuk merambah ciptaan Allah. Ayat Al-Qur’an berikut ini menyinggung persoalan ini:

Tidakkah mereka melihat langit di atas mereka? Bagaimana Kami membuatnya dan menghiasinya, dan tiada cacat padanya? Dan bumi-Kami bentangkan, dan Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung yang tegak kuat dan Kami tumbuhkan di atasnya berbagai tanaman yang indah berpasang-pasang. … Dan Kami turunkan dari langit air yang membawa berkah, dan dengan itu Kami tumbuhkan kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen; dan pohon kurma yang tinggi, dengan tunas-tunas tangkai saling terjalin. (Surat Qaaf, 6-7, 9-10)

Sebagaimana yang tersirat pada ayat di atas, Al-Qur’an selalu mendorong orang-orang untuk berpikir, bernalar, dan merambah dunia tempat tinggal mereka. Ini karena ilmu pengetahuan mendukung agama, menyelamatkan individu dari kejahiliyahan, dan menyebabkannya untuk berpikir dengan lebih sadar; ilmu pengetahuan membuka lebar-lebar dunia pemikiran dan membantu orang mencerap ayat-ayat Allah yang berbukti sendiri di alam semesta. Seorang fisikawan terkemuka Jerman, Max Planck, mengatakan bahwa “semua orang yang, apa saja bidangnya, mengkaji ilmu pengetahuan secara sungguh-sungguh itu akan membaca frase berikut ini di pintu kuil ilmu pengetahuan: “beriman”. Menurut dia, iman merupakan sifat dasar ilmuwan.26

Semua persoalan yang kita bahas sejauh ini tiba pada kesimpulan bahwa keberadaan alam semesta dan semua makhluk hidup tidak dapat dijelaskan dengan kebetulan. Banyak ilmuwan yang berwibawa di dunia ilmu pengetahuan yang telah mempertegas dan masih mempertegas kenyataan besar ini. Semakin banyak kita belajar tentang alam semesta, semakin tinggi penghargaan kita kepada tatanan yang tiada cacat ini. Semua detail yang baru ditemukan itu mendukung penciptaan dengan cara yang tak terbantah.

Mayoritas besar fisikawan modern menerima fakta penciptaan seperti yang kita pancangkan di abad ke-21. David Darling juga mempertahankan bahwa yang ada di permulaan bukan waktu, bukan ruang, bukan zat, bukan energi, atau pun noktah kecil atau rongga. Suatu pergerakan yang agak cepat dan fluktuasi dan getaran yang kalem terjadi. Darling berakhir-kalam dengan mengatakan bahwa bila tutup kotak kosmik terbuka, maka sulur keajaiban penciptaan akan tampak dari bawahnya.27

Di samping itu, hampir semua pendiri berbagai cabang ilmu pengetahuan beriman kepada Allah dan kitab suci-Nya. Fisikawan terbesar dalam sejarah, Newton, Faraday, Kelvin dan Maxwell merupakan sedikit contoh ilmuwan semacam itu.

Pada masa Isaac Newton, fisikawan besar, para ilmuwan percaya bahwa pergerakan benda-benda langit dan planet-planet bisa dijelaskan dengan hukum yang berbeda-beda. Namun demikian, Newton percaya bahwa pencipta bumi dan angkasa adalah sama dan, karena itu, bisa dijelaskan dengan hukum yang sama. Ia memperluas pandangan ini di bukunya dengan mengatakan bahwa sistem matahari dan planet yang sempurna hanya bisa bertahan di bawah kendali dan dominasi sesuatu yang berkuasa dan bijaksana.28

Telah terbukti, ribuan ilmuwan yang telah melakukan penelitian di bidang fisika, matematika, dan astronomi sejak Zaman Pertengahan semuanya sepakat pada gagasan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Pencipta tunggal dan selalu berfokus pada titik yang sama. Pendiri astronomi fisika, Johannes Kepler, menyatakan keimanannya yang kuat kepada Tuhan di salah satu bukunya yang menyatakan bahwa kita, sebagai hamba Tuhan yang miskin dan serba kekurangan, harus memperhatikan besarnya kebijaksanaan dan kekuasaan Tuhan dan berserah diri kepada-Nya.29

Fisikawan besar, William Thompson (Lord Kelvin), yang mendirikan termodinamika, ialah juga seorang Nasrani yang beriman kepada Allah. Ia menentang keras-keras teori evolusi Darwin dan menolaknya sama sekali. Ia menjelaskan secara singkat sebelum kematiannya bahwa ketika memperhatikan asal-usul alam semesta, tentulah ilmu pengetahuan mempertegas keberadaan Sang Mahakuasa.30

Salah seorang profesor fisika di Universitas Oxford, Robert Mattheus menyatakan fakta yang sama di bukunya yang terbit pada 1992 yang menjelaskan bahwa molekul DNA diciptakan oleh Tuhan. Mattheus menyatakan bahwa semua taraf ini berproses dengan keserasian yang sempurna dari sel tunggal sampai bayi hidup, lalu menjadi anak kecil, dan akhirnya menjadi dewasa. Semua peristiwa ini hanya bisa dijelaskan sebagai keajaiban, sebagaimana taraf-taraf biologis lainnya. Mattheus menanyakan bagaimana organisme yang rumit sesempurna itu bisa muncul dari sel yang mungil dan sesederhana itu dan bagaimana MANUSIA yang bermartabat diciptakan dari sebuah sel yang bahkan lebih kecil daripada titik pada huruf i. Akhirnya, ia menyimpulkan bahwa ini bukan lain kecuali mukjizat.31

Sebagian ilmuwan lain yang menerima bahwa alam semesta diciptakan oleh Pencipta dan yang terkenal karena kontribusi mereka (dalam kurung) ialah:

Robert Boyle (Bapak Kimia Modern)

Iona William Petty (terkenal karena kajiannya tentang Statistika dan Ekonomi Modern)

Michael Faraday (salah seorang dari fisikawan terbesar sepanjang masa)

Gregory Mendel (Bapak Genetika; ia membatalkan Darwinisme dengan penemuannya dalam Genetika)

Louis Pasteur (nama terbesar dalam Bakteriologi; ia menyatakan perang terhadap Darwinisme)

John Dalton (Bapak Teori Atom)

Blaise Pascal (salah seorang dari matematikawan terpenting)

John Ray (nama terpenting dalam Sejarah Alam Britania)

Nicolaus Steno (stratiografer terkenal yang menyelidiki lapisan bumi)

Carolus Linnaeus (Bapak Klasifikasi Biologis)

Georges Cuvier (pendiri Anatomi Komparatif)

Matthew Maury (pendiri Oseanografi)

Thomas Anderson (salah seorang dari pelopor di bidang Kimia Organik)

BUKTI ILMIAH DAN MUKJIZAT AL-QUR’AN

Al-Qur’an diturunkan pada 14 abad yang lalu oleh Allah. Al-Qur’an bukan buku ilmiah. Akan tetapi, kitab ini mencakup beberapa penjelasan ilmiah dalam tautan keagamaannya. Penjelasan ini tidak pernah bertentangan dengan temuan-temuan ilmu modern. Sebaliknya, fakta-fakta tertentu yang baru ditemukan dengan teknologi abad ke-20 itu sebenarnya telah diungkapkan dalam Al-Qur’an 14 abad silam. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an merupakan salah satu bukti terpenting yang menegaskan keberadaan Allah.

MEMANDANG ALAM SEMESTA DENGAN KACAMATA AL-QUR’AN

Menurut data yang diperoleh pada abad ke-20, ternyata bahwa alam semesta ini menjadi ada secara tiba-tiba setelah sebelumnya tidak ada. Teori ini dikenal sebagai teori Ledakan Dahsyat (Big Bang) yang berpandangan bahwa alam semesta ini pada mulanya terjadi dengan peledakan. Kita mengkaji teori ini dalam konteks historisnya yang terdukung dengan bukti-bukti ilmiah pada Bab Dua yang berjudul “Ada dari Tiada”. Pada bab ini, kita akan mengamati bagaimana Allah menyatakan kepada kita beberapa fakta ilmiah mengenai penciptaan alam semesta dalam Al-Qur’an.

Ada bukti yang sangat kuat yang mendukung teori Ledakan Dahsyat. Meluasnya alam semesta merupakan salah satunya dan bukti yang paling signifikan mengenai hal ini adalah saling menjauhnya galaksi-galaksi dan benda-benda langit. Untuk memahami dengan lebih baik, alam semesta bisa dibayangkan sebagai permukaan balon yang digelembungkan. Seperti halnya bagian-bagian permukaan balon yang saling menjauh ketika balon digelembungkan, begitu jugalah angkasa yang saling menjauh tatkala alam semesta meluas.

Dalam hal ini, mari kita rujuk ke ayat Al-Qur’an yang relevan. Pada satu ayat, berikut ini dinyatakan mengenai penciptaan alam semesta:

Dengan kekuasaan Kami membangun cakrawala, dan Kami yang menciptakan angkasa luas. (Surat adz-Dzaariyaat, 47)

Pada ayat lain yang mengacu pada langit, difirmankan:

Tidakkah orang-orang kafir mengerti bahwa langit dan bumi semula terpadu (sebagai satu kesatuan dalam penciptaan), lalu keduanya Kami pisahkan? Dan dari air Kami jadikan segalanya hidup. Tidakkah mereka mau beriman juga? (Surat al-Anbiyaa’, 30)

Kata-asal “ratk” tang diterjemahkan sebagai “terpadu” di ayat ini, berarti “sesuatu yang tertutup, padat, kedap, bergabung menjadi satu dalam massa yang berat” menurut kamus-kamus Arab. Maksudnya, ini dipakai untuk dua potong yang berlainan yang membentuk entitas. Pernyataan “pisahkan” adalah kata-kerja “fatk” dalam bahasa Arab dan ini berarti memecah obyek dalam keadaan “ratk”. Sebagai misal, penumbuhan benih dan tampilan pucuk-pucuknya di bumi diungkapkan dengan kata-kerja ini. Kini, mari kita lihat kembali ayat yang menunjukkan bahwa langit dan bumi itu dalam keadaan “ratk”, lalu keduanya diartikan “dipisahkan” dalam artian katakerja “fatk”. Maksudnya, yang satu menerobos yang lain dan membuat jalan keluarnya. Sungguh, bila kita mengingat kejadian pertama Ledakan Dahsyat, kita lihat bahwa bintik yang disebut telur kosmik itu mengandung semua bahan alam semesta. Segala sesuatu, bahkan “langit dan bumi” yang belum tercipta pun, terkandung di bintik ini dalam keadaan “ratk”. Sesudah itu, telur kosmik ini meledak, kemudian semua zat menjadi “fatk”.

Bila kita bandingkan ungkapan-ungkapan di ayat ini dengan bukti ilmiah, kita lihat bahwa ungkapan-ungkapan ini sangat bersesuaian. Yang cukup menarik, temuan-temuan ini belum ada sebelum abad ke-20.

PENCIPTAAN LANGIT

Steven Weinberg, pengarang buku The First Three Minutes, pernah menegaskan bahwa sepintas lalu, tampaknya langit mungkin merupakan suatu “alam tak berubah” yang kokoh. Sesungguhnya, awan-awan berarak-arakan mengejar bulan, kolong langit biru mengelilingi bintang kutub, bulan itu sendiri membesar dan mengecil dalam waktu yang lebih lama, dan bulan dan planet-planet bergerak melalui suatu bidang yang ditentukan oleh bintang-bintang. Akan tetapi, kita tahu bahwa semua ini kejadian setempat yang disebabkan oleh pergerakan dalam sistem matahari kita. Weinberg juga menambahkan bahwa di belakang planet-planet, bintang-bintang tampaknya tidak bergerak.

Memang, dengan pengamatan ke arah langit sepintas lalu, kita merasa bahwa segala benda itu sangat stabil dan tetap. Namun demikian, ini tidak benar. Terdapat kegiatan besar di langit dan fakta ini, yang tak telihat oleh mata telanjang, yang telah tercatat berabad-abad yang lalu di Al-Qur’an.

Terdapat banyak ayat di Al-Qur’an yang mengacu pada langit, kebanyakan dalam bentuk jamak. Kata “samawat”, yang bermakna “langit-langit”, dalam bahasa Arab berarti angkasa dan atmosfir bumi.

Hal pertama yang akan kita bahas di sini adalah penggunaan kata “langit” dengan bentuk jamak. Penggunaan bentuk jamak ini merupakan salah satu dari mukjizat Al-Qur’an. Sekarang mari kita jelaskan mengapa.

Bayangkan bahwa anda keluar di udara terbuka dan mengarahkan kepala anda menujui langit. Apa yang anda lihat? Jika musim panas, anda akan melihat langit biru cerah atau beberapa awan melayang di langit; dan jika musim dingin, langit abu-abu berkabut tertutup oleh awan. Apa pun yang anda lihat, anda tidak akan mampu melihat atmosfir yang mengelilingi bumi. Anda tak akan pernah tahu bahwa atmosfir ini tersusun dari beberapa lapisan. Bahwa Al-Qur’an membuat acuan rinci ini yang tak teramati dengan mata telanjang itu merupakan sepotong bukti besar bahwa inilah kata-kata Allah:

Dia yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis; tak akan kau lihat ketidakseimbangan dalam ciptaan (Allah) Yang Maha Pemurah. Balikkanlah pandanganmu sekali lagi, tampakkah olehmu ada yang cacat? Lalu ulanglah pandanganmu sekali lagi; pandanganmu akan berbalik kepadamu, letih dan membingungkan. (Surat al-Mulk, 3-4)

Angkasa bisa dibayangkan sebagai rongga besar: rongga amat besar yang tak berbatas, suatu rongga yang mengandung bintang-bintang, planet-planet, dan benda-benda yang bergerak. Akan tetapi, angkasa itu bukan rongga itu sendiri. Angkasa merupakan suatu “sistem” yang terdiri atas berbagai bintang, sistem matahari, planet, satelit, dan komet yang semuanya tak terhitung banyaknya. Telah dinyatakan dalam Al-Qur’an bahwa langit dan angkasa diciptakan tanpa cacat dalam “tatanan besar”:

Tidakkah mereka melihat langit di atas mereka? Bagaimana Kami membuatnya dan menghiasinya, dan tiada cacat padanya? (Surat Qaaf, 6)

BINTANG DAN PLANET

Mari kita amati maksud kata “bintang” dalam Al-Qur’an. Bintang-bintang yang ditunjukkan dengan kata “najm” (bintang) dan “kandil” (pelita) mempunyai dua fungsi utama seperti yang tersirat dalam ayat-ayat. Mereka sumber cahaya dan dimanfaatkan untuk navigasi.

Terutama dalam ayat-ayat yang menggambarkan hari kebangkitan, ditekankan bahwa cahaya bintang keluar dan menjadi mengecil. Untuk matahari, yang merupakan bintang juga, dipakai kata “kandil”. Kata “kandil” digunakan juga bila mengacu pada bintang-bintang yang menghiasi langit. Sekalipun demikian, ada perbedaan yang amat penting ketika kata “nur” (sinar) dipakai untuk bulan. Dengan cara ini, bintang dan bukan bintang saling berbeda. Fakta ini, yang tidak mungkin diketahui 14 abad silam, merupakan satu mukjizat Al-Qur’an.

Kita telah menyebutkan bahwa fungsi-kedua bintang-bintang sebagaimana yang dirujuk dalam ayat-ayat itu merupakan pedoman navigasi. Ayat ini menjelaskan bahwa manusia dapat menentukan arah dengan bantuan bintang di langit. Di semua ayat ini, kata “najm” digunakan. Sungguh, sebelum penemuan kompas, yang mempunyai peran yang sangat penting pada awal-mula penemuan geografis pada Zaman Pertengahan, navigasi hanya bisa terwujud dengan bantuan bintang-bintang pada perjalanan malam hari.

Bagaimana mungkin bahwa bintang-bintang menunjukkan arah? Ini mungkin hanya jika tersusun dalam suatu tatanan di tempat tinggal tetap mereka. Jika suatu bintang terlihat di suatu tempat pada suatu malam, dan di tempat lain pada malam lain, maka dengan ini mustahil mendapatkannya. Dalam komnteks ini, tempat tertentu yang di situ bintang-bintang muncul di langit menjadi sangat penting. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

Selanjutnya, Aku bersumpah demi tempat-tempat terbenamnya bintang-bintang, dan itu sungguh suatu sumpah yang amat besar kalau kamu tahu. (Surat al-Waaqi’ah, 75-76)

MATAHARI DAN BULAN

Ada banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyebut matahari dan bulan. Bila kata-kata Arab ini diselidiki, terungkaplah sifat yang menarik. Pada ayat-ayat ini, kata “siraj” (lampu) dan “wahhaj” (terang-membara) dipakai untuk matahari. Untuk bulan, kata “munir” (cerah berbinar-binar) digunakan. Sungguh, manakala matahari menghasilkan panas dan cahaya yang amat besar sebagai akibat dari reaksi nuklir di dalam, bulan hanya memantulkan cahaya yang diterimanya dari matahari. Ayat-ayat yang menunjukkan perbedaan ini adalah:

Tidakkah kamu lihat bagaimana Allah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, dan membuat bulan yang bercahaya di antaranya, dan membuat matahari sebagai pelita (yang cemerlang)? (Surat Nuuh, 15-16)

Telah Kami bangun di atas kamu tujuh cakrawala dan menempatkan (di situ) cahaya yang cemerlang. (Surat an-Nabaa’, 12-13)

Mahasuci Dia Yang telah menjadikan gugusan bintang di langit dan menempatkan sebuah pelita (yang cemerlang) dan sebuah bulan yang memberi penerangan. (Surat al-Furqaan, 61)

Perbedaan antara matahari dan bulan itu sungguh merupakan bukti di ayat ini. Yang satu dilukiskan sebagai sumber cahaya dan yang lain sebagai pemantul cahaya. Mustahil rincian seperti itu telah diketahui pada waktu itu. Baru berabad-abad kemudian manusia mulai mempunyai pengetahuan ini. Karena itu, fakta bahwa informasi ini telah diberikan di Al-Qur’an merupakan satu bukti bahwa Al-Qur’an diwahyukan oleh Tuhan.

Sekarang, mari kita alihkan perhatian kita ke karakteristik hebat lainnya yang terdapat pada benda-benda langit-yang merupakan pergerakan mereka di angkasa.

ORBIT YANG TERPAPAR DI AL-QUR’AN

Di atas, kita telah menyatakan bahwa benda-benda langit bergerak di angkasa. Pergerakan-pergerakan ini terkendali sepenuhnya dan semua benda bergerak dalam suatu orbit yang terhitung. Dalam Al-Qur’an, ayat-ayat tertentu mengacu pada pergerakan matahari dan bulan sebagai berikut: “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan (secara eksak).” (Surat ar-Rahmaan, 5). “Tiada semestinya matahari menyusul bulan, dan malam tak akan mendahului siang. Masing-masing berenang dalam garis edarnya.” (Surat Yaasiin, 40). Sebuah ayat lain menyatakan efek yang sama:

Dialah Yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing berenang dalam garis edarnya. (Surat al-Anbiyaa’, 33)

Menurut sebuah teori mutakhir yang terakui, benda-benda yang padat dan sangat besar di alam semesta memaksakan kekuatan gravitasi terhadap benda-benda yang lebih kecil. Sebagai misal, bulan membuat orbit mengelilingi bumi, yang mempunyai volume yang lebih besar. Bumi dan planet-planet lain di tatasurya ini bergerak di suatu orbit mengelilingi matahari. Masih ada sistem besar lain yang dikelilingi oleh matahari di suatu orbit. Hal terpenting di semua rincian ini adalah bahwa tak satu pun dari bintang, planet, dan benda-benda lainnya di angkasa bergerak secara tak terkendali, memotong orbit lain, atau pun saling berbenturan.

Al-Qur’an mengisyaratkan pergerakan benda-benda secara serasi ini sebagai berikut:

Demi langit yang pebuh jalan-jalan. (Surat adz-Dzaariyaat, 7)

Matahari, sebagai salah satu dari trilyunan bintang di alam semesta, melakukan perjalanan lebih dari 17 juta kilometer per hari di angkasa. Perjalanan matahari ini ditunjukkan oleh Allah sebagai berikut:

Dan matahari beredar menurut waktu yang sudah ditentukan baginya; itulah ketentuan Yang Mahaperkasa, Mahatahu. (Surat Yaasiin, 38)

ATAP YANG TERJAGA BAIK

Kami jadikan langit sebagai atap yang terjaga baik, tetapi mereka berpaling dari tanda-tanda yang ada. (Surat al-Anbiyaa’, 32)

Hampir semua orang pernah melihat gambar permukaan bulan. Struktur permukaan ini sangat tidak rata karena kejatuhan meteor-meteor yang tak terhitung jumlahnya. Besarnya kawah-kawah yang terbentuk dengan meteor-meteor ini merupakan karakter bulan yang paling khas. Segala stasiun angkasa atau tempat tinggal yang didirikan di permukaan bulan tanpa dengan perisai khusus akan sangat berkemungkinan untuk rata dengan tanah. Satu-satunya cara untuk mencegahnya adalah “menjaga”-nya dengan berbagai cara.

Rincian ini, yang hampir tidak pernah kita pikirkan, disediakan bagi bumi dengan cara yang sangat alamiah. Karena itu, orang-orang tidak perlu mengambil tindakan ekstra untuk bertahan hidup. Atmosfer bumi menghancurkan semua meteor besar dan kecil yang mendekati bumi, menyaring sinar yang berbahaya di angkasa dan, dengan demikian, melaksanakan proses yang vital demi kelangsungan hidup manusia.

Banyak sinar yang berbahaya-dan bahkan fatal-mencapai bumi dari matahari dan bintang-bintang lain. Sumber utama sinar-sinar yang berbahaya ini terutama adalah ledakan energi, “kobaran” di matahari, bintang terdekat dengan bumi.

Selama matahari ini bersorot, suatu awan plasma terlempar ke angkasa dengan kecepatan 1.500 km/detik. Awan plasma ini, yang tersusun dari proton yang bermuatan positif dan elektron yang bermuatan negatif, menghantarkan listrik. Ketika awan itu mendekati bumi dengan kecepatan 1.500 km/detik, awan ini mulai menghasilkan arus listrik di bawah pengaruh bidang magnet di sekeliling bumi. Di sisi lain, bidang magnetik bumi itu mengerahkan gaya pendorong terhadap awan plasma tersebut yang mengalir langsung melalui ini. Gaya ini menghentikan pergerakan awan itu dan menjaganya pada jarak tertentu. Kini, mari kita amati daya awan plasma yang “dihentikan” sebelum mencapai bumi.

Walaupun awan plasma itu tertahan oleh bidang magnetik bumi, pengaruhnya masih tercerap dari bumi. Dengan mengikuti kobaran kuat tersebut, transformer-transformer bisa meledak di saluran-saluran yang bertegangan tinggi, jaringan komunikasinya bisa putus atau gabungan jaringan listriknya bisa berhamburan.

Di suatu ledakan bintik-matahari, energi yang diluncurkan akan terhitung sama dengan 100 trilyun kali energi bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima. Limapuluh-delapan jam sesudah kobaran, aktivitas yang menonjol bisa diamati pada jarum kompas, dan panasnya melonjak sampai 2.500 C pada ketinggian sekitar 250 kilometer di atas atmosfir.

Sekalipun demikian, arus partikel lain disebarkan dari matahari dengan kecepatan yang relatif lebih rendah, kira-kira 400 km/detik. Ini disebut “angin matahari.” Angin matahari dikendalikan dengan lapisan partikel bermuatan yang disebut “Lajur Radiasi Van Allen” yang dihasilkan di bawah pengaruh bidang magnetik bumi dan, dengan demikian, tidak membahayakan bumi. Pembentukan lapisan ini dimungkinkan karena karakteristik inti bumi. Inti ini mengandung logam-logam magnetik seperti besi dan nikel. Yang lebih penting adalah bahwa nukleusnya tersusun dari dua struktur yang berbeda. Inti dalamnya padat, sedangkan inti luarnya cair. Dua lapisan inti ini masing-masing berputar. Pergerakan ini menciptakan efek magnetik di logam-logam yang mengarah pada pembentukan bidang magentik. Lajur Van Allen itu merupakan perpanjangan dari bidang magnetik ini yang merentang ke jangkauan atmofir terluar. Bidang magnetik ini melindungi bumi terhadap bahaya-bahaya yang mungkin berasal dari angkasa. Angin-angin matahari tidak bisa lewat melalui Lajur Van Allen, 40.000 mil dari bumi. Bila dalam bentuk partikel-partikel yang bermuatan listrik, mereka menjumpai bidang magnetik ini, terurai dan tersebar di sekitar lajur ini.

Tepat seperti Lajur Van Allen, atmosfir bumi juga melindungi bumi dari efek-efek angkasa yang merusak. Kami menyebutkan bahwa atmosfir melindungi bumi dari meteor. Akan tetapi, ini bukan hanya ciri atmosfir. Sebagai misal, suhu minus 273 di angkasa luar, yang disebut “nol mutlak” yang akan berdampak fatal bagi orang-orang, sedangkan suhu di atmosfir bumi lebih tinggi secara permanen.

Yang lebih menarik adalah bahwa atmosfir hanya membiarkan masuk sinar-sinar, gelombang-gelombang radio, dan cahaya-cahaya yang tidak berbahaya, karena ini merupakan unsur-unsur yang vital bagi kehidupan. Sinar ultraviolet, yang hanya dibiarkan masuk sebagian oleh atmosfir, sangat penting untuk fotosintesis tanaman dan untuk kelangsungan hidup semua makhluk hidup. Pancaran ini, yang terpancar dengan sangat kuat dari matahari ke bumi, disaring melalui lapisan ozon atmosfir dan hanya sebagian yang diperlukan saja yang mencapai bumi. Sinar matahari adalah salah satu persyaratan hidup yang paling mendasar.

Singkatnya, terdapat suatu sistem hebat yang berfungsi di bumi yang mencakup-diri dan melindunginya dari bahaya luar. Dalam Al-Qur’an, keadaan bumi yang berperisai diungkapkan dengan ayat berikut ini:

Dan Kami telah menjadikan langit (sebagai) atap yang terjaga baik; (namun) mereka berpaling dari ayat-ayat ini. (Surat al-Anbiyaa’, 32)

Tiada keraguan bahwa pada abad ke-7, mengetahui perlindungan atmosfir atau pun keberadaan Lajur Van Allen adalah mustahil. Sekalipun begitu, ungkapan “atap yang terjaga baik” menjelaskan dengan sempurna perantara-perantara pelindung di sekitar bumi yang belum ditemukan hingga zaman modern. Jadi, ayat tersebut yang menyebut langit sebagai “atap yang terjaga baik” menunjukkan bahwa al-Qur’an dikirim oleh Sang Pencipta Yang berpengetahuan atas segala sesuatu.

RELATIVITAS WAKTU

Relativitas waktu adalah fakta ilmiah yang terbukti saat ini. Akan tetapi, hingga Einstein mengetengahkan “teori relativitas” pada awal abad 20, tak seorang pun mengira bahwa waktu bisa relatif dan bergantung pada kecepatan dan massa.

Namun ada pengecualian! Al-Qur’an telah mengeluarkan informasi tentang relativitas waktu! Tiga ayat mengenai hal ini ialah:

Mereka meminta kepadamu supaya azab dipercepat, tetapi Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Sungguh, satu hari menurut Allah seperti seribu tahun dalam perhitungan kamu. (Surat al-Hajj, 47)

Ia mengatur semua urusan dari langit sampai ke bumi, kemudian (semua itu) kembali kepada-Nya dalam satu hari, yang kadarnya seribu tahun menurut perhitungan kamu. (Surat as-Sajdah, 5)

Para malikat dan roh naik kepada-Nya pada suatu hari yang ukurannya limapuluh ribu tahun. (Surat al-Ma’aarij, 4)

Sebagai kitab yang diwahyukan pertama kali pada 610, Al-Qur’an yang menyiratkan relativitas yang sangat dini merupakan bukti lain bahwa inilah kitab ilahi.

PERPUTARAN BUMI

Bahasa Arab, bahasa pewahyuan Al-Qur’an, merupakan bahasa yang maju dan sangat kaya. Kosakatanya sangat luas dan variasi kata-katanya banyak. Karena alasan ini, beberapa kata verbal Arab tidak bisa diterjemahkan ke berbagai bahasa dengan kata tunggal. Sebagai contoh, kata “hasyiya” berarti “takut yang disertai takjub” (untuk berbagai jenis rasa takut lain dipakai kata-kata lain). Contoh lain, kata “karia” dipakai untuk mengacu pada “kemalangan yang menohok”, yakni Hari Pembalasan.

Salah satu kata verbal adalah “takwir”. Dalam bahasa Indonesia, ini berarti “menumpuk benda-benda seperti menumpuk kain yang terhampar”. Sebagai misal, dalam kamus-kamus Arab kata ini dipakai untuk tindakan saling membungkus, dengan cara seperti surban. Sekarang mari kita lihat sebuah ayat yang menggunakan kata “takwir”:

Dialah Yang menciptakan langit dan bumi dengan sebenarnya. Dia menutupkan malam ke atas siang dan menutupkan siang ke atas malam. (Surat az-Zumar, 5)

Informasi yang terdapat di ayat tersebut yang mengenai saling-bungkus antara siang dan malam itu mencakup informasi yang akurat tentang bentuk bumi. Situasi ini bisa benar hanya jika bumi ini bundar. Ini berarti bahwa dalam Al-Qur’an, perputaran bumi telah diisyaratkan.

Akan tetapi, paham astronomi tentang waktu, mencerap dunia secara berbeda. Sebagaimana yang telah kami sebutkan, lalu dikira bahwa dunia adalah planet datar dan semua penjelasan dan perhitungan ilmiah didasarkan pada kepercayaan ini. Akan tetapi, karena Al-Qur’an itu firman Allah, kata-kata yang paling benarlah yang dipakai dalam memerikan alam semesta.

FUNGSI GUNUNG

Menurut temuan-temuan geologis, pegunungan itu muncul sebagai hasil dari pergerakan dan perbenturan pelat raksasa yang merupakan kerak bumi. Pelat-pelat ini amat besar dan membawa semua benuanya. Bila dua pelat bertabrakan, yang satu biasanya tergelincir di bawah yang lain dan puing-puing di antara keduanya terangkat. Tonjolan besar di puing-puing yang terpadatkan ini membentuk pegunungan dengan terangkat lebih tinggi daripada sekelilingnya. Sementara itu, tonjolan yang merupakan pegunungan bergerak di bawah tanah selain di atas tanah. Ini berarti bahwa pegunungan mempunyai bagian yang terseret ke bawah sebesar bagiannya yang terlihat. Perpanjangan pegunungan di bawah tanah ini mencegah kerak bumi dari tergelincie pada lapisan magma atau antara lapisan-lapisannya.

Dengan penjelasan ini, salah satu dari sifat pegunungan yang paling bermakna adalah formasinya di titik-titik gabung pada pelat-pelat bumi yang tertekan bersama-sama dengan berdekatan ketika mendekat dan “memancangkan” diri. Artinya, kita bisa mempersamakan pegunungan dengan paku-paku yang merekatkan potongan-potongan kayu.

Selanjutnya, tekanan yang didesakkan oleh pegunungan terhadap kerak bumi dengan massa yang amat besar itu mencegah pergerakan magma di inti bumi dari penjangkauan bumi dan penghancuran kerak bumi. Lapisan tengah bumi, yang disebut inti, merupakan kawasan yang terbuat dari bahan-bahan yang mendidih di suhu yang mencapai ribuan derajat. Pergerakan di inti ini menyebabkan pemisahan bagian-bagian untuk tegak di antara pelat-pelat yang membereskan bumi. Pegunungan yang tegak di bagian-bagian ini menghalangi pergerakan ke atas dan melindungi bumi dari gempa bumi yang keras.

Sangat menarik untuk dicatat bahwa fakta-fakta teknis ini yang ditemukan oleh geologi modern di masa kita sekarang telah terungkap dalam Al-Qur’an ribuan tahun yang lalu. Dalam suatu ayat tentang pegunungan, dinyatakan dalam Al-Qur’an:

Dia menciptakan langit tanpa tiang yang dapat kau lihat; Dia memancangkan di atas bumi gunung-gunung supaya tidak menggoyangkan kamu; dan Dia menebarkan di dalamnya binatang-binatang dari segala jenis. (Surat Luqman, 10)

Dengan ayat ini, Al-Qur’an menolak takhyul yang biasanya diakui pada waktu itu. Dengan mempunyai pengetahuan astronomis primitif seperti masyarakat-masyarakat lain pada waktu itu, orang-orang Arab mengira bahwa langit terangkat tinggi di atas gunung. (Inilah kepercayaan tradisional yang kemudian ditambahkan di Perjanjian Lama untuk menjelaskan alam semesta.) Kepercayaan ini berpendapat bahwa ada pegunungan tinggi di dua ujung bumi yang datar. Inilah “penopang” langit. Pegunungan ini dikira sebagai tiang yang menyangga langit di atas tempatnya. Ayat tersebut menolak hal ini dan menyatakan bahwa langit itu “tanpa penopang”. Fungsi geologis sejati juga diungkapkan: untuk mencegah getaran. Sebuah ayat lain menekankan hal itu pula:

Dan Kami jadikan di atas bumi gunung-gunung, supaya bumi tidak bergoyang bersama mereka, dan Kami jadikan lorong-lorong lebar di antaranya, supaya mereka mendapat petunjuk. (Surat al-Anbiyaa’, 31)

HUJAN

Hujan sesungguhnya merupakan salah satu dari unsur-unsur terpenting bagi kelangsungan hidup di bumi. Hujan adalah prasyarat bagi kesinambungan aktivitas di suatu kawasan. Hujan, yang membawa zat-zat yang penting bagi kehidupan, termasuk bagi manusia, disebutkan di berbagai ayat Al-Qur’an yang memberi informasi mendasar mengenai pembentukan hujan, sifat-sifat dan efek-efeknya. Informasi ini, yang belum pernah diketahui oleh orang-orang pada masa itu, menunjukkan bahwa Al-Qur’an merupakan firman Allah.

Kini, mari kita periksa informasi yang tersaji dalam Al-Qur’an perihal hujan.

Proporsi Hujan

Dalam ayat kesebelas Surat az-Zukhruf, hujan didefinisikan sebagai air yang diturunkan dengan “ukuran yang sesuai”, sebagai berikut:

Ia menurunkan (dari waktu ke waktu) hujan dari langit sesuai dengan ukuran, dan Kami hidupkan dengan itu daerah yang sudah mati. Demikian juga kamu akan dibangkitkan (dari kematian). (Surat az-Zukhruf, 11)

“Ukuran” yang disebutkan di ayat ini berkaitan dengan sepasang sifat hujan. Pertama, air hujan yang jatuh di bumi selalu sama. Diperkirakan, dalam satu detik, 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini sama dengan curah air yang jatuh ke bumi dalam satu detik. Ini berarti bahwa air beredar terus-menerus di suatu daur yang seimbang menurut suatu “ukuran”.

Suatu ukuran lain yang terkait dengan hujan adalah mengenai kecepatan jatuhnya. Ketinggian minimal awan mendung adalah 1.200 meter. Bila jatuh dari ketinggian ini, suatu obyek yang bobot dan ukurannya sama dengan air hujan akan semakin cepat dan jatuh ke tanah dengan kecepatan 558 km/jam. Tentu saja, obyek apa pun yang membentur tanah dengan kecepatan itu akan menyebabkan kerusakan besar. Jika hujan yang terjadi itu jatuh dengan cara seperti itu, semua lahan panenan akan hancur, kawasan pemukiman, perumahan, dan mobil-mobil akan remuk, dan orang-orang tidak bisa berjalan-jalan tanpa perlindungan ekstra. Padahal, perhitungan ini hanya untuk awan setinggi 1.200 meter; ada juga awan mendung setinggi 10.000 meter. Air hujan dari tempat setinggi ini bisa memiliki kecepatan yang amat merusak.

Akan tetapi, kenyataannya tidak begitu. Dari ketinggian berapa pun, kecepatan air hujan hanya 8-10 km/jam kala menimpa tanah. Alasan untuk hal ini adalah bentuk istimewa yang mereka ambil. Bentuk istimewa ini meningkatkan pengaruh pemecah di atmosfir dan mencegah pemercepatan kala air hujan mencapai “batas” kecepatan tertentu. (Dewasa ini parasut dirancang dengan menggunakan teknik ini.)

Ini belum semua “ukuran” hujan. Untuk contoh, di lapisan atmosfir tempat berawalnya hujan, suhunya bisa turun hingga serendah 400 Celsius di bawah nol. Namun demikian, air hujan tak pernah menjadi partikel-partikel es. (Ini tentu saja berarti ancaman yang fatal untuk makhluk hidup di bumi.) Alasannya adalah bahwa air di atmosfir itu air murni. Sebagaimana yang kita tahu, air murni sulit membeku, di suhu yang sangat rendah sekalipun.

Pembentukan Hujan

Bagaimana hujan terbentuk masih merupakan misteri besar bagi orang-orang dalam waktu yang lama. Baru setelah radar cuaca ditemukan, bisa didapatkan tahap-tahap pembentukan hujan.

Pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, “bahan baku” hujan naik ke udara. Lalu awan terbentuk. Akhirnya curahan hujan terlihat.

Tahap-tahap ini ditetapkan dengan jelas di Al-Qur’an berabad-abad yang lalu yang memberi informasi yang tepat mengenai pembentukan hujan:

Dialah Allah Yang mengirimkan angin yang menggerakkan awan; lalu Ia membentangkannya di langit sesuai dengan kehendak-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu kau lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka bila Ia menurunkannya kepada siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang Ia kehendaki, mereka pun bergembira ria. (Surat ar-Ruum, 48)

Kini mari kita amati tiga tahap yang disebutkan dalam ayat ini.

TAHAP 1: “Dialah Allah Yang mengirimkan angin…”

Gelembung-gelembung udara yang tak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di lautan yang pecah terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini, yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut, sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut “perangkap air”.

TAHAP 2: “…dan yang menggerakkan awan; lalu Ia membentangkannya di langit sesuai dengan kehendak-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal…”

Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air hujan dalam hal ini sangat kecil (engan diamter antara 0,01 dan 0,02 mm), awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan.

TAHAP 3: “…lalu kau lihat air hujan keluar dari celah-celahnya.”

Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan partikel-partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan, dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.

Semua tahap pembentukan hujan telah diceritakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan dengan urutan yang benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi, lagi-lagi Al-Qur’an-lah yang menyediakan penjelasan yang paling benar mengenai fenomena ini dan juga telah mengumumkan fakta-fakta ini kepada orang-orang pada ribuan tahun sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan.

Menghidupkan Negeri Yang Sudah Mati

Dalam Al-Qur’an, terdapat banyak ayat yang mengundang perhatian kita pada fungsi istimewa hujan, yakni “memberi kehidupan kepada negeri yang sudah mati”:

Kami menurunkan air bersih dari langit. Dengan itu Kami hidupkan negeri yang sudah mati, dan Kami beri minum segala yang Kami ciptakan, hewan ternak dan manusia yang banyak. (Surat al-Furqaan, 48-49)

Di samping menyediakan air untuk bumi, yang merupakan kebutuhan makhluk hidup yang tak terelakkan, hujan juga mempunyai pengaruh penyuburan.

Air hujan yang mencapai awan setelah diuapkan dari laut mengandung zat-zat tertentu “yang menghidupkan” negeri yang telah mati. Air “pemberi kehidupan” ini disebut “air tensi permukaan”. Air tensi permukaan terbentuk pada tingkat puncak permukaan laut yang oleh para biolog disebut “lapisan mikro”. Di lapisan ini, yang ketipisannya kurang dari sepersepuluh milimeter, terdapat banyak sisa organik yang disebabkan oleh polusi zooplankton dan ganggang mikroskopik. Beberapa sisa ini menyeleksi dan menghimpun dalam lubuk mereka beberapa unsur yang amat jarang di air laut, seperti fosfor, magnesium, potasium, dan beberapa logam berat seperti tembaga, seng, kobalt, dan timah. Air yang bermuatan “penyubur ini” terangkat ke langit oleh angin dan setelah beberapa saat kemudian jatuh ke tanah di dalam air hujan. Benih dan tanaman di bumi mendapati banyak garam metalik dan unsur-unsur yang esensial bagi pertumbuhan mereka di sini di air hujan ini. Peristiwa ini diungkapkan di sebuah ayat lain dalam Al-Qur’an:

Dan Kami turunkan dari langit air yang membawa berkah, dan dengan itu Kami tumbukan kebun-kebunan dan biji-bijian yang dapat dipanen. (Surat Qaaf, 9)

Garam-garam yang jatuh dengan hujan merupakan contoh kecil unsur-unsur tertentu (kalsium, magnesium, potasiom, dsb.) yang dipakai untuk menambah kesuburan. Logam-logam berat yang terdapat di tipe-tipe aerosol ini merupakan unsur lain yang menambah kesuburan dalam pertumbuhan dan pemproduksian tanaman.

Tanah tandus bisa dilengkapi dengan semua unsur yang esensial bagi tanaman dalam periode 100 tahun hanya dengan penyubur yang dicurahkan dengan hujan. Hutan-hutan juga berkembang dan makan dengan bantuan aerosol yang berbasis-laut. Dengan cara ini, 150 juta ton penyubur jatuh ke seluruh permukaan tanah setiap tahun. Jika tidak ada penyuburan alamiah seperti ini, maka tidak akan ada tanaman di bumi, dan keseimbangan ekologis akan cacat.

Yang lebih menarik adalah bahwa kebenaran ini, yang hanya bisa ditemukan oleh sains modern, telah diungkapkan oleh Allah berabad-abad yang lalu.

ANGIN PENYERBUKAN

Dalam Al-Qur’an, angin dinyatakan sebagai “penyerbukan”:

Dan Kami tiupkan angin yang “menyerbuki”, kemudian Kami turunkan hujan dari langit, yang dengan itu Kami beri kamu air (yang berlimpah). (Surat al-Hijr, 22)

Dalam bahasa Arab, kata “penyerbukan” menyiratkan penyerbukan tanaman dan juga awan. Begitu pula, sains modern telah menunjukkan bahwa angin memang memiliki kedua fungsi ini. Angin, seperti yang tersebut di atas, menyerbuki awan dengan membawa kristal-kristal yang akan mengambil bagian dalam pembentukan air hujan. Di sisi lain, angin juga menyerbuki tanaman.

Tanaman-tanaman melempar benih serbuk-sari yang mengandung sel sperma ke udara. Kebanyakan tanaman diciptakan secara ideal untuk menangkap serbuk-sari dari angin. Cemara, bunga yang bergantungan, dan beberapa tanaman lain membuat terusan yang terbuka terhadap arus udara, yang membawa benih-benih ini ke tanaman lain yang berspesies sama. Benih-benih serbuk-sari yang mengandung sel-sel sperma tiba di organ-organ reproduksi yang mensyukuri kanal-kanal ini. Serbuk-sari yang mencapai sel telur menyuburkan telur dan sehingga sel telur itu beralih menuju benih.

Kebanyakan tanaman diciptakan secara ideal untuk menangkap serbuk-sari dari angin. Cemara, bunga yang bergantungan, dan beberapa lainnya membuat terusan yang terbuka terhadap arus udara. Serbuk-sari penghasil sperma tiba di kawasan reproduksi yang mensyukuri terusan-terusan ini. Tanaman-tanaman melempar benih serbuk-sari penghasil sperma ke udara. Sesudah itu, arus udara membawa benih-benih ini ke tanaman lain yang berspesies sama. Serbuk-sari yang mencapai sel telur menyuburkan telur dan sehingga sel telur itu beralih menuju benih.

KEUNIKAN SIDIKJARI

“Sidikjari” yang terbentuk pada ujung jari dengan pola nyata pada kulit bersifat sangat unik bagi si empunya. Setiap orang yang hidup di bumi mempunyai setelan sidikjari yang berlainan. Semua orang yang hidup sepanjang sejarah juga mempunyai sidikjari yang berbeda-beda. Sidik ini tak akan berubah selama hayat seseorang kecuali jika terjadi kecelakaan besar.
arena itulah sidikjari diterima sebagai kartu identitas yang sangat penting dan dipakai untuk tujuan ini di seluruh dunia.

Akan tetapi, dua abad yang lalu, sidikjari tidak begitu penting, karena baru ditemukan pada akhir abad ke-19 bahwa semua sidikjari saling berbeda. Pada 1880, seorang ilmuwan Inggris yang bernama Henry Faulds menyatakan dalam suatu artikel yang diterbitkan di Nature bahwa sidikjari orang-orang tidak berubah sepanjang hayat mereka, dan bahwa terdakwa-terdakwa bisa diyakinkan dengan sidikjari yang mereka tinggalkan di permukaan benda seperti kaca.32 Pada 1884, untuk pertama kalinya seorang pembunuh ditentukan dengan identifikasi sidikjari. Sejak itu, sidikjari telah menjadi metode yang penting untuk identifikasi. Namun sebelum abad ke-19, kebanyakan orang mungkin tak pernah mengira bahwa bentuk sidikjari mereka yang bergelombang itu mempunyai makna atau merupakan catatan yang berharga.

Pada abad ke-7, Al-Qur’an menunjukkan bahwa ujung jari manusia mengandung karakteristik yang penting:

Apakah manusia mengira bahwa Kami tak akan mengumpulkan tulang-tulangnya? Ya, bahkan Kami mampu menyusun kembali ujung jari-jarinya. (Surat al-Qiyaamah, 3-4)

KELAHIRAN MANUSIA

Terdapat banyak pokok-persoalan yang disebutkan dalam Al-Qur’an yang mengundang manusia untuk beriman. Kadang-kadang langit, kadang-kadang hewan, dan kadang-kadang tanaman ditunjukkan sebagai bukti bagi manusia oleh Allah. Dalam banyak ayat, orang-orang diseru untuk mengalihkan perhatian mereka ke arah proses terciptanya mereka sendiri. Mereka sering diingatkan bagaimana manusia sampai ke bumi, tahap-tahap mana yang telah kita lalui, dan apa bahan dasarnya:

Kami telah menciptakan kamu; maka mengapa kamu tidak membenarkan? Adakah kamu perhatikan (benih manusia) yang kamu pancarkan? Kamukah yang menciptakannya? Ataukah Kami Penciptanya? (Surat al-Waaqi’ah, 57-59)

Penciptaan manusia dan aspek-aspeknya yang luar biasa itu ditegaskan dalam banyak ayat. Beberapa informasi di dalam ayat-ayat ini sedemikian rinci sehingga mustahil bagi orang yang hidup di abad ke-7 untuk mengetahuinya. Beberapa di antaranya sebagai berikut:

1-Manusia tidak diciptakan dari mani yang lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya (sperma).

2-Yang laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin bayi.

3-Janin manusia melekat pada rahim sang ibu bagaikan lintah.

4-Manusia berkembang di tiga kawasan yang gelap di rahim.

Orang-orang yang hidup pada zaman kala al-Qur’an diturunkan, pasti, tahu bahwa bahan dasar kelahiran berhubungan dengan mani laki-laki yang terpancar selama persetubuhan seksual. Fakta bahwa bayi lahir sesudah jangka waktu sembilan bulan tentu saja merupakan peristiwa yang gamblang dan tidak memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Akan tetapi, sedikit informasi yang dikutip di atas itu berada jauh di luar pengertian orang-orang yang hidup pada masa itu. Ini baru disahihkan oleh ilmu pengetahuan abad ke-20.

Sekarang mari kita periksa satu demi satu.

1) Air Mani

Selama persetubuhan seksual, 250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada satu waktu. Sperma-sperma melakukan perjalanan 5-menit yang sulit di tubuh si ibu sampai menuju sel telur. Hanya seribu dari 250 juta sperma yang berhasil mencapai sel telur. Sel telur, yang berukuran setengah dari sebutir garam, hanya akan membolehkan masuk satu sperma. Artinya, bahan manusia bukan mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil darinya. Ini dijelaskan dalam Al-Qur’an :

Atau apakah mereka dijadikan tanpa ada yang menciptakan, ataukah mereka sendiri yang menjadikan dirinya? Ataukah mereka menjadikan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak yakin. (Surat ath-Thuur, 35-36)
Seperti yang telah kita amati, Al-Qur’an memberi tahu kita bahwa manusia tidak terbuat dari mani selengkapnya, tetapi hanya bagian kecil darinya. Bahwa tekanan khusus dalam pernyataan ini mengumumkan suatu fakta yang baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern itu merupakan bukti bahwa pernyataan tersebut berasal-usul ilahi.

2) Campuran di dalam Mani

Cairan yang disebut mani tidak mengandung sperma saja. Cairan ini justru tersusun dari campuran berbagai cairan yang berlainan. Cairan-cairan ini mempunyai fungsi-fungsi semisal mengandung gula yang diperlukan untuk menyediakan energi bagi sperma, menetralkan asam di pintu masuk rahim, dan melicinkan lingkungan agar memudahkan pergerakan sperma.

Yang cukup menarik, ketika mani disinggung di Al-Qur’an, fakta ini, yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern, juga menunjukkan bahwa mani itu ditetapkan sebagai cairan campuran:

Sungguh, Kami ciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, lalu Kami beri dia (anugerah) pendengaran dan penglihatan. (Surat al-Insaan, 2)

Di ayat lain, mani lagi-lagi disebut sebagai campuran dan ditekankan bahwa manusia diciptakan dari “bahan campuran” ini :

Dialah Yang menciptakan segalanya dengan sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian Ia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina. (Surat as-Sajdah, 7-8)

Kata Arab “sulala”, yang diterjemahkan sebagai “sari”, berarti bagian yang mendasar atau terbaik dari sesuatu. Dengan kata lain, ini berarti “bagian dari suatu kesatuan”. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an merupakan firman dari Yang Berkehendak Yang mengetahui penciptaan manusia hingga serinci-rincinya. Yang Berkehendak ini ialah Pencipta manusia.

3) Penentuan Jenis Kelamin Bayi

Sampai belum lama ini diperkirakan bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh gen-gen laki-laki dan perempuan bersamaan. Ilmu genetika dan mikrobiologi yang kian maju pada abad ke-20 membuktikan bahwa si perempuan tidak berperan dalam proses ini.

Dua dari 46 kromosom yang menentukan struktur manusia merupakan kromosom jenis kelamin. Kromosom-kromosom ini disebut “XY” pada pria dan “XX” pada wanita, karena bentuk kromosomnya menggambarkan huruf-huruf ini. Kromosom Y adalah kromosom yang pada khususnya membawa gen-gen laki-laki.

Pembentukan bayi berawal dengan penyatuan dua kromosom: satu dari si ayah dan satu dari si bunda. Karena yang perempuan hanya memiliki kromosom X, sel-sel reproduksinya (ova) hanya akan mengandung kromosom ini. Di sisi lain, yang laki-laki mempunyai kromosom X dan Y, sehingga setengah dari sel-sel reproduksinya (sperma) merupakan kromosom X dan setengah lainnya Y. Jika suatu sel telur menyatu dengan sperma yang mengandung kromosom X, maka keturunannya perempuan; jika penyatuannya dengan sperma yang mengandung kromosom Y, maka keturunannya laki-laki.

Dengan kata lain, jenis kelamin bayi ditentukan oleh yang mempunyai kromosom X dan Y, yaitu si laki-laki, yang menyatu dengan kromosom X dari si perempuan.

Hal ini sama sekali belum diketahui hingga penemuan genetika pada abad ke-20. Pada banyak budaya, justru diyakini bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh kondisi tubuh (kesehatan, dll.) sang ibu. Itulah mengapa wanita-wanita disalahkan bila mereka mendapatkan anak perempuan. (Keyakinan primitif ini masih lazim.)

Akan tetapi, tigabelas abad sebelum gen-gen ditemukan, Al-Qur’an mengungkapkan informasi yang menyangkal hal ini. Dalam suatu ayat dinyatakan bahwa kepriaan atau kewanitaan itu tercipta dari air mani; dengan kata lain, sumber jenis kelamin itu bukan perempuan, melainkan laki-laki.

… Dia Yang menciptakan berpasangan, jantan dan betina, dari benih kala ditempatkan. (Surat an-Najm, 45-46)

4) Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim

Ketika sperma pria menyatu dengan sel telur wanita sebagaimana terpapar di atas, terbentuklah bahan dasar calon bayi. Sel tunggal ini, yang dalam biologi dikenal sebagai “zigot”, akan mulai berbiak sendiri melalui pembagian dan akhirnya menjadi “sepotong daging”.

Akan tetapi, zigot itu tidak menjalani masa perkembangannya dalam ruang hampa. Zigot melekat pada rahim bagaikan akar-akar yang tertancap dengan kokoh di tanah dengan sulur-sulur mereka. Melalui ikatan ini, zigot bisa memperoleh bahan-bahan yang amat penting bagi pertumbuhannya dari tubuh ibunya.

Rincian sedetail itu belum bisa diketahui tanpa pengetahuan yang mantap tentang kedokteran. Tentu saja pada empatbelas abad yang lalu belum ada orang yang mempunyai pengetahuan semacam itu. Yang cukup menarik, dalam Al-Qur’an, Allah selalu menyebut zigot yang berkembang di rahim sang ibu sebagai “segumpal darah”:

Bacalah! Atas nama Tuhanmu yang menciptakan, menciptakan manusia dari segumpal darah beku. Bacalah! Dan Tuhanmu Maha Mulia. (Surat al-‘Alaq, 1-3)

Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan? Kemudian ia menjadi segumpal darah; lalu (Allah) membuat jadi bentuk yang serasi. Dan Dia menjadikannya sepasang, jantan dan betina. (Surat al-Qiyaamah, 36-39)

Makna Arab kata “gumpalan” adalah “sesuatu yang melekat di suatu tempat”. Kata ini secara harfiah dipakai untuk memerikan lintah yang melekat di tubuh untuk menghisap darah. Tentu saja, inilah kata terbaik yang memungkinkan untuk memaparkan zigot yang melekat di dinding rahim dan menyerap makanannya dari situ.

Al-Qur’an mengungkap lebih banyak lagi mengenai zigot. Dengan secara sempurna melekat di dinding rahim, zigot itu mulai tumbuh. Sementara itu, rahim si ibu terisi dengan suatu cairan yang disebut “cairan amnion” yang mengitari zigot. Corak terpenting cairan amnion, tempat pertumbuhan bayi, adalah melindungi bayi dari pukulan-pukulan yang berasal dari luar. Dalam Al-Qur’an, fakta ini terungkap sebagai berikut:

Bukankah Kami ciptakan kamu dari cairan yang hina, lalu K